The Knight of Time
By :
Song Hyun In
Disclaimer :
They (DBSK and others) are not mine.
Warning :
Boysxboys, Slight Transgender, Shonen Ai, typos, tidak sesuai EYD, Dll
Cast :
Jung Yunho , Kim Jaejoong , Park Yoochun , Kim Junsu , Shim Changmin and other cast.
Genre :
Romance/Humor, School activity, adventure, Action, Supranatural, Slight Chara's death (In the past) and drama.
Pairing:
YunJae
Yoosu
MinFood (="=)
Enjoy then.
.
.
.
The Knight of Time
Previously on chap 01 :
Membuat sekilas hujan darah yang membasahi tubuh pucat Jaejoong dan membuat namja cantik itu menghela nafas.
"Aku perlu mandi berat seka-?! Siapa disitu, keluarlah?!" ucapnya yang menyadari ada hawa kehidupan di belakang semak-semak.
Ucapan Jaejoong membuat jantung keempat namja yang saat ini masih bersembunyi berdegup kencang.
"Okay, here it goes!" ucap mereka berempat, agar mereka keluar bersamaan dan jika ada sedikit keberuntungan, Jaejoong tidak akan menjadikan mereka sebagai target latihan.
.
.
.
Sebelum Yunho dkk bergegas keluar sambil menerima takdir mereka untuk menjadi karung sasak tinju Jaejoong…
Srek srek
"Jae nooooonaaaa~!" teriak dua namja kembar yang terlihat lebih muda ketimbang Jajeoong sambil berlari dan memeluk namja yang bercipratkan darah monster yang barusan ditebasnya.
"Kwang Min? Young Min? Apa yang kalian lakukan disini?" ucap Jaejoong kaget karena jatuh tersungkur ditindih oleh 2Min.
"Kau kereeeeen sekali tadi!" puji Kwang Min bagaikan melihat idola terkenal, rupanya anak ini bersama dengan kembarannya membuntuti Jaejoong sedari tadi.
Jaejoong menghela nafasnya ketika namja kecil ini menindihnya, kalau dia yeoja mungkin saja Jaejoong akan merasa malu karena hal seperti itu tidaklah lazim didunianya.
"Kwang Min…bisakah kau minggir? Kau agak berat…" pinta Jaejoong yang mendorong kepala Kwang Min yang masih mengelus-elus dada bidang Jaejoong agar dia bisa berdiri, sementara Young Min masih bisa menahan diri (?)
"Ehehehe…mian." Ucap Kwang Min yang berdiri dari tubuh ramping Jaejoong.
"Kalian ini…seperti anak anjing yang lagi kepanasan saja…" ucap Jaejoong yang menancapkan pedang excaliburnya ke tanah yang dipijaknya.
.
.
.
"2Min?! kenapa mereka ada disini?" bisik Changmin kaget.
"Apa mereka saling mengenal?" tanya Yoochun heran.
"Ah! Mereka berdua yang pertama kali bertemu dengan Jaejoong, seingatku mereka bilang kalau mereka menginap di rumah Jaejoong setelah menemukan Jiji…" ucap Junsu yang barusan ingat kejadian tadi pagi, dimana kedua Jo itu pulang kepagian dan beralasan menginap di rumah teman mereka yang tak lain adalah Kim Jaejoong.
Yeoja err…atau namja yang menolong mereka semua kemarin malam.
"Benarkah? Apakah mereka bertemu setelah Jaejoong Sunbae menolong kita pada malam itu?" tanya Changmin.
"Entahlah, mungkin saja benar…" ucap Junsu tidak yakin.
"Dengar…aku ngak peduli'kek. Yang penting kita kabur dulu sebelum-?!" ucap Yoochun yang heran melihat Yunho yang masih diam melihat adegan Kwang Min yang tadi menindih Jaejoong dan bisa kita lihat aura membunuh mengelilingi Yunho.
"What's with him?" tanya Junsu.
"Who know's? Gegar otak'palingan?" jawab Yoochun yang mengendap-endap keluar, menuju mobilnya diparkir.
"Pabbo! Cepatlah sadar sebelum kita ketahuan!" desis Changmin sambil menyeret kaki Yunho sehingga kepala namja bermarga Jung itu mebentur tanah yang dipijaknya. Sakit memang tapi, Changmin tidak peduli karena, nyawa beruang sipit ini akan terancam kalau tidak dibeginikan(?)
Entah keberuntungan macam apakah yang meliputi empat namja itu, sehingga kepala mereka masih terbenam di leher mereka.
.
.
.
"Jung Yunho, kau baik-baik saja? Kau terlihat parah hari ini?" tanya Boa kaget melihat keadaan dongsaeng-nya yang baru turun dari tangga dan segera duduk di kursi dengan wajah mengantuk, rambut coklatnya tertata tidak rapi.
"Aku hanya kecapaian saja…" jawab Yunho lesu. Boa hanya mengangkat sebelah alisnya, heran.
"Ada masalah dengan sekolahmu?" selidik Boa, memainkan sereal yang di dalam mangkuknya.
"Ani…" jawab Yunho yang menusuk saladnya dengan garpu lalu, menyuapkan sayuran segar itu ke mulut berbentuk hatinya.
Boa menghela nafas. Memang, Yunho sulit dibujuks untuk menceritakan masalahnya baik bersifat pribadi maupun yang non-pribadi.
Mau bagaimana lagi? begitulah Yunho, selalu berusaha untuk memecahkan sendiri masalahnya tanpa membiarkan dirinya dibantu siapapun.
"Terserahmu saja. Kalau kau ada masalah, jangan ragu untuk menceritakannya padaku, arra?" ucap Boa dengan tenang tapi matanya menyiratkan bahwa dia tengah serius memperhatikan Yunho.
"Arra, arra." Jawab Yunho malas.
'Apa Yunho bertemu dengan Dia? Kuharap iya, karena yeoja kaku itu tidak menyadari ada perasaan seseorang kepadanya dan plus, aku ingin tahu seperti apakah rupanya sekarang? Makin cantik? Atau makin beringas? Hahaha…'
Entah kenapa bibir Boa tersunggingkan senyuman yang penuh arti lebih dari satu.
Entah siapakah orang yang dimaksud Boa?
"Noona…aku sudah selesai makan." Ucap Yunho yang menyudahi sarapannya, membuat Boa menghentikan lamunannya.
"Ah, ne…kajja!" ucap Boa mengambil kunci mobilnya dengan gantungan berbentuk separuh sayap putih yang sederhana.
.
.
.
"Aku ada pelatihan di gedung Shinki dan akan kujemput kau sekitar jam 6." Ucap Boa yang mengeluarkan kepalanya keluar jendela mobil, menghadap Yunho yang menenteng tasnya.
"Ne." jawab Yunho singkat.
"Jangan lupa, tunggu aku didepan gerbang ini, arra?" ucap Boa mengingatkan.
"Arraso." Ucap Yunho yang melongoskan kepalanya dan berjalan menuju gedung SM.
Entah kenapa langkah Yunho terasa berat ketika memasuki corridor sekolah, bayangan dimana 2Min yang terus bergelayut manja pada Jaejoong dan nampaknya namja cantik itu tidak menggubris skin-ship antara dia dengan si kembar Jo itu.
Namun sialnya, pikiran Yunho semakin berkecamuk.
Saat Yunho berbelok kearah kanan, dia melihat namja cantik yang menjadi sumber permasalahannya tengah berbicara dengan wanita, nampaknya wanita itu seorang songsaenim dan dia tengah tersipu malu.
"Terima kasih telah membantu membawakan buku-buku ini, Kim Jaejoong." Ucap Songsaenim.
"Tidak apa-apa, kesinikan buku-buku itu songsaenim." Pinta Jaejoong halus, sambil mengambil separuh buku lagi dari tangan gurunya.
Dimata orang normal manapun, terlihat Kim Jaejoong tengah bersikap sopan layaknya murid kepada guru.
Tapi, terlihat dimata Yunho, kalau Jaejoong tengah menggoda songsaenim-nya (Yunho : teganya kau, Boo! T^T)
"Kim Jaejoong mian, kemarin aku meminta Jang-sshi yang mengenalkanmu didepan teman barumu." Ucap songsaenim yang Yunho kenal dengan nama, Yoo In Na.
"Tidak masalah songsaenim, saya mengerti kalau anda memiliki banyak pekerjaan sehingga sulit meluangkan waktu anda untuk mengenalkan saya." Ucap Jaejoong sopan.
"Dan nilai-nilaimu saat di Jepang dan di SM sangat memuaskan! Padahal kau baru saja pindah kesini, tapi banyak rumor tentang kepintaranmu, Aku bangga menjadi wali kelasmu." Ucap Yoo songsaenim tersenyum ramah, wajah cantiknya bersinar.
"Saya hanya melakukan apa yang saya bisa semaksimal mungkin dan justru saya yang bangga karena, anda yang menjadi wali kelas saya." Ucap Jaejoong memperlihatkan senyuman manisnya dengan punggung tangannya yang menutup setengah wajahnya.
"Ah, bisa saja. Apakah di sekolahmu dulu diajarkan untuk bersikap manis seperti ini?" Ucap Yoo songsaenim tengah memegang kedua pipinya yang merona merah.
Jaejoong terus tersenyum ramah, sedangkan Yunho hanya bisa menatap garang kearah guru dan murid 'kebanggaannya' itu.
"Urgh…" geramnya sambil mengambil rute lain dan dilihat oleh kedua orang yang tengah berbicara itu dengan pandangan 'Kenapa dia?'
Yunho tidak menyukai kedekatan Jaejoong dengan orang lain, menurutnya sudah sepantasnya seorang Kim Jaejoong bersama dengannya.
Wait!
Darimana Yunho memikirkan hal seperti itu? Maksudku, ayolah namja cantik itu bahkan tidak ingin melihat wajah Yunho, seolah dia sedang menghindari sebuah wabah dan wabah itu adalah Jung Yunho.
Dan plus, dia tidak GAY!
'No, I can't be a Gay! Or…am i?'
"ARRRGH! AKU BISA GILA!" erang Yunho membahana seluruh corridor, membuat Jang songsaenim menyembulkan kepalanya dari pintu kelas dan mendelik kearah Yunho.
"Ya! Jung Yunho, kenapa kau berteriak di depan kelasmu? Apa kau sedang masa memberontak, eoh?!" berang Jang Songsaenim kesal.
"Mianhae…" sesal Yunho.
"Cepat masuk dan sebagai hukumanmu sering telat juga berani berteriak didepan kelas, Aku ingin kau menjawab semua soal-soal ini!"
"Ne…" ucap Yunho yang bergegas masuk dan duduk disamping Yoochun, yang selalu menjadi teman sebangkunya.
"Psst! Kau telat sekali, apa yang kau lakukan?" tanya Yoochun penasaran.
"Iya, biasanya kau telat 5 menit, sekarang udah 15 menit." tanya Donghae yang duduk di meja belakang Yunho.
"Ceritanya panjang…" bisik Yunho.
Pukh!
Beberapa map yang berisikan soal-soal yang dijanjikan Jang songsaenim untuk Yunho kerjakan, ditaruh di atas meja Yunho dan Yoochun, sehingga menutupi pandangan mereka ke depan.
"Ini adalah soal-soal yang kuberikan padamu." Ucap songsaenim santai.
"Mwo?!" ucap Yunho dan Yoochun bersamaan, ketika melihat tumpukan map berwarna biru itu. Karena tidak dapat melihat wajah songsaenim tercinta -uhuk- mereka, keduanya melihat dari sisi lain, Yunho dari kanan dan Yoochun dari arah kiri.
"Sebanyak ini songsaenim?" ucap Yunho tidak percaya.
"Ne, waktumu hanya 2 hari untuk menyelesaikannya." Sahut songsaenim itu.
"Mwo? Gila! Meskipun Yunho itu jenius. Tapi 2 hari itu sangat berlebihan." Bela Yoochun tidak terima karena sahabatnya diperlakukan begini oleh Jang Dong Gun, guru matematika ter-killer seantero.
"Baiklah, kalau begitu besok saja, Kumpulkan sebelum pelajaran dimulai!" ucap songsaenim yang berlalu dan melanjutkan pelajaran.
Membuat Yunho menatap tajam kearah Yoochun.
"Mian." Sesal Yoochun.
.
.
.
"Mianhae, Noona. Aku akan pulang terlambat, ada beberapa tugas yang membuatku terjebak di perpustakaan untuk sementara waktu." Ucap Yunho yang sedang menelepon Boa, yang saat ini sedang dalam perjalanan ke sekolah dongsaeng-nya.
"Oh, ya sudah. Aku akan langsung menuju ke rumah kalau begitu, jangan pulang terlalu larut, arrasso?" ucap Boa yang berada di seberang telepon.
"Ne." ucap Yunho yang menutup teleponnya, saat ini dia berada di perpustakaan.
Sekarang sudah jam 5 sore, dan dia harus menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru killer itu setidaknya setengah dari soal matematika ini.
Berkat bantuan Sue Ji yang mengerjakan bagian calculus sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolongnya, Setidaknya Yunho bisa bernafas lega.
Dia terus bergelut dengan soal-soal yang lumayan sukar untuk dijawabnya, tanpa disadarinya sosok namja cantik yang ditemuinya di corridor datang untuk mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya.
"Aish…Jang sialan! Aku jadi stress kalau mengerjakan soal khusus anak kuliahan begini!" ucap Yunho yang mencengkram rambut coklatnya.
"Lagi-lagi kau…" ucap suara halus namun tajam yang dikenal oleh Yunho, membuat namja Jung bermata sipit itu mengadahkan kepalanya kedepan.
.
.
.
-Yunho POV-
"Lagi-lagi kau…" panggilan yang terasa familiar, membuatku tanpa sadar mendongkakan kepalaku kedepan.
Melihat seorang Kim Jaejoong, yang saat ini menyilangkan kedua tangannya kedepan dada, membuat kesan sexy dan anggun dimataku.
Mata doenya menatapku secara intens dan bibir cherry yang mengkilat itu membuatku ingin segera mengecupnya sekarang juga, aku berpikir seperti apa kulitnya yang terbalutkan kemeja itu jika dia berada di ranja-!
Wait, whuts?!
PLAK! Aku menampar pipiku secara batin tentunya, kalau aku melakukannya didunia nyata makan namja ini pasti berpikir yang bukan-bukan, membuatku sadar apa yang kupikirkan!
Apa aku baru saja memikirkan Jaejoong secara seksual? Se-yadong itukah diriku?
"Jaejoong…" ucapku.
"Panggil aku Sunbae, dongsaeng." Jawabnya datar, membuatku menggerenyitkan dahiku tidak suka. Dia melihat lembaran hvs yang sedang kukerjakan saat ini.
"Tugas, eoh?" tanyanya tapi lebih tepatnya sebuah pernyataan.
"Ne." jawabku.
Dia menatapku dengan tatapan yang jelas-jelas menyiratkan kalau dia sedang bosan dan ingin segera pergi dariku tetapi ada yang membuatnya mengurungkan niatnya, seolah-olah ada yang menahannya untuk di sini, mungkin karena buku biru yang sudah usang itu.
Bukannya, buku itu berwarna merah?
Aneh…
"Heh, kalau begitu kubiarkan kau sendirian saja." Ucapnya sambil duduk di bangku yang berhadapan denganku.
Hatiku merasa sedikit tidak karuan, hatiku berkecamuk antara ingin kecewa dan senang.
Aku merasa kecewa karena dia memutuskan untuk membiarkan aku bermesraan dengan soal-soal ini tanpa membantuku sama sekali dan kedua, aku merasa senang karena dia duduk di kursi yang tidak jauh letaknya, yaitu di hadapanku!
Sekitar setengah jam, aku masih bertarung dengan soal-soal laknat yang sebenarnya ngak pernah ada jawabannya, mana ada rumus cara membagi badan beruang dengan badan gajah! Paling-paling si Jang sialan itu sembarangan saja membuat soal ini!
Pelajaran terahkir kali ini adalah, sejarah.
Aku paling benci sejarah! Karena buat apa'sih kita perlu mengingat sejarah-sejarah dimana, yang kaya juga kuat berkuasa sedangkan yang lemah? Stand no chance.
Jadi keingat film "The Return of Iljimae" aja!
Ngak tahu pribahasa yang berlalu biarlah berlalu dari Macabeth?
Mataku tertuju dengan soal sejarah yang bertuliskan 'Knight of Chronos' sukses membuatku tersenyum mengejek dengan judulnya, Ksatria Chronos katanya? Heh, Tuan Jang Dong Gun ini mengambil cerita dari manhwa(komik) mana'sih? Norak banget!
Kubaca dengan agak keras ketika membaca judul sejarah yang jadul itu "Knight of Chronos, eh?" ucapku begitu dan sukses namja cantik di hadapanku mengangkat kepalanya dengan mata membulat kaget.
Sukses juga membuatku terheran-heran dengan raut wajahnya yang tak bisa kuprediksikan dengan benar.
Ada apa ini sebenarnya?
-End Yunho POV-
.
.
.
-Jaejoong POV-
Aku mendengus pelan karena sosok yang sedang tak ingin kulihat datang ke perpustakaan ini, aku sedang berkonsentrasi untuk merapalkan mantra-mantra dari buku yang kupinjam.
Sudah kedua kalinya, bocah ini menganggu acaraku untuk berlatih sihir. Kemarin ketika aku berhasil menemukan buku Red of Dragon Tongue, buku yang menjelaskan secara detail tentang sihir api, bocah ini datang dan mulai berbicara ngelantur.
Sekarang, aku mendapatkan buku Blue tears of sirens, buku usang ini menyangkut tentang segala cara penyembuhan dan elemen air.
Aku mendengar suara kertas halaman yang dibalik oleh namja ini, sepertinya dia sedang mengerjakan sejarah.
Awalnya aku tidak peduli namun…
"Knight of Chronos." ucapnya
ketika kata-kata yang sudah lama sekali kembali tergiang di telingaku, aku mengangkat wajahku dan melihat ke matanya secara intens tanpa berkedip.
"Kim Sunbae?" tanya Yunho namun, aku mengacuhkannya.
"Kau…tadi kau bilang : Knight of Chronos?" tanyaku sambil melotot kearahnya, mengintimidasi namja sipit ini.
Alis Jung Yunho langsung saja berkedut, aku bisa mengerti apa yang dipikirkannya.
"Ne…" jawabnya pelan dan bingung.
Akupun segera melangkahkan kakiku menuju meja belajarnya dan melihat soal-soal sejarah itu, pertanyaannya sangatlah sederhana.
'Siapakah Crudsader terkuat pada tahun 1152 Anno. Domini?'
Begitulah yang tertulis dalam kertas putih yang kupegang ini, dengan senyuman miris aku menjawabnya.
"Hero Von Archangel." Jawabku.
Yunho mengerenyitkan lagi dahinya ketika mendengar tuturanku, dia mengambil kertas itu dan melihat pertanyaan yang terlontar disitu.
"Jawabanmu aneh, ngak ada di pilihan gandanya." Ucapnya bingung.
"Mwo?" ucapku pelan dan kembali merebut kertas itu dan melihat hanya ada satu pilihan yang cukup familiar yaitu…
"Earl U-Know De Leon." Ucapku lagi dengan tatapan aneh.
Aku tidak mengerti, bukannya namaku tertera didalam sejarah? Kenapa hal itu terjadi? Bukannya aku mempermasalahkan kisahku yang menghadapi homunculus, tapi seolah-olah waktu ada yang salah.
Seolah-olah aku tidak pernah tertulis dalam sejarah.
Aku mencium ada yang salah, dimulai dari seharusnya aku mati karena meledakan diri bersama Satgazh, kenapa aku malah terdampar ke dunia manusia yang sudah sangat berkembang ini? Dan kenapa nama U-Know tertera dalam sejarah? Aku mulai berpikir serius dan terlarut didalamnya, aku tidak menyadari sosok senyuman mesum dari beruang sipit itu.
Aku memutuskan untuk memecahkan kasus ini dan meminta penjelasan yang logis dari Ratu, setelah aku berhasil kembali ke dunia Chronos tentunya.
"Akan kubantu kau mengerjakan soal-soal ini." Ucapku tiba-tiba dan sukses besar membuat namja muda ini terkejut.
"Jinjja?" ucapnya tak percaya, seolah-olah aku bukan berbicara dalam bahasa korea.
"Ne, setelah kerjaan ini selesai aku ingin kau segera angkat kaki dari sini, mengerti?" Ucapku, yang tiba-tiba saja keringat dingin melihat senyuman Jung Yunho, harus kuakui Suzy memiliki selera bagus sekalian yang terburuk.
U-Know yang kukenal sangatlah dewasa dan playboy, sedangkan Jung Yunho yang menjadi cucu buyutnya dari luar terlihat kekanakan namun, sebenarnya dia seorang gentleman. Aku melihat ketika dia melindungi Sue Ji mempertaruhkan dirinya menghadapi homunculus.
Dan aku harus jujur, dia memang tampan.
Tapi, aku ini namja bukan yeoja lagi! aku pernah mendengar kata-kata yang sering diucapkan oleh Kim Min Joong, appa angkatku. Tentang hubungan sesama yang disubut dengan Guy? Gai? atau Hono? Entahlah, yang jelas appa angkatku pernah mengatakan hal seperti itu.
Dan dia pernah bilang aku bisa memilih cintaku. Bah! Kim Min Joong, kayak kau tidak tahu saja kalau kau tidak tertarik, yang kuinginkan adalah pulang keduniaku bukan tinggal disini.
Kupikir setidaknya aku bisa mengucapkan terima kasih pada bocah ingusan ini dengan cara menolongnya mengerjakan soal-soal ini.
Tapi, aku sadar apa'lah arti dalam 'Menggali liang kuburan sendiri.' -_-
Karena senyuman yang tak kumengerti maksudnya terus mengembang di wajah anak ini.
Aigoo…
-End Jaejoong POV-
.
.
.
-Yunho POV-
Aku terkejut sekaligus senang dengan tawarannya untuk membantu mengerjakan soal-soal ini, apalagi kudengar dari Junsu kalau Jaejoong terkenal karena kejeniusannya.
Ini bisa menjadi keuntungan buatku sekaligus sebagai kesempatan bagiku utnuk mengenalnya lebih dekat.
Kuperhatikan dirinya yang berpindah tempat kearah sampingku, memungkin dirinya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sejarah ini.
Tik tok tik tok
Jam perpustakan berdetak secara monoton, mataku melirik sekilas kearah jam besar didepanku yang menunjukan jam 7 malam.
Aigoo, perpustakan ditutup jam 9 malam dan aku masih juga belum menyelesaikan seperempat dari soal buatan Jang sialan itu!
Tapi, kucuri pandang ke arah namja yang saat ini sudah menyelesaikan 50 pertanyaan, alisnya berkedut untuk memastikan pertanyaan dikertasnya, terkadang bibirnya mengerucut sebal namun terlihat manis dan menggiurkan di mataku- oke, aku mulai merasa aneh sekarang!-
Cukup! Jung Yunho, kau bisa jadi gila kalau terus berpikir pevert seperti ini.
"Apa yang kauperhatikan, Jung Yunho?" tanyanya tanpa perlu menoleh kearahku.
Sial, aku ketahuan olehnya!
"Ah, itu anu…"ucapku terbata-bata.
"Haaah…kau ini, belum satupun dari soal ini habis kau kerjakan? Kudengar kau ini jenius? Jangan-jangan itu cuma bualan fansmu yang kurang kerjaan itu." Ucapnya datar dan sedikit menusuk.
"Bisa apa korea kalau banyak remaja masa depan seperti ini? Kujamin negara bahkan orangtuamu sendiri akan merasa kecewa." Ucapnya menusuk lagi.
JLEB!
Aku Cuma terdiam mendengarkan kata-kata pedasnya.
"Aku rasa para petani atau pekerja bahan pangan akan menyesal menyediahkan kebutuhanmu, kau hanya namja manja dimataku." Ucapnya menusuk, bukan lebih tepatnya menikam ke uluh hatiku.
Matanya melirikku dengan tatapan benci dan muak kearahku.
"Kuharap ada yeoja gila yang mau menikah denganmu." Ucapnya sukses membuat diriku mulai emosi, namun aku berusaha menahan diri untuk tidak meninjunya.
Oh, kalau kalian kira dia akan berhenti sampai disini saja, maka jawabanya adalah : BIG NO!
"Ah, bukannya kau suka namja ya? Kudengar dari beberapa yeoja, ada namja dongsaeng-mu yang kau paksa untuk melakukan 'itu'siapa namanya, ya? Kalau tidak salah-"
BRAK
Kuhantamkan tanganku menyentuh meja belajar dan sukses membuat semua lembaran kertas yang kujawab berhamburan di lantai, membuat pengurus perpustakaan melemparkan penggaris besarnya kearahku, maksudnya untuk diam.
"Appo…" ringisku.
Jaejoong hanya mendengus pelan dan memunguti kertas-kertas itu.
"Kau ini benar-benar ceroboh, segitu saja sudah emosi." Ucapnya memunguti kertas itu.
Memangnya, gara-gara siapa aku jadi seemosi ini, huh?
Aku pun menghela nafas dan membantunya memunguti kertas yang berserakan tadi.
Ketika, aku mencoba mengambil kertas terahkir, tanganku dan tangannya tak sengaja bertubrukan, aku menatap matanya dan dia juga melakukan sebaliknya.
Mata doe-nya seolah-olah menyihirku untuk terus menatap kecantikannya dan bibir cherry itu seolah-olah mengundangku untuk menciumnya.
Dan tanpa kusadari bibirku bersentuhan dengan bibir kenyal dan halus yang hanya bisa kuhayalkan itu.
"Mmmh…" desahnya tertahan.
Dalam waktu 5 menit, kami melepaskan ciuman itu, aku dapat merasakan wajahku seperti kepiting rebus bahkan lebih merah daripada ini.
Aku tidak melihat semburat malu di wajahnya, seolah-olah ciuman tadi itu hanya angin lalu saja. T^T
Kulihat dia mengelap bibirnya dengan lengan kemeja putihnya dan bangkit berdiri, separah itukah ciumanku?
Deng deng deng
Suara jam berdentang menunjukan jam 8 tepat.
"Kau kerjakan sendiri saja, ayo pulang." Ucapnya pergi dan memegang buku berwarna biru usang yang kulihat tadi, dia mulai melesat pergi meninggalkanku sendiri, tega.
Namun, dia menahan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Kenapa? Kau tidak mau ikut?" tanyanya, membuatku keheranan.
"Eh? Sunbae ingin mengantarkanku pulang?" tanyaku.
"Haaa…kalau kau ingin bermalam disini juga tidak apa-apa, kalau begitu…" ucapnya berjalan pergi dan berhasil membuatku berlari menyusulnya dengan tas yang penuh dengan kertas-kertas jawaban.
"Changkaman, Jaejoong Sunbae!" teriakku.
-End Yunho POV-
.
.
.
"Disini rumahmu?" tanya Jaejoong yang memberhentikan mobil Lamborghini-nya di depan mansion milik keluarga Jung.
"Ne, gomawo Sunbae." Ucap Yunho yang melepaskan sabuk pengamannya.
"Ne, cepatlah pergi, sebelum kau terkena masalah denganku…" ucap Jaejoong dingin dan menunggu Yunho keluar dari mobilnya, namun beberapa detik dia menunggu, tidak ada suara pintu mobil dibuka ataupun pintu yang tertutup.
Jaejoong membalikan kepalanya dan melihat Yunho tengah menatapnya intens.
"Ada yang bisa kubantu lagi?" tanya Jaejoong datar.
"Ne, kenapa kau selalu bersikap dingin padaku?"
Mata Jaejoong terbelalak sebentar karena dia masih dapat mengendalikan emosinya.
"…" Jaejoong tidak menjawab tapi memberikan tatapan maut kearah Yunho.
"Apakah aku melakukan kesalahan, sehingga kau bersikap seperti ini?" tanya Yunho lagi melupakan perbedaan statusnya yang muda dibawah Jajoong.
"Menurutmu?" tanya Jaejoong secara retoris.
Alis Yunho berkedut agak kesal mendengar jawaban Jaejoong.
"Apakah kita pernah bertemu selain di sekolah?" tanya Yunho menahan amarah dan Jaejoong yang tidak mengetahui hal itu, mulai angkat bicara lagi.
"Kuharap tidak, kita tidak pernah bertemu. Aku hanya merasa terganggu dengan keberadaanmu itu saja." Jawabnya simple sambil menutup matanya, tak peduli.
Namun hal itu terlihat seperti undangan bagi Yunho, undangan minta dicium!
Dan sukses membuat Yunho melumat mulut seksi itu, sekaligus membuat namja cantik itu terbelalak kaget dan tak sengaja dia membuka mulutnya, membuat lidah Yunho memasuki mulutnya, mengabsen semua gigi milik Jaejoong.
"Mmmpfffthhh…!" desah Jaejoong tertahan karena ciuman panas Yunho, yang entah kenapa sedang in- heat.
Jaejoong berusaha mendorong dada bidang Yunho, Yunho mengeratkan pelukannya di pinggang Jaejoong, sementara tangan kiri namja bermarga Jung itu tengah memasuki kemeja sekolah Jaejoong, menyentuh kulit pucat milik namja cantik itu.
Dan kilatan mata Jaejoong terlihat tajam yang menyadari betapa tidak senonohnya namja ini, dengan cepat juga kuat dihujamkannya kepalannya menyentuh pipi Yunho.
BUAKH!
"Ugh!"
Tinjuan Jaejoong yang tak pernah berubah kadar(?) kuatnya itu berhasil membuat Yunho termundur sejenak, menghantam pintu mobil Jaejoong dan memegangi pipinya yang berdarah, dia yakin akan bengkak dan lebam pada besok harinya.
"…" Yunho menatap Jaejoong dengan tatapan yang susah diekspresikan baginya dengan kata-kata sederhana.
Tatapan miliknya itu seolah-olah dia menyukainya, lebih tepatnya dia menyukai tatapan aneh ini ketika diarahkannya kepada Kim Jaejoong.
"Apa yang ada dipikiranmu? Aku ini namja bukan yeoja murahan." Ucap Jaejoong yang mengusap bibirnya yang terdapat sedikit saliva karena ciuman panas tadi, dia membuat memo pengingat untuk menyikat gigi dan memakai penyegar mulut setelah mengantar pulang anak tidak tahu terima kasih ini.
"…" Yunho masih menatapnya aneh, membuat Jaejoong sedikit risih melihatnya.
Drrt drrt…
Tiba- tiba terdengar suara telepon dari saku celana Yunho, memecahkan keheningan sesaat.
"Ne?" tanya Yunho.
"Keluarlah, Jung Yunho. Sebelum aku meremukan badanmu!" Ancam Boa kesal dari seberang telepon.
"Ada apa, sih? Aku akan kesana, setelah urusanku selesai…" ucap Yunho sambil menatap namja cantik di kursi penyetir.
"Cepatlah kesini! Tunanganmu tercinta ada disini! Aku malas tauk, kalo harus berbicara dengannya." Ucap Boa frustasi, membuat dongsaengnya terbelalak kaget.
"Go Ahra? Ngapain yeoja ganjen itu kesini? Bukannya dia ada pemotretan di jerman?" tanya Yunho tidak percaya, tunangannya(Hoeeeks!)yang sedang sibuk pemotretan telah kembali untuk menghancurkan hari-harinya, bayangkan kejadian macam apa yang akan dilaluinya dengan Ahra yang selalu mewarnai hidupnya?
Arrgh! Memikirkannya saja sudah membuat Yunho menjadi gila dan frustasi berat!
Tanpa disadarinya, dia sudah berada di depan pintu mansionnya, meninggalkan Jaejoong yang mendengar sebagian pembicaraan Yunho dan noona-nya.
Jaejoong yang mendengarnya, sedikit menyeringai.
"Go Ahra, ya? Nampaknya ini akan menarik…" bisiknya pelan dan menyetir mobilnya yang menuju arah berlawanan.
"Kau akan mendapatkan balasannya…" ucapnya sepanjang jalan.
Omo, malaikat ternyata bisa juga berubah menjadi iblis.
.
.
.
"Selamat datang Yunho-sshi." Salam para maid dan butler yang menunggunya didepan lorong, Yunho dengan malas mengibaskan tangannya dan berjalan menuju ruang keluaraga, disana terdapat Boa, noona-nya dan beberapa orang yang dikenalnya.
"Yunho chagi, kau sudah pulang'nak?" ucap yeoja yang terlihat cantik, namun sebenarnya sudah berparuh baya, namanya adalah Jung Leeteuk, umma Yunho.
"Ne, umma." Jawab Yunho singkat dan duduk di samping Boa yang nampaknya memasang muka bete.
"Yunho-ah, Ahra datang untuk mengunjungimu." Ucap appa Jung, yang bernama Jung Kangin.
Yunho menoleh malas kepalanya ke arah Yeoja ganjen yang baru keluar dari kamar mandi, dalam hati Yunho mendengus kesal, pasti Ahra menghabiskan waktunya di kamar mandi untuk berdandan bukan melakukan 'Panggilan'nya.
"Yunho-ah, bogoshippo~" ucapnya manja sambil memeluk leher Yunho, memaksa namja bermata sipit itu menundukan sedikit badannya karena berat badan Ahra.
"Ahra, lepaskan aku…kau berat." Ucap Yunho menahan amarah dan mendelik kearah noona-nya yang sibuk memainkan i-phonenya.
"Mianhae, Yunho-ah. Aku terlalu senang untuk menemuimu, karena udah lama sekali aku tidak kesini." Ucap Ahra melepaskan panggutannya.
"Apa tidak ada cara yang NORMAL? Lain kali jangan pernah diulangi lagi. Aishhh… jinjja, beratmu bahkan melampaui berat gajah." ucap Yunho malas dan instan membuat Ahra juga kedua orang tuanya terkejut.
"Ya! Yunho, apa begitu sikapmu kepada istrimu?" berang appa-nya tidak terima.
"Masih calon istri, lebih tepatnya." Ucap Boa mengacungkan tangannya, menginterupsi appa-nya dan sukses mendapatkan tatapan beringas dari appa-nya.
"Thank you, Noona." Ucap Yunho sambil menunjuk kearah Boa.
"Aissh, kalian ini…dasar Jungs!" ucap Kangin mengelengkan kepalanya, sedangkan Leetuk terkejut melihat lebam di pipi Yunho.
"Aigoo, Yunho Chagi, ada apa dengan pipimu? Kau berkelahi?" tanya ummanya.
"Sebenarnya in-" sebelum Yunho mneyelsaikan ucapannya, Ahra dengan sok panik menghampiri calon tunangannya(Hueeeksss, author ngerasa anjir waktu mengetiknya)dia memperhatikan pipi Yunho yang membiru.
"-Omo, siapa yang menonjokmu, Yunho-ah?" ucapnya sengaja manja dan sok manis.
"Siapa yang menghajarmu? Apa kau beneran berkelahi?" tanya Kangin sedikit panik.
"Ani, aku hanya ditonjok karena kesalahanku juga…" ucap Yunho sambil tersenyum penuh makna, tidak ada yang menyadarinya kecuali Boa dan Ummanya.
Pasalnya Yunho adalah anak yang cuek bebek akan perkelahian, apalagi anaknya ini selalu kompak dengan noona-nya ataupun dengan genknya.
Dan hal yang paling tidak mungkin anaknya yang setampan monyet #plakk ini semudah itu ditonjok(?)habis, padahal dia'kan pemegang sabuk hitam taekwondo.
"Okey, biar aku yang mengobati lebammu itu. Jinjja… kau terlihat seperti Hunchback Notre Dame, saja~" ucap Boa ngasal sambil menyeret Yunho ke kamarnya.
"Aigoo…" ucap Kangin yang kemudian meminta maaf karena acara bertemu Ahra dengan anaknya jadi berantakan.
Leeteuk menatap dengan penuh penasaran tentang raut wajah anaknya yang secara misterius tersenyum ketika dia menceritakan alasannya.
.
.
.
"Okey, start talking, Jung Yunho!" ucap Boa sambil menunjuk dongsaeng-nya dengan cotton bud.
Yunho hanya mengangkat sebelah alisnya, tanda dia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan dan dipikirkan noona-nya ini.
"I don't know what are-Arrrghhh!" erang Yunho kesakitan ketika Boa mengusapkan kapas dengan alcohol 99% ke arah pipinya dengan kasar tentunya.
"What the hell?! It hurts!" ucap Yunho memegang pipinya, berusaha menghilangkan sakit di pipinya.
"Now, tell me what's bothering you lately?" tanya Boa yang menatap dongsaeng-nya.
Yunho menghela nafasnya mengalah, karena percuma saja mengelak dari Boa. Cepat atau lambat yeoja berekor rubah itu akan mengetahui ada yang salah dengan dongsaengnya.
"Haaa…aku ditonjok oleh seseorang yang kusuka…" ucapnya sukses membuat mata Boa menyipit penuh selidik.
dia tidak tahu kalau adikknya begitu masokis...
"Siapa?" tanya Boa heran.
"Noona ingat tentang mimpiku'kan?" tanya Yunho dan disambut oleh anggukan dari yeoja itu.
"Maksudmu Yeoja yang selalu didalam mimpimu dan sebenarnya dia tidak nyata? Yeoja yang bisa membuatmu mimpi basa-"
"-Kurasa kau terlalu jauh untuk mengetahui masalah pubertas seorang namja, noona." Potong Yunho sedikit blush, masalahnya bagaimna Boa bisa tahu? Apa mungkin dikamarnya telah dipasangi CCTV atau noona-nya ini memiliki bakat jadi cenayang? Either way it's confusing. (="=)
Seriously, sebenarnya yang namja di keluarga ini siapa, sih?
"Okey, back to topic. Apa hubungannya yeoja dalam mimpi dengan kau(sambil nunjuk Yunho)ditonjok abis-abisan oleh seseorang?" tanya Boa yang kemudian membelalakan matanya, mengerti maksud Yunho.
"Kau mengerti juga, akhirnya." Ucap Yunho.
"Syukurlah, akhirnya kau bertemu dengan yeoja itu! Katakan seperti apa dia? Apakah dia cantik, tapi tidak secantik aku?" tanya Boa narsis.
"Ne, dia cantik, bahkan LEBIH darimu." Balas Yunho dan mendapatkan tabokan 'cinta' dari Boa.
Yunho tersenyum sendiri ketika mengingat pertemuannya dengan Jaejoong yang berasakan bittersweet, dimulai saat dia salah memasuki kelas, ketika dia melihat jati diri Jaejoong di hutan, saat Jaejoong membantunya dalam tugasnya dan dimana saat mereka tak sengaja berciuman.
Boa memperhatikan raut wajah Yunho yang awalnya terlihat imut, kemudian berubah menjadi mesum(Err) lalu berangsur-angsur kaget dan menjelma menjadi suram(?).
Entah apa yang membuat semangat Yunho berubah drastis dan Boa berniat bertanya.
"Wae?" tanya Boa heran sambil menusuk kepala Yunho yang saat ini sedang tertunduk pasrah dengan cotton bud.
"I Think I'm FALLEN IN LOVE…" Ucap Yunho tanpa sadar.
.
.
.
Di tempat lain, di sebuah Pub bernama, Mirotic.
YoSuMin tengah bersenang-senang tanpa Yunho, mengingat bahwa namja itu sedang bergelut dengan soal-soal gak jelas milik Jang Songsaenim.
"Sayang sekali kita kesini tanpa Yunho hyung." Ucap Changmin memakan pizzanya.
"Ne, padahal kita udah meluangkan waktu kesini, biasanya ke game center atau Heaven'mulu." Ucap Junsu tengah menyesapi tequila-nya.
"Sudahlah, besok kita ajak saja Yunho. Sebagai permintaan maafku padanya tadi pagi." Ucap Yoochun sambil memainkan I-phonenya, berusaha meng-sms Yunho.
"Hm? Emang apa yang terjadi?" tanya Junsu dan disertai anggukan oleh Changmin.
"Begi-?!" ucapan Yoochun terpotong oleh suara teriakan.
"Lepaskan aku!" pinta seorang yeoja.
YoSuMin membalikan badan mereka dan menemukan 3 yeoja yang berprofesi sebagai waitress, saat ini diganggu oleh pria tak diundang.
"Itu bukannya Hwayoung? Kurang kerjaan banget'sih ajusshi itu." ucap Junsu yang berdiri tegak dan berjalan kearah Hwayoung dan 2 temannya.
"Huh, ada-ada saja, selalu saja ada yang menganggu yeoja malang itu." Ucap Yoochun kesal dan ikut bangkit berdiri.
"Tanganku jadi gatal lagi 'nih." Ucap Changmin dengan seringaian iblisnya.
Jangan salah, meski terlihat hanya Yunho yang bisa berkelahi karena menyandang sabuk hitam, bukan berarti YoSuMin tidak bisa menghajar 1 atau 10 orang sekaligus.
Masih banyak misteri yang belum dipecahkan mengenai ketiga teman Yunho ini.
Tak jauh dari tempat YoSuMin beranjak, nampaknya ada lagi satu tamu yang tengah tidak tertarik pada kehidupan dunia malam.
.
.
.
Seorang namja cantik dengan baju berbalutkan jas berwarna hitam tengah menyesapi minumannya, terlihat wajahnya menyiratkan ketidaksukaanya kepada minuman yang baru masuk kedalam tenggorokannya.
"Minuman menggerikan apa ini? Bahkan wine basi pun, lebih baik daripada ini." Ucapnya sambil memperhatikan pengunjung yang tengah bersenang-senang sendiri, ada yang sedang bercumbu, ada yang menari gaya Oppa Gangnam style(?) dan ada juga yang tengah minum cola-cola campur fanta campur sprite dan Sirup jeruk(?)
"Aku tidak mengerti, mengapa appa angkatku menyuruhku bersenang-senang disini?" ucap namja yang kita kenal dengan nama Kim Jaejoong.
Yup, kalian tidak salah, saat ini Jaejoong tengah berusaha memahami dunia malam seperti yang dikatakan oleh appa angkatnya.
"Kim Min Joong, apa yang kau pikirkan? Menyuruhku menghabiskan waktu ditempat seperti ini?" gumamnya tanpa disadarinya beberapa yeoja-yeoja tengah menatapnya lapar, mereka berdiri mengerumuni dirinya yang saat ini duduk di sofa.
"Kau orang baru disini, oppa~?" goda yeoja berambut pirang ikal.
"Aigoo, kau tampan tapi cantik~" puji yeoja berambut hitam panjang.
"Mianhae, milady. Aku sedang tidak tertarik untuk meladeni kalian." Ucap Jaejoong malas dan beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan yeoja gatel dibelakangnya.
"Awww, sayang sekali…" ucap mereka.
Baru saja dia bermaksud untuk pergi, terdengar teriakan dari arah belakangnya dan mendapati 3 yeoja yang sepertinya bekerja sebagai waitress, saat ini mereka tengah beradu mulut dengan seseorang pria yang terlihat seperti mafia atau gangster.
"Lepaskan aku!" pinta seorang gadis dengan potongan rambut pendek, bernama Hwayoung. Jaejoong dapat melihat jelas dari name tag-nya.
"Lepaskan, Hwayoung!" ucap gadis pirang yang bernama Jessica ke arah namja bertubuh kekar itu, dia Nampak sedang melepaskan pegangan erat pria itu di tangan Hwayoung dan dengan mudahnya ajusshi sialan itu hempaskan tubuh Jessica hingga mengenai lantai.
Brukkh!
"Appoo…" ringisnya pelan.
"Jessica noona, gwenchana?" tanya yeoja manis yang sedikit tomboy bernama Yoona menghampiri noona-nya.
"Ya! Kau apa yang kau lakukan? Beraninya melukai noona-ku!" berangnya berusaha menghajar namja kurang ajar itu, namun dia bernasib sama dengan Jessica.
Brukkh!
"Itulah akibatnya menganggu kesenanganku! Dan kau yeoja sialan, harus melayaniku!" tuntutnya garang, menarik paksa Hwayoung yang menangis kesakitan.
"Apa yang kau lakukan'eoh?" panggil suara itu, sukses membuat pria kekar itu membalik kearah suara itu memanggilnya.
Sosok namja cantik yang sedang menyilangkan tangannya ke dada, tatapannya yang menusuk membuat pria itu mundur sedikit karena tidak terbiasa ditatap jahat oleh seorang namja cantik, Jaejoong.
YoSuMin yang awalnya kerasukan setannya Lord Voldermin(?) terkejut karena mendapati yeoj-err maksudnya namja cantik yang mereka temui dua hari ini sedang berada di tempat yang jelas-jelas bukan citranya.
'Kim Jaejoong?!' batin mereka hampir bersamaan.
'Nampaknya kiamat sedang dipercepat oleh Tuhan.' Ringis mereka.
"Apa kau tidak lihat, manis? Aku sedang mengajarkan 3 yeoja murahan ini untuk berlaku sopan padaku!" ucapnya dengan seringaian mesum, bernafsu melihat namja seksi dengan setelan jas hitam.
"Setelah urusanku selesai dengan yeoja ini, akan kupastikan kau yang selanjutnya." Tunjuknya kearah Jaejoong.
"Akan kubuat wajahmu itu mengerang kesakitan tiap malamnya…"
Jaejoong tersenyum muram dan mulai mengepalkan pergelangan tangannya, namun dia ingin sedikit bermain-main dengan pria busuk ini.
"Mian, aku bukan namja menyimpang sepertimu, bagaimana kalau kau lepaskan mereka bertiga lalu, segeralah kau beranjak dan cari wanita prostitusi yang cocok denganmu." Ucap Jaejoong pedas.
"Apa!?"
"Dan jangan marah, kurasa wanita tua yang berpenyakitan kelamin cocok untukmu, bastard." Ucap Jaejoong.
"Dasar bocah sialan!" berang pria tua itu sembari melepaskan Hwayoung yang segera jatuh kepelukan kedua noona-nya, sementara pria itu berusaha meninju tepat di wajah Jaejoong.
"Awasss!" pekik Hwayoung sambil menutup matanya.
Grep!
Hanya dengan sebelah tangan, Jaejoong menangkap kepalan besar itu, pria itu sontak terkejut begitu pula pengunjung di sekitarnya, bahkan YoSuMin yang berada di TKP terperangah kaget.
Jaejoong hanya menatapnya dengan tatapan dingin yang menusuk baik raga ataupun jiwa orang yang melihatnya, dia menyeringai seram ketika sosok didepannya bagaikan buruan di tangan pemangsa.
"Mana kata-katamu tadi, hm? Big guy?" tanya Jaejoong dengan tatapan Lucifer kearah pria besar itu, senyumannya bagaikan dewi kematian yang siap menjemput ajalnya.
Kreeek!
Jemari lentik itu mencengkram tulang jemari beserta tulang tangannya, membuat suara patah yang terdengar cukup jelas, membuat DJ di pub itu menghentikan permainannya sambil menatap Jaejoong.
"ARRGGGGHHHHH!" erang pria itu, membuat senyum Jaejoong melebar mencapai bukan, lebih tepatnya melebihi tingkat iblis.
Dan karena masih ada sifat manusiawi dalam hati nuraninya, Jaejoong mendaratkan tendangannya kearah perut sang pria, menggakibatkan punggung pria itu membentur dinding.
"Mother of kick!" ucap YoSuMin berbarengan sambil melepaskan kacamata hitam mereka, yang entah darimana asalnya, author pun tak mengerti.
Jaejoong dengan malas melongoskan kepalanya kearah 3 yeoja yang masih terkagum-kagum dengan kejadian tadi.
"Gwenchana…?" tanya Jaejoong menrendahkan posisinya hingga bertempuh satu lutut kearah Hwayoung.
Dan terlihat semburat merah di pipi yeoja cantik itu.
"G-gwenchana…umm…" jawab Hwayoung malu-malu.
"Jaejoong, Kim Jaejoong imnida…" ucap Jaejoong membantu Hwayoung berdiri.
"Go-gomawo, Kim Jaejoong-sshi…" ucap yeoja bernama Jessica.
"Tidak apa…sebaiknya kalian pergi dari sini dan mencari pekerjaan yang lebih baik." Ucap Jaejoong bermaksud melesat pergi.
Brukkk...
"Yah! Hwayoung-ah!? Kau kenapa? Sadarlah!" ucap Yoona yang sedang menepuk pipi Hwayoung.
"Wae?" tanya Jaejoong kearah dua yeoja yang kembali panik melihat dongsaeng mereka tiba-tiba pingsan.
"Dia tidak sadarkan diri, dia sudah pucat sedari tadi sebelum berkerja!" ucap Yoona panik.
"Ya! Kan' sudah kubilang agar dia tinggal dirumah saja? Kenapa anak ini ngotot sekali, sih?" ucap Jessica mulai menangis.
"-wa.." gumam Jaejoong.
"Eh?"
"Bawa dia ke rumah sakit, gunakan mobilku…"
"Tap-"
"Tenang soal uang, biar aku saja…sekarang bawa dia ke mobil."
"Go-gomawao Kim-"
"Jaejoong saja sudah cukup, kajja." Ucap Jaejoong mengangkat tubuh Hwayoung dengan gaya bridal-style, membuat Jessica dan Yoona terpesona betapa tampan dan anggunnya namja yang menolong mereka lebih dari sekali.
Mereka pun mengikuti punggung Jaejoong yang berjalan keluar dari Pub, meninggalkan tiga namja yang melongo kagum.
"Andaikan aku bertemu dengannya duluan…" gumam mereka bersamaan dan menyadari apa yang baru saja mereka ucapkan.
Krik…krik…krik…
"Err…kenapa aku berasa serba salah ya?" Yoochun mengaruk kepalanya.
"Ne, sebenarnya kita mau ngapain sih tadi?" ucap Junsu.
"Kajja, mendingan kita pergi saja dari sini…" ajak Changmin dan disusul oleh kedua hyung-nya.
.
.
.
"Bagaimana keadaannya, songsaenim?" tanya Yoona prihatin melihat adiknya tengah berbaring lemah, Jessica menemani adik keduanya dengan wajah lesu.
"Ah, dia tidak apa-apa, hanya pingsan karena dehidarasi selama seharian, kalian harus sering memperhatikan pola makannya, dia terlihat kurus sekali…" ucap dokter Gil dengan senyuman ramah.
sementara itu…
Jaejoong hanya menyandarkan punggungnya di dinding luar kamar pasien, nampaknya dia teringat kejadian dimana adik perempuannya yang terbaring lemah ketika diserang Homunculus.
"Haaa…aku masih belum terbiasa tanpamu, Suzy…" ucapnya sedih.
CKLEK!
"Ah, kau pasti orang yang menolong Ryu Hwayoung dari keluarga Ryu, ya?" tanya Dokter
Jaejoong hanya mengangguk setuju dan membuat sang dokter menyunggingkan senyuman menggoda.
"Hey, apa hubunganmu dengan pasien bernama Hwayoung itu?" tanyanya mengangkat sebelah alis kearah Jaejoong.
"Tidak ada, aku tidak sengaja berkenalan dengannya di pub." Jawab Jaejoong jujur.
"Hooo? Kau suka dengan dunia malam eoh? Kau cantik tapi naughty juga ya?" ucapnya bukan Cuma menggoda namja cantik itu melainkan mulai menyentuh dada bidang Jaejoong dengan jari telunjuknya.
"Agassi, kalau ingin menggoda seseorang, kusarankan ingat di mana kau mau menggodanya…di sini rumah sakit." Ucap Jaejoong setengah tersenyum sambil memegang pinggang wanita itu.
"Hmhmhm…kau namja yang menarik, aku suka kau tapi, sayangnya aku ada urusan lagi~" Ucapnya mengedipkan sebelah matanya dan berlalu keruang medis.
"Yeoja yang menakutkan…" ucap Jaejoong melesat masuk keruangan Hwayoung.
Cklek
"Jaejoong-sshi…" ucap Jessica yang menyadari Jaejoong memasuki ruangan pasien.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Jaejoong.
"Dia hanya dehidrasi…besok sudah bisa bekerja." Jawab Yoona, Jaejoong mendelik mendengar jawaban Yoona.
"Bekerja? Jangan bilang kalau kalian akan bekerja di tempat menggerikan itu?" tanya Jaejoong memastikan.
"Kami tak punya pilihan lain…satu-satunya yang bisa menghidupi kami bertiga adalah bekerja disana…" ucap Yoona dengan lesu.
"Apa kalian bersaudara?" tanya Jaejoong.
"Ani, kami adalah teman sekamar tapi, Hwayoung sudah seperti keluarga bagi kami…orangtua kami membuang kami sejak kecil…jadi, kami bekerja disana sebagai waitress, hanya itulah yang bisa kami lakukan untuk menghidupi kebutuhan kami." jelas Jessica.
"Dengar, kalian tidak bisa bekerja lagi disana, apalagi mengenai kejadian tadi…kalau orang gila itu datang lagi untuk mencari kalian, aku tidak yakin bisa menolong kalian karena mulai hari ini aku tidak akan masuk lagi kesana…" jawab Jaejoong.
"Ottokke?" ucap keduannya saling memandang ketakutan, selama mereka hidup bersama dan saling membantu, baru kali ini mereka kesulitan apalagi hal ini menyangkut kehidupan mereka.
Jessica dan Yoona pun mulai menangis meratapi betapa tidak adilnya dunia ini, Jaejoong hanya melihat dengan tatapan simpatik, dia kembali menerawang ketika pertama kali dia datang ke dunia manusia.
Dia tidak mengenali siapapun atau dimana dia berada saati ini, hingga dia menolong seorang ajusshi paruh baya di serang oleh perampok, Kim Min Jong.
Jaejoong menyadari hidup sangatlah sulit dan butuh perjuangan, menurutnya hanya sebuah takdir dan sedikit kebeuntungan membuatnya menjadi seperti ini sekarang.
"Ikutlah denganku…"
"Eh?"
.
.
.
"Katakan yang tadi itu bahasa korea?" ucap Boa memastikan.
"Ya! Apa maksudmu noona? Tentu saja aku mengatakannya dengan bahasa korea…" ucap Yunho frustasi karena ketidakpercayaan Boa kepadanya.
"Fine, lover boy…" Yunho meringis ketika Boa mengatainya dengan sebutan 'Lover boy'.
"Don't call me that."
"Whatever, not to be rude buuut…you do know that you allergic to say fall in love, do you?" tanya Boa sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Haaa…entahlah Boa noona, setiap kali aku dekat dengannya…hatiku berdebar-debar dan serasa hanya aku dan dia saja saat di perpustakaan…aku tidak bisa melupakan sosok itu." Ucap Yunho berhayal.
"Hoooeekkk…" mual Boa mendengar ucapan Yunho yang diyakininya 100% kalau dongaseng-nya itu alergi ayat-ayat cinta atau hal yang berbau romantic.
"Yah! Kenapa kau malah mual begitu?!" berang Yunho kesal.
"Habis, mau gimana lagi? baru kali ini aku mendengar kata-kata romantic begituan darimu, kau tahu ini tahun berapa? Kata-katamu kayak di jaman bahula aja, ajusshi!" kata Boa.
"Haaaa…mau bagaimana lagi? itulah yang kurasakan sekarang." Jawab Yunho pasrah.
"Kalau begitu kenapa kau tidak bilang kepadanya kalau kau suka…ehm, siapa lagi namanya?" ucap Boa sambil menatap Yunho.
"Ya! Aku'kan belum bilang siapa namanya!" hardik Yunho.
"Kalau begitu bilang dong, pabbo!" balas Boa sama-sama kesal.
"Aish, namanya Kim Jaejoong!" jawab Yunho mantap disertai amarah karena tingkah noona-nya.
"Oh, Kim Jaejoong…nama yang sedikit maskulin buat seorang yeoja…" ucap Boa mengelus dagu layaknya ajusshi-ajusshi tua, membuat Yunho jijik melihatnya.
"Nah, kembali ke topik semula, kenapa ngak langsung bilang kau suka pada Jaejoong? mengingat dirimu bisa mendapatkan yeoja manapun?" tanya Boa dan berhasil dijawab dengan desahan dari Yunho.
"Itu dia masalahnya…dia itu Namja…"
"Oh, namja' toh? Ya, udah tinggal bilang saja sus-MWOOOO?!" teriak Boa yang menyadari perkataan Yunho.
"Ya! Berisik sekali!" semprot Yunho kesal.
"Bagaimana aku tidak teriak?! Kau sakit?! Perlu kubawa ke dokter sakit jiwa?! Atau mau kupanggilkan Ahra?!" tanya Boa bertubi-tubi.
"Ya! Aku tidak sakit! Dan apa hubungannya memanggil Ahra kesini'eoh?!" ucap Yunho frustasi.
"Kau sakit…" gumam Boa kearahnya dengan tatapan 'WTF'.
"Dibagian mana dari kubilang : aku tidak sakit, hah?" tanya Yunho dengan empat sikut kemarahan didahinya.
"Kau sadarkan Jaejoong itu NAMJA! DAN KAU MENYUKAINYA?!"pekik Boa.
BRAAAAK!
"MWO?! KAU SUKA KIM JAEJOONG?!" teriak suara yang barusan saja mendobrak masuk kedalam kamar milik Boa.
Membuat kedua kakak beradik itu menoleh kearah suara yang menganggu sesi acara menginterogerasi kehidupan seksual Yunho yang sangat menyimpang itu.
Dan mereka membulatkan mata tak percaya siapa yang mereka lihat.
.
.
.
TBC
A/N : cekik Author! Udah lama ngak publish, mianhae semua…Hyun In banyak urusan dengan kuliah jadi lama banget updatenya (T^T). jangan diflame and jangan jadi silent reader,ya?
