Debt
Chapter 2
Fandom : Durarara!
Disclamer : Narita Ryohgo
Pair : Shizaya, Delizaya, Tsuizaya
Summary : Perasaan Shizuo terhadap Izaya mulai mempunyai arti bukan hanya nafsu dan kesenangan belaka. Namun, bagaimana dengan kedua saudaranya?
Izaya hanya menegak ludahnya mendapati tubuh besar Tsugaru mulai mendekatinya. Izaya hanya dapat mundur beberapa langkah karena terhalangi oleh cabinet dapur. Itulah yang mempersulit Izaya, dia tidak bisa kemana-mana.
"Sebagai gantinya kau harus bermain denganku sekarang, Izaya-kun." Gumam pemuda pirang itu dengan nada yang menurut si raven sangat menjijikkan. Tubuh kekarnya merengkuh tubuh yang lebih kecil darinya itu. Menyudutkannya diantara kabinet dapur. Menyesapi setiap aroma yang menyeruak khas dari tubuh sang mangsa. Mata birunya berkilat, biner indah itu kini tertutup kabut nafsu.
Indera pengecapnya beralih fungsi. Tidak untuk merasakan benda yang layak dirasakan. Tapi kini benda kenyal berliur itu sedang bergeriliya diantara lekukan leher si iris crimson. Berniat menggoda, dan merayu si pemuda manis dalam rengkuhannya.
Si raven memberontak, ia tahu perlawanan ini sia-sia tapi setidaknya dia sudah berusaha bukan? Dia tidak tahu harus berbuat apalagi. Tenaganya habis untuk pemberontakannya yang sia-sia. Pasrah? Tentu dia tidak mau. Dia bukan mainan si pirang ini.
"Tsu-tsugaru-sama hentikan!" Izaya yang sudah tidak tahan lagi akhirnya berteriak. Entah siapa yang akan menolongnya. Heiwajima yang lain? Mungkin iya, mungkin juga tidak.
Sang Heiwajima tertua membungkam mulut Izaya dengan satu jari telunjuknya. Mengisyaratkan agar pemuda didepannya tidak berisik."Ssstt jangan sampai kau membuat adik-adikku terbangun Izaya-kun."
Mata Izaya membulat. Dia tidak mau membayangkan kemungkinan-kemungkinan bila kedua Heiwajima yang lain ikut terlibat dalam hal ini.
"Ohayou~" terlambat. Heiwajima lain muncul, si iris mangenta si pirang yang paling muda. Sebuah seringai kasat mata terbentuk indah diantara dua belah bibirnya. Saat mendapati dua orang pemuda sedang memojokkan diri dengan posisi yang menurutnya menarik untuk diikuti."Perlu bantuan nii-chan?" tanpa babibu Delic mulai mendekati mereka berdua.
Tsugaru nampak sedikit tak suka karena kedatangan sang adik. Menganggu menurutnya. Tapi berbagi tak ada salahnya juga.
"Jadi siapa yang akan memulainya nii-chan ?" seringai Delic makin menjadi-jadi melihat wajah Izaya yang memerah ditambah dengan raut ketakutan yang menurutnya imut itu.
"Tentu saja aku." gumam Tsugaru. Dia mulai mengeliminasi jarak dirinya dan Izaya. Menutupnya dengan ciuman panas. Mulut Izaya terbungkam rapat rupanya. Dia tak ingin pasrah. Hal ini yang menurut Tsugaru akan menjadi menarik. Uke tanpa perlawanan itu akan membosankan, bukan?
Pertahanan yang menurutnya kuat kandas begitu saja. Ketika ia merasakan benda hangat dan basah menggeliat-liat disekitar telinga kirinya. Izaya tak kuat. Terlalu banyak godaan. Tapi untungnya dia masih bisa sedikit menahan gejolak dari dalam tubuhnya.
Namun apa daya. Satu orang menahan dua orang. Tentu, kapan saja akan berakhir dengan kekalahan dari pihak yang minoritas.
"Ngh~" suara merdu bagi dua pasangan telinga Heiwajima. Itulah yang mereka tunggu. Suara surga, dari bibir mungil sang raven.
Sementara Tsugaru masih sibuk menerobos pertahanan mulut hangat Izaya. Delic menggoda Izaya dengan mengecup tempat-tempat sensitive Izaya. Membuat sang penerima mendesah tertahan dalm ciuman panjangnya dengan Tsugaru.
Ciuman berakhir, begitu pula dengan aktivitas Delic. Serasa terbebas dalam sebuah sangkar ciuman. Segera Izaya manfaatkan dengan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Tanpa peduli saliva yang masih menggantung diantara celah bibirnya. Meninggalkan jejak saliva yang mengalir dileher jenjangnya. Membuat siapapun tergoda untuk mengecap leher porselen Izaya.
"Sekarang bagaimana kalau kita mulai bermain, hm?" Delic menyeringai lebar, sedangkan Tsugaru hanya tersenyum kalem penuh makna bertanda kutip. Delic dan Tsugaru menyudutkan Izaya diantara tembok. Tak ada yang peduli dengan ketakutan Izaya. Semua yang ada hanya senang-senang, nikmat dan nafsu.
BRAKKK
Sebuah hantaman benda keras mengalihkan perhatian kedua Heiwajima. Tanpa terkecuali Izaya. Dilihatnya mata almond tersirat tanda tak suka. Wajahnya memerah geram, marah? Sangat!
Melihat Izaya terpojok dengan wajah ketakutan sangatlah menyedihkan.
Baginya Izaya itu bukanlah sebuah mainan. Izaya adalah berlian paling rapuh yang hanya akan menjadi miliknya. Tidak untuk saudara-saudara bejatnya. Memang Shizuo pernah berlaku bejat kepada Izaya tapi semua itu hanya pelampiasan emosinya saja. Didalam sanubari terdalam dia amat snagat menyayangi Izaya. Dia tak ingin Izaya memasang ekspresi ketakutan. Dan dia harus melindungi Izaya.
Dengan langkah berat Shizuo menghampiri mereka bertiga yang kini tengah memasang ekspresi bermacam-macam kearahnya. Izaya semakin ketakutan, dia tak ingin semuanya bertambah parah. Ini semua bukan perjanjian yang mereka buat dari awal.
Dengan gerakan sigap, kini Izaya sudah berpindah ke pelukan Shizuo. Kedua saudaranya berebutan protes, namun Shizuo acuhkan. Dia mengendong Izaya a la bridal style menuju kamarnya dilantai dua.
Tubuh ringkih Izaya bergetar hebat. Otaknya menepis segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Shizuo merebahkan tubuh Izaya diatas ranjangnya. Tatapannya melunak."Kau baik-baik saja Izaya?" ia membelai lembut surai hitam Izaya. Tatapannya prihatin ketika si raven belum membuka mulutnya. Dengan gerakan lembut jari Shizuo menelusuri bekas-bekas merah yang menghiasi leher Izaya. Mata almondnya bertambah sendu.
"Izaya ma'afkan aku." mata Izaya terbelalak seketika. Lidahnya kelu. Mulutnya bungkam seribu bahasa. Tak ada angin tak ada hujan, kenapa Shizuo meminta ma'af padanya?
To Be Continue!
Hola, ini dia update-annya :D
Sebenarnya saya sedikit kecewa dengan para reader sekalian yang hanya menjadi viewer dan visitor tanpa meninggalkan satu pun review untuk saya T,T
Spesial thanks for Guest yang udah mereview dan makasih buat yang udah nge fave, arigatou ne~ ^^
Oke, kritik saran saya terima dikotak review :D
