"Tapi mereka masih terlalu muda, bahkan Sakura belum tujuh belas tahun." Kata Mikoto, sedikit tidak terima.
"Memang waktu kau hamil Itachi berapa umurmu?" kata Nenek Chiyo, masih dengan senyum penuh artinya. Dan Mikoto sekali lagi hanya bisa menunduk malu.
"Aku setuju saja dengan anda Ibu Suri." Kata Fugaku singkat, tipikal Uchiha.
"Nah, kalau begitu sudah diputuskan mereka akan melakukannya besok malam."
The days of the Princess
Disclaimer tokoh: Masashi Kishimoto
Disclaimer cerita: UCHIHA
WARNING!: gaje, AU, aneh, OOC, OC, dll.
Rate : T
Pairing: Sasuke X Sakura
Sasuke or Gaara?
"Haaah, kau kenapa ada di sini sih pantat ayam?" kata Sakura sebal, "Mengganggu sekali tahu, pergi sana!"
"Nona! Anda tidak boleh berkata seperti itu pada Yang Mulia," kata Temari tegas begitu ia mendengar Sakura memanggil Sasuke dengan panggilan yang aneh.
"Tapi, si pan – "
"Sudah kub – "
"Sudahlah Temari, biar aku saja yang mengajarinya. Kau keluar saja, aku pastikan ia akan belajar dengan benar." Kata Sasuke sambil menyeringai, membuat Sakura merinding.
"Baik yang mulia." Kata Temari singkat, lalu ia segera meninggalkan ruang belajar Sakura. Meninggalkan Sakura yang malang dengan Iblis pantat ayam.
"Ah, Temari-nii jangan tinggalkan aku dengannya," kata Sakura, walau tidak bisa didengar Temari yang sudah menutup pintu terlebih dahulu, "Kau, kenapa sih selalu menggangguku? Sudah sana kau pergi bersama Kakashi saja," ucap Sakura, sekarang ia sudah tidak lagi merengek melainkan membentak.
"Hei, itu bukan kaliamat yang benar untuk kau gunakan pada suamimu," kata Sasuke sambil menyeringai lebih lebar. "Lagipula apa salahnya seorang suami mengajari istrinya sesuatu yang tidak diketahui olah sang istri?"
Sakura menghela nafas mendengarnya, ia tahu apa maksud Sasuke yang sebenarnya. Dan itu bukanlah sesuatu yang baik seperti apa yang ia katakan. "Sudah, cepat katakan saja apa maumu sebenarnya!"
Sekarang Sasuke benar-benar menyeringai puas, "Kalau begitu kau harus menjadi pembantuku di sekolah –tanpa sepengetahuan para pengawal dan pelayan," Sasuke mengacungkan jari telunjuknya, "Lalu, kau harus mau berpakaian sangat feminim dan berdandan," kemudian ia mengacunkan jari tengahnya, "Lalu, kau – "
"Hei, kenapa banyak sekali sih, aku kan hanya menimpukmu dengan cangkir teh," kata Sakura semakun kesal.
"Well, memang kau hanya menimpukku dengan secangkir teh panas, lalu secara tidak sengaja membasahi kimono ku dengan isinya yang menggelegak dan secara tidak langsung merusak kimono mahal kerajaan, dan juga karpet mahal kerajaan, dan – "
"Stop! Oke aku tahu, aku tahu," kata Sakura sebal, lalu ia menghela nafas sebentar dan kembali melanjutkan, "Kau terlalu mendramatisir tahu,"
"Apanya yang mendramatisir, itu kenyataan pink!" kata Sasuke, sekarang ia juga ikut-ikutan kesal.
"Ya, yang tadi itu. Rasanya tidak sampai sebegitu hebohnya kan – hei, kau mau apa?"
Sasuke tiba-tiba saja membuka kancing kemejanya, membuat Sakura panik dan takut. "Lihat, ini!" katanya singkat, sambil menunjukan bagian sekitar dada dan lehernya yang memerah.
"I..itu karena teh waktu itu?" kata Sakura kaget, ia tidak percaya bahwa bekasnya masih ada. Seingatnya, itu kejadian dua hari yang lalu.
"Ya, panas sekali tahu. Jadi, kau mau menerima hukumanmu?"
Sakura meneguk ludah dengan susah payah, rasanya tenggorokannya jadi kering mendadak. "Ba-baiklah, sampai berapa lama aku harus menjalaninya?" Sakura berkata dengan lirih, pandangannya tak lepas dari bekas luka memerah itu.
"Hemm... kurasa..satu minggu penuh juga cukup." Kata Sasuke, tampangnya ia buat seserius mungkin.
GLEKK, 'Mati kau Sakura! Satu minggu penuh jadi babu si pantat ayam ini! dan apa tadi? Bergaya feminim? Oh ya ampun!'
"Baiklah.." kata Sakura. Sekarang ia bahkan mulai berpikir membaca buku itu lebih menyenangkan.
Dan sekarang seringai puas bagai tertempel dengan eratnya pada wajah sang Uchiha Sasuke. "Kalau begitu, mari mulai pembelajarannya. Sampai mana kau sudah belajar?"
'Sakura, kau benar-benar dalam neraka sekarang!' batin Sakura pasrah.
.
.
"Kakashi, tolong sampaikan pada Temari agar dia menyiapkan segala hal yang diperlukan Sakura untuk besok malam." Kata seorang wanita dengan rambut yang ditumbuhi uban, sehingga warna hitamnya sudah nyaris tidak terlihat.
"Baik Ibu Suri, akan saya katakan padanya." Kata Kakashi. Lalu ia meninggalkan ruangan, setelah membungkuk dengan hormat terlebih dahulu.
"Ibu, apa ibu yakin tentang masalah itu? Apa mereka tidak terlalu muda?" kata wanita lain yang lebih muda.
"Tentu saja Ratu, aku sudah sangat ingin mendengar suara bayi di istana ini," kata si wanita yang lebih tua, Ibu Suri, sambil terkekeh pelan.
"Tidak bisakah menunggu sampai Sasuke menyelesaikan urusannya di Indonesia?" kata Ratu, masih teguh pada pembelaannya.
"Tidak, itu terlalu lama." Kata Ibu Suri yang juga sama keras kepalanya.
"Tapi, Sakura bahkan baru enambelas tahun,"
"Lho, kukira umurnya sama dengan Sasuke," kata Ibu Suri cukup terkejut, "Bukankah mereka satu angkatan?" tambahnya.
"Memang, tapi Sakura melakukan semacam, akselerasi."
"Baiklah, akan kupikirkan lagi," kata Ibu Suri, tampaknya ia tetap pada keputusan awal, meski agak bimbang.
"Tapi – "
"Sudahlah Ratu, tidak perlu terlalu cemas seperti itu," kata Ibu Suri memotong kalimat Ratu yang belum selesai, "Ah, rasanya aku ingin beristirahat dan minum teh. Aku pergi dulu kalau begitu Ratu,"
"Ah, ya. Silahkan Ibu Suri, jangan lupa istirahat yang cukup untuk kesehatanmu."
.
.
"Maaf Yang Mulia, tapi menurut jadwal, waktu belajar sakura-sama sudah selesai," kata Temari dari balik pintu kelas.
"Ya ya, baiklah, kau boleh keluar sekarang Sakura. Jangan lupa dengan hukumanmu, kau bisa mulai besok." Kata Sasuke, lalu ia bangkit dan berjalan keluar.
Sakura hanya bisa menghela nafas begitu Sasuke keluar ruangan, si pantat ayam itu membuat otaknya penat dan jenuh dan kepalanya pusing. Kemudian ia mebereskan semua barangnya dan menyusul Sasuke keluar ruangan.
Diluar Temari sudah menunggu, lalu Sakura segera diantarkan ke kamarnya untuk mandi dan berganti baju, kemudian tidur. Semuanya sangat menyenangkan seperti hari-hari sebelumnya, kamar mandi dan kamarnya sangat bagus dan nyaman. Dan itu membuat Sakura merasa betah, walau terkadang ia juga merasa kesepian dengan absennya anggota keluarganya.
Rasanya Sakura baru memejamkan matanya selama beberapa menit saat tiba-tiba ia terbangun mendadak mendengar suara jam bekernya. Tanpa melihat jam, dengan mata setengah terpejam ia segera mengambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi. Rasanya cuaca jadi lebih dingin dari kemarin-kemarin.
"Brrr, dingin sekali pagi ini." gumam Sakura sambil menggeliat, lalu ia segera masuk ke kamar mandi dan mengisi bathub dengan air hangat. Setelah penuh, ia segera menceburkan dirinya ke bathub dan memulai mandinya dengan penuh kuap mengantuk.
Duapuluh menit kemudian Sakura sudah siap dengan seragam sekolahnya yang terdiri dari kemeja putih panjang, Rok berwarna biru tua dengan panjang 3 cm diatas lutut, rompi biru tua dengan lambang sekolahnya di dada kiri, dasi bergaris biru dan perak, kaos kaki berwarna abu-abu, dan sepatu olahraga kesayangannya –walau iya tahu sekolahnya melarang murid perempuan memakainya selain saat jam olahraga, tapi masa bodo lah.
"Nah, sekarang saatnya membangunkan si pantat ayam itu." Kata Sakura, sambil membetulkan dasinya untuk yang terakhir kalinya. "Aneh, kenapa tirai jendelanya tidak dibuka? Ah, sudahlah.."
Kamar Sasuke terletak bersebrangan dengan kamarnya, pihak kerajaan mengatakan bahwa mereka masih terlalu muda untuk tidur sekamar, dan sakura sangat bersyukur karenanya.
TOK TOK TOK
"Hei Sasuke, kau sudah bangun? Kita harus segera berangkat kan," kata Sakura sambil mengetuk pintu kamar Sasuke. Tapi tidak ada jawaban sedikitpun dari dalam sana.
"Hei, SASUKE! Kau dengar aku? Aku masuk ya," kata Sakura, sambil membuka pintu kamar Sasuke, 'Tidak terkunci.' Batinnya dalam hati.
KRIEEET
Dan disana, tepat ditengah ranjang berukuran king size berwarna biru tua, tidur dalam diam Sasuke Uchiha. Wajahnya sangat tenang, tampaknya ia sedang dalam keadaan sangat nyenyak, dan itu membuat Sakura kesal.
"Ya AMPUN! SASUKE, BANGUN!" kata – err, teriak Sakura. sukses membuat Sasuke terbangun kaget.
"Ugh, apa sih pink?" katanya, tersirat nada kesal dalam suara Sasuke.
"Kenapa kau bilang? Kau mau kita terlambat HAH?" kata Sakura, entah kenapa setiap berbicara dengan suaminya selalu membuatnya naik darah.
Sasuke tidak menjawab pertanyaan Sakura, ia hanya mengucek matanya dengan malas lalu mengambil jam beker dimeja kecil disebelah tempat tidurnya. "Ini masih jam dua malam, pink." Kata Sasuke malas, setengah mati ia menahan tawanya.
"Makanya itu kan nanti kit – APA! Jam milikmu pasti salah, tidak munkin alarm ku berdering jam dua malam. Aku sudah mengaturnya agar berdering jam enam pagi!" kata Sakura tidak percaya. Secepat kilat ia berlari menuju kamarnya dan mengambil jam bekernya, dan kembali ke kamar Sasuke.
Jam beker putih itu tidak berbeda sedikit pun dari yang terakhir kali ia lihat, kecuali satu jarum. Tampaknya jarum alarm nya bergeser beberapa derajat dari yang seharusnya, tepatnya menunjuk ke angka dua.
Dengan horor Sakura mengalihkan pandangannya kepada Sasuke, sementara yang dipandang sekarang terlihat sangat aneh karena sedang berusaha menahan tawanya.
"Kau... kau yang melakukan semua ini kan? DASAR PANTAT AYAM! ARGHH, KUBU – mmphh!" perkataan Sakura terputus saat Sasuke membekap mulutnya dengat kencang.
"ARGH!" pekik Sasuke saat dirasakan sesuatu yang tajam menekan kulit telapak tangannya. Sakura menggigitnya sekuat tenaga, dan mau tidak mau Sasuke melepas bekapannya. "Apa-apaan kau?" kata Sasuke sengit sambil meniup telapak tangannya yang terasa perih.
"Kau yang apa-apaan, menyabotase alarm ku, lalu membekap mulutku seenaknya." Kata Sakura tak kalah sengit.
"Aku hanya tidak ingin satu istana terbangun karena mendengar teriakan dari sang putri yang seperti toa itu." Kata Sasuke lagi, seringai kembali terpasang di bibirnya.
"Aku tidak akan seperti ini jika kau tidak memulainya duluan, tahukah kau mandi sepagi ini terasa sangat –HATCHIIH!" Kalimat Sakura terputus dengan bersinnya. Tampaknya ia akan flu, berterima kasihlah pada Tuan muda Uchiha ini. "Ugh, sekarang aku sudah mulai bersin-bersin, H-HATCHIH!" kata Sakura, lalu dengan satu deathglare maut pada Sasuke ia kembali kekamarnya.
Sedangkan Sasuke hanya bisa tersenyum penuh kemenangan dan kembali tidur, seperti tidak pernah terjadi apapun. Walau dalam hati Sasuke merasa sedikit khawatir dengan keadaan Sakura. Kami perjelas, Sasuke merasa KHAWATIR!
.
.
"Nona, anda yakin tidak mau menggunakan sweater? Udara sangat dingin diluar, dan anda sekarang sudah mulai bersin-bersin." Kata Temari dengan raut cemas.
Saat ini Sakura sedang bersiap-siap seperti beberapa jam yang lalu. Yang berbeda hanyalah, saat ini ia tidak henti-hentinya bersin dan menggigil.
"Tidak, aku baik-baik saja. Lagipula akan sangat tidak nyaman memakai sweater diatas rompi, HATTCHIIH," kata Sakura menolak.
"Tapi, bolehkah saya tahu mengapa Nona bisa sampai bersin-bersin seperti ini, setahu saya di dalam sini cukup hangat," kata Temari, lagi.
"Hemm, tanyakan saja pada si pantat ayam– HATCHIH. Sudah ya aku pergi dulu, nanti terlambat." Kata Sakura, sambil meraih tasnya lalu keluar kamar sambil setengah berlari. Meninggalkan Temari yang kebingungan.
"M-Maksud Anda?"
.
"Kemana lagi, si pink itu?" Saat ini Sasuke tengah duduk santai di jok belakang mobilnya, ditemani dengan Kakashi yang merangkap menjadi supir pribadinya. "Lama sekali, apa saja yang ia lakukan didalam," tampaknya semenjak kedatangan Sakura, Sasuke jadi sedikit OOC, kerena tidak biasanya ia menggerutu seperti itu.
"Ah, maaf menunggu –HATCHIHH– lama, Temari-nii menyuruhku untuk minum obat dan –H-HATTCHIIH– memaksaku memakai sweater," kata Sakura sambil sesekali menggosok hidungnya yang gatal. Ia benci ini, apalagi melihat wajah Sasuke yang kelihatannya puas sekali.
"Apa kau? Ini semua kan karenamu," kata Sakura lagi, yang kemudian dibalas dengan dengusan dari Sasuke.
"Maaf Nona, bisakah kita berangkat sekarang, kalian bisa terlambat nanti," kata Kakashi dari belakang kemudi, sambil berusaha menutupi senyumnya.
Pasalnya, sedari tadi ia tidak bisa tidak menyingkirakan berbagai pikiran aneh yang berkeliaran diotaknya saat mendengar kat-kata Sakura. 'Memang apa yang mereka lakukan semalam, sampai Sakura-sama seperti itu.' Batinnya.
Sakura hanya bisa nyengir minta maaf dan segera memasuki mobil. Ia duduk di sebelah Sasuke yang sekarang sudah kembali ke aktivitasnya setiap pagi, mendengarkan lagu. Sedangkan Sakura hanya bisa diam melihat ke jalan di luar.
Jalanan kota cukup lenggang, jadi mereka hanya membutuhkan waktu sekitar duapuluh menit. Duapuluh menit terlama dan paling membosankan bagi Sakura. Tentu saja membosankan kerena sedari tadi Sasuke mengacuhkannya, dan Kakashi tidak berbicara sama sekali selama perjalanan.
"Kita sudah sampai, Tuan, Nona." Kata Kakashi.
Benar saja, saat ini mereka sudah berada tepat didepan gerbang MAIS. Segera saja Sakura membuka pintu dan berjalan keluar, dan yang pertama kali dirasakannya adalah angin dingin yang menerpanya dengan kencang.
Ternyata Temari benar, udara sangat dingin pagi ini. Banyak sekali anak yang memakai sweater, bahkan beberapa malah memakai syal dan kaus kaki woll. Sekarang ia mulai menyesal karena menolak memakai sweater.
'Setidaknya si Pantat Ayam itu juga tidak memakai sweater.' Batin Sakura, segera ia alihkan pandangannya pada Sasuke. 'Heh, apa-apaan itu, kenapa dia juga pakai sweater, bukannya tadi, tidak?'
"Apa kau lihat-lihat, Pink?" tanya Sasuke sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Kau, yang apa lihat-lihat?" kata Sakura kesal, rasanya semenjak berhubungan dengan Sasuke, ia selalu saja sial.
"Kau lupa dengan perjanjian kemarin?"
"Ah, iya," kata Sakura, semangatnya kembali turun, "Mana, kemarikan tasmu," kata Sakura setengah hati. " –semua barangmu," tambahnya cepat-cepat.
Lalu tanpa banyak bicara Sasuke segera memberikan semua bawaanya pada Sakura. Dan sialnya, banyak sekali yang dibawa Sasuke. Sakura bahkan tidak habis pikir, untuk apa Saskuke membawa semua itu, bahkan sampai membawa dua alat musik berbeda.
"UKH, untuk apa kau bawa sebanyak ini?"
"Hn, memang kenapa?" kata Sasuke, seringai lagi-lagi menghiasi bibirnya.
"Ini terlalu tidak masuk akal, kau–HATCCHHIIH– bahkan membawa dua alat musik berbeda," Kata Sakura sebal.
"Hn, bukan urusanku," kata Sasuke ringan sekali, seakan ia tidak melihat wajah Sakura yang sudah menunjukan ekspresi bengis, ingin mencincangnya menjadi tigabelas bagian.
"Apa perlu kami bantu Nona?" tanya salah seorang pengawal yang baru saja turun dari mobil lainnya.
"Oh ti-tidak perlu kok, terima kasih Genma-san." Kata Sakura sambil tersenyum. Padahal dalam hatinya, ia sudah menangis meraung-raung. Bahkan tadi, ia nyaris men-iya-kan tawaran Genma-san kalau saja ia tidak melihat tatapan tajam Sasuke.
"Hn, ayo cepat Sakura. Kalasku ada di sayap timur, kau tahu kan," kata Sasuke sambil berjalan, sama sekali tidak memedulikan Sakura yang sudah kewalahan.
"Baiklah.." kata Sakura pasrah, mendengar letak kelasnya saja sudah membuat Sakura angkat tangan. Ia harus menghemat energi, tidak boleh membuang-buangnya dengan percuma hanya untuk membalas kata-kata suaminya yang menyebalkan itu. Apalagi saat ini flu yang dideritanya mulai membuat kepalanya terasa pening dan berat.
Sayap timur bisa dibilang merupakan bangunan paling jauh dan paling eksklusif. Harus melewati beberapa koridor panjang, taman dalam sekolah, dan naik dua lantai untuk sampai ke kelas Sasuke. Perjalanan yang melelahkan bagi Sakura karena barang Sasuke sangat berat, dan ia mulai merasakan tangannya kebas.
"Ya ampun akhirnya sampai juga!" teriak Sakura frustasi. "Hei, dimana bangkumu? Cepat beri tahu, tanganku sudah mati rasa sedari tadi!" Sekarang, mereka berdua sudah berada persis di depan kelas sasuke.
"Itu, di pojok kana belakang." Kata Sasuke sambil berjalan santai arah lain, ia bahkan tidak masuk ke kelasnya terlebih dahulu.
"Hei, mau kemana kau?" tanya Sakura heran.
"Hn, bukan urusanmu." Kata Sasuke singkat tanpa membalikan badannya.
"Huh, dasar Pantat Ayam tidah tahu diri." Rutuk Sakura, dengan cepat ia berjalan menuju bangku Sasuke, berusaha mengacuhkan pandangan semua orang yang tertuju padanya.
.
"Hei Sasuke, kenapa istrimu itu?" sahut salah satu murid laki-laki berambut kuning yang tak lain adalah Naruto.
Saat ini ia sedang bersandar di dinding koridor, beberapa meter di depan kelas Sasuke. Tampangnya terlihat bingung, dan sebelah alisnya terangkat tinggi-tinggi.
"Dia sedang menjalankan hukuman dariku," jawab Sasuke dengan santai.
"Apa tidak apa-apa, kau menyuruh istrimu sendiri melakukan itu?" tanya Naruto sedikit khawatir.
"Tidak. Memangnya kenapa? Lagipula tugas seorang istri memang membantu suaminya kan?" Sasuke dengan wajah datarnya menjawab pertanyaan Naruto.
Naruto yang bertanya hanya bisa diam, masalahnya apa yang dikatakan Sasuke ada benarnya juga. Tapi kalau ditilik, rasanya ini agak melenceng dengan apa yang Sasuke katakan, karena Sakura terlihat sangat terpaksa. Terlebih, barang yang dibawa Sasuke itu seperti bekal untuk pergi kemah. Rasanya Naruto mulai kasihan dengan nasib Sakura yang agak sial itu.
"Dobe, jangan bilang kau merasa kasihan padanya," Kata Sasuke, alisnya juga terangkat tinggi. Menuntut jawaban 'tidak' dari Naruto.
Sambil mengangkat bahu sekilas, Naruto mengikuti sang pengaran sekolah ke tempat kumpul mereka.
.
Sementara itu setelah menaruh –atau melempar tepatnya– semua barang-barang Sasuke ke mejanya. Setelah itu Sakura segera melengos keluar dari kelas itu. Ia benar-benar tidak tahan dengan semua pandangan siswa-siswi yang ada di sana. Risih sekali rasanya diperlakukan seperti itu, apalagi jika yang menatapnya adalah seniornya.
Sambil mengutuk Sasuke dalam hati, Sakura berjalan cepat menuju kelasnya. Yang sialnya terletak lumayan jauh dari kelas Sasuke.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Sakura sampai juga di kelasnya. Dengan wajah tertunduk ia segera duduk di kursinya.
Setelah duduk, ia melihat sekeliling kelasnya dan mendapati tas-tas sahabatnya yang telah disimpan di laci meja mereka masing-masing, menandakan bahwa mereka sudah datang. Semangat Sakura pun segera bangkit kembali dan dengan segera ia mencari sahabat-sahabatnya itu. Dan tempat yang pertama kali ia kunjungi adalah ruang lukis dan tepat seperti dugaannya, dilihatnya di sana para sahabatnya sedang asik mengobrol. Sakura segera menghampiri mereka dengan gembira.
"Hai teman-teman!" sapa Sakura dengan riang kepada sahabatnya. Tapi tampaknya ada yang aneh dengan ketiga sahabatnya, mereka terlihat lebih dingin dari biasanya.
Tenten dan Hinata membalasnya dengan 'hai' pendek, dan Karin bahkan tidak membalasnya. Sama sekali, membuat rasa curiga Sakura bertambah.
"Hei, ada apa dengan kalian? Tidak bersemangat sekali?" tanya Sakura yang heran dan mulai gugup.
"Tidak-ada-apa-apa," jawab Karin dengan singkat sambil memincingkan matanya pada Sakura dan setelah itu ia memalingkan wajahnya pada alat-alat lukis yang berada di dekatnya dan dengan segera membawanya keluar dari ruangan itu.
"Ada apa dengannya? Apa dia marah padaku?" tanya Sakura yang semakin heran pada kedua sahabatnya yang lain. Entah apa yang terjadi selama Sakura tidak masuk pada para sahabatnya sampai-sampai ia seperti marah padanya.
"Entahlah, tapi kau bisa memikirkannya sendiri. Otakmu kan masih berfungsi, ingat?" jawab Hinata dengan wajah datar. Tapi Sakura sepertinya tidak begitu memperhatikan Hinata, ia terlalu tenggelam dalam pemikirannya.
.
Hari-hari di sekolah pun banyak dilewati Sakura dengan melamun memperhatikan atau heran terhadap kelakuan para Sahabatnya. Semakin lama Sakura perhatikan, tampaknya tidak hanya sahabatnya yang melakukan aksi dingin padanya. Tapi semua siswa dan siswi disana ikut melakukan aksi tersebut.
Ingin rasanya Sakura menceritakan semuanya pada Gaara, tapi tampaknya pemuda itu sedang sangat sibuk akhir-akhir ini sehingga yang bisa Sakura ucapkan padanya hanya sapaan saja. Uuurgh, rasanya sekarang Sakura sudah benar-benar frustasi.
'Apa benar mereka marah padaku karena aku menikah dengan Sasuke?' pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di benak Sakura. Ia masih belum berani untuk bertanya kepada Karin atau yang lainnya, nyalinya selalu ciut begitu melihat ekspresi dingin di wajah para sahabatnya.
Namun Sakura akhirnya memberanikan diri untuk menemui Karin ditoilet saat jam istirahat. Ia membuntuti sahabatnya itu, dan ternyata sahabatnya masuk ke dalam toilet. Sakura memperhatikan sekeliling tempat itu, sepi dan tidak ada orang lain selain mereka berdua ternyata.
'Kesempatan bagus untuk bicara padanya,' batin Sakura dalam hati sambil berjalan masuk ke dalam toilet, sesampainya di sana kebetulan Karin sedang mencuci tangan di wastafel. Dengan menarik napas Sakura segera memulai pembicaraannya.
"Karin, kenapa kau dan yang lainnya tampak aneh akhir-akhir ini, apa kalian marah padaku?" Karin yang membelakangi Sakura diam tidak menghiraukan pertanyaan Sakura.
"Aku minta maaf jika aku salah padamu, tapi katakan padaku alasannya, aku kan juga penasaran sebenarnya apa yang membuatmu marah," sejenak Karin menghentikan aktivitasnya dan segera mematikan keran airnya. Kemudian ia berbalik menghadap Sakura yang sedang menunduk ketakutan.
"Kau mau tau alasannya, Sakura?" tanya Karin dengan dingin kepada Sakura. Sementara yang ditanya hanya bisa mengangguk.
"Aku tidak tau sebenarnya apa jalan pikiranmu, waktu itu kau menjelek-jelekkan 'dia', tapi justru sekarang kau yang mendapatkannya. Padahal aku sudah menjadi penggemarnya sejak aku masih SMP," jelas Karin pada Sakura sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sakura hanya bisa menunduk saja seperti sedang dimarahi oleh guru.
"Aku kecewa pada sikapmu Sakura, kau bilang benci padanya, sekarang kau cinta padanya. Bahkan sampai menikahinya," kata-kata Karin sedikit membuat Sakura tersentak, Sakura butuh berpikir beberapa detik untuk mencerna kata-kata Karin barusan. Dan setelah sadar..
"AKU TIDAK MENCINTAINYA, KARIIIIIIIINNN!" teriak Sakura dengan suara yang 'cukup' keras tiba-tiba. Sementara Karin langsung kaget dan cengo dengan posisi mata sedikit membulat dan tangan masih melipat di dada, sementara rambutnya kaku kebelakang. Oke yang terakhir cukup lebay.
"Lalu kenapa kau mau menikah dengannya, HAH?" tanya Karin yang sudah kembali seperti semula.
"Itu ceritanya panjang, tapi jangan salah sangka dulu, aku mau menikahinya bukan berati aku mencintainya tau," jelas Sakura dengan tampang sebel karena dia sekarang tau kalau ternyata Karin dan yang lainnya marah padanya hanya karena perjodohan konyolnya dengan Sasuke.
Akhirnya Sakura menghabiskan jam istirahatnya dengan menceritakan semua detail kejadiannya. Mulai dari kenapa dia bisa menikah dengan Sasuke, sampai perasaan bencinya pada Sasuke. Karin awalnya sempat malu mendengar pernyataan Sakura. Namu lama-lama ia malah merasa kasihan dengan nasib Sakura yang kurang beruntung itu.
.
KRIIIIIIING! KRIIIIIIING! KRIIIING! KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING!
Bel pelang sekolah tampaknya merupakan suara yang paling ditunggu-tunggu oleh seantero sekolah. Terutama Sakura yang merasa sudah sangat penat denga pelajaran Matematika yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Sakura, sampai jumpa yah!" teriak Karin saat di koridor sekolah kepada Sakura yang tengah berlari kecil menuju lapangan, Sakura membalasnya dengan lambaian tangan dan senyumannya yang manis. Ia sekarang sudah bisa sedikit lega karena sudah kembali bersahabat dengan Karin, sementara dua teman lainnya yaitu Hinata dan Tenten hanya diam bingung melihat kelakuan sahabatnya yang aneh.
"Padahal Karin tadi menatap Sakura dengan dingin sekali, kenapa sekarang dia sudah kembali seperti biasa lagi pada Sakura?" tanya Hinata dengan tampang innocent-nya. Sementara Tenten hanya geleng-geleng kepala kemudian kembali membereskan lokernya.
"Jadi, kita sudah bisa berbaikan lagi dengan Sakura?" tanya Hinata lagi, sebenarnya ia merasa risih juga bermusuhan dengan Sakura. Tapi masalahnya kedua temannya itu menyuruhnya kompakan dengan mereka untuk memusuhi Sakura.
Sekali lagi Tenten menggeleng, sebenarnya ia juga bimbang dengan aksi mereka bermusuhan dengan Sakura. Dan ia makin bingung karena tiba-tiba Karin yang mengusulkan aksi ini malah sudah baik legi dengan Sakura. Jadi sebenarnya apa yang harus ia lakukan?
Sementara Sakura tengah berjalan ke menuju tempat rombongan penjemputnya menunggu. Baru saja setengah perjalanan ia lewati saat tiba-tiba ia melihat Gaara sedang duduk seorang diri di bangku yang terletak dipinggir lapangan.
"HEI, GAARA!" panggil Sakura. Gaara yang tengah asik membaca sebuah buku sedikit terlonjak, ia menoleh kesana kemari sampai akhirnya ia menemukan sosok Sakura ditengah lapangan. Dengan segera cengiran terlukis di wajah Gaara. Sakura berlari dengan riang menuju tempat Gaara, dan segera mendudukan dirinya disamping Gaara.
"Hei, ada apa?" tanya Gaara begitu Sakura sudah ada disebelahnya.
"Tidak, hanya bosan saja," jawab Sakura asal.
"Hei, hari ini kau sibuk tidak?" tanya Gaara lagi.
"Hmmm, tidak kok. Memangnya kenapa?" tanya Sakura penasaran.
"Aku ingin kau menemaniku ke taman bermain, aku sedang butuh refreshing nih," jawab Gaara mencari alasan. Padahal sebenarnya dia cuma' ingin jalan berdua dengan Sakura.
"Baiklah, ayo kita berangkat," spontan Sakura langsung menerimanya, karena sejujurnya Sakura juga sedang jenuh dan bosan. Ia bahkan tidak sadar bahwa itu adalah salah satu ajakan untuk berkencan. Sementara Sakura sibuk mengoceh tentang wahana yang akan dinaiki, Gaara sedang berusaha menetralkan wajahnya yang tadi sempat bersemu sedikit mengetahui Sakura menerima ajakan kencannya.
Mereka pun bergegas menuju rombongan Sakura untuk meinta ijin. Itu dilakukan cukup lama karena Sakura harus menjelaskan secara detil apa saja yang akan ia lakukan dan kapan ia akan pulang. Setelah mendapatlan izin, mereka segera beranjal menuju mobil Gaara.
Di mobil, keadaan sangat hening sampai akhirnya Gaara memulai pembicaraan.
"Sakura, apa sebaiknya kau memakai penyamaran? Aku takut orang-orang mengetahui keberadaanmu," Tanya Gaara yang tahu bahwa posisi Sakura saat ini adalah sebagai Putri Mahkota yang pastinya sudah dikenal oleh masyarakat. Ia takut acara bermainnya akan terganggu oleh masyarakat yang tiba-tiba menyerbunya.
Sakura diam untuk mempertimbangkan pertanyaan Gaara. Tapi akhirnya dia memutuskan, "Baiklah sepertinya memang lebih baik kalau aku menyamar, supaya acara kita tidak terganggu," Sakura tersenyum dan mencoba berpikir apa yang harus ia pakai sebelum sampai di taman bermain.
Tiba-tiba sebuah topi berwarna coklat jatuh di atas kepala Sakura. Sakura segera menoleh ke arah Gaara yang sedang menatapnya dengan pandangan menilai. Sakura tersenyum menatap Gaara meminta jawaban, yang kemudian dibalas Gaara dengan cengiran lebar.
"Apa ini?" Tanya Sakura sambil memegang kepalanya yang tertutup topi.
"Untuk apa lagi, tentu saja penyamaran. Itu topiku," Sakura mengangguk mengerti, ia juga mengikat rambutnya yang panjang. dan memasukkan ke balik topinya sehingga hanya keliatan sedikit rambut berwarna pink yang keluar dari topi.
Sakura juga disuruh memakai kacamata besar dengan bingkai berwarna hitam. Sakura terlihat sangat lucu dan berbeda, ia lebih terlihat seperti kutu buku dibandingkan seorang putri.
Sesampainya di taman bermain, Gaara memarkirkan mobilnya di tempat yang tidak begitu ramai. Lalu mereka turun secara diam-diam, dan melenggang kearah taman bermain dengan hati-hati, berusaha tidak terlalu menarik perhatian.
Di taman bermain, Gaara membelikan Sakura es krim dan mereka memakannya sambil berjalan melihat-lihat wahana yang ada di taman tersebut. Tidak perlu waktu lama bagi Sakura untuk memilh wahana mana yang akan ia naiki. Setelah es krim mereka habis, Sakura segera menyeret Gaara menuju Roller Coaster.
Setelah menaiki hamper semua wahana yang ada di taman tersebut, mereka memutuskan untuk istirahat di salah satu kursi panjang yang berada tepat di pinggir danau taman bermain tersebut. Menikmati indahnya suasana sore hari.
"Ini adalah kunjungan pertamaku ke sini," Sakura bergumam tiba-tiba, wajahnya bersemu karena terlalu banyak berlari-lari dari satu wahan ke wahana lain. Gaara segera menoleh kearah Sakura.
"Aku selalu sibuk dengan sekolahku dan pekerjaanku, jadi aku tidak pernah punya waktu untuk bermain ke tempat yang indah seperti ini, apalagi bersama keluargaku," Sakura masih tersenyum, ia kembali mengingat keluarganya yang ia tinggalkan di rumah. Rasanya rindu sekali, ingin Sakura bertemu dengan mereka.
"Kapan-kapan kita ajak saja keluargamu, kita bisa bermain bersama di sini," tanggap Gaara dengan suara lantang. Sementara Sakura yang matanya mulai berkaca-kaca, hanya bisa tersenyum mendengar tuturan dari Gaara tersebut. Tapi memang itulah keinginannya, mengajak keluarganya bermain ke suatu tempat dan bersenang-senang di sana.
"Baiklah, ayo kita pulang," ajak Gaara pada Sakura beberapa saat kemudian.
Dengan cepat Sakura menoleh kearah Gaara, kekaguman dan antusiaisme masih terpeta diwajahnya. "Sayang sekali, padahal aku masih ingin disini. Hitung-hitung melepas sejenak beban pikiranku," Ucap Sakura, wajahnya berubah jadi tidak bersemangat. "Hei, bagaimana kalau kau pulang duluan saja? Nanti aku menyusul," tanya Sakura pada Gaara.
Awalnya ia ingin menolak, tapi begitu melihat ekspresi Sakura yang sepertinya terliihat sangat jenuh itu. ia jadi tidak tega untuk menolak, akhirnya ia pun hanya mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya.
"Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku," ujar Gaara. Ia menepuk sekilas bahu Sakura, dan berjalan menjauh.
.
Di kejauhan sepasang mata onyx memperhatikan mereka dengan sebal, ia hanya bisa diam melihat Gaara meninggalkan Sakura. Tapi ia juga tidak berniat untuk mendekati Sakura karena ia juga tahu kalau sekarang Sakura sedang ingin sendiri. Sasuke, si pemilik mata onyx, pun memutuskan untuk mengakhiri kegiatan 'membuntuti' nya dan kembali ke istana. Lagipula sepertinya sudah banyak orang yang curiga terhadap dirinya, walaupun sudah memakai penyamaran tapi wajahnya yang tampan dan langka pasti membuatnya mudah untuk dikenali oleh orang lain.
.
Kebetulan sekali hari ini hari Jumat, jadi besok Sakura tidak sekolah. Ia memutuskan untuk berjalan mengelilingi taman itu sekali lagi, dan tiba-tiba ia sadar bahwa ia masih memakai topi milik Gaara. 'Ah, semoga aku tidak lupa untuk mengembalikan ini padanya,' batin Sakura sambil menyimpan topi itu di dalam tasnya agar tidak hilang, sehingga sekarang yang tersisa hanya kacamata berbingkai hitam, sementara ikatan rambutnya sudah lepas dan membiarkan rambut indahnya terurai begitu saja.
Saat Sakura berjalan menuju pintu keluar, ia melihat anak kecil yang sedang berlari ke arah ibunya yang berada di kejauhan, tiba-tiba sepatu sebelah kanan yang dipakai anak itu terlepas di dekat Sakura, anak itu segera berhenti dan tampak kebingungan. Sakura yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli sambil mengambil sebelah sepatu milik anak tersebut.
"Sini aku pakaikan," perintah Sakura dengan lembut kepada anak itu sambil tersenyum. Anak itu terlihat sedikit terkejut, namun balas tersenyum dan berjalan ke arah Sakura. Dengan perlahan Sakura memakaikan sepatu itu kepada anak kecil tadi.
"Lain kali hati-hati ya," nasehat Sakura sambil memegang pundak anak itu.
"Ya, terima kasih tuan Putri," balas anak itu pada Sakura sambil menunduk hormat dengan sopannya. Anak itu segera berlari lagi ke arah ibunya yang sudah menunggu, sementara Sakura masih melamun karena baru saja mendengar sebutan dari anak itu padanya.
'Biasanya aku dipanggil kakak oleh anak kecil seperti itu, tapi sekarang... Apa aku pantas mendapat sebutan seperti itu?' batin Sakura bingung, ia merasa aneh dan canggung jika dipanggil seperti itu oleh orang lain.
.
Sesampainya di istana, Sakura segera melangkahkan kakinya ke kamarnya. Iseng- iseng ia melihat sekilas kamar Sasuke yang berseberangan dengan kamarnya. Dilihatnya Sasuke yang tengah serius membaca sebuah buku yang sepertinya membahas tentang musik atau mungkin bisnis. Setelah melihat sebentar Sakura segera masuk ke kamarnya karena ia sudah sangat lelah sekali sehabis berjalan-jalan di taman. Ia segera menutup pintu kamarnya dan bersiap untuk mandi.
Mendengar suara pintu kamar Sakura yang tertutup, Sasuke menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah kamar Sakura. Ia diam beberapa saat seperti berpikir sejenak, entah apa yang ia pikirkan. Kemudian ia kembali melanjutkan kegiatan membacanya lagi.
.
Hari ini hari Sabtu, akhir pekan dimana biasanya digunakan untuk bersantai dan melepas penat karena kegiatan yang dilakukan pada hari-hari sebelumnya. Awalnya Sakura juga berniat melakukan hal yang sama, dengan cara memperpanjang waktu tidurnya. Tapi tampaknya dewi fortune tidak berpihak padanya karena Temari sudah membangunkannya di pagi buta.
Awalnya Sakura hanya menggerutu tidak jelas sambi menarik selimutnya menutupi kepalanya. Sampai didengarnya suara dingin Sasuke tepat di sebelahnya.
"Hei Sakura, kalau kau masih ingin tidur, bagaimana kalau aku menemanimu?" katanya, membuat Sakura merinding dan kantuknya hampir hilang seluruhnya.
Awalnya Sakura berniat tidak mengacuhkannya, dan berusaha kembali terpejam. Tapi tiba-tiba dirasakannya sesuatu membebani perutnya, dan sesuatu itu menariknya mendekat. Dengan segera mata Sakura kembali terbuka, bahkan kali ini lebih lebar.
Dengan tergesa ia bangun dan menarik dirinya dari pelukan tiba-tiba Sasuke. Ia melontarkan tatapan mautnya yang paling ampuh, tapi nampaknya Sasuke tidak mempan sama sekali. Ia hanya menyeringai lebih lebar kearah Sakura sambil mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi.
"Ada apa? Bukannya kau ingin tidur, kenapa bangun?" tanyanya datar.
"Kau yang ada apa! Kenapa kau sembarangan memelukku, ayam?" kata Sakura sengit.
"Lho, memang kenapa? Kita suami istri, kau ingat?" katanya, sekarang bahkan seringainya sudah nyaris mencapai telinga.
"Tidak, dan tidak akan pernah ingat. Siapa yang sudi jadi istrimu, ayam." Kata Sakura, lalu ia segera menyeret Sasuke turun dari ranjangnya. Yang ditarik hanya mengikuti, bahkan tidak memberontak sama sekali. Sasuke malah menampilkan senyum menggodanya.
"Benarkah? Kau tidak menyesal menolakku?" ucapnya.
"Tidak, terima kasih." Dan dengan segera Sakura mendorong Sasuke keluar.
Sakura membanting pintu cukup keras, tapi rasanya untuk kali ini ia tidak peduli. Tampaknya sudah menjadi rutinitas Sasuke untuk menjahilinya sepanjang hari diakhir pekan Dan ia sudah benar-benar muak dengan kelakuan Sasuke ini. Ingin Sekali Sakura memukul wajah tampan itu, dan menyiksanya sampai puas. Huh!
Sekarang kantuk Sakura benar-benar hilang tak berbekas. Jadi percuma saja jika ia paksakan untuk tidur. Akhirnya setengah menggerutu ia mengambil handuk dan baju salinnya, lalu berjalan memasuki kamar mandi.
Sakura berada di kamar mandi sekitar tigapuluh menit. Dan saat ia keluar dengan rambut basah dan berantakan. Ia melihat Sasuke sudah duduk manis di kasurnya. Awalnya Sakura mengira Sasuke akan kembali mengerjainya. Tapi tampaknya Sakura salah karena wajah Sasuke saat ini berbeda, ia terlihat lebih muram dan kusut.
"Kau ditunggu Gaara di taman." Sasuke bahkan tidak banyak bicara, ia hanya mengucapkan lima kata itu dan kemudian keluar dari kamar Sakura. meninggalkan si empunya kamar yang tengah kebingungan.
Tanpa banyak buang waktu lagi, Sakura segera menyisir rambutnya yang sudah setengah kering dan memakai sepatunya. Tidak lupa ia mengambil topi Gaara yang ada ditasnya, berniat mengembalikan pada pemiliknya. Lalu setelah itu ia bergegas menuju tempat yang Sasuke sebutkan. Dan benar saja, disana tampak Gaara sedang duduk di bawah pohon apel. Di sebelahnya terletak dua buah raket dan sebuah botol air mineral.
'Apakah Gaara habis bermain badminton? Tapi dengan siapa?' batin Sakura bingung, karena tidak ada orang lain selain Gaara disana. Segera Sakura mempercepat langkahnya kesana.
"Hei Gaara, Sasuke bilang kau mencariku?" Ujar Sakura setelah sampai didepan Gaara.
"Ya begitulah,"
"Oh ya, ini topimu. Maaf aku lupa mengembalikannya waktu itu," kata Sakura sambil mengangsurkan topi coklat Gaara yang sedari tadi ada di genggamannya.
"Oh, terima kasih," ujar Gaara, "Hei, maukah kau menemaniku bermain badminton?" lanjutnya, yang disambut dengan anggukan bersemangat dari Sakura.
"Ayo, diamana? Sudah lama aku tidak bermain badminton," ucap Sakura, sinar semangat terpantul jelas di iris jade nya.
"Di lapangan, di belakang Istana,"
"Oh, oke."
Lalu mereka berdua pun beranjak menuju lapangan yang dimaksud Gaara. Sakura sudah pernah meilhat tempat ini sebelumnya, tapi belum dari dekat karena waktu itu ia melihatnya dari dalam Istana. Ternyata tempatnya lebih luas dari yang Sakura bayangkan.
Tanpa buang banyak waktu, Sakura segera mengambil salah satu raket dari Gaara. Dan ia berlari mengambil posisi di bagian lapangan di seberang Gaara. Awalnya permainan mereka terkesan biasa saja, tapi lama-lama permainan itu berubah menjadi serius dan sangat seru. Sakura ternyata cukup hebat dalam bermain badminton, membuat Gaara sedikit kewalahan.
Sudah setengah jam mereka bermain, dan saat ini Gaara masih memimpin dengan skor 15-13. Tampaknya keduanya benar-benar tidak mau kalah. Namun ditengah permainan, pukulan Sakura sedikit melenceng membuat cock yang dipukulnya melambung jauh keluar dari lapangan.
"Ukh, maaf Gaara. Tunggu sebentar ya, kuambil dulu," kata Sakura. Lalu tanpa menunggu jawaban dari Gaara, Sakura segera melesat keluar lapangan.
Sakura hampir saja menyerah, saat ujung matanya menangkap keberadaan cock itu. Ternyata benda putih itu sekarang tengah bertengger manis di dahan pohon beech. Tepatnya di dahan teratas pohon beech.
Dengan segala umpatan dan rutukan Sakura mulai memanjat pohon itu. Dahannya agak lembab, membuat Sakura agak kesulitan menjejakan kakinya di antara dahan dan daun. Sudah berkali-kali Sakura nyaris jatuh terpeleset. Dan sepertinya dewi Fortune benar-benar tidak mau berteman dengannya.
Karena saat ujung jarinya sudah menyentuh benda putih itu, suara dingin yang sudah sangat dia kenal mengaggetkannya. "HOI Pinkie, sedang apa kau di atas sana?"
Segera saja Sakura kehilangan keseimbangannya, karena ia benar-benar tidak menyangka akan mendengar suara itu. Diiringin dengan jeritan tertahannya, Sakura merasakan gravitasi menarik tubuhnya agar membentur permukaan bumi. Dengan cepat ia menutup matanya, berharap rasa sakit yang akan dirasakannya tidak seburuk yang ada dipikirannya.
BRUKK!
Suara benda solid beradu dengan benda solid lainnya menimbulkan suara derak yang mengerikan. Bahkan mendengarnya saja bisa membuat ngilu.
'Eh, kok tidak sakit,' batin Sakura bingung. Segera ia buka matanya, dan yang pertama kali ia lihat adalah sepasang mata Onyx yang balik menatapnya. Mata Onyx yang sangat ia kenal, yang biasanya terlihat dingin dan menyebalkan. Namun kali ini berbeda, mata itu terlihat lembut dan sinar mata itu memancarkan rasa lega yang amat sangat. Membuat Sakura merasa nyaman melihatnya.
Tapi itu hanya sekejap karena kedipan berikutnya, mata itu kembali terlihat seperti sediakala. Kembali dingin dan menyebalkan.
"Hei, mau sampai kapan kau begini?" ujarnya datar.
Namun Sakura yang ditanya tidak merespon sama sekali. Sepertinya ia masih terkejut dengan kejadian yang terjadi beberapa menit lalu. Emerald nya masih mengerjap-ngejap bingung. Dan Sakura baru tersadar saat dirasakannya tangan Sasuke mengelus kepalanya lembut.
"Hei Sakura, ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya Sasuke, entah kenapa nadanya terdengar lebih lembut dari biasanya.
"A-aku.." Sakura tidak sanggup berkata, ia masih shock dan bingung, dan juga ia merasa malu sekali. Bagaimana tidak? Mukanya dengan Sasuke saat ini hanya terpisahkan oleh jarak sekitar sepuluh centi. Dan tanpa ia sadari pipinya mulai bersemu sendiri.
"SAKURA!" suara pemuda lain seketika menyadarkan Sakura sepenuhnya dari trans singkatnya. Dengan cepat Sakura mengangkat tubuhnya dari atas Sasuke, wajahnya sudah lebih merah dari buah ceri yang matang. Sementara Sasuke masih dalam posisinya semula, wajahnya sedikit memerah dan bulir-bulir keringat membasahi pelipis dan pipinya.
Tapi ekspresinya berbeda dengan Sakura, kalau Sakura terlihat malu, maka Sasuke sebaliknya. Sasuke terlihat sedang menahan sakit yang amat sangat. Sontak Sakura yang melihatnya merasa panik, dengan cepat ia membantu Sasuke duduk.
"Hei, Sasuke. Apa kau tidak apa-apa?" tanya Sakura.
"T-tid- AARRGH!" Sasuke kembali terjatuh ke tanah sambil mengerang kesakitan. Membuat tingkat kekhawatiran Sakura meningkat. Tanpa sadar bulir-bulir air mata menggenang di pelupuk mata Sakura, membuat Emerald nya semain berkilau.
"H-hei kau kena –Hiks– kenapa?" kata Sakura mulai terisak. Dan isakanya semakin menjadi saat dilihatnya tangan kiri Sasuke menggantung janggal di sisi tubuhnya.
Sasuke yang melihat istrinya menangis hanya bisa mendengus, namun dengusnya kembali berubah jadi erangan saat tangannya yang dirasakannya patah itu mulai nyut-nyutan hebat. Dan itulah yang membuat kepanikan Sakura semakin menjadi.
"Hei Gaara, kenapa hanya menonton. Ayo bantu aku!" pekik Sakura pada Gaara yang sedari tadi keberadaannya dilupakan oleh Sakura karena terlalu sibuk dengan Sasuke.
"B-baiklah," kata Gaara, terlihat agak ogah-ogahan. Namun dengan sigap dibantunya Sasuke berdiri dan dipapahnya pemuda itu menuju kamarnya sendiri.
Sementara itu Sakura mengikuti dari belakang dengan isakan kecilnya. Air mata sudah tidak lagi mengalir, hanya saja kekhawatiran masih terpati jelas disana. Tangannya agak sedikit bergetar saat membantu membukakan pintu kamar Sasuke.
Dengan perlahan Gaara membaringkan Sasuke ke atas ranjang, lalu dia menyuruh Sakura memanggilkan pelayan dan dokter. Semua itu dipatuhi Sakura tanpa sadar, karena gadis itu tidak menjawab tapi langsung melesat keluar kamar.
Ia datang lima menit kemudian, tapi hanya seorang diri. Membuat Gaara sedikit bingung.
"Hei, dimana Dok – "
"Mereka akan datang sebentar lagi," ucap Sakura sekenannya, matanya tidak lepas dari Sasuke yang saat ini sedang terbaring menahan sakit.
Gaara yang melihatnya hanya bisa tertegun, ia sebenarnya penasaran dengan hubungan kedua orang ini. Entah kenapa hubungan mereka terlihat sangat unik, karena ada saat dimana mereka selalu bertengkar dan ada kalanya dimana mereka terlihat saling mengkhawatirkan satu sama lain. Dan itu semua terkadang membuat Gaara diliputi api cemburu, seperti saat ini.
Akhirnya karena tidak tahan dengan semua perhatian yang menguar di sekitar pasangan ini, Gaara memilih untuk keluar saja. "Err, Sakura, maaf aku tidak bisa menemanimu. Tapi aku ada urusan mendesak saat ini,"
"Oh, tidak apa-apa, kau boleh pergi. Terima kasih sudah membantu," kata Sakura, tapi pandangannya belum beralih dari Sasuke. Dan itu membuat Gaara semakin panas, akhirnya ia pergi tanpa sepetah kata lain lagi.
Kepergian Gaara meninggalkan kecanggungan diantara Sakura dan Sasuke, keheningan menyelimuti ruangan. Dan itu membuat Sakura jenuh dan tidak bisa berpikir jernih. Akhirnya karena tidak tahan lagi, Sakura nekat membuka percakapan.
"Err, Sasuke. Ma– " kata-kata Sakura terputus saat didengarnya suara Sasuke memotongnya.
"Kau berat sekali!"
Deg! 'Apa tadi? Berat! BERAT!' batin Sakura geram. Segera ditarik kembali semua permintaan maaf yang sudah hampir terlontar dari mulutnya.
"Kusarankan kau untuk berdiet," kata Sasuke lagi, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Hrrgh, ka– " kata-kata Sakura sekali lagi terputus saat tiba-tiba pintu kamar Sasuke terbuka dengan sedikit kasar, kemudian disambung dengan pekikan panik.
"Sasuke, anakku! Apa kau tidak apa-apa Nak?" suara Mikoto melengking tinggi, memenuhi seisi kamar.
"Ti-tidak apa, Bu. Hanya patah tulang dan keseleo, akan sembuh dalam waktu tiga minggu." Kata Sasuke datar. Membuat Mikoto bertambah cemas.
"Sebenarnya ada apa, kenapa bisa jadi begini?" tanya Mikoto lagi, namun kali ini kepada Sakura.
Sakura yang ditanya geragapan, ia bingung mau menjawab bagaimana, namun akhirnya ia memilih untuk jujur saja. "Err– sebenarnya tadi Sasuke menyelamatkanku saat aku terjatuh dari atas pohon beech," ujar Sakura taku-takut.
"Lalu bagaimana ceritanya sampai kau bisa jatuh dari atas pohon?" tanya Mikoto lagi, kalau ini diiringi tatapan tidak suka pada Sakura.
"Eh, a-aku tadi memanjatnya untuk mengambil cock yang tersangkut disana," ucap Sakura semakin gugup dan takut.
"Bagaimana bisa kau sebodoh itu Sakura! kenapa kau tidak minta tolong pada pelayan saja? Hah?" kata Mikoto kasar kepada Sakura, mukanya sudah berubah sangat dingin. "Apa kau tahu bahwa yang kau lakukan ini bisa berakibat lebih buruk lagi? Oh Sakura, bisakah untuk sekali saja kau tidak membuat keributan? Baru minggu lalu kau memecahkan peninggalan kerajaan dengan bola tennis mu!" Lanjut Mikoto dengan nada yang naik satu oktaf, membuat Sakura yang mendengarnya gemetar ketakutan.
"Ma-maaf, aku janji tidak akan membuat masalah lagi," ucap Sakura lirih.
Mikoto hanya memandang Sakura dingin, ia tidak habis pikir bagaimana bisa gadis semanis Sakura bisa membuat banyak masalah. Tapi sayangnya ia hanya bisa menghela nafas berat, "Huh, baiklah aku pegang janjimu. Dan kau Sasuke, kau juga harus lebih banyak istirahat agar tanganmu cepat sembuh," Lalu Mikoto berjalan menuju pintu berniat meniggalkan kamar Sasuke, meningglkan Sakura dan Sasuke.
Tapi sebelum ia sempat memutar kenop pintu, suara dingin Sasuke menghentikannya. "Tunggu ibu, ada yang ingin kubicarakan denganmu." Mendengar itu, Mikoto kembali membalikan badannya.
"Sudah kukatakan berulang kali, untuk tidak memanggilku ibu. Pangeran tidak diperkenankan memanggil Ratunya dengan panggilan Ibu. Ibu itu sebutan untuk Ibu Suri," kata Mikoto tegas, namun wajahnya sudah melembut.
"Maaf, aku lupa. Dan Sakura, bisakah kau tinggalkan kami berdua?" Kata Sasuke nadanya masih seperti sebelumnya, tapi wajahnya berubah lebih keruh.
"B-baiklah," dan setelah itu Sakura langsung berjalan keluar ruangan, nyaris berlari.
"Nah, sekarang apa yang mau kau bicarakan?" tanya Mikoto pada Sasuke.
"Aku ingin kau memaafkan Sakura, semua ini bukan kesalahannya,"
"Aku tidak membencinya, aku hanya putus asa dengan sifat cerobohnya," ujar Mikoto.
"Dia tidak akan ceroboh jika saja aku tidak mengaggetkannya, jadi kumohon jangan marah padanya. Kesalahan-kesalahannya yang sebelumnya, itu mungkin karena ia belum terbiasa tinggal di Istana,"
"Baiklah, baiklah. Aku akan memaafkannya jika itu maumu. Dan kuharap dia tidak akan melakukan hal-hal aneh lagi,"
"Aku akan menjaminnya, terima kasih kau mau memaafkannya,"
"Apa masih ada lagi yang mau kau bicarakan denganku? Kalau tidak, lebih baik kau istirahat,"
"Tidak, terima kasih atas waktumu,"
"Baiklah aku pergi, akan kupanggilkan Sakura untuk menemanimu. Istirahatlah," dan setelah itu Mikoto berjalan meninggalkan Sasuke. Tujuannya selanjutnya adalah ruangan Ibu Suri, ia harus membicarakan perihal kecelakaan Sasuke.
.
"Ukh, aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi keadaan tidak memungkinkan bagi mereka untuk melakukannya, jadi lebih baik kita undur saja waktu pelaksanaannya," suara ibu suri memenuhi ruang keluarga Istana. Suaranya terdengar tidak bersemangat saat mengatakannya.
"Aku setuju, lagipula mereka masih sangat muda. Masih banyak waktu dan kesempatan," suara Mikoto menyahut, namun nada suaranya terdengar berbeda dengan ibu suri. Suara itu menggambarkan kelegaan.
"Sudahlah, Bu. Mungkin kami-sama tidak mengizinkan mereka melakukannya saat ini." suara Fugaku yang berat juga ikut ambil suara disana.
.
Sekitar sepuluh menit setelah kepergian Ratu dari kamar Sasuke, rombongan dokter yang dipanggil Sakura datang. Dan itu benar-benar membuat Sakura jengkel karena ia sudah sangat bosan menunggu mereka, apalagi Sasuke dari tadi diam saja.
Tapi rasa jengkel Sakura segera terhapus saat melihat cara rombongan itu bekerja. Mereka bekerja sangat sigap dan profesional, sehingga tidak sampai setengah jam tangan Sasuke sudah selesai diobati. Saat ini tangan tersebut sudah di gips dan dibebat kuat oleh kain putih bersih.
"Secara keseluruhan Anda baik-baik saja tuan, hanya saja tangan Anda mengalami patah tulang pada pergelangannya," kata salah satu perawat, sambil menuliskan sesuatu di papan yang ada dipelukannya.
"Oh, kalau begitu berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai tanganku sembuh sepenuhnya?" tanya Sasuke pada perawat itu.
"Kira-kira dua sampai tiga minggu,"
"Apa? Lama sekali!" kata Sasuke panik, bayangan akan dirinya yang pergi kemana-mana dengan satu tangan yang tidak bisa berfungsi secara optimal sangat mengerikan.
"Maafkan kami, tapi jika anda mau berusaha lebih keras, waktu penyembuhan juga bisa lebih cepat,"
"Huuufft, baiklah kalian boleh pergi sekarang," dan setelah mendengar itu, rombongan yang mengobati Sasuke segera keluar tanpa berkata apapun lagi. Meninggalkan Sakura dan Sasuke berdua.
"Err.. Sasuke, itu..."
"Apa?" bentak Sasuke sambil melirik sebal kearah Sakura.
"A-anu.. kau kan akan pergi ke Bali sepuluh hari lagi," ujar Sakura takut-takut.
Sasuke tidak merespon sama sekali, ia hanya menatap Sakura dengan mata yang menerawang. Cukup lama Sasuke seperti itu, sampai tiba-tiba matanya membelalak. Semakin lama semakin lebar, dan mulutnya ikut menganga. Lalu pekikan panik keluar dari mulutnya.
"A-APA?"
***TBC***
Note:
Akhirnya selesai juga chapter enam ini, huufffft! Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena keterlambatan yang sangat teramat lama. Itu semua karena guru-guru disekolah kami punya satu kata yang sama dalam kamus mereka, 'Tiada hari tanpa tugas dan test!' ngertikan maksud kami? Yak, kami terpaksa hiatus sementara dari pembuatan fic ini. Bahkan kami nyaris gak punya waktu luang sama sekali, karena semua waktu tersita untuk belajar dan menyelesaikan tugas.
Saran dari kami : Kami akan sangat berterima kasih kepada siapapun yang bersedia menghancurkan sekolah kami berserta seluruh stafnya, seperti kata teman kami NVNBM, mumpung lagi Vacum of Power gara-gara pergantian kepala sekolah! *dibacok pak TJ dan bu Erna*(Abaikan kalau sangat mengganggu -.-V)
Dan juga kami minta maaf kalau mengecewakan kalian dengan banyaknya Typo yang bertebaran, juga keanehan dan kegajean cerita ini. Oleh karena itu kami minta kritik dan saran dari kalian semua para readers yang baik hati *tingting
Replays for review:
Matsumoto Rika : makasih atas pujiannya. Sepertinya ayah kami harus mengeluarkan uang banyak untuk benerin genteng yang bolong karena kami terbang waktu baca pujian ini. hahahaha. Ini dia chap enam datang.
halspen1-24: hahaha, maaf ya first nightnya bukan di chap ini. Kira-kira baru dua chap lagi sampai ada first nightnya, gomen ne. Tetep baca cerita kami ya! Hehehe
via-princezz dan 4ntk4-ch4n: Rasanya saya juga pengen jitak sasu karena hal itu. hmmmm, honey moon di bali? Nanti kami pertimbangkan deh. Tapi tampaknya menarik.
Namikaze Sakura: iya mereka pasti bakalan first night, tapi mungkin baru dua chap lagi sampai ada scene itu. hehehe ^.^V kami usahakan supaya gak terlalu mirip deh, hehehe.
7color : setelah kami tanya, katanya rasanya kayak minumjus tomat(?) hehehe, makasih atas reviewnya. Ini chap enam datang!
sasu saku, ss cholich, siva chan, uharu, me, princess 2, aina, sasura, sican, tagu, eun, Kazuma b'tomat, Hikari Shinju, laluna, priska, lulu, nisya, asiva, Just Ana, lawranakaido, nisa uciha, uciharuno, kororo, yulisha : ini dia Chap enam! Maaf kalau lama banget baru diupdate, kalau masih gondok sama author silahkan ikutin saran author diatas biar kami bisa cepet update. Hehe -.-V
BIG THANKS FOR YOU!
.
.
.
.
OKE! REVIEW PLEASE!
