The Days of The Princess
Disklaimer tokoh : Masashi Kishimoto
Disklaimer cerita : 'UCHIHA
Rated : T
Genre : Romance, Drama, Hurt (entahlah jangan diperhatikan genre-nya)
Don't Like Don't Read!
~Bali~
''Yang mulia, hati-hatilah di Bali. Ingatlah, kondisimu belum sembuh total,'' tutur sang Ratu kepada Pangeran yang sedang melihat beberapa pelayan Istana memasukan kopernya ke bagasi mobil.
''Tenang saja Yang Mulia Ratu, aku akan ingat itu,'' jawab Sasuke masih dengan wajah cool-nya.
''Kau juga, jaga Pangeran baik-baik, jangan biarkan ia melakukan hal yang berat dan tidak baik bagi kondisinya,'' kini Ibu Suri pun ikut bersuara menasehati sang putri yang bertugas menemani pangeran yang belum sembuh total.
''Ya, tentu saja yang mulia,'' jawab Sakura dengan wajah ceria seperti biasanya, sedikit membuat hati Raja, Ratu dan Ibu Suri tenang. Sasuke? Huh, dia bahkan tidak melepaskan pandangannya dari para pelayan Istana –yang sekarang sedang mengecek kembali barang bawaan mereka.
"Dan jangan lupa, kalian harus banyak istirahat ketika sudah sampai disana," ucap Ibu Suri lagi.
"Ah, dan jangan terlalu banyak bermain. Iklim di Bali mungkin akan terlalu panas bagi kulit kalian, jangan lupa untuk memakai pelindung matahari," Sekarang, Temari mulai ikut angkat suara.
"Dan Sakura, kau harus hati-hati saat bermain di pantai, jangan ceroboh!" tambah Ibu Suri.
''Kami tahu, sudahlah kami 'kan sudah dewasa. Kami berangkat dulu,'' pamit Sasuke yang sudah mulai merasa bosan dengan suasana, 'Padahal hanya pergi sebentar, sudah seperti mau pergi bertahun-tahun saja' batin Sasuke.
Setelah memberi penghormatan, Sasuke, Sakura, Kakashi beserta beberapa pengawal yang lain meninggalkan istana dan segera masuk ke mobil yang sudah disediakan.
Beberapa menit kemudian, terlihat rombongan mobil hitam keluar dari Gerbang Istana. Dari rombongan mobil itu–sekitar empat sampai lima mobil–ada satu mobil yang terlihat sangat mencolok.
Walaupun mencolok, tetapi keadaan didalam mobil sangat hening. Hanya suara tarikan nafas saja yang menyatakan bahwa orang-orang didalam mobil itu tidak hanya sekedar boneka atau pajangan.
Setelah berada di dalam mobil selama sekitar empat puluh lima menit, akhirnya rombongan mereka pun sampai di bandara. Mereka segera turun dari mobil dan berjalan menuju pesawat khusus untuk keluarga kerajaan.
Tepat jam sembilan, pesawat yang berisikan rombongan kerajaan beserta Pangeran dan Putrinya take off. Sakura yang baru pertama kali naik pesawat merasa sangat tegang. Ia terus menerus mencengkram kuat pinggiran kursi dan tak henti-hentinya berkeringat dingin. Ujung jarinya mulai memutih karena cengkramannya yang terlalu kuat.
Namun itu hanya terjadi beberapa menit, karena saat pesawat sudah kembali normal Sakura sudah tidak ada di tempat duduknya. Ia sibuk menjelajahi setiap sudut pesawat. Dan saat beberapa pramugari mulai menawarkan makanan pada mereka, Sakura sudah hapal letak setiap ruangan di pesawat. Padahal perjalanan mereka masih panjang.
Perjalanan dari Jepang menuju Bali kira-kira memakan waktu 4-5 jam. Seperti biasa, Sasuke sibuk dengan Ipod dan koleksi lagunya dan terkadang ia juga menyempatkan untuk membaca berkas-berkas yang berisikan kegiatannya di Bali nanti, meninggalkan Sakura yang nyaris mati kebosanan. Yang bisa Sakura kerjakan sekarang–setelah tidak ada lagi ruangan yang bisa ia kunjungi di pesawat–hanya makan kemudian melamun menikmati pemandangan (padahal cuma ada awan doang sepanjang jalan) dan kemudian tidur karena benar-benar bosan.
Setengah jam sebelum landing, Sasuke sudah bersiap, mengacuhkan Sakura yang masih sibuk dengan mimpinya. Dan tepat saat pesawat yang mereka tumpangi berhenti di Bandara Ngurah Rai Bali, Sasuke membangunkan Sakura –itupun dengan sangat ogah-ogahan.
Sakura terbangun dengan kaget dan segera menggerutu karena Sasuke baru membangunkannya. Dengan serabutan ia bersiap-siap seadanya dan kemudian mengikuti Sasuke keluar.
Ternyata suasana di bandara sudah ramai dipenuhi oleh ratusan orang yang menyambut kedatangan sang Pangeran. Karpet merah digelar, tenda di bangun di sisi-sisinya, para petinggi negara menunggu, paduan suara dan drum band bermain, dan beberapa gadis yang memakai pakaian adat Bali menari pendet. Semuanya terlihat sangat meriah.
Mereka semua menyambut sang Pangeran dan Putri Jepang dengan sangat gembira. Rombongan mobil penjemput juga tepat berada di akhir dari karpet merah. Menunggu.
Sasuke dan Sakura segera turun dari pesawat sambil melambaikan tangan. Saat mulai menuruni tangga tak lupa Sakura menggandeng tangan Sasuke seperti pesan Ibu Suri beberapa hari yang lalu. Sakura tersenyum sangat manis di sana, membuat beberapa pemuda di drum band bersemu.
Sakura melirik Sasuke sekilas, dan yang ia temukan adalah tampang datar tanpa senyum khas Sasuke. Dengan agak jengkel disikutnya rusuk Sasuke, membuat si empunya sedikit meringis dan menatap Sakura tajam.
"Ada apa main sikut sembarangan?"
"Senyum bodoh, jangan pasang tampang seperti mau mati begitu!" bisik Sakura frustasi.
"Hn," balas Sasuke ogah-ogahan, namun ia tetap tersenyum – walau terlihat agak dipaksakan.
Sekarang gantian beberapa wanita yang menyambut mereka yang bersemu dan terkikik, membuat Sakura –entah kenapa– agak jengkel.
Namun perasaan itu segera ditepisnya saat para drum band mulai memainkan lagu yang agak cepat dan beberapa penyanyi ikut bernyanyi. Sakura tidak tahu lagu apa itu, bahasanya berbeda. Namun saat mendengarnya Sakura tanpa sadar ikut mengangguk-anggukan kepala.
'Benar-benar heboh ya di sini,' batin Sakura yang kagum.
''Welcome to Bali,'' sapa seorang wanita muda dalam bahasa ingris dengan aksen yang agak berbeda. Wanita itu memakai kain berwarna kuning dan emas yang dililitkan ke sekujur tubuhnya, hampir mirip dengan baju yang dipakai para penari. Rambutnya di sasak dan di tata dengan sangat anggun dan rumit, dan diberikan hiasan bunga-bunga di beberapa tempat.
Kemudian ia memberi hormat pada Sasuke dan Sakura. Dan mulai berbicara. Sakura langsung saja menyadari bahwa bahasa yang mereka gunakan jelas berbeda, si Wanita berbicara dalam bahasa yang terdengar asing di telinga Sakura. Dan Sakura sama sekali tidak mengerti apa yang wanita itu bisarakan.
Seorang 'Penerjemah' berdiri di samping Sasuke. Ia mulai menerjemahkan ucapan si Wanita kedalam bahasa Jepang. Dan barulah Sakura mengerti apa yang dibicarakan wanita itu.
Si wanita membicarakan tentang budaya-budaya Bali dan Budaya Negara Indonesia, sejarah singkat Negara Indonesia. Dan kemudian memberitahu mereka dimana tempat mereka menginap dan kemana saja mereka akan berkunjung selama disini.
''Kami juga sangat bangga bisa datang berkunjung ke pulau yang indah ini,'' jawab Sasuke ramah kepada wanita tersebut, sementara Sakura hanya diam memperhatikan Sasuke sedang bercakap-cakap.
Sebenarnya ia cukup kagum dengan Sasuke yang tiba-tiba bisa jadi ramah begini.
''Kami sudah menyiapkan semua fasilitas untuk anda, semoga yang mulia bisa menikmatinya,'' tutur wanita itu sambil berjalan bersama Sasuke dan Sakura ke arah mobil yang sedari tadi sudah menunggu mereka.
Setelah melambaikan tangannya sebentar Sasuke dan Sakura langsung masuk ke dalam mobil, rombongan itu pun segera melesat menuju hotel tempat mereka beristirahat. Di jalan Sakura hanya memandangi pemandangan di sekitar jalan yang mereka lewati, sementara Sasuke masih sibuk dengan si Wanita Bali dan si penerjemah yang sekarang sedang memberitahunya tentang tempat-tempat bersejarah di Bali.
Tanpa Sakura sadari, terkadang Sasuke melirik dirinya yang sedang terkagum-kagum, seperti ada yang mau dikatakan oleh pemuda itu.
Tak berapa lama mereka pun sampai di depan pintu lobby hotel, terlihat di sana Kakashi sudah berdiri membawa buku kecil yang sepertinya berisi jadwal kegiatan sang Putra mahkota dan Putri mahkota.
''Yang mulia, saat ini anda bisa beristirahat sejenak di dalam kamar yang sudah kami siapkan, acara makan malam bersama gubernur akan diadakan nanti jam 7 malam, jadi anda masih punya waktu sekitar 3 jam lagi untuk bersiap-siap,'' Sasuke hanya menanggapi laporan Kakashi tersebut dengan wajah datar seperti biasa, sementara Sakura hanya diam berdiri di samping Sasuke.
''Baiklah, aku akan istirahat, terima kasih,'' Sasuke segera berjalan memasuki lobby hotel menuju ke lift dan Sakura segera berlari kecil mengikuti Sasuke yang jalannya lebih cepat dari biasanya.
Di depan lift, seorang pegawai hotel berjas hitam sudah siap mengantar Sasuke dan Sakura ke kamarnya. Si pegawai, entah kenapa selalu memamerkan senyum lima jari. Mengingatkan Sakura pada senyum milik teman Sasuke yang bernama Naruto itu.
Lift pun berhenti di lantai sepuluh, dan pegawai hotel –dengan senyum lima jarinya–segera membawa mereka ke depan kamar yang di pintunya terdapat tulisan '1002'.
''Yang mulia, ini kamarnya. Silahkan beristirahat, kami harap kau menikmatinya,'' ujar si pegawai dalam bahasa Inggris –masih dengan senyumnya– yang dapat Sakura mengerti sedikit-sedikit.
Si pegawai membuka pintu kamar dan mempersilahkan mereka masuk, tak lupa dengan 'senyumnya'.
Yang mereka lihat pertama kali adalah ruang keluarga sekaligus ruang tamu denan aksen kayu dimana-mana, di dindingnya dihiasi lukisan bercorak bali dan tak lupa sebuah TV 42 inchi menempel di dinding lengkap dengan audio speaker-nya.
Semua barang yang ada di sana sudah pasti barang mewah yang entah berapa harganya. Sakura yang jujur saja baru pernah menginap di hotel mewah seperti ini langsung terdiam tak berkedip melihat suguhan pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sementara Sasuke yang sudah biasa dengan suasana seperti ini tak perlu berdiam diri terlalu lama seperti Sakura, ia segera duduk di sofa dan menyalakan TV.
''Apa sudah selesai melihat-lihatnya?'' pertanyaan Sasuke segera membuyarkan lamunan Sakura.
''Eh- apa? Oh tentu saja... Ah lelahnya,'' Sakura segera berlari duduk di sofa yang berada tepat di depan Sasuke berada sekarang sehingga posisinya mereka duduk berhadapan hanya saja Sasuke lebih memperhatikan TV yang berada di sebelah kanannya.
Selama beberapa menit suasana sangat sunyi, karena tidak ada yang memulai pembicaraan, sampai akhirnya Sakura yang mulai bosan dengan suasana tersebut memilih untuk beristirahat.
Tiba-tiba Sakura bangun dari duduknya sambil membawa tas kopernya. ''Aku mau istirahat dulu sambil merapihkan pakaianku di kamar, oh ya kamarku di mana?''
''Hn,'' jawab Sasuke singkat seperti biasanya sambil menunjuk ke arah pintu di sebelah kirinya atau lebih tepatnya di belakang Sakura.
''Baiklah,'' Sakura segera menuju ke ruangan tersebut, saat pintu terbuka terlihatlah sebuah kasur berukuran king size yang dihiasi seprai berwarna putih tulang yang serasi dengan warna dindingnya.
Dengan cekatan, Sakura segera membuka kopernya dan menggantung baju-bajunya di lemari. Setelah selesai, ia segera menuju kamar mandi dan yang pasti untuk mandi.
Setelah kurang lebih 30 menit, Sakura keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju handuk dan handuk kecil di atas kepalanya untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Saat ia baru saja duduk di depan meja rias, dilihatnya Sasuke masuk ke kamarnya sambil menenteng tas kopernya dan sontak membuat Sakura sangat kaget dan membalikkan badannya ke arah pintu di mana Sasuke berada.
''Apa yang kau lakukan? Kenapa kau ke sini, bodoh?'' tanya Sakura yang suaranya seperti menggunakan toa. Sementara Sasuke hanya tersenyum sinis menanggapi pertanyaan Sakura tersebut.
''Kau bilang aku bodoh? Seharusnya itu kata-kata untukmu, bodoh. Memangnya kau kira ini kamarmu sendiri?'' Sasuke hanya menanggapinya dengan santai sambil menarik tas kopernya.
''Apa maksud-''
''Kita ini kan sudah suami istri, sudah menjadi hal yang wajar kan kalau tidur dalam satu kasur?'' belum sempat Sakura meneruskan kalimatnya, Sasuke sudah memotongnya.
''Tapi kan nggak boleh begitu juga, kita kan masih sekolah,'' tutur Sakura dengan wajah sedikit kesal.
Sasuke segera berjalan mendekati Sakura yang masih duduk di depan meja rias, sementara Sakura entah kenapa setiap langkah Sasuke membuatnya semakin gugup.
''Tenang saja, aku nggak tertarik denganmu," ujarnya saat sudah sampai dibelakang Sakura. "Lebih baik kau segera berpakainan sebelum aku berubah pikiran," tambah Sasuke lalu segera berbalik dan keluar dari kamar.
Sasuke berjalan keluar kamar menuju ke balkon yang mengarah ke pantai Kuta. Terlihat suasana sore hari di Bali yang tenang.
Sasuke memandanginya dengan ekspresi yang sulit di deskripsikan. Sesekali ia melihat layar i-phone nya, seperti sedang menunggu sesuatu yang muncul dari sana.
Tiba-tiba ia mendengar suara alunan biola yang merdu, biola itu sedang memainkan lagu legendaris dari Celine Dion yang menjadi soundtrack film Titanic.
Sasuke segera mengalihkan pandangannya menuju layar TV yang menjadi sumber suara biola tersebut, di bagian bawah layar terpampang tulisan yang menjadi judul lagu tersebut, 'My Heart Will Go On'.
Entah kenapa setelah mendengarnya, membuat hati Sasuke seakan teringat terhadap gadis cantik berambut pirang yang sempat singgah di hatinya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bertemu dengannya.
Dan tanpa sadar ternyata Sakura memperhatikan tingkah aneh Sasuke tersebut, namun ekspresi diwajahnya juga sama sulitnya untuk diartikan. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Karena terlanjur lelah dan bosan Sakura memilih merebahkan diri di kasur, dan tak sampai lima menit ia sudah jatuh tertidur.
.
.
Ting Tong..
Ceklek.
''Maaf yang mulia, anda diharap untuk bersiap-siap. Sebentar lagi kita akan berangkat menuju restaurant tempat pertemuan dengan Gubernur,'' suara Kakashi terdengar dari luar pintu, seperti biasa ia selalu melaporkan jadwal kegiatan yang akan mereka lakukan.
''Hn, ya,'' jawab Sasuke yang masih berdiri di balkon. Setelah mendengar jawaban tersebut Kakashi segera beranjak dari tempatnya menuju ke kamar.
Sesampainya disana ia hanya bisa mendengus melihat Sakura yang tertidur pulas. Entah apa yang ada di wajah Sakura saat itu sampai Sasuke tak bisa melepaskan pandangannya dari sana.
"Hn bangun, kita harus menghadiri acara makan malam," ujar Sasuke sambil mengguncang pelan bahu Sakura.
Sakura yang merasakan bahunya diguncang seseorang hanya bisa mengeluh lalu berusaha membuka kelopak matanya yang berat.
Sakura menggosok-gosok matanya, berusaha untuk menghilangkan kantuk. Namun itu malah membuatnya terlihat seperti anak kecil, membuat Sasuke tanpa sadar menarik kedua ujung bibirnya sedikit. Ia tersenyum tanpa sadar.
"Eh Sasuke, ada apa?" tanya Sakura begitu sudah sadar sepenuhnya.
"Hn, bersiaplah. Kita akan mengadakan acara makan malam dengan beberapa orang penting. Kutunggu kau diluar, cepatlah."
Dan setelah mengatakan itu Sasuke segera berbalik dan keluar kamar. Meninggalkan Sakura yang sedang melongo bingung.
Setelah Sakura berhasil mencerna semua perkataan Sasuke, ia segera megunci pintu kamar dan mengganti bajunya dengan gaun yang di jejalkan Temari ke kopernya. Gaunnya berwarna hitam yang simpel namun elegan, sangat sesuai dengan suasana malam ini yang tenang.
Lalu dengan cepat dipolesnya sedikit bedak di wajahnya. Ia juga menambahkan Blush-on dan eye shadow berwarna merah muda ke pipi dan bibirnya. Lalu memoleskan lipstick berwarna merah muda –yang senada dengan rambutnya– ke bibirnya.
Setelah sibuk dengan baju dan make-up, Sakura segera sibuk dengan rambutnya. Ia ingin tampil simpel namun tetap terlihat elegan. Setelah beberapa detik penuh kefrustasian ia memutuskan untuk mengikatnya setengah dengan pita hitam. Dan untuk sentuhan terakhir, ia menyemprotkan parfume-nya yang beraroma citrus.
Setelah selesai, Sakura segera keluar dari kamar menuju ruang keluarga. Dan tanpa sepatah kata terucap dari mulut Sasuke, ia segera berjalan masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya meninggalkan Sakura sendirian di ruang keluarga.
Sasuke siap dalam beberapa menit dengan tuxedo hitam dan kemeja putih sebagai dalamannya. Tanpa mengatakan apapun pada Sakura ia segera melengos keluar.
Sakura yang sedang asyik nonton tv dengan tergopoh-gopoh mengejar Sasuke yang sedang memakai membuka pintu.
"H-Hei, tunggu aku!" pekik Sakura tertahan. Nafasnya sudah mulai tidak teratur karena terburu-buru.
"Hn, cepatlah," Sasuke menjawab namun tidak berhenti sama sekali. Dan itu mampu membuat Sakura menggerutu kesal dan merutuki dirinya.
.
.
Makan malam bersama para Gubernur berlangsung sangat alot dan membosankan –walau makanannya sangat enak. Sakura nyaris saja mati kebosanan karena hal itu, dan sangat bersyukur saat piring bekas makanan penutup diangkat dari meja didepannya. Tampaknya Sasuke juga mengalami kebosanan yang sama sehingga ia buru-buru pamit setelah berbasa-basi sedikit.
Saat ini keduanya tengah berjalan menyusuri koridor menuju kamar mereka. Hal pertama yang mereka lihat saat sampai di depan pintu adalah Kakashi yang sedang berdiri sambil memegang buku catatannya.
"Ah Yang Mulia, kalian sudah kembali. Silahkan, kalian bisa sitirahat. Jadwal untuk besok akan saya beritahu besok pagi,"
"Baiklah, apa kau sudah selesai? Bisakah kau biarkan kami istirahat dulu, aku sungguh lelah," ujar Sasuke, lalu ia melengos masuk tanpa menunggu jawaban dari Kakashi.
Sakura hanya bisa melongo melihat sikap Sasuke, dengan sedikit tidak enak hati Sakura mengangguk dan tersenyum pada Kakashi sambil menggumamkan terima kasih lalu segera masuk ke kamar mengikuti Sasuke.
"Hei, harusnya kau bisa lebih sopan sedikt pada Paman Kakashi! Bagaimanapun juga ia itu lebih tua darimu, dan dia sudah mau bersusah-susah datang kemari untuk memberitahukanmu jadwal kegiatan selama disini. Aku yakin kau pasti akan kerepotan seandainya Paman Kakashi nggak ada," sungut Sakura, ia masih merasa tidak enak pada Kakashi.
"Hn,"
"Jawaban apa itu, hei kau kenapa malah tidur seenaknya!" bentak Sakura. Ia sudah nyaris kehilangan kontrolnya saat melihat Sasuke malah asik berbaring dan mengacuhkan perkataannya.
Saat ini ia dan Sasuke sudah sampai dikamar.
"Berisik, aku sangat lelah. Biarkan aku tidur," gumam Sasuke sambil menyamankan posisi tidurnya.
"La-lalu k-kalau begitu aku tidur d-dimana?" ucap Sakura gugup, mukanya mulai bersemu.
"Hn, pertanyaan bodoh," ujar Sasuke ketus.
"Eh, kok bodoh? Oh, ayolah Sasuke pantat ayam, aku nggak tahu apa yang harus kulakukan sekarang," ujar Sakura sambil mengguncang-guncang tubuh Sasuke yang tertutup selimut sampai ke lehernya.
"Tidur saja, apa susahnya sih," ujar Sasuke mulai emosi. Ia benar-benar lelah dan Sakura benar-benar mengganggunya.
"T-tapi di manaaaaaa?" kata Sakura frustasi.
"Ya di kasur, dasar bodoh,"
"T-tapi kan.."
"Kenapa? Kita kan sudah menikah, hn?" goda Sasuke, seringai menggoda tercetak di wajah stoicnya.
"K-kalau begitu, aku di sofa saja," Sakura tak mau ambil resiko dengan membiarkan dirinya tidur disamping Sasuke si-mesum-pantat-ayam. Dengan agak tergesa ia berjalan keluar kamar sambil mengutuki Sasuke yang tak mau mengalah.
"Hn, terserah," gumam Sasuke lalu kembali tertidur.
.
.
Tengah malam Sasuke terbangun karena haus. Dengan sebal ia turun dari ranjangnya dan berjalan kearah Pantry. Saat ingin kembali ke kamar ia menangkap siluet berwarna pink yang sedang meringkuk di sofa depan Tv, Sakura.
Entah apa yang membuat kakinya bergerak mendekat kearah si gadis lalu berhenti tepat di sebelahnya.
Lalu tiba-tiba semuanya berlangsung begitu saja, tubuhnya bergerak tanpa di komando. Dengan sigap diangkatnya tubuh Sakura dari atas sofa lalu digendongnya menuju kamar mereka. Direbahkannya gadis yang beberpa minggu terakhir sudah jadi istrinya ke kasur dan diselimutinya dengan perlahan sampai sebatas dagu.
Lalu dengan perlahan ia beranjak dari atas kasur dan beranjak menuju sofa –tempat si gadis tertidur sebelumnya, dan merebahkan diri di sana.
Ia sendiri tidak percaya dengan apa yang dilakukannya, yang jelas, mengalah bukanlah sifat alaminya.
.
.
Sakura terbangun saat segaris sinar matahari menyorot tepat ke kelopak matanya yang menutup. Suara pertama yang didengarnya adalah bunyi bel pintu yang berbunyi. Dengan agak tergesa ia bangkit dari tidurnya, namun gerakannya terhenti saat disadararinya ia tidak tidur di sofa seperti yang diingatnya semalam.
Sebelum ia sempat memuaskan rasa bingungnya bel pintu kembali berbunyi, kali ini terdengar lebih tidak sabaran. Dengan cepat ia segera bangkit dari kasur dan berjalan kearah pintu.
"Ah, paman Kakashi. Ada apa?" tanya Sakura begitu ia tahu siapa yang membunyikan bel pagi-pagi begini.
"Maaf menganggu Yang Mulia. Saya hanya memberitahu bahwa jadwal Pangeran untuk berpidato dipercepat, yang harusnya lusa menjadi nanti malam. Dan acara kalian hari ini adalah mengunjungi Ubud, makan siang di Kintamani, dan melihat pertunjukan tari Kecak di Uluwatu, dan kemudian Pidato,"
Sakura hanya bisa manggut-manggut tidak jelas saat Kakashi memberitahukan itu semua, dan kemudian ia hanya tersenyum tidak jelas saat Kakashi mengucapkan terima kasih dan menutup pintu.
Kemudian ia menyeret langkahnya kearah sofa, mencoba membangunkan Sasuke. Perlu Usaha cukup keras dari Sakura untuk membangunkan Pangeran yang satu itu, karena Sasuke alih-alih membuka matanya, ia malah bergumam tak jelas dan membalikan posisi tidurnya menjadi membelakangi Sakura.
Setelah sepuluh menit penuh Sakura mengguncang-guncang bahu Sasuke dan melontarkan setiap ancaman yang dia punya, akhirnya Pangeran Jepang itu bangun juga. Sungguh, itulah pertama kalinya Sakura merasa sangat lega sekaligus jengkel.
"Hn, apa?" ujar Sasuke ketus dan sangat dingin.
Sakura mendengus mendengar nada suara itu, "Bangun, Paman Kakashi bilang acar pidatomu di majukan menjadi nanti malam, dan kita harus ke Ubud, makan siang di Kinta – apa namanya?"
"Hn, Kintamani?"
"Ah Ya! Kintamani, lalu melihat tari kecak di Uluwatu, dan yang terakhir Pidatomu. Sebaiknya kau bersiap, jadwal kita padat hari ini!" dan Sakura langsung melesat ke kamar mandi setelah mengatakannya.
Beberapa menit kemudian terdengar bunyi gemericik air yang samar-samar dari arah kamar mandi.
"Dasar gadis itu," dan Sasuke kembali merebahkan dirinya di sofa. Baru saja ia ingin kembali tertidur saat dirasanya ponselnya bergetar.
Aku sudah ada di Bali. Kau mau kemana pagi ini, bisakah kita bertemu?
Sebuah pesan singkat yang mampu membuat tubuh Sasuke tegang dan perasaannya campur aduk antara senang dan bergairah dan agak shock. Dengan cepat dibalasnya pesan singkat tersebut.
Ubud. Aku tidak tahu bisa menemuimu atau tidak, pergi dengan siapa ke sini, hn?
Pesan terkirim dan selang satu menit penuh, balasannya masuk ke ponsel Sasuke.
Dengan yang lainnya. Aku akan menyusulmu di Ubud, tunggu aku.
Inilah yang ditakutkan Sasuke, Ino biasanya suka bertindak nekat. Secepat kilat ia membalas pesan dari Ino.
Lebih baik tidak usa – PIKK
Sialnya Sasuke, hp-nya low batt disaat yang sangat tidak tepat. Dan saat itu juga Sakura keluar dari kamar mandi.
"Hei Sasuke, aku sudah selesai, kau bersiaplah," Sakura keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah. Ia memakai celana Jeans warna biru muda dan kemeja putih tulang, terlihat sangat casual.
Sasuke melengos masuk kamar mandi tanpa mengatakan apapun pada Sakura, dan selang beberapa menit suara air dari dalam kamar mandi.
.
.
Perjalanan menuju Ubud menurut Sakura sangat menarik. Dan ia sempat terkagum saat melihat hamparan luas pesawahan dengan padi yang masih hijau. Juga beberapa rumah-rumah warga yang menampilkan banyak lukisan.
Rasanya Sakura seperti pulang ke kampung halamannya. Ingin sekali ia turun dari mobil dan mengamati semua lukisan secara detail, tapi Sasuke tampaknya sedang tidak mood untuk melemaskan kaki.
Jika Sakura sangat menikmati perjalanan kali ini, maka keadaan Sasuke malah sebaliknya. Entah kenapa ia sama sekali tidak bisa melihat keindahan Ubud sedikitpun. Pikirannya beranjak jauh dari Ubud kepada seorang gadis yang tadi pagi baru saja mengiriminya pesan singkat. Gadis yang pernah menjalin sebuah kisah dengannya, gadis yang amat disayanginya.
Sasuke tidak bisa tenang sedikitpun. Hp-nya masih low batt sehingga ia terpaksa meninggalkannya di Hotel, dan karena itulah ia tidak bisa menghubungi gadisnya. Bayangan Ino yang tersesat di sebuah negara antah berantah membuatnya cemas.
Dan itu berlangsung setidaknya sampai rombongannya tak sengaja menyalip sebuah becak motor yang membawa seorang gadis yang sudah tak asing di mata Sasuke, dan tak sengaja kejadian beberapa detik itu langsung membuat Sasuke sedikit terlonjak. Sasuke jelas tidak mungkin salah mengenalinya, warna rambutnya yang lebih pucat dari Naruto, juga semua warna ungu ditubuhnya. Jelas sekali gadis itu, Ino.
Sasuke segera membalikan badannya supaya ia bisa melihat Ino dari kaca belakang mobil. Tatapan mereka secara tidak sengaja bertemu, dan senyum lebar Ino tersungging sebagai bentuk sapaannya untuk Sasuke. Ino mengacungkan Ponselnya, tanda bagi Sasuke untuk segera menghubunginya.
"Paman Kakashi, bolehkah kupinjam Ponsel mu sebentar? Punyaku Low Batt," ucap Sasuke pada Kakashi.
"Tentu Yang Mulia, apapun untuk anda," dan Sasuke mendapatkan apa yang ia perlukan, menghiraukan tatapan penuh tanya dari Sakura. Segera ia kontak gadis Blonde yang sedang mengikutinya itu dengan sebuah pesan singkat.
-Hei, dengan siapa kau kesini? Maaf sekali aku tidak bisa menemuimu, kau tahu kan, jadwal padat yang menyebalkan. –Sasuke- Ps : Ponsel ku Low Batt
Selang beberapa menit setelah Sasuke mengirimkan teks tersebut, masuk pesan balasannya.
-Hehe, aku sendirian saja. Sai sedang sibuk dengan kenalannya. Naruto sedang berkencan dengan gadis yang ditemuinya di pesawat, dan Shikamaru terlalu malas untuk membuka mata.Tidak apa, aku mengerti. Seorang Pangeran memang selalu sibuk, ayo semangat!-Ino-
Sasuke tersenyum membacanya, Ino memang seperti itu. Gadis itu selalu nekat, dan teman-temannya sangat tidak bisa diandalkan. Masih dengan senyum yang melekat, Sasuke membalas pesan Ino.
-Hn, sepertinya aku harus memarahi mereka yang berani menelantarkan gadisku di tengah kota tak di kenal begini. Apa kau baik-baik saja.-Sasuke-
Dengan segera Sasuke mengirim pesan tersebut sambil tersenyum ke arah jendela mobil, sementara hanya memperhatikan kelakuan Sasuke yang sedikit aneh, namun ia hanya menanggapinya dalam diam dan kembali ke 'acara' melihat-lihatnya. Kurang dari satu menit ponsel yang berada di genggaman Sasuke kembali bergetar menandakan ada pesan yang masuk.
-Hahahaha, uuh kau membuatku tersipu. Tidak, aku tidak apa-apa. Lagipula kasihan mereka harus kau marahi begitu. Mereka kan sudah baik mau mengantarku kesini. Oh ya, dari sini kau mau kemana lagi? –Ino-
Sasuke kembali mendengus geli membaca isi pesan dari Ino, tanpa membuang waktu ia segera membalasnya.
-Memang kenapa? Kau mau mengikuti ku hmm? –Sasuke-
-Memang, kenapa? Nggak boleh ya? Wah, sayang sekali. Padahal aku sudah susah-susah datang ke sini, uang tabunganku juga habis untuk biaya kesini, tapi seseorang sepertinya tidak menginginkan keberadaanku. –Ino-
Kali ini Sasuke sukses terkekeh geli, jemarinya semakin giat mengetik pesan.
-Hahahaha, baiklah-baiklah. Kau akan ke Kintamani untuk makan siang kali setelah ini. Berdoalah, Sakura tidak meminta untuk turun dan mengamati setiap lukisan satu persatu –Sasuke-
-Hmm, baiklah. Semoga kau bisa cepat ke Kintamani. Aku juga sudah lapar sebenarnya –Ino-
Namun sepertinya Dewi Fortune tidak berpihak pada mereka karena setelah Sasuke membaca pesan Ino Sakura meminta Kakashi menghentikan mobil dan berlari kearah sebuah rumah yang menampilkan banyak lukisan.
Sebuah pesan dari Ino kembali masuk ke ponsel dalam genggaman Sasuke.
-Well, sepertinya doa ku tidak terkabul, haha. Aku akan duluan ke Kintamani, kabari aku saat kau sudah sampai. Sampai Jumpa –Ino-
Dan sebuah taksi berwarna biru muda melintas tepat disamping mobil Sasuke, si pengendara membunyikan klaksonnya sekali sebelum kemudian menambah kecepatan lajunya. Sasuke tersenyum melihat punggung si pengendara, ia terus memperhatikan sampai mereka hilang di kejauhan.
Pekikkan Sakura yang mengajakanya untuk melihat-lihatlah yang mampu mengalihkan pandangannya dari jalan yang baru saja dilalui Ino.
"Hn, sebaiknya kau cepat melihat-lihatnya. Aku sudah lapar," ujar Sasuke.
Sakura mendengus mendengarnya, "Yah kau payah Sasuke, padahal lukisan ini bagus sekali loh."
"Hn?" Sasuke menatap tajam Sakura, "Apa kau bilang Jidat?"
Kedutan terlihat tampak di pelipis Sakura, "Apa kau bilang? Aku bahkan tidak menyebutmu Ayam, dan kau malah memulai pertengkaran!"
"Tapi kau menyebutku payah, bodoh. Cepatlah aku lapar,"
"Huh, nggak ada hubungannya. Mati kelaparan saja sana!"
Sasuke mendengus kesal, entahlah hari ini ia sering sekali mendengus. "Baik, kalau begitu maumu. Aku akan ke Kintamani, setelah makan baru ku suruh Kakashi untuk menjemputmu di sini."
"E-eh?" Sakura memandang Sasuke dengan tidak percaya, "Baiklah, baiklah. Kau menang! Ayo kita ke Kintamani sekarang,"
.
.
-Kami sudah sampai, kau ada di mana? –Sasuke-
-Kami ada di meja dekat jendela –Ino-
-Kami? Kau tidak sendirian? –Sasuke-
-Uhum, yeah. Aku bersama yang lainnya, mereka ngotot menyusulku saat kubilang ada di Kintamani untuk menemuimu. Kau tidak marah kan? –Ino-
-Haha, untuk apa marah? Tidak apa, itu malah mengurangi kecemasanku padamu. Sepertinya kita belum bisa ketemu, Sakura dan Kakashi terus mengikutiku. –Sasuke-
"Hei Sasuke, kau mau makan apa?" tanya Sakura pada Sasuke yang masih sibuk dengan ponsel Kakashi –Sungguh sangat tidak modal Sasuke, ckckckck.
"Hn, apa saja," ujar Sasuke asal, pandangannya masih terfokus pada layar ponsel.
Sakura mendengus kesal, sambil bergumam, "Baiklah kalau begitu, kuberi nasi basi saja. Lagipula dia pasti tidak menyadarinya,"
"Berani melakukannya, kau kutinggalkan di sini."
"E-eh," Sakura merasa merinding sendiri, "Kau mendengarnya ya, a-aku hanya bercanda kok."
Dan setelah itu Sakura segera ngacir dan kembali dengan beberapa makanan. Semuanya setipe dengan makanan yang mereka makan saat pertemuan dengan Gubernur. Berbumbu banyak dan sangat lezat, juga pedas.
Mereka mengambil tempat dekat jendela, tempat di mana mereka bisa melihat pemandangan gunung dengan sangat jelas.
Acara makan siang berlangsung sangat sunyi karena tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Sakura merasa sangat bersyukur saat makanan di piringnya habis. Segera saja ia meminta izin pada Sasuke –yang masih sibuk dengan ponselnya, untuk melihat-lihat.
Untungnya bagi Sakura karena Sasuke membawa camera-nya, segera saja ia mengeluarkan cameranya. Dengan semangat ia mencari spot yang bagus untuk mengabadikan keagungan tuhan yang satu itu. Rasanya Sakura belum puas mengambil gambar walau sudah menghabiskan seperempat memori cameranya. Saat ia akan mengabadikan gambar beberapa anak setempat –untuk yang ke entah berapa kali, Sasuke memanggilnya.
Ia hanya bisa menghela nafas kecewa saat Sasuke menyuruhnya naik ke mobil, dan inilah dia, teronggok di salah satu jok belakang mobil dengan pipi menempel pada kaca mobil.
"Sudahlah," ujar Sasuke bosan. "Kita kan bisa ke sini lagi nanti."
"Tapi kapan?" tanya Sakura, mukanya masih tetap setia pada kaca mobil, "Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya aku bisa kesini lagi."
"Hn, terserahlah."
.
.
Mereka sampai di Uluwatu saat hari baru beranjak sore. Cuaca cukup panas hari itu, membuat sakura berkali-kali mengeluh kepanasan. Bahkan wajah Sasuke yang pucat sampai merona kemerahan karenanya.
Kedaan di sana cukup ramai. Banyak turis dari luar maupun dalam negeri yang mengunjungi tempat itu. Dan semakin ramai saat para mamalia yang dikatakan nenek moyang manusia menampakan diri mereka.
Menurut salah satu pemandu wisata yang memandu mereka, di Uluwatu terdapat koloni kera yang tinggal menetap di sana. Kera-kera itu tidak buas, namun sedikit jahil. Karena itulah semua pengunjung di larang memakai topi maupun kacamat, dan Sakura agak keberatan karenanya. Sinar matahari yang terik seakan membakar kepala dan membutakan matanya, ia sangat butuh kacamata dan topi.
Namun semua itu tergantikan saat matanya menangkap begitu banyak objek yang bisa dijadikannya bahan lukisan juga untuk memenuhi memori cameranya. Tanpa basa basi, Sakura segera melesat ke salah satu objek yang membuatnya tertarik.
Sementara itu Sasuke merasakan getaran dari Ponsel Kakashi yang berada dalam kantung celananya.
-Hei, maukah kau menengok ke arah jam lima? –Ino-
Sasuke agak bingung membacanya, namun segera mengikuti intruksi yang Ino berikan. Senyum merekah dari bibir tipisnya begitu mendapatkan siluet gadisnya sedang duduk di atas sebuah batu yang lumayan besar ditemani seekor monyet gemuk yang sedang sibuk makan sekantung kacang dari genggaman tangan Ino.
Setelah menoleh kesekelilingnya dan memastikan tidak ada yang mengikutinya, Sasuke segera melangkah menghampiri Ino.
"Hei, mana yang lainnya?" bukan sapaan melainkan pertanyaan, sangat sasuke sekali.
Ino terkekeh mendengarnya, "Harusnya kau mengucapkan sapaan dulu baru bertanya. Mereka tidak ikut, ada urusan."
"Hn, baiklah."
Hening lama diantara mereka setelah Sasuke selesai mengucapkan gumaman tak pentingnya. Tidak ada yang berminat memulai percakapan, hanya duduk bersebelahan sambil merasakan semilir angin yang terkadang datang. Keheningan menenangkan seperti ini sudah biasa hadir dalam setiap kencan mereka.
Entah apa yang membuat Sasuke mau memulai percakapan duluan karena secara tiba-tba ia bangkit dan mengulurkan tangannya pada Ino. "Ayo kita jalan-jalan,"
"Eh, kemana?"
"Entahlah, kemana saja. Kau suka berbelanja kan? Kudengar ada sebuah tempat yang menjual banyak benda khas Bali, mau ke sana?" ujar Sasuke cuek, ia sendiri tidak mengerti kenapa bisa berbicara seperti itu. Ia bahkan tak tahu di mana tempat yang ia usulkan itu berada.
"Sukowati maksudmu?" tanyanya sambil terkekeh senang, "aku pernah ke sana bersama Sai, baiklah kita kesana."
"Hn, naik apa?"
Ino kembali terkekeh, "Naik becak motor tentu saja, aku suruh dia untuk menunggu di ujung sana. Tempatnya agak jauh dari sini, apa kau ada waktu? Bukankah jadwalmu padat, hmm?"
"Kita punya waktu sampai jam tujuh. Lebih baik cepat ke tempat beca motor itu, sebelum ada yang melihat,"
Dan mereka pun berangkat, tidak sadar akan masalah yang nanti bisa mereka timbulkan.
.
.
"Tuan Putri, maaf mengganggu anda. Tapi ada pertunjukan yang harus anda saksikan bersama Pangeran," suara Kakashi yang menggelegar sukses mengaggetkan Sakura ditengah sesi pengambilan gambar seekor monyet, membuat gambar itu tampak kabur.
"Wah, acara apa?"
"Tari Kecak, mari ikut saya."
"Eh, tunggu. Di mana Sasuke?"
"Saya juga tidak tahu, tapi saya sudah menyuruh orang untuk mencarinya. Lebih baik, anda ke tempat pertunjukan duluan."
Tempat pertunjukan yang dimaksud Paman Kakashi terletak lumayan jauh dari tempat Sakura sekarang berada. Dan selama perjalanan kesana ia tak hentinya terkekeh geli saat melihat ulah iseng para kera.
Pertunjukkan di mulai saat matahari hampir terbenam, membuat suasana sedikit menakutkan bagi Sakura. Apalagi saat ia sadari Sasuke belum kembali. Sungguh, selama pertunjukkan Sakura sama sekali tidak menikmatinya, pikirannya melayang jauh kepada Sasuke.
Sementara itu di tempat lain..
"Hei Sasuke, tidak apa-apa kau meninggalkan yang lain di tempat itu, terutama Sakura?" suara Ino terdengar mengalahkan ingar-bingar di sekeliling mereka.
Sasuke terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Tidak apa-apa, lagipula dia bersama Kakashi, ada lagi yang mau kau beli?"
"Tidak, ini sudah cukup.. Eh, tunggu sebentar. Ada telepon masuk," ujar Ino, ia segera merogoh sakunya, "Halo.."
Sasuke tidak terlalu tertarik dengan percakapan Ino di telepon, pikirannya melayang kearah Sakura dan Kakashi. Apa yang akan terjadi seandainya mereka menyadari bahwa ia menghilang. Apa kakashi akan panik dan Sakura merutuki dirinya?
"Emmm, Sasuke," suara Ino membuarkan lamunannya. "Sepertinya kita harus ke Bandara. Sai mengabariku, kami tidak mendapat izin bolos sekolah lebih dari dua hari. Jadi harus pulang secepatnya."
"Baiklah kalau begitu, kita ke– "
JEPRET
Oh tidak! Sasuke lupa satu hal. Wartawan ada di mana-mana. Seperti semut kelaparan yang menemukan gula. Mereka menemukan Sasuke saat ini. Secepat kilat diraihnya tangan Ino, dan di paksanya gadis itu untuk berlari. Tampaknya Ino mengerti maksud Sasuke karena ia hanya menurut dan ikut berlari.
Sasuke sangat bersyukur ia bersama Ino kali ini, tampaknya gadis itu tau seluk-beluk tempat ini. ia terus membawa Sasuke memasuki lorong-lorong tersembunyi, lari dari kejaran para wartawan yang haus berita.
Mereka terus berlari sampai akhirnya berhenti dalam keadaan kehabisan nafas di salah satu gang sempit yang tersembunyi di balik sebuah restoran Seafood kumuh. Gang itu sangat sempit, dan tubuh mereka berdua berjejalan di dalamnya. Muka mereka terletak sangat dekat, bahkan nyaris bersentuhan.
Entah apa yang ada di pikiran Sasuke saat itu karena tiba-tiba ia mendekatkan kepalanya, mengeliminasi jarak diantara mereka berdua. Saat bibir keduanya nyaris bertemu..
Pik Pik Pik
-Ino, kau ada di mana? Kenapa belum datang? –Sai-
Sebuah pesan singkat dari Sai sukses menyadarkan mereka berdua. Keduanya dengan canggung saling menjauhkan wajah masing-masing. Waktu mereka hanya sedikit saat ini, dengan agak canggung sasuke menggenggam tangan Ino dan menuntunnya keluar dari gang.
Mereka menaiki kendaraan umum untuk transportasi ke bandara karena becak motor yang tadi mereka naiki untuk pergi ke Sukowati sepertinya sudah pergi entah kemana. Untuk pertama kalinya Sasuke merasa canggung sekaligus nyaman dalam waktu yang bersamaan. Ino diam sedari tadi namun suara berisik dari jalan di sekitar mereka mampu mengikis kecanggungan sedikit demi sedikit.
Mereka larut dalam keheningan, tidak sadar telah menghasilkan masalah cukup besar.
.
.
"Tenanglah Tuan Putri, kami pasti dapat menemukannya," suara Paman Kakashi yang tenang sedikit mengikis kekhawatiran Sakura.
Sasuke tidak datang sampai acara selesai, dan juga tidak kembali saat mereka mengakhiri kunjungan di Uluwatu. Entah kenapa Sakura merasa sangat khawatir, ia merasa tangan dan kakinya tak berhenti bergetar. Bagaimana jika Sasuke tersesat? Bagaimana jika ia diculik dan penculiknya meminta tebusan? Bagaimana jika sasuke menjadi korban tabrak lari dan mayatnya ditinggalkan begitu saja di tengah jalan yang sepi? Bagaimana–
"Maaf saya lancang Tuan Putri. Tapi saya sarankan agar anda tidak perlu cemas dan membayangkan hal yang mengerikan. Saya sudah meminta bantuan setiap pihak keamanan di Bali untuk mencari Pangeran secara diam-diam agar tidak menimbulkan kecemasan publik."
Seakan mampu membaca pikiran Sakura, Kakashi menjelaskannya secara lugas. Walau begitu segumpal besar kecemasan masih tersangkut di hati Sakura.
Sakura terus memandang jalan di luar melalui kaca mobil, berharap menemukan sosok yang dicarinya. Namun percuma, tidak ada satupun kepala dengan rambut pantat ayam di antara puluhan kepala di trotoar.
Sakura baru akan mengalihkan pandangannya dari kaca mobil saat dilhatnya rambut jigrak Blonde yang tidak asing beserta atribut serba oranye dari seorang pemuda yang sedang menunggu di depan trotoar.
"Paman, berhenti di sini. Sebentar," Ujar Sakura kepada Kakashi yang segera meminggirkan mobilnya ke samping trotoar. Secepat kilat Sakura turun dari mobil dan mendatangi sosok pemuda itu.
"Kak Naruto! Sedang apa di sini?" tanya Sakura. pemuda yang ditanya tersentak kaget, namun senyum lebar segera tersungging di bibirnya.
"Ah, Sakura." ujarnya sambil memperlebar senyumnya, "aku sedang mengantar seseorang menemui seseorang, hehehe. Kau?"
"Ada sedikit urusan, err... Sasuke.." Sakura tidak yakin apa ia boleh menceritakannya kepada Naruto atau tidak, tapi ini demi kebaikan Sasuke juga. Bagaimanapun Naruto adalah sahabat Sasuke.
"Ada apa?" tanya Naruto mendesak.
"Itu.. Sasuke, dia.. dia menghilang.." ucap Sakura akhirnya.
Mata Naruto melebar mendengarnya, dan secara spontan sebuah nama terlontar dari mulutnya, "Ino."
"Eh, apa kau bilang?" Tanya Sakura tidak yakin, tadi samar didenganrnya Naruto menggumamkan nama Ino. "Apa Ino ada di sini?"
"Eh, ya begitulah. Dan sepertinya Sasuke.. dia dan Ino.." Naruto tidak melanjutkan kalimatnya, membuat Sakura agak kesal.
"Beritahu aku di mana tempatnya?"
"..."
"Ayolah Kak Naruto, ini sangat penting. Sudah tidak ada waktu lagi, Paman Kakashi bilang ada sebuah pidato penting yang harus dihadiri Sasuke," ucap Sakura panjang lebar.
"Aku juga tak tahu. Tapi tadi Sai menyuruh kami untuk datang ke Bandara setelah beres-beres. Kami tidak mendapat Izin untuk bolos lebih lama dari ini, jadi – "
"Baiklah terima kasih, Senpai!" Sakura melengos begitu saja setelah mengucapkan terima kasih dan memotong penjelasan Naruto.
Ia menaiki mobil dan segera menyuruh Paman Kakashi ke Bandara tanpa mau susah-susah menjelaskan alasan ia pergi ke sana. Perjalanan berlangsung sangat lama bagi Sakura, untungnya sebelum ketidak sabarannya meledak, mereka sampai.
Ia segera berlari memasuki bandara, mengacuhkan semua tatapan bingung orang-orang di sekitarnya. Dengan wajah yang bisa dibilang panik ia edarkan pandangannya ke sana kemari. Berharap menemukan sebuah kepala dengan rambut Raven-nya. Namun nihil, tidak ada sosok Sasuke yang tertangkap pandangannya.
JEPRET
Sakura mengerjap bingun saat kilat cahaya dari kamera membutakan matanya. Dan kemudian terdengar suara beberapa orang, "Hei itu Putri, lihat! Putri Sakura ada di sini, cepat ambil gambarnya!"
Sakura merasakan sebongkah besar batu turun dengan cepat ke lambungnya, membuatnya mulas seketika. Sambil merutuki para wartawan yang membuat kegaduhan itu, Sakura mulai berlari dan bersembunyi.
'Sial, kenapa harus di saat seperti ini sih?' batinnya.
.
.
"Hei Ino, mungkin setelah dari sini akan sangat sulit bagi kita untuk bertemu," ujar Sasuke saat mereka sudah sampai di Bandara.
Ino tidak menjawab, ia hanya menatap Sasuke dalam. Lalu tiba-tiba ia menubruk Sasuke dan memeluknya dengan erat. Sasuke hanya bisa tersenyum pasrah dan balas memeluk Ino.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menepati janji kita untuk selalu bersama," ujar Sasuke sangat lirih di telinga Ino.
Sasuke merasakan bahunya ditonjok kecil oleh Ino, dan didengarnya suara merdu Ino yang sedikit bergetar di dalam pelukannya. "Jangan berkata seperti itu, aku percaya masih banyak kesempatan untuk kita. Ini hanya sebuah rintangan besar, harus dilalui dengan semangat."
Sasuke tertegun mendengarnya. Ia bahkan masih terdiam saat Ino melepaskan pelukannya dan secara tiba-tiba Ino berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Sasuke yang masih diam, dan..
CUP
Bibir Ino pun menyentuh bibir Sasuke dengan lembut,"Ini untuk yang tadi di gang, sampai jumpa." tindakan Ino barusan membuat Sasuke diam seribu bahasa, entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Ino pun segera meninggalkan Sasuke dan masuk ke dalam untuk check-in sambil tersebut lembut.
.
.
Sakura masih dalam posisinya yang sedang bersembunyi di balik sebuah pilar saat ia menangkap sepasang kekasih yang sedang berpelukkan di salah satu pojok Bandara. Rasanya ia mengenali siluet keduanya, terasa sangat familiar baginya.
Ia terus memperhatikan gerak-gerik mereka. Bagaimana si pemuda yang membisikan sesuatu pada gadisnya, lalu saat si pemuda memeluknya dengan erat, dan saat terakhir si gadis mencium sekilas si pemuda dan berlalu.
Sakura masih terus memfokuskan pandangannya, sampai akhirnya si pemuda juga meninggalkan bandara. Suara jepretan kamera berhasil membangunkannya dari lamunan tak tentunya. Dengan agak jengkel ia kembali berlari sambil menutupi mukannya.
BRUUKK!
"WAAAAA!"
Sakura terhempas ke lantai saat dirasanya ia menabrak seseorang. Dan ia mendesah lega saat tahu siapa yang ditabraknya. Kakashi berdiri dengan Sasuke di sebelahnya. Ekspresi keduanya berbeda, Kakashi sedang tersenyum lembut padanya dan Sasuke sedang menatapnya datar.
"Maafkan saya Tuan Putri, tapi saya sudah menemukan Yang Mulia. Apa yang mulia baik-baik saja? Dan sebenarnya waktu kita tinggal sedikit," ucap Kakashi sambil membantu Sakura bangun.
"Ahahaha, tidak apa-apa paman. Tidak terlalu sakit kok, ayo kita berangkat!" ucap Sakura sambil tersenyum. Sakura merasa Sasuke mendengus di sebelahnya, namun ia tidak peduli. Rasanya lega sekali Sasuke sudah ketemu.
Mereka berjalan menuju tempat mobil diparkirkan dalam keadaan yang cukup gaduh karena beberapa wartawan terus saja mengikuti mereka, dan tentu saja beberapa orang bodyguard terus berjalan di samping mereka sambil menahan wartawan yang terus berusaha mengambil gambar pasangan Putra dan Putri mahkota Jepang tersebut , Sasuke dan Kakashi berjalan dalam langkah besar-besar membuat Sakura kewalahan mengikuti mereka. Sesampainya di dalam mobil, keadaan kembali hening seperti biasa.
"Maaf Yang Mulia, tapi sepertinya kita tidak bisa kembali ke Hotel dulu untuk siap-siap. Kita harus segera ke tempat pertemuan agar tidak terlambat, baju anda ada di mobil, akan saya ambilkan segera," suara Kakashi kembali memecah keheningan.
"Hn, baiklah. Aku ganti di toilet saja," ujar Sasuke sambil lalu.
Sakura memandang punggung keduanya dari belakang, dan sesuatu seperti menghantam memorinya. Baju Sasuke, rasanya ia pernah melihatnya di suatu tempat. Juga siluet itu, rasanya sangat mirip dengan pemuda yang tadi dilihatnya di Bandara.
Dan ia merasakan fakta kembali menghantam memorinya, lebih keras dari yang tadi. Kejadian saat seorang gadis cantik yang memeluk seorang pemuda di Bandara, kemudian dengan cepat memori itu kembali mengingatkan tentang ciuman yang gadis itu berikan kepada pemuda yang masih diam di hadapannya.
Sakura merasa kepalanya seakan terus berputar, dan beberapa detik kemudian ia berhasil mendapat kesimpulan yang membuatnya seakan tertusuk sebilah pisau tajam tepat di jantungnya.
'Apa mungkin Sasuke pemuda yang tadi?'
TO BE CONTINUE!
Yeah, long chapter, right?
Sorry for being late. Rissa terkena WB, padahal itu bagian Rissa untuk ngelanjutin dan bukan bagian Lathief. Oleh karena itu, sebagai bentuk permintaan maaf –yang belum tentu di terima, satu chapter yang panjaaaang untuk kalian. Kali ini wordnya mencapai 6000 lebih, hehehehe. Maaf kalau kalian mabok bacanya -_-V
Aduh, untuk yang kesekian kalinya. Maaf banget untuk some typo and missing word. Dan maaf untuk cerita yang membosankan dan gak jelas ini.
Dan maaf banget buat yang suka Sasusaku karena chap ini lebih banyak menceritakan SasuIno nya. Saya bahkan nggak nyangka KENAPA jari SAYA berani ngetik tentang mereka. Hehehehe.
-_-VVV
Oh iya balesan buat reviewnya:
: itu yang terakhir mereka lagi kayak di restaurant gitu deh, tapi di gedung.. Hehe, maaf bingung ya, tapi MAKASIH BANYAK KARNA UDAH NGE-REVIEW!
Via-princezz: iya nih, Sasu emang seneng banget ngejailin Saku, hahaha.. Wahduh bawa cucu mahkota? Rencananya sih first night-nya abis dari Bali, tunggu ya!
: Hehehe, maaf yah akhirnya Sakura duluan yang cemburu, abis aku malah ga tega kalo ngeliat Sasu yang cemburu duluan *dilempar
vvvv: iya, sekali-kali Ino yang jadi musuhnya gitu, hahaha.. Kan ga ada kemajuan kalo Karin mulu yang jadi musuhnya, keep reading my fict yah! Jangan lupa review
.Chocolate: Iya nih, Ino ganggu terus aja yaahhh! Maaf deh ternyata di sini banyakan SasuIno-nya.. Tapi aku janji di chap depan SasuSaku bakal lebih banyak dan lebih romantis, hehehe
Zhie Hikaru: iya nih, Sasu kalo sakit bisanya marah-marah, tar cepet tua looh, hahaha
Reon: ya ampuuun, emangnya segitu bencinya yah sama Ino, pasti gara-gara fict ini nih *digebukin Ino FC. Tapi jangan lupa baca dan review lagi yah!
me: iya deh, nanti dibuatin Sasukenya cemburu, wkwkwk
Just Ana: Hmmm, Gaara-nya gak ikut soalnya ada keperluan lain di istana, tapi nanti pas udah balik ke Jepang bakal ada SakuGaa kok.. *evillaugh
Nanairo Zoacha: iya nih, Sakura kasian banget, ckckckck.. Jangan lupa review lagi yah!
Lily Artemist D'G xXTeER males login: makasih buat pujiannyaaaaa *ngefly.. Terus baca dan jangan lupa review lagi yah!
uchiha priz alexa runo: maaf yah, update-nya sangat telat banget.. Tapi makasih banyak ya
Matsumoto Rika: Maaf yah, kayaknya di Bali Sakura terlalu menderita yah, peace.. Tapi nanti Sasukenya yang bakal menderita kok pas mereka udah balik ke Jepang lagi, sabaaar yaaa
4ntk4-ch4n: Si Ino mau ngerusuh, hehehe.. Keep reading and don't forget to review yah! *sokInggris
uwaykimhara: Iya nih, pengganggu banget, hehehehe...
Maya: Hahaha, asiiikk masih ada yang alim juga, tapi sebenernya temen saya si lathief udah ga alim-alim banget sih, wkwkwk... Tapi tenang aja ga bakal berubah jadi M kok..
Okelah sekian balesan reviewnya..
Akhir kata untuk para readers yang cantik atau ganteng, yang baik, yang pintar, yang imut, yang apalagi yah? Pokoknya REVIEW yang banyak yaaaahhh, segala bentuk kritik, saran dan pujian kami terima dengan senang hati. Dan untuk segala bentuk FLAME, kami tidak menerima dengan ikhlas, karena sudah ditegaskan di paling atas... (Don't like don't read!)
REVIEW PLEEEAASSEEEE!
