Oke, ini dia chepter tiga dataaaang, maaf kalau ternyata isinya masih gaje dan mengecewakan anda semua, wahai para readers. Maaf kalo kami disini ternyata kami terlalu lebay dan membuat kalian semua EWA. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, jadi kalau kurang suka, benci, muak, dan sejenisnya silahkan klik close tab/ back/ disconnect saja internet anda ^.^v hehe

Dan kami juga minta dukungan kalian, dan tidak lupa riview yang membangun :D

Enjoy the story XD


The Days of the Princess

.

Disclaimer tokoh : Masashi Kishimoto

Disclaimer cerita : UCHIHA

WARNING!: gaje, AU, aneh, OOC, OC, dll.

Rate : T

Pairing: Sasuke X Sakura

~New Student~
.
.

Sakura yang sangat syok sekaligus tidak percaya bahwa ia akan dinikahkan dengan orang yang belum dia kenal. Apalagi mengingat dengan umurnya yang masih 17 tahun, tentu saja umur yang tidak lazim untuk menikah.

Selama semalam suntuk Sakura tidak bisa tidur, ia terus memikirkan tentang masa depannya yang suram. Hidup bersama lelaki yang tidak dicintainya. Hidup di istana yang walaupun mewah dan luas, namun kalau sendiri terasa sempit dan menyiksa.

'Bisa-bisa aku stress kemudian depresi kemudian gila kemudian berencana untuk bunuh diri, ya ampun hidupku ini suram sekali' batin Sakura yang terus mengucap kalimat itu.


Flashback...

"APA? AKU AKAN MENIKAH?" Teriak Sakura di depan muka orang tuanya. Sementara itu Shei dan Rin masih loncat-loncatan ga jelas.

"Iya Sakura, kami tidak bercanda. Hahahaha.. Kita akan kaya." Jawab Rin yang masih juga loncat-loncatan.

Sementara Sakura yang sudah habis batas kesabarannya melihat kelakuan orang tuanya yang seperti anak kecil langsung menarik tangan mereka dan melemparnya ke sofa di dekatnya. Sakura yang sekarang wajahnya sudah seperti evil akhirnya berhasil membuat orang tuanya takut dan diam, terduduk manis di sofa itu.

"Sekarang jawab aku dengan serius, siapa yang punya rencana bodoh itu dan dengan siapa aku akan dijodohkan?" Sakura memandang tajam kedua orangtuanya, dan meletakan kedua tangannya di pinggangnya. Wajahnya terlihat sangat aneh, banyak sekali ekspresi yang ia perlihatkan. Kaget, marah, panik, dan serius bercampur menjadi satu.

Melihat ekspresi Sakura yang seperti itu, sontak kedua orangtunya merapihkan duduk mereka dan ekspresi senang menerka digantikan dengan ekspresi serius dan bijaksana.

"Maafkan kami Sakura, tadi ada utusan kerajaan yang datang ke sini untuk menyampaikan wasiat yang ditulis langsung oleh Mendiang Raja Madara. Dalam surat tersebut beliau mengatakan bahwa ia ingin sekali keturunannya menikah dengan salah satu keturunan keluarga Haruno, keluarga kita. Jadi kaulah yang dipilih, kami mohon Sakura kau harus menerimanya!" Jelas Shei dengan panjang lebar sambil menunduk takut pada anaknya sendiri (?). Apa- apaan itu aneh sekali, mengapa jadi orangtua yang takut pada anaknya. Ternyata dunia memang sudah gila, ckckck.

"Lalu aku akan dinikahkan dengan siapa? Dan kenapa harus secepat ini?" Tanya Sakura yang dari tadi masih 'panas'.

"Kau akan dinikahkan dengan Putra Mahkota kerajaan, mereka bilang harus secepatnya karena Raja harus segera digantikan. Kabarnya Raja sudah sakit-sakitan." Jawab Rin yang mulai berani mengangkat wajahnya.

"Jadi ini karena wasiat?" Tanya Sakura, sekarang amarahnya sudah mulai mereda, perlahan ia sambil menurunkan kedua tangannya dan duduk di sofa di depan kedua orangtuanya.

"Iya, masa kau mau melanggar wasiat seseorang? Itu kan tidak baik Sakura. Lagi pula apa ruginya kau menikah dengan anggota kerajaan?" Jelas Shei sambil memainkan jarinya.

"TAPI BAGAIMANA DENGAN MASA DEPANKU NANTI HAH? Dasar, akan kupikir-pikir dulu. Lalu kapan pernikahan itu akan dilaksanakan?" Sakura semakin pusing dan bingung, sesekali ia mengacak-acak rambutnya menandakan otaknya sedang berfikir keras.

"Hm, mereka bilang... kalau tidak salah... dua hari lagi kau akan dijemput untuk pergi ke istana karena keluarga kerajaan ingin bertemu denganmu." Jawab Rin sambil mengingat-ingat omongan dari para utusan tadi. Maklum saja Rin itu memang sudah sedikit pikun.

"APA DUA HARI LAGI? Oh, great! Matilah aku." Seru Sakura, ia sangat kaget. Ia merasakan badannya menjadi lemas, reflek ia bersender pada sofa. 'Apa-apaan itu, kenapa cepat sekali.' Batin Sakura.

Rin dan Shei segera menghampiri Sakura kemudian menepuk-nepuk pundaknya. "Tenangkan dirimu Sakura." Rin dan Shei terus mengucapkan kalimat itu, sementara Sakura hanya diam saja. Matanya sudah tidak fokus, tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. Tapi dapat di tebak bahwa pikirannya itu tidak akan jauh dari kata istana, perjodohan, dan masa depan suram.

Setelah kurang lebih 10 menit, Sakura mulai beranjak dari sofa menuju kamarnya. Pandangannya masih tetap kosong, bahkan ia sampai tidak menyadari bahwa ia sedang menyeret tasnya dengan kejam. Sedangkan kedua orangtua Sakura hanya bisa memandanginya dengan prihatin, tapi walau begitu tetap ada ekspresi senang yang tersembunyi di hati mereka.

End of Flashback..


Dengan malas- malasan Sakura segera bersiap untuk sekolah. Setelah itu, tanpa banyak bicara ia segera mengambil sepedanya dan berangkat sekolah. Sekali lagi, tanpa sarapan sedikit pun seperti kemarin.

Sepanjang perjalanan ia tidak henti-hentinya memikirkan masa depannya yang kemungkinan besar akan suram. Lalu tanpa di komando, otaknya memutar kilasan episode-episode film tentang menantu yang di siksa mertuanya.

Karena terlalu asik melamun, sampai- sampai ia ditegur karena hampir menabrak kucing yang sedang tidur di pinggir jalan. Bahkan dia nyaris salah jalan.

.

.

Sesampainya di sekolah, dengan muka lesu dia melangkahkan kakinya memasuki sekolah. Bertepatan dengan langkah pertama Sakura memasuki lobby bel masuk berbunyi, nyaris sekali dia telat. Ia sama sekali tak menghiraukan teman-temannya yang sibuk berlarian masuk ke dalam kelas, dengan santai ia berjalan menuju kelasnya dengan tampang madesu.

Saat memasuki kelas, ia melihat para sahabatnya sudah duduk manis di kursi masing-masing sambil mengobrol seperti biasa. Dengan perlahan ia kembali berjalan menuju bangkunya. Dan selama itu pula Sakura merasakan sesuatu yang aneh.

Jika diperhatikan dan didengarkan baik-baik, rasanya sedari tadi semua kerumunan murid yang ia lewati selalu membicarakan satu hal yang sama, cuma Sakura tidak mengerti apa maksud mereka.

"Hai Jidat wajahmu kenapa kenapa? Lemes banget?" Tanya Karin.

"Entahlah, lupakan saja." Jawab Sakura, ia sedang malas bercerita saat ini.

Lalu tanpa menghiraukan tatapan menyelidik teman-temannya, ia segera duduk di kursinya melipat kedua tangan di atas meja dan menelungkupkan kepalanya di sana. Tidur.

"Dasar jidat. Eh katanya mau ada murid baru di kelas kita loh, laki-laki. Dari luar negeri dan juga katanya dia merupakan kerabat kerajaan. Wah senangnya..." Jelas Karin dengan penekanan pada kata 'laki-laki' dan tampaknya dia nge-fly.

"APA? KERAJAAN?" seru Sakura kaget dan bangun dari tidurnya. Ia masih sensitif dengan kata 'kerajaan'. Serentak teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan aneh, tentu saja karena suara Sakura yang keras tanpa harus pake toak menggema di kelas.

"Memangnya ada apa dengan kerajaan? Kau baik-baik saja kan jidat?" Karin yang juga ikut kaget mendengar teriakan Sakura yang volumenya abnormal itu. Apalagi posisinya yang duduk di sebelah Sakura, membuatnya mendapat efek lebih besar dari pada teman-temannya. Bahkan telinganya masih berdenging sampai sekarang.

"A-ah, tidak apa-apa kok. Maafkan aku ya semua, hehe. Silahkan kembali melanjutkan aktifitas masing- masing, abaikan saja yang tadi itu." jawab Sakura sambil membentuk tanda 'v' dengan jari tengah dan telunjuknya, lalu tersenyum salting. Ia baru sadar bahwa sejak tadi ia diperhatikan karena teriakannya yang bervolume abnormal itu.

"Kau ini aneh ya jidat, lebih baik kau lanjutkan kembali acara tidurmu tadi sebelum kau berbuat lebih aneh lagi." Kata Karin yang kemudian hanya Sakura tanggapi dengan anggukan dan senyum malas.

Baru saja Sakura menelungkupkan kepalanya, datang Kakashi Sensei yang diikuti oleh seorang anak laki-laki yang bisa dibilang cukup tampan dan cool, ia berpakaian seragam sekolah MAIS.

Serentak anak-anak di dalam kelas ribut karena terkagum-kagum oleh laki-laki itu. Sementara Sakura yang masih mengantuk sedang berusaha membuka matanya dan menyerap apa yang dilihatnya.

"Ya baiklah, sepertinya kalian sudah mengetahui tentang murid baru kan? Langsung saja perkenalkan dirimu!" jelas Kakashi Sensei sambil menenangkan murid-murid terutama murid wanita.

"Terima kasih, Kakashi Sensei. Baiklah namaku Gaara, mohon kerja samanya yah!" Gaara yang memperkenalkan dirinya sambil memperlihatkan senyum terbaiknya berhasil membuat para murid wanita langsung meltingatau nosebleed. Sementara yang ada di pikiran Sakura hanya sebuah kalimat, 'tau ah, yang penting sekarang aku ngantuk! Siapa dia, itu tidak penting'.

"Nah, kalau begitu sekarang kita mulai saja pelajarannya, Gaara kau bisa duduk di belakang Karin." Lanjut Kakashi yang sudah mulai pusing sambil menunjuk bangku kosong yang ada di belakang Karin, mendengar hal itu sontak murid wanita yang berada di dekat bangku itu langsung bersorak-sorai.

Gaara berjalan menuju tempat duduknya sambil menampilkan sebuah senyuman yang baginya adalah senyuman biasa. Tapi yah, namanya orang cakep senyum seperti apapun tetap akan membuat wanita langsung melting.

Selama pelajaran berlangsung, Gaara selalu diajak ngobrol atau lebih tepatnya digoda oleh para murid wanita yang menel alias genit. Sementara itu, Gaara yang sudah jenuh dengan pertanyaan dari gadis-gadis centil itu hanya bisa menghela nafas sambil sesekali memperhatikan murid lainnya (selain gadis-gadis genit itu pastinya), dan tidak sengaja pandangannya jatuh pada seorang gadis berambut pink yang sedang memperhatikan gurunya dengan setengah mengantuk.

'Gadis yang aneh, hanya dia saja yang tidak menghiraukan kehadiranku. Bahkan, melirikpun tidak. Menarik, sangat menarik.' Batin Gaara, dan secara tak sengaja kedua sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyum aneh. Senyum yang berbeda dari yang sebelumnya.

.

.

Bel istirahat yang sangat ditunggu-tunggu para murid pun akhirnya berbunyi. Mendengar itu Sakura segera bengkit dari kursinya dan berjalan keluar kelas. Tujuannya hanya satu, atap sekolah.

Sementara itu Gaara masih disibukan dengan gadis-gadis genit yang sedari tadi tidak pernah bosan mewawancaranya. Tapi akhirnya dengan sedikit kecerdikannya, ia berhasil melepaskan diri dari para fans barunya itu.

Saat Gaara bekeliling untuk melihat-lihat sekolah barunya itu, dia tak sengaja mendengar suara piano dari ruang theater. Karena penasaran dia pun membuka pintu ruangan tersebut, dan disana terlihat seorang pemuda duduk di depan sebuah piano.

Posisinya yang membelakangi pintu membuat Gaara tak dapat melihat wajahnya, tapi jika dilihat dari model rambutnya yang menyerupai pantat ayam, Gaara tak mungkin salah mengenalinya. Dengan segera ia menghampiri pemuda tersebut.

"Hei, sudah lama kita tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu,?" Sapa Gaara pada pemuda itu.

Sapaannya ternyata cukup mengagetkan si pemuda tersebut, membuatnya menghentikan permainan pianonya, dengan perlahan pemuda itu menolehkan kepalanya. Dan ternyata pemuda itu adalah Uchiha Sasuke, sang putra mahkota.

"Ternyata benar kabar dari orang-orang, kapan kau pulang hah?" Tanya Sasuke pada sepupunya yang sudah 9 tahun tidak bertemu sambil berjalan menuju Gaara dan menepuk pundaknya.

"Baru kemarin, tapi ibuku baru akan pulang besok." Jawab Gaara sambil duduk di salah satu kursi theater yang diikuti oleh Sasuke yang duduk di sebelahnya.

"Kenapa kau tidak bilang, padahal aku bisa menjemputmu di Bandara. Pokoknya kau harus datang ke istana, pasti nenek pasti sangat rindu padamu." Sambung Sasuke yang sangat senang bertemu dengan sepupunya.

"Baiklah nanti aku akan berkunjung." Jelas Gaara sambil tertawa kecil. Selayaknya sahabat yang sudak terpisahkan selama bertahun-tahun, mereka asik mengobrol tentang berbagai hal sampai bel masuk berbunyi.


Flashback

Gaara merupakan anak dari Putra pertama Mendiang Raja Madara, sementara Sasuke adalah anak dari Putra kedua Mendiang Raja Madara.

Sebenarnya menurut silsilah dan hukum kerajaan, ayah Gaara lah yang seharusnyamenjadi Raja karena dia adalah Putra pertama, sementara Gaara menjadi putra Mahkota yang akan menjadi Raja selanjutnya setelah ayahnya.

Namun karena suatu penyakit yang diderita oleh ayah Gaara, akhirnya dia pun meninggal.Dan keluarga kerajaan sepakat bahwa yang akan menggantikan kedudukannya adalahPutra kedua, Uchiha Fugaku dan otomatis posisi Putra Mahkota pun berpindah ke tangan Sasuke yang saat itu masih berumur 7 tahun.

Sementara Ratu yang tak lain adalah ibu dari Gaara tidak terima dengan keputusan itu, dan berniat melakukan pemberontakan.

Karena keluarga kerajaan tidak ingin ambil risiko, akhirnya mereka sepakat untuk mengasingkan Gaara dan ibunya ke Amerika.

End of Flashback


Sepulang sekolah Gaara dan Sasuke naik mobil bersama karena Sasuke mau mengajak, atau lebih tepatnya memaksa Gaara berkunjung ke istana. Kejadian itu sukses membuat hampir seluruh siswa memperhatikannya, karena mereka terlihat sangat akrab sekali.

Tak terkecuali Sakura yang juga heran kenapa Gaara yang baru saja masuk di hari pertamanya sudah bisa naik mobil bersama Sasuke, apalagi terlihat sekali mereka seperti sudah berteman lama. Sementara sahabat Sakura bahkan tidak terpengaruh sama sekali, tampaknya mereka sudah dapat informasi banyak tentang Gaara, terutama tentang hubungan Gaara dan Sasuke sebagai seorang sepupu. Entah dapat darimana mereka info itu.

"Hai Sakura, kenapa kau bengong disini. Ah, aku tahu! Pasti karena keakraban Gaara dan Sasuke kan? Kami sudah tahu jawabannya, kau mau tahu tidak?" Teriak Hinata senang, dan berhasil menyadarkan Sakura yang sedari tadi melamun memikirkan Gaara dan Sasuke.

"Apa? Kalian sudah mendapatkan info tentang Gaara? Darimana kalian dapat semua itu?" Tanya Sakura yang heran juga kagum pada sahabat-sahabatnya itu. Dengan segera Hinata dan Sakura berlari ke arah Karin dan Tenten yang sedang membuka laptop atau lebih tepatnya membaca profil Gaara.

"Hai Sakura lihat ini, ternyata Sasuke dan Gaara itu sepupu. Wah ternyata orang tampan itu memang tidak akan jauh-jauh keturunannya. Buktinya Gaara dan Sasuke adalah sepupu." Jelas Karin yang sangat senang sekali karena ia telah mendapatkan info tentang Gaara. Sementara Sakura dan Tenten asik membaca profil Gaara yang ada di laptop Karin.

"Meleka memang milip sih dali sifatnya. Sama-sama coooooooolll..." Tambah Tenten seperti biasa dengan logat Cina khasnya.

"Dan tampan..." Sambung Ino.

"Dan baik." Sambung Hinata.

"Ya kalian memang benar, tapi tidak sepenuhnya. Dilihat dari manapun juga, Sasuke tidak mungkin bisa di sebut baik dengan sifat sombong dan semena-menanya itu kan?" Seru sakura sambil melipat kedua tangannya dan mengangkat sebelah alisnya.

"Heh, jangan pernah kau ejek Sasuke lagi ya. Dia itu bukan sombong, dasar sok tau." Karin yang mendengar Sakura mengejek Sasuke langsung memberikan deathglare pada Sakura.

"Hah, terserah apa kata kalian. Aku mau pulang, aku sudah pusing. Hanya saja aku mau mengatakan sesuatu pada kalian..." kata Sakura datar.

"Apa?" kata mereka kompak.

"...Pertama untukmu Hinata, kenapa kau malah memuji pemuda lain? Apa kau sudah tidak suka dengan Naruto? Lalu kau Tenten, apa menurutmu Sasuke dan Gaara lebih keren jika di bandingkan dengan Neji-senpai mu itu? Dan yang terakhir kau Karin, bagaimana dengan si Suigetsu-sahabat kecil mu- itu? Menurutku dia bahkan lebih baik dibandingkan Sasuke."

" – " tidak ada yang menjawab Sakura, tampaknya kata-kata Sakura barusan sukses membuat otak mereka berpikir keras.

"Nah, tampaknya tidak ada satu pun dari kalian yang berniat menjawabku. Jadi lebih baik aku pulang, sampai bertemu besok." Kata Sakura sambil membawa sepedanya menuju gerbang sekolah.

Saat di tengah perjalanan, Sakura teringat kembali dengan pernikahannya itu dan jika dihitung-hitung hari dimana dia akan diperkenalkan ke istana adalah besok. Dia pun semakin tegang dan frustasi. Tapi dia juga tidak mau melanggar wasiat seseorang apalagi wasiat Raja dan juga tidak mau mengecewakan orang tuanya.

Sesampainya di rumah, Sakura langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan diri di kasurnya. Shei dan Rin tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan anak perempuannya yang seperti kehilangan semangat untuk hidup.

'Besok adalah harinya, apakah aku sudah siap untuk ini? Haah sepertinya siap tidak siap besok aku akan tetap dibawa ke istana dan dipertemukan dengan calon mertuaku. Kenapa hidupku seperti ini?' batin Sakura.

Sakura semakin pusing memikirkannya. Tapi malam ini dia mencoba untuk tidur dan sejenak melupakan beban pikirannya.

.

.

Keesokkan harinya, setelah bangun dari tidurnya Sakura bergegas mandi. Sementara Shei dan Rin sudah menyiapkan sarapan untuk Sakura dan adiknya yang berumur 13 tahun Konohamaru atau yang biasa dipanggil oleh Sakura, Maru.

Setelah selesai sarapan, Rin segera mendandani Sakura yang sudah memakai pakaian yang baru saja dibeli oleh Rin kemarin, sementara Shei dan Maru terus menasehati Sakura.

"Sakura pokoknya bersikaplah yang baik pada Raja dan Ratu, jangan bertingkah ceroboh." Shei terus memberitahu Sakura tentang hal itu, karena baginya jika Sakura bersikap ceroboh maka akan membatalkan pernikahan ini.

"Iya kak, jangan loncat-loncatan di istana nanti yah." Maru ikut menasehati Sakura yang sepertinya nasehatnya sedikit aneh dan ditanggapi Sakura dengan wajah bingung.

"Yaelah siapa yang mau loncat-loncatan di istana Maru? Memangnya kakak separah apa sih." Jawab Sakura yang rambutnya sedang dikepang satu di bawah.

"Hahaha, habisnya kakak itu kan suka norak gitu, jadi takut loncat-loncatan." Jelas Maru dengan tampang polos sementara Rin dan Shei memperhatikan Maru yang sedang menjelaskan sambil tertawa kecil.

"Ya sudah, terserah apa maumu. Ngomong-ngomong kapan mereka akan da - " belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya terdengar suara bel. Dalam beberapa detik mereka berempat menghentikan aktivitasnya masing-masing dan saling bertatap muka.

"Ayah coba buka siapa yang datang!" Suruh Rin yang masih memegangi rambut Sakura. Shei langsung menuruti perintah istrinya dan berjalan perlahan menuju pintu rumah arah dari bel itu.

Saat pintu itu dibuka, Shei melihat dua orang berpakaian jas sangat rapi berdiri di depan pintunya. Shei juga melihat sebuah mobil limo diparkir di depan gerbang rumahnya. Dan dengan cepat dia menyadari kalau mereka utusan dari istana yang akan menjemput Sakura.

"A-ap-pa kali-lian dari is-istana?" Tanya Shei dengan tergagap-gagap kepada dua orang yang berdiri di depannya.

"Iya tuan, kami utusan dari istana ingin menjemput nona Sakura untuk pergi ke istana. Apakah nona Sakura sudah siap?" Jelas salah satu dari mereka kepada Shei.

"Tunggu sebentar ya, akan ku panggilkan Sakura." Shei yang masih sedikit kaget berjalan ke arah Sakura, Rin, dan Maru yang sedang bengong melihat Shei. Mereka bertiga pun langsung merapat ke arah Shei karena penasaran.

"Mereka sudah datang untuk menjemputmu Sakura." Bisik Shei pada meeka bertiga sementara yang mendengar kaget dan sempat diam. Beberapa detik kemudian Sakura bangun dari duduknya, sementara Rin, Shei dan Maru hanya memperhatikannya dalam diam.

.

.

"Baiklah, aku siap."

***To Be Continue****

Ya ampun, akhirnya jadi juga chapter ini. Maaf kalo ternyata jadi makin aneh. dan terlalu pendek dan gak nyambung ceritanya atau alurnya terlalu lambat.

Apakah kehadiran Gaara terlalu lebay di sini? Di sini memang fokusnya pada Gaara dan mungkin ada beberapa yang Sakura (karena Sakura kan tokoh utamanya). Tidak ada Sasusaku di sini, tapi di chap depan mungkin akan banyak Sasusaku nya, hehe.

Jangan lupa review yah! Kan demi cerita selanjutnya, biar lebih bagus daripada yang sebelumnya.. Makasih juga buat silent readers..

Oh iya, ini balesan review yang chapter 2..

Halspen1-24: makacih.. keep reading juga yah... :)

Ss: Maaf yah kalo ga bisa kilat-kilat banget.. hehe

Rizu Hatake-hime: Iya emang, kasian kan Karin jadi jahat terus.. Gantian dong, lagi pula Ino aslinya emang rival Sakura kan..Terus usulannya maaf yah, yang jadi Yul bukan Neji atau Sasori, soalnya kami lebih suka Gaara.. hehehe, tapi keep reading yah

Misa UchiHatake: makasih udah di like..

Susu basi: Iya deh kalo menurut kamu cerita ini basi, kami bikin cerita ini buat yang suka aja.. Cerita ini cerita bagi yang mau bernostalgia sama Princess Hours..Kalo ga suka ya ga usah dibaca..

Nakamura Kumiko-chan: OK bos! :P

Hikari Shinju: Hmm, gampang nanti diatur biar Sasu yang suka duluan deh.. Tapi emang udah niat gitu sih.. Hehehe!

Icha yukina clyne: Iya deh ga papa manggil senpai juga, cuma kami ga enak aja.. Sasu emang beneran kok suka ama Inonya.. tapi tenang semua akan berubah kok..

Meiko Namikaze: Kami sih silahkan aja, kan semua punya haknya masing-masing.. Kok kamu bisa baca pikiran kami sih? Emang Yul-nya Gaara.. Dan makasih yah udah di fave..

Haruna: Maaf yah ga bisa cepet, soalnya kami juga punya tanggungan PR sekolah neh.. Hehehe, jadi paling cepet mungkin 2 minggu sekali.. Ga papa yah..

Masumoto Rika: Makasih ya..

Namikaze Sakura: Kamu memang hebat dalam membaca pikiran orang, emang kami juga niatnya Gaara yang jadi Yul.. Dia itu emang pas sih.. Hahaha

7color: Hahaha, makasih dibilang cute (BLETAAKK *ditampol 7color)... Yang cute itu Sakura..

4ntk4-ch4n: Iya sabar yah.. Kami juga ga bisa cepet-cepet nih..Banyak tugas, apalagi mate pasti atau bisa dibilang wajib ada PR..

Just Ana: Hmm, kita liat aja nanti..Maaf yah yang jadi ibu suri nanti bukan Tsunade, soalnya mukanya terlalu sereeemmm.. Hehehe..

gevirg: Makasih..:)

Akera Raikatuji: Wah suka PH juga yah.. Iya deh, fict ini bisa jadi pengganti yang waktu itu nontonnya ga lengkap, tapi padahal belum lama sempet diputer lagi di B channel..

Takeuchi Amai: Iya RETWEET buat anda, benar-benar bejibun.. Apalagi dari Bu Ida.. Hahaha..

Kristal: Segera..

Makasih ya buat semua..

REVIEW

l
l
l
v