Sakura memandang punggung keduanya dari belakang, dan sesuatu seperti menghantam memorinya. Baju Sasuke, rasanya ia pernah melihatnya di suatu tempat. Juga siluet itu, rasanya sangat mirip dengan pemuda yang tadi dilihatnya di Bandara.

Dan ia merasakan fakta kembali menghantam memorinya, lebih keras dari yang tadi. Kejadian saat seorang gadis cantik yang memeluk seorang pemuda di Bandara, kemudian dengan cepat memori itu kembali mengingatkan tentang ciuman yang gadis itu berikan kepada pemuda yang masih diam di hadapannya.

Sakura merasa kepalanya seakan terus berputar, dan beberapa detik kemudian ia berhasil mendapat kesimpulan yang membuatnya seakan tertusuk sebilah pisau tajam tepat di jantungnya.

'Apa mungkin Sasuke pemuda yang tadi?'

The Days of The Princess

Disklaimer tokoh : Masashi Kishimoto

Disklaimer cerita : 'UCHIHA

Rated : T

Genre : Romance, Drama

Don't Like Don't Read!

~I'm Just Your Wife~

Sakura POV's

Entah kenapa aku memang sulit mempercayai semua ini, aku terus berharap bahwa yang aku lihat tadi adalah khayalanku saja yang sedang frustasi. Tapi setiap kali aku mencoba untuk melupakan ingatan itu, justru membuatku semakin sulit untuk menghapusnya.

Aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Apa yang membuatku merasa sangat sesak sampai tidak bisa bernafas? Apa yang membuatku merasa sangat sakit seperti ini? Apa yang membuatku merasa seperti ditikan berkali-kali.

Harusnya aku tidak perlu sesakit ini kan? Maksudku, untuk apa aku sakit begini? Toh, Sasuke dan Ino memang sepasang kekasih, mereka boleh bemesraan dimanapun mereka mau kan? Tapi, kenapa rasanya sangat tidak rela melihat mereka begitu dekat.

Bodoh. Aku memang bodoh, untuk apa aku merasa tidak rela, hmm? Peranku disini kan hanya sebagai wanita yang dijodohkan dengannya, tidak lebih. Juga mungkin, sebagai pengacau kehidupannya yang sempurna.

Kucoba untuk melirik ke arah Sasuke, ia sedang terdiam melihat ke jendela. Ingin sekali aku tahu kemana ia pergi selama menghilang tadi, dan kuharap jawabannya berbeda dengan apa yang ada di benakku. Rasa penasaranku rasanya sudah tidak terbendung lagi, aku bahkan yakin bisa mati penasaran kalau tidak bertanya padanya.

"Sasuke..."

"Hn," tanggapnya tanpa melirik sedikitpun ke arahku.

"Tadi kau kemana?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutku, walaupun sebenarnya perasaanku sangat takut sekali. Takut jawabannya tidak memuaskan.

"Bukan urusanmu," jawabnya masih dengan nada yang dingin dan wajah yang menghadap ke jendela.

Aku menghela nafas panjang. Setidaknya ini lebih baik dibandingkan ia menceritakan apa yang sedang bermain-main di benakku. Tapi tetap saja..

Aku ingin melontarkan kata-kata untuk mengingatkan bahwa aku ini istrinya dan berhak untuk tahu masalah itu, tapi aku urungkan niatku saat kulihat kami sudah sampai di sebuah hotel yang akan menjadi tempat pidato Sasuke nanti.

Seorang pelayan Hotel langsung membukakan pintu mobil kami tepat saat mobil kami berhenti di depan pintu lobby. Dengan langkah cepat Sasuke bersama Kakashi dengan segera berjalan ke ruang ganti, kurasa lebih baik aku tidak mengikutinya, aku pun memilih untuk langsung pergi ke aula.

"Silahkan yang mulia," seorang wanita tersenyum dan dengan sopannya dia menunjukkan arah menuju aula, aku pun dengan senang hati mengikutinya di belakang. Perasaanku mulai sedikit membaik kali ini.

Setelah berjalan beberapa meter, akhirnya aku sampai di depan dua buah pintu yang bisa dibilang pintu yang sangat besar dengan gagangnya yang terbuat dari besi yang sangat panjang menempel dari atas ke bawah di masing-masing pintu. Tak lupa ukiran khas Bali menghiasi pintu tersebut.

Pintu pun terbuka dan memperlihatkan suasana aula yang sudah ramai dengan wartawan dan petinggi-petinggi daerah. Para wartawan itu tak henti-hentinya memotretku, cahaya yang dihasilkannya lama-lama bisa membuatku pusing dan buta sesaat.

Aku pun segera berjalan masuk ke aula tersebut dan duduk di kursi yang sudah disediakan khusus untukku, tepatnya kursi merah yang empuk dan terlihat sangat indah sekali yang berada di barisan paling depan.

Tak berapa lama pintu besar yang berada di sisi kiri aula terbuka dan dari sana terlihat Sasuke yang sudah memakai baju resmi kerajaan berdiri dengan senyumnya. Tak lupa para wartawan pun dengan hebohnya berusaha untuk mengambil gambar dari Pangeran Jepang ini.

Normal POV

Sasuke dengan gagahnya berjalan menuju tempat yang telah disediakan di atas panggung, dan terlihat Gubernur Bali juga berjalan naik ke atas panggung. Di atas panggung tersebut sudah disediakan tiga buah kursi mewah dan sebuah meja besar yang di atasnya terletak banyak sekali mic dari berbagai stasiun TV dan radio. Juga beberapa Audio Speaker di samping panggung.

Sasuke memberi isyarat pada Sakura untuk ikut naik. Tapi masalahnya, isyarat dari Sasuke nyaris tidak terlihat karena wajah non ekspresinya. Untunglah akhirnya Sakura mengerti, dan iapun naik ke atas panggung dengan agak canggung dan terburu-buru.

Mereka duduk dengan urutan Sasuke duduk di tengah, Sakura duduk di samping kanannya dan Gubernur Bali duduk di samping kirinya. Dan tidak lupa, seorang penerjemah berdiri agak jauh dari meja mereka di bagian sisi kiri panggung.

Selama acara tersebut berlangsung, Sakura hanya tersenyum canggung ke depan, ia hanya diam sementara Sasuke dan Gubernurlah yang berbicara. Sasuke berpidato sekitar 10 menit, kemudian dilanjutkan dengan pidato dari Gubernur Bali yang agak membosankan –menurut Sakura yang merasa di kacangin(?).

Banyak sekali pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di benak Sakura sampai-sampai rasanya kepalanya mau pecah. Kepalanya lama-lama terasa berat, dan pelipisnya mengluarkan keringat dingin.

'Uhh, sepertinya aku kelelahan. Dan, ukh! Lapar sekali, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali melihat makanan...' batinnya sambil meremas gaun yang ia pakai namun wajahnya tetap menampilkan senyum manisnya.

Setelah kurang lebih 20 menit, acara pun selesai. Terakhir Sasuke yang bersalaman dengan Gubernur diiringi dengan penandatanganan perjanjian kerjasama antara Jepang dan Indonesia. Dengan segera rombongan Sasuke dan Sakura yang dijaga ketat oleh belasan bodyguard-nya berjalan keluar aula dan segera menuju ke mobil yang sudah menunggu di depan pintu lobby.

Rombongan yang terdiri dari empat mobil itu pun segera meluncur menuju hotel tempat mereka akan beristirahat. Di dalam sebuah mobil dari salah satu rombongan tersebut berisi Sasuke dan Sakura, dan suasana di sana sama heningnya dengan di pemakaman.

Sesampainya di hotel, Sasuke dan Sakura segera keluar dari mobil.

"Yang mulia, saat ini acara sudah selesai jadi anda bisa beristirahat. Pesawat kepulangan anda sudah disiapkan dan akan lepas landas besok jam sebelas siang,"

"Hn, bukankah harusnya masih ada beberapa hari lagi?" tanya Sasuke dengan alis terangkat.

Kakashi terdiam sejenak sebelum menjawab, "Itu.. saya juga kurang tahu. Tapi Yang Mulia Ratu menyuruh anda segera pulang setelah Pidato dan Perjanjian selesai... Anda boleh istirahat sekarang, panggil saya jika ada yang diinginkan."

Sasuke hanya ber 'hn' ria dan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan kaku.

"Terima kasih, paman Kakashi," sementara Sakura merasa tidak enak kepada Kakashi, jadi ia tetap membalasnya dengan senyuman. Sasuke segera masuk ke dalam hotel diikuti beberapa bodyguard-nya.

"Yang mulia, anda terlihat kurang sehat. Apa yang mulia baik-baik saja?" tanya Kakashi dengan wajah khawatir pada Sakura yang terlihat pucat.

"Ah, aku tidak apa-apa, mungkin istirahat sebentar akan membuatku lebih baik, maaf membuatmu khawatir," dengan langkah gontai Sakura segera menyusul Sasuke ke kamarnya, sementara Kakashi masih menyiratkan wajah khawatir pada Sakura.

Sesampainya di kamar, Sasuke segera duduk di sofa sementara Sakura memutuskan untuk segera mandi dan membereskan barang-barangnya karena besok mereka akan kembali ke Jepang. Sakura tidak menghiraukan Sasuke, begitu juga Sasuke yang hanya memperhatikan kegiatan Sakura tanpa berkomentar sambil sesekali melirik ponselnya yang baru ia hidupkan dan sudah terisi penuh.

"Hey, kau mau makan apa?" tanya Sasuke yang sepertinya sudah bosan dengan suasana sepi bak pemakaman umum.

"Aku tidak mau makan, aku mau tidur," jawab Sakura agak ketus tanpa menoleh ke arah Sasuke sedikitpun. Tangannya masih sibuk membereskan barang walau kepalanya sudah mulai berdenyut-denyut.

"Kau ini kenapa?" Sasuke yang sepertinya heran dengan tingkah Sakura, mulai berjalan ke arah kamar untuk melihatnya.

"Aku tidak apa-apa, aku lelah?" jawab Sakura asal membuat Sasuke makin bingung.

Dengan segera Sakura bersiap-siap untuk tidur tanpa menghiraukan Sasuke yang masih mematung di depan pintu kamar karena ini sepertinya baru pertama kali Sakura bicara pada Sasuke dengan wajah serius dan kata-kata yang tidak biasanya.

"Hey, kau mau tidur dimana?" tanya Sasuke tiba-tiba yang melihat Sakura membawa selimut ke ruang keluarga dan duduk di sofa.

"Tentu saja aku akan tidur di sofa, bukannya kau mau tidur di kasur? Aku sedang malas berdebat denganmu," Sakura segera merebahkan tubuhnya di sofa dan menutupinya dengan selimut yang ia bawa dan dengan segera ia menutup matanya tanpa ada niat untuk mendengar tanggapan Sasuke.

"Kau itu kenapa sih? Baiklah kalau itu yang kau inginkan aku akan tidur di kasur, selamat malam," Sasuke sepertinya sudah mulai frustasi dengan Sakura yang berubah drastis, akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar dan tidur walau sebenarnya ia masih memikirkan keadaan Sakura.

'Apa yang sebenarnya telah terjadi selama aku pergi?' batin Sasuke yang sekarang sudah berada di atas kasur sebelum ia menutup matanya.

Keesokan harinya, wajah Sakura tampak semakin pucat dan saat ini ia masih tak menghiraukan Sasuke. Hatinya terlalu sakit untuk melihat wajah Sasuke, karena setiap kali ia melihatnya, dugaan-dugaan tentang identitas pemuda yang ia lihat di bandara mulai menerjang otak tanpa ampun.

Sasuke semakin bingung dengan kelakuan Sakura yang sepertinya mengacuhkannya sedari tadi. Ia hanya memperhatikan gerak-gerik Sakura.

"Kau tidak makan?" tanya Sasuke pada Sakura yang sibuk menyisir rambutnya. Mendengar pertanyaan tersebut Sakura sempat tersentak dan menghentikan kegiatannya.

Ia menghela nafas berat lalu menjawab, "Aku tidak lapar," walau mukanya terlihat biasa – dan pucat, tapi nada suaranya sangat menusuk dan dingin.

"Kau itu sadar atau tidak, kau sudah tidak makan tadi malam dan sekarang kau bilang kau tidak lapar? Kau bisa pingsan nanti kalau kau terus begini," Sasuke yang sepertinya sudah bosan dengan kelakuan Sakura mulai memberanikan diri untuk memaksanya makan, karena sesungguhnya ia juga khawatir melihat Sakura seperti ini. Eh tunggu, khawatir?

Sakura medengus sumbang, "Tidak usah pedulikan aku," ujarnya asal, lalu kembali sibuk sendiri. Membuat Sasuke semakin frustasi. 'Sebenarnya apa yang sudah terjadi!'

Jam sebelas mereka langsung menuju ke bandara. Di dalam mobil seperti biasa hanya ada keheningan, namun ada yang berbeda kali ini. Biasanya Sakura yang sering melirik ke arah Sasuke, tapi kali ini justru sebaliknya.

Selama di pesawat Sakura lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendengarkan musik menggunakan fasilitas yang ada, setelah bosan ia lebih memilih untuk tidur. Tanpa sedikitpun berusaha membuka percakapan dengan Sasuke seperti yang biasanya sering ia lakukan.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam, akhirnya pesawat mereka mendarat di Jepang dan tentu saja rombongan penjemput sudah menunggu di sana.

Sesampainya mereka di istana, Sakura lebih memilih untuk segera menuju ke kamarnya sementara Sasuke tentu saja harus melaporkan hasil kunjungannya kepada Raja alias ayahnya.

"Baguslah kalau begitu, selamat atas keberhasilanmu Pangeran," ucap Fugaku setelah mendengar cerita dari anaknya, ia tampak bangga sekali atas kerja keras Sasuke selama di Bali.

"Tapi ngomong-ngomong, di mana Putri?" Ibu Suri yang sedari tadi hanya mendengarkan omongan ayah dan anak ini pun akhirnya bersuara. Ia sepertinya sangat merindukan Sakura, mengingat beberapa hari ini mereka (Sasuke dan Sakura) pergi ke Bali.

"Maaf yang mulia, sepertinya tuan putri sangat kelelahan jadi ia sedang berada di kamarnya sekarang," jawab Sasuke dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. Sebenarnya ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sakura, tapi dari pada membuat semua cemas?

"Baiklah kalau begitu aku akan kembali ke kamar," Sasuke segera pamit dari hadapan Ibu Suri dang orang tuanya.

"Istirahatlah Pangeran," Mikoto memaklumi Sasuke dan menyuruhnya istirahat, ia terus memperhatikan anak kesayangannya itu berjalan keluar dari ruangan, tak lupa dengan senyuman yang terulas di bibirnya.

Sesampainya di kediaman Putra dan Putri Mahkota, Sasuke tidak langsung masuk ke kamarnya. Ia melihat sejenak ke arah kamar Sakura yang tepat berada di depan kamarnya. Tampaknya Sakura tengah dipaksa makan oleh beberapa pelayan, namun dengan gigihnya dia hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan keras kepala.

Itu terjadi berulang-ulang, setiap pelayan bergantian mencoba membujuk Sakura makan, namu tidak ada satupun yang berhasil. Akhirnya mereka hanya bisa mengalah dan pergi meninggalkan Sakura, setelah sebelumnya menaruh makanan di meja samping tempat tidur Sakura.

Sasuke mengernyit heran melihatnya, ia semakin bingun dengan sifat Sakura ini, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada Kakashi yang saat ini berada tak jauh di belakangnya.

"Kakashi, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Sasuke tiba-tiba dan tentu saja Kakashi langsung berjalan mendekat ke arah Sasuke.

"Ya, yang mulia,"

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Putri saat di Bali? Tepatnya saat aku sedang pergi," Kakashi pun sedikit terkejut mendengar pertanyaan Sasuke, namun akhirnya ia memutuskan untuk memberitahunya demi kebaikan mereka.

Kakashi mengerjap beberapa kali sebelum kemudian menjawab, "Sebenarnya, Putri sangat khawatir terhadap anda, yang mulia. Sampai akhirnya ia bertemu dengan tuan Uzumaki,"

"Maksudmu, Naruto temanku?" tanya Sasuke meyakinkan.

"Ya, yang mulia. Ia memberitahu bahwa yang mulia sedang bersama nona Yamanaka di Bandara,"

Tentu saja Sasuke sangat kaget mendengar kabar tersebut, namun rasa terkejut itu segera digantikan oleh sebuah perasaan lain yang mengejutkan Sasuke. Ada apa ini, kenapa ia merasa... bersalah.

Sasuke menghela nafas berat, lalu menjawab, "Baiklah kalau begitu, terima kasih," Kakashi segera berjalan meninggalkan Sasuke yang masih terdiam di depan kamar Sakura dengan wajah yang bisa dibilang 'sangat merasa bersalah'. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk masuk ke kamar Sakura, entah apa yang menariknya untuk berjalan masuk ke dalam kamar Sakura.

Di atas kasur yang berukuran king size tersebut, Sakura tengah terlelap dalam tidurnya dengan wajah yang sangat pucat. Sasuke mungkin akan mengira Sakura mati jika saja dada gadis itu tidak naik-turun menandakan ia bernapas.

Sasuke tertegun melihat bekas aliran air mata yang mengering di pipi gadis itu, samar namun tetap terlihat oleh Sasuke. Sebuah kalimat tiba-tiba berlalu lalang di benaknya. 'Gadis itu istrimu.'

Ya istrinya, itulah status gadis itu sekarang. Tapi apakah sikapnya selama ini sudah layak disebut seorang suami?

"Maaf," hanya kata itu yang terlontar dari mulut Sasuke. Sementara Sakura–entah ia bisa mendengarnya atau tidak, masih terlelap dalam tidurnya, tentu saja ia sangat lelah menanggung perasaan ini.

Tangan Sasuke sekarang mulai bergerak mencoba menggapai wajah Sakura. Namun beberapa senti sebelum tangan itu menyentuh wajah Sakura, Sasuke membeku. Seperti tersadar dari sesuatu, ia segera menarik tangannya, 'Lebih baik aku tidak mengganggunya,' batin Sasuke dan ia seger bangkit dan beranjak menuju kamarnya.

Keesokan harinya, seperti biasa Sakura dan Sasuke bersiap untuk berangkat ke sekolah, namun sampai hari ini Sakura tidak pernah mau menyentuh makanannya, ia hanya minum berliter-liter air tanpa makan apapun. Rasanya ia sangat tidak bernafsu makan. Wajahnya pun semakin pucat dan badannya sangat lemas.

Sesampainya di sekolah Sakura terus berjalan dengan kepala tertunduk dan langkah gontai, tidak sekalipun ia menghiraukan sapaan yang di berikan orang-orang. Sesampainya di kelaspun ia langsung duduk di bangkunya dan membenamkan diri pada sebuah buku tebal yang entah apa isinya.

Sahabat-sahabat Sakura segera menghampirinya, mereka tampak antusias untuk mendengar cerita Sakura tentang kunjungannya ke Bali. "Sakura! ya ampun apa kabar? Kau berhutang cerita pada kami!" suara cempreng Karin membahana menembus gendang telinga Sakura.

"..."

"Ayolah Sakura, ceritakan kunjunganmu ke Bali," bujuk Tenten kepada Sakura yang masih sibuk dengan buku tebalnya.

"..."

"A-ada apa Sakura-chan? Kau terlihat pucat, apa kau sakit?" suara Hinata yang pelan dan sedikit tersendat ikut meramaikan sekeliling Sakura.

"..."

"HE! JIDAT! Kau ini kenapa sih, ayolah cerita pada kami. Apa Uchiha Sasuke itu menyakitimu?" mendengar nama Sasuke di sebut-sebut oleh Karin membuat Sakura tanpa sadar menutup bukunya dan menghela napas berat.

"Tidak, tidak ada apa-apa. Dia tidak menyakitiku," ucap Sakura datar, lalu kembali membuka bukunya.

Sakura mendengar Tenten dan Karin menghela nafas berat sebelum kemudian didengarnya suara Karin kembali, "Sekali lihat pun kami tahu ada apa-apa. Kau berpakaian rapih dan membaca buku tebal, itu pastu ada masalah kan? Ayo ceritakan pada kami."

"I-iya Sakura-chan, ceritakan saja pada kami. Ki-kita sahabat bukan?" tambah Hinata mendukung Karin.

Sakura menghela napas berat, lalu mulai menceritakan semua hal selama di Bali. Termasuk kejadian di bandara dan hal yang membebani pikirannya.

Sakura cukup bersyukur setelah menceritakan semuanya, rasanya sangat lega dan ringan. Walau tidak sepenuhnya ia merasa lega, tapi ia senang bercerita pada teman-temannya. Mereka sangat baik. Mereka mendengarkan cerita Sakura dari awal sampai akhir dengan sabar dan memberi dukungan dan kata-kata penenang di akhir. Dan juga ancaman-ancaman untuk Ino dari Karin sebagai tambahan.

Setidaknya dukungan teman-temannya bisa membuat Sakura bertahan sampai bel istirahat berbunyi dan pelajaran jam pagi selesai. Dengan gontai ia bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kelas tanpa menghiraukan pertanyaan dan ajakan teman-temannya untuk makan siang bersama. Ia hanya ingin sendiri.

Saat itu Sakura sedang berjalan melewati lorong kelas satu saat ia secara tidak sengaja berpapasan dengan Ino. Mereka sempat bertatap muka namun tidak ada yang memulai untuk berbicara ataupun mencoba untuk menyapa. Akhirnya Sakura memberanikan diri.

Ia menghela napas sebentar lalu berkata, "Tunggu, aku ingin bicara denganmu," Ino pun menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk mengikuti Sakura.

Mereka segera menuju ke salah satu ruang kelas yang kosong. Kelakuan mereka yang agak mencolok itu tampaknya mengundang beberapa orang murid untuk mengerubungi pintu kelas. Namun tidak ada yang bersuara sama sekali, mereka hanya menonton dalam kebisuan.

Sakura dengan yakin menatap wajah Ino, namun ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Membuat Ino terpaksa memulai pembicaraan.

"Jadi bagaimana kunjunganmu di Bali?" Ino memulai pembicaraan.

"Bukankah kau sudah tahu tentang itu, Ino?"

"Huh, sepertinya kau tahu kalau aku ke sana ya?" tanggap Ino dengan wajah angkuh. Beberapa bisik mulai terdengar di sekeliling mereka, namun segera sunyi kembali saat Sakura menatap kerumunan dengan tajam.

"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?" tanya Sakura dengan nada yang sedikit ditinggikan sementara Ino masih dalam keadaan yang tenang. Sakit kepalanya membuat Sakura tidak bisa mengontrol emosi.

"Jika kau memang mau tahu, aku akan mengatakannya. Sasuke milikku! Kami saling mencintai dan kami sangat bahagia karenanya, sampai kemudian kau datang dan merusak semuanya!" jawaban Ino membuat Sakura semakin lemas, rasanya kakinya sudah seperti agar-agar yang kenyal dan lembek.

"Apa maksudmu?" tanya Sakura dengan nada yang sangat pelan, nyaris seperti gumaman.

Tapi tentu saja Ino dapat mendengarnya karena ruangan itu senyap, "Tentu saja, aku akan terus berusaha untuk mendapatkannya kembali," jawab Ino dengan wajah setenang mungkin, sementara Sakura mulai merasa seperti ada yang memalu kepalanya dan memakan kakinya yang sudah berubah menjadi agar-agar. Dengan segenap kekuatan ia berusaha menjawab.

"Kau—"

BHRUUUK

Sakura terjatuh membuat Ino terpaku kaget. Perlahan ia berlutut di samping Sakura dan mulai mengguncang-guncang tubuh gadis itu dengan cemas. Tempat yang tadinya sunyi segera penuh dengan bisik-bisik curiga.

"Apa yang kalian lakukan? Cepat bantu aku!" pekik Ino gusar, ia tidak ingin dianggap orang yang kejam.

Beberapa orang perempuan mulai masuk dan membantu menyadarkan Sakura. beberapa laki-laki berlari memanggil teman-teman Sakura. Tak lama kemudian Gaara berlari ke arah Sakura dengan panic di belakangnya sahabat-sahabat Sakura mengikuti dengan tampang kelewat cemas.

"SAKURA, SAKURA, HEI!" Gaara terus memanggil-manggil nama Sakura dan mencoba mengguncang-guncangkan tubuhnya agar kesadaran Sakura tidak hilang sepenuhnya. Disentuhnya kening Sakura dan tiba-tiba saja air mukanya terlihat tercengang. Suhu gadis itu melampaui suhu tubuh pada umumnya, sangat panas.

Sahabat Sakura yang melihat air muka Gaara yang berubah semakin keruh pun bertaabah panik dan terus memanggil-manggil nama Sakura.

Tiba-tiba suara yang tak asing terdengar dari pintu ruangan kelas tersebut.

"JAUHKAN TANGANMU DARINYA!" Sasuke dengan angkuhnya berjalan ke arah Sakura, dan tentu saja keadaan menjadi hening terutama Gaara yang langsung terpaku mendengar suara Sasuke.

Sasuke segera berjongkok dan mengangkat tubuh Sakura kemudian menggendongnya, bridal style. Ia segera membawa Sakura menuju mobil rombongan dan segera meluncur ke istana. Tak lupa suara-suara ribut yang mengiringi Sasuke dan Sakura, apalagi saat Sasuke menggendong Sakura.

Sementara Gaara dan Ino masih terdiam di dalam ruangan tadi, mereka sangat terkejut dengan kejadian tadi tepatnya dengan tindakan yang Sasuke lakukan. Mereka saat ini hanya tinggal berdua di dalam ruangan itu.

"Apa kau masih akan mengejarnya, Ino?" Gaara memecah keheningan.

"Entahlah, kau sendiri apakah masih berambisi menjadi Putra Mahkota dan memiliki gadis yang kau cintai?" tanya Ino dengan senyum sinis.

"Kalau itu, memang takdirku kan?" tanggap Gaara sambil melihat ke arah jendela yang berada di samping Ino berdiri.

"Kau yakin sekali,"

"Huh, apa benar kemarin kau bertemu dengan Sasuke di Bali?"

"Ya, begitulah. Saat itu aku masih ingat, Sasuke terlihat sangat senang sekali, tapi ia tidak menyadari kehadiranku sedikit pun tadi," Ino segera meninggalkan Gaara yang masih termenung menatapi langit dari jendela dengan wajah yang sulit diartikan.

Sementara itu Sakura yang masih tak sadarkan diri saat ini sudah terbaring di kasurnya, dengan Sasuke yang sedari tadi terus mengompresnya dengan kain hangat agar suhu tubuhnya cepat turun kembali. Terlihat sekali Sasuke saat ini sangat khawatir dengan Sakura, apalagi dari tadi dia masih belum sadar.

Sasuke menggenggam tangan Sakura yang terasa panas dan membenahi selimut agar menutupi tubuh Sakura. Ia memandang wajah gadis yang sekarang sedang terlelap di hadapannya dengan lembut.

"Harusnya aku tahu kalau semua ini akan terjadi," mata Sasuke terus menelusuri wajah gadis yang sekarang menjadi istrinya.

"..."

"Apakah aku sudah terlalu kejam padanya?" pertanyaan itu lebih tepat ditunjukkan pada dirinya sendiri.

"..."

"Apa kau membenciku, Sakura?"

"..."

"Apa kau mau memaafkanku?" lagi-lagi hanya keheningan yang menjawab.

Sasuke pun memutuskan untuk meninggalkan Sakura, biarlah gadis itu beristirahat. Ia baru akan mengambil ancang-ancang untuk bangun saat Sakura menggigil dan mengernyit menahan sakit. Ia tertegun, lalu memutuskan untuk kembali duduk.

Perlahan disekanya bulir-bulir keringat di pelipis Sakura dengan sapu tangannya, lalu ia beralih mengelus rambut Sakura.

Terdengar ketukan di pintu, dan suara Kakashi terdengar setelahnya. "Maaf Yang Mulia Pangeran, saya disuruh Yang Mulia Raja untuk memanggil anda."

Sasuke menatap Sakura sejenak, rasa ragu terpancar dari tatapannya. Namun sebelum ia sempat memutuskan, suara Temari terdengar, "Tenang saja Yang Mulia, saya akan menjaga Tuan Putri selama anada pergi."

Senyum tipis mengembang di bibir Sasuke. Ia pun segera bangkit setelah mengelus kepala Sakura sekali. Lalu berjalan keluar kamar.

"Kuharap, kau memenuhi ucapanmu. Jaga dia, jangan biarkan siapapun mengganggunya," perintah Sasuke kepada Temari, lalu ia berjalan pergi.

"Ya, yang mulia," ucap Temari patuh.

Kakashi segera mengikuti Sasuke di belakang, sementara Temari masuk ke kamar Sakura bersama dua pelayan wanita yang biasanya menemani Sakura.

Tak berapa lama Gaara datang membawa sebuah rangkaian bunga yang indah. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan gadis yang dicintainya itu. Segera saja ia masuk ke dalam kamar Sakura dan dilihatnya Sakura masih terlelap namun samar-samar ia mendengar Sakura menggumamkan sesuatu.

Gaara menatap Sakura dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Ia letakkan rangkaian bungan tersebut di atas meja kecil yang berada di samping kasur. Kemudian ia duduk di sebuah kursi kecil yang berada di samping Sakura.

"Ayah... Ayah aku sakit.. ayah.." Sakura terus memanggil ayahnya.

Gaara agak heran, kenapa yang di panggil ayah? Yah, biasanya seorang anak perempuan memang dekat dengan ibunya, tapi Sakura lebih dekat dengan ayahnya karena ibunya sibuk berkerja.

"Ayah aku mau pulang, ayah.." Sakura kembali mengiggau, dan Gaara memakluminya mengingat Sakura yang tinggal di istana dan sudah lama ia tidak bertemu ayahnya, Gaara kasihan melihatnya.

Gaara mencoba menggapai tangan Sakura dan mengguncangnya lembut agar Sakura terbangun. Dan sepertinya itu berhasil.

"Sakura, kau tidak apa-apa?" tanya Gaara begitu Sakura membuka matanya.

"Gaara," Sakura segera bangun dar tidurnya dan mencoba untuk duduk. Gaara pun membantunya.

"Kau sudah sadar, apa yang terjadi? Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Gaara dengan raut wajah khawatir.

"Aku sudah lebih baik Gaara, terima kasih," Sakura yang nampaknya memang sudah lebih dan itu membuat Gaara sedikit tenang. Gaara yakin bahwa Sakura adalah seorang gadis yang kuat. Kecanggungan pun terjadi diantara mereka.

"Hmm, aku ingin keluar sebentar. Di sini sangat membosankan,"

"Baiklah,"

Sakura dengan semangat berjalan keluar dari kamarnya menuju taman yang berada di dekat kamarnya bersama Gaara. Gaara yang melihat keadaan Sakura yang sepertinya memang sudah lebih baik daripada yang kemarin juga merasa sangat senang.

Saat ini terlihat banyak sekali daun yang berguguran di taman, mungkin sebentar lagi akan memasuki musim gugur. Sakura berlari mengelilingi taman itu disertai Gaara yang hanya memperhatikannya sambil tertawa kecil.

Sakura memutuskan untuk duduk di bawah pohon peach yang daunnya sedang berguguran saat merasa kepalanya kembali berdenyut menyakitkan.

"Sakura, kau terlihat bahagia sekali," ujar Gaara pada Sakura, membuat si gadis seketika mengembangkan senyumannya dan menatap Gaara yang sekarang duduk di sampingnya.

"Ya, saat ini rasanya sedikit lega," Sakura segera memalingkan wajahnya dan menatap ke langit.

"Kau ingin bebas?" pertanyaan Gaara membuat Sakura sedikit terkejut, karena baru pertama kali ada orang yang bertanya seperti itu kepadanya.

"Huh, tentu saja aku ingin bebas, seperti burung-burung itu," Sakura menatap sepasang burung yang sedang bertengger di dahan pohon. Ia menaruh tangannya di belakang kepala dan merebahkan diri di tanah.

"Aku bisa membuatmu bebas," Sakura yang mendengarnya hanya menaikkan alis kebingungan, ia tak mengerti apa maksud ucapan Gaara tadi. Ia tatap Gaara dengan wajah yang mengatakan 'Apa-maksudmu?'

"Aku tahu kau selalu terluka karena Sasuke, dan itu juga membuatku terluka," Gaara mengambil selembar daun yang berada di dekatnya, dan menggenggamnya.

"Aku ingin selalu membuatmu bahagia, jika kau ingin bebas dari kehidupan istana maka aku akan bersedia ikut denganmu," Sakura menatap nanar wajah Gaara yang menampilkan raut wajah kesedihan. Gaara mengangkat tangannya yang memegang daun tersebut dan membuka tangannya. Seketika angin menerbangkan daun tersebut dari tangan Gaara.

Sakura sekarang mengerti apa maksud Gaara, dalam hati ia sangat berterima kasih karena masih ada orang yang mengkhawatirkannya.

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tiba-tiba sebuah suara yang sangat mereka kenal terdengar dari belakang mereka. Sakura dan Gaara segera menoleh kebelakang mencoba melihat pemilik dari suara tersebut.

"Sasuke..," Sakura menatap wajah dingin Sasuke, terlihat sekali sepertinya Sasuke sangat kesal. Dengan segera Sakura dan Gaara bangun dan membersihkan pakaian mereka yang sedikit kotor terkena tanah.

"Kau itu sedang sakit, kenapa kau keluar?" Sakura semakin takut dengan Sasuke, ia hanya menunduk dan tidak berani menatapnya.

"Dia hanya bosan di dalam," Gaara mulai angkat bicara mencoba membela Sakura. Sasuke mendekat ke arah mereka dengan tatapan dingin terutama ke arah Gaara. Sasuke dan Gaara saling bertatap muka, onyx bertemu jade.

"Jangan coba-coba merebutnya dariku," Sasuke mengatakannya dengan nada yang sangat pelan sehingga hanya bisa didengar oleh Gaara.

Dengan segera ia menarik tangan Sakura dan menyeretnya ke dalam kamar. Tentu saja Sakura mencoba untuk melepaskan genggaman Sasuke yang membuat tangannya sakit. Sementara Gaara hanya diam ditempat karena dia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini.

"Memang kenapa jika aku ingin merebutnya darimu, Sasuke? Kau bahkan tidak mencintainya kan?"

Kata-kata Gaara menghentikan langkah Sasuke. Sasuke sendiri sebenarnya tidak tahu kenapa ia tidak ingin Gaara mengambil Sakura dari sisinya. Selama beberapa detik Sasuke tetap diam di tempat membuat Sakura sendiri agak bingung. Lalu setelah menghela napas berat, ia kembali berjalan sambil menyeret Sakura.

"Sasuke, lepaskan tanganku!" bentak Sakura sambil terus mencoba melepaskan diri dari gengaman Sasuke.

"AYO CEPAT MASUK!" Sasuke ikut membentak Sakura yang masih menahan sakit. Sakura tahu bahwa Sasuke entah kenapa tidak suka jika ia dekat-dekat dengan Gaara. Dan itu membuat Sakura merasa tidak adil.

Sesampainya di dalam kamar Sakura, Sasuke segera melepaskan tangan Sakura yang sudah jemarinya sudah memutih karena peredaran darahnya tidak lancar. Terlihat sekali mata Sakura sudah mulai berkaca-kaca. Ia hanya bisa mendengus dan diam tanpa mengatakan apa-apa.

"Kenapa kau selalu kejam padaku?" tanya Sakura yang saat ini sudah tak kuasa menahan tangisnya. Sasuke masih diam tak bergeming sedikit pun.

"Kenapa kau selalu tidak suka setiap aku dekat dengan Gaara?" tanya Sakura lagi, isakannya semakin hebat.

Sementara Sasuke sendiri masih tetap bergeming, ia sendiri tidak tahu kenapa ia selalu merasa kesal dan panas setiap kali melihat Sakura berdekatan dengan Gaara. Rasanya seperti ada seseorang yang memanaskan tungku di otaknya dan menusuk-nusuk jantungnya. Tunggu, buakankah itu artinya kau suka padanya, Sasuke?

"Aku tahu, aku hanya seorang gadis yang terpaksa kau nikahi karena perjodohan konyol, tidak lebih. Tapi setidaknya tolong hargai aku, jangan seenakmu saja seakan aku ini hanya seonggok boneka ak berperasaan. Dan jangan diam saja, tolong katakan sesuatu! Kau tidak tuli dan bisu kan?" kata-kata itu mengalir dengan deras dari mulut Sakura, seperti keran air yang bocor dan menyemburkan air kemana-mana.

Ia menatap Sasuke yang masih terdiam tanpa berniat menanggapi perkataannya. Habis sudah kesabarannya. Sakura baru saja akan berlari keluar dari kamarnya sebelum tangan kekar Sasuke menahannya dan menarik Sakura kedalam pelukannya. Tentu saja Sakura sangat terkejut dan berusaha untuk melepaskan diri.

"Maaf," Sakura tertegun mendengar kata itu keluar dari mulut Sasuke. Ia mulai merasakan kehangatan yang diberikan Sasuke. Namun ia tetap diam mengunci mulutnya.

"Maaf jika aku telah bersikap buruk padamu," Sasuke semakin mempererat pelukannya pada Sakura. Sesekali ia mencium pucuk kepala Sakura, sementara Sakura masih terdiam di pelukannya.

"Maaf jika aku sudah melukai perasaanmu,"

"..."

"Maaf jika aku sudah egois, aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa seperti itu. Maaf, maaf, maaf.." ujar Sasuke. "Maukah kau me-memaafkanku?"

Hening beberapa menit sampai akhirnya Sasuke melepaskan Sakura dari pelukannya. Si gadis masih terdiam tidak bergerak dari posisi semula, ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Sasuke.

Sasuke tertawa sumbang, "Apa kesalahanku begitu besar sampai kau bahkan tidak mau memaafkanku?" tanya Sasuke, suaranya sangat lirih membuat Sakura nyaris tidak mendengarnya.

Sakura tersentak. Tidak, tidak. Bukan maksudnya tidak mau memaafkan Sasuke, ia hanya terkejut saja. Dengan panik ditatapnya muka Sasuke, dan pandangan mereka bertemu. "Eh, itu.. itu tidak seperti itu, eh maksudnya.."

Sasuke menaikkan alisnya bingung, "Lalu?"

Sakura mendesah gusar, "Err, sebenarnya aku sudah, eh, memaafkanmu.."

"Benarkah?" tanya Sasuke dengan nada terkejut sekaligus senang yang sangat kentara.

"Err, ya begitulah.." dan saat itu, tahu-tahu Sakura sudah berada di pelukan Sasuke.

Kejadian itu tentu saja tak disia-siakan oleh Kakashi, Temari dan pelayan-pelayan lainnya yang menikmati dari luar ruangan. Mereka tersenyum bahagia melihat sang Putra Mahkota sudah bersikap hangat kepada Putri Mahkota. Sekaligus penghematan, jarang-jarang mereka menonton drama secara langsung tanpa harus membuang uang untuk membeli tiket kan?

Ternyata Gaara juga memperhatikan dari luar, ia terlihat sangat sedih. Bagaimana tidak, ia baru saja melihat gadis yang sangat dicintainya berpelukan dengan seorang pria. Walaupun itu adalah suaminya, tetap saja hatinya terasa sakit.

'Kenapa kau selalu mengambil semuanya dariku, Sasuke?' batin Gaara. Ia pun segera beranjak dari tempat itu, tak tahan rasanya jika harus melihat kejadian ini terlalu lama.

.

.

Di ruang keluarga istana, berkumpullah Ibu Suri, Raja, dan Ratu. Mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius dan menarik.

Sepertinya bukan masalah keuangan negara karena harusnya terlihat serius dan memusingkan, bukan juga masalah sejarah negara karena harusnya terlihat sangat serius dan membosankan, apalagi tentang film yang baru keluar karena itu sangat salah gaul. Lalu apa?

"Bagaimana jika kita lakukan malam ini?" tanya Ibu Suri dengan sangat antusias.

"Tapi apa tidak terlalu cepat?" tanya Mikoto—sang Ratu dengan wajah cemas, sementara itu Fugaku— sang Raja hanya tersenyum geli mendengar pertanyaan dari Mikoto.

"Tidak apa, mereka sudah cukup besar untuk melakukannya," jawab Fugaku dengan senyuman yang jarang ia perlihatkan. "Dan aku mendengar gosip bahwa kemarin mereka terlihat sedang berpelukkan dengan mesra."

Ratu tersedak ludahnya sendiri saat mendengarnya, namun diabaikan oleh Ibu Suri yang memilih bicara dibanding membantu menantunya itu.

"Lagipula aku sudah tidak sabar ingin menggendong seorang bayi," ujar Ibu Suri sambil terkekeh. Ia memang selalu terkekeh geli jika sedang mengatakan keinginannya yang satu ini. Memang sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menimang seorang bayi.

"Sekretaris istana," panggil Fugaku pada Kakashi—Sekretaris Istana, yang ternyata sudah berdiri di ruangan itu sedari tadi dan terus mendengarkan pembicaraan mereka.

"Ya, yang mulia," Kakashi berjalan mendekat ke arah Fugaku dan menunduk hormat.

"Tolong siapkan semuanya, kita akan laksanakan malam ini." titah Fugaku pada Kakashi yang hanya dibalas dengan jawaban seperti biasa dan dengan segera Kakashi undur diri dari ruangan itu. "Dan beritahu Temari juga!"

Raja, Ratu dan Ibu Suri kali ini hanya diam dengan ekspresi wajah masing-masing dan membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam. Terlihat sekali wajah Ibu Suri sangat senang sekali begitu juga Raja, sementara sang Ratu masih dengan wajah cemasnya.

***To Be Continue***

Lebih cepat dari yang kuduga, ternyata bisa update lebih cepat dari chap sebelumnya. Dan itu semua karena Lathief, dia rajin banget. Hehehe.

Entahlah ini udah bisa di sebut romantis apa belum, tapi sih kayaknya belum. Tapi kami sudah berusaha memenuhi permintaan kalian, walau entahlah...

Sekali lagi, we're so sory for any typos and missing words. Juga untuk alurnya yang rasanya bertele-tele. Hehe -_-VV

Balasan review :

Kikyo Fujikazu : Hei, terima kasih sudah review :D Ini sudah ada Gaasaku, belum banyak sih. Tapi nanti di chap-chap depan mungkin akan banyak, hehe. Dan ini dia, chap sembilan, semoga suka!

Ichi yuka : Hai, salam kenal juga! Terima kasih sudah review. Ini nih, sudah kan Kak Sasuke dibikin cemburu? Jangan lupa review lagi ya :D

kimimaru k : Hei, makasih ya udah mau ngereview. Belum, belum. Kak Sasuke sendiri belum pasti sama perasaannya. Emang dia kadang suka cemburu liat Kak sakura sama Kak Gaara berduaan, tapi dia sendiri juga gak tau kenapa bisa nggak suka begitu. Hehehe.

Laluna :Hei, hei! Makasih udah review :D Aduhduh, gemen ne. Maaf udah bikin kecewa, jangan nagis ya, hehehe. Yah, yang chap sebelumnya termasuk ke dalam konflik yang menguji hubungan Sasusaku, tapi itu juga yang nanti bakal bikin hubungan mereka... RAHASIA! Liat aja ya di chap-chap depan :D

kyu m : Hei, makasih ya udah mau review :D Ini dia permintaanmu, tapi maaf ya belum bisa menuhin permintaan yang Kak Sasuke nyatain cinta, ada waktunya nanti di chap-chap depan, hehehe. Semoga kau nggak kecewa sama chap ini.

AND BIG THANKS FOR YOU ALL! uchiha priz alexa runo, Pink Uchiha, Via-princezz, haruno gemini-chan, Just Ana, Park Ra Ra, Matsumoto Rika, 4ntk4-ch4n, ss holic, natsume, chibi uca, tsukimoru len, princess 2, lulu ss, riachan-uciha, agnes BigBang, Violet-Yukko, Fiyui-chan, Airhy santi. Terima kasih ya, udah mau RnR fic kami :D