The Knight of Time

By :

Song Hyun In

Disclaimer :

They (DBSK and others) are not mine.

Warning :

Boysxboys, Slight Transgender, Shonen Ai, typos, tidak sesuai EYD, Dll

Cast :

Jung Yunho , Kim Jaejoong , Park Yoochun , Kim Junsu , Shim Changmin and other cast.

Genre :

Romance/Humor, School activity, adventure, Action, Supranatural, Slight Chara's death (In the past) and drama.

Pairing:

YunJae

Yoosu

MinFood (="=)

Enjoy then.

.

.

.

The Knight of Time

Previously on chap 02 :

"Kau sakit…" gumam Boa kearahnya dengan tatapan 'WTF'.

"Dibagian mana dari kubilang : aku tidak sakit, hah?" tanya Yunho dengan empat sikut kemarahan didahinya.

"Kau sadarkan Jaejoong itu NAMJA! DAN KAU MENYUKAINYA?!"pekik Boa.

BRAAAAK!

"MWO?! KAU SUKA KIM JAEJOONG?!" teriak suara yang barusan saja mendobrak masuk kedalam kamar milik Boa.

Membuat kedua kakak beradik itu menoleh kearah suara yang menganggu sesi acara menginterogerasi kehidupan seksual Yunho yang sangat menyimpang itu.

Dan mereka membulatkan mata tak percaya siapa yang mereka lihat.

.

.

.

"Yoochun, Junsu dan magnae setan?" tanya Boa.

"YA!" protes Changmin. ="=

Boa dan Yunho membalikan badan mereka dan menemukan sosok tiga namja yang sangat dikenal oleh Yunho, tiga sosok yang senang tiasa menemani Yunho sedari kecil.

"Ngapain kalian ke sini?" tanya Yunho heran dan sedikit terganggu oleh pelototan mata sahabatnya.

"Dan kalian tahu' kan? Ini kamar anak perempuan?" ucap Boa sedikit kesal karena teman seperrmainan Yunho menerjang masuk seenaknya ke kamar seorang yeoja.

Anyeong? bukannya Yunho juga termasuk anak lelaki?

"Bisa kalian jelaskan apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya Yunho lagi karena pertanyaan pertama dan keduanya tak digubris.

"You're the one to talk! Apa maksudmu menyukai Kim Jaejoong?!" ucap Yoochun panik.

"Ne! apa kau lupa, kalau dia itu sebenar-Ummph!?" ucap Junsu yang ditahan oleh Yoochun.

"Terima kasih chagiya tapi, kurasa kita tidak perlu membahas bagian yang itu." Ucap Yoochun mengingatkan pada Junsu bahwa Jaejoong bukanlah namja biasa!

Apa yang akan terjadi kalau Boa menyadari bahwa dongsaeng kesayangannya mencintai namja yang memiliki kekuatan supranatural?

Bisa-bisa dunia ini akan terbelah menjadi 3 bagian.

"Rupanya kalian menguping' ya? Kalian tahu apa arti kata privasi?" tanya Boa menaikan sebelah alisnya.

"Ehm…Noona, kau sadar kalau kau juga menganggu privasiku?" ucap Yunho tidak setuju dengan Boa.

"Ngapain juga Noona ikutan membongkar kehidupan seksual Yunho hyung yang setingkat dengan dua pasangan langka yang baru kabur dari kebun bina-AUCCHHH, WAEEE?!" ringis Changmin yang mendapat 'tepukan cinta' dari YooSu couple.

"YA! Cari mati kau, Shim Changmin!" bentak keduanya.

"Ngak tahu arti dari kata Langka apa? Aku'kan belum selesai…" gerutu Changmin sambil mengelus kepalanya yang menjadi korban dari kedua hyung-nya.

"Ya! Jelas-jelas kau ingin mengolok kami' kan?" ucap Junsu kesal.

"Sudahlah kalian berdua, yang penting kami ingin penjelasaan darimu, Jung Yunho!" tunjuk Yoochun dengan hebatnya(?) menggunakan I-phone ke arah sahabatnya. Yunho yang ditunjuk hanya menautkan sebelah alisnya heran.

"Haaa…apalagi yang harus kujelaskan? Kalian dengar sendiri' kan? Aku menyukai Kim Jaejoong." Ucap Yunho kembali menghela nafas.

"Kim Jaejoong? Maksudnya hyung, Kim Jaejoong anak baru itu? Yang berhasil mendapat peringkat pertama mengalahkanmu, hyung? Yang terkenal cantik dan baik pada semua songsaenim? Kim Jaejoong yang ITU?" tanya Changmin tak percaya.

"Shim Changmin…kemana saja kau selama ini, hah?" tanya Yunho penuh senyuman dengan empat sikut di dahinya.

"YA! TENTU SAJA, KIM JAEJOONG YANG 'ITU' PABBO! KIM JAEJOONG MANA LAGI YANG MAU KAU SEBUT?!" sembur Yunho ke arah Changmin.

"Geez…ngak usah pake caps lock segala, napa sih?" ucap Changmin yang menusuk lubang telinganya yang sempat tuli karena auman Yunho.

"Jinjja…aku heran bagaimana Umma-mu membesarkanmu menjadi anak ajaib begini?" ucap Boa heran ada juga anak seajaib di dunia ini.

"Hehehe…rahasia perusahaan, Boa noona." Jawab Changmin sukses membuat Boa memutarkan bola matanya, ngak tertarik.

"Meskipun aku bisa memberitahumu satu atau dua barang? Mengingat dirimu suatu saat akan menikah nantinya?" tawar Changmin.

"Stop it, aku bahkan tidak ingin mendengarnya lebih lanjut!" sergah Boa.

"Jadi biar kuluruskan semua ini. Kau Jung Yunho, jatuh cinta pada yeoja dalam mimpimu yang berarti adalah Kim Jaejoong yang sekarang ini menjadi namja ." Ucap Yoochun berusaha menyusun baik-baik ucapannya.

"Yup, benar sekali…lalu?" tanya Yunho polos, ingin sekali Yoochun menendang Yunho sambil menggunakan gaya oppa gangnam style yang sedang popular di tahun ini.

"Ya! Kau yakin menyukai namja itu? Harus kuakui dia cantik, anggun, pintar, seksi dan lebih berkelas tapi…" ucap Yoochun lagi memutuskan ucapannya karena mendapat pelototan cemburu dari Junsu.

"Apa perlu kau menyebutkan kata seksi di setiap penjelasanmu, Park Yoochun?" tanya Junsu dingin.

"Mianhae, back to topic…kau tahu kan, Kim Jaejoong itu susah ditaklukan –atau malah ngak bisa ditaklukan-? Dan mendengar dari persepsimu sendiri…dia itu…uhm?" tanya Yoochun hati-hati tidak berusaha menghancurkan harapan sahabatnya.

"Tidak gay?" tanya Boa ngasal tiba-tiba.

"EXACTLY!" ucap Yoochun sambil menunjuk Boa karena membantunya mencari kata-kata itu.

"Aku tahu itu." Ucap Yunho santai, entah kenapa dia merasa senang.

"Dan kau tetap bersikeras untuk mendapatkannya, bukan begitu Hyung?" tanya Changmin yang sudah mengenal tabiat hyung-nya itu.

"Tepat sekali, Changmin-ah. Setidaknya aku akan mencoba untuk membuatnya melihat kearahku." Ucap Yunho semangat.

"Cih…setidaknya." Cibir Changmin pelan, meremehkan Yunho.

"Apa kau bilang?" yunho pun mendelik kearah Changmin yang bersiul-siul polos.

"Kau jadi semangat, Yunho-ah perlu kuingatkan ini bukan permainan, ini menyangkut kau bisa membuatnya berpaling kepadamu atau kau sendiri yang akan terluka lebih dalam." Selidik Boa menautkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan perubahan adiknya.

"Hehehe, tentu saja. Aku tidak menganggap ini sebagai permainan melainkan perjuangan antara hidup dan mati." Jawabnya mantap dan mendapat tatapan aneh dari noona dan ketiga sahabatnya.

"Aku jadi ingin muntah mendengarnya…" mual Changmin seraya mengelus perut ratanya.

"Aku saja sudah muntah dua ember." Ucap Boa.

"Semakin lama aku menjadi semakin tertarik dengan Kim Jaejoong." Ucap Yunhokali ini tidak mengubris komentar Changmin dan Boa.

"Akan kubuat dia mengakui diriku dan jatuh kepelukanku, wahahahaha~"ucap Yunho tertawa senang dengan kepalan mengacung ke udara akan tetapi, di mata Noona dan ketiga sahabatnya cara Yunho tertawa bagaikan orang yang lagi sakit jiwa baru lepas dari rumah sakit jiwa(?).

Terbesit dari pikiran keempatnya untuk segera turun ke lantai bawah dan menelepon pihak rumah sakit jiwa juga pada pihak yang berwenang.

"Okey, one more question. My pabbo little dongsaeng~" Ucap Boa menyadarkan tawa Yunho yang menjadi-jadi.

"Whut?" tanya Yunho.

"Kau sadarkan kalau dia itu MEMBENCI-mu? Dan siapa yang tahu? Mungkin dia sudah menjalin hubungan dengan seseorang, contohnya dengan seorang YEOJA, mungkin?" ucap Boa langsung menghanguskan harapan muda Yunho.

Aish, kenapa Noona-nya yang satu ini sering sekali menghancurkan harapan dan cita-citanya, sih?

Hanya orang tuanya(?) dan Tuhan yang tahu(?).

"Aissh, you don't have to rub it out!" ucap Yunho yang paling kesal jika noona-nya mulai mengorek lukanya lebih dalam, sedalam lautan Cassiopeia (whut?).

"Dan kalau pun dia gay…mungkin saja dia sudah diklaim seseorang, mungkin?" ucap Changmin ikut-ikutan menghancurkan dinding harapan Yunho, membuat namja malang itu tertohok.

"I'm trying to working that up but, you guys ruined it." Yunho pun menundukan kepalanya dengan pasrah.

Sepasang mata menatapnya intens, hingga bibir mereka masing-masing menyunggingkan senyuman dan mereka pun membuka suara.

"Pffth, BWAHAHAHAHAHAHA~" gelak tawa pun menghiasi ruangan itu, membuat Yunho mendongkakan kepalanya heran.

"…?"

"Hahaha, pabboya! Kau pikir kami datang kesini hanya datang untuk menguping permasalahanmu dan lalu menghancurkannya?" ucap Yoochun.

"Hahaha, Jung Yunho…aku tidak tahu seleramu terlalu tinggi…well, it's your choice though~" ucap Junsu.

"Hahaha, tak kusangka hari dimana Jung Yunho memasuki masa musim seminya dimulai bulan di October-IYAAAOOOO, WHAT THE HELL WAS THAT FOR?!" ucap Changmin yang mendapat injakan gratis dari Junsu.

"Lelouconmu ngak lucu, apa hubungannya musim semi ama musim gugur? Pabbo dongsaeng." tanya Junsu kesal.

"Urgh…selera humorismu juga ngak lucu…malah membuat orang yang mendengarnya langsung pingin bunuh diri seketika." Changmin mengerutu dan instan mengundang perkelahian gaje dengan Junsu yang mendengar jelas celotehan Changmin.

"Mwo?! What do you say, you brat? I dare you!" pekik Junsu mendelik Changmin.

"You wanna me said that again, heh? Duckbutt hyung?" balas Changmin tak mau kalah ikutan memancarkan tatapan listrik ke arah Junsu.

"Sudah, sudah…kalian ini, jinjja…" ucap Yoochun melerai pertengkaran Lord Voldermin dan Lumba-Lumbanya.

"Yunho, seperti yang dikatakan oleh tiga temanmu, mereka temanmu dan mereka akan berusaha membantumu untuk mengejar namja yang berhasil mengambil hati seniormu itu~" ucap Boa dengan kerlingan nakal.

"Boa Noona…" ucap Yunho.

"Ne, aku pun akan berusaha semampuku untuk membantu urusan percintaanmu yang di ambang-ambang antara langit dan bumi ini." Ucap Boa mengedipkan matanya.

"Gomawo, Noona dan kalian bertiga!" ucap Yunho semangat, terkadang Boa bisa diandalkan dalam masalah seperti ini.

"Tapi jasaku tidaklah gratis, Jung Yunho…" jawab Boa lagi, membuat Yunho menarik kembali apa yang barusan dia pikirkan, bagaimana bisa ada noona ajaib se-level Changmin, that spawn of the devil!

"Ne, ne…kalau kau berhasil membuat Jaejoong Sunbae menyukaimu, jangan lupa traktirannya, ya?" ucap Changmin dengan mata yang berbinar berpantulkan makanan di retina mata hitamnya.

"Ne." jawab Yunho.

"Yaaa…itu pun kalau kau berhasil hyung." Lanjut Changmin lagi.

"Aissh, jinjja kau ini…" geram Yunho frustasi pingin rasanya dia membuang Changmin ke kawah gunung berapi kalau dia sudah tidak mempunyai hati nurani untuk bersabar.

suara tawa pun kembali mengisi kamar Boa dan tanpa mereka sadari, wanita paruh baya yang merupakan Mrs. Jung aka Jung Leeteuk, tersenyum penuh arti.

"Kim Jaejoong, ya…aku harus bertemu dengan anak yang menarik hati anakku yang pabbo itu~" ucapnya girang dan melesat pergi menuju ruang tamu dimana Yeoja malang, Go Ahra dan suaminya, Kangin menunggu.

Entah kenap dia sudah lama tidak seantusias ini, dia merasa namja yang di sebut-sebut Yunho adalah calon menantu yang terbaik ketimbang Go Ahra , yang merupakan pilihan suaminya yang terkadang-kadang pabbo itu.

"Dia baik-baik saja' kan? Aku sangat kahwatir, Umma~" ucap Ahra yang melihat calon mertuanya turun dan dengan manja, dia bermaksud merebut hati mertuanya yang terkenal cuek pada orang yang tidak disukainya, orang macam Go Ahra sudah masuk dalam daftarnya yang ke sekian.

"Chagi, bagaimana keadaan Yunho-ah?" tanya Kangin ketika melihat sosok istrinya menuruni tangga

"Oh, dia baik-baik saja, chagi." Jawab Leeteuk ke arah suaminya, tidak menjawab pertanyaan Ahra. Meskipun yeoja itu yang bertanya duluan.

"Malah lebih baik…" ucapnya penuh arti, membuat Kedua orang di depannya mengerenyitkan alis dengan bingung.

"…?"

"Ah, sudah . mari kita lanjutkan minum-minum tehnya~" ajak Leeteuk menuangkan tea yang masih hangat ke tiga cangkir.


"Eh?"

"Aku bilang ikutlah bersamaku, bawalah keluarga kecilmu ke tempatku…" jelas Jaejoong tanpa melihat Yoona dan Jessica yang menatapnya heran, saat ini matanya terpaku pada sosok lemah yang berbaring.

"Ta-tapi…kami…" ucap Yoona ragu-ragu.

"Dengar, aku hanya menwarkan kalian untuk tinggal di apartementku dan tentu saja kalian boleh menolak, aku tidak keberatan." Jawag Jaejoong yang menoleh ke arah dua yeoja itu.

"Bagaimana kami bisa percaya denganmu? Kita baru saja bertemu sejam yang lalu?" ucap Jessica memastikan, jarang ada orang yang mau membantu sesamanya tanpa maksud atau tujuan tertentu, bukan?

"Benar, tapi setidaknya ada yang mau membantu kalian meskipun hanya satu kali bertemu ketimbang kalian bertemu jutaan orang tapi tak ada yang sudi menampung kalian,kan?" tanya Jaejoong.

"Itu…" ucap mereka ambigu.

"Ini hanyalah tawaran, kalian boleh menetap di tempatku sementara waktu dan pakailah waktu yang ada untuk mencari pekerjaan yang meresikon diri kalian satu sama lain." Mereka pun merenung akan tawaran namja cantik yang sudah menolong mereka dan mereka pun memutuskan…

"Ka-kami terima tawaranmu…Jaejoong-shii…" ucap Jessica pada akhirnya.

"E-eooni?" ucap Yoona tidak percaya, Jessica pun mengangguk kearah adiknya dan kembali menoleh ke Jaejoong.

"Kau yakin?" ucap Jaejoong memastikan.

"Ne, apa yang Jaejoong-sshi katakan itu benar, Yoona. Kita tidak bisa bekerja di sana lagi, mengingat ajusshi aneh itu akan membalas perlakuan kita nantinya…" ucap Jessica menjelaskan kepada adiknya.

"Aku memiliki kamar yang cukup banyak dan tenang saja, aku tidak akan menganggu privasi kalian…" ucap Jaejoong.

"Ne, aku percaya Jaejoong-sshi bukanlah orang seperti itu." Ucap Yoona kali ini.

"Kalian boleh menggunakan fasilitas apapun dan kalian tidak perlu repot menyiapkan kebutuhan sehari karena aku selalu meng-stock semuanya." Ucap Jaejoong.

"Gomawo Jaejoong-shii, tapi setidaknya biarkan urusan rumah kami yang melakukannya." Ucap Jessica.

Jaejoong mengerjapkan matanya heran.

"Kalian tidak ingin melanjutkan sekolah atau kuliah? Aku bisa membiayai kalian?" tanya Jaejoong dan disambut gelengan kepala dari keduanya.

"Ani…kami sudah cukup bahagia tinggal di tempatmu." Ucap Jessica dengan malu-malu.

"Ne, kami tidak ingin membebanimu Jaejoong-sshi." Ucap Yoona salah tingkah dengan namja cantik yang menarik perhatiannya.

Jaejoong melirik heran dengan mereka berdua yang tingkahnya seperti dilamun oleh cinta tapi dia tidak mengubrisnya.

"Baiklah, terserah kalian saja. Aku akan pergi menganti bajuku sebentar dan akan menjemput kalian setelah itu." Ucapnya bermaksud melongos pergi keluar kamar Hwayoung tapi Jessica menahan tangannya.

"Changkaman, Jaejoong-shii…" ucap Jessica dengan penuh perhatian.

"Ne?" tanya Jaejoong dengan mata cemerlangnya.

"Aku ingin tahu alasanmu mengajak kami untuk tinggal bersamamu…" tanyanya hati-hati.

Jaejoong pun tersenyum sendu dan menjawab " Karena aku pun pernah merasakan hal yang sama…"

Membuat Jessica melepaskan pegangannya dan tatapannya pada namja cantik itu melembut.

"Dan…kalian mengingatkanku pada dongsaeng-ku." Ucapnya menutup pintu kamar.

Jaejoong menyetirkan mobil Lamborghini putihnya menuju penthouse.

Sementara itu…

"Ehm…" suara erangan membuat kedua yeoja yang tengah berpikir itu sontak menoleh kearah dongsaeng mereka.

"Hwayoung? Kau sudah siuman?" ucap Yoona memegang pipi lembut Hwayoung.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya Jessica lembut.

"Aku merasa ringan dan kurasa aku sudah tidak apa-apa…" ucap Hwayoung sedikit lelah.

"Istirahatlah, kalau kau merasa baikan kita akan pulang…" ucap suara yang membuat ketiga yeoja itu menoleh ke arah sumber suara, Kim Jaejoong.

"Jaejoong-shii…" ucap Hwayoung dengan semburat merah di pipinya ketika mengingat Jaejoong yang menyelamatkannya dari ajusshi tua itu.

Dilihatnya namja cantik itu mengenakan kemeja putih ditambah cardigan blue sky (entah apaan itu?) dan celana panjang putih yang senada dengan kemejanya.

Sebelumnya Jaejoong mengenakan setelan kemeja hitam, membuat tampangnya kelihatan sexy dan hot tapi sekarang, Jaejoong terlihat seperti kekasih yang sempurna di mata ketiga yeoja itu.

Owh-oh…nampaknya ini akan menjadi cinta segi empat…atau lima?

.

.

.

Cklek

"Silahkan masuk, maaf kalau tempatku terlihat biasa saja…" ucap Jaejoong mempersilahkan ketiga yeoja yang barusan dari rumah sakit itu memasuki Penthouse-nya.

"Maaf menganggu…" ucap mereka bertiga dan kemudian terkejut betapa luas dan indahnya apartement milik namja cantik ini.

"Jaejoong-sshi, apa kau tinggal sendirian?" tanya Jessica heran dan takjub.

"Ne? ada yang salah?" tanya Jaejoong polos.

"Apa kau bercanda? Kau bisa menampung lebih dari 20 orang disini!" ucap Yoona terkagum-kagum.

"Wajar saja kau terlihat membutuhkan seseorang di sini…" ucap Hwayoung yang menerawang ruang tamu Jaejoong.

"Aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian bertiga, ayo ikut aku." Ucap Jajoong menaiki tangga spiral yang menghubungkan kamarnya dan kamar tiga yeoja itu.

"Ne~" ucap mereka semangat.

"Kamarku di paling ujung itu…kalau kalian butu-? Ada apa Jessica, Yoona, dan Hwayoung?" tanya Jaejoong yang menyadari tour-nya terhenti karena mata tiga yeoja itu membulat sebesar piring makan.

"Banyak sekali pintu kamar ini~!" ucap mereka kagum sukses membuat namja cantik itu tersenyum lembut melihat tingkah mereka yang sedikit kekanakan itu.

'Mereka mengingatkanku pada si kembar Jo itu…' batin Jaejoong penuh senyuman halus.

Jaejoong harus menterbiasakan teriakan kedua Jo hingga akhirnya dia sudah tidak merasa terganggu oleh pekikan tiga yeoja ini.

"Silahkan pilih yang kalian suka dan buatlah diri kalian senyaman mungkin…" ucap Jaejoong senang.

"Aku pilih kamar yang di sini." Ucap Jessica menunjuk pintu berwarnakan mahogany merah.

"Aku pilih yang disebelah eonni~" ucap Yoona menunjuk pintu sebelah kanan Jessica.

"A-aku…boleh memilih kamar di sampingmu, Jaejoong-sshi?" tanya Hwayoung takut.

"Tentu saja, kurasa kau harus di dekatku mengingat dirimu yang paling muda disini…" ucap Jaejoong santai, sukses membuat Hwayoung semakin malu dan Jaejoong pun bermaksud menuruni tangga untuk menyiapkan makan malam untuk mereka.

Sementara dia memasak, sempat didengar suara pekikan dan teriakan kegirangan dari lantai atas, nampaknya suara Jessica dan Yoona yang terlalu keras.

'Dasar mereka ini…' batinnya sembari mengelengkan kepala dan memasukan spaghetti ke dalam rebusan air.

"Malam ini apakah Spaghetti dan meat loaf cukup untuk perut mereka?" ucapnya kembali meneruskan perkerjaannya.


"Hoaaammnnn…"

"Ada apa ini? Kau terlihat seperti beruang mati hari ini?" tanya Boa yang meminum jusnya, dilihatnya Yunho yang menguap dengan keadaan yang sangat menggerikan.

"Aku tidak ingin membicarakannya…" jawabnya merebahkan kepalanya di atas meja.

"Lagi-lagi, kenapa kau harus mengacaukan hari sabtuku yang indah ini? Yah! Apa kau memimpikan yeoja itu lagi?" tanya Boa dan mendapat gelengan kepala dari yunho.

"Ani…" jawabnya lalu meneguk susu yang sudah disiapkan untuknya.

"Kau memimpikan mimpi basah?" tanya Boa tanpa malu tapi sukses membuat Yunho tersedak dengan susunya.

"Ohok! A-aniya, Noona berhenti mengatakan yang tidak sepatutnya yeoja normal katakan!" bentak yunho frustasi melihat Noona-nya, tak bisakah noona-nya itu berlaku layaknya yeoja biasa dan NORMAL?

"Arraso, kalau begitu…." Ucap Boa mengantungkan katanya sembari melirik Yunho dengan seringaian.

'Oh, God… aku tahu kemana letak pembicaraanya ini!' batin Yunho horror.

"Kau memimpikan Ahra dan Park Yoochun, kemudian kalian threesome?" selidik Boa main-main dan membuat Yunho terjungkir dari kursinya dengan tidak elitnya.

BRUUKKK!

"YA! HENTIKAN NOONA!" sembur Yunho yang kesal setengah mati dan melupakan bahwa kepalanya membentur lantai marmer karena ucapan Boa.

"Mian, mian…bercanda, jangan diambil hati ya~? Maksudku, bisa saja bukan Ahra dan Yoochun tapi Shindong dan Changmin~" ucap Boa mengibaskan tangannya kemudian mengambil beberapa majalah fashion yang tergeletak di meja makan, membuat Yunho membulatkan kedua matanya.

Oh, God!

"NOONA KA-!?" Yunho ingin kembali berteriak tapi…

"Ada apa ini Yunho-ah, Boa?" tanya Leeteuk pada anaknya yang sulung, seraya memegang piring yang berisikan beberapa sandwich buatan tangannya dan menaruhnya di tengah meja makan.

"Bukan apa-apa, Umma…Yunho hanya memasuki masa period-nya saja…" ucap Boa sibuk membalik beberapa halaman dan mendapat sorotan tatapan membunuh dari Yunho juga tatapan heran dari Leeteuk yang seolah-olah mengatakan "WTF, are you talking about, Jung Boa?"

"Yunho-ah?" tanya umma-nya ke arah anak yang paling bungsu untuk meminta jawaban karena dia yakin percuma mendapat jawaban dari Boa tak bisa diharap dan terkadang benarnya hanya 1% doang.

Boa kemudian mengambil 3 potongan yang paling besar dan melahapnya langsung.

'Dasar rakus…' batin Umma dan Yunho melihat tingkah Boa yang boyish much.

"Ani, Boa noona hanya menggodaku saja…" ucap Yunho mengambil sepotong sandwich dan melahapnya dengan beringas seolah-olah apa yang di makannya tadi adalah Mini Boa.

"Ah, sudah jam setengah Sembilan, Kajja!" perintah Boa menenteng tasnya dan mengambil kunci mobilnya, disusul oleh Yunho.

"Bye, Umma!" ucap mereka berlari menuju depan pintu luar.

Leeteuk tersenyum penuh arti dan mengetikan sesuatu di I-phone putih milinya.

Sender : Mrs. Jung

To : 697-888-100

Subject : Classified Info

Carikan aku info mengenai Kim Jaejoong ASAP( As Soon As Possible).

Leeteuk tersenyum puas dan meminum earl grey tea-nya.

"Aku tidak sabar untuk mengetahui info tentang Kim Jaejoong, calon menantuku~" ucapnya terkekeh sendiri di meja makan, beberapa maid dan butler menatapnya kahwatir.

'Penyakit Fujoushi Nyonya Jung mulai lagi, deh.'(=''=)

.

.

.

"Ok, Kita sampai…" ucap Boa pada Yunho.

"Nee, aku pergi dulu." Ucapnya menutup pintu mobil sembari berjalan menuju ke gedung SM.

"Changkaman , Yunho-ah!" panggil Boa dari arah mobil, membuat Yunho menoleh dengan wajah penuh tanya.

"Wae, noona?" tanyanya.

"Hwaiting!" ucap Boa tersenyum memperlihatkan deret gigi putihnya dan mengacungkan kepalannya ke atas membuat Yunho tersenyum semangat.


"Woah, aku terkejut Jung Yunho, kau berhasil masuk kelasnya Jang songsaenim dan tidak terlambat semenit pun." Ucap Yoochun yang mengganti seragamnya menjadi baju olahraga.

"Nee, aku terkejut melihatmu masuk kelas, mengingat tugas yang diberikan Jang tua itu akan membuatmu stroke berat." Ucap Donghae yang menyimpan seragamnya ke dalam loker, sembari menunggu keduanya mengganti baju.

"Hm…" ucap Yunho malas, karena ketika dia memasuki kelas tidak terlambat semua murid menatapnya seolah-olah dia berasal dari planet lain.

"Bahkan aku sempat terkejut melihat wajah songsaenim killer itu ketika melihatmu sudah tiba di kelas dan tugasnya sudah tuntas kau kerjakan." Ucap Shindong yang menyilangkan tangannya.

"Kurasa pengaruh orang itu sangat besar buatmu~" goda Yoochun membuat kedua teman mereka penasaran.

"Eh? Nugu? Apakah kau menyukai seseorang, Yunho-ah?" tanya Donghae penasaran.

"Ne, kau tidak bilang kau dekat dengan seseorang, siapa dia? Tiffany? Hyunah?" tanya Shindong tertarik.

'Aish, Yoochun dasar kau ini jidat lapangan bermulut ember!' Batin Yunho kesal.

"I-itu…" belum sempat Yunho menjawab, keberuntungan berada di pihaknya.

"Ya! Kajja, kita harus ke lapangan sekarang!" panggil Lee Joon, yang meyembulkan kepalanya di pintu ruang ganti.

"Ne, ketua kelas~!" ucap mereka serempak dan berlari mengikuti Lee Joon yang sudah berlari jauh.

"Gila, anak itu makan apa sih? Bisa secepat cheetah?" omel Donghae.

.

.

.

"Akhirnya kita sampai juga…" keluh Yoochun yang mengatur nafasnya seolah-olah tak ada hari esok, salahkan Lee Joon yang terbiasa di olok teman-temannya selalu bisa kabur dengan cepatnya.

"Kenapa semuanya sepi sekali? Mana Lee Joon, si cengeng itu?" ucap Donghae celingak-celinguk mencari ketua kelas yang sering diganggunya itu.

"Hm? Rupanya pelajaran olahraga kita barengan dengan anak kelas 3-3A…" ucap Shindong sukses membuat Yunho dan Yoochun menoleh ke arah yang ditatap Shindong.

"Apa mungkin yang lainnya ke sana?" ucap Yunho penasaran dan mereka pun berjalan ke arah lapangan sebelah kanan dan melihat beberapa teman mereka tengah menonton dengan serius permainan sepak bola.

"Apa sih, yang membuat mereka tertekan begitu?" ucap Yoochun menerobos masuk ke depan dan disusul oleh ketiganya.

"Hooo, permainan sepak bola, toh?" ucap Shindong.

"Itu…Kim Jaejoong, bukan?" tunjuk Donghae ke arah namja cantik berambut hitam yang tengah mengiring bola ke gawang musuh.

"Omo, aku tidak tahu kalau Jaejoong oppa bisa bermain bola~" ucap beberapa yeoja ganjen berambut gelombang ikal. Yoochun dkk mengenali yeoja itu dengan nama Park Sun Young atau biasa dipanggil temannya, Hyomin.

"Ne, aku pun kaget, sudah pintar, cantik dan jago olahraga~" puji salah satu yeoja manja dengan potongan rambut pendek bernama Park In Jung, yeoja yang paling cerewet seangkatan dengan mereka.

"Aku jadi ingin membuat fans klub Jaejoong-ah~" kali ini suara dari anak kelas 3-3A sendiri, yeoja yang menjadi ketua kelas 3-3A, yaitu Jeon Boram.

Mendengar ucapan yeoja ganjen di sebelah mereka, membuat Yunho mengepalkan keras tangannya membuat Yoochun sedikit panik, dia sudah hapal tabiat Yunho yang posesif dan mudah cemburu itu.

Dia berdoa agar ketiga gadis itu tidak dicegat oleh beruang lepas(?)nantinya setelah pulang sekolah.

Dia hanya berpikir, bagaimana Jung Yunho bisa mengambil hati Kim Jaejoong, kalau dia sendiri tidak bisa mengendalikan emosinya? Hanya Tuhan yang tahu dan sedikit keberuntungan yang bisa memperlancar hubungan mereka.

.

.

.

-Yunho POV-

Dasar yeoja gatel! Berani-beraninya mendekati Jaejoong! Kalian tidak tahu kalau namja di samping kalian ini bisa saja mematahkan leher kecil kalian supaya kalian tidak usah berisik lagi!

"GOOOL!" aku pun melupakan amarah cemburuku sejenak dan melihat Jaejoong yang berhasil mencetak golnya yang keenam, Aku melihat peluh keringat membasahi wajah putih mulusnya.

Namja itu bermaksud mengelap menggunakan kaos putih olahraganya dan sukses membuat puluhan yeoja dan belasan namja gatel berteriak kegirangan -ugh! kesalnya- dan mimisan, hampir saja aku pun ikutan mimisan tapi aku bisa menahan gejolak di tubuhku.

Maksudku, siapa yang BISA tahan tanpa menerjang ke arah Jaejoong, ketika namja bermuka cantik itu tiba-tiba mengangkat sedikit kaos putihnya- walaupun sebenarnya tidak disengaja, sih- dan memamerkan perut sixpack rata yang terlihat seksi di mata siapapun?

Percayalah, siapa yang bisa menahan nafsu itu. Akan kupastikan aku akan menjabat tangannya lalu bersalto sambil bergaya Oppa Gangnam style.

Kalian bingung bagaimana caranya? Aku pun tidak yakin bisa menjawab apalagi melakukannya.

"Jaejoong Hyung~" tiba-tiba suara namja kecil yang merusakan gendang telingaku (bukan Junsu) memeluk ke arah sosok cantik yang tengah mengatur nafasnya itu.

Itu…Karam dari kelas 1-5B! Ngapain dia ke situ? Dan yang PALING penting, ngapain dia maen PELUK-PELUKAN segala?!

Tak kusadari kepalaku mulai terasa panas dan aku tidak heran apabila ada uap keluar dari kedua lobang telingaku.

"Bukannya itu Karam?! Ngapain namja gatel minta dikerok beling(?) itu ke sini?" seru Donghae.

"Aku dengar dia satu kompleks apartement dengan Jaejoong Sunbae, walaupun mereka hanya beda gedung kurasa tidak akan mustahil kalau mereka terlihat selalu bersama." Jelas Shindong yang tiba-tiba saja baju olahraganya berubah menjadi seorang detektif seraya memegang pipa rokoknya, membuatku berpikir kritis akan satu hal dan semakin kupikirkan, aku tidak akan bisa makan dan juga tidur, yaitu…

Apakah jaman sekarang orang dapat berubah kostum tanpa kita sadari?

Aku melihat jaejoong menarik tangan Karam keluar dari lapangan, aku yang gampang penasaran ini mengikuti mereka dan berhenti ketika mereka memasuki ruang shower.

Aku mendengar sedikit dari pembicaraan mereka.

"Park Hyunchul…apa yang kau lakukan?" tanya Jaejoong sedikit kesal dengan tingkah laku namja yang membuatnya malu di tengah lapangan tadi, saat ini mereka sedang berada di dalam ruangan yang bisa kutebak yaitu, shower.

"Hehehe…memangnya aku tidak boleh mengucapkan selamat pada tunanganku karena dia berhasil mencetak gol?" ucap Karam dengan manjanya.

JDERRRR!

Tunangan? Apa yang namja gatel minta diamplas dengan parutan keju katakan tadi itu?

Dia bilang Tunangan? Aku langsung syok tapi aku mendengar lagi suara, kali ini dari Jaejoong.

"Aish…kita bicarakan ini nanti sepulang sekolah…di atap, arra?" ucap Jaejoong yang tiba-tiba membunyikan suara keran air dan aku tidak mendengar suara langkah tapak sepatu milik Karam menuju ke arahku, malahan tidak ada suara sama sekali.

Jangan-jangan…

Jawabanku pun terjawab juga.

"Ya! Kubilang pergi! Kau tidak lihat aku sedang mandi' eoh?" ucap Jaejoong yang terdengar frustasi dengan Karam. Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana dan sukses membuatku berimajinasi liar.

Aissh, aku dan otak yadong-ku ini!

"Ya! Hyung apa yang kau lakukan disini?" tanya seseorang sambil menepuk bahuku, hampir saja aku menjerit kaget karena aku mengenali suara itu tanpa berbalik sekalipun, Shim Changmin!

"Changmin-ah, dasar kau in-WUAAAAAAHHHH~!" teriakku ketika aku berbalik dan mendapatkan Changmin memakai topeng berwajah Freddy Krueger dari Elm Street!

Serius, siapa yang tidak kaget melihat Freedy Krueger dalam jarak sedekat itu?

"Hahahaha~" tawanya membahana di ruangan sepi itu dan sukses membuat Jaejoong bersuara lagi.

"Siapa itu?!" teriaknya di dalam.

"Sudahlah, Hyung mari kita lanjutkan~" ucap suara yang kubenci itu, seperti tengah melakukan sesuatu yang mesum pada Jae.

"Ya! Lepaskan aku!" teriak Jaejoong histeris.

Changmin yang mendengar suara Karam dan Jaejoong menaikkan sebelah alisnya, nampaknya dia mulai berpikir yang 'IYA-IYA' tentang mereka.

"Tadi itu…suara Jaejoong Sunbae dan Namja sialan yang bernama Karam, apa yang mereka lakukan di dalam? Jangan-jan-?!" sebelum dia mengucapkan kata laknatnya itu aku menyeret tangannya menuju keluar dari ruangan ini.

Walaupun aku tidak rela karena Jaejoong-ku tengah melakukan 'THIS and THAT' bersama Namja tak tahu malu dan kegatelan itu!

-Yunho Pov End-


"Mwo?! Namja gila gatel itu tunangannya Jaejoong sunbae?! Dan mereka melakukan 'This and That' thingy?!" ucap mereka bertiga serempak, saat ini Yunho dkk berada di kantin setelah pelajaran olahraga selesai.

"Ne…ottokhe?" ucap Yunho pasrah sambil mengaduk-aduk smoothie-nya dengan perasaan berkecamuk.

"Apa kau yakin? Maksudku, kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri?" tanya Junsu memasukan Kimbap ke mulutnya.

"Ani, aku mendengarnya dengan telingaku sendiri…" jawab Yunho lesu, mengingat lagi rekaman yang sukses tersimpan di otaknya.

"Aigooo, kalau begitu belum pasti Jaejoong-ah bertunangan dengan Karam' kan?" hibur Junsu menepuk bahu Yunho.

"Lagipula, namja mana yang cukup GILA mau bertunangan dengan anak yang IQ-nya saja lebih rendah dari udang?" ucap Changmin sambil menatap heran ke arah udang goreng tepungnya, seolah-olah udang di garpunya itu tengah melotot karena tidak ingin otaknya disamakan dengan Karam.

"Ne, kalau kau belum yakin, kau bisa memastikan dengan mata kepalamu sendiri' kan?" ucap Yoochun ikut menyemangati, serius dia jadi kalang kabut ketika menyadari sahabatnya menghilang tiba-tiba dan dia pun memasang muka bodoh ketika menemukan Yunho juga magnae setan itu keluar dengan wajah pucat.

"Kalau tidak salah, Jaejoong Sunbae mengatakan akan membahas soal itu sepulang sekolah, kan?" ucap Changmin berusaha mengingat kembali perkataan Jaejoong.

"Jinjja?" tanya kami bertiga kearah Changmin yang mengembat habis paket bento box-nya dan magnae itu cuma mengangguk iya karena sedang bermesraan dengan kekasihnya.

"Kalau begitu, sehabis ini kita buntuti saja mereka di atap sekolah." Ucap Yoochun dan Yunho beserta yang lainnya setuju akan idenya.

"…Tapi setelah aku menghabiskan bekal punya Junsu hyung, ya?" ucap Changmin dan mendapat gelengan jengkel dari Yunho dkk.

.

.

.

"Sampai kapan kita harus menunggu? Kakiku kesemutan karena berdiri terus, nih." tanya Junsu tidak sabaran, saat ini keempat namja itu tengah bersembunyi di balik dinding atap sekolah.

"Kalau kita mau mendapatkan kebenaran, kita harus menderita sedikit!" ucap Yunho setengah berbisik.

"Ya! Duckbutt, pantatmu itu menghalangi pemandangan!" ucap Changmin yang tidak bisa melihat jelas.

"Berisik! Kalau kau bicara lagi akan kutindih kau!" ancam Junsu.

"Heh, ayolah kau kentut saja sudah membuat gajah dan badak pingsan-APPOOO!" erang Changmin ketika mendapat ketukan cinta dari Junsu.

Yoochun dan Yunho hanya bisa sweatdropped melihat tingkah mereka.

"Berisik kau, monster food perut cap black hole!" ucap Junsu.

"YA! Kau-"

"Ssssht…kurasa ada yang datang." Ucap Yoochun menginterupsi perkelahian Junsu dan Changmin.

CKLEK

Sosok dua namja yang memakai seragam yang berbeda tengah memasuki atap sekolah. Namja yang memakai seragam biru muda menarik kasar namja berseragam SM.

"Come here!" ucap Jaejoong kasar dan mendorong Karam ke arah pagar pembatas atap.

"Ugh…kasar sekali, apa kau masih ingin lagi? Padahal tadi kita sudah melakukannya di shower-an tadi~" ucap Karam mengerlingkan mata pada Jaejoong, sukses yang membuat subjek yang dikerling merinding jijik.

"Kau…kenapa kau begitu sluty, heh?" ucap Jaejoong sambil menindih Karam, kedua tangannya sengaja dia tumpuhkan ke pagar membuat Karam terjebak di tubuh ramping Jaejoong.

"Hehehe…kenapa terburu-buru, sih?" kekeh Karam, Jaejoong pun memasang wajah abstrak, seabstraknya lukisan Van Gogh (?).

.

.

.

Sementara empat sosok yang mengintip kegiatan dua namja itu hanya dapat berbagi ekspersi.

Mulut Yunho makin memble dan jontor ke depan.

Gigi dan gusi Changmin makin maju ke depan.

Hidung Junsu mengembang dan mengempis.

Jidat lebar Yoochun berpindah ke bokong #plakkk.

Keempat namja itu tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar barusan.

"Psst…perasaanku saja atau rasanya aku ingin meng-tabok namja centil itu? "bisik Junsu masih kembang kempis hidungnya #plakkk dan disertai anggukan dari Yoochun, yang masih bingung dimana dia taruh jidatnya tadi.

"Omo, Jaejoong sunbae dan Karam beneran melakukan itu?" bisik Changmin.

"Shhh…kurasa Jaejoong-ah ingin melakukan sesuatu." Ucap Yoochun.

Tanpa mereka bertiga sadari, Yunho tengah menahan setengah mati aura membunuhnya ke arah Karam.

"Aish…aku bukan tunanganmu…dan kalau kau ingin membuat seseorang cemburu, pilihanmu untuk menjadi partner itu salah…" ucap Jaejoong terdengar kesal.

"Mwo?" bisik Yunho dkk terkejut dengan pernyataan Jaejoong.

'Jadi, Jaejoong tidak melakukan THIS and THAT?' Batin mereka berempat.

Entah kenapa malah mereka menyimpulkan hal yang lain. -_-

"Ah, kau tidak asik…" ucap Karam mengerucutkan bibirnya, membuat Jaejoong muntah.

"Kita ini sepupu, jadi jangan macam-macam kau, Park Hyunchul." Ancam Jaejoong ketus pada sepupunya.

Nama namja yang kebangetan(Hoeekk) ini awalnya bernama Kim Hyunchul atau sering di panggil Karam, ayahnya adalah adik bungsu Kim Min Joong yang meninggal karena penyakit jantung dan sekarang dia mengikuti marga ibunya yang bermargakan 'Park' (ngak ada hubungan apapun dengan Park Yoochun, sekedar mengingatkan.) otaknya yang cerdas tidak secepat Pentium computer dan setiap ditanyai lisan atau pun tertulis, jawabannya selalu melenceng jauh sekali dari perkiraan.

Dia memiliki kakak laki-laki bernama Kim Hyung Joon, yang berada dibawah naungan Kim Min Joong, sehingga Hyung Joon tidak menggunakan nama ibunya, melainkan memakai marga Kim.

"Aish, aku ingin minta bantuanmu supaya membuat orang yang kutaksir cemburu~" ucap Karam manja.

"Dan mengakui bahwa kau adalah TUNANGANKU adalah cara yang BENAR?" tanya Jaejoong penuh penekanan khususnya pada kata yang terahkir.

"Yup." Angguk Karam dengan bodohnya, serasa membuat Jaejoong ingin menguliti mahluk ajaib satu ini.

"Ah, aku serasa ingin meng-tabok kepalamu yang tidak ada otaknya itu…" keluh Jaejoong.

"Ya! Jangan menghinaku! Yang ingin kukatakan adalah setidaknya kau mau membantuku untuk mendapatkan namja yang kusuka!" pinta Karam.

"Heh, aku tidak terkejut kau menyukai seorang namja, aku akan melompat dari sini kalau kau bilang kau menyukai seorang Yeoja…" sindir Jaejoong.

"Ya!"

"Haaa…arrasso, aku akan coba ikuti permainanmu tapi kalau kau sudah melewati batas…kubunuh kau." Ancam Jaejoong mengintimidasi Karam dan benar saja, namja malang itu menjadi merinding hebat.

"N-ne…" ucap Karam.

"Jadi, siapa namja yang tidak beruntung itu? Namja yang ingin kau buat menderita hidupnya?" tanya Jaejoong secara sarkatisme.

"Jung Yunho…" jawab Karam malu-malu.

"Heh, pilihan yang bagus sampai aku mau menangis mendengarnya." Sindir Jaejoong hanya menautkan sebelah alisnya.

"Ya! Kau ini…"

"Haaa…, jadi apakah Ahjumma Jung Min mengetahui keterbelakangan mentalmu ini?" tanya Jaejoong.

"A-ani…" ucap Karam takut untuk memberitahukan Ummanya, yaitu Park Jung Min yang sekarang menjadi janda karena kepergian suaminya yang terlalu cepat.

.

.

.

"What the hell? Namja gatel itu menyukaiku?! Ogah!" bisik Yunho frustasi, syok, dan berbagai macam lagi tekanan batin yang dialaminya saat ini.

"Setidaknya lihat sisi terangnya, mereka berdua bukan sepasang kekasih." Bisik Junsu meringankan beban Yunho.

"Yup, tapi mereka jadi sepasang rekan kejahatan." Sindir Changmin ke arah Junsu dan mendapat delikan mata dari Junsu.

"Kita harus mencari cara untuk memanfaatkan keadaan ini." Ucap Yoochun tiba-tiba.

"Ya! Pakai kepalamu bukan jidatmu, hyung! Apanya situasi yang menguntungkan? Jelas-jelas ini sebaliknya, tauk!" ucap Changmin kesal.

"Pabbo! Keadaan ini bisa dimanfaatkan, siapa tahu? Jaejoong menjadi menyukaimu dan dia cemburu." usul Yoochun.

Krik…krik…krik…

"He's got the point, though." Ucap Yunho.

"Whut?! No, hell no! Bayangkan apa yang terjadi kalau kau pacaran beneran dengan setan genit itu dan bayangkan kalau Jaejoong malah tidak cemburu? Ingat, tadi dia malah menyetujuinya! Itu sama saja dengan mengali liang kuburan sendiri." bisik Changmin memperingatkan.

"Ne, aku setuju! Bukannya membuatmu dekat dengannya malah membuat hubunganmu menjauh!" sahut Junsu.

"…" Yunho Nampak berpikir matang-matang dengan usulan Changmin yang kebetulan sekali mengena diotak.

"Ya! Nampaknya mereka sudah pergi. Kajja…" ajak Yoochun.

Keempat namja itu memutuskan melesat pergi karena saat ini sudah jam pulang sekolah dan tak tahu saja mereka bahwa Jaejoong belum sama sekali beranjak meninggalkan atap sekolah, punggungnya disenderkan di balik dinding.

"Jung Yunho…menyukaiku…?" ucapnya sedikit merona.


"Haaa…ottokhe?" ucap Yunho merebahkan kepalanya di atas meja café dengan putus asa, ketiga temannya menoleh dengan tatapan iba.

"Bersabarlah…hyung, kurasa ada kau akan mendapatkannya di lain kesempatan." Hibur Changmin seraya tersenyum, kenapa hyung-nya yang satu ini tidak seberuntung pasangan YooSu? Kalau Changmin? Hahaha…dia sudah memiliki kekasih, kekasih yang selalu menampung belahan-belahan jiwanya, yaitu Kulkas 24 jam miliknya.

Jadi masih ada pertanyaan?

"Haah…aku ingin pulang duluan…" ucap Yunho lesu, hari ini Boa tidak menjemputnya karena dia ada panggilan mendadak di gedung Toho, jadi secara terpaksa Yunho pulang menaiki bus atau jalan kaki.

"Kau tak ingin kuantar, Yun?" tawar Yoochun karena saat ini instingnya sedang merasa kalau Yunho dalam bahaya namun tawarannya dijawab oleh gelengan kepala.

"Ani, aku juga butuh udara segar." Jawab Yunho.

"Hati-hati, ya" ucap Junsu merasa ada yang salah.

"Ne."

"Jangan sampai kau bertemu dengan waria berwajah seperti Karam memakai G-string di perjalananmu, ya?" ucap Changmin dengan pede dank arena kepedeannya itu, dia mendapat tebokan kasih sayang yang dilimpahkan oleh Junsu dan yoochun.

"Aisssh…appo, wae?!" geram Changmin.

"Dasar ngak sensitive! Anak macam apa kau? Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu?" ucap Junsu kesal betapa tidak pekanya Shim Changmin.

"Changkam, mana Yunho?" tanya Yoochun tiba-tiba.

"Eh?"

.

.

.

Yunho pun berjalan dengan banyak pikiran tentang namja bernama Kim Jaejoong, semua yang berhubungan dengan namja itu tidak selalu berujung dengan baik.

Seolah-olah Kim Jaejoong adalah suatu puzzle yang harus bisa dipecahkan secara hati-hati, karena satu kesalahan saja akan berakibat fatal dan mau tak mau, Yunho harus menyusun ulang kembali kepingan misteri itu, dia merasa hal yang berhubungan dengan Jaejoong sangatlah menarik dan juga sekaligus membingungkan.

Namun, itulah yang Yunho sukai dari namja dingin itu, semakin rumit dia menerkanya semakin tertantang juga dia untuk berlama-lama bersamanya.

"Apa yang kau lakukan padaku, Kim Jaejoong?" ucapnya menghela nafas, Yunho pun berjalan menuju taman karena taman tersebut sangat dekat dengan arah rumahnya.

Tanpa dia sadari, seseorang atau sesuatu sedang membuntutinya.


CKLEK

"Aku pulang…" ucap Jaejoong membuka pintu penthouse-nya dan mencium aroma masakan dari arah ruang dapur.

"Selamat datang, Jae Oppa~" sambut ketiga Yeoja yang saat ini tengah bergelut dengan kegiatan masing-masing, Jessica tengah memasak sesuatu(Aigoo, Jessica bisa masak ya? o.o) yang menurut Jaejoong sangat lezat.

Yoona dan Hwayoung tengah mempersiapkan meja makan, harus Jaejooong akui penthouse-nya memang perlu sentuhan tangan wanita, karena tengah meja telah dipajang bunga lili kesukaannya dan juga Suzy.

"Duduklah, oppa." Ucap Yoona dengan senyum manis sembari menarik kursi untuk Jaejoong, selama ini Yoona merupakan yeoja yang selalu murung namun, ketika dia pindah ke tempat ini entah kenapa semua bebannya terasa menghilang.

"Makan malam akan segera siap~" ucap Jessica yang mengaduk sup, biasanya Jessica tidak pernah menyentuh peralatan dapur namun seiring berubahnya waktu dia semakin menyukai pekerjaannya sebagai juru masak di keluarga kecil ini.

"Bagaimana sekolahmu, oppa?" tanya Hwayoung, wajahnya yang selalu kecapaian itu berubah drastic. Wajahnya merekah indah di mata Jaejoong seolah-olah tanda kehidupan terlihat lagi di wajah manisnya itu.

"Baik saja." Jawab Jaejoong tersenyum dan berjalan ke arah meja makan.

"Aku jadi tidak dapat melakukan apapun, ya?" ucap Jaejoong seraya menaruh tasnya ke kursi, dia tersenyum sambil bertopang dagu menatap tiga yeoja yang hanya butuh satu hari sudah merasa di rumah.

Selama ini, pekerjaan rumah selalu Jaejoong yang kerjakan tapi setelah bertemu 3 yeoja ini, dia merasa tubuhnya tidak terbiasa untuk santai.

"Jeeng, jeeng~makanan sudah siap! Sundudu Jigae-nya sudah siap!" ucap Jessica semangat dan menaruh sup buatannya di tengah meja makan terdapat di sekitar Jaejoong masakan korea yang belum dikenalnya.

"Ini…?" ucap Jaejoong penasaran dengan wajah polos, membuat ketiganya cekikikan dan mengingat bahwa Jaejoong pernah bercerita bahwa dia tidak berasal dari korea. Mereka pun memahami keingintahuan oppa mereka.

"Ini namanya Japhae, bihun yang dimasak dengan berbagai macam daging, rempah, sayuran dan kecap." Jelas Jessica.

"Kalau daging ini?" tanya Jaejoong lagi.

"Ah, ini kesukaanku! Namanya Bulgogi, daging sapi yang ditumis dengan kecap asin dan gula~" ucap Yoona semangat.

"Terahkir adalah ini, Kimchi… sayuran yang difermentasi dan diberi bumbu pedas, Oppa pasti suka deh." Ucap Hwayoung menyodorkan piring berisi Kimchi kearah Jaejoong yang senang hati menerimanya.

Ketika Jaejoong melahapnya, matanya berbinar-binar ketika mencobainya.

"Nampaknya, oppa suka dengan makan pedas, ya?" tawa Jessica dan disambut cekikikan tawa dari keduanya.


Yunho merasa dia sudah berjalan telalu jauh sekali di hutan taman ini, dia merasa seperti hanya berputar-putar saja mengelilingi hutan aneh ini.

"Aneh, aku sepertinya sudah berjam-jam melewati hutan ini dan aku belum menemukan rumahku…apa yang terjadi di sini?" ucapnya pada diri sendiri.

"Jangan-jangan aku tersesat? Ani…aku' kan selalu melewati hutan ini dari waktu ke waktu…tidak mungkin aku lupa arah…" ucap Yunho masih curiga.

Srek srek…

"Siapa di situ?!" teriaknya kaget dan tiba-tiba muncul seekor kelinci putih dari semak-semak.

"Hoooh…kau membuatku kaget saja, kelinci kecil…jangan menakutiku begitu dong." Ucap Yunho tersenyum, Ketika kelinci itu tengah mengaruk telinganya yang panjang…

GRAOOOOUUUPPP!

Tiba-tiba dengan kecepatan kasat mata, sosok hitam besar menelan kelinci itu bulat-bulat, membuat Yunho terduduk ke tanah.

"M-mwo?! Apa itu ? Ja-jangan-jangan mahluk yang pernah dilawan oleh Jaejoong?" ucap Yunho tidak percaya, nampaknya dia sedang sial karena harus meleawti hutan ini, kalau dia tahu akan begini pasti dia akan menerima tawaran pulang bareng Yoochun.

Sosok hitam raksasa yang berbentuk seperti paus yang memiliki lebih dari dua sirip melainkan lima masing-masing di kanan dan di kiri, wajahnya yang menyeramkan seperti seekor hiu dan ekornya yang panjang dengan beberapa robekan di bagian siripnya. Jangan lupakan, topeng abstrak di sekujur tubuhnya seperti membentuk sisik.

Sosok itu tengah melayang di atas awan yang terlihat mendung dan nampaknya aka nada badai malam ini.

'Dimana…kau… aku bisa merasakan auramu…dimana kau…?' tanya suara yang terdengar parau dan bercampurkan antara suara singa atau dinosaurus, membuat kesan menakutkan di telinga Yunho.

Yunho menyadari bahwa mahluk yang sedang melayang di atasnya ini tidak dapat melihatnya dengan jelas.

Dia mundur secara perlahan dan…

KRAAAK!

Oh, shit!

Dia tidak sengaja menginjak dahan kering yang terletak di belakangnya, Yunho menoleh kebelakang sebentar dan menoleh ke atas lagi, sosok menakutkan itu tidak terlihat lagi, sepertinya mahluk itu tidak menyadari suara injakan tadi.

Awalnya Yunho bermaksud bernafas lega tapi…

'DISITU, YAAAA…!' sosok ikan raksasa itu menganga lebar kearah Yunho dan secara rifleks Yunho melompat kearah berlawanan untuk menghindari serangan brutal mahluk itu.

BRAAKKK! BRRRUUKKKK…!KRAAAKK…!

Beberapa pohon tumbang karena hantaman mahluk berwarnakan hitam tadi seraya mengejar Yunho yang terus berlari menghindari serangannya.

.

.

.

PRAAANG!

Boa yang tengah asyiknya meminum secangkir latte bersama temannya tidak sengaja menjatuhkan mug merah yang dipegangnya.

"Omo, Boa-ah gwenchana?" pekik Taeyeon panik melihat koleganya yang masih kaget.

"Ah, gwencahana Taeyeon-ah…" ucap Boa merasakan firasat buruk mengenai Dongsaeng-nya.

"Aigooo…kau beneran tidak apa? Kau terlihat pucat, istirahatlah. Biar kami yang membersihkannya." Ucap Bom kahwatir.

"Ne…" Boa pun beringsut pergi ke kamar milik Taeyeon.

'Yunho…semoga kau baik-baik saja.' batinnya kahwatir.

"Aigo, kenapa aku merasakan ada sesuatu yang tidak enak, ya? Susah sekali menjadi kakak." gumamnya seraya menoleh ke arah jendela kamar dan melihat pemandangan yang sedang tidak bersahabat.


"BWAHAHAHAHAHAHAAA~" gelak tawa Jaejoong dan ketiga yeoja membahana ruangan mereka, saat ini mereka lagi menonton film komedi yang berjudul 'The Dictator' (Jinjja, apa yang sebenarnya Author pikirkannya? Ngak ada film komedi yang lebih baik apa?).

"Hahahaha…hm?" tawa Jaejoong pun mereda ketika dia merasakan sesuatu yang tidak enak dan dia pun beranjak dari sofa, membuat 3 yeoja itu heran.

"Oppa, waegurae?" tanya Yoona.

"Aku teringat sesuatu…aku pergi dulu, kalian kalau sudah selesai menonton langsung saja kunci ruangan ini, arra?" ucap Jaejoong yang mengambil kunci serep di atas meja kerjanya.

"Ne, hati-hati oppa!" ucap mereka kahwatir.

Setelah menutup pintu penthouse-nya, Jaejoong pun melesat menaiki tangga menuju atap dan mulai meloncat dari tiap gedung ke gedung lainnya.

"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa aku merasakan tekanan aura yang kuat? Dan aura ini? Jung Yunho-kah?" gumam Jaejoong yang melompat melewati gedung terahkir dan berhasil menuju taman.

"Di sanalah sumber energy itu terasa…Hm? Itu…perisai?" ucap Jaejoong yang mendarat ditanah dan dia menyentuh permukaan hitam yang mengelilingi seluruh hutan yang berada di taman.

Jaejoong mengitari perisai hitam keunguan tersebut dengan seksama dan melihat sosok yang berlari sembil terengah-engah.

"Jung Yunho!" ucap Jaejoong kaget mendapati namja itu berlari penuh dengan peluh dan luka-luka di sekujur tubuhnya. Dengan cepat Jaejoong mengeluarkan pedangnya dan berusaha menebas perisai itu.

KLANG! KLANG!

"Cih, percuma…aku harus mencari titik lemahnya untuk sekali masuk ke dalam perisai." Ucap Jaejoong berlari kencang mencari sumber yang bisa membuatnya mematahkan perisai hitam ini walaupun hanya untuk sementara.

Dia terus berlari menelusuri hingga menemukan benda berbentuk runcing bersinar remang-remang di samping Perisai itu.

"Mungkinkah ini pemicunya?" ucap Jaejoong yang menundukan badannya dan bermaksud mencabut benda yang berbentuk pasak berwarna hitam itu.

"Ugh…" ucap Jaejoong yang menarik dengan kuat pasak itu namun percuma. Pasak itu menancap di tanah kuat sekali dan tiba-tiba pasak itu mengeluarkan sengatan listrik berwarna hitam pula.

"Arrgggh…" erang Jaejoong kesakitan nampaknya pasak ini bukan hanya susah dicabut melainkan ada sistem pertahanannya sehingga siapapun yang mencoba melepasnya akan terkena sengatan dan bukan hanya itu saja, pasak ini akan menyedot habis energy orang yang mencoba mencabutnya.

"Aku… harus bisa mencabutnya…" ucap Jaejoong yang berusaha menarik lagi dengan paksa dan semakin lama aliran listrik itu menyengat tubuh Jaejoong.

Walaupun tubuhnya mulai melemah karena energinya terhisap oleh pasak ini, dia harus tetap mencoba.

"Agggghhhh…sedikit lagi…" ucapnya dan berhasil mencabut pasak itu, tindakannya berhasil membuat pertahanan perisai itu agak melemah dengan agak lemah dia menarik pedangnya dan berlari kearah Yunho.

.

.

.

"Hosh…hosh…sial! Mahluk itu masih mengejarku!" ucap Yunho kesal karena mahluk aneh itu masih bersikeras mengejarnya.

"Ya! Keras kepala sekali kau!" ucapnya kesal dan tanpa disadarinya, dia tersandung oleh salah satu dahan pohon.

Brukkh!

"Ugh…gawat!" ucap Yunho sadar bahwa mahluk itu akan menelannya dengan refleks, Yunho melindungi tubuhnya dengan kedua lengannya.

KLANG!

Suara dentuman pedang yang sudah sangat familiar didengar oleh Yunho membuat namja itu membuka kedua matanya dan mendapatkan namja yang memakai baju perisai perak yang sedikit kotor seperti terbakar.

"Ja-Jaejoong-ah?!" ucap Yunho tidak percaya, Jaejoong menolongnya? Dia hampir saja berpikir kalau ini hanyalah mimpi.

"Apa yang kau lakukan?! Cepat menyingkir dari sini!" ucap Jaejoong yang tengah menahan serangan mahluk buas itu.

Yunho hanya bisa mengangguk setuju dan menyingkir dari keduanya.

'Dia mangsaku…jangan mengangguku…Von Archangel…' geram suara mahluk itu berusaha menyerang Jaejoong dan namja itu bersalto kebelakang untuk menghindari serangannya.

"Kau masih mengingatku Leviathan, Homunculus yang memasang perisai penyesat agar bisa menjebak pejalan kaki disini." Ucap Jaejoong menatap mahluk yang bernama Leviathan.

"Aku membiarkanmu lari karena aku tahu kau tidak akan bisa menyerang manusia lagi, tapi ternyata aku salah…kau masih bisa saja berulah, sekarang terimalah hukuman dariku!" ucap Jaejoong menerjang kearah Leviathan, tiba-tiba saja mahluk itu mundur sejenak dan Jaejoong yang mengetahui pose itu, dengan cepat mengganti kuda-kudanya.

'Kali ini kau yang akan mati!' ucap leviathan sambil membuka mulutnya dengan lebar sekali, membuat semua yang di sekitar Jaejoong tersedot ke dalam mulutnya.

Jaejoong dengan kahwatir menatap Yunho yang berlindung di balik pohon oak yang besar dan kokoh.

"Cih…" ucap Jaejoong yang dilanjuti dengan dirinya melemparkan orb berwarna orange dan memecahkannya dengan pedang membuat sebuah cahaya orange itu melingkupi tubuhnya, dirinya menjadi semakin kuat.

"Majulah, Leviathan!" ucap Jaejoong yang tiba-tiba mengeluarkan pedang yang kali ini lebih besar ketimbang pedang Excalibur-nya.

'AAAARGGGGHHHH…' Leviathan mengaum keras dan kembali menyerang Jaejoong.

Jaejoong berlari melompati kepala Leviathan dan membuat mahluk itu menyadari Jaejoong melayang di udara tepat di atasnya!

CLASH!

Dengan gesitnya dia menebas badan raksasa itu membentuk huruf X besar dan membuat tubuh mahluk itu berhamburan.

Jaejoong mendarat dengan anggunnya di balik bulan purnama dan mendarat dengan sempurna, kedua pedangnya disarungkan kembali dan bajunya kembali normal.

"Jaejoong-ah!" panggil Yunho yang berlari menuju dirinya yang terlihat kelelahan, Jaejoong mengumpat dirinya karena begitu terlihat lemah di depan Yunho.

"Kau…cepatlah pergi…" perintah Jaejoong sedikit nafas tersengal-sengal di telinga Yunho.

"Jaejoong sunbae? Kau terlihat kurang sehat…" ucap Yunho memperhatikan raut wajah Jaejoong, kedua tangannya ditenggerkan ke bahu Jaejoong.

"Aku baik-baik saja…sebaiknya kau pergi dari sini…lepaskan tanganmu dariku." ucap Jaejoong mendorong lemah dan bermaksud pergi meskipun badannya sudah sempoyangan.

Tiba-tiba saja dunianya serasa menghilang, dia mulai merasa akan jatuh menyentuh tanah namun Yunho dengan cepat menangkap tubuh ramping itu.

"Jaejoong sunbae! Jaejoong-ah…! Sadarlah, Jaejoong!" panggil yunho sambil menepuk pipi Jaejoong.

.

.

.

-Yunho POV-

"Jaejoong-ah!" aku tidak tahu harus berbuat apa ? Aigo, tubuhnya panas sekali, seperti baru tersengat sesuatu dan kemudian aku menyadari bahwa aku sudah tidak tersesat lagi, aku pun mengangkat tubuh ramping di tanganku ini dengan gaya yang dapat kalian yakin dengan nama Bridal-style atau apalah.

Aku berlari menelusuri hutan ini dan menemukan cahaya yang berasal dari mansion-ku, dengan cepat aku membawanya hingga aku memasuki rumahku.

"Selamat datang Yunho-sshi-?!" ucap salah satu maidku, ketika melihat penampilanku yang baru berhasil keluar dari gua saja dan jangan lupakan, sosok yang berada di tanganku ini.

"Yunho-ah…kau sudah pula –gasp!?" Umma-ku yang baru saja turun dari tangga dan bermaksud menyambutku, juga menahan nafas melihat diriku dan Jaejoong-ah yang pingsan karena kecapaian, sepertinya di melalui masa yang berat sebelum menolongku tadi.

"Yunho chagi, siapa yang ada di tanganmu itu?" tanya Umma-ku.

"Dia sunbae-ku, namanya Kim Jaejoong…aku belum bisa menjelaskan apa yang terjadi tapi kumohon tolonglah Jae hyung…" pintaku berusaha menghindari pertanyaan dari Umma.

"Arrasso…bawa dia ke kamar tamu, akan kupanggilkan dokter." Jawab Umma-ku tersenyum hangat, entah kenapa dia tersenyum seolah-olah dia mengenal Jaejoong.

Ani, tidak mungkin! Bahkan Umma tidak tahu siapa saja Sunbae-ku di sekolah. Mengingat aku tidak pernah berbicara mengenai sekolahku pada Umma dan Appa kecuali pada Boa.

Sudah dua jam berlalu ketika aku membawa Jaejoong ke lantai atas dan kata dokter, dia hanya kecapaian karena aktifitas yang dilakukannya selalu tidak diimbangi dengan makan yang teratur, Kim Jaejoong kenapa kau melakukan hal bodoh seperti itu!?

Tak tahukah kau, kalau ada yang selalu memperhatikanmu dan mencoba melindungimu?

Kuperhatikan wajahnya terlihat damai tanpa adanya alis yang selalu berkedut atau pelototan matanya yang tajam ketika dia menatapku.

Tanpa kusadari, tanganku bergerak sendirinya membelai wajah putih porselen itu dan tanganku sontak kaget betapa halus dan juga cantiknya Jaejoong yang terlihat sedang lemah, biasng aku biasanya dia selalu memajangkan citranya yang kuat dan tegas tapi sekarang aku bisa melihat inti dari tampangnya itu sebenarnya dia adalah sosok yang lemah dan mudah terluka.

Aku pun jadi ingin melindungi sosoknya yang lemah itu dan tidak akan membiarkan siapapun mengekspos sisi lemahnya itu.

Aku sudah bertekad bulat untuk melindungi namja yang saat ini tertidur lelap.

Kedua mataku mulai terasa berat, rasa kantuk menyerangku dan aku pun tertidur di samping ranjangnya karena terus menjaga sosok yang terlelap.

-Yunho POV End-

.

.

.

"Ehrghmmm…" Jaejoong mulai membuka kedua matanya dan menyadari bahwa dia berada di tempat yang familiar. Dia pun mendudukan dirinya dan menemukan sosok figure yang tertidur lelap di samping tempat tidurnya, Jung yunho.

"Apa yang-?"

"Zzzz…zzzz…" dengkur Yunho membuat ulasan senyum terlihat di wajah namja cantik itu dengan perlahan dielusnya rambut coklat Yunho yang sedikit berantakan.

"Pabboya…tertidur di tempat seperti ini." Senyum Jaejoong yang kemudian mengambil selimut yang terletak di atas meja tidurnya, sepertinya sudah disiapkan oleh para maid untuk antisipasi.

"Pakai selimutmu, kalau kau tidak mau masuk angin…" ucap Jaejoong yang menyelimuti punggung yang lebar itu, setelah beberapa menit menatap sosok yang menolongnya itu Jaejoong kembali tertidur.

Dan dia tidak menyadari, Yunho yang tengah menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya itu tersenyum senang.

"Jaejoong-ah…" gumamnya pelan dan tidak didengar oleh namja cantik itu.

.

.

.

Sementara itu

Leeteuk berada di ruang kerjanya dan tengah menatap dokumen juga beberapa folder di laptopnya yang berisikan foto maupun informasi mengenai namja cantik yang barusan dibawa pulang Yunho.

"Omona, ini melebihi pengharapanku~" ujarnya kegirangang tanpa sadar menyentuh pipi kirinya, ketika melihat info mengenai Jaejoong.

"Pintar, cantik, kaya dari keluarga yang berada dan yang terpenting…keanggunannya yang menyerupai bak bangsawan itu…ada sesuatu yang membuatku terpikat ketika mendengar dan melihatnya~" ucapnya lagi pada diri sendiri.

Leeteuk menatap foto Jaejoong yang memakai baju tuxedo berwarna putih tengah berbicara dengan pebisnis dari negara asing, membuat kesan anggun dan seksi di mata yeoja berparuh baya itu.

Ada juga foto dimana Jaejoong memakai Ki Nagashi warna hitam dengan corak bunga krisan merah (read : yukata khusus lelaki), saat dia berada di jepang.

Atau, dimana Jaejoong berlatih pedang anggar dan kendo, saat masih menjadi murid di Amerika.

"Cepatlah bangun, calon menantuku. Banyak sekali yang harus kita bicarakan~" ujarnya kegirangan.

Kalau kalian penasaran dari mana asalnya virus fujoushi yang di ngidap oleh Boa…maka kalian sudah dapat jawabannya.


"Aish…hari sabtu begini mau ngapain, ya? Young Min-ah, got any idea?" tanya Kwang Min kearah kembarannya seraya memeluk boneka peluk berbentuk pikachu, saat ini mereka berada di ruang menonton.

"Haaa…bagaimana kalau kita mengacaukan kencannya Sungminnie hyung?" ajak Young Min yang ikut berbaring santai di karpet berbulu kesukaannya sementara tangannya sibuk memencet tombol remote, nampaknya tak ada acara yang menarik buat kedua Jo ini.

"Ah, kita sudah terlalu sering melakukannya~" ucap Kwang Min malas sambil mengibaskan tangannya.

"Dan kita pasti akan berahkir dijemur kering oleh Ratu Pinky itu…" ucap Young Min masih merinding membayangkan mereka hampir mati kekeringan di sauna 'Special ala Sungmin' yang terkenal dengan panasnya yang mebabi-buta(?)mengalahkan panasnya sengatan matahari di siang terik.

"Aha! Bagaimana kalau kita menganggu acara kencannya Duckbutt hyu-AWWW, KEPALAKU!" ringis Kwang Min karena mendapat lemparan buku musik dari sepupunya, Junsu.

"Takkan kubiarkan kalian menganggu acara kencanku, dasar twin monster!" ucap Junsu yang saat ini sedang mengerjakan PR-nya di meja kayu khusus membaca.

"Kami' kan Cuma bercanda…" ucap Kwang Min dan Young Min.

"Kalian ini…kalau tidak ada kerjaan, kenapa ngak main game atau semacamnya, gitu? Daripada sibuk gangguin orang kencan." Ucap Junsu berkutat dengan tugasnya yang harus menciptakan lagu sekaligus untuk ujian hariannya dan plus, dia belum mendapatkan inspirasi karena mendengar ocehan-ocehan sepupu kembarnya itu.

"Bosaaan…semuanya sudah diselesaikan, thanks to Kyuhyun si maniac gamer itu. Aku jadi cepat bosan." Ucap Kwang Min ngeles.

"Mengerjakan sesuatu yang beriman seperti ke gereja, mungkin?" usul Junsu.

"Ha? Kau kira kami ini Siwon hyung? Dan lagian, ngapain ke gereja hari sabtu?" ucap Young Min tidak habis pikir dengan usul sepupunyan itu.

"Yaaa, sekedar membuang dosa kale…tunggu, dosa kalian' kan ngak ada habis-habisnya seperti magnae tiang listrik rakus itu." Ucap Junsu meralat ucapnnya.

("Huatchiiii…!" Changmin yang tengah memakan steak-nya bersin tiba-tiba, entah kenapa dia menyadari seseorang tengah menyindirnya dari jarak yang terbilang jauh dari rumahnya saat ini. "Pasti Junsu hyung…dasar, kebaikan apalagi yang kuperbuat sehingga dia menyebut namaku? Apa sampai se-desperate itukah dia sampai harus menyembahkan namaku?" ucapnya Geer dan lanjut memakan steak-nya tanpa peduli setan.)

"Kenapa ngak main ke rumah teman saja? Itu pun ada yang tahan dengan keusilan kalian." Usul Junsu lagi dan dia juga merasakan bahwa Changmin tengah menghinanya, membuat dia harus menciptakan memo pengingat untuk membawa palu, selotip, dan tali untung hari esok, kalau mereka bertemu.

TING TING!

Terdapat ikon dua bohlam lampu dengan nyala 5 watt di atas kepala si kembar Jo itu, tanda mereka mendapatkan ide yang cukup terbilang gila dan aneh bagi Junsu.

"ITU DIA!" ucap mereka berbarengan.

"Ya! Aku sedang belajar, jangan berteriak padaku!" sembur Junsu kesal ingin melempar rak buku kearah mereka berdua.

"Ne, ngak usah pake kuah kalo marah-marah kale." Ucap mereka berdua dan sukses menghindar dari lemparan kursi kayu dari Junsu yang sudah stress setengah mati.

BRAK!

"Argh, dasar dua anak gilaaa!" ucap Junsu sambil memungut kursinya lagi.

.

.

.

"Hahaha…tadi mukanya Duckbutt hyung itu terlalu sangar, ya?" ucap Kwang Min yang merangkul bahu saudaranya.

"Aku jadi berpikir kalau Junsu hyung itu bukan mirip bebek kalau lagi marah…ujar Young Min nyengir kuda.

"Jadi?" tanya Kwang Min pensaran masih dengan senyuman.

"Tapi, mirip ayam~!" ucap Young Min disambut tepukan dibahu.

"Ya! Dimana sisi lucunya'eoh?" tanya Kwang Min yang sudah mengetahui tabiat saudara kembarnya yang lemah dalam lelucon, tapi dia pun tertawa keras juga.

"Oh, iya. Kebetulan saja aku kepikiran Jae Noona, bagaimana kalau kita beri dia surprise visit?" ucap Kwang Min.

"Ne, aku setuju!" ucap Young Min yang berjalan menuju penthouse milik Jaejoong.

Mereka tidak menyadari sosok namja berbaju hitam tengah menerawang mereka di atas gedung tertinggi, mata orb berwarna ungu itu menyipit bagaikan elang menemukan mangsanya dan dengan seringaian menghiasai wajahnya.

"Kim Jaejoong, hm?...akhirnya kutemukan kau, Hero…" Ucapnya senang dan ketika angin dingin berhembus, sosok namja misterius itu menghilang.

Siapakah namja misterius itu?


"Ehrmmm…" Yunho mengusap kedua matanya dan meregangkan kedua tangannya yang semalaman trus dilipatnya, setelah merasa sudah agak segar dia menoleh dan menemukan ranjang yang ditempati Jaejoong kosong melompong.

Dengan panik dia berdiri dan mencari sosok yang bermalaman di kamar ini sambil membuka pintu kamar, berusaha mencari Jaejoong.

"Jaejoong-ah! Dimana kau? Jaejoon-Ack?! Appooo…" erang Yunho hingga dia merasa dilempari oleh sendok tea, dia melongoskan kepalanya dan menemukan sosok Umma-nya dan Jaejoong tengah menikmati sarapan pagi bersama.

"Umma? Jaejoong-ah?" tanyanya heran.

"Dasar anak bodoh, berteriak di pagi-pagi tenang begini! Kau tidak sadar membuat tamu kita merasa tidak nyaman?" ucap Leeteuk mengoleskan selai strawberry ke roti panggang.

"Ini, Jaejoong-ah~" ucap Leeteuk dengan lembut kearah Jaejoong, Yunho yang melihatnya pun menjadi iri tapi masalahnya, kepada siapa dia cemburu? Umma-nya atau Jaejoong?

"Yunho chagi, sedang apa kau berdiri disitu? Ayo, sarapan bersama kami." Ajak Umma-nya ketika menyadari anak bungsunya itu tengah melamun di depan ruang makan.

Yunho pun mengambil kursi di samping Jaejoong dan ikut bergabung bersama.

"Jadi, Yunho chagi…" panggil Umma-nya.

"Ne?" tanya Yunho meminum tea-nya.

"Ada yang ingin kau jelaskan padaku mengenai tadi malam?" tanya Leeteuk mengangkat sebelah alisnya seraya meminum tea-nya lagi.

Gulp…

"Eh, ah…itu…aku terjatuh di taman…dan…haha…" jelas Yunho mengaruk kepalanya dengan gugup membuat Jaejoong menghela nafas, rupanya anak ini tidak bisa berbohong kalau di depan Umma-ny.a

"Jangan berbohong chagi, umma tahu perawakanmu itu seperti apa." Ucap Umma-nya.

"Yunho menolongku dari preman yang kebetulan salah mengenaliku sebagai yeoja…" ucap Jaejoong asal dan sukses membuat Leeteuk tersenyum bangga, sepertinya dia lebih percaya dengan omongan Jaejoong.

"Benarkah, Yunho-ah?" tanyanya ke arah anaknya yang salah tingkah itu.

"N-ne!" jawab Yunho mantap.

"Karena itu, Jung-sshi…aku berterima kasih sepenuhnya atas kebaikan anakmu dan keramahanmu selama aku tidak sadarkan diri…" ucap Jaejoong sopan, Leeteuk menatapnya penuh dengan rasa ingin tahu.

"Katakan padaku Joongie, apa kau anggota bangsawan?" tanyanya tiba-tiba.

"Eh, Joongie?" tanya Yunho heran dan menoleh ke arah Jaejoong.

"Ne, menurutku 'Joongie' terkesan imut dan tidak terlalu maskulin, boleh aku memanggilmu seperti itu?" tanya Leeteuk kegirangan, Jaejoong hanya mengangguk setuju dan menjawab pertanyaan Leeteuk yang terlewati tadi.

"Dan aku bukan anak bangsawan, Jung-sshi…" ucap Jaejoong.

"Panggil aku UMMA, Joongie." Pinta Leeteuk manja.

"Eh? N-ne…umma." Ucap Jaejoong malu-malu.

"Kalau begitu kau adalah anak angkat Kim Min Joong, bilionare terkaya itu, hm?" tanya Leeteuk membuat keduanya kaget, bagaimana bisa Leeteuk mengetahuinya? Ingat, tadi malam? Di ruang kerjanya?

"Mwo? Ka-kau anak angkat Kim Min Joong?! Salah satu 3 billionare terkaya di korea, Kim Min Joong yang itu?!" ucap Yunho terkejut dan masih berusaha memproses informasi yang barusan didapatnya.

"Ne, aku anak angkat yang sering dirahasiakannya itu…" ucap Jaejoong, percuma saja dirahasiakan. Toh, semuanya akan terkuak juga.

"U-umma, bagaimana kau bisa tahu?" tanya Yunho penasaran dan sedikit takut dengan Umma-nya, bisa saja wanita paruh baya itu meminta seseorang untuk mencari info tentang Jaejoong, mengingat dia pernah menyebutkan nama Jaejoong pada malam itu.

"Bukan maksudku unutk lancang tapi aku mencari sedikit informasi tentang dirimu, Joongie." Ucap Leeteuk menopang dagunya dengan kedua tangannya dan menatap Jaejoong intens.

"Aku tidak merasa keberatan, Jun-Umma." Ucap Jaejoong.

"Apa kau tidak takut, kalau kami membocorkan hal ini ke media massa?" tanya Leeteuk.

"Umma! Apa yang-?" ucap Yunho tidak terima jika ibunya berlaku seperti itu.

"Aku yakin kalian bukanlah orang yang seperti itu, lagipula apa keuntungannya bagi kalian? Aku hanya akan semakin dikenal oleh masyarakat dan itu saja, aku sudah terbiasa dilatih appa angka-ku untuk saling mengantisipasi." Jawab Jaejoong menyesap green tea-nya dan hanya itulah jawaban yang diinginkan oleh Jung Leeteuk, dia puas dengan jawaban yang langsung ke intinya.

"KYAAAA~! AKU SUKA DENGANMU, JOONGIE-AH!" ucap Leeteuk terlalu antusias sambil memeluk Jaejoong yang tidak ada persiapan sama sekali.

"Wha-?!"

Bruuukh!

Sukses membuat mereka berdua terjatuh dari kursi karena ulah Leeteuk yang terlalu berlebihan, Yunho pun dengan panik melihat keadaan mereka.

"Umma, apa yang kau lakukan eoh?" tanya Yunho agak marah.

"Apa masalahmu, nak? Aku'kan hanya senang bisa bertemu calon menantu idealku~" ucap Leeteuk kesenangan, membuat Jaejoong pucat pasi dan Yunho merona malu.

"MWOOO…!?" ucap suara yang membuat ketiga orang itu menoleh ke belakang dan mendapatkan sosok namja paruh baya yang menatap horror akan perkataan istrinya.

"Kangin-ah?" tanya Leeteuk.

"Appa…?" ucap Yunho hati-hati akan amukan appa-nya.

"…" Jaejoong hanya diam dengan tatapan bete dan bosan, ingin rasanya dia pulang dan bertemu lagi dengan ketiga yeoja yang dianggapnya sebagai dongsaeng.

Dan memakan cabe jolokia dicampur dengan kimchi(?)

Entah apa yang dipikirkan oleh karakter utama kita ini, kenapa dia malah memikirkan makanan yang pedas-pedas sementara dua anggota Jung itu tengah menghadapi Kang In yang tengah syok dan sedikit marah, mungkin?

'Haaa…saat ini Jessica, Yoona dan terlebih lagi Hwayoung, pasti menghawatirkanku…aku ingin semuanya cepat selesai dan aku bisa pulang lalu makan cabe jolokia.' batinnya.

Memang, saat ini mereka pasti kahwatir karena semalaman Jaejoong tidak kunjung pulang.

Sementara Jaejoong berada di dunia lain, kedua anggota Jung itu menatap Kangin dengan pandangan was-was ketika namja paruh baya itu memasuki ruang makan.

.

.

.

TBC

A/N : Tak disangka bisa secepat ini autor bisa publish chap ke-3, buat yang membaca fic Heaven Postman Without Limit buatan saya, mianhae…masih agak lama untuk up-date jadi sabar dulu, ya (-^ ^-).