Sasuke yang masih syok sekaligus takut setelah mengetahui Sakura berdiri di depan pintu itu dan sudah dipastikan dia mendengar semua pembicaraannya tadi. Ia sangat bingung harus memulai pembicaraan dari mana, ia berusaha untuk mengembalikan ekspresinya saat ini.
Sementara Sakura masih menunduk dan belum berani untuk menatap wajah Sasuke yang sekarang ini tepat di depannya kurang dari 1 meter. Ia juga bingung harus pergi seperti tidak terjadi apa-apa atau harus minta maaf kepada Sasuke.
"Well, kau tahu, ini kedua kalinya kau menguping pembicaraanku." tiba-tiba suara Sasuke yang dingin dan dalam memulai pembicaraan.
.
The days of the Princess
Disclaimer tokoh: Masashi Kishimoto
Disclaimer cerita: UCHIHA
WARNING!: gaje, AU, aneh, OOC, OC, dll.
Rate : T
Pairing: Sasuke X Sakura
~The Wedding~
.
"E-eh maaf ya Sasuke, tadi aku hanya sedang berkeliling kok. Aku baru saja tiba disini dan kulihat kau keluar dari ruangan itu." jawab Sakura dengan senyum salah tingkahnya.
"Sakura, lupakan apa yang kau dengar tadi. Anggap kau tidak pernah mendengar apa yang sudah aku bicarakan tadi, dan jangan sekalipun membicarakan itu." tanggap Sasuke karena ia tahu pasti Sakura sudah mendengar semua pembicaraannya tadi.
Sakura kembali diam, ia bingung juga sedikit takut dan canggung sekarang. Ada yang aneh dari mimik Sasuke, disana seperti ada rasa marah, cemas dan panik. seperti orang yang menyembunyikan sesuatu.
Sasuke segera meninggalkan Sakura yang sedang diam dan melewatinya begitu saja. Sementara Sakura tetap diam di tempatnya.
'Apa aku terlalu kejam pada anak itu ya?' batin Sasuke sepanjang perjalanan.
.
4 days later
.
Pagi ini adalah pagi dimana dua sejoli (yang tidak saling mencintai atau mungkin bisa dibilang tidak mau mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya) akan menikah. Semua atribut, tempat dan persiapan upacara pernikahan sudah siap sejak kemarin.
Sakura saat ini sedang didandani oleh para pelayan istana di depan sebuah cermin besar, sesekali ia bergum – errr, merutuki nasib dan mengutuk-ngutuk Sasuke. Sementara Sasuke yang juga sedang dibantu bersiap-siap diruang lain hanya menampilkan tampang murungnya.
Sakura memakai kimono yang telah dicobanya kemarin dan rambutnya digelung menggunakan tusuk konde berwarna merah tua yang indah, wajahnya juga di make up sedemikian rupa sehingga sekarang wajahnya lebih mirip putri Indonesia –Lho?– err, putri Jepang maksudnya.
Sementara Sasuke menggunakan kimono berwarna biru tua yang cocok dengan warna rambutnya dan abu-abu muda di bagian bawahnya. Serta sabuk berwarna hitam yang berada di pinggangnya. Pakaiannya itu semakin membuatnya gagah dan tampan jika dilihat oleh orang, tapi entahlah bagaimana pendapat Sakura.
Setelah kira-kira satu jam mereka didandani dan dipersiapkan, mereka siap untuk keluar dari ruang persembunyiannya menuju para penonton dan orang tua masing-masing yang telah menunggu di tempat upacara pernikahannya.
Upacara pun segera dimulai, pernikahan diadakan menggunakan tata cara adat Jepang. Mereka harus melaksanakan beberapa proses yang bisa dibilang merepotkan sebelum menjadi suami istri.
Setelah upacara kramat itu selesai, pengantin pun diarak keliling kota menggunakan tandu khusus untuk membagi kebahagiaan kepada masyarakat juga (maksudnya gitu, tapi malah cuma nyapek-nyapein aja). Dan yang pastinya para sahabat dan tetangga Sakura ikut teriak-teriak dipinggir jalan seperti kebanyakan orang.
Jalanan pun sangat ramai oleh parade aneh ini dan para penontonnya yang histeris serta terjadi kemacetan dimana-mana karena jalan ditutup.
Mereka, Sasuke dan Sakura, harus terus melambaikan tangannya kepada masyarakat dan tersenyum anggun dan tentu saja tidak boleh memperlihatkan wajah yang murung ataupun kesal.
'Uh lelah sekali!' guman Sakura dan Sasuke dalam hati, kompak sekali.
.
.
Baru saja mereka terbebas dari segala tetek bengek mengenai upacara pernikahan, mereka kembali terjebak di tempat yang katanya tempat istirahat itu dengan berbagai macam makanan yang mampu membuat Sakura lupa akan rasa lelahnya.
Baru saja ia hendak melahap semuanya tanpa ampun saat ia sadar bahwa Sasuke dan beberapa pelayan masih ada di ruangan itu. Jadi ia kembali duduk diam di tempat. Melihat itu para pelayan mempersilahkan Sasuke dan Sakura untuk makan, mereka pun hanya tinggal berdua di kamar itu.
Mereka makan berhadapan dan sesekali berebut makanan. Cukup menghebohkan dan,sebenarnya sangat seru untuk ditonton, karena mereka berdua sangat keras kepala.
"Hei, ini untukku. Kau itu kan sudah mencobanya tadi," gumam Sasuke saat mereka mencoba mengambil daging yakiniku terakhir karena merasa sedari tadi ia hanya mengalah pada Sakura.
"Memang, tapi kau ini sebagai suami yang baik harus mengalah pada istrinya," jawab Sakura sambil menyipitkan matanya pada Sasuke sementara sumpit yang berada di tangan mereka masih tetap menyapit daging itu.
"Tapi kau sudah makan ini kan, sekarang gantian aku," jawab Sasuke yang tidak mau kalah dan berusaha menarik daging itu namun ditahan oleh Sakura.
"Tidak, ini untukku," jawab Sakura yang masih terus berusaha menarik daging itu.
"Kau ini mau cari masalah denganku bukan?" tegas Sasuke sedikit teriak. Dan seketika segerombol pelayan masuk karena mendengar keributan di dalam kamar itu.
"Maaf, apa yang terjadi Sasuke-sama. Tadi kami sempat mendengat teriakan anda." Kata salah seorang pengawal istana yang berada paling depan.
"Tidak, tidak apa-apa." kata Sasuke sambil merapihkan posisi duduknya agar terlihat lebih tegas, "Kalian boleh keluar."
"Baik, kami permisi yang mulia." Dan mereka pun segera meninggalkan Sasuke dan Sakura dalam posisi yang masih sama.
Setelah para pengawal itu pergi, Sasuke dan Sakura kembali memulai acara debat mereka. Mereka berdua terlalu keras kepala untuk mengalah.
Sakura sudah tidak bisa merasakan jari-jarinya lagi saking pegalnya, "Oh ayolah chickenbutt, lepaskan saja,"kata Sakura setengah memelas.
"Kenapa tidak kau saja?" kata Sasuke, sebenarnya ia juga merasakan tangannya kram tapi gengsi menahannya.
Sakura menghela nafas, jarinya benar-benar mati rasa, "Tak bisakah kau mengalah, apa perlu kuingatkan bahwa kau laki-laki dan aku perempuan, sudah seharusnya kau mengalah!"
"Tidak, kata mengalah tidak ada dalam kamusku, pink."
"Berarti kamusmu tidak lengkap baka!" seru Sakura, sambil menggebrak meja.
'Skak mat! ' batin Sasuke sambil menyeringai, "Kalau begitu, jika kamusmu begitu lengkap, kenapa tidak kau saja yang mengalah?"
"Ukh, kau benar-benar menyebalkan! Baiklah, aku mengalah, tapi hanya untuk kali ini saja chickenbutt!" kata Sakura sebal. Segera ia melepas jepitan sumpitnya pada daging yang sudah dingin itu.
Sasuke menyeringai puas, "Kenapa tidak dari tadi saja, Pink?" kemudian memakan daging itu dengan sedikit menyombong.
Tanpa sadar, karena saking kesalnya, Sakura tidak sengaja melempar gelas didepannya. Gelas berisi teh panas itu sukses mengenai dahi Sasuke dan isinya yang masih mengepulkan asap membasahi bagian depan kimono Sasuke.
Sakura hanya bisa memandang ngeri gelasnya yang sekarang mengelinding di lantai kayu itu. Selang beberapa deting, kemudian terdengar pekik tertahan Sasuke.
"Baka! Kenapa kau melempar gelas itu padaku – ukh, panas sekali," Rintih Sasuke, "Kali ini, kau tidak akan lolos lagi dariku pink!" Sasuke bergerak secepat kilat kearah Sakura.
Sakura yang mendengarnya hanya bisa bergidik ngeri. Tapi mungkin karena terlalu lama duduk, kaki Sasuke jadi sulit digerakan, dan kalian pasti bias menebak kelanjutannya.
Yak, Sasuke jatuh dengan tidak elitnya ke depan – errr, menindih tubuh mungil Sakura. Keduanya sama-sama terkejut sehingga mereka hanya terdiam sepert itu.
Beberapa menit berselang, dan Sakura yang pertama kali sadar dari keterkejutannya itu. Baru saja ia hendak mengatakan sesuatu saat tiba-tiba seseorang membuka pintu ruang istirahat mereka.
"Well, tampaknya aku datang di waktu yang tidak tepat." Kata suara bariton yang rasanya pernah didengar Sakura, dan suara itu sukses menyadarkan Sasuke.
Sasuke yang sudah sadar langsung menyingkirkan dirinya dari atas Sakura, "Gaara, ada apa?" katanya sambil membenarkan posisi duduknya.
"Ah, maaf mengganggu kalian. Aku akan datang lain waktu saja." Kata orang yang membuka pintu tadi, yang ternyata adalah Gaara.
"Tidak, tidak perlu. Katakan saja apa keperluanmu!" kata Sasuke dingin dan sepertinya agak malu.
"Hemm baiklah," kata Gaara sambil menghela nafas, "Aku datang untuk mengucapkan selamat kepada kalian, tidak kusangka kau mendahuluiku Sasuke."
"Dasar kau!" kata Sasuke sambil melempar cengirannya yang baru pertama dilihat Sakura.
Gaara hanya tersenyum tipis, lalu ia mengalihkan pandangannya ke Sakura, "Aku juga mau bicara denganmu Sakura."
"Eh, ah baiklah." Lalu Sakura bergegas beranjak mengikuti Gaara yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan itu sementara Sasuke masih sibuk membersihkan pakaiannya yang basah karena tumpahan air tadi. Tapi sebenarnya ia juga penasaran terhadap apa yang sedang dibicarakan Gaara dan Sakura saat ini.
Kembali ke Sakura dan Gaara yang sekarang ini sedang ada di taman istana, mereka sedang duduk santai di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu sambil menikmati suasana taman yang indah.
"Selamat yah sekali lagi atas pernikahannya," suara Gaara memulai pembicaraan. Ia tersenyum namun sebenarnya ia sangat kecewa terhadap Sakura dan berat rasanya menerima kenyataan ini. Ia juga tidak tahu kenapa, tapi rasanya ada yang mengganjal dihatinya.
"Sudahlah Gaara, aku juga tidak setuju dengan pernikahan ini, bayangkan saja aku yang masih sekolah ini sudah disuruh mengurus pekerjaan rumah tangga layaknya istri-istri lainnya," gumam Sakura sambil memajukan bibirnya dan menggoyang-goyangkan kedua kakinya.
"Haha, sudahlah terima saja semuanya. Tidak mungkinlah mereka menyuruhmu untuk melakukan hal seperti itu, mereka juga pasti tahu kau ini masih sekolah," jawab Gaara dengan senyum palsunya kepada Sakura.
Entahlah, tapi sejak pertama kali Gaara bertemu Sakura ia merasa ada yang lain dari gadis ini. Tingkah laku dan perkataanya entah mengapa bisa membuat Gaara tertawa dan sejenak melupakan bebannya.
"Tapi tetap saja, bagaimana mungkin aku hidup bersama orang seperti Sasuke itu, bisa-bisa aku kedinginan setiap hari," tanggap Sakura dengan polosnya sementara yang mendengarkan hanya tersenyum.
"Hari ini kau cantik Sakura, kau sangat cantik," pujian Gaara itu dalam sekejap membuat Sakura err - melayang atau nge-flyatau ngapung, atau sejenisnya. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya ia dipuji oleh laki-laki selain ayahnya. Apalagi yang memuji adalah orang setampan dan sekeren Gaara.
"Eh, apa iya? Biasa saja ah," semburat merat pun terlihat di muka Sakura. Pukulan ringan ia daratkan pada bahu Gaara, "Jangan menggodaku."
"Aku mengatakan yang sebenarnya tahu." Kata Gaara pura-pura pundung, lalu beberapa saat kemudian tawanya pecah karena melihatt muka Sakura yang panik. "Haah, aku berharap kau bisa bahagia dengan Sasuke, karena aku akan sangat menyesal sekali jika kau hidup tersiksa," kalimat itu sontak membuat Sakura bingung, terutama kata-kata menyesal jika Sakura hidup tersiksa.
'Apa hubungannya antara penyesalannya dan hidupku?' batin Sakura.
"Baiklah kalau begitu, baik-baik dengan Sasuke yah," jawab Gaara sambil berdiri dan menepuk pelan pundak Sakura yang masih diam memikirkan kalimat Gaara barusan, Gaara pun meninggalkan Sakura.
'Aneh, rasanya aku tidak bisa melepasmu Sakura, kenapa takdir harus seperti ini? Seharusnya akulah yang menikahimu, bukan dia,' guman Gaara dalam hati sambil berjalan menjauhi Sakura.
Sementara itu, sepasang mata onyx tengah memperhatikan mereka dari kejauhan dengan tatapan tajam dan curiga.
.
.
Hari ini adalah hari pertama dimana Sakura akan belajar tentang semua seluk beluk kerajaan. Mulai dari tata cara, keturunan, adat istiadat, kedudukan dan sebagainya.
Walaupun ia sudah menjadi istri dari seorang putra mahkota dan sekarang ia menjadi putri mahkota, tentu saja ia belum mengerti tentang kerajaan ini karena ia bukanlah keturunan dari kerajaan dan ia sangat lemah dalam sejarah.
"Baiklah nona, hari ini nona akan belajar tentang tata cara dan bahasa yang baik. Sebagai keluarga kerajaan, nona harus menjaga sikap kepada semua orang, mulai dari raja, ratu dan ... bla bla bla," jelas Temari panjang lebar dan perlahan kepada Sakura, sementara yang mendengarkan hanya duduk santai sambil menopang kepalanya yang terasa berat dengan tangan kanannya dan sesekali menguap.
Selesai Temari menjelaskan, Sakura sekarang disuruh untuk menghafal semua yang ada dalam sebuah buku usang yang tebalnya 5 cm berwarna coklat yang berjudul 'Tata Cara Kerajaan'. Dalam sekejap, mampu membuat bola mata Sakura membulat sempurna dan hilang sudah semangat hidupnya.
"Apa tidak ada buku lain yang bisa kubaca selain ini?" Sakura yang berusaha memelas menampilkan senyumannya semanis mungkin untuk meluluhkan hati Temari.
"Maaf nona, buku ini harus nona hafalkan dengan segera karena tata cara sangat diperlukan dalam melakukan kegiatan sehari-hari di istana dan juga untuk menjaga nama baik kerajaan," jelas Temari yang ternyata lebih keras kepala daripada Sakura. Sementara Sakura hanya mengutuk Temari dan Tata Cara Kerajaan dalam hati.
"Oh, begitu yah, hehehe. Baiklah aku akan berusaha," jawab Sakura sambil mengepalkan tangannya dan tersenyum pahit menerima kenyataan bahwa ia mau tidak mau harus tetap menghafal seluruh isi buku usang itu.
Sakura mulai membukanya dan pertama-tama ia hanya membolak-balikkan kertasnya berharap kertas itu kosong seketika. Sementara Temari tetap duduk di dekat Sakura sambil membaca sebuah buku kecil berwarna hitam.
"Apa dia sudah menghafal semuanya?"
Tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan antara Sakura dan Temari dan sontak membuat keduanya kaget, suara yang tidak asing bagi mereka berdua. Dengan cepat Temari bangun dan memberi hormat kepada orang yang baru saja datang, dan ia pun segera kelur dari ruangan itu.
"Apa yang kau lakukan di sini hah? Mengganggu saja," tanya Sakura sambil mengernyitkan dahinya.
"Tidak kok, aku hanya berkeliling. Lalu apa salahnya jika aku hanya menengok istriku sebentar?" jelas pemilik suara itu alias Sasuke sambil mengambil buku yang sedang Sakura baca dan membacanya sekilas.
"Ya kau itu sudah jelas-jelas salah karena telah mengganggu konsentrasi orang yang sedang serius belajar," jawab Sakura sambil memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan Sasuke berdiri.
"Hmm, tata cara. Baiklah kalau aku telah mengganggu kon-sen-trasimu nona pinkie. Temari," Sasuke yang sepertinya mendapatkan sebuah ide untuk mengerjai Sakura langsung tersenyum dengan penuh kemenangan. Ide jail sudah berseliweran dikepalanya.
"Iya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Temari yang baru saja masuk ke ruangan itu.
"Sebagai ganti karena aku telah mengganggu konsentrasi Putri Mahkota, mohon ijinkan aku untuk mengajarnya hari ini," mendengar hal itu sontak membuat Sakura dan Temari terkejut.
"Ba-baiklah, tuan," senyum penuh kemenangan pun kembali menghiasi wajah Sasuke sementara Sakura mulai mengutuki Sasuke dalam hati. 'Apa yang akan di lakukan? Aku tahu pasti bukan sesuatu yang mendidik,' gumam Sakura dalam hati sambil menampilkan deathglarenya pada Sasuke.
Temari segera keluar dari ruangan itu dan lagi-lagi Sakura hanya tinggal berdua dengan seekor elang dengan niat licik dan seringai penuh kemenangan.
"Baiklah Putri Mahkota, sesuai janjiku tadi, aku akan menga-" kata-kata Sasuke dipotong oleh Sakura sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
"Sudah sebutkan saja keinginanmu, tidak usah bertele-tele," Sakura yang mengetahui niat Sasuke segera melontarkan kalimat itu padanya.
"Baiklah sepertinya kau tahu niatku yah, ternyata kau ini lebih pintar dari yang kubayangkan," jawab Sasuke seraya menampilkan senyum manisnya.
"Heh, memangnya kau pikir aku ini hanya wanita bodoh yang bisa dikerjai oleh orang sepertimu," tanggap Sakura sambil terus menampilkan deathglarenya pada Sasuke.
"Aku ke sini..." Sasuke menyeringai lebih lebar, "...untuk membalas perbuatanmu kemarin yang telah menumpahkan teh panas ke bajuku," Sasuke kembali menapilkan senyuman penuh kemenangannya itu yang semakin membuat Sakura jengkel.
"Baiklah, jadi apa maumu, UCHIHA SASUKE?" tanya Sakura dengan penekanan pada kata Uchiha Sasuke.
"Aku ingin k – " sebelum Sasuke meneruskan kalimatnya tiba-tiba suara seorang pelayan terdengar dari luar, dan otomatis Sasuke merasa jengkel karena kalimatnya sudah dipotong. Jadi sekarang giliran Sakura lah yang mengeluarkan senyum penuh kemenangan karena sudah diselamatkan oleh pelayan itu.
"Maaf tuan dan nona, saya disuruh untuk memanggil anda karena Raja, Ratu dan Ibu Suri sudah menunggu di ruang keluarga. Mereka bilang ini adalah hal penting," Sasuke dan Sakura yang mendengar itu pun sedikit bingung karena hal penting apa yang membuat mereka dipanggil.
Mereka berdua pun segera bangkit dari posisinya dan langsung berjalan keluar dari ruangan itu menuju ruang keluarga. Sakura mengikuti Sasuke dari belakang bersama para pelayan lainnya.
Sesampainya mereka di ruang keluarga, tampak Fugaku, Mikoto dan Nenek Chiyo yang sepertinya sudah menunggu mereka cukup lama. Nenek Chiyo segera menyuruh mereka duduk dan seketika para pelayan pun keluar dari ruangan itu karena mengetahui bahwa ini masalah pribadi.
"Maaf Putri karena kami mengganggu pelajaranmu," Nenek Chiyo memulai pembicaraan.
"Ah, tidak apa-apa Nenek," jawab Sakura sedikit ragu-ragu karena ia merasa sangat gugup berada diantara keluarga kerajaan seperti ini untuk pertama kalinya.
"Baiklah, kita langsung masuk saja ke masalahnya. Sudah kalian tahu bahwa beberapa hari lagi kita harus menghadiri undangan ke Indonesia, tapi di waktu yang sama kita juga akan mendapat kunjungan dari Ratu Inggris," jelas Nenek Chiyo, sementara Sakura hanya diam mendengarkan tapi sebenarnya dia juga tidak begitu mengerti.
"Mengingat kesehatan raja yang kurang baik, sepertinya hal itu sulit untuk dilakukan," tambah Mikoto yang sepertinya memberitahu hal utama yang sebenarnya terjadi di sini. Sakura mulai sedikit mengerti.
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan undangan dari Indonesia itu, aku harus tetap kesana," Fugaku sepertinya tidak mau meninggalkan undangan itu, ia terus bersikeras untuk mendapatkan ijin dari Nenek Chiyo.
"Jika kau terus memaksakan diri, justru kau yang akan celaka di sana nanti, jadi, menurutku sebaiknya biarlah Pangeran dan Putri yang pergi kesana, bagaimana pendapat kalian?" Sasuke, Mikoto dan Fugaku sedikit terkejut dengan ide Nenek Chiyo. Sementara Sakura merasa sedikit senang karena akan pergi ke luar negeri.
"Jadi biar Ratu dan aku yang menerima kunjungan Ratu Inggris, sementara Raja istirahatlah dulu," Mikoto dan Fugaku mengangguk setuju karena memang itulah jalan terbaik.
"Tapi nek, Putri Mahkota harus belajar, mengingat dia kan baru saja memulai pelajarannya, jadi lebih baik biar aku sendiri saja yang kesana," Sasuke yang mendapatkan ide baru untuk membalas kelakuan Sakura segera memanfaatkan kesempatan ini karena ia tahu sepertinya Sakura senang sekali mendengar kabar itu.
"Ya memang kau ada betulnya, baiklah kau akan pergi sendiri dan Putri akan tetap disini menemani Ibu dan Ratu untuk menerima tamu," jelas Fugaku yang setuju dengan pendapat Sasuke, dan kembali sebuah seringai menghiasi wajah Sasuke sementara Sakura langsung memberikan deathglarenya pada Sasuke.
"Baiklah kalau begitu, tapi mengingat tamu dari Inggris. Sepertinya kita butuh orang yang mahir berbahasa Inggris," Mikoto yang sedikit bingung mengingat ia juga tidak begitu mahir dalam berbahasa Inggris, bagaimana nanti menerima tamu itu.
"Hmm, bagaimana kalau kita undang Gaara untuk menerima tamu itu, dia kan baru saja pulang dari luar negeri dan bahasa Inggrisnya juga pasti sangat fasih," Sasuke dan Mikoto sedikit kaget mendengar penuturan dari Nenek Chiyo barusan, walaupun Gaara termasuk keluarga kerjaan tapi ia baru saja pulang dari pengasingannya.
"Baiklah, sepertinya ide yang bagus," tanggap Fugaku yang sepertinya senang dengan ide Nenek Chiyo. Sementara Sasuke, Mikoto dan Sakura hanya bisa pasrah menerima kenyataan itu.
"Nah Sakura, kau boleh melanjutkan kembali pelajaranmu. Dan kau Sasuke, kau juga boleh keluar." Kata Nenek Chiyo, yang dijawab dengan anggukan singkat oleh keduanya.
Setelah Sasuke dan Sakura keluar dari ruangan, keadaan kembali hening sampai Fugaku angkat bicara.
"Sebenarnya apa maksud lain anda memanggil kami selain kunjunga ke Indonesia dan kedatangan Ratu Inggris?"
"Yah kalian kan tahu hidupku ini sudah tak akan lama lagi, ja – "
"Sudah kukatakan jangan bicara seperti itu." Kata Mikoto memutus omongan Nenek Chiyo.
"Ya kau sudah mengatakan itu berkali-kali Ratu, tapi kau juga harus mendengar kelanjutan perkataanku sebelum memotongnya," Mikoto yang mendengarnya hanya bisa menundukan kepala.
"Nah, kalian semua juga tahu bahwa hidupku sudah tak akan lama lagi. Dan aku ingin sekali menimang cicit, – " kata Nenek Chiyo dengan senyum penuh arti.
"Tapi mereka masih terlalu muda, bahkan Sakura belum tujuh belas tahun." Kata Mikoto, sedikit tidak terima.
"Memang waktu kau hamil Itachi berapa umurmu?" kata Nenek Chiyo, masih dengan senyum penuh artinya. Dan Mikoto sekali lagi hanya bisa menunduk malu.
"Aku setuju saja dengan anda Ibu Suri." Kata Fugaku singkat, tipikal Uchiha.
"Nah, kalau begitu sudah diputuskanmereka akan melakukannya besok malam."
***TBC***
Yeay, akhirnya selesai juga chapter 5 nya *ngelap keringet. Maaf ya kalau akhriran, atau seluruh ceritanya, aneh. Kami memang mengalami banyak kendala karena liburan.
Faktor utamanya karena rumah kami yang jauh, karena biasanya kami ketemu dan ngasih naskahnya di sekolah. Faktor pendukungnya itu, Modem-nya Lathief suka eror sampai dia frustasi. Dan faktor paling gak mutu itu, otak Rissa suka eror tiba-tiba dan macet ujug-ujug.
Err, stop bacotingnya Rissa! Hehe sekali lagi maaf kalo aneh dan masih banyak kekurangan. Saran dan kritik kami tampung, pujian kami terima dengan lapang dada, dan Flame? Jangan dong, yayaya *tingting
Terima kasih kepada 4ntk4-ch4n, Iya, oharu, 7color, Hikari Shinju, latu, Namikaze Sakura, siva uciha, Matsumoto Rika, Rizu Hatake-hime, sasura, Akera Raikatuji, sakuchan, sasusaku, ss cholich, Via-princezz, Yuna Mikuzuki, dan para silent readers :D
Last, RIVIEW PLEASE!
