Kenapa? Kenapa semua orang meninggalkanku? Kenapa aku tidak bisa bahagia bersama mereka?

Tuhan... Tuhan... Kenapa? Kenapa tidak Kau berikan kebahagian kepadaku meski hanya sedikit?

Apakah dahulu aku memiliki dosa yang sangat fatal? Sampai Kau menghukumku seperti ini?

Mianhae, jeongmal mianhae... Maafkan aku Tuhan...
Aku yang selalu merutukiMu, memarahiMu, memakiMu, menyalahkanMu, memang sudah seharusnya mengalami hal seperti ini... Ya, benar... Aku sudah terlalu jahat padaMu, sehingga Kau enggan memberikan ku kebahagiaan...

Airmata tak ada henti-hentinya menodai wajahku, memaki diriku yang selalu mempertanyakan tentang rencana Tuhan dalam hidupku. MeragukanNya setiap waktu... Maaf, maaf, maaf Tuhan.. Aku mohon maafkan aku...

"Uhuk, uhuk, akh!" ku bungkamkan mulutku dengan telapak tangan kananku, berusaha untuk menghambat laju darah yang terus menerus mendorong mulutku untuk keluar. Aku menangis, merasakan sakit yang sangat menyakitkan dihatiku... Bukan karena penyakit buatan appa ini... Tapi ini semua karena dirinya.. Dirinya yang seharusnya tidak boleh aku cintai, ya... Aku tidak boleh mencintainya...

Tapi semua sudah terlambat, aku terlanjur meletakan hatiku kepadanya, meletakan kebahagianku padanya... Aku terlanjur mencintainya...

Darah semakin banyak keluar dari dalam mulutku, bahkan tanganku tak mampu untuk menahan derasnya darah yang keluar. Membuat lantai di koridor sekolah, berubah menjadi merah akibat darahku.

Tubuhku melemah, bahkan membuat tubuhku ambruk dan kepalaku mengenai lantai dengan cukup keras. Mataku mulai terasa lelah, ingin rasanya memejamkan mataku... Tapi aku terlalu takut... Aku takut jika nanti tidak terbangun lagi...

Aku terdiam dengan posisi tubuh yang terbaring diatas lantai koridor sekolah-lalu tubuhku menyamping ke arah temboh. Menatap kosong tembok polos itu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi padaku setelah ini.

Aku sendirian... Benar-benar sendiri... Semua orang yang kucintai telah meninggalkanku...

A, apakah ini akhir dari hidupku?

Kyuhyun hyung... Ah, dia... Aku masih memiliki dia... Kyuhyun hyung...

Ku alihkan pandangan mataku menuju saku blazerku, lalu menggerakan tanganku ke arah sana.. Mencoba mengambil sesuatu didalam saku ku...
Aku berhasil menyentuh benda itu, ku tarik tanganku dari dalam saku ku-lalu mengarahkannya ke depan wajahku. Dengan tangan gemetar, aku segera menyentuh benda persegi panjang itu dan mencari sebuah nama yang dapat aku hubungi disaat kritis seperti ini..

Satu-satunya malaikat pelindungku...

Setelah menemukan list kontaknya, ku arahkan jemariku untuk menekan tanda dial... Susah payah ku arahkan kembali ponselku kearah telingaku, menunggu ia mengangkat teleponku..

Ckrek..

*"Yeoboseyo? Ada apa eoh? Kau sudah tiba di kelas?"* sapanya setelah ia mengangkat telepon dariku. Airmata kembali membasahi pipiku, sebagian wajahku sekarang pasti sudah dipenuhi dengan noda darah-meski darah sudah tidak lagi keluar dari mulutku.

Aku mulai terisak disertai dengan rasa sakit yang semakin parah menggrogoti seluruh tubuhku..

"Hyu.. Hyung.. Hiks, hiks... Kyu-kyuhyun hyung... A, aku... Jebal... Hiks... Sakit.. Sa-sakit... Hiks, hiks... Kemarilah..."

Eunhyuk Pov End

.

.

.

.

.

Seoul Hospital

tap

tap

Seorang namja dengan tergesa-gesa, berlari menyitari ruang dasar dari Seoul Hospital. Ia berlari mencari ruang Unit Gawat Darurat, sebagai dokter seharusnya ia tahu dimana letak ruangan itu-akan tetapi ia lupa dimana ruangnya, dia terlalu panik dan harus segera menyelamatkan seorang namja aegyeo yang berada didalam gendongannya-yang mengalami kritis.

"HEI! SIAPAPUN BANTU AKU!" pekiknya, ketika ia telah tiba pada ruangan itu. Ia segera membaringkan namja lemah itu di atas ranjang, lalu membuka pakaian namja lemah itu menggunakan gunting.

"Cepat kita lakukan operasi jantung untuknya! Dimana dokter yang akan bertanggung jawab dalam proses operasinya?!" tanya Donghae pada salah satu kepala suster yang berada disampingnya.

"Do, dokter Cho sedang tidak ada diruangannya..." jawabnya gugup. Donghae menoleh menatap suster itu tajam.

"MWO?! LALU BAGAIMANA DENGANNYA?!" bentaknya pada suster itu. Suster itu menegang, ia tak mampu berkata-kata lagi setelah mendapat perlakuan kasar dari Donghae.

"Ti, tidak perlu kau mempedulikanku lagi... Le, lebih baik aku mati saja..." Donghae yang sejak tadi menatap geram suster senior itu, mengalihkan wajahnya ketika mendengar suara lemah namja yang terbaring tak berdaya diatas ranjang.

"Mwo?"

"Aku tidak mau operasi, lebih baik aku mati.. Hiks... U, untuk apa aku mempertahankan hidupku jika sudah tidak ada lagi yang mencintaiku? Hiks, sudahlah! Jangan pedulikan aku!" Sungmin kembali menangis, hatinya benar-benar telah hancur... Padahal ia sangat mencintai namja yang ada di hadapannya ini.

Donghae terdiam, mengepalkan telapak tangannya geram. Ia benar-benar terjebak.

"Kalau kau tidak menjalankan operasi... Aku tidak akan menikahimu.!" geram Donghae.

.

.

.

Ia berlari, berlari sekuat dan secepat yang harus dia lakukan saat ini...

Wajah tampannya begitu memancarkan kecemasan yang luar biasa. Ia terus berlari menyitari seluruh koridor gedung sekolah milik negara tersebut, mengabaikan keringat yang kini sudah membasahi tubuhnya.

Hanya 'dia' yang ia fikirkan sekarang...
Menemukan permata hatinya, dan segera menyelamatkannya...

Kini langkahnya telah terhenti, nafasnya memburu. Matanya terbelalak lebar ketika ia melihat sesuatu yang mengerikan, berada di hadapannya sekarang.

Sosok yang ia cari.. Telah ia dapatkan..

Akan tetapi, bukan ini yang sebenarnya ia harapkan. Bukan ini yang ia ingin temukan.. Bukan keadaan seperti ini.. Bukan penuh darah seperti ini...

Ia kembali menghampiri sosok yang tergelatak bersimbah darah di koridor sekolah-koridor yang menuju atap sekolah itu.

Menekukan kedua lututnya, lalu segera memeluk sosok lemah itu. Mendekapnya kuat, tanpa mempedulikan kemeja putih miliknya yang kini ternoda dengan bercak darah.

Ya... Cho Kyuhyun... Dia menangis... Menangis sambil memanggil nama sosok lemah yang berada dalam pelukannya... Memeluknya erat, seraya menghapus noda darah yang mengotori kulit wajah sosok tak berdaya itu dengan tangan besarnya.

"Hyukjae-ah! Hyuk-Hyukjae! Gwaen...cha-na? Gwaenchanayeo? Ahm... Gwaenchana?" isak Kyuhyun yang terus bergumam tak karuan kepada sosok yang tak berdaya itu. Mengelus pipi mulus sosok yang ia yakini adalah malaikat rapuh yang kini sayap indahnya telah berguguran hingga tak bersisa sedikitpun.

Hyukjae... Namja kecil yang telah merebut hati seorang Cho Kyuhyun kini mulai membuka matanya dengan perlahan.. Ia menerjapkan matanya, mencoba membiasakan dirinya dengan cahaya yang masuk kedalam mata indahnya.

"Hyung.. Kyu-Kyuhyun hyung?" ucap Hyukjae lemah. Mata lelahnya menatap lekat mata kelam milik Kyuhyun. Membuat Kyuhyun tersenyum ke arah Hyukjae-mengabaikan airmata yang mengalir deras dari matanya.

"Tunggu sebentar.. Aku akan mengambil obat-obatan milikmu yang tertinggal didalam mobilku... Aku akan segera kembali." Kyuhyun mengangkat tubuh Hyukjae, lalu menyandarkan punggung mungil itu ke dinding.

Kyuhyun beranjak dari tempat itu dan hendak pergi untuk mengambil obat didalam mobilnya. Akan tetapi, belum sempat ia melangkahkan kakinya, tangannya kini telah ditarik oleh Hyujae.
Kyuhyun menoleh, dan mendapati Hyukjae yang telah berlinangan airmata.

"Ka-kajima Hyung... Aku mo, mohon... Ja, jangan tinggalkan a, aku... Hiks... Jangan tinggalkan aku seperti mereka... Ja, jangan.. Hiks, hiks.. Jangan meninggalkan ku! Aku tidak mau hyung.. Hiks.. Jangan seperti mereka hyung.. Mereka telah meninggalkan aku.. Eomma... Appa... La, lalu dia... Hiks.. Wa, waeyo? Waeyo hyung? Kenapa a, aku harus mengalami ini? Kenapa? Hiks... Ke, kenapa aku tidak bisa bahagia? Aaaarhgg hiks, hiks,.. Waeyo-" lirih Hyukjae pedih.

Hatinya telah hancur... Bahkan tubuhnya pun juga telah hancur, bersamaan dengan sakit yang telah menggerogotinya. Ucapannya terhenti, ketika Kyuhyun membungkam mulut Hyukjae dengan bibirnya.

Kyuhyun melumat bibir Hyukjae-tanpa mempedulikan bau anyir yang menghujam indera penciumannya.

Kyuhyun menjauhkan wajahnya dari wajah Hyukjae. Ia terdiam, menatap mata polos yang berlinangan airmata itu.

"Hyung.. Ka, kau tidak akan meninggalkanku kan? Ti, tidak akankan? Kau-"

"Saranghaeyo... Jeongmal saranghaeyo Lee Hyukjae... Aku bersumpah sayang... A, aku tidak akan meninggalkanmu seperti mereka..." Jawaban Kyuhyun, sontak membuat Hyukjae terdiam. Tidak ada... Hyukjae memandang mata kelam itu, dan tidak ada kebohongan dari pancaran mata Kyuhyun.

Airmata kembali mengalir, Hyukjae terisak. Membuat Kyuhyun kembali mencium bibir penuh milik Hyukjae.

Kyuhyun melumat bibir itu dengan lembut, membiarkan tangannya yang kini telah memeluk erat pinggang Hyukjae, memasukan kedua tangannya kedalam kemeja Hyukjae dan mengelus kulit punggung nan mulus milik Hyukjae-yang tak ia sadari sudah terbuka karena ulah seorang namja yang telah menyerang Hyukjae lebih dulu darinya.

Hyukjae memejamkan matanya, ia menangis menikmati sentuhan lembut lumatan Kyuhyun dengan membuka mulutnya, tangannya mulai memeluk leher Kyuhyun dengan sangat possesive, seakan tak ingin melepaskannya dan mengeratkan pelukannya.
Melumat bibir Kyuhyun dengan rakus, seakan ia tidak ingin melepaskan pagutan lembut dari Kyuhyun.

"Aaahh.. Umpph.. Aaah.." desah Hyukjae. Kini ia mulai menarik helaian rambut Kyuhyun, membuat Kyuhyun benar-benar memasukan lidahnya kedalam mulut Hyukjae. Menelusuri setiap rongga hangat milik Hyukjae, menyesapi anyir darah yang masih terasa di mulut namja rapuh itu. Saling bertautan lidah, bertukar saliva, hingga mereka mulai merasakan kehabisan oksigen di paru-paru mereka berdua.

"Hah.. Hah.. Hah.." Kyuhyun menatap Hyukjae, dan perlahan menghapus airmata yang membasahi pipi mulus itu. Hyukjae membalas tatapan Kyuhyun dengan mata polosnya.

"Jadilah milikku.. Hyukie."

.

.

.

Sungmin pov

.

.

.

Kenapa waktu begitu kejam kepadaku? Kenapa semudah itu kau berpaling dariku dan meninggalkanku?

Lee Donghae... Bahkan sampai saat inipun cintaku masih tetap seperti 3tahun yang lalu. Ketika kau masih bekerja di rumah sakit, saat pertama kalinya kita saling mengenal... Di saat itu jugalah aku mulai mencintaimu...

Dan akupun akhirnya tahu, bahwa kau juga mencintaiku... Aku ingat saat kau dengan berani menyatakan perasaanmu kepadaku, waktu itu cuaca sangat dingin... Kau mengajakku berjalan-jalan di taman yang terletak dibelakang rumah sakit. Lalu dengan hanya bermodalkan mantel tebal, tanpa sarung tangan untuk menghangatkan telapak tanganku, aku mengiyakan ajakanmu berjalan-jalan ditaman belakang rumah sakit.

Kau meraih tanganku, lalu kau letakan kedua tanganku di kedua pipimu... Aku hanya bisa terdiam menerima perlakuan lembutmu kepadaku...

Aku masih sangat ingat kata-kata indah yang kau lontarkan untuk diriku, mengapit jari jemariku dengan jemarimu... Mengecup punggung tanganku dengan bibir tipismu, dan menatapku lembut...

"Lee Sungmin... Entah ini takdir Tuhan atau sebuah kesengajaan dari Tuhan... Akupun tak tahu sejak kapan perasaan ini ada dan mulai membuatku gila... Tapi ketahuilah... Dengan langit dan bumi yang kita tapaki saat ini, bahwa aku telah jatuh cinta kepadamu... Jadi, maukah kau menjadi namjachinguku dan menikahlah denganku suatu saat nanti... Arraseo? Chagi?"

Wae? Wae? Kenapa begitu mudahnya itu terucap dari mulutmu? Kenapa kata-kata manis itu begitu mudahnya keluar dari mulutmu Lee Donghae? Lalu kenapa sekarang berbeda? Kenapa kau malah bilang kalau kau mencintai seorang namja yang bahkan berstatus muridmu?

Apa saat itu kau hanya main-main padaku? Karena kau kasihan padaku? Seorang namja penyakitan yang hanya tinggal dirumah sakit tanpa keluarga? Apa karena kasihan?

"Sungmin-ssi? Sungmin-ssi? Anda baik-baik saja?" suara seseorang sontak membuatku tersadar dari lamunanku. Dapat ku rasakan airmata yang mengalir membasahi pipiku, aku menoleh menatap seorang suster yang tengah menatapku dengan tatapan khawatir.

"Apa kau tidak apa-apa? Tiga jam lagi kau akan melakukan operasi Sungmin-ssi, sebentar lagi dokter Cho akan segera datang untuk melihat keadaan anda.." terangnya seraya membenarkan selimut yang menghangatkan tubuhku. Dingin, tubuhku benar-benar terasa dingin... Bahkan hatikupun, telah membeku karena dirinya...

Aku akan melakukannya, dan kau harus menepati janjimu... Kau harus menikahiku...

"Do... Donghae... Dimana dia?"tanya ku lirih kepada suster itu.

"Nde? Dokter Lee yang anda maksud? Dia sedang keluar sebentar..." jawabnya. Aku tersenyum kecut, dan menduga bahwa dia akan kembali untuk menemui bocah itu... Baiklah, aku ijinkan dia untuk menemuinya... Toh, ini yang terakhir kalinya, sebelum ia menikah denganku...

Cklek..

Seseorang membuka pintu, aku menoleh kearah sumber suara dan mendapati sesosok namja berambut ikal dengan penampilan yang bisa dibilang sangat berantakan, masuk kedalam kamarku dan beralih menatap suster yang sejak tadi berdiri disamping ranjangku..

Kenapa dengan namja ini? Pakaiannya penuh dengan noda darah, bahkan disekitar bibirnya juga terdapat bercak darah..

"Suster Kim... Bi, bisakah kau keruanganku? To, tolong jagalah seseorang yang berada diruanganku... Di, dia... Dia..." merasa sudah memahami ucapan namja itu, suster itu mengangguk mengerti dan segera berlari keluar meninggalkan ruangan ini.

Aku hanya terdiam, seraya menatap namja ikal yang kini sedang menatap lantai dengan tatapan kosong.

"Gwaen..gwaenchana?" tanyaku. Perlahan ia menoleh dan kini berbalik menatapku. Ia terdiam, lalu meraih selembar tisu yang berada di atas meja tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia membersihkan noda darah yang menempel disekitar bibirnya, lalu ia kembali menatapku dengan senyuman yang jelas sekali dipaksakan.

"Annyeong, mianhae aku terlambat dan malah tiba disini dengan keadaan kacau seperti ini... Aku adalah dokter Cho, yang akan bertanggung jawab dalam kelancaran anda... Lee Sungmin-ssi."

.

.

.

***
.

.

.

Donghae pov

.

.

Aku terdiam-hanya mampu berdiri di depan pintu bercat putih itu, tubuhku terasa gemetar ketika tanpa sengaja melihat sosok rapuh itu sedang di gendong oleh seseorang dengan darah yang membasahi seragamnya dan juga pakaian namja yang menggendongnya..

Aku tidak salah lihatkan? Tadi namja itu membawanya ke ruangan inikan?

Lee Hyukjae?

"Dokter Lee? Andakah itu?" segera aku menoleh menatap seorang suster yang terengah-engah akibat ia berlari.

"Kebetulan sekali... Bisakah anda membantu saya? Ka, karena dokter Cho akan menangani operasi tunangan anda.. Ja, jadi bisakah anda menolong seseorang yang berada didalam ruang kerja dokter Cho?" ucapnya seraya meraih knop pintu, lalu membuka pintu itu.

Deg!

"Hyukjae-ssi!" pekik suster bermarga Kim itu, ketika mendapati sosok yang penuh dengan noda darah itu terbaring tak berdaya diatas sofa.

Tubuhku terasa mati rasa, aku tidak salah lihatkan? A, aku...

Tanpaku sadari, kini airmata mulai membasahi pipiku..

Airmata tanpa sadar mengalir membasahi pipiku... Aku terdiam dengan mulut menganga- apa yang berada didalam penglihatanku sekarang, benar-benar sangat mengerikan.

Sangat mengerikan, membuat hatiku hancur..

Hyukjae...

Hyukjaeku... Kau... Ke, kenapa emh? Kau kenapa?

Hatiku sakit Hyukjae... Aku mohon jangan seperti ini...

"-hae... Dokter Lee Donghae?! Tolong kemarilah!" aku tersadar dari lamunanku, ketika suster Kim memanggilku dengan sedikit mengeraskan suaranya.

Aku tak mampu membalas ucapanya, aku kembali menatap sosok lemah yang sedang terbaring diatas sofa.

Aku tercekat ketika manik mataku tanpa sengaja menatap mata sayu milik Hyukjae. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

"S, suster Ki... Suster Kim... Su, suruh ia pergi... Ahk.. Aku mo-mohon suruh namja itu pergi... Hiks..." suaranya terdengar sangat parau. Ia brusaha meraih lengan suster Kim, dengan segera suster Kim meraih tangan Hyukjae dan menggenggamnya erat.

"Hyukkie chagi, tenanglah.. Dia adalah dokter, sama seperti dokter Cho. Dia juga akan menolongmu chagi..." ucap suster Kim menenangkan. Hyukjae menggelengkan kepalanya, airmata mengalir membasahi pipinya.

Aku tak kuat lagi, sungguh aku tak kuat melihatnya dengan kondisi lemah seperti ini...

"Su.. Suruh dia per-"

"Suster Kim.. Bi, bisakah kau tinggalkan kami berdua saja?" aku memotong ucapanya, tanpa mengalihkan pandanganku dari wajah Hyukjae. Suster Kim terdiam, menatapku dengan pipi yang telah basah oleh airmata.

"And... Andwae! Ka, kau saja yang pergi.. Hiks per-"

"DIAMLAH LEE HYUKJAE!" bentakku padanya. Aku mengalihkan tatapanku pada suster Kim. Ku hembuskan nafasku, lalu memandangnya dengan tatapan memohon.

Perlahan suster Kim melepaskan genggaman tangannya dari tangan Hyukjae. Ia menatap Hyukjae sebenar, lalu segera pergi meninggalkan ruangan milik dokter bermarga Cho itu.

Kini tinggalah kami berdua dalam keheningan. Aku memasuki ruangan itu, kemudian menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.

Tubuhku merosot... Entah kemana kekuatanku sekarang, aku tersungkur dengan punggung yang bersandar pada daun pintu.

Ku biarkan airmataku mengalir, ku remas rambutku dengan kedua tanganku. Akh! Kenapa? Kenapa harus seperti ini?!

"Hiks.. Pergilah... Dia membutuhkanmu... Hiks.. Sudah tinggalkan aku... Hiks, hiks... Bi, biarkan aku menghilang dari hidupmu so.. Songsaenim... Hiks, hiks... Hiks, aaakh, uuuhh... Biarlah aku mati..." ia memulai memecahkan keheningan diantara kami sejak tadi. Ia menangis, isakan lemah yang ia lontarkan membuat tangisku semakin pecah.

"aakh! Hiks, kenapa seperti ini? Kenapa? KENAPA LEE HYUKJAE? KENAPA? AKU BERTANYA PADAMU LEE HYUKJAE!" teriakku parau, dengan sekali gerakan aku segera mendekat kepada tubuh lemah Hyukjae. Menatap mata lembutnya, dan ia membalas tatapanku dengan mata yang dipenuhi genangan airmata.

Ku gerakan tanganku agar menyentuh pipinya.

"Kau... Ke, kenapa hm? Kenapa kau tak berdaya seperti ini? Seragammu kotor sekali? Apa kau habis berkelahi hm? Hyu.. Hyukjaeku yang ma-manis... Kau tidak boleh berkelahi chagi... Namja ma.. Akh... Manis... Hiks... Jangan katakan hal itu lagi di hadapanku... Ja, hiks jangan Hyukjae... Jangan kau katakan itu lagi... Jangan mati... Jangan katakan ingin mati dihadapanku... Atau aku akan benar-benar membunuhmu... Dan aku akan menabrakan diriku dengan truk besar..."
aku berusaha untuk tersenyum lembut padanya, akan tetapi aku tetap tidak bisa menghentikan airmata ini. Ku usap pipinya dengan lembut, ia masih terisak.

Segera aku beranjak, dan menaiki sofa.. Ku tindih tubuhnya, meski tak sepenuhnya ku bebankan tubuh tegapku pada tubuh lemahnya.

Ia membuka matanya, menyadari diriku yang sekarang sudah berada diatas dirinya.

"Song... Songsaenim?" dia menatapku lemah. Ia menggerakan tangannya, berusaha untuk menggapai wajahku. Ku genggam telapak tangannya, lalu ku arahkan tangannya agar menyentuh wajahku.

"Saranghae... Sa, hiks.. Saranghae songsaenim... Jeongmal saranghae.. Hiks, hiks... Aku mencintaimu songsaenim! Tapi kenapa? Kenapa Tuhan tidak mau mengerti? Kenapa aku tidak boleh bahagia? Hiks.. Hiks... Kenapa kau meninggalkanku? Ke, kenapa? Aku takut, aku takut.. Hiks, hiks" ku dekap tubuhnya erat. Memeluknya dengan sangat erat.

Hatiku serasa remuk, hancur... Bahkan musnah tak bersisa... Jangan, jangan ambil dia dariku... Kenapa harus Tuhan yang berada dibalik semua ini? Kenapa harus Kau?

Tapi... Ini bukan kesalahan Tuhan Hyukjae... Bukan salahNya, tapi ini kehendakNya...
Akulah yang salah... Aku yang salah karena kau telah meletakan kebahagianmu kepada diriku... Kenapa harus aku? Kenapa aku juga harus mencintaimu? Kenapa harus terlambat seperti ini? Kenapa kau tidak terlahir lebih awal? Kenapa? Kenapa? Kenapa kau sakit? Kenapa kau harus ditakdirkan akan mati?

Ku jauhkan tubuhku dari tubuhnya, menatapnya dengan tatapan yang benar-benar menunjukan kesungguhanku padanya.

"Jadilah milikku, hatimu, tubuhmu, hidupmu, sakitmu... Jadilah milikku... Aku menginginkanmu"

NEXT