Airmata tanpa sadar mengalir membasahi pipiku... Aku terdiam dengan mulut menganga- apa yang berada didalam penglihatanku sekarang, benar-benar sangat mengerikan.
Sangat mengerikan, membuat hatiku hancur..
Hyukjae...
Hyukjaeku... Kau... Ke, kenapa emh? Kau kenapa?
Hatiku sakit Hyukjae... Aku mohon jangan seperti ini...
"-hae... Dokter Lee Donghae?! Tolong kemarilah!" aku tersadar dari lamunanku, ketika suster Kim memanggilku dengan sedikit mengeraskan suaranya.
Aku tak mampu membalas ucapanya, aku kembali menatap sosok lemah yang sedang terbaring diatas sofa.
Aku tercekat ketika manik mataku tanpa sengaja menatap mata sayu milik Hyukjae. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"S, suster Ki... Suster Kim... Su, suruh ia pergi... Ahk.. Aku mo-mohon suruh namja itu pergi... Hiks..." suaranya terdengar sangat parau. Ia brusaha meraih lengan suster Kim, dengan segera suster Kim meraih tangan Hyukjae dan menggenggamnya erat.
"Hyukkie chagi, tenanglah.. Dia adalah dokter, sama seperti dokter Cho. Dia juga akan menolongmu chagi..." ucap suster Kim menenangkan. Hyukjae menggelengkan kepalanya, airmata mengalir membasahi pipinya.
Aku tak kuat lagi, sungguh aku tak kuat melihatnya dengan kondisi lemah seperti ini...
"Su.. Suruh dia per-"
"Suster Kim.. Bi, bisakah kau tinggalkan kami berdua saja?" aku memotong ucapanya, tanpa mengalihkan pandanganku dari wajah Hyukjae. Suster Kim terdiam, menatapku dengan pipi yang telah basah oleh airmata.
"And... Andwae! Ka, kau saja yang pergi.. Hiks per-"
"DIAMLAH LEE HYUKJAE!" bentakku padanya. Aku mengalihkan tatapanku pada suster Kim. Ku hembuskan nafasku, lalu memandangnya dengan tatapan memohon.
Perlahan suster Kim melepaskan genggaman tangannya dari tangan Hyukjae. Ia menatap Hyukjae sebenar, lalu segera pergi meninggalkan ruangan milik dokter bermarga Cho itu.
Kini tinggalah kami berdua dalam keheningan. Aku memasuki ruangan itu, kemudian menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.
Tubuhku merosot... Entah kemana kekuatanku sekarang, aku tersungkur dengan punggung yang bersandar pada daun pintu.
Ku biarkan airmataku mengalir, ku remas rambutku dengan kedua tanganku. Akh! Kenapa? Kenapa harus seperti ini?!
"Hiks.. Pergilah... Dia membutuhkanmu... Hiks.. Sudah tinggalkan aku... Hiks, hiks... Bi, biarkan aku menghilang dari hidupmu so.. Songsaenim... Hiks, hiks... Hiks, aaakh, uuuhh... Biarlah aku mati..." ia memulai memecahkan keheningan diantara kami sejak tadi. Ia menangis, isakan lemah yang ia lontarkan membuat tangisku semakin pecah.
"aakh! Hiks, kenapa seperti ini? Kenapa? KENAPA LEE HYUKJAE? KENAPA? AKU BERTANYA PADAMU LEE HYUKJAE!" teriakku parau, dengan sekali gerakan aku segera mendekat kepada tubuh lemah Hyukjae. Menatap mata lembutnya, dan ia membalas tatapanku dengan mata yang dipenuhi genangan airmata.
Ku gerakan tanganku agar menyentuh pipinya.
"Kau... Ke, kenapa hm? Kenapa kau tak berdaya seperti ini? Seragammu kotor sekali? Apa kau habis berkelahi hm? Hyu.. Hyukjaeku yang ma-manis... Kau tidak boleh berkelahi chagi... Namja ma.. Akh... Manis... Hiks... Jangan katakan hal itu lagi di hadapanku... Ja, hiks jangan Hyukjae... Jangan kau katakan itu lagi... Jangan mati... Jangan katakan ingin mati dihadapanku... Atau aku akan benar-benar membunuhmu... Dan aku akan menabrakan diriku dengan truk besar..."
aku berusaha untuk tersenyum lembut padanya, akan tetapi aku tetap tidak bisa menghentikan airmata ini. Ku usap pipinya dengan lembut, ia masih terisak.
Segera aku beranjak, dan menaiki sofa.. Ku tindih tubuhnya, meski tak sepenuhnya ku bebankan tubuh tegapku pada tubuh lemahnya.
Ia membuka matanya, menyadari diriku yang sekarang sudah berada diatas dirinya.
"Song... Songsaenim?" dia menatapku lemah. Ia menggerakan tangannya, berusaha untuk menggapai wajahku. Ku genggam telapak tangannya, lalu ku arahkan tangannya agar menyentuh wajahku.
"Saranghae... Sa, hiks.. Saranghae songsaenim... Jeongmal saranghae.. Hiks, hiks... Aku mencintaimu songsaenim! Tapi kenapa? Kenapa Tuhan tidak mau mengerti? Kenapa aku tidak boleh bahagia? Hiks.. Hiks... Kenapa kau meninggalkanku? Ke, kenapa? Aku takut, aku takut.. Hiks, hiks" ku dekap tubuhnya erat. Memeluknya dengan sangat erat.
Hatiku serasa remuk, hancur... Bahkan musnah tak bersisa... Jangan, jangan ambil dia dariku... Kenapa harus Tuhan yang berada dibalik semua ini? Kenapa harus Kau?
Tapi... Ini bukan kesalahan Tuhan Hyukjae... Bukan salahNya, tapi ini kehendakNya...
Akulah yang salah... Aku yang salah karena kau telah meletakan kebahagianmu kepada diriku... Kenapa harus aku? Kenapa aku juga harus mencintaimu? Kenapa harus terlambat seperti ini? Kenapa kau tidak terlahir lebih awal? Kenapa? Kenapa? Kenapa kau sakit? Kenapa kau harus ditakdirkan akan mati?
Ku jauhkan tubuhku dari tubuhnya, menatapnya dengan tatapan yang benar-benar menunjukan kesungguhanku padanya.
"Jadilah milikku, hatimu, tubuhmu, hidupmu, sakitmu... Jadilah milikku... Aku menginginkanmu"
.
.
.
.
Eunhyuk pov
.
.
.
"Jadilah milikku, hatimu, tubuhmu, hidupmu, sakitmu... Jadilah milikku... Aku menginginkanmu." ia menatapku sangat dalam. Terlihat kilatan kebenaran dari sorot matanya, ia benar-benar tulus.
Jangan begini...
Aku mohon jangan begini...
Jangan membuatku terlihat seperti orang jahat Tuhan...
Dia bukan milikku, aku tahu itu... Dia sudah memiliki orang lain...
Tapi kenapa ia menginginkanku? Kenapa dia ingin memilikku? Kenapa dia membuatku semakin berharap? Kenapa dia membuatku ingin dia benar-benar memiliki seluruh tubuhku? Bukankah itu jahat? Lalu bagaimana dengan namja itu?
Tidak bisa...
"Ja.. Jangan begini... Aku mohon jangan seperti ini hiks... Jangan membuatku seperti namja jalang yang mengambil kekasih orang lain.. Hiks, hiks, aku mohon.. Jangan buat aku menjadi orang jahat songsaenim~.. Hiks.. Pe, pergilah.. Temui kekasihmu..." jawabku lirih. Ku tutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Tangisku semakin pecah.. Aku sudah tidak tahan lagi menghadapi kenyataan seperti ini...
"Ayo kita pergi..." dapat kurasakan, ia perlahan menggenggam pergelangan tanganku dan menarik tanganku dari wajahku. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, lalu kurasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku.
"Saranghae... Ayo, kita pergi... Ki, kita pergi dari tempat ini... Pergi dan menjalani hidup ini berdua...hiks... Lee Hyukjae... Jeongmal saranghae... Aku sudah tidak peduli apapun lagi, yang ku butuhkan adalah dirimu... Kenapa kau begitu tidak peka hm? Ke, kenapa kau tega menyuruhku pergi? Semua apa yang kulakukan kepadamu...hiks Kenapa sebegitu sulitnya untuk kau ketahui? Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu... Aku mencintaimu, menginginkanmu... Semua penolakkanku kepadamu, hanyalah sebuah kepalsuan... A, aku sangat mencintaimu... Ayo, kita pergi... Kau maukan?" ia tersenyum dengan pipi yang masih dipenuhi dengan butiran airmata. Ia mendekatkan wajahnya, dan kemudian menciumku dengan lembut.
Mataku terbelalak setelah mendengar perkataan songsaenim. Ia mencintaiku... Ia mencintaiku... Songsaenim...
Ku pejamkan mataku merasakan ciumannya yang semakin dalam, ku lingkarkan lenganku pada lehernya. Ia mulai melumat bibirku kuat.
Oh, Tuhan... Benarkah kau memberikan sebuah kebahagian untukku? Apa ini sungguhan sekarang? Bolehkah? Bolehkah aku menjadi namja jahat sekarang?
Ku balas ciumannya dengan sangat rakus-seakan tidak ingin kehilangan rasa hangat dari bibirnya, ku lumat bibirnya, dan menekan kepalanya agar memperdalam ciumannya. Dapat kurasakan usapan halus dari kulit punggungku-tangan hangatnya menyelinap masuk kedalam kemejaku tanpaku sadari.
Aku menangis dalam ciumannya, merasakan bahwa ini akan menjadi kenangan indah dalam hidupku...
Aku sadar, waktuku tidak akan lama lagi...
Aku tidak mau... Ijinkan aku hidup Tuhan... Aku mohon..hiks.. Jebal...
Perlahan ia menjauhkan wajahnya dari wajahku, ia terdiam menatapku seraya mengusap sudut bibirku yang dipenuhi dengan saliva.
"Kita pergi ne? Kita akan hidup bahagia berdua saja di perdesaan, kau mau? Kita akan menikah disana sayang..." ia kembali tersenyum. Aku mengangguk seraya menghapus airmataku. Ia segera beranjak dari atas tubuhku, lalu menggendongku bagaikan seorang putri. Ku eratkan pelukanku pada lehernya.
"Miliki aku sepenuhnya... So, songsaenim.." gumamku tepat ditelinganya.
"Saranghae... Kita pergi sekarang?" tanyanya. Akupun mengangguk, dan ku biarkan mataku terpejam... Entah kenapa aku merasa diriku semakin lelah...
Mianhae... Jeongmal mianhae...
Kyuhyun hyung... Jeongmal mianhae... Aku sangat mencintai songsaenim...
Donghae songsaenim... Saranghae...
.
.
.
.
.
.
Kyuhyun pov
.
.
.
*"Mi, mianhae... Jeongmal mianhaeyo hyung.. Hiks... Aku mencintainya.. Sangat mencintainya... D, Donghae..hah... Donghae songsaenim... Aku mencintainya hyung... Ma, maaf.." *
ucapan itu kembali terngiang ditelingaku. Ia menolakku... Ia mencintai orang lain... Aish, bagaimana bisa? Kenapa ia tidak peka? Aku sudah menyukainya begitu lama, tapi kenapa ia malah mencintai orang lain? Wae?
Hyukjae... Aku mencintaimu, bahkan aku selalu mengimpikanmu menjadi milikku sepenuhnya... Tapi kenapa hm? Kenapa kau malah mencintai orang yang sudah memiliki tunangan?
"Dokter Cho? Gwaenchanayo? Apa kau yakin akan menjalankan operasi pencangkokan jantungku, dengan keadaanmu yang kacau itu?" ucapan seseorang sontak membuatku tersadar dari lamunanku. Ku alihkan pandanganku kepada seorang namja bergigi kelinci, yang sedang terbaring lemah diatas ranjang. Ia menatapku datar.
"Kau bisa saja membunuhku dengan kondisi berantakan seperti itu.." lanjutnya lagi. Aku terdiam berusaha mencerna perkataannya kepadaku.
Perlahan ku tatap sekujur tubuhku, kemejaku dipenuhi bercak darah milik Hyukjae... Ah, aku benar-benar terlihat sangat kacau..
"Hah, masih ada waktu untuk membersihkan dirikan? Baiklah, aku akan kembali lagi kemari. 3 jam lagi kita akan mulai melakukan operasi pencangkokan jantungmu, jadi siapkan dirimu ne?!" aku tersenyum kearahnya.
Lee Sungmin, tunangan dari namja itu.
.
.
.
5 years ago...
.
.
.
"Anak manis itu namanya Lee Hyukjae, umurnya baru 11 tahun. dokter muda Cho." sebuah tepukan lembut mendarat begitu saja tepat diatas pundakku.
"Appa." sahutku kepada pelaku penepukan itu, tanpa mengalihkan pandanganku dari bocah kecil yang sedang berdiri-diam memandangi sebuah ruangan pembakaran jenazah kedua orang tuanya, dengan pakaian serba hitam.
"Dia yatim piatu sekarang..." aku menoleh menghadap appaku yang berdiri disampingku. Ia tersenyum miris, seraya menatap bocah kecil itu.
"Ku dengar_"
"Mereka saling membunuh..." jawab appa sebelum aku menyelesaikan ucapanku. Aku terdiam, menatap appaku dengan intens.
"Appanya tidak menginginkannya... Dengan keahliannya sebagai seorang dokter, ia ingin melenyapkan anak itu dari muka bumi ini..." appa terdiam sejenak, kemudian ia menatapku. "Keributan itupun terjadi... Appa anak itu menyuntikan sesuatu ke dalam tubuh anak itu, sesuatu yang menurutnya akan membunuh anak itu perlahan-lahan. Sebuah racun ganas ciptaannya sendiri. Anak itu meronta, mencoba terlepas dari cengkraman appanya.. Akan tetapi, appanya sama sekali tidak mempedulikan jeritan ketakutan dari anaknya sendiri.. Dan kemudian eomma anak itu datang. Dengan kepanikan yang luar biasa, ia berusaha menjauhkan suaminya dari tubuh anaknya... Perkelahian itupun terjadi... Mimpi buruk bagi kehidupan anak itu telah dimulai... Kematian kedua orang tuanya... Dan juga racun mematikan itu... Bersarang ditubuhnya... Menggrogoti seluruh organ dalam tubuhnya... Dan kema_"
"Cukup appa! Jangan kau lanjutkan ucapanmu itu! Cukup, aku mohon hentikan!" pekikku kepada appaku. Ku pejamkan mataku, meredam segala amarah yang membuatku hampir memukul appaku sendiri.
Appa terdiam, ia meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Jagalah dia Kyuhyun... Dia membutuhkanmu... Hanya kau... Karena ini adalah kebodohan appamu juga, membantu orang itu untuk membuat racun penggrogot organ manusia... Appa mohon... Sembuhkan dia... Mianhae Kyuhyun... A, appa telah bersalah..." appa menangis. Ini pertama kali aku melihatnya menangis seperti ini, aku menganga dibuatnya. Ia memang bersahabat dengan appa anak itu, mereka adalah partner dokter yang paling hebat sekorea selatan. Tapi aku tak habis fikir, appa bisa-bisanya membantu orang gila itu membuat sebuah racun untuk membunuh anak itu?
Aku kembali menatap bocah kecil itu. Aku sedikit kaget ketika ia menoleh menatapku juga.
"Ahjussi... Bolehkah aku masuk kedalam ruangan itu? Aku ingin melihat eomma..." tanya bocah itu kepadaku. Ia menatapku dengan tatapan polos, pipi tirus itu masih dilinangi oleh butiran airmata. Aku tercekat, sungguh... Aku tidak suka dengan tatapan penuh luka itu... Tidak seharusnya ia mengalami hal ini...
Segera ku terjang tubuh mungil itu kedalam pelukanku, ku dekap erat tubuh ringkih ini dengan sangat hati-hati. Airmataku tak bisa dibendung lagi.
"Su.. Sudahlah... Ka, kau disini saja bersama hyung ne? Ja, jangan panggil hyung 'ahjussi' ne? Panggil hyung saja hm? Sekarang kau akan tinggal sama hyung, dan hyung janji akan menyembuhkan Hyukkie... Hyung janji, arrasseo?" ucapku lirih, seraya mengusap punggungnya lembut.
Bocah malang...
Kenapa harus kau yang mengalami hal ini?
Kenapa harus kau?
Dan kenapa harus kau yang telah membuat hidupku gila terhadapmu?
Gila akan cintamu, kehangatanmu, senyummu, tubuhmu...
Tapi kenapa aku tidak bisa memenangkan dirimu? Kenapa harus orang lain yang tidak tahu apa-apa akan dirimu?
Wae?
.
.
Flashback and
.
.
.
tes
Airmataku menetes, ingin rasanya aku berteriak... Meraung, bahkan bila perlu... Aku ingin menghajar orang yang telah merebut Hyukjae dari diriku...
Sialan kau Lee Donghae!
"Dokter Cho! Dokter Cho!" teriakan seseorang, membuatku tersadar dari lamunanku. Segera ku usap airmataku dengan kasar, kemudian beralih menatap seorang suster yang sedang berlari menghampiriku.
"Wae suster Kim?" tanyaku.
"Hyuk... Hyukjae! Di, dia menghilang! Mi.. Mianhae..."
Apa?
.
.
.
Kyuhyun pov end
.
.
.
.
Stasiun kereta-Seoul
"Mianhae, membuatmu menunggu lama..." ucap seorang namja tampan-Lee Donghae- kepada seorang namja manis yang duduk diatas sebuah kursi roda.
"Tidak lama kok Song_"
"Donghae hyung! Panggil kekasihmu ini dengan sebutan 'hyung'! Arra!" tegasnya seraya mendudukan dirinya disamping namja manis-Lee Hyukjae.
Hyukjae tertawa kecil mendengar penuturan dari namja berusia 30tahun itu.
"Seharusnya aku memanggilmu ahjussi... Baiklah... Donghae hyung.." ucapnya lemah. Ya, ia merasa penyakit ini semakin parah... Ia tahu, hidupnya sebentar lagi akan berakhir... Tapi ia berusaha untuk bisa menikmati suasana seperti ini...
Menikmati kebahagiaannya dengan namja yang ia cintai...
Sebuah sentuhan lembut, mendarat di pipi tirusnya..
"Wajahmu pucat hm? Apa kau kedinginan? " tanya Donghae, seraya merapatkan mantel miliknya yang dikenakan oleh Hyukjae. Hyukjae hanya tersenyum.
"Gwaenchanayo... Aku tidak kedinginan kok hyung... Lagi pula, mana susu stroberi hangatnya? Aku menginginkannya.." sahut Hyukjae.
Tbc review neeee
next chaper di facebookkuu gomawoo
