Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC, Typo, Lime, Italic For Flashback, Bad Diction and Languange, etc.

Special Thanks:

Kataokafidy

nona fergie

Gui gui gak login

.Phantom

Lily Purple lily

BellaAmanda

"Naruto, kau sedang apa?"

Naruto yang sedang mengelapi botol-botol bir membalikkan badannya ke arah suara yang sangat dikenalinya. "Sakura?"

Sakura mendudukkan dirinya di kursi tinggi, tempat Naruto biasanya duduk saat ia tidak meracik minuman ketika bekerja. "Kau selalu memperlakukan botol-botol itu begitu istimewa ya? Tapi kalo menurutku kau hanya pria kesepian yang bingung untuk melakukan apa pun."

Naruto menampilkan cengiran khasnya, ia sudah biasa dengan ketajaman lidah Sakura. Naruto menyudahi pekerjaannya, ia meletakkan botol yang dipegangnya ke rak dan menghampiri Sakura.

Gadis berambut unik tersebut tidak menyadari keberadaan Naruto di sampingnya karena ia tengah asyik memandangi pub yang sepi, sesekali ia bersenandung riang, ia memang sangat menyukai suasana di pub ketika sedang sepi. Naruto menawarkan Sakura susu kalengan, disodorkannya ke Sakura. "Minumlah, susu itu bisa menentramkan loh."

Sakura meminum susunya tanpa berkomentar sedikitpun. "Apa ada masalah lagi?" Hanya gelengan yang diberikan Sakura. Naruto menghela napas, "Lalu kenapa semalam kau tidak datang?"

Sakura menarik tangan Naruto, mendekatkannya pada luka di kepalanya. Naruto memang tidak dapat melihat jelas luka Sakura karena gelapnya pub namun ia menyadari luka Sakura karena tangannya merasakan perban di kepala Sakura bukan helaian rambut indah Sakura. "Siapa yang melakukan ini padamu?!" Naruto menggeram, digebraknya meja, ia sangat tidak terima jika orang yang dicintainya harus terluka.

"Jangan berlebihan, ini hanya luka ringan. Setidaknya karena luka ini, aku tidak harus bekerja semalam. Ah, apa aku harus terus terluka kali ya, biar Bos tidak menyuruhku bekerja dan kemudian mengusirku." Naruto memandang sendu Sakura, ia tahu Sakura sangat terluka namun gadis keras kepala sepertinya selalu berusaha terlihat kuat.

"Hei Naruto kenapa kau diam? Apa kau sangat setuju dengan ide cemerlangku?"

Naruto langsung memeluk Sakura, ia sangat tidak tahan melihat Sakura terus menyembunyikan penderitaannya. Sakura hanya diam, ia tidak menyingkirkan ataupun membalas pelukan Naruto. Naruto akhirnya melepaskan pelukannya, ia meminta maaf kepada Sakura karena telah berbuat lancang.

"Kau tahu, kenapa pria gila itu memanggilku?"

Naruto hanya menggeleng, ia memang tidak pernah mengetahui masalah antara Sakura dengan Bosnya. Naruto sangat ingat di suatu hari di musim dingin tahun lalu, Bosnya membawa Sakura dan memperkenalkannya kepada seluruh pekerja yang tengah berkumpul di rumahnya. Saat itu pun Naruto tahu, Sakura adalah orang yang sangat istimewa karena Bosnya sampai menyuruh mereka berkumpul di kediamannya hanya untuk mengenalkannya. Naruto tidak mungkin melupakan peristiwa indah itu karena sejak itu hatinya hanya tertaut pada gadis cantik berambut unik yang kini berada dekat dengannya. "Sakura, memangnya apa hubunganmu dengan Bos? Emm, maksudku ada masalah apa?"

Sakura tertawa, "Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?" Naruto terkejut mendapati air mata Sakura yang tumpah namun ia terlalu bingung untuk bersikap, ia pun hanya membiarkan gadisnya menangis.

Naruto terus diam dengan tatapan yang terus di arahkan ke Sakura, ia memang tidak pandai menghadapi seseorang yang tengah menangis. Apa lagi seseorang yang tengah menangis adalah orang yang paling dikasihinya. Waktu pun berlalu dalam kesunyian tanpa sedikitpun kata-kata yang terurai dari kedua insan tersebut. Hal ini terus berlanjut sampai rekan Naruto datang dan mengganggu kebersamaan mereka.

"Sakura, kau dipanggil Bos." Sakura mengangguk lalu meninggalkan Naruto begitu saja.

"Hei, kau kenapa Naruto?" Naruto hanya menggeleng dan kembali bekerja, tidak mengacuhkan pertanyaan dari rekan sesama bartendernya.

XXX

"Apa lagi yang kau inginkan Tua Bangka! Rasanya bosan aku harus bolak-balik ke ruangan menjijikkan ini."

Danzou memang sudah kebal dengan julukan dari pekerja kesayangannya jadi ia tidak pernah memperdulikannya. "Kau harus menyerahkannya gadis bodoh! Aku sudah membuat pelelangan khusus untukmu, aku yakin kau akan sangat menghasilkan untukku."

Sakura meludahi Danzou, ia menatap nyalang pada Bosnya. "Kau pikir aku sudi melepaskan satu-satunya hal yang kupunya untukmu? Tentu saja tidak, brengsek!" Sakura menaiki meja kerja Danzou dan menarik kerah baju Danzou, sementara kakinya yang bebas menjatuhkan kotak uang kebanggaan Danzou, membuat kotak yang tidak tertutup itu menghamburkan uangnya.

Tampaknya Danzou telah habis kesabaran menghadapi Sakura, ia memanggil kedua bodyguardnya yang berada di luar kamarnya untuk menyingkirkan Sakura. "Hati-hati, jangan sampai dia terluka! Sampai besok, dia adalah barang kebanggaanku!"

Sakura terus-menerus memandang Danzou dengan pandangan membunuh. "Sampai kapan pun, aku tidak akan memberikan apa yang kau minta, brengsek!" Sakura menggigit salah satu tangan bodyguard Danzou, sementara bodyguard lainnya harus puas dengan tendangan Sakura di bagian vitalnya.

Setelah lepas dari kedua bodyguard tersebut, Sakura kembali menghadapkan dirinya pada orang terkutuk yang menjadi pusat utama dalam list orang yang sangat ingin ia lihat kematiannya. Sakura kembali meludahi Danzou, "Jangan mimpi kau bisa mendapatkan apa yang kau mau, busuk!" Sakura membalikkan badannya dengan kibasan rambut dan cara berjalannya yang angkuh.

"Cih, kau pikir kau bisa menang dariku! Kau tentu tahu apa yang akan kulakukan pada keluargamu, jika kau bermain-main denganku."

DEG!

Sakura tentu tahu apa konsekuensinya namun ia pantang terlihat lemah oleh pria yang paling ia benci, ia terus berjalan keluar ruangan tidak memperdulikan tawa mengejek Danzou. "Kau tahu Sakura Haruno, Danzou tidak pernah kalah!"

XXX

"Naruto, kau menghawatirkan Sakura ya?" Naruto memangku wajahnya di atas meja, ia hanya menggumam aneh atas pertanyaan kawannya. "Kudengar Sakura akan melakukan lelang keperawanan besok, apa kau sudah tahu?"

Naruto yang sedang tidak fokus, tidak memperdulikan pertanyaan yang diajukan padanya, ia terlalu larut dengan pemikirannya sendiri. Kimimaro menghela napas, ia menyadari perasaan Naruto terhadap Sakura, ia merasa kasihan atas nasib Naruto. "Kau yang sabar ya, mau bagaiamana lagi, cepat atau lambat Sakura pasti terjun sepenuhnya pada bisnis haram ini. Kau tentu tahu kelicikan Bos, kan? Sebagai pelayan saja Sakura selalu mendapat perhatian dari para tamu, apa lagi kalau ia menjadi penghibur, kau tentu tahu apa yang kumaksud."

Kimimaro memang kerap terlihat dingin namun ia adalah orang yang sangat peduli terhadap temannya maka dari itu ia selalu berusaha menghibur Naruto. Bagamanapun juga Kimimaro adalah tempat Naruto mencurahkan isi hatinya. "Jangan bersedih Naruto, jika kau tulus mencintainya dan dia memang orang yang dikehendaki Tuhan untukmu, kau pasti bisa bersama dengannya." Kimimaro menepuk bahu Naruto, "Bersemangatlah! Aku akan selalu mendukungmu dan membantu sebisaku untukmu, kau sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri."

Naruto hanya menggumamkan terima kasih, ia tenggelam dalam pikirannya. Naruto memang telah mengetahui perihal pelelangan itu, maka dari itu ia ingin menemui Sakura dan menanyakannya secara langsung. Sayangnya tempat Sakura tinggal dijaga ketat oleh bodyguard Danzou, ia jadi tidak bisa menemui Sakura. Pikiran nekat untuk menerobos masuk terus menghantuinya, namun ia menahan keinginan itu. Naruto khawatir ulah nekatnya akan berdampak buruk bagi Sakura. "Semoga kau baik-baik saja, aku menyayangimu, Sakura," lirihnya.

XXX

"SAKURA!"

Sakura tidak menyangka Naruto akan menerobos penjagaan dan menghampirinya. "Naruto, bagaimana bisa kau kemari?" Naruto langsung menarik Sakura, tidak memperdulikan pertanyaan Sakura ataupun protesan dari gadis cantik tersebut.

"Naruto, apa kau menghajar mereka?"

Naruto tertawa, "Menurutmu?"

Cinta memang membuat siapa pun nekat karenanya, tampaknya itulah yang membuat Naruto nekat mencampurkan obat tidur pada kopi para bodyguard. Mereka berdua pun terus berlari, jalanan yang sempit dan kumuh tidak bisa menyembunyikan rona bahagia dari keduanya.

.

.

.

"Sakura, bolehkah aku bertanya?"

Sakura menatap Naruto dengan pandangan penuh binar membuat Naruto hanyut oleh tatapan Sakura. "Naruto, tempat ini indah sekali! Terima kasih telah membawaku kemari." Naruto tidak ingin merusak kebahagiaan Sakura dengan pertanyaannya, ia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya.

"Sakura, aku punya tempat yang tidak kalah indah dari ini, ayo ikut aku."

Naruto dan Sakura berjalan beriringan menelusuri Padang rumput yang indah dan dipenuhi dengan dandelion. Mereka berjalan diiringi canda tawa, menuruni lembah dandelion. Rumput yang basah akibat hujan membuat mereka harus berhati-hati agar tidak tergelincir. Naruto dengan sigap membantu menahan tubuh Sakura, ia terlalu takut jika gadisnya harus tergelincir.

Tidak memerlukan waktu lama, mereka telah sampai di bawah lembah yang ternyata terdapat danau. "Jadi ini sebuah danau? Ah, danau ini indah sekali Naruto! Ngomong-ngomong apa nama danau ini?"

Naruto tampak berpikir, ia memang tidak mengetahui nama danau tersebut. Sejujurnya Naruto hanya tidak sengaja menemukan danau ini ketika mobil pemasok bir yang dibawanya mogok. Saat melihat lembah ini ia sangat tertarik dengan pemandangan yang tercipta. Rasa tertarik dan ingin tahu membuatnya menemukan danau tersebut, yang tidak terlihat karena posisinya berada di dasar lembah. Memikirkan tentang awal dirinya menemukan danau ini, membuatnya mengingat perkataan Kimimaro ….

"Kau pasti sangat tertarik dengan danau ini ya, Naruto? Danau ini memang seperti gadis yang kau pikirkan sih." Naruto memandang bingung Kimimaro. "Dandelion, itulah kuncinya." Kimimaro pun meninggalkan Naruto, mendaki lembah dan kembali berkutat pada mesin mobil yang mogok. Kemampuan Kimimaro dalam hal mesin, memang tidak bisa disepelekan.

Selepas kepergian Kimimaro, Naruto terus memikirkan makna dandelion yang dimaksudkan Kimimaro. Melihat dandelion yang berterbangan, membuat Naruto mengerti maksud Kimimaro, ia pun langsung mengambil buku kecil yang berisi daftar stock barang dan merobek selembar kertas kemudian mengambil bolpoint yang berada di saku kemejanya.

"Sekilas dandelion itu terlihat tegar dan berdiri kokoh di tengah ladang, namun sebenarnya itu hanya kamuflase agar ia tidak diejek kawanan bunga yang lain karena ia hanyalah bunga liar. Kau pun begitu Sakura, kau selalu berusaha tegar dan kuat agar mereka tidak memandangmu sebelah mata, meski sebenarnya di balik itu kau menyimpan kesedihan yang mendalam. Dandelion indah, kau pun indah. Maka dari itu danau ini kuberi nama Dandelion untuk kupersembahkan padamu Sakura karena saat ini dan selamanya kau adalah yang kucintai."

Naruto teringat surat yang ia tulis ketika berada di sini di waktu lalu, ia pun mengeluarkannya dan menyerahkannya kepada Sakura. "Apa ini Naruto?"

"Simpanlah surat ini Sakura, di situ ada nama danau yang kau tanyakan." Sakura pun membuka surat itu namun tangan Naruto dengan gesit menahan pergerakan tangan Sakura. "Kau boleh membukanya tapi nanti, tidak saat kau bersamaku."

Sakura mengerucutkan bibirnya dan berkacak pinggang, "Ada-ada saja kau." Naruto terus tertawa melihat raut tidak suka dari Sakura. "Cih, aku tidak menyuruhmu menertawaiku."

"Sakura bagaimana kalo kita berkeliling danau dengan perahu itu." Sakura menggangguk, Naruto pun membawa Sakura ke tepian danau. Setelah melepas tali dari patokan kayu yang meghalangi laju perahu Naruto pun menarik perahu tersebut kemudian menyusul Sakura yang telah berada di atas perahu.

"Ini benar-benar indah Naruto, aku tidak menyangka bisa melalui langit senja yang indah bersamamu."

Naruto membelai rambut indah Sakura kemudian membawanya dalam pelukan. "Senang bisa melihatmu tersenyum tulus, bukan topeng yang selalu kau tunjukkan."

Sakura merasakan ketentraman dalam hatinya, andai bisa, ia tidak ingin pergi dari suasana seperti ini namun ia tahu, ia tidak punya pilihan kecuali menjalankan perintah manusia brengsek itu. Sakura jadi menghayalkan keadaannya setahun sebelumnya yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman namun semua itu rusak ketika ayahnya terlilit hutang Danzou. Pria jahat itu menjebloskan ayah dan ibunya dalam penjara sementara Konohamaru, adiknya satu-satunya dirawat di rumah sakit karena sejak kecil Konohamaru memang lemah.

Kini, di sinilah nasib Sakura, berada dalam kungkungan kebejatan Danzou, ia harus menjadi pelayan pub untuk membiayai adiknya yang sedang dirawat di rumah sakit dan membebaskan kedua orang tuanya dari penjara. Namun Sakura sadar betapa liciknya orang gila itu, ia tidak akan melepaskannya sebelum menghasilkan lebih banyak uang untuknya. Sebagai pelayan yang hanya menemani para tamu minum saja, ia sudah menjadi primadona, apa lagi jika ia menjadi pemberi kesenangan dalam satu malam? Karena itulah Danzou sangat berambisi untuk membuatnya menjual kegadisannya. Sakura memang tidak punya pilihan jika ingin bersama dengan kedua orang tuanya, mungkin jika ia menjual apa yang selama ini dijaganya ia akan dengan cepat mengumpulkan uang dan pergi ke dalam pelukan kedua orang tuanya karena sebagai pelayan pub, ia tidak memiliki uang yang cukup untuk melunasi hutang meski ia harus mengorbankan istirahatnya untuk terjaga sepanjang malam. Namun tidak, ia tidak mau menyerahkan apa yang paling diinginkan Danzou karena ia paling tidak suka jika membuat orang gila itu mendapatkan semua yang ia miliki.

Naruto merasa sedih dan terluka melihat Sakura yang menatap kosong pemandangan yang tercipta, ia semakin mengeratkan pelukannya, meyakinkan Sakura bahwa ia tidak seorang diri. Namun Naruto sadar, hal itu tidaklah merubah masalah yang dihadapi gadisnya, ia sangat menyadari kegamangan Sakura. Tidak, bukan hanya Sakura yang gamang, ia pun juga merasa demikian hingga tanpa sadar ia menyuarakan kata hatinya, "Jangan serahkan Sakura!"

Sakura menghela napas kemudia melepaskan pelukan Naruto dan membalikkan dirinya menghadap Naruto. "Ah, kau sudah tahu ya … Ya, kau benar, mana mungkin aku serahkan hal yang sangat diinginkan si brengsek itu." Naruto bimbang ingin mengatakan apa, ia hanya diam seribu bahasa dengan safir yang terus mengikuti zamrud. "Tapi, aku butuh uang, sayang." Sakura melayangkan pandangan menggoda dan dengan seduktif ia mendekatkan dirinya dengan Naruto, dibelainya pipi tan Naruto. "Bagaimana kalo kau membeli keperawananku? Ah, aku tahu sayang kau sangat menyukaiku dan sepertinya tidak apa kalo aku menyerahkannya padamu."

Naruto menundukkan wajahnya, ia tahu tidak sepantasnya ia melarang Sakura, toh dirinya tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada Sakura. Sakura tertawa melihat ekspresi Naruto —ralat— ia tengah menertawai nasibnya.

Keheningan yang hadir dilalui Sakura dengan membuka kancing-kancing kemejanya kemudian melemparkan kemejanya ke danau. Naruto tidak menyadari apa yang Sakura lakukan karena sedari tadi ia terus menundukkan kepalanya dan tenggelam dalam pemikirannya sampai Sakura mendorongnya hingga ia terjatuh menyentuh lantai perahu, sementara Sakura berada di atasnya.

Sakura tidak memberikan waktu sedikitpun untuk Naruto mencerna apa yang terjadi, ia langsung menempelkan bibirnya ke bibir Naruto dan menciumnya. Naruto terlalu bingung untuk mengambil sikap karena pemikirannya yang bercabang antara menikmati dan menyudahi. Tentunya ia sangat menikmati sentuhan gadisnya namun ia tidak menginginkan gadisnya semakin terluka, ia pun berusaha melepaskan dirinya dari Sakura.

Meski mereka sudah tidak dalam keadaan sebelumnya, Sakura masih tetap berada di atas Naruto, ia menatap Naruto dengan pandangan terluka membuat Naruto semakin merasa bersalah. Naruto baru hendak mengatakan maaf namun Sakura telah terlebih dahulu menyuarakan isi hatinya. "Kenapa kau menolaknya Naruto? Aku sangat ikhlas untuk ini, ketimbang tubuhku hanya akan menjadi lumbung uang pria gila itu."

Naruto merangkum wajah Sakura, ia berusaha bangkit dan mendudukkan Sakura di sampingnya, ia bahkan melepaskan kemejanya dan memakaikannya ke badan Sakura yang hanya berlapiskan bra. "Aku mencintaimu Sakura, sangat mencintaimu karena itu aku tidak ingin merusakmu."

Sakura menghela napas, ia menyembunyikan kerapuhannya dengan menatap nyalang Naruto. "Kalo kau mencintaiku, bukannya kau seharusnya senang dengan apa yang kulakukan? Toh, karenamu atau bukan, pada akhirnya aku akan rusak. Jadi, apa aku salah jika mengizinkanmu merusakku?"

Naruto menggeleng, ia menatap sendu Sakura, dibelainya helaian sutra Sakura, "Tidak, namun aku tahu kau hanya memaksakan diri."

Sakura menghela napas dan tertawa, entah sudah berapa kali ia menghela napas untuk menahan butiran-butiran air yang berusaha keluar dari matanya. "Jangan berbelit Naruto!"

Naruto terkejut ketika Sakura bangkit dari posisi duduknya dan hendak melompat dari perahu, ia dengan sigap memeluk Sakura. "Apa yang kau lakukan, apa kau bodoh, hah?!"

Sakura sekali lagi mencium Naruto, meneransferkan semua derita yang ia alami dengan ciuman penuh rasa asin akibat air matanya yang tidak bisa ia tahan. "Kau benar Naruto, aku terlalu munafik mengatakan bahwa kegadisan hanyalah hal sepele. Namun tidak, ini adalah hal yang paling kujaga dalam hidupku karena aku hanya ingin memberikannya pada suamiku kelak atau setidaknya pada pria yang kucintai." Sakura mengelus pipi tan Naruto, tersenyum tulus. "Kenapa kau menolakku?" Seiring dengan tiga suku kata yang dilontarkannya, Sakura menceburkan dirinya ke kedalaman danau Dandelion dengan seluruh rasa bersalah untuk keluarganya dan pemuda yang belakangan ini menghiasi mimpinya, Naruto …

Naruto terlalu terkejut dengan apa yang terjadi, ia sama sekali tidak menyangka Sakura bisa bertindak senekat itu. "SAKURAAAAAAAA!" Teriakkan Naruto bagai mengambang di udara karena Sakura telah lenyap tertelan danau.

Ketakutan akan kehilangan membuat Naruto buntu dan tidak bisa berpikir jernih, seiring air matanya menetes ia pun menceburkan dirinya dengan satu tekat tulus di hatinya, berharap bisa menemukan Sakura. Apakah ini adalah akhir untuk kisah cinta mereka yang tidak pernah tersisipi kata-kata cinta yang membentuk komitmen, hanya dua rasa yang selalu terkait dan hati yang menyadari keberadaan masing-masing. Naruto dan Sakura telah raib di kedalaman danau, matahari pun menenggelamkan dirinya, bagai saksi bisu kepedihan cinta mereka.

The End?

.

.

.

#plakk, Masih Bersambung kok …

Semoga tidak mengecewakan, sampai jumpa di chapter 3 … ^^

Review?