Oke, ini dia chepter duanya datang, maaf kalo ternyata isinya masih gaje dan masih ada miss typo dan mengecewakan anda semua, wahai para readers. Maaf kalo kami disini ternyata kami terlalu lebay dan membuat kalian semua EWA. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, jadi kalau kurang suka silahkan klik close tab/ back/ disconnect saja internet anda sekalian, ^.^v

Dan kami juga minta dukungan kalian, dan tidak lupa riview yang membangun :D

Enjoy the story XD

The Days of the Princess

.

Disclaimer tokoh : Masashi Kishimoto

Disclaimer cerita : UCHIHA

WARNING!: gaje, AU, aneh, OOC, OC, dll.

Rate : T

Pairing: Sasuke X Sakura

.

~ My Destiny ~

.

Normal POV

Setelah insidennya dengan sang 'Putra Mahkota', Sakura terus memikirkannya. Entah karena dia benci atau mungkin suatu perasaan yang lain. Namun Sakura telah berusaha untuk melupakannya.

Namun Sakura telah berencana untuk melihat Sang 'Putra Mahkota' tersebut saat sampai di sekolah yang katanya sampai membuat puluhan bahkan ratusa wanita langsung berlari histeris ke arahnya, oh man, yang benar saja! Jadi Sakura pun memutuskan, bagaimanapun caranya, besok ia harus bangun pagi.

.

.

"Ibu, aku berangkat dulu ya," salam Sakura yang baru saja turun dari kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya.

"Hei, kau tidak sarapan dulu? Ibu sudah menyiapkan roti di meja." teriak ibu Sakura yang tak lain adalah Rin dari dapur.

"Tidak bu, aku masih kenyang. Sudah ya bu, aku pergi dulu nanti aku telambat lagi." Jawab Sakura sambil membuka pintu dan langsung mengendarai sepedanya yang terparkir di dekat pintunya.

"Haduh, dasar anak nakal. Padahal masih setengah jam lagi masuknya? Tumben sekali dia tidak bangun kesiangan. Ada apa ya dengan anak itu?" Gerutu Rin yang sedang mencuci piring. Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Rin yang sontak langsung membuatnya kaget.

"Tumben sekali Sakura berangkat lebih pagi sekali seperti itu, ada apa?" suara sang Ayah yang tak lain adalah Haruno Shei mengagetkan Rin yang tengah mencuci piring. Sampai-sampai busa yang ada di tangannya terlempar ke muka Shei.

"Aduh Ibu ini apa-apaan sih? Mau mencuci piring atau mencuci muka Ayah?" tanya Shei yang sedikit menaikkan nadanya sambil membersihkan busa yang ada di wajahnya.

"Maaf, habis tadi kau membuatku kaget. Ya sudah jangan salahkan aku. Makanya jangan suka mengagetkan orang, kalau kena penyakit jantung gimana?" bentak Rin kepada Shei sambil memukul bahu Shei sementara yang dipukul hanya tertawa geli.

"Iya deh maaf juga, tapi kau belum menjawab pertanyaanku tentang Sakura tadi loh." terang Shei mengingatkan akan pertanyaannya tadi yang belum terjawab.

"Oh iya aku juga tidak tau, aku pikir dia ingin menemui seseorang atau ingin mengerjakan sesuatu, tapi kan dia selalu mengerjakan PR di rumah." Rin berpikir sampai lupa kalau keran yang ia gunakan masih mengucurkan air (hemat air bisa kali).

"Mungkin dia ingin menemui seseorang sepertinya," Shei ikut penasaran.

"ATAU MUNGKIN DIA...!" sontak keduanya sambil berteriak dan berhadapan satu sama lain dalam hitungan detik yang susah untuk diungkapkan.

.

.

-Skip Time-

"Haduh apa si UCHIHA itu sudah datang ke sekolah ya? Aku penasaran memangnya dia datang ke sekolah pake apa sih?" Sakura semakin penasaran akan Sang 'Putra Mahkota' yang menjadi 'super star' di sekolahnya atau mungkin di Negaranya, mungkin yang satu itu terlalu berlebihan.

"Oke sebentar lagi sampai,yosh Ganbatte!" Sakura semakin bersemangat saat pintu gerbang sudah terlihat di depannya.

Saat dia sudah memasuki pintu gerbangnya, terlihat teman-temannya sedang duduk di taman dekat pintu gerbang sekolah. Sakura pun menghampiri mereka yang terlihat sedang menunggu seseorang.

"Hai, apa yang kalian lakukan di sini?" sapa Sakura sambil melambaikan tangan pada sahabat- sahabatnya, Hinata, Karin dan Tenten.

"Kami sedang mengobrol saja. Kau sendiri tumben datang lebih pagi, mencari Sasuke?" Jawab Karin, menekankan kata Sasuke,yang membuat Sakura sedikit terkejut dan salah tingkah.

"Eh, y-ya begitulah. Aku sebenarnya penasaran dengan si 'Putra Mahkota itu, memang dia naik apa ke sekolah? Katanya saat dia baru datang itu adalah momen paling bagus, benarkah begitu?" Ujar Sakura yang sedikit malu saat mengatakan dia datang lebih pagi hanya karena ingin tau tentang Sasuke. Sementara sahabatnya sedikit tersentak kaget mendengar jawaban Sakura.

"Hah? Demi apa? Hanya demi dia kau datang lebih pagi? Kau hebat Sakura. CONGRATULATION!" Sindir Hinata sambil bertepuk tangan kemudian Tenten dan Karin pun mengikuti.

"Eh, kenapa Congratulation? Emangnya aku menang apaan? Aneh." jawab Sakura heran kepada sahabatnya yang memberinya selamat.

"Aduh Sakula, kau ini lela datang lebih pagi cuma mau liat Sasuke dateng doang? Hebat yah. Padahal gililan ada tugas penting kamu ga pelnah dateng on time." jawab Tenten dengan logat khas Cinanya.

"Oh itu maksud kalian? Aku benci sama dia, gara-gara dia itu sombongnya minta ampun. Makanya aku mau tau katanya dia itu kan Putra Mahkota, calon pemimpin Negara gitu. Masa' sombong banget kayak gitu, BAGAIMANA NANTI NASIB NEGARA KITA INI?" jelas Sakura kepada sahabatnya, sementara sahabatnya hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Sakura.

"Baiklah, sebentar lagi dia datang kok." tanggap Karin sambil menepuk pundak Sakura dengan gestur orang bijak yang, UKH, sangat tidak Karin sekali.

Tak lama kemudian, masuklah sebuah motor polisi ke dalam lapangan sekolah diikuti oleh 3 mobil Merci hitam di belakangnya. Karin, Tenten dan Hinata segera bangun dari duduk mereka sedangkan Sakura hanya bengong melihat rombongan itu masuk. 'Tumben sekali Presiden mau datang ke sini?' batin Sakura.

Baru saja ia mau menyuarakan isi hatinya itu, tapi segera ia telan kembali kata- katanya saat dilihatnya para gadis MAIS serentak berlari ke arah rombongan itu, namun kegiatan mereka segera dicegah oleh para bodyguard yang keluar dari mobil-mobil itu. Jika di hitung-hitung sekitar ada 10 orang bodyguard. Mereka memakai jas hitam, diantaranya memakai kacamata hitam dan mereka semua berpakaian sangat rapi, sekali lagi ditekankan sangat rapi!

Sakura hanya bisa melihat dari kejauhan saja sementara sahabatnya sudah lari bersama gadis lainnya.

Dan keluar sesosok lelaki tampan, berkulit putih, rambut chickbutt style, dan sepasang mata onyx yang mampu membuat semua wanita tergila-gila melihatnya. Sakura pun sedikit terpana melihatnya, namun segera ia tepis semua pikiran menyesatkan itu, bagaimanapun juga itu adalah lelaki yang ia benci karena sikapnya yang super sombong.

Namun dalam lubuk hatinya dia juga mengakui ketampanan sang 'Putra Mahkota' itu. Dan tanpa dia sadari Sasuke sempat melirik ke arahnya namun hanya sebentar, sangat malah tak sampai sedetik.

.

.

Setelah melihat sekitar, Sasuke langsung berjalan masuk ke sekolah tanpa mempedulikan para gadis yang berusaha mendapat perhatiannya. Pandangannya hanya tertuju pada satu orang yang telah menunggunya di lorong loker. Ya, itu dia Yamanaka Ino kekasihnya. Segera ia gandeng tangan kekasihnya dengan mesra, dan merekapun berjalan menuju kelas.

.

.

Sejenak Sakura langsung mengetahui kalau itu adalah pacarnya. Memang dia itu cantik dengan rambut pirang sebahu yang terurai, dihiasi jepit kecil yang diprediksi Sakura dibelikan oleh Sasuke. Sangat cocok untuk mendampingi sang 'putra mahkota'. Memang aneh, tapi ia merasa dadanya sedikit sesak saat melihat dua orang itu. Tapi belum sempat ia memikirkan apa sebenarnya yang ia rasakan, ia sudah lebih dulu di seret oleh Karin ke dalam gedung sekolah.

'Apa-apaan ini? dia itu musuhmu Sakura, MUSUH! Ingat itu' batin Sakura, entah kenapa sejak tadi, ia selalu kepikiran tentang kejadian itu. Cemburu? Oh, yang benar saja! HELL, NO!

"Hei Sakura apa kau mendengarkan kami? hei JIDAT!" tiba-tiba suara Karin yang nyaring menghancurkan lamunannya, telinga Sakura sampai berdengung karena suaranya.

"A-ah ya, ada apa?" kata Sakura sedikit sambil menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan dengung yang ada di kupingnya.

"Ah, kau ini. Jadi dari tadi kita bicara panjang lebar, tak ada satu pun yang kau dengarkan jidat?" kata Karin, mukanya semakin muram setiap ia mengucapkan kalimat tadi.

"Yah, begitulah HEHE. Maafkan aku ya teman-tem – " belum selesai Sakura berbicara, terdengar suara kencang dari arah belakang mereka.

"HARUNO SAKURA, SUDAH BERAPA KALI AKU KATAKAN PADAMU? KAU TIDAK BOLEH BERPAKAIAN SEPERTI ITU!" suara itu bergaung sepanjang lorong di belakang mereka.

'Mati aku, oh ya ampun pagi-pagi begini masa sudah harus lari! My beautiful morning!' batin Sakura cemas, segera ia berancang-ancang untuk berlari. Dikuatkannya tali sepatu dan dibetulkannya latak tas punggungnya.

"KAU KEMANAKAN DASIMU ITU? DAN APA ITU? HEI, KAU TAHU BAHWA SISWI DILARANG PAKAI SEPATU KETS SELAIN JAM OLAHRAGA. DAN MANA ROMPI MU? CEPAT KEMARI KAU, AKAN KU – HEi, JANGAN LARI KAU!"

.

.

Jadilah sepagian itu terpaksa Sakura habiskan untuk menghindari Ebisu Sensei. Dan sekarang ia sedang berlari menuju atap sekolah tempat yang menurutnya aman unutuk bersembunyi. Diliriknya koridor dibelakangnya, Ebisu sensei sudah tertinggal jauh. Yeah, bagus sekali itu. Satu belokan lagi Sakura pasti sampai di tangga menuju atap, dan Ebisu Sensei tak mungkin dapat mengejarnya lagi.

"Ah, ya ampun sedikit lagi Sakura. Huh, dasar Ebisu sensei pagi-pagi sudah ngajak main kejar- kejaran." Kata- kata ini entah Sakura tunjukan untuk siapa karena di tangga menuju atap tidak ada orang satupun.

GRUDAK..GRUDUK..GRADAK..TAP-TAP..

"Huufft, sampai juga akhirnya. Ukh aku lapar, ah sudah jam makan siang! Bagaimana ini, kalau ke bawah pasti dapat hukuman.. ah, sudahlah di atas sini saja." Gumam Sakura tak jelas, ia segera mempercepat langkahnya menuju satu-satunya pintu yang mengarah ke atap sekolah.

Baru saja hendak ia buka pintunya, terdengar sebuah suara yang rasanya pernah ia dengar. Suara berat nan dingin. Awalnya Sakura hendak pergi meninggalkan orang-orang itu, tapi saat mendengar apa yang mereka bicarakan, rasa penasaran muncul timbul begitu saja.

.

" – jadi Ino, maukah kau menikah denganku?" suara itu, yang dapat diprediksikan adalah milik seorang pemuda, tidak sengaja menulusup keluar dari sela pintu atap yang tidak tertutup rapat.

"Tapi kenapa secepat ini Sasuke? Aku rasa aku belum siap dengan semua ini. Kau tahu aku masih ingin menggapai cita-citaku." Suara lain menyahut, suara seorang perempuan yang mungkin bernama Ino itu.

"Ayahku sakit, dan keluarga menyuruhku segera menggantikannya. Tapi dengan syarat aku harus sudah menikah, dan kau tahu kan apa yang terjadi pada Itachi?" kata suara berat itu lagi, yang sekarang diketahui milik sang 'putra mahkota' Sasuke Chicken Uchiha.

"Ah, ya aku tahu itu. Tapi aku benar-benar tidak bisa, maaf Sasuke. Dan menurutku, sekarang lebih baik kita turun, sudah saatnya makan siang, ayo!" Suara Ino terdengar lagi.

.

"Oh, TIDAK BAGAIMANA INI! kalau aku ketahuan sudah menguping pembicaraan mereka, bagaimana ini, bagamana ini, bagaimana? Ah, pura-pura baru datang saja, ya begitu saja. Pura-pura tidak tahu – " gumaman Sakura terhenti seketika saat tiba-tiba ia merasa tangannya tanpa sengaja mendorong pintu yang tidak terkunci itu, dan karena tidak ada persiapan tubuh Sakura pun mendarat di lantai dengan anggunnya.

'OH GREAT!' rutuk Sakura dalam hatinya. Terlihat sepasang sepatu, yang berjalan mendekatinya. Kemudian sebuah suara dingin yang khas terdengar dari sang pemilik sepatu itu.

"Mau apa kau, Pinky?" tanyanya dengan penekanan pada kata Pinky.

'Apa yang harus aku lakukan? Heuh, satu-satunya cara adalah lari dari tempat ini, ya itu cara terbaik yang ada di otakku saat ini' batin Sakura yang masih dalam keadaan jatuh kepala menghadap ke bawah dan dengan keringat yang mulai keluar dari dahinya karena panik juga takut.

"Hei jawab aku!" suara itu terdengar lagi dan semakin menakutkan saja suaranya.

'1... 2... 3...' Sakura pun segera bangun dan dalam hitungan kurang dari dua detik dia langsung berlari sejauh mungkin dari ruangan itu tanpa pikir panjang. Sementara Ino dan Sasuke hanya bengong melihat Sakura yang lari seperti dikejar setan, Sasuke yang tadinya ingin mengejar pun sudah kehilangan jejak Sakura sejak dia sadar dari lamunannya.

'Dasar bocah itu, apa dia sudah mendengar semuanya? Hah bisa gawat ini' batin Sasuke mulai panik karena ada orang tak dikenal yang menguping pembicaraannya tadi. Tapi walau begitu sikapnya tetap stay cool seperti biasa walaupun batinnya sudah luar biasa panik karena imagenya sebagai lelaki yang didambakan oleh seluruh wanita di dunia jatuh.

~Skip time~

"Hai jidat! Darimana saja kau? Ebisu Sensei daritadi mencarimu dan tampaknya dia marah besar soal yang tadi pagi." Sontak suara Karin saat dilihatnya Sakura memasuki ruang kelas. Ia tidak menanggapi apa yang dikatakan sahabatnya itu, karena sekarang yang lebih ia takutkan adalah masalah sang chickbutt Uchiha itu.

"Oh iya Karin, aku sudah bertemu dengan Ebisu Sensei kok. Tenang saja aku tidak apa-apa, seperti biasa dia hanya memberi teguran dan nasehat 'bijak' yang sudah kudengar berulang kali." jawab Sakura dengan muka lesu sambil berjalan dan duduk di bangkunya.

"Kau kenapa sih jidat? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Karin yang heran dengan kelakuan sahabat yang tidak biasa itu.

"Tidak kok, tidak apa-apa. Jangan pikirkan aku pikirkan dirimu saja yah." Sakura yang tidak mau menyusahkan temannya, berusaha untuk menutupi insiden 'yang tidak diinginkan' tadi dari sahabatnya. Dia pun hanya tersenyum miris kepada sahabatnya itu.

Tapi yang namanya sahabat pasti mempunyai ikatan batin (apabangetcoba) anatara satu sama lain.

~Skip time~

Sepulang sekolah, Sakura yang biasanya makan bersama sahabatnya kali ini langsung pulang menuju rumah karena dia merasakan sesuatu pada dirinya entah kurang enak badan atau perasaan takut yang menghantuinya. Pokoknya hari ini dia mau langsung pulang.

Saat dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah tetangga lamanya. Dia pun memarkirkan sepedanya dan menghampiri wanita tersebut.

Di saat yang sama rombongan sang 'Putra Mahkota' melintasi jalan yang dilewati Sakura, dan saat lampu menyala merah rombongan itu pun berhenti. Dengan tak sengaja 'Putra Mahkota' A.K.A 'chickbutt' Uchiha itu melihat sekitar, dia melihat Sakura yang sedang mengobrol dan tanpa pikir panjang dia langsung menyuruh rombongannya untuk menepi dan menghampiri gadis itu.

Rombongan itu langsung berhenti di dekat Sakura berdiri, yang sukses membuat Sakura terheran-heran. 'Tumben sekali orang besar berhenti di pinggir jalan?' itulah yang ada di pikiran Sakura saat ini.

Dan seketika turunlah kira-kira 10 orang bodyguard berpakaian rapi dari mobil-mobil tersebut. Mereka segera memeriksa keadaan sekitar sebelum sang 'Putra Mahkota' turun dari mobilnya karena ini tempat umum.

Dan salah satu dari mereka menghampiri Sakura yang sedang melamun melihat rombongan itu, "Maaf nona, tuan muda ingin berbicara dengan anda." kalimat itu sontak membuat Sakura kaget. Setelah daerah itu diamankan oleh para bodyguard, turunlah seseorang dari salah satu mobil itu.

DEG Sakura langsung mengetahui siapa orang itu 'chickbutt!, mau apa dia ke sini? Pasti masalah tadi, matilah aku' batin Sakura.

Sakura dibawa ke pinggir sebuah gang di dekat situ, dan tanpa basa basi sang Uchiha segera membahas soal kejadian tadi. Sementara para bodyguardnya tetap stand by memperhatikan sekitar.

"Apa yang sudah kau dengar tadi?" suara dingin yang membuat Sakura gugup dan nervous berada di depannya. Dia tak tahu apa yang harus dia katakan, keringat dingin mulai membasahi keningnya.

"A-aku tidak mendengarnya dengan jelas, jadi aku lupa." jawab Sakura dengan sedikit gagap.

"Jawab dengan jujur!" suara yang dingin itu mulai mengubah rasa gugup Sakura menjadi rasa takut. Dia semakin bingung harus menjawab apa. Namun dia berusaha untuk memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya.

"Aku-" belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekat mereka dan dengan cepat Sasuke mengetahui kalau itu adalah paparazzi karena salah satunya membawa kamera.

Sasuke yang kaget langsung mendorong sakura dengan tangan kanannya untuk bersembunyi di balik gang itu, sementara para bodyguardnya langsung mengejar paparazzi tersebut dan otomatis paparazzi itu pun langsung kabur.

Karena merasa sudah tidak aman Sasuke langsung mengucapkan kalimat terakhir kepada Sakura. "Dengar, apapun yang kau dengar dan lihat hari ini lupakan semuanya, dan anggap kita tidak pernah berbicara satu sama lain. Mengerti?"

Sakura pun dengan cepat langsung mengangguk dan memberikan isyarat dengan mengangkat tangan kanan di samping telinganya membentuk huruv 'v' dengan jari tengah dan telunjuknya.

Setelah melihat reaksi dari Sakura, Sasuke langsung berjalan masuk ke dalam mobilnya . Dan dengan segera rombongan itu pergi meninggalkan Sakura. Namun sebelum rombongan itu pergi Sasuke sempat melirik ke arah Sakura dan memberikan deathglare khasnya. Dengan cepat Sakura tahu apa maksudnya 'jika dia coba-coba maka dia akan mati'.

Di rumah Sakura...

Seperti biasa, Rin yang baru saja pulng dari kantor langsung duduk dan menonton tv sementara Shei yang sampai saat ini masih menjadi pengangguran hanya bekerja di dapur. Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi pertanda bahwa ada tamu yang datang.

Shei pun berlari ke pintu utama dan langsung membukakannya. Terkejutlah dia saat dilihat ada beberapa orang yang menggunakan jas hitam rapi. Mereka datang menggunakan sebuah mobil merci hitam yang sangat mewah yang diparkir di depan pintu pagar. Salah satu dari mereka memberi hormat dan mengatakan bahwa mereka utusan langsung dari Kerajaan.

Mendengar kata kerajaan, tanpa pikir panjang Shei yang mata duitan langsung menyuruh mereka masuk. Rin yang sedang bersantai langsung kaget dan panik karena tamu yang baru saja datang langsung disuruh masuk oleh Shei.

Shei yang melihat reaksi istrinya langsung mendekati Rin dan membisikkannya bahwa mereka adalah utusan langsung dari Kerajaan. Rin yang mengerti maksud Shei, langsung tersenyum sangat manis dan pergi ke dapur membuatkan minum untuk para tamu.

Para utusan tersebut langsung menyampaikan tujuan dari kedatangan mereka. Mereka memberikan sebuah lembaran kepada Shei, yang ternyat berisi wasiat dari mendiang Raja Madara.

Rin yang baru saja datang dari dapur langsung meletakkan minuman di meja tamu. Sementara Shei yang baru saja selesai membaca lembaran itu matanya langsung membulat kaget sampai asma.yang dideritanya nyaris kambuh. Dia langsung minta ijin untuk berunding dulu dengan istrinya.

Dengan segera dia menarik tangan Rin dan membawanya ke dapur. Sementara Rin sempat kaget karena ditarik secara tiba-tiba.

"Ada apa sih? Kenapa kau menarik tanganku?" geram Rin yang kesal pada Shei.

"Heh, kau tahu apa maksud mereka ke sini?" tanya Shei dengan suara pelan di dekat telinga Rin, dengan sedikit berpikir Rin pun menggeleng tak tahu. "Ini, cepat baca surat ini. Ini adalah surat wasiat asli peninggalan mendiang Raja Madara." Shei pun langsung memberikan lembaran itu kepada Rin, dan dalam hitungan detik mata Rin membulat dengan sempurna.

"Kau tahu, ini adalah kesempatan emas bagi kita. Jangan disia-siakan!" Jelas Shei yang sudah stress saking gembiranya.

"Ya, kita tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Hah, beruntung sekali kita karena orang tuamu ternyata adalah teman dari mendiang Raja Madara." Jawab Rin sambil mengepalkan tangannya di depan dada. Dalam pikirannya, ia sudah memikirkan hal-hal yang akan terjadi jika memang kesempatan ini mereka terima.

"Sudah-sudah mimpinya nanti lagi, jangan lupakan tamu yang lagi nunggu tuh." Shei yang sedikit berteriak di telinga Rin akhirnya menyadarkan Rin dari mimpi indahnya. Mereka pun sepakat untuk menerima tawaran itu kemudian pergi ke ruang tamu.

Dengan kompak mereka menjawab, "Ya kami setuju." sementara para utusan itu kelihatannya senang dengan jawaban mereka dan mereka saling pandang satu sama lain. Kemudian salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah barang berbentuk seperti wadah cincin berwarna biru tua dari dalam tas.

"Ini adalah hadiah lamaran dari kerajaan untuk calon Putri Mahkota. Silahkan diterima dan semoga kalian suka." Baru saja mereka meletakkannya di meja, dalam hitungan kurang dari sedetik kotak itu telah hilang dari meja karena dengan sigap diambil dan diperiksa oleh Shei dan Rin.

Dengan segera Shei dan Rin membuka kotak itu dengan sedikit adu mulut, tapi tetap hati-hati. Saat dilihat ternyata di dalamnya adalah sebuah cincin emas yang sangat berkilau dan pastinya mahal luar biasa. Saat mereka sadar diperhatikan oleh para utusan itu dengan tampang aneh mereka langsung menutup kotak itu kembali.

Setelah itu para utusan itu pamit kembali ke Istana, dan sebelum keluar dari rumah keluarga Haruno itu mereka berpesan bahwa calon Putri Mahkota akan dijemput untuk pergi ke Istana 2 hari lagi karena keluarga kerajaan ingin bertemu.

Para utusan itu akhirnya pergi meninggalkan rumah keluarga Haruno. Sementara Shei dan Rin berpesta pora di dalam rumah sambil memuji-muji cincin emas yang diberikan oleh Kerajaan tadi.

Tak lama kemudian Sakura pun datang dengan tampang sangat lesu dan lebih lesu dibanding setelah dia lari 5 putaran di sekolahnya waktu dulu.

Baru saja Sakura menginjakan kaki di ambang pintu, tiba-tiba Shei dan Rinmemeluk Sakura dengan sangat kuat sampai Sakura sulit bernapas sambil meneriakkan "Selamat Sakura, kau beruntung, kau beruntung, kau beruntung." berulang kali. Mereka lalu melepaskan pelukkan mereka dan terus berteriak bahagia.

Sakura yang tidak begitu memikirkan orang tuanya segera duduk di sofanya, dan akhirnya menyempatkan untuk bertanya kepada orang tuanya. "Memangnya ada apa sih? Heboh banget." tanya Saura dengan tampang lesu.

"Lihat Sakura! Lihat ini Sakura!" Ayah Sakura menyodorkan cincin emas itu ke depan wajah Sakura lebih tepatnya diantara kedua matanya, sehingga Sakura sampai matanya juling melihat cincin itu.

"Selamat Sakura kau akan menikah dan... KITA AKAN KAYA." Jawab kedua orang tuanya serentak sambil mengangkat kedua tangan mereka ke atas. Sementara Sakura masih sedikit tidak connect dengan kata-kata orang tuanya. Namun setelah satu menit penuh Sakura berpikir sebuah pemahaman menjalari otaknya. Secepat kilat ia melompat bangun dari sofa yang ia duduki, matanya membulat sempurna .

"APA? MENIKAH?"

TBC

Yaay, akhirnya chapter dua selesai kami buat (ngelap keringet ala pemain bulu tangkis). Maaf ya baru update sekarang, karena Lathief dan Rissa sedang banyak tugas akhir-akhir ini. Dan sepertinya kami tidak akan bisa Update kilat, paling cepat mungkin 2 minggu sekali.

Dan juga maaf kalo masih banyak kesalahan (yang memang jelas pasti ada) dan maaf kalo ceritanya garing, membosankan, dan sangat mengecewakan anda semua.

Balas yang riview dulu deh..

Just Ana: ya, anda tepat sekali!

Namikaze Sakura: ya Sasuke itu putra mahkota :D

Amai aru: insya allah ya, kalo bisa soalnya bikin ini saja sudah repot HEHE. Anda tau sendiri kan bagaimana dahsyatnya bu Ida dalam memberikan PR! Dan kalau lulus atau enggaknya Sakura, liat aja di chapter- chapter depan, tingtingting.

Meiko Namikaze: hmmm..tenang, Naruto gak jadi lee-yul kok! HEHE

Breakbullet: terserah mau panggil apa, rissa atau lathief, apa aja boleh kok. HEHE XD emmm, iya emang Indo itu tukang contek sejati..

Icha yukina clyne: kami bukan senpai kok, kami masih baru di sini! Panggilnya rissa atau lathief aja ya :D sebenernya di sini Karin bukan pemuja Sasuke, hanya sedikit suka saja. Dan untuk siapa yang lebih dulu jatuh cinta, lihat saja di chapter-chapter depan XD

Dan terima kasih juga kepada: matsumoto rika, Cha-Nichi Kudo Oktora, Hanachi Mya-chan, staacha, 4ntk4-ch4n, Via-princezz, halspen1-24 dan juga silent readers (review dong, hehe)..

Semuanya, ini chapter duanya! :D dan jangan lupa untuk para readers agar...

REVIEW!