Halooo para readers yang setia... Gomen telat update (*digebukin readers) soalnya kemaren lagi ulangan jadi semua disita sementara.. Hehehehehe..
Ya udah ga usah banyak bacot lagi, Happy Reading!
Sakura POV
Saat ini, aku berada di dalam sebuah mobil limo yang bisa dibilang sangat mewah. Perasaanku sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.
Takut? Tidak juga sebenarnya karena apa yang harus ditakutkan.
Gugup? Pastinya tanpa harus dijelaskan lagi, sampai-sampai tanganku ini terus bergetar tak bisa kuhentikan.
Penasaran? Ya selain takut dan gugup aku juga penasaran dengan suasana istana yang bisa dibilang puluhan bahkan ratusan kali lebih luas dibanding rumahku yang sempit dan kecil, juga tentang si pangeran yang 'katanya' akan dinikahkan denganku. Siapakah gerangan?
End of Sakura POV
The days of the Princess
Disclaimer tokoh: Masashi Kishimoto
Disclaimer cerita: UCHIHA
WARNING!: gaje, AU, aneh, OOC, OC, dll.
Rate : T
Pairing: Sasuke X Sakura
~Why must he?~
Setelah Sakura duduk di dalam mobil mewah itu selama kurang lebih 20 menit, akhirnya ia sampai juga di istana.
Melihat halamannya yang luas saja, membuat perut Sakura mulas dan kegugupannya bertambah. Tapi walau begitu, ia tak bisa mengusir rasa penasarannya. Apakah akan lebih menakjubkan dari ini, atau malah membosankan. Oh semoga yang benar yang pertama.
Baru saja Sakura turun dari mobil itu, dia sudah disambut oleh puluhan pelayan yang berbaju sama atau bisa dibilang seragam yang rapi. Mereka sangat ramah pada Sakura, kemudian salah satu dari mereka menghampiri Sakura.
"Selamat datang nona Haruno, saya Temari yang akan menjadi pelayan pribadi sekaligus penanggung jawab anda selama di istana nanti. Mohon kerja samanya," salam dan sapaan yang dilontarkan pelayan itu membuat Sakura melamun dan bisa dibilang sedikit tersanjung.
Segera setelah itu Sakura diantarkan ke ruang tamu istana. Selama perjalanan menuju ruang tamu ia terus terkagum-kagum pada arsitektur dan seni dari bangunan istana yang tradisional namun masih terlihat indah di mata dunia.
Akhirnya setelah berjalan kira-kira 5 menit, Sakura dan rombongannya sampai di ruang tamu yang luas dan tampaknya dua kali lebih besar dari rumah Sakura. Ia segera dipersilahkan untuk duduk di salah satu kursi dan diharap untuk menunggu sebentar.
.
.
Saat-saat menunggu itu tidak disia-siakan oleh Sakura, ia dengan semangat dan penasaran yang memuncak mulai berjalan mengelilingi ruangan, menelitinya dengan seksama. Sesekali dengan polosnya ia menyentuh barang-barang antik nan mahal itu, membuat benda-benda itu sedikit bergeser dari posisi semula, bahkan sampai nyaris jatuh. Membuat para pelayan pribadinya mengernyit setiap beberapa menit.
'Heeeuh kapan aku punya rumah sebesar dan semewah ini? Walaupun aku bekerja 24 jam dan hidup selama 100 tahun tetap saja tidak bakal tercapai impianku ini,' batin Sakura.
Setelah cukup puas dengan rekreasi berkelilingnya, ia pun duduk kembali dengan wajah yang masih cengo melihat lampu besar yang berada di tengah ruangan itu. Karena ia tidak melihat cangkir yang berada di atas meja, saat ia ingin duduk gelas itu terdorong oleh tangannya dan dalam hitungan kurang dari 1 detik rok putih Sakura sudah basah oleh air teh yang tumpah.
"HAH?... Matilah aku," rutuk Sakura pada dirinya sendiri.
Walaupun hanya sedikit bercak coklat, namun tetap akan kelihatan dalam jarak 4 meter karena warna roknya putih. Dengan segera ia berusaha sebisa mungkin menghilangkan noda itu. Dan sesekali menyesali pilihan ibunya, kenapa harus rok putih, akan terlihat sekali kan kalau terkena noda sedikitpun.
Dan tidak lama kemudian terdengar suara pelayan yang berada di balik tembok memberitahu Sakura bahwa Ibu suri, Ratu dan Pangeran telah datang. Dan berita itu, bahkan lebih buruk dari mimpi buruk bagi Sakura. Roknya masih berbercak coklat, dengan panik dia langsung merapikan roknya kembali dan menutupi noda itu dengan kedua tangannya.
Sakura segera bangun dari kursinya dan menunduk hormat kepada Ibu suri, Ratu dan Pangeran yang baru saja datang. Mereka bertiga pun duduk di kursi yang telah disediakan, sementara Sakura kembali duduk di kursinya.
Meja ruang itu berbentuk persegi empat, Sakura duduk di sebelah Barat, Ibu suri duduk di sebelah Utara, Pangeran duduk di sebelah Timur dan Ratu duduk di sebelah Selatan, jadi pangeran duduk berhadapan dengan Sakura.
Karena terlalu grogi, Sakura sama sekali tak berani mendongakan kepalanya. Membuatnya tak bisa melihat wajah sang pangeran, padahal itu merupakan sesuatu yang berpengaruh besar terhadap rasa penasarannya terhadap perjodohan ini.
Tapi tampaknya perilaku Sakura tersebut membuat sang Ibu Suri sangat heran. Terlebih lagi, tampaknya wajah Sakura tertutup poninya, jadi mereka tak dapat melihatnya dengan jelas.
"Hei, kenapa kau menunduk seperti itu, kami tak dapat melihat wajahmu. Tidak usah sungkan pada kami, kau juga sebentar lagi menjadi bagian dari keluarga kami. Ayo, angkat kepalamu," kata Ibu Suri sambil tersenyum. Sungguh tampak sangat bijaksana.
Dengan ragu-ragu Sakura perlahan menaikkan kepalanya dan orang yang pertama kali ia lihat adalah Ibu Suri yang sedari tadi tersenyum melihatnya. "Siapa namamu gadis manis?" sapanya hangat pada Sakura, dan sedikit menghilangkan rasa gugupnya.
"Namaku Sakura Haruno, Yang Mulia," jawab Sakura yang masih menghadap Ibu Suri dengan tempo yang pelan karena ia tahu sekarang ia sedang bicara dengan siapa.
"Oooh, nama yang bagus untuk gadis sepertimu. Betulkan Pangeran?" tanya Ibu Suri yang mempunyai nama asli Chiyo pada Pangeran yang sedari tadi hanya duduk diam tidak memperhatikan Sakura, dan sontak Pangeran pun kaget.
"Ya, Nenek," jawaban sangat singkat keluar dari seorang pemuda. Suaranya itu rasanya sudah tidak asing lagi bagi telinga Sakura. Suara dalam yang dingin. Tapi sekeras apapun ia mencoba, ia tetap tak dapat mengingat suara siapa itu, atau dimana ia pernah mendengarnya.
Dengan segera Sakura menengokan kepalanya, dan disana tepat didepannya duduk seorang pemuda dengan ramput Chickenbutt style-nya, mata obsidiannya sedari tadi memperhatikan teh di cangkirnya.
"K-kau..k-kau..," Sakura tak sanggup melanjutkan kalimatnya, ia sangat terkejut. Kaget bukan main dan tidak percaya. Seperti mimpi buruk yang sangat buruk.
'Chicken butt? Dia Pangeran? Dan akan menikahiku? Ini semua pasti mimpi. Mimpi buruk!' batin Sakura yang sedari tadi masih bengong ngeliatin Pangeran itu yang tidak lain adalah Sasuke Uchiha.
.
.
Merasa keadaan mendadak sunyi, sang pangeran yang penasaran mulai mengangkat pandangannya. Dan tidak sampai 2 detik, onyx-nya sudah membulat sempurna. Ia sangat terkejut, tapi dengan cepat ia mengatur ekspresinya.
'APA? Si pinkie? Ya Tuhan, pasti semua ini mimpi. YA INI PASTI MIMPI,' batin Sasuke.
Hati mereka masih tidak mempercayai apa yang baru saja dilihat oleh mata mereka masing- masing. Ibu Suri yang sempat kaget melihat reaksi mereka saat melihat wajah masing-masing langsung sadar kalau mereka berdua sudah kenal ia pun langsung memecah keheningan diantara mereka, sementara sang Ratu yang tak lain adalah Uchiha Mikoto masih sedikit bingung melihat kejadian kilat tadi.
"Yah, langsung saja ke masalah utama. Dan sepertinya kalian berdua sudah mengerti mengapa kalian dipertemukan di sini. Kami dari keluarga kerajaan sudah sepakat Acara pernikahan kalian akan dilaksanakan 4 hari lagi," jelas Ibu suri sambil tersenyum dan sontak langsung membuyarkan pikiran Sasuke dan Sakura. Sasuke langsung menyela terlebih dahulu sementara Sakura tidak bisa berkata apa-apa.
"APA? Nenek serius? TIDAK!" seru Sasuke, nadanya naik satu oktaf.
Mendengarnya saja Sakura sudah merinding, tapi Ibu Suri tersebut masih saja tersenyum. Sangat hebat dan berani sekali, pikir Sakura dalam hati.
"Putra Mahkota, berkatalah yang baik pada Ibu Suri," cela Mikoto pada Sasuke sambil memberikan sedikit deathglarenya pada Sasuke, karena ia merasa perkataan Sasuke sudah tidak sopan. Sementara yang dinasehati hanya diam tidak membalas.
"Ada apa Sasuke, kukira kau sudah menyetujuinya?" kata Ibu Suri, dan tak lupa –masih dengan senyum yang sama-.
"Bukan begitu, kupikir ini terlalu cepat. Kami belum mengenal satu sama lain. Dan seperti yang kau ketahui, kami belum lulus sekolah, bahkan Haruno belum 17 tahun," kata Sasuke cepat, tapi nadanya sudah kembali seperti semula.
"Apa tadi? Haruno? Tidak-tidak, kau harus menyebut nama kecilnya Sasuke," kata Ibu Suri, senyumnya agak memudar.
"Ta - tapi – " kata- kata Sasuke terpotong.
"Hei, dia yang akan jadi isteri mu kurang dari seminggu lagi. Jadi, panggil dia Sakura-chan! Atau kau punya panggilan sayang lain? HAHAHA" canda Ibu Suri.
"Tapi nenek – "
"Haah, sudahlah Sasuke. Lebih baik kau ajak Sakura berkeliling sekarang. Masih ada pernikahan yang harus ku urus. Nah sampai jumpa saat makan malam," kata Ibu Suri. Dan kemudian ia dan Permaisuri pergi meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Sasuke dan Sakura berdua di sana.
.
"Jadi kita mulai dari mana?" kata Sakura, mencoba memecah keheningan semenjak Ibu Suri meninggalkan ruangan ini.
"Hn, mulai untuk apa?" kata sasuke malas.
"Berkeliling Istana! Aku penasaran dengan Istana ini," kata Sakura bersemangat.
"Dengar pinkie, rumahku ini bukan museum yang bisa kau lihat-lihat seenaknya," Kata Sasuke.
"HEI, sudah kubilang jangan memanggilku PINKIE dasar CHICKENBUTT! Dan asal kau tahu saja, nenek mu baru saja menyuruhmu untuk mengantar ku keliling Istana,"
"Kau juga, untuk apa memanggilku CHICKENBUTT. Dasar PINKIE cerewet, yasudah ayo!" kata Sasuke, ia terlalu malas untuk berdebat hari ini.
"Kemana?" tanya Sakura polos. Sasuke yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas, tampak urat-urat leher dan sekitar pelipisnya mulai terlihat, membentuk persimpangan. Sungguh sangat OOC sekali Sasuke saat ini, ia lebih banyak bicara.
"Dasar PINKIE, sudah cerewet, lemot pula," Kata Sasuke.
"H-hei kau – " ucapan sakura terpotong karena seorang pelayan tiba-tiba mengetuk pintu ruang mereka berada itu.
"Ah, maaf yang mulia. Tadi saya baru saja diperintah oleh Permaisuri untuk membawa nona Sakura mencoba baju pengantinnya. Dan anda ditunggu oleh yang Mulia Raja di ruangannya, Pangeran,"
"Hn," kata Sasuke, kembali dingin. Dan segera setelah itu, ia berjalan keluar ruangan.
"Nah, Nona Sakura. Silahkan ikut saya," kata pelayan tadi, dan ia mulai berjalan keluar ruangan.
"Ah ya baiklah. Hei Sasuke-kun, tunggu aku. Kita bareng saja, HEI!" kata Sakura, agak panik sebenarnya ia agak takut karena belum hapal benar letak ruangan di Istana ini. Dan juga pelayan yang memanggilnya berwajah seram, walau Sakura tidak bisa melihat seluruh wajahnya karena tertutup masker, tapi ia tetap merasa seram.
"Tidak apa-apa nona Haruno, saya yang akan mengantar anda. Ayo, Permaisuri sudah menunggu anda," kata pelayan, yang sekarang Sakura panggil dalam hati sebagai 'pria bermasker menyeramkan'.
"Ba-baiklah kalau begitu," kata Sakura pasrah, lalu ia ikut berjalan keluar bersama 'pria bermasker menyeramkan' tapi untuk berjaga-jaga, ia mengambil jarak yang terpaut cukup jauh.
Tempat untuk mencoba gaunnya ternyata lumayan jauh dari ruang tamu tadi. Bahkan ia harus melewati sebuah taman dan beberapa lorong panjang yang membingungkan. Ia bahkan sudah tidak tahu lagi arah kembali ke ruang tamu, apakah tadi dari taman berair mancur itu belok kanan atau kiri? Ah, iya sungguh bingung.
.
.
Lalu setelah kira-kira berjalan selama 15 menit, si 'pria bermasker menyeramkan' itu berhenti di sebuah pintu yang sangat besar dan berukiran rumit. Setelah ia mengetuk beberapa kali, ia kemudian membuka pintu itu dan mempersilahkan Sakura masuk.
Yang pertama kali dilihat Sakura saat memasuki ruangan adalah sebuah Kimono sutra yang dipakaikan pada sebuah manequin. Tampak sangat bercahaya, indah, dan anggun.
Kimono itu berwarna merah muda yang lembut, tampak anggun dan manis dalam satu waktu yang sama. Kimono itu memiliki hiasan bunga Sakura berwarna merah muda yang lebih tua, yang terdapat di ujung lengannya yang panjang dan jatuh secara sempurna. Lalu pinggangnya diikat oleh obi berwarna merah yang sangat indah.
Hal pertama yang dipikirkan Sakura begitu melihatnya hanyalah keinginan untuk mencobanya. Bahkan ia sudah tak menghiraukanlagi keberadaan si 'pria bermasker menyeramkan. Dan bahkan ia sampai tidak menyadari keberadaan sang Permaisuri yang sedari tadi duduk di sebelah kimono indah itu.
Tanpa sadar kaki Sakura menuntunnya semakin dekat ke tempat kimono berada. Jika dilihat sekilas, Sakura tampak seperti terhipnotis. Baru saja Sakura ingin menyentuh gaun itu saat terdengar suara yang mengejutkannya.
"Apa kau menyukainya, putri?" kata suara bijaksana yang keluar dari mulut Sang Permaisuri.
"Ah, ya. Ini sangat indah, bolehkah... bolehkah aku mecobanya?" kata Sakura sedikit terkejut dan ragu-ragu.
"Tentu, silahkan. Ini adalah gaun pernikahanmu," kata permaisuri lagi.
"Be-benarkah? Woaah! Ini ga-gaun pengantinku?" kata Sakura takjub, yang kemudian dibalas dengan anggukan dan senyum geli sang permaisuri.
"Jadi, aku boleh mencobanya? Boleh?" kata Sakura kelewat senang, yang kemudian dibalas oleh anggukan permaisuri dan kekehan gelinya.
Lalu kemudian, Sakura dibantu oleh beberapa pelayan wanita disana untuk mencoba kimono tersebut. Ternyata bahannya sangat nyaman dan ringan dan yang lebih menakjubkan, sangat pas dengan tubuh Sakura.
Lalu saat Sakura berkaca, ia bahkan nyaris tidak percaya bahwa itu adalah dia. Kimono itu sungguh memberi dampak besar pada penampilan Sakura yang basanya terkesan tomboy dan terlalu biasa. Saat ini ia tampak sangat anggun dan cantik.
Ingin rasanya ia memakai Kimono itu terus, tapi sayangnya ia harus menunggu sampai hari pernikahannya. Rasanya sungguh menyebalkan, terjebak diantara dua pilihan sulit. Ia harus rela tidak memakai Kimono itu lagi atau menikah dengan si pantat ayam agar bisa memakai Kimono itu lagi yang mana ia sangat membenci pantat ayam Uchiha itu.
"Nah, Sakura setelah kau selesai mengepasnya kau boleh berkeliling istana lagi. Aku ada urusan penting, maaf tak bisa menemanimu," kata permaisuri, berusaha menampakan ekspresi yang sangat menyesal, tapi tetap saja ia tak bisa menghilangkan ekspresi bahagia dan terharunya yang tampil semenjak Sakura mencoba baju pernikahannya itu.
"Ah ya, baiklah," kata Sakura sambil menunjukan cengirannya.
Lalu kemudian permaisuri keluar dengan beberapa pengawal pribadinya dan hanya menyisakan Sakura, beberapa pelayan istana yang membantu Sakura memakai pakaian, dan tentu saja si 'pria bermasker menyeramkan'.
"Apakah anda sudah selesai mengganti pakaian anda?" ujar si ' Pria bermasker menyeramkan' itu.
"Ya, sebentar lagi – " Sakura bingung mau memanggilnya apa, tidak mungkin kan ia memanggilnya 'pria bermasker menyeramkan' itu sangat tidak lucu.
"Panggil saya Kakashi saja nona," kata orag itu, seakan mengerti maksud Sakura.
"Baiklah, Kakashi san. Aku sudah selesai, ayo kita berkeliling," kata Sakura semangat.
"Ya, mari," lalu kakashi pun mengantar Sakura berkeliling. Dan Sakura seperti biasa, kembali mengambil jarak antara dirinya dan Kakashi.
Tapi, entah kenapa saat di taman yang berair mancur Sakura malah terpisah dari Kakashi. Ia tadi terlalu sibuk memandangi lukisan anak kucing yang sangat indah. Dan jadilah, sekarang Sakura hanya bisa berkeliling tanpa arah, berharap bertemu Kakashi lagi atau mungkin Temari-san atau Sasuke juga tak apa-apalah.
Tapi nyatanya setiap lorong yang ia temui nyaris kosong, tidak tampak satupun pelayan, dan itu membuatnya merinding. Kira-kira sudah seperempat jam Sakura berkeliling ia tidak menemukan atau mendengar suara orang sama sekali, ia sudah hampir menagis jika saja ia tak mendengar sebuah suara yang sangat familiar.
Sekarang Sakura berada di depan sebuah ruangan yang pintunya sangat besar dan berukiran indah. Suara yang sangat ia kenal, suara dalam dan dingin. Dicoba dibukanya pintu itu sedikit, dengan sangat pelan.
Benar saja, disana ada Sasuke yang tampaknya sedang menelepon seseorang. Baru saja Sakura akan membuka pintu lebih lebar untuk menyapa Sasuke.
Tapi tangannya tertahan karena dia mendengar potongan kaliamat yang dilontarkan Sasuke pada sang penelepon, "Maafkan aku Ino..".
Sakura yang mendengar hal itu sangat merasa bersalah karena telah mengganggu kehidupan orang lain, ia tidak mau hidupnya dihantui rasa bersalah. Ia terus berusaha untuk melangkah menjauhi ruangan itu, namun kakinya itu seperti telah menempel dengan lantai yang dia injak sekarang ini.
"Nanti akan kutelpon lagi lain waktu," Sasuke segera menutup telponnya dan bangkit untuk berjalan keluar dari ruangan itu.
Sakura yang berdiri di depan pintu masih diam terpaku, ia merasa sangat bersalah dan entah mengapa ada sedikit perasaan sakit di hatinya seakan ia juga tidak rela kalau Sasuke lebih memilih orang lain.
Sakura berusaha menahan butiran air yang rasanya ingin keluar dari matanya.
Sementara Sasuke terus berjalan mendekati pintu dan membukanya. Dan betapa terkejutnya dia saat dilihatnya seorang gadis berambut soft pink yang sudah tidak asing lagi baginya berdiri di depan pintu itu.
"Sakura!"
TBC
Akhirnya chapter 4 selesai juga.. Aduuuhh maaf ya para readers telat update, ya kan kalian tau sendiri kami masih sekolah jadi masih ada kewajiban yang lain (UAS), hehehe..
Baru sekarang bisa update, gara-gara abis ulangan masih ada tugas yang lain.. Emang tugas sialan itu nyusahin aja..
Maaf yah kalo misalnya alurnya kelamaan atau kecepetan, bilang aja ga papa kok.. Dan makasih buat yang udah review kemaren..
Special thanks for:
ss, ss cholic, Meiko Namikaze not login, Tarochiha, Sakura Haruno 1995, Miku Hatsune, Matsumoto Rika, Namikaze Sakura, Hikari Shinju, Via-princezz, dan Silence Readers juga...
Kritik dan saran kami tampung, pujian owh terimakasih sekali, flame (jangan dong!) kalo udah ga suka ya udah ga usah di baca..
REVIEW yaaaahhh..
