The Knight of Time
By :
Song Hyun In
Disclaimer :
They (DBSK and others) are not mine.
Warning :
Boysxboys, Slight Transgender, Shonen Ai, typos, tidak sesuai EYD, Dll
Cast :
Jung Yunho , Kim Jaejoong , Park Yoochun , Kim Junsu , Shim Changmin and other cast.
Genre :
Romance/Humor, School activity, adventure, Action, Supranatural, Slight Chara's death (In the past) and drama.
Pairing:
YunJae
Yoosu
MinFood (="=)
Enjoy then.
.
.
.
The Knight of Time
A/N note and explanation (WAJIB dibaca) :
Ini adalah Omake dari chapter 04 chapter bagian ini adalah flashback Jaejoong sebelum dia bersekolah di SM Highschool dan bertemu Yunho dkk. Chapter ini menceritakan pertemuan Jaejoong dengan Kim Min Joong, Appa angkatnya juga bertemu Karam dan saudara-saudara angkat lainnya(walaupun belum dijabarkan semua).
.
.
.
-Jae's POV-
"Ugh…" ucapku yang mengerang kesakitan karena apa yang kuperbuat ketika peperangan melawan Satgazh, Homunculus yang berusaha menghancurkan duniaku, dunia Chronos.
Aku pun yang sadar bahwa aku harusnya sudah mati, berusaha beranjak dari tidurku dan mengerang kesakitan. Kulihat tubuhku yang sedikit berlumuran darah dan baju yang robek.
Aku menoleh ke kanan dan kiri, mencari informasi dimana aku berada.
Namun nihil, aku cuma melihat sekelilingku terlihat seperti hutan. Aku berdiri pelan dan melihat luka di tubuhku dengan helaan nafas aku mengarahkan tangan kiriku keseluruh tubuh dan mengobati lukaku dengan sihir, rupanya sihir yang diajarkan Xiah padaku berguna sekali untuk saat seperti ini.
Aku membuka pakaian atasku dan menemukan sesuatu yang membuatku takjub.
"A-apa yang terjadi? kenapa tubuhku seperti ini?!" pekikku sedikit histeris namun aku berusaha berpikir jernih. Aku membuka seluruh pakaianku dan mendapati tubuhku berubah. Aku tidak memiliki apa yang seharusnya wanita normal pada umumnya punya.
"A-aku…Namja…" ucapku masih belum memproses dengan benar apa yang terjadi pada tubuhku. Aku merasa heran apa yang terjadi. Ini scenario terburuk, aku meraba seluruh tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Aku berusaha menerawang kembali, apa penyebab yang membuatku berubah menjadi NAMJA.
"Apa mungkin karena pertarungan sebelumnya? Apakah karena aku mengalami pergeseran waktu?" ucapku masih berpikir keras, namun sepertinya percuma saja. Aku memutuskan merawat lukaku terlebih dahulu dan menyusun rencana untuk pergi dari dunia ini.
.
.
.
Setelah aku menutupi seluruh luka, walaupun luka dalamku masih belum menutup sempurna tapi, setidaknya ini sudah cukup. Aku kembali memakai baju perangku yang otomatis kembali menjadi baru lagi, kurasa karena efek jantung naga yang mudah memperbaiki kerusakan separah apapun.
Aku melihat cahaya di arah depanku, aku pun berjalan menuju kearahnya dan mendapatkan diriku di sebuah taman umum. Untungnya saat ini tidak ada orang yang lewat, aku tidak ingin mencari masalah di tempat yang tak kukenali.
"Hei, bagaimana kalau kita makan malam di restoran Mona Lisa?" aku mendengar suara wanita yang sedang berkencan dengan seorang namja, mereka nampaknya melewati taman ini untuk pergi ke suatu tempat.
Aku melihat gaya pakaian mereka yang terbilang cukup aneh tapi unik, lelaki itu memakai baju berwarna biru muda yang terlihat agak feminim dan yang wanita memakai baju yang sama akan tetapi terlalu minim untuk ukuran wanita muda.
"Baju seragamkah?" gumamku heran karena aku menemukan beberapa anak remaja yang memakai baju biru yang sama dengan kedua pasangan tadi. Aku pun semakin yakin mereka memakai seragam yang sama.
Ctik!
Tanpa basa-basi lagi aku menjentikan jariku dan dalam sekejap aku memakai baju seragam yang sama, agar tidak terlihat mencurigakan.
Tak tak…
Aku pun berjalan menelusuri taman, masih dengan pikiranku yang berusaha menjawab keadaanku yang tak menentu ini seolah-olah dunia terbalik.
Ketika aku masih dalam alam berpikirku, terdengar suara dari arah depanku, seorang pria paruh baya yang dapat kukenali dari setelan bajunya adalah seseorang yang sangat kaya.
Aku melihat tiga gerombolan pria berbadan kekar dengan penuh codet, benar-benar situasi yang aneh di mataku, aku belum pernah melihat hal yang seperti itu dan aku pun berjalan menuju kearah gerombolan yang nampaknya ingin menyakiti pria itu.
Tak tak…
"Serahkan kopermu itu, ahjusshi tua…" ucap pria berbadan yang kekar dengan gaya rambut yang aneh, mana ada rambut yang cuma tumbuh di bagian tengah kepalanya (Baca : Mohawk).
"…"
"Hey, kau ini tuli atau bisu?! Cepat serahkan koper itu, kalau tidak ingin terluka." Bentak seorang pria lagi yang berbadan agak coklat dengan tato abstrak di mataku, dasar orang gila!
"…."
"Heh, nampaknya dia perlu diberi pelajaran dahulu." Ucap lelaki berambut pirang gondrong, dengan wajah seperti nenek sihir(?) dia pun menarik kasar kerah pria itu dan kepalannya sudah siap meninju kearah wajah ahjusshi itu.
Tak tak…
Langkah sepatuku pun berhenti di depan mereka, aku pun mulai angkat bicara sebelum pria berbadan aneh itu menghajar pria malang ini.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyaku dengan nada tegas.
"Hah?! Apa ini? Anak perempuan?" ucap pria berambut pirang.
"Che, ngapain anak perempuan ke tempat seperti ini?" ucap pria berbadan coklat itu.
"Pergilah sebelum kau mendapat masalah, nak…" pinta pria tua itu, aku menatapnya heran. Memangnya bisa apa kau? Kalau aku tidak datang menginterupsi mereka, jangan harap kau memintaku untuk menghadiri pemakamanmu.
"Lepaskan dia." Perintahku dingin, tidak kuacuhkan omongan mereka dan permohonan pria malang itu.
"Heh, dasar pelacur kecil! Bisa apa kau, hah?" ucap pria berambut aneh.
"Sepertinya dia mau bersenang-senang dengan kita, mau kami bayar berapa?" ucap pria berambut pirang.
Aku cuma mengerenyitkan alis mendengar ucapan tidak senonohnya, aku kepalkan tanganku dan angkat bicara.
"Aku ini NAMJA, dasar orang barbar…" desisku dan mendapat pelototan dari mereka.
"Buwahahaha, rupanya dia namja' toh?" tawa mereka.
"Meskipun dia namja, pasti rasanya sangat enak." Ucap pria berambut aneh dengan senyuman mesum.
"…" aku diam sebentar karena sebagian besar otakku belum memproses apa yang dikatakan oleh 3 pria sinting ini, aku pun mulai berbicara.
"Dasar binatang…" tadi itu bukanlah suaraku melainkan pria tua itu, dia cari mati rupanya? Aku terkesan dengan kata-katanya tapi ucapannya dapat menjadi ongkos untuk dia akan melayang ke surga.
"Apa katamu, pak tua!?"
BUKH!
Tuh, tinjuan pria berbadan coklat itu mengenai perut pria itu, aku dengan sigap berlari kearahnya dan bermaksud membalas perlakuan pria berotot itu.
"Kau, apa yang kau lakukan? Kau menyakiti pria ini." Ucapku memapah tubuh malang itu dan bermaksud meninggalkan mereka yang masih tertawa terbahak-bahak.
Grep!
Salah satu dari tangan kotor mereka memegang pundakku yang sekarang ini lebih bidang dari yeoja. Wajar saja, aku ini sekarang menjadi namja.
"Tunggu, manis…kami masih belum selesai." Ucapnya dengan nada mesum.
Aku yang menghela nafas, tiba-tiba saja menyikut pria itu.
BUAKKH!
"UARGGGGHHHHKKKK…!" Teriaknya mengeluarkan air mata dan air liur yang meluber, karena sakit yang tiba-tiba muncul. Sikutku terbenam dengan dalam sekali menyentuh perutnya sehingga ketika aku menarik sikutku, dia mengerang kesakitan tapi aku menyerang lagi badannya hanya dengan sikutku karena sebelah tanganku sedang sibuk.
KRAK!KRAAAKKK!
Hantaman sikutku tidaklah main-main, sudah lima kali aku menyerang perutnya yang mulai terasa lunak karena sikutku yang lebih keras dari baja dan sepertinya tulang punggung pria itu patah karena serangan sederhanaku yang menyakitkan.
Dan aku melayangkan tendanganku ke ulu hatinya sehingga dia terjatuh ke tanah menghantam pancuran.
Bruukh….
"Satu tumbang, dua lagi." Aku menatap kedua pria yang bergidik ngeri melihat kebrutalanku dan aku cuma menjilat sudut bibirku ingin mendengar lebih lagi suara retakan tulang dari mereka (Jaemma seram, ah!).
"Mau mencoba?" tawarku dan mereka pun masing-masing mengeluarkan pisau yang cukup pendek.
Aku menaruh ahjusshi mlang itu di sebuah bangku taman dan kembali menghadap ke arah orang barbar ini.
Aku membunyikan jemari-jemariku yang terasa pegal, lalu aku mengacungkan tanganku dan memberi sinyal untuk menantang mereka.
Satu pria berambut aneh mengayunkan pisaunya, namun dengan cepat kutendang pergelangan tangannya hingga patah, membuat pisau itu terjatuh ke tanah. Pria itu mengerang kesakitan karena pergelangan tangannya berputar 360 derajat karena tendanganku -biasanya aku berlatih menggunakan baju perang- lalu aku menoleh lelaki berambut gondrong jelek itu dan dia mengacungkan benda aneh kearahku, warnanya hitam (baca: pistol).
Aku cuma memiringkan kepalaku, tidak mengerti dan pria itu menekan sebuah pelatuk kearahku, aku melihat benda aneh yang keluar dari benda hitam itu, dengan cepatku aku menghindari benda kecil itu.
Aku pun berlari kearahnya yang masih kaget dengan aksiku tadi dan meninju tepat di rahang pria itu, membuat matanya memutih bulat dan jatuh pingsan, kurasa rahangnya tidak akan bisa dibetulkan lagi.
Bruukkh!
Semua pria aneh yang menganggu itu terjatuh tidak sadarkan diri, aku pun berjalan kearah Ahjusshi yang memandangku tak berkedip, apa-apaan tatapannya itu?
-End Jae's POV-
Hero berjalan menghampiri sosok pak tua yang terduduk di sebuah bangku taman sembari memeluk erat kopernya. Hero menatap malas kearahnya dan berjongkok untuk meng sejajarkan pandangannya dengan Ahjusshi yang masih terduduk itu.
"Anda baik-baik saja, tuan?" tanya Hero sopan, dan nampaknya pukulan yang diarahkan di perut ahjusshi itu masih terasa sakit, Hero pun mengarahkan tanganya kearah perut ahjusshi itu dan seketika cahaya yang melingkupi ajusshi itu membuat rasa sakit ditubuhnya hilang.
"Nampaknya sakit diperut anda sudah hilang, kalau begitu aku permisi…" ucap Hero yang beranjak ingin pergi namun dia mendengar sebuah pergerakan dari arah semak-semak.
Srak srak…
"?!" dengan cepat Hero menahan tendangan dari seorang namja yang baru keluar dari semak-semak, Hero menggunakan kaki kirinya sedangkan namja misterius yang menyerangnya menggunakan kaki kanan.
BUKKKH!
"Ahjusshi Kim, anda terluka?" tanya namja yang menyerang Hero menoleh kearah ajusshi dengan pandangan kahwatir, sembari kakinya masih bertaut dengan kaki Hero.
"Ah, Hyung Joon-ah…aku baik-baik saja." Ucapnya dengan lembut.
"Haaah…syukurlah, makanya saya sering bilang untuk jangan suka kabur seenaknya, kan? Lihat, anda hampir saja diserang oleh yeoja ini." Ucap namja muda dengan baju bersetelan hitam, nampaknya dia adalah bodyguard ahjusshi ini.
"Siapa yang kau bilang yeoja, hah?" ucap Hero kesal, karena dua kali dia salah dikenali sebagai wanita. Dengan cepat Hero mengayunkan satu kakinya yang awalnya dijadikan tumpuan, hingga namja yang tidak focus tadi terhantam oleh serang Hero.
Brukkh!
Namja itu sempat menahan serangan yang akan berdampak ke mukanya itu dengan menangkis menggunakan kedua tangannya.
"Hyung Joon…dia itu namja." Jelas Ahjusshi tua itu dengan senyuman jahil.
"M-mwo?! Orang secantik ini, namja?!" ucap Hyung Joon kehilangan wajah cool-nya menjadi sosok yang polos, sementara Hero membersihkan bajunya yang terkena debu dengan cara menepuk-nepuknya.
"Aku pergi saja, sebelum ada kesalahpahaman lagi…" ucap Hero melenggang seenaknya, namun ditahan.
"Tunggu anak muda, aku belum mengucapkan terima kasih padamu…" ucap ahjusshi tua itu tersenyum ramah.
"Ahjusshi Kim?" tanya Hyung Joon heran.
"Padahal seharusnya kau tidak perlu membantuku…" ucapnya sambil menjentikan jemarinya dan terlihat mobil-mobil berwarnakan hitam disekeliling mereka, dan beberapa pasukan berseragamkan hitam membawa senjata.
Hero yang heran dengan semua ini tambah terkejut ketika dia disoroti lampu dari atas, sebuah mesin terbang yang kita kenal dengan helicopter terbang mengarahkan cahaya lampu kearah Hero.
"Ini…" ucap Hero kaget.
"Kau lihat? Aku bukanlah Ahjusshi tua lemah seperti yang kau bayangkan…dimanapun aku berada, anak-anak ini selalu bersamaku." Ucapnya.
Hero hanya menatap heran kearah ahjusshi tua yag diselamatkannya barusan, ahjusshi tua itu mengulurkan tangannya hendak untuk mengajak bersalaman.
"Perkenalkan, namaku Kim Min Joong imnida dan anak bodoh ini (Hyung Joon : Mwo?!) adalah keponakanku, Kim Hyung Joon…" ucapnya disertai bungkukan hormat dari Hyung Joon.
Hero membalas sambutan itu dan dia membalas ucapan Kim Min Joong.
"Perkenalkan, Hero Von Archangel…" ucapnya.
.
.
.
At Kim Residence
"Selamat datang kembali, Tuan Kim." Ucap para maid dan butler di kediaman Kim itu. Setelah insiden di taman tadi, Kim Min Joong memutuskan untuk membawa Hero ke mansionnya, disana dia mendapat tatapan penasaran dari beberapa maid yang tersipu-sipu malu dan para butler yang merona akan kecantikannya.
Sungguh, Hero terlihat seperti The Fallen Angel yang turun ke bumi bagi kaum yeoja dan para namja yang melihat keanggunannya, rambut berwarna silver dengan mata orb berwarna azure, membuat semuanya terhipnotis untuk mencari tahu siapa sosok yang dibawa pulang oleh kedua lelaki Kim itu.
"Wah, nampaknya sebelum aku memperkenalkan namja ini kepada kalian, nampaknya ada yang sudah berusaha mencari tahu, eoh?" ucap Min Joong tersenyum melihat gelagatan para maid dan butler yang merasa disinggung.
Hyung Joon hanya menghela nafas melihat kelakuan memalukan dari para maid dan butler di rumah ini, heck bahkan para bodyguard milik pamannya pun tersipu malu melihat sosok cantik yang duduk bersebelahan dengan Min Joong.
"Pemuda cantik ini (Sembari mendapt Deathglare dari Hero) adalah Hero Von Archangel, dia menyelamatkanku dari sasaran perampok di taman tadi." Ucapan Min Joong sukses membuat semuanya panik ria.
"Anda baik-baik aja, Tuan?" ucap para maid.
"Ada yang luka?" tanya butlernya kahwatir.
Min Joong hanya mengibaskan tangannya, tanda jangan kuatir. Dia tersenyum penuh kehangatan, benar-benar sosok ayah yang lemah lembut.
"Aku baik-baik saja, berkat Hero yang saat itu sedang berpapasan dengan mereka." ucapnya, membuat semua bernafas lega.
Hyung Joong menghela nafas akan sifat santai milik Min Joong, kalau saja dia tidak lengah mungkin dia tidak akan pernah bertemu namja cantik berambut silver misterius ini.
"Mulai saat ini Hero-ah akan tinggal di mansion ini, sebagai anak angkatku…" ucap Min Joong dan mendapatkan pelototan kesal dari Hero, pasalnya dia ingin segera kembali ke dunianya bukan mau menetap disini.
"Mwo?! Ajusshi, apa paman tidak salah? Kita bahkan tidak tahu asal-usulnya, siapa tahu dia memiliki orang tua atau dia mata-mata dari keluarga Jung dan Choi?" ucap Hyung Joon tidak terima.
"Dia benar, kau tidak mengenalku…kalau begitu aku permisi." Ucap Hero yang bermaksud melenggang pergi lagi dari mansion ini. Dia bertemu dengan ahjusshi yang ajaib bin aneh dan keponakannya yang overprotective.
"Eit, takkan kubiarkan!" ucap Min Joong seenaknya mengaet lengan Hero.
"Yah! Ahjusshi lepaskan Hero-sshi." Ucap Hyung Joon mulai kesal.
"Apa untungnya menjadikanku sebagai anggota keluaragamu?" tanya Hero malas.
"Aku sudah jatuh cinta pada mukamu itu, makanya kau kuangkat sebagai anakku." Ucap Min Joong yang membuat perkataannya secara verbal disalah-tafsirkan oleh semuanya.
"Mwo?! Sejak kapan kau jadi pedofile, paman?" ucap Hyung Joon syok dan mendapat jitakan gratis dari pamannya.
"Sembarangan, maksudku bukan suka seperti ITU maksudku aku merasakan kalau aku tidak akan salah pilih jika Jaejoong menjadi putra angkatku." Ucap Min Joong.
"Jaejoong?" ucap Hyung Joon dan Hero bersamaan, lalu disahuti anggukan dari Min Joong.
"Humn, mulai sekarang namamu adalah Kim Jaejoong." Ucap Min Joong seenak jidat.
"Dari mana asal nama itu?" tanya Hyung Joon yang mulai tertarik untuk membiarkan namja cantik itu tinggal di mansion ini, mungkin membiarkan namja cantik ini tinggal di kediaman Kim tidak buruk juga.
"Habis, kalau Hero Von Archangel' kan terlalu panjang dan sulit untuk disebut…makanya Jaejoong lebih mudah diingat." Jelas Min Joong dan sambut anggukan mengerti dari keponakannya yang sudah setuju akan pengangkatan anak ini.
"Y-YA! Seenaknya saja mengganti namaku!" ucap Hero tidak terima, dia mulai muak melihat kekonyolan ini, dia ingin pergi. Ah, andai saja…
KRUUUUYUUUUK….
Suara perut kelaparan dari arah namja cantik itu membuat senyuman terlukis di wajah paruh baya namun tampan milik Min Joong.
"Kau tak mungkin akan pergi tanpa perut kosong, eoh?" ucapnya dengan seringaian licik.
Merasa bagaikan tikus yang terjebak diantara kawanan kucing atau malah sebaliknya? Kucing yang dikerubungi tikus? Hero aka Jaejoong terpaksa menerima ajakan Min Joong.
"Uuuh…aku mengerti." desah Hero yang sekarang bergantikan nama sebagai Kim Jaejoong karena alasan yang bodoh, mati kelaparan.
.
.
.
Semenjak insiden yang sekitar 3 bulan yang lalu, Min Joong dan Hyung Joon setuju untuk menjadikan Hero sebagai anggota keluarga Kim. Mereka mendengarkan cerita asal-usul Hero dari dimana dia berasal dan kenapa dia berada di dunia manusia.
Baik Min Joong ataupun Hyung Joon mempermasalahkan hal itu, bahkan mereka bahagia karena menjadi orang yang pertama kali mengetahui jati diri Jaejoong, mereka menyekolahkan anak itu di amerika dan juga mereka memanipulasi data beserta informasi agar Jaejoong tidak dikenali oleh public akan merepotkan bila diketahui oleh para wartawan yang haus akan informasi.
Di data umur jaejoong disekolahkan adalah 15 ketika dia memasuki masa SMA, dia bersekolah di jepang sekitar setahun dan setiap libur panjang, Min Joong meminta agar anak angkatnya itu untuk pulang ke seoul, alasan? Karena rindu tidak bertemu.
.
.
.
December 2010
"Selamat datang kembali, Tuan Jaejoong…" salam dari maid dan butler milik keluarga Kim, ketika namja cantik yang sekarang rambutnya berwarnakan hitam legam (karena belum lazim memiliki rambut perak) itu pulang dari amerika. Dia hanya tersenyum ramah dan menemukan sosok namja paruh baya, dan seorang yeoja cantik yang bahkan sebenarnya berumuran 50-an namun tetap muda juga cantik.
"Selamat datang, Jaejoongie-ah dan merry Christmas~" salam appa angkatnya, Min Joong sembari memakai topi santa, wanita disebelahnya pun memakai topi yang sama.
"Aku pulang, Appa." Salam Jaejoong sopan dan menoleh kearah sosok asing dimatanya, mengerti akan tanda tanya di muka namja cantik itu Min Joong pun membuka suara.
"Ah, ini adalah adik iparku, perkenalkan dia anak angaktku yang cantik, Kim Jaejoong." Ucap Min Joong sambil mempromosikan.
"Perkenalkan, aku Park Jung Min imnida." Ucap Jung Min tersenyum keibuan.
"Salam kenal." Ucap Jaejoong tersenyum.
"Hum? Mana Karam? Katamu dia ikut bersamamu, kan?" tanya Min Joong heran.
"Aigooo, seperti biasa anak itu selalu menghilang…sebenarnya dia tidak mau kesini tapi, aku memaksanya untuk ikut…dimana anak itu, ya?" ucap Jung Min memegang pipi kanannya tanda dia prihatin sekali.
Brakkkk!
"Maksud Umma anak ini?" ucap sosok namja tampan yang sedang menyeret sosok namja yang agak kecil darinya, namja kecil itu diikat dengan tali tambang dan wajahnya menunjukan kalau dia sedang bad mood.
"Hyung Joon-ah, Karam-ah…apa yang kalian lakukan di luar?" tanya Jung Min kesal melihat kedua putranya yang berbedakan marga itu saling melotot.
"Si pabbo ini mengikatku, Umma…" rengek namja kecil nan cantik nan imbisil itu, Jaejoong dapat mengetahui bahwa anak itu masih menduduki bangku smp.
"Mwo? Menurutmu salah siapa, menyetir menggunakan mobilku untuk kabur dan akhirnya menabrak tiang listrik?" ucap Hyung Joon marah.
"Salahmu, karena lengah mengawasiku, bukannya kau berada dibawah naungannya paman Min Joong?" ucap namja cantik, yang dapat Jaejoong simpulkan dengan nama Karam.
"Seenaknya bilang ini salahku, kau yang bodoh karena terbiasa memakai mobil matic!" geram Hyung Joon mengeratkan talinya.
"Lepaskan aku, Hyung Joon pabbo!" ucap Karam.
"Tidak, sebelum kau belajar untuk menghormati yang lebih tua, you stinky brat!" ucap Hyung Joon naik pitam dan semakin mengeratkan kuncian tali kekang itu.
"Mwo! Kau yang seharusnya belajar untuk sabar!" ucap Karam tak mau kalah, dia pun menoleh dan mendapatkan sosok namja yang tak kalah cantik (malah lebih cantik daripada dirinya).
"Siapa yeoja itu? Pacarmu, ya? Dia tidak cocok dipasangkan denganmu…" ejek Karam kearah kakaknya.
"Kau…" ucap Hyung Joon namun ditahan oleh Min Joong.
"Karam-ah, perkenalkan dia kakak sepupu angkatmu, Kim Jaejoong." Jelasnya.
"Mwo? Ah, tapi syukurlah kalau dia bukan pacar si pabbo galak ini…" ucap Karam.
"Dia itu sepupu kita dan lagi pula dia itu NAMJA!" ucap Hyung Joon.
"Wah, itu malah lebih bagus…selamanya kau akan menjadi perjaka tua, Hyung Joon-ah! Arrghhh…appo!" ucap Karam yang kembali merasa kesakitan oleh eratnya tali yang mengengkang tubuhnya.
"Kau, nappeun namja! Beraninya kau melakukan hal itu pada Lamborghini-ku!" ucap Hyung Joon masih kesal dengan ulah Karam yang seenaknya membawa pergi mobil yang baru didatangkan dari perancis dan akibatnya karena terbiasa memakai mobil matic, mobil malang milik Hyung Joon menabrak tiang listirk di kota, membuat lelaki tampan itu frustasi akan biaya reparasinya.
"Sudah, sudah…nanti paman yang akan mengganti biayanya…kita masuk ke ruang makan dahulu." Usul Min Joong mencairkan suasana yang sebenarnya sudah panas itu.
Seiringnya waktu berjalan, Jaejoong sudah dapat mengerti akan temperamental Karam dan menurutnya Karam itu menyebalkan, walaupun cara Karam menganggu setiap orang selalu berbeda-beda. Misalnya saja, Hyung Joon yang diganggu secara emosional sedangkan Jaejoong, dia lebih senang menggoda secara seduktif kearah namja cantik yang menyandang sebagai sepupu angkatnya itu.
.
.
.
At December 2011
"Jaejoong-ah…"
"…"
"Jaejoong-ah…!" kali ini lebih keras.
"…"
"YA! KIM JAEJOONG, AKU MEMANGGILMU!"teriak Karam.
BUAKKKH!
Dan akibatnya disugguhi oleh lemparan buku telak ke mukanya oleh Yang Mulia Kim Jaejoong, Si Raja Tega.
"Apa?" ucap Jaejoong yang saat ini menduduki bangku kelas 2 SMA, dia sedang belibur musim panas di rumah Karam karena kali ini namja genit itu yang memintanya untuk menginap.
"Kau ini lebih tega ketimbang si Hyung Joon itu." Ucap Karam mengelus-elus hidungnya yang sakit karena mendapat ilham dari hantaman buku dengan sampul yang terbilang cukup keras.
"Makanya jangan mengangguku, sana pergi…" ucap Jaejoong mengambil beberapa buku dan membaca lagi.
"…"
"…"
"Jaejoong-ah…" panggil Karam lagi.
Plop…
Tiba-tiba Jaejoong pun menutup bukunya dan ingin beranjak pergi sembari membawa bukunya.
"Ya! kau mau kemana?" tanya Karam kaget.
"Aku mau turun ke bawah, kalau kau terus memainkan permainan menganggu konsentrasi ini, aku pergi saja…" ucap Jaejoong bete.
"Ya! Aku sedang bertanya tauk!" ucap Karam kesal.
"Bertanya?" ucap Jaejoong yang kembali duduk.
"Nee." Balas Karam.
"Arra, bertanya tentang apa?" tanya Jaejoong menyilangkan kedua kakinya dan mulai membuka bukunya lagi.
"Nee, menurutmu jatuh cinta itu seperti apa?" tanya Karam yang saat ini berbaring di kasur king size empuk milik Jaejoong, sementara namja cantik yang ditanya duduk disebuah sofa. Jaejoong menurunkan buku yang dibacanya untuk menatap Karam.
"…"
"…"
Kedua mata itu saling menatap, hingga Jaejoong menaikan lagi bukunya untuk menutupi wajah cantiknya dan dia pun berkata "Kau sudah gila…"
"YA!" teriak Karam marah karena Jaejoong tidak memperdulikan keluh-kesahnya.
Jaejoong pun menghela nafasnya dan menutup buku itu lagi, menaruhnya di lengan sofa. Dia menatap Karam dengan pandangan yang sulit diungkapkan.
"Memangnya, kau sedang jatuh cinta, eoh?" ucap Jaejoong tidak tertarik sembari menopang dagunya dengan satu tangan yang bertumpuh di lengan sofa. Karam tidak menunjukan gelagatan yang menunjukan kalau dia sedang jatuh cinta.
"Kau tidak terlihat sedang jatuh cinta…" ucap Jaejoong malas.
"Ya! Aku bukan jatuh cinta tapi sedang tertarik dengan seseorang!"
"Perasaan kau bilang : jatuh cinta?"
"Hanya perasaanmu saja."
"Ya, sudah…" Jaejoong membaca lagi.
"Woiii!"
Jaejoong yang sedikit terganggu akan namja menyebalkan yang menduduki bangku SM Junior kelas 3-D ini, dia ingin istirahat.
"Baiklah, kepada siapa kau tertarik, teman sekelasmu? Kasian sekali dia…" ucap Jaejoong seenaknya bertanya dan menjawab sendiri.
"Bukan…tapi…seniorku…"
"Oh, Oedipus complex, ya?" ucap Jaejoong yang malas membuka kedua matanya.
"Oe-apa? Ya, sudahlah mungkin seperti itu…" ucap Karam yang memang tidak jenius dari sananya.
"Lalu? Kenapa bertanya padaku? Bukannya Hyung Joon kakakmu? Dia mungkin lebih tahu?" ucap Jaejoong, yang berjalan dan membaringkan tubuhnya di kasur nan empuk itu, "Pfft, ayolah. Yang dipikirannya itu Cuma menjadi anjing suruhan paman dan mana mungkin dia punya waktu mendengarkan curhatanku, paling dia akan menertawaiku…" ucap Karam.
Karam menatap sepupunya dan bertanya lagi, kali ini seringaian jahil tersungging diwajahnya.
"Jaejoong-ah?"
"Wae?" kedua mata Jaejoong masih terpejam.
"Apa aku boleh melakukan sebuah eksperimen?"
"Apa?" kini alisnya berkedut heran.
"Boleh aku menciummu?" ucap Karam tersenyum jahil.
"?!" kedua mata Jaejoong terbuka lebar mendengar penuturan Karam, hampir saja dia melayangkan tinjuan upper-cut kearah wajah namja itu.
DUAKKKHHH!
Sebuah vas bunga meluncur dan menghantam jidat namja cilik bernama Karam, Jaejoong yang membuka kedua matanya pun menatap arah pintu yang terbuka dan menemukan sosok sepupu angkatnya yang masih mengenakan setelan hitam, sambil bernafas terengah-engah.
"KARAAAAAMMMM! Kau apakan tugas projek-ku!?" ucap Hyung Joon mulai habis kesabaraannya karena menemukan projek untuk presentasi kuliahnya di coret-coret habiis oleh Karam.
"Che…ketahuan…" desis Karam.
"Kauuuuu!"
Jaejoong yang berencana untuk manghajar Karam, mengurungkan niatnya karena sosok Hyung Joon sudah tidak bisa dia atasi, oleh karena itulah dia memutuskan untuk kembali tidur sementara kedua kakak beradik itu berlarian di penjuru ruangan.
.
.
.
At 2012, spring, Washington D.C
Sosok cantik yang saat ini menyusun perlengkapannya di kamar asramanya, matanya berkutat akan pakaian yang akan dibawa pulangnya.
"So, are you gonna stay in korea this time?" tanya seorang lelaki tampan keturunan amerika yang menjadi teman roommate Jaejoong.
"Uh-huh…my step father asked me to study in Korea this year." Jelas Jaejoong masih melipat-lipat bajunya danmenutup kopernya, tanda dia sudah selesai meng-packing.
"We're not gonna see each other, huh?" ucap temannya sedih, mendengar itu Jaejoong membalikan tubuhnya dan tersenyum.
"Don't worry Pierre, we still a good friend and we still can send some messages 'rite?" hibur Jaejoong mengelus surai pirang milik temannya itu.
BLUSH
"If you do that, it'll gonna raise my hope up…" ucapnya sedih.
Jaejoong tersenyum lembut dan membawa kopernya, melewati roommatenya.
"See you around, again…friend."
.
.
.
At Airport
"Ya! Jaejoongie-ah, sebelah sini, sini!" panggil namja yang sudah memasuki usia 50-an memanggil sosok Jaejoong yang memakai kemeja putih dengan cardigan kuning muda dan celana jeans denim.
"Appa... Jung Min Ahjumma…kalian datang." Ucap Jaejoong memeluk keduanya.
"Ya! Jangan lupakan aku dengan si genit ini!" panggil Hyung Joon yang semakin lama semakin tinggi dan tampan, dia bersama dengan karam yang memakai seragam SM Highschool, kali ini namja manja itu menduduki bangku kelas 1-5B.
.
.
.
"Jadi, bagaimana selama 2 tahun sekolah di Washington? Apa kau senang?" tanya Jung Min menuangkan black tea kesukaan Jaejoong.
"Nee, kurasa aku akan merindukan teman-temanku yang ada disana…" ucap Jaejoong.
Karam menatapnya dan bertanya " Apa namja di amerika seksi semua?" tanyanya.
BUUUUUUFFFFSSSSSHHHH!
Hyung Joon menyemburkan tea-nya hingga Jaejoong dapat melihat pelangi karena pantulan air dengan cahaya yang disebabkan oleh Hyung Joon.
CRACK!
Sementara Min Joong mengigit keras kuenya, hingga patah dan Jung Min berhenti menyesap tea-nya, mata mereka melotot pada Karam dan kembali kearah Jaejoong.
"Jae-ah! Katakan, apa kau mengencani seseorang tanpa sepengetahuanku?!" tanya Min Joong sembari menguncang-guncang Jaejoong. Sungguh, selama 2 tahunn tidak bertemu, sifat protective-an milik Min Joong makin meningkat.
"…?"
"Jaejoong-ah, katakan siapaorang itu? Biar kuhabisi dia!" ucap Hyung Joon yang juga sebenarnya menyukai namja cantik ini, namun sifat gengsinya mengurungkan niatnya.
Jung Min menjewer telinga anak keduanya itu karena sembarangan ngomong.
"Nappaeun namja! Jangan bicara yang tidak-tidak!"
"Appo…" ringis Karam.
…1 jam kemudian…
"Jadi…ehem, aku ingin menyekolahkanmu di SM Highschool…" ucap Min Joong yang sudah sadar dari sifatnya yang terlalu overprotective terhadap putranya yang baru tiba.
"Sekolah yang sama dengan Karam?" ucap Jaejoong sambil menunjuk Karam yang disampingnya dengan jempolnya.
"Yup, sekolah itu adalah sekolah yang terbaik di korea...kurasa, dengan adanya Karam kau tidak akan merasa asing, bukan?" ucap Min Joong menjelaskan.
"Baiklah." Ucap Jaejoong.
"OK, kalau begitu sudah diputuskan kalau Jaejoongie-ah akan bersekolah di SM!" ucap Min Joong kelewat senang.
.
.
.
"Aku sudah menghubungi pihak sekolah, katanya kau sudah resmi menjadi murid di SM." Jelas Min Joong yang membuka pintu kamar Jaejoong, namja cantik itu tengah membaca buku yang terlihat kuno.
"Ah, gomawo appa…" ucap Jaejoong menutup bukunya.
"Yah, walaupun kau belum mendapatkan seragam barumu, sih…soalnya, appa meminta bantuan kepala sekolah secara tiba-tiba, mereka tidak sempat menyiapkan seragammu…haaaah, padahal aku ingin sekali melihat esok pagi kau mengenakan seragam baru." Ucap Min Joong sedikit kecewa.
"Tidak apa-apa, itu sudah cukup…" ucap Jaejoong tersenyum, Min Joong melihat pipi sisi kiri anak itu seperti terkena lecet atau luka gores, nampaknya dia berkelahi lagi melawan mahluk itu.
Min Joong tersenyum lemah dan mengusap-usap kepala namja cantik yang sudah menjadi buah hatinya, dia membuka suaranya namun dia mengurungkan niatnya. Jaejoong yang menyadari hal itu, mendongkak heran.
"Ada apa?" tanya Jaejoong penasaran.
"Ah, tidak apa-apa…kau, beristirahatlah…besok adalah hari pertamamu, bukan? Kau harus terlihat rapid an cantik besok…" ucap Min Joong menggoda namja yang terlahir cantik itu.
Jaejoong hanya mendesah kesal mendengarnya.
"SM…Highschool, huh?" gumamnya.
.
.
.
At 3-3A Classroom
"DIAM, SEMUANYA!" ucap Jang Songsaenim yang melihat tingakh laku brutal anak-anak muridnya, alhasil para murid yang mengetahui keganasan sang Guru killer satu ini mendadak jadi hening.
Hening…
"Baguslah, kita kedatangan murid baru dari amerika…kuharap, anak ini lebih baik dari kalian para murid-murid yang selalu gagal menjawab pertanyaan yang anak TK pun bisa menjawab." Sindir Jang Songsaenim.
"Masuklah, Kim Jaejoong-sshi…" panggilnya.
Sreeek…
Sosok Jaejoong yang mempesona berhasil membius para murid, khususnya namja.
"U-uh…per-perkenalkan dirimu, Kim-sshi." Ucap Jang Dong Gun sedikit gagap meilhat sosok angelic itu.
Awalnya Jang Songsaenim pun merona malu karena awalnya dia mengira Jaejoong adalah yeoja, ketika dimintai tolong oleh kepala sekolah untuk mengantarkannya ke kelasnya, karena wali kelas 3-3A sedang ada urusan.
"Annyeong, Kim Jaejoong Imnida, saya pindahan dari Amerika…mohon bantuannya." Ucap Jaejoong dengan sopan sembari membungkukan badannya dengan sopan.
"KA-KAMI JUGA, MOHON BANTUANNYA!" ucap seluruh kelas.
BRAKKK!
Jaejoong dan seluruh penghuni kelas menoleh kearah sosok namja berambut coklat yang saat ini mengatur nafasnya, namja bermata musang dengan bibir berbentuk hati.
Mata Jaejoong membulat kaget melihat sosok namja yang terlihat familiar dari masa lalunya.
'U-Know…!' batinnya.
"Ya! Murid kelas 2-3, ngapain kamu ke kelas 3-3A, eoh?" bentak Jang Songsaenim kearah namja itu yang baru menyadari dia salah kelas dan seisi kelas menertawakannya.
"Mianhae, Jang Songsaenim." Tunduk namja itu, yang kemudian mengangkat kepalanya dan bermaksud untuk beranjak pergi.
Namun, ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat sosok Jaejoong yang ditemuinya di parkiran.
DEG.
Dan dari saat mereka bertemu itulah, cinta bersemi diantara keduanya. Kapan mereka akan mengutarakan isi hati mereka? hanya waktu yang mengetahuinya…
.
.
.
At present.
"JUNG YUNHO!"
JLEB!
CRASSSSSSHHHH…!
"JAEJOONG/HEROOOO…!"
Berahkirkah sudah? Kisahku…?
.
.
.
TBC
A/N : ini adalah chapter 04 part B, omake buat Jaemma yang sebelumnya bertemu dengan keluarga Kim dan ahkirnya bertemu Yunppa. Jaemma awalnya bersekolah dijepang selama setahun kemudian ditransferkan ke Washington D.C lalu, kembali ke Seoul …enjoy, ya? (^ ^)
Sekedar spoiler buat readers, saya juga mempublish 2 cerita baru judulnya adalah Blood+Blood yang Ratenya adalah K-T dan yang kedua adalah, KING yang Ber-Rate: M, silahkan dibaca juga, ya?
