Hallo, setelah sekian lama cuti alias semi Hiatus gara-gara Sekolah, akhirnya bisa update juga.. Maaf yah readers pasti udah pada lumutan nungguin nih cerita gak update *DIHAJAR PARA READERS.. Hehehehe, pis and lop yah..

Okelah ga usah banyak bacot lagi, langsung aja ke ceritanya.. Happy Reading!

Reply for reviews:

vvvv : wahduh Saku sm Gaara aja yang ke Bali? nanti saya digaplok sama Sasu nih gara-gara istrinya pergi berdua sama Gaara, khekhekhe :P

Maya : First night tenang aja ga bakal dinaikin kok, kan kami masih alim dan polos *PLAAAKK.. Okelah, pokoknya tenang aj, surprise deh.

Hikari Shinju : Iya emang agak lemot dikit, modemnya kurang bagus, hahaha *dideathglare SasuSaku

princess2 : oke Sasu sm Saku ke Bali, permintaan diterima *prokprokprok XD

latu u : wahduh, tar jadi suami yang complex dund? Sasu tar dikerangkeng aj deh biar ga deket2 Gaara, hehehe

kororo : iya emang ga mirip banget sm Goong, tar kalo copas banget jadi aneh dan malah jelek, hahaha

cherryblossoms sasuke gx login : wahduh, Rate M? Hmmm, gimana yah.. Hehehe, maaf yah soalnya kami masih anak2, dan sepertinya ga berminat ke sana sih sebenernya, hehe.. Jadi sori banget yah, bangeeeeet sori

7color : Hehehehe, sama kami juga cemburu berat.. Yang masalah itu soalnya Sasu ga mungkin teriak di depan ibunya kan, terus dia mikir paling itu baru perkiraan ibunya tapi kan belum pasti sama dokter, nah pas dia tau ternyata dokter jg ngomong kayak gitu makanya dia stress.. Hehehehe, oke keep reading!

Thanks juga buat:

TaroChiha, .crane, Matsumoto Rika, ss holic, kahoko, laluna, siva chan, ashiva, eun, minashan, Uchiha ShiniMouri, me, yuki aiko, Zhie Hikaruno-chan, robusa, sasusaku, cika s, Sky pea-chan, Nanairo Zoacha, 4ntk4-ch4n, eun y, vivi u, Akira Hikaru, Apriiliiaa, dua bintang.

Makasih banyak sebanyak-banyaknya buat reviewnya

The days of the Princess

.

Disclaimer tokoh: Masashi Kishimoto

Disclaimer cerita: UCHIHA

WARNING!: gaje, AU, aneh, OOC, OC, dll.

Rate : T

Pairing: Sasuke X Sakura

~My Decision~

Setelah insiden Sakura-jatuh-dari-pohon-dan-menimpa-Sasuke-dengan-sangat-so-sweet, seluruh warga istana tentu saja membicarakan kejadian itu dan bahkan sempat menjadi trending topic. Apalagi saat kejadian ada beberapa pelayan yang melihat kejadian itu dari jauh, dan posisi Sakura dan Sasuke yang sangat dekat dapat membuat siapapun yang melihatnya dari jauh berpikiran negativ. Gaara yang melihatnya dari dekat saja sudah jealous, bagaimana mereka yang melihatnya dari jauh? Pasti 'waw!' yang ada di pikirannya.

Semua orang juga sangat prihatin dengan Putra Mahkota mereka, membuat Sasuke dilayani layaknya penguasa dunia –well, itu agak errr, lebay – namun hal itu anehnya tidak mengurangi kepanikan Sasuke sedikitpun, ia terus saja berusaha agar bisa sembuh secepatnya.

Mana mau dia menyia-nyiakan kesempatan pergi keluar negeri dan menjauhi istana, apalagi tempat yang dituju Bali. Sudah terbayang oleh Sasuke aroma laut dan halusnya pasir putih yang menelusup disela-sela jari kakinya. Belum lagi beberapa tempat wisata yang memberikan pemandangan yang sangat mengaggumkan. Dan juga Bali merupakan tempat yang bagus untuk berburu sunset dan sunrise, terutama untuk dia yang pecinta seni.

"Sebaiknya putra mahkota digantikan saja, mungkin Ratu atau aku saja yang pergi," tutur Ibu Suri yang sekarang sedang duduk di kamar Sasuke bersama Raja, Ratu, dan Sakura.

"Sudah berapa kali kubilang? Tidak perlu mencari pengganti, aku bisa melakukannya," jawab Sasuke yang kini tengah berbaring ditempat tidur berukuran King Size-nya. Kamarnya yang biasanya rapi dan tertata sekarang terlihat agak berantakan dengan beberapa botol obat dan kain perban putih, sangat kontras dengan kamarnya yang ber-cat biru tua gelap.

Mendengar jawaban dari Sasuke, semua orang yang ada di kamar itu hanya bisa menghela nafas berat. Mereka semua tidak habis pikir, bagaimana bisa Sasuke sekeras kepala ini. Apa ia tidak tahu bahwa kondisinya yang belum pulih sama sekali bisa membahayakan dirinya?

Apalagi baru-baru ini Dokter mengatakan bahwa Sasuke tidak hanya mengalami patah tulang tapi juga mengalami benturan yang cukup kuat di kepalanya. Entah dari mana hasil itu berasal, tapi semua orang istana tidak mau ambil rugi dengan mengaggap sepele hal itu.

Sakura juga selalu terlihat gusar sekali belakangan ini. Ia tidak bisa menghapus rasa bersalahnya, bagaimanapun juga yang menyebabkan Sasuke seperti ini adalah kecerbohannya, jika saja dia tidak bersikap terlalu tomboy dan sembrono. 'Harusnya aku menyuruh orang lain saja untuk mengambilnya,' batin Sakura sedih, berulang-ulang kali.

"Haaah..baiklah kalau itu maumu putra mahkota, kami akan berusaha mencari pengobatan terbaik agar kau cepat pulih, tapi tolong jangan memaksakan dirimu," Ibu Suri yang tadi diam cukup lama akhirnya angkat bicara, suaranya terdengar sangat muram dan sedih.

"Sekarang kau istirahat saja dulu agar kau bisa cepat pulih," ujar Mikoto sang ratu. Sasuke hanya mengagguk dan memperbaiki posisi berbaringnya agar lebih nyaman.

Melihat Sasuke yang hendak beristirahat, mereka semua beranjak pergi dari kamar Sasuke. Tapi baru saja mereka berjalan beberapa langkah, suara berat dan dingin Sasuke kembali terdengar.

"Tunggu, aku ingin bicara denganmu sebentar, Jidat Pink,"

Walau disana tidak ada yang bernama Jidat apalagi Pink, tapi mereka tahu siapa yang dimaksud oleh Sasuke. Entah kenapa, sudah jadi rahasia umum bahwa pasangan ini memiliki panggilan khusus untuk pasangan masing-masing.

Mendengar panggilan 'Sayang'-nya dari Sasuke, Sakura menghentikan langkahnya dan membalikan badan. Kemudian ia berjalan kearah Sasuke, sementara yang lain meneruskan langkahnya keluar dari kamar Sasuke.

Dengan perlahan Sakura duduk di pinggir ranjang Sasuke. Pandangannya jatuh kearah tangan Sasuke yang terbalut kain putih, membuat air mata yang sedari tadi ditahannya kembali merebak. Akhir-akhir ini Sakura memang sering menangis.

"Sudahlah Jidat, tidak usah begitu. Ini bukan sepenuhnya salahmu kok," ujar Sasuke datar, berusaha menenangkan sakura untuk yang kesekian kalinya. Ia sudah bosan menenangkan si Pink satu ini yang setiap kali melihat tangannya selalu saja seperti orang ingin menangis.

"Bagaimana bisa kau tenang dalam keadaan seperti ini? Hiks," tanggap sakura setengah berteriak, lalu ia mulai terisak.

"Kau ini seperti anak kecil saja. Kalau tenang saja otakmu loadingnya lama sekali, bagaimana saat panik? Pasti akan berhenti berpikir," ledek sasuke pada Sakura yang masih menangis, tangan kananya ia gerakan untuk mengacak-ngacak rambut soft pink milik Sakura.

"DASAR KAU BAKA!" teriak sakura yang sudah mulai berhenti menangis, segera dijauhkannya kepalanya dari tangan Sasuke. Membuat sang empunya tangan tersenyum geli.

"Aaaa, seorang istri yang baik tidak akan meneriaki suaminya yang sedang sakit, Jidat," Sasuke mengatakannya sambil tersenyum menggoda, membuat Sakura merinding.

"Kau...! aku keluar saja sekarang!"

BLAMM!

.

.

Seperti janji Ibu Suri kemarin. Beberapa dokter handal yang terkenal di Jepang datang untuk mengobati sasuke. Hampir setiap hari Sasuke diperiksa oleh dokter yang berbeda, dan hampir setiap hari ia diberikan resep obat yang berbeda pula.

Itulah yang menyebabkan Sasuke harus minum beberapa obat antibiotik, pengurang rasa sakit, dan vitamin untuk tulang. Belum lagi, ia juga harus menjalani beberapa terapi agar tangannya bisa kembali normal dan dapat ia gunakan.

Dari semua hal yang menyebalkan itu, yang paling membuat Sasuke uring-uringan adalah ia tidak diizinkan pergi ke sekolah atau menyentuh alat musiknya sama sekali. Dan itu cukup membuat Sasuke jadi lebih emosian dari biasanya.

Satu-satunya hal yang mampu membuat mood Sasuke membaik hanyalah saat ia sedang menjahili Sakura, oleh karena itulah Sakura juga sering terlihat uring-uringan.

.

Sakura POV

Ukh, rasanya sangat tidak enak jika pergi ke sekolah sendirian seperti ini. Paman Kakashi bukanlah teman bercerita yang baik – itu bukan berarti aku berpikir bahwa Sasuke baik. Setidaknya Sasuke masih menanggapi ceritaku, tidak seperti paman Kakashi yang hanya menggumamkan jawaban tidak jelas.

"Selamat pagi Paman Kakashi, hari ini kita hanya berangka berdua lagi ya. Kemarin kutanyakan pada dokter, katanya Sasuke belum boleh ke sekolah untuk beberapa hari kedepan, sayang sekali ya?" suara Sakura yang nyaring memecah ketenangan pagi.

"Hn, ya. Apa kita berangkat sekarang nona?" gumam Kakashi dari balik maskernya.

"Ah, ya. Ayo kita berangkat agar tidak terlambat!"

End of Sakura POV

.

"Ah, ya. Ayo kita berangkat agar tidak terlambat!" ujar Sakura, lalu dengan agak cepat dari yang seharusnya, Sakura melompat masuk ke dalam mobil.

Dan keluarlah sebuah Limousin hitam yang membawa Sakura dan Kakashi ke sekolah. Perjalanan selama dua puluh menit itu hanya diisi oleh suara Sakura yang menyenandungkan bait pertama lagu 'Remember'

"Will you remember our sweet moments, and cherished them the way i do, how we spent our special moment together, how we used to share it all..."

"Kita sudah sampai sekolah, Nona," suara berat Kakashi yang terdengar bosan memotong senandung Sakura.

"Benarkah? Ah aku turun kalau begitu, terima kasih paman Kakashi."

"Sama-sama, Nona. Hati-hati."

Yang pertama kali Sakura rasakan saat tubuhnya sudah keluar sepenuhnya dari mobil adalah terpaan angin musim gugur yang membuat bulu kuduknya meremang. "Oh, sial! Aku lupa bawa jaket."

"Sakura!" suara yang sangat ia kenal tiba-tiba menerobos gendang telinganya, lalu seseorang – tidak, tiga orang menubruknya dari belakang.

"Ukh, ya ampun. Kalian bisa membunuhku kalau begini, kalian tahu?"

"Oh, maafkan atas kelancangan kami tuan putri," suara bijaksana Karin menyeruak dengan nyaring dari arah kanan Sakura.

Sakura sontak mengernyitkan mukanya mendengar nada bicara Karin dan panggilan Karin terhadap dirinya. "Berhenti menyebutku seperti itu, terdengar sangat mengganggu bagiku, mata empat!"

"Hati-hati, Putli Sakula sedang dalam mood yang tidak baik. Lihat saja wajahnya yang sudah sepelti nenek-nenek dalah tinggi," sekarang suara cadel Tenten yang mulai merusak gendang telinganya. Entah kenapa teman-temannya ini senang sekali berteriak-teriak akhir-akhir ini.

"Oh ayolah, berhenti memanggilku Putri. Aku muak dengan sebutan itu,"

"Baiklah, baiklah. Hei, kudengar Sasuke patah tulang, benarkah itu?" tanya Hinata, berbicara untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu tadi.

"Dan kudengar, kau yang menyebabkannya, Pink. Apa yang kau lakukan padanya?" sekarang suara Karin sudah kembali normal, nyaring dan berisik.

"Hn, begitulah. Semua itu benar," kata Sakura, tiba-tiba kembali lemas.

"Wah Pink, kenapa lesu begitu? Kecewa tidak bisa melakukan 'itu' dengannya?" sekarang Tenten mulai berkata ngawur, namun mampu menghadirkan semburat merah parah dimuka Karin dan Hinata.

"Kau, aku tidak menyangka kau se-mesum itu, Panda. Sudahlah, aku mau masuk saja," setelah mengatakan itu, Sakura segera melenggos kearah pintu sekolah.

"Oh ayolah Sakura, jangan marah. Kami kan hanya bercanda, hei Sakura?" sekarang suara Karin kembali terdengar, lebih kencang dari sebelumnya. Untung saja Sakura sudah berada lebih dari dua meter di depan mereka.

Sakura tidak marah, bagaimana mungkin ia marah hanya karena hal sepele seperti itu. Ia hanya sudah tidak kuat lagi menahan dinginnya angin musim gugur yang kadang hampir menyerupai musim dingin. Mereka sih enak memakai jaket tebal, sedangkan dia? Hanya seragam sekolah, tanpa tambahan apapun selain tag name di dada kirinya.

"Sakula, tunggu kami. Hei, Jidat!" Nah, inilah yang mungkin mampu membangkitkan emosi Sakura. Sudah hari ini ia kedinginan, dan barusan Tenten memanggilnya Jidat?

"Sudah kubilang jangan memanggilku Jidat, PANDA!" teriak Sakura emosi, sekarang ia sudah sampai di depan pintu sekolah. Satu langkah lagi maka ia akan bisa menghangatkan diri di pemanas sekolah, tapi kata-kata Tenten barusan sukses menghentikan langkahnya.

"Tuh kan, sudah kubilang dia tidak malah. Belikan lima yen mu padaku!" suara Tenten terdengar lagi, namun kali ini bukan untuk Sakura melainkan Karin yang sudah menekuk mukanya sambil merogoh saku roknya.

"Ini, huh! Awas kau, lain kali aku tidak akan kalah,"

ZIIIIITT!

Hinata mengernyit melihat ekspresi Sakura yang sangat lain dari biasanya, 'OOPS! Sepertinya Tuan Putri kita yang satu ini benar-benar akan meledak, tunggu saja..satu...dua...ti–'

"TENTEN! KARIN! SEENAKNYA SAJA KALIAN MENJADIKAN AKU BAHAN TARUHAN! KALIAN, AWAS SAJA KALI AKAN KU – " belum juga Hinata selesai menghitung sampai tiga, teriakan Sakura yang sangat 'WOW!' menggelegar sampai ke lapangan di belakang mereka.

Tapi belum juga Sakura menyelesaikan ancamannya pada Karin dan Tenten, suara lain yang tak kalah menggelegarnya menyahut dari belakang Sakura. "HARUNO! APA YANG KAU LAKUKAN? BERTERIAK-TERIAK SEPERTI ORANG GILA, HAH?"

"E-eh?"Sakura hanya bisa tergagap bingung.

"DAN APA ITU? SUDAH BERAPA KALI KUBILANG PADAMU, SEPATU KETS TIDAK DIIZINKAN UNTUK SISWI KECUALI SAAT OLAHRAGAAAAAAAA!"

'Glek! Matilah aku, oh Kami-sama!' batin Sakura pasrah sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangan mungilnya, menghalau suara ber-frekuensi tinggi yang mungkin mampu merusak gendang telinganya.

Ditolehkannya dengan perlahan kepala merah jambunya. Benar saja, seperti yang ada di benaknya selama beberapa detik belakangan ini. Guru Ebisu sudah ada satu meter di belakang dirinya, mengacung-acungkan penggaris kayunya.

"E-eh, a-aku..in-ini.." Sakura tidak tahu apa yang harus ia ucapkan, jadi dia lebih memilih menunduk dalam-dalam. Tundukannya semakin dalam saat dilihatnya beberapa murid yang ada di lapangan dan koridor dalam sedang memperhatikannya dengan tertarik, beberapa bahkan sambil cekikikan.

"Dan kalian bertiga, kenapa masih diluar? Sebentar lagi bel, cepatlah masuk!" ucap Guru Ebisu lagi, kali ini bukan pada Sakura melainkan ketiga teman Sakura.

"Ba-baiklah, Sakura kami kedalam dulu ya."

Setelah mengatakan itu, mereka bertiga segera berjalan melewati Sakura dan masuk kedalam sekolah. Langkah mereka terlihat sangat canggung dan penuh rasa bersalah. Terutama Karin dan Tenten yang terlihat seperti ingin sujud minta ampun pada Sakura. Bagaimanapun mereka berdualah yang membuat Sakura kena masalah sekarang.

"Dan kau, Haruno," lanjut Guru Ebisu sambil menunjuk Sakura dengan penggarisnya."Kau kena detensi, bersihkan kantorku saat makan siang,"

Glek–Lagi.

'Yang benar saja, dia sudah gila? Makan siang? Aku harus mengorbankan jam makan siangku hanya untuk detensi konyol itu?" batin Sakura frustasi.

Yang benar saja Sakura mau mengorbankan salah satu momen favoritnya disekolah. "Apakah tidak bisa saat pulang sekolah saja?"

"Tidak, hari ini aku ada di sekolah hanya sampai jam ke tujuh. Pokoknya kutunggu kau saat istirahat di kantorku, bawa alat kebersihannya juga!"

"Dasar guru-gila-peraturan-tak-tahu-diri!" umpat Sakura lirih saat Guru Ebisu sudah tidak terlihat di belokan koridor menuju kelas musik tahun kesatu.

Dengan gontai Sakura berjalan memasuki gedung sekolah, ia bahkan sudah tidak merasa dingin lagi. Beberapa anak masih melihatnya dengan tertarik, kebanyakn dari mereka Sakura kenal sebagai anak kelas satu.

"Hei, dia Tuan Putri yang itu kan? Kenapa dia bisa dihukum?" suara bisikan lirih seorang anak kelas satu terdengar saat Sakura berbelok di ujung koridor menuju tangga yang mengarah ke lantai diua, lantai kelasnya.

Dengan lesu ia mulai menapaki tangga satu persatu sampai akhirnya dianak tangga paling atas ia melihat ketiga temannya sedang menuggunya di pertengahan koridor lantai dua. Tas mereka sudah tidak ada, tapi ekspresi panik mereka masih terpeta diwajah masing-masing.

"Sakura! apa kau tidak apa-apa?" suara Hinata lah yang paling pertama memecah keheningan di koridor itu.

"Apa detensi yang kau dapat?" sekarang suara Karin menyahut, tidak memberi Sakura kesempatan menjawab pertanyaan Hinata.

"Ya, apa detensinya?" tambah Tenten cepat.

"Kalian berdua, entah kenapa aku merasa kalian berdua lebih tertarik dengan detensi dibanding keadaanku. Ternyata selama ini memang hanya kau yang peduli padaku, Hinata," ujar Sakura sambil menatap Hinata penuh kekaguman, membuat yang dipandang jengah.

"Oh ayolah, kami hanya belcanda, oke? Jangan malah, kami hanya penasalan. Kau dapat detensi kan?" ujar Tenten tanpa rasa bersalah.

"Tuh kan, kau memang lebih suka melihatku menderita," ujar Sakura ketus.

"Tidak, tidak. Kami hanya penasaran, ceritakan pada kami, ya?" sekarang Karin yang berkata tanpa rasa bersalah.

"Huh, baiklah. Aku disuruh membersihkan ruangannya saat makan siang, puas kalian?"

"Waw, keleeen! Aku belum pelnah dapat detensi sebelumnya, sepertinya selu," ujar Tenten, kali ini kelewat polos.

BLETAK

"Kau ini, harusnya bersyukur tidak pernah dapat detensi, dasar," ceramah Sakura setelah sebelumnya menjitak kepala Tenten dengan sadis.

"Sudahlah kalian berdua, ayo kita kekelas. Sebentar lagi bel," ujar Hinata bijak. Memang dari ketiga orang ini, Hinatalah yang paling dewasa.

"Ah iya, apa kalian sudah mengerjakan pr dari guru Iruka?" kali ini Karin berinisiatif untuk mengganti topik yang tampaknya akan berubah jadi panas.

"TIDAAK! ARRGH, aku lupa! Bagaimana ini?" ujar Sakura panik. Ia memang lupa segala hal yang menyangkut sekolah akhir-akhir ini karena semua perhatiannya terpusat pada tangan Sasuke.

"Ka-kalau begitu, cepatlah kerjakan. Kau boleh lihat milikku," ujar Hinata mencoba menenangkan Sakura.

"Baiklah, aku pinja – "

KRINGGGGGG! KRINGGGG! KRINGGGG!

Kata-kata Sakura terpotong oleh suara bel yang nyaring, dan.. "AAARRGHH! MATILAH AKU!" pekik Sakura panik, buru-buru ia melesat kekelas, berusaha menyalin apapun yang bisa ia salin.

"HARUNOOO! SUDAH KUKATAKAN UNTUK TIDAK BERTERIAK-TERIAAAAK!" terdengar suara Guru Ebisu tepat satu lantai dibawah mereka.

"Ooops!"

.

.

KRIIINNGG! KRINNGGG!

"Oh, aku benar-benar benci ini," ucap sakura lirih, saat ini ia baru saja selesai belajar tentang sejarah para pelukis terkenal, salah satu pelajaran favoritnya. Tapi tiba-tiba satu-satunya hal yang paling ia benci kehadirannya – hanya untuk saat ini saja – terdengar.

Bel istirahat terdengar, dan ia benci itu. Ia benci harus pergi keruang Guru Ebisu, ia benci harus meninggalkan makan siangnya, ia benci hari ini.

Dengan gontai ia menapaki kakinya di lantai koridor yang membawanya menuju ruangan Guru Ebisu, setelah sebelumnya mampir dulu ke lemari sapu untuk mengambil alat bersih-bersih. Guru yang bercita-cita jadi maestro besar ini memiliki kantor yang terletak agak pojok di sayap kiri lantai satu gedung ini.

Selama perjalanan kesana Sakura harus melewati ruang-ruang kelas milik anak kelas satu yang terus menerus memandanginya dengan rasa penasaran tingkat tinggi.

"Sebentar, Haruno!" suara seorang gadis terdengar cukup keras, bergema di koridor di belakangnya.

Sakura mengangkat sebelah alisnya heran, siapa anak kelas satu yang berani memanggilnya dengan sombong seperti itu?

Karena rasa penasaran, segera Sakura membalikan tubuhnya. Dan disana tepat tiga meter didepannya berdiri segerombolan siswi kelas tiga yang dikenal Sakura sebagai fans club Sasuke.

Mengangkat sebelah alisnya lebih tinggi sebagai tanda heran, Sakura membuka mulut, "Ada apa? Ada yang bisa kubantu?" ujar Sakura sesopan mungkin, ia tidak ingin masalah ini berlanjut dan akhirnya membuat ia terlambat menjalankan detensi.

"Tidak usah sok sopan. Dasar munafik! Kami hanya mau memberimu pelajaran karena berani melukai Tuan Muda Sasuke," kata salah satu dari mereka yang berambut oranye pucat.

Sakura memutar kedua bola matanya, bosan."Ukh, kalau kalian ingin membicarakan masalah itu, lebih baik nanti saja. Aku sedang buru-buru sekarang, aku pergi dulu!" setelah mengatakan itu Sakura segera melesat meninggalkan gerombolan siswi kecentilan itu.

"Eiiits! Tidak bisa," seorang gadis lainnya yang berambut pirang – agak mirip Ino – dengan cepat menahan lengan kanan Sakura.

Sakura menghela nafas berat, sebelum kemudian angkat bicara. "Ada apa lagi, senpai?"

"Cih, kau kira kau bisa lolos semudah itu? Dasar parasit tak tahu diri!"

Oooh cukup, ini sungguh cukup untuk memancing emosi seorang Haruno Sakura. Hampir saja ia meledak saat mereka menyebutnya munafik, tapi ia segera tersadar saat tidak sengaja melihat jam dinding di salah satu kelas menunjukan bahwa ia sudah menghabiskan sepuluh menit waktu istirahatnya. Jadi mau tidak mau ia harus menelan bulat-bulat ejekan itu dan segera pergi jauh-jauh.

"Hei lihat, itu Sasori dan 'The Akatsuki!" ujar Sakura sambil menunjuk kearah belakang tiga orang genit ini. Jelas sekali dia berbohong, bahkan anak Tk pun tahu dia sedang berbohong. Bagaimana mungkin grup band yang baru saja diberitakan sedang melakukan tour keluar negeri bisa ada di sekolahan mereka.

Tapi entah apa yang ada di otak gadis-gadis centil itu, mereka malah dengan gampangnya menerima kibul-an Sakura. Dengan serentak mereka menolehkan kepala kebelakang.

Melihat ada celah untuk kabur, dengan segera Sakura segera mengambil langkah seribu. Berlari menelusuri lorong kearah satu-satunya ruangan yang ada di ujung lorong.

Sakura terus berlari dengan kecepatan penuhnya, membuatnya mendapatkan perhatian penuh dari anak-anak kelas satu yang memandangnya dengan rasa penasaran yang semakin bertambah.

Nyaris saja ia tidak tahan kalau saja ia tidak melihat pintu kantor Guru Ebisu yang berwarna cokelat gelap dengan banyak ukiran disana-sini.

Buru-buru dipercepat langkahnya menuju ruangan itu, berharap bisa menyelamatkan sisa waktu makan siangnya nanti.

"Permisi," ucap Sakura sopan, diketuknya pintu itu sekilas. Beberapa detik kemudian terdengar suara sahutan dari dalam.

"Masuk, ah Haruno. Siap untuk bersih-bersih?" ujar Guru Ebisu dengan cengirannya yang menurut Sakura sangat menyebalkan.

Sakura disuguhkan pemandangan yang sangat-tidak-mengenakan. Berak-rak buku berdebu berdiri menempel pada dinding ruangan, lalu bertumpuk-tumpuk kertas ujian yang ditaruh dengan asal di sudut kanan ruangan. Belum lagi beraneka ragam alat musik yang diletakan dengan rapih-semi-amburadul(?)di satu-satunya sudut ruangan yang masih kosong.

"Ya, aku harus mulai dari mana?" tanya Sakura, berusaha sesopan mungkin padahal dalam hatinya sedang menangis-nangis merutuki dan mengutuki sang guru.

"Kau bisa langsung membersihkan lantai ini. Dan tenang saja, kau tak perlu membersihkan rak buku dan laci-laci," ujar Guru Ebisu.

Walau sudah diberi keringanan tapi Sakura tetap saja tidak bisa menghapus rasa kesalnya. Bagaimana tidak, ruangan ini ternyata luas juga, dan lantainya – ukh, seperti sudah tidak dibersihkan selama berbulan-bulan.

Sakura mulai menyapu dengan ogah-ogahan. Ditengah kegiatannya yang dilakukannya dengan setengah hati, ia mendengar suara gurunya yang sepertinya ditunjukan padanya.

"Hei Sakura, apa benar kau membuat Uchiha Sasuke patah tulang? Apa yang kau lakukan padanya eh?"

"Hmm, begitulah," ujar Sakura sekenannya, ia bahkan tidak mau repot-repot membalik badannya yang membelakangi gurunya. 'Untuk apa sih guru gila ini ingin tahu urusanku,'

"Memang apa yang kalian lakukan malam itu sampai bisa begitu, dasar anak muda," gumam Guru Ebisu pelan namun sanggup didengar Sakura.

Sontak Sakura merasakan panas menjalari leher dan wajahnya. Apa sih yang dipikirkan guru satu ini, pikirnya gugup.

"Ma-maksud anda?" tanya Sakura gugup.

Guru Ebisu menatap Sakura dengan sok bijak. "Nasihatku, lebih baik kalian tidak usah terburu-buru. Jalan kalian masih panjang, kalian bahkan belum lulus sekolah. Nikmati masa muda kalian dulu, jangan terlalu cepat memikirkan keturunan, kalian ini."

"E-eh?"

.

.

Setelah detensinya diruangan Guru Ebisu yang dihabiskan oleh sang guru untuk mengorek kisah cintanya dengan sang pangeran, Sakura jadi merasa semakin malas untuk bertemu guru itu lagi. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Guru Ebisu yang galak itu ternyata merupakan seorang, tukang gosip?

Dan Sakura juga mulai malas 'terlihat' di sekolah, karena setiap berpapasan dengan orang yang dikenalnya, mereka selalu saja menanyakan keadaan Sasuke. Dan apabila ia terlihat sangat lesu saat menjawabnya, maka ia pasti akan digoda habis-habisan.

Belum lagi kejaran para Fans Club Sasuke, tampaknya ambisi terbesar mereka adalah membuat Sakura menderita.

Baru-baru ini Sakura harus sabar mendapati bangkunya penuh dengan lumpur yang lengket, tapi yang paling parah adalah saat ia menyadari buku sketsa kesayanganny hilang dan baru ketemu mejelang petang di tempat sampah belakang sekolah dengan banyak coretan disetiap lembar kertasnya.

Namun itu semua tidak mematahkan semangat Sakura untuk menyambangi Sasuke dikamarnya. Walau yang dilakukan Sakura di sana hanyalah hal-hal tidak penting, entah hanya sekedar mengobrol, atau mengganggu tidur Sasuke.

"Pergilah Pink, kau mengganggu tidurku!" ujar Sasuke saat Sakura –seperti kebiasaannya belakangan ini– menyambangi kamarnya dan mengganggu tidurnya.

"Aku kan hanya khawatir dengan keadaanmu," kilah Sakura, memulai perdebatan seperti biasa.

"Dengan mengoprek-oprek komputer dan membuatku sulit tidur? Kurasa tidak," ujar Sasuke setengah malas.

"Aku benar-benar khawatir kok, lagipula kau lama sekali sembuhnya," seru Sakura, berusaha membela diri.

"Tapi kau menggangguku, siapa suruh kau membuat tanganku patah seperti ini, hah?" ledek Sasuke, dan seperti yang sudah terjadi beberapa kali setelah Sasuke mengucapkan itu, mata Sakura mulai berkaca-kaca.

"Maaf kalau begitu, aku akan keluar," ujar Sakura lirih, mukanya terlihat sangat bersalah dan putus asa. Terlihat sangat manis sekaligus menyedihkan di mata Sasuke.

"Baiklah, baiklah. Kalau boleh disini sesukamu, aku mau tidur saja," Dan ya, seperti biasanya pangeran es kita ini kalah. Entah kenapa ia selalu saja tidak tahan jika melihat wajah sedih dan bersalah milik Sakura, dan biasanya itu Sakura manfaatkan untuk berlama-lama di kamar Sasuke dan mencoba segala fasiltas yang ada.

Bahkan akhir-akhir ini Sakura sering tertidur di sofa kamar Sasuke, di depan tv. Hobi favoritnya belakangan ini adalah mengutak atik tv dan komputer milik Sasuke.

Sasuke juga tampaknya berusaha sangat keras dalam pengobatannya, ia terlihat semakin sehat setiap harinya. Ada dua faktor yang sudah diketahui dengan jelas. Pertama, ia muak harus minum obat terus-menerus. Dan kedua, ia muak dengan kehadiran Sakura yang selalu mengutak-atik benda-benda di kamarnya.

Melihat keadaan Sasuke yang semakin baik entah kenapa menghadirkan atmosfir yang berbeda di Istana dan sekitarnya. Hampir setiap hari ia melihat para pelayan istana tersenyum penuh syukur. Yah, satu hal yang mereka rasakan untuk saat ini, sebentar lagi Pangeran Sasuke tidak akan uring-uringan lagi.

Sebenanya itu wajar, karena melayani Sasuke yang uring-uringan bahkan lebih merepotkan dari melayani seorang bayi. Salah sedikit, dapat hukuman. Telat sedikit, dimarahin. Selalu minta yang aneh-aneh, marah-marah tanpa sebab, dan sebagainya. Berharaplah kalian tidak bertemu dengan Sasuke yang seperti itu.

Kalian tanya tentang Sakura? Dia satu-satunya orang yang – errr, paling sering jadi sasaran sikap uring-uringan Sasuke, membuat Sakura juga ikut uring-uringan.

.

.

"Apa kita sebaiknya mengirim utusan lain saja?" tanya Mikoto – Ratu, yang masih sedikit khawatir jika putranya yang baru sembuh itu harus pergi keluar negeri sendirian.

"Mau bagaimana lagi, ia tetap bersikeras pergi, kita tidak bisa mencegahnya mengingat kekeras kepalaannya," tanggap Ibu Suri.

"Ibu Suri benar, aku yang ayahnya saja belum tentu bisa melarangnya," ujar sang Raja agak seperti dipaksakan, ia sudah tahu bahwa kekeras kepalaan anaknya itu sekuat baja, turunan dari kakeknya.

"Perlu berapa kali kukatakan pada kalian untuk tidak mengkhawatirkanku? Aku bukan anak kecil lagi, aku bisa menjaga diriku sendiri."

Sebuah suara familiar terdengar di telinga Raja, Ratu, dan Ibu Suri. Suara itu berasal dari arah pintu. Sontak mereka yang ada diruangan tersebut terdiam dan segera menolehkan kepala kearah pintu. Dan orang yang sedari tadi menjadi objek pembicaraan mereka sudah berdiri di ambang pintu, diikuti oleh sebuah kepala lain berwarna merah muda.

"Putra Mahkota, kenapa kau sudah berjalan ke sini. Keadaanmu belum pulih sepenuhnya!" Mikoto yang terlebih dahulu mengatasi kekagetannya segera menceramahi sasuke.

"Aku kan sudah bilang, aku sudah sembuh. Jadi jangan terlalu mengkhawatirkanku."

Setelah mengatakan itu Sasuke segera duduk di kursi yang tersisa, dibelakangnya Sakura mengikuti dengan canggung.

"Apakah lebih baik kau ditemani seseorang, Sasuke?" Fugaku – Sang Raja, yang berpikiran bahwa Sakura bisa membawa pengaruh baik pada kebebalan dan kedinginan Sasuke berusaha memberikan saran yang terselubung agar Sakura yang menemani Sasuke ke Bali.

"Ah, itu saran yang sangat baik Yang Mulia, dan sepertinya aku mengerti masksudmu," tutur Ibu Suri sambil melirik kearah Sakura.

"Maksud Yang Mulia dan Ibu Suri itu Sakura?" ujar Sasuke, otaknya cerdas juga langsung mengerti maksud dari dari dua orang tua itu. "Kalau begitu, aku menolak."

"Eh, kenapa?" ujar Sakura spontan.

"Hn, yang kau lakukan hanya menggangguku saja, Pink," ujar Sasuke datar.

"Apa – aku tidak! Yang ada, kaulah yang menggangguku," bantah Sakura tidak mau kalah.

"Oh ya?" dengan cepat Sasuke memberikan dekopin pada Sakura, "Siapa yang selama ini mengutak-atik tv dan komputerku seperti orang kurang kerjaan? Siapa yang selama ini selalu begadang di kamarku hanya untuk menonton drama membosankan dan mengganggu tidurku?"

"AWW! Lagipula aku kan hanya penasaran, tidak ada salahnya aku memuaskan rasa penasaranku. Huh!" ujar Sakura sambil mengelus-elus jidatnya yang perih. "Jangan seenaknya menyentil orang dengan tenaga sekuat itu, dasar Ayam Gila! Pasti akan ada bekasnya,"

"Benarkah, mana, coba kulihat bekasnya?" ucap Sasuke, lalu dengan cepat menarik muka Sakura mendekat.

"WAAAAAA! Hei, apa yang kaulakukan Ayam?" kata Sakura panik.

"Melihat bekas lukamu, Pink," ucap Sasuke inoncent, lalu ia kembali menarik kepala Sakura mendekat, menyisakan jarak sekitar lima centi, bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan.

"Tapi ini terlalu dekat tahu!" ujar Sakura panik, wajahnya sekarang sudah merona sangat merah.

"Ehem!" suara deheman yang terdengar sangat dibuat-buat mampu membuat Sasuke melepaskan kepala Sakura dari cengkramannya. Dan secepat kilat Sakura menarik kepalanya menjauh dari muka Sasuke.

Sasuke dengan malas melepaskan pandangannya dari muka Sakura. Sekilas terlihat semburat pink tipis dikedua pipi pucatnya. Entah apa yang merasukinya sehingga ia bisa berbuat seperti itu di depan kedua orang tua dan neneknya.

Dan Sasuke dibuat tercengang dengan pemandangan yang dilihatnya. Awalnya ia kira ia akan diceramahi atau lebih parah, dimarahi. Tapi ternyata yang ia lihat hanyalah ekspresi terkejut dan muka merona hebat dari kedua orang tua dan neneknya.

"Maaf soal yang tadi, kembali ke soal perjalananku ke Bali, apa tidak ada orang selain Sakura?" Sasuke mengembalikkan keadaan yang mulai canggung.

"Ehem, yah sepertinya memang tidak ada lagi, aku pikir Tuan Putri juga bisa menjadi temanmu selama kau pergi," tutur Ibu Suri yang masih mencoba untuk berkonsentrasi setelah kejadian 'kurang sopan' tadi. Mengumbar kemesraan di depan Raja, dasar dua orang ini.

"Ya, aku juga berpendapat sama seperti Ibu Suri. Akan lebih baik jika Tuan Putri ikut ke Bali," kali ini Fugaku mulai ikut bersuara.

Sasuke hendak menolak lagi, namun setelah dipikirkan ulang. Rasanya mengajak Sakura bukanlah pilihan buruk, setidaknya ia tidak akan bosan di Bali. Ada orang yang siap ia kerjai.

"Baiklah jika memang ini mendesak, Sakura akan ikut denganku dengan syarat aku juga ingin Pelayan Kakashi ikut dalam perjalanan ini," akhirnya Sasuke angkat bicara, ia menambah satu lagi daftar orang yang akan ikut dengannya. Dari satu menjadi tiga. Ia berpikir, ada baiknya jika Kakashi juga ikut jika sewaktu-waktu ia akan 'tolong'.

"Ah, pilihan yang bijaksana Putra Mahkota, kalau bagitu Temari akan mengurusnya. Waktu keberangkatan dan kepulangan masih sama seperti sebelumnya," Fugaku yang sepertinya sangat senang bahwa akhirnya Sasuke bisa sedikit mengerti kekhawatiran orang tuanya.

"Kau boleh kembali ke kamarmu Putra Mahkota. Istirahatlah agar kau cepat sembuh, kau juga boleh pergi, Tuan Putri," ujar Mikoto.

"Kami permisi dulu," Sasuke dan Sakura pergi meninggalkan ruang pertemuan setelah memberi hormat pada Raja, Ratu dan Ibu Suri.

Perasaan Sakura saat ini sangat senang karena ia bisa pergi ke luar negeri. Tapi itu hanya sebentar karena perasaan senang itu segera hilang. Ia baru sadar bahwa ia baru saja ditugaskan untuk menemani dan menjaga Sasuke yang kondisinya kurang baik, dan penyebab kondisi Sasuke seperti itu adalah dirinya sendiri.

Ia takut, takut akan berbuat kesalahan lagi. Takut akan mencelakai Sasuke lebih parah dari ini. apalagi mereka berada jauh di negeri orang.

"Kau senang, pink?" Sasuke membuyarkan lamunan Sakura.

"Hmm-eemm, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku tidak tahu apakah aku senang atau tidak," jawab Sakura karena ia kembali merasa bersalah dan memikirkan pendapat Sasuke yang menolaknya saat di ruang pertemuan tadi.

"Bagaimana bisa kau tidak tahu perasaanmu, kau ini memang benar-benar aneh," tanggap Sasuke yang sedikit bingung dengan jawaban Sakura. 'Kenapa dia tidak senang? Apa yang sebenarnya ia pikirkan saat ini?' batin Sasuke sambil melirik sesekali ke arah Sakura yang sedang melamun di sampingnya.

Setelah melalui beberapa koridor istana dan taman, Sasuke dan Sakura akhirnya sampai di depan kamar mereka, dengan langkah pelan mereka memasuki kamarnya masing-masing. Sakura tampak murung sementara Sasuke tampak bingung.

Tanpa mereka sadari, beberapa pelayan sedang memperhatikan mereka dengan tatapan bingun. Entahlah, tapi sepertinya ini pertama kalinya mereka melihat duo Sasusaku itu berjalan berdampingan tanpa ada sedikitpun keributan.

"Ada apa dengan mereka yah? Biasanya mereka selalu bercanda atau bahkan membuat kesal satu sama lain," tanya salah seorang pelayan pada temannya. Mereka berdua tadinya sedang sibuk membersihkan beberapa guci kesayangan Ibu Suri, sebelum akhirnya dibuat bingung oleh kesunyian yang melingkupi pasangan Pangeran dan Putrinya itu.

"Aku juga tidak tahu, apa Tuan Putri masih merasa bersalah terhadap kejadian itu?" suara pelayan satunya ikut ambil suara dalam diskusi sepihak tadi. Lalu setelah itu mereka berdua mulai mendiskusikan perihal yang membuat duo unik itu diam-diaman, sampai akhirnya...

"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?" suara keras yang sudah tidak asing bagi mereka tiba-tiba terdengar tepat di belakang mereka. Suara itu terdengar sangat tegas sehingga tubuh mereka bereaksi dengan senidrinya. Diskusi tidak penting itu seketika berhenti, dan dengan perlahan kedua pelayan itu menolehkan kepala bersamaan.

Glek!

"E-eh, ma-maafkan kami ketua pelayan," mereka segera meminta maaf saat melihat siapa yang ada dibelakang mereka, meminta maaf pada ketua pelayan yang tak lain adalah Temari.

"Cepat kembali bekerja," titah Temari pada dua orang pelayan yang tadi mengintipi Sasuke dan Sakura.

"Baik, nyonya," dan merekapun kembali ke pekerjaan mereka yang tadi sempat terhenti.

.

.

Keesokkan harinya, Sakura masih berangkat ke sekolah sendirian tanpa kehadiran Sasuke di sampingnya. Suasana di mobil entah kenapa menjadi semakin sepi dengan hilangnya obrolan satu arah dari Sakura. Itu semua di sebabkan oleh mood Sakura yang memburuk.

'Apa keberadaanku selama ini memang selalu merepotkan dan menjadi beban di istana, terutama untuk Sasuke?' batin Sakura.

'Sepertinya aku tidak disukainya para penghuni istana, bahkan aku hanya membuat masalah saja di istana,' lamunan Sakura mebuatnya semakin merasa sedih dan bingung akan kehidupannya. Ia juga sangat merindukan keluarga yang ia tinggalkan di rumahnya dulu, yang kondisinya jauh lebih buruk daripada keadaan di istana.

"Maaf tuan putri, kita sudah sampai," tiba-tiba suara Kakashi menyadarkan Sakura dari lamunannya.

"Oh, i-iya. Terima kasih," Sakura segera keluar dari mobil dan melangkah menuju kelasnya tanpa semangat sedikitpun. Ia memang sedang tidak mood untuk pergi ke sekolah, yang ia inginkan saat ini hanya berdiam diri di kamarnya dan menangisi seluruh penyesalan atas kesalahannya selama ini.

Pelajaran hari ini tidak ada yang masuk satupun ke otaknya. Bahkan saat sedang praktek melukis yang ia lukis malah gambar seorang gadis yang terlihat sangat kumal, yang dikucilkan ditengah ramainya pesta mewah. Jika dilihat dari pakaian-pakaian pesta yang Sakura gambar, sepertinya Sakura mengambil seting di negeri dongeng, seperti Cinderella dan pesta tengah malamnya.

Gadis yang Sakura lukis cukup cantik dengan rambut coklat panjang sedikit bergelombang dan iris coklat madu terang. Tapi wajahnya terlihat sangat lesu dan kesepian. Berbeda sekali dengan wajah-wajah lain yang Sakura gambar disekitarnya, yang sepertinya menampilkan senyum terbaik mereka.

Disana terlihat sang gadis yang tengah berdidiri kebingungan seperti patung sementara orang-orang disekitarnya sibuk berdansa. Gaun kumalnya mendominasi penampilannya, sangat kontras dengan orang-orang sekitar yang memakai baju mewah. Terlihat seperti si gadis hanyalah sebuah stiker yang salah ditempelkan.

Sebenarnya cukup aneh melihat Sakura menggambar ini, melihat tema yang ditentukan pada pertemuan kali ini adalah 'Musim Semi'.

Kebanyakan anak di kelas itu terlihat sedang menggambar Perayaan Hanami atau Pohon Sakura yang mekar, membuat Sakura terlihat seperti salah kelas. Persis seperti gadis dilukisan yang salah tempat.

.

.

Sepulangnya dari sekolah, Sakura langsung menuju kamarnya. Sebelum membuka pintu kamarnya, ia sempat melirik sebentar ke arah kamar Sasuke yang berada di depan kamarnya. Dan terlihat ternyata sang Putra Mahkota yang tangannya masih terbalut perban putih itu sedang membaca sebuah buku, tapi memang itulah kegemarannya di waktu luang.

Setelah itu Sakura langsung masuk ke kamarnya dan menjatuhkan dirinya di kasur dengan posisi tengkurap dan wajah tepat di atas sebuah bantal.

"KYYAAAAAAAAAAAA!" Sakura berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan segala emosi yang menumpuk di otaknya, untunglah tidak ada orang yang bisa mendengarnya karena ia membenamkan seluruh mukanya ke bantal.

Sakura juga melampiaskan perasaannya pada barang-barang yang ada di sekitarnya, mulai dari lompat-lompatan, memukul boneka, sampai jungkir balik di kasur.

Sepertinya Sakura lupa akan satu hal, ia lupa menutup pintu! Membuat Sasuke yang sedang membaca dapat melihatnya dari pintu kamarnya. 'Ada apa dengan bocah itu? Dasar aneh,' batin Sasuke geli, ia tidak pernah melihat gadis seaneh dan seunik Sakura.

.

.

Tidak terasa ternyata hari kepergian Sasuke dan Sakura ke Bali adalah besok. Sakura sudah mulai menyiapkan baju dan barang-barang yang akan dia bawa nanti. Setelah memasukan barang-barang pokok seperti baju, pakaian dalam, dan peralatan mandi. Sakura mulai memasukan barang-barang tambahan seperti kamera, buku sketsa barunya, beberapa alat tulis kesayangannya, dan beberapa sapu tangan.

Satu jam penuh ia berkutat dengan koper coklatnya sampai akhirnya koper tersebut menggembung penuh isi. Setelah puas dengan hasil kerjanya, ia melirik ke pintu kamar Sasuke – pintu kamarnya sengaja ia buka agar tidak terlalu pengap.

Dilihatnya Sasukesedang santai membaca buku yang terlihat cukup tebal, koper hitamnya terletak di sebelah kiri kakinya. Koper itu terbuka, memperlihatkan bagian dalamnya yang masih kosong.

Sakura tak habis pikir, bagaimana bisa Sasuke menyepelekan masalah packing, sementara waktu keberangkatan mereka adalah besok pagi. Sakura tahu kalau Sasuke memang suka seperti itu, Sasuke pasti baru akan mulai berkemas nanti malam sebelum tidur.

Berusaha untuk mengabaikan semua itu, Sakura mulai beranjak menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka. Setelah itu ia kembali ke ranjangnya dan mulai merebahkan diri.

Perasaannya sudah mulai tenang sekarang, apalagi setelah kemarin ia berbincang-bincang atau lebih tepat disebut curhat dengan Ibu Suri.

"Kau tidak usah memikirkan kejadian yang sudah terjadi, biarlah semua itu berlalu. Mencoba menerima dan belajar dari kejadian buruk di masa lalu adalah hal yang bijaksana, " Sakura kembali teringat kata-kata Ibu Suri, kata-kata yang selama beberapa waktu kebelakang mampu memperbaiki mood-nya dan membangkitkan semangatnya.

.

.

.

Di saat yang sama di sebuah Cafe mewah di tengah kota, berkumpulah segerombolan anak-anak sekolah yang sudah tidak asing lagi.

"Ternyata rumor Sasuke pergi ke Bali benar ya," tutur salah seorang diantara mereka, dia adalah seorang pemuda berambut pirang dengan cengiran lima jari yang selalu melekat di bibirnya.

"Wah, apa dia sudah sembuh? Cepat sekali eh, Naruto," tanya seseorang pemuda lainnya yang terlihat sangat mirip dengan sang Pengeran yang menjadi bahan perbincangan, pemuda itu menatap bingung ke pemuda pirang yang disebut Naruto.

Naruto yang ditanya hanya mengangkat bahunya sekilas, tanda ia tidak tahu sama sekali.

"Apa Sakura juga ikut?" tanya pemuda ketiga yang dandanannya sedikit eksentrik dengan rambut gondrongnya yang diikat tinggi-tinggi dan wajah ngantuknya.

"Sepertinya ya, sekaligus bulan madu mungkin, hahahaha," ujar Naruto setengah melucu tanpa sadar bahwa ada dua orang yang menatapnya tajam.

Tiba-tiba seorang gadis yang kehadirannya tadi tidak begitu disadari karena duduk agak pojok, segera menegakkan dirinya kemudian berjalan menuju jendela terdekat. Dipandangnya bintang malam yang bertaburan dilangit dengan tatapan sendu. Entah kenapa untuk malam ini wajah cantinya seperti kehilangan cahaya.

Ia berusaha menikmati hembusan angin malam yang membelai lembut pipi putihnya, berusaha mengabaikan gumaman bersalah Naruto.

"Hei, kau tidak apa-apa, Ino?" tanya Sai pelan, sambil mengambil tempat di samping gadis bernama Ino itu.

"Aku tidak apa-apa, entah kenapa aku merasa sakit saat mendengar apa yang Naruto ucapkan, rasanya disini sangat sakit, entah apakah sang putri yang terlupakan ini bisa kembali dilirik oleh sang pangeran, haha" jawab si gadis pelan, pandangannya masih terpaku pada titik-titik bintang. Namun tangan kananya bergerak memegang dada bagian kirinya yang terasa sakit, tepat dijantung.

Sai hanya bisa tertegun mendengarnya. Ia tahu selama ini Ino –gadis pujaannya– belum pernah bisa melepaskan Sasuke seutuhnya, walaupun sekarang status Sasuke sudah berubah, dari seorang pacar menjadi suami orang.

Cukup lama mereka diam dalam keadaan seperti itu, akhirnya Ino memulai pembicaraan.

"Apa kau bisa membantuku?" tanya Ino lirih kepada Sai, membuatnya sadar dari lamunannya.

"Apa saja, memangnya kau mau apa?" ujar Sai setengah berbisik, ia agak heran melihat wajah Ino yang tiba-tiba berubah menjadi sangat serius.

Ino mengalihkan pandangannya dari langit malam ke arah kota di bawah mereka. Jalanan terlihat sangat padat dan sedikit ramai. Suara kendaraan dan celotehan riang para pejalanan kaki membuatnya agak sulit berkonsentrasi menetapkan keputusannya.

Setelah satu menit penuh terdiam, Ino mengulurkan tangannya kearah grendel jendela dan menutup jendela tersebut. Menghela nafas sejenak, Ino mulai membuka mulut. Dan kalimat Ino selanjutnya membuat mereka yang ada di ruangan tercekat.

"Apa kau bisa mengurus kepergianku ke Bali?"

TBC

YAK! Akhirnya selesai juga chap tujuhnya, HUUUUFFFTT! Beneran deh, rasanya sulit banget nulis cerita ditengah jadwal kami yang agak padat. Gimana enggak padat? Orang hampir tiap hari ada PR dan presentasi -_- Awalnya kami bahkan agak ragu mau ngelanjutin, tapi melihat review dari kalian para readers bikin kami semangat melanjutkannya. hehehe

Seperti biasanya, mohon maaf yang sebesar-besarnya for any typo and missing word. Susah banget ngilangin itu, tapi kami akan berusaha menetralisirkannya.

Kami juga mau minta kritik dan sarannya dari para readers sekalian. Cara memberi komentar? Gampang kok, tinggal ketik REG spasi rev –PLAKKK! Salah! Maksudnya caranya, tinggal klik link bertuliskan review di bawah situ-tuh, hehehe.

Mind to RnR?