Sinar matahari menyeruak dari balik awan-awan kelabu, menyinari seluruh kota Tokyo menandakan dimulainya seluruh aktivitas. Burung-burung sudah merentangkan sayap mereka sedari tadi, mencari makanan sambil berkicau meramaikan suasana pagi.

Keadaan di luar sana tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di balik pagar Istana. Semua orang memulai aktivitasnya masing-masing. Para pelayan sudah sibuk berlalu-lalang kesana kemari. Dapur, ruang cuci, halaman depan, halaman belakang, Perpustakaan, koridor-koridor, semuanya terlihat sangat sibuk.

Namun sayangnya, orang-orang terpenting di keluarga kerajaan sendiri masih belum mau bangkit dari gelungan penuh kenyamanan ranjang mereka. Termasuk sang Putra dan Putri Mahkota yang sekarang masih terlelap, saling berangkulan. Terlihat sangat nyaman dengan posisi masing-masing.

Cahaya matahari menembus salah satu jendela di ruangan mereka, tepat jatuh menyorot kearah kepala mereka yang terletak sangat berdekatan. Sinar matahari yang cukup terang ini membuat Sakura, Sang Putri Mahkota, menggeliat terganggu. Dan gerakannya ini tampaknya membangunkan Sang Pangeran yang terlelap sambil mendekap tubuhnya erat.

Saat mereka membuka matanya, yang pertama kali terlihat adalah sorot kebingungan dari keduanya. Onyx bertemu Emerald, tampak sangat janggal bagi merea berdua. Keduanya terdiam cukup lama..

5 detik..

10 detik...

1 menit penuh..

Lalu,

''GYYAAAAAAAAAAAAAAA!'' teriak keduanya bersamaan. Serabutan, mereka berdua segera menjauhkan diri.

The days of the Princess

Disclaimer tokoh©Masashi Kishimoto

Disclaimer cerita©'UCHIHA

Genre: Romance/Drama

Pairing: SasuSaku

Rated: T

-Our Destiny-

Sebelumnya...

Jam 3 pagi, tiba-tiba Gaara terbangun dari tidurnya.Mimpinya tadi terasa sangat mengerikan, walau ia tidak mengingat sebagian besar mimpinya, tapi rasa takut tidak meninggalkan benaknya. Jantungnya bertalu kencang seperti akan meloncat keluar dari rongga dadanya, dan tubuhnya gemetar tak terkendali.

Rasanya ia sudah tidak ingin tidur lagi, kantuk sudah melayang entah kemana dan matanya benar-benar menolak untuk terpejam. Setelah menarik napas beberapa kali dan mengatur detak jantungnya, ia memutuskan untuk berkeliling sejenak dan menenangkan pikirannya.

Baru saja ia keluar dari paviliun kediamannya, saat ia tak sengaja melihat dua orang pelayan berjalan berdampingan di ujung koridor, 'Apa yang mereka lakukan malam-malam begini?' batin Gaara bingung.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi di Istana, sejak tadi malam rasanya ada sesuatu yang janggal. Berusaha memuaskan rasa penasarannya, Gaara memutuskan untuk mengikuti kedua pelayan itu diam-diam. Mungkin saja mereka akan melakukan hal-hal yang berbahaya? Siapa tahu kan? Yah, mencegah memang lebih baik dari mengobati, bukan?

Saat sedang dalam aktivitasnya menjadi 'mata-mata', ia secara tak sengaja mencuri dengar percakapan dua pelayan itu.

''...mereka benar-benar melakukannya?''

"Hum? Yah, kudengar dari beberapa pelayan yang berjaga. Mereka mendengar Tuan Putri berteriak, dan disusul beberapa suara lainnya yang, yah.. kau tahu 'kan maksudku?"

''Hah? Benarkah? Ya ampun, aku berani bertaruh Yang Mulia Pangeran meminum semua ramuan itu,''

''Ya kau benar, dan sebentar lagi pasti akan ada bayi kecil yang datang kesini, khukhukhu,''

''Aku tak sabar jadinya ingin melihat bayi itu, kalau laki-laki pasti akan sangat tampan seperti Putra Mahkota, dan kalau perempuan...''

Gaara tak sanggup mendengarnya lagi. Secepat kilat ia melangkahkan kakinya ke arah sebaliknya sambil menulikan telinganya agar tak mendengar kelanjutan percakapan dua pelayan tak sopan itu.

Tidak disangka ia sudah berjalan sampai kedepan kamarnya, dan sebelum ia benar-benar sadar dari trans-nya, kakinya seperti berubah jadi agar-agar. Ia segera menghantamkan punggungnya ke dinding di samping pintu kamarnya, membiarkan dirinya jatuh merosot terduduk di lantai.

'Mereka melakukannya..mereka melakukannya..mereka melakuannya..' rasanya ia bisa gila sekarang, bagaimana mungkin Sakura melakukannya?

Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih, napasnya terasa berat dan tak beraturan. Ia merasa seperti akan meledak sekarang juga.Ini bukanlah mimpi buruk dimana kita bisa bangun saat merasa terancam, ini kenyataan. Dan kita tidak akan bisa lari dari kenyataan.

Dengan cepat Gaara berlari ke arah paviliun yang diketahuinya sebagai tempat yang biasa dipakai untuk melaksanakan ritual bagi para pengantin baru. Saking tergesanya sampai-sampai badannya mungkin sudah berkali-kali menubruk tiang dan sudut dinding. Tapi ia seperti sudah tak peduli akan rasa sakit di tubuhnya, karena sesungguhnya rasa sakit di hatinya lebih tak bisa tertahankan lagi.

Dan benar saja ketika ia sudah hampir sampai, tepat 10 meter dari ruangan itu sekitar selusin pelayan tengah duduk di depan pintu ruangan. Mereka semua memakai baju Adat Jepang, dan semuanya terlihat sangat mengantuk. Sementarakeadaan di dalam ruangan terlihat sepi dan gelap. 'Apa sudah selesai? Apa ia sudah terlambat? Tuhan, jangan bilang ia sudah terlambat.'

Gaara menggeram gusar. Acara ini pasti sudah dilakukan sejak kemarin petang, dan ia jelas-jelas sudah terlambat. Tapi, kenapa tidak ada seorangpun yang memberitahunya? Bahkan Sakura sekalipun?

Tiba-tiba 2 orang laki-laki berbadan besar yang diketahui sebagai pengawal istana menghampiri Gaara dari arah belakang. Mereka terlihat terengah-engah, seperti habis berlari puluhan kilometer.

''Maaf tuan, anda harus kembali ke kamar anda,'' ucap salah satu pengawal itu dengan tegas. Sementara Gaara masih diam menahan air matanya yang hampir keluar dari pelupuk matanya.

''Kenapa tidak ada yang memberitahuku?'' tanya Gaara dengan suara lirih.

''Maaf tuan, kami harus membawa anda kembali ke kamar,'' belum saja pertanyaan Gaara dijawabnya, mereka sudah menarik paksa tangannya.

''Jawab aku! KENAPA TIDAK ADA YANG MEMBERITAHUKU? Dan jangan berani-beraninya kau menyentuhku! Lepaskan aku,'' perintahnya sambil memberontak sekuat tenaga, namun para pengawal itu tetap menariknya. Setelah sampai di paviliun yang berbeda dengan tempat Sasuke dan Sakura, para pengawal itu pun melepaskan Gaara.

"Berani-beraninya kalian mengacuhkan perintahku! Kalian–"

''Maaf tuan, kami hanya menjalankan perintah, jadi kami mohon anda dapat mengerti,'' Gaara menatap kedua pengawal itu intens.

''Siapa yang memberi perintah?'' tanya Gaara dengan nada tajam dan di jawab dengan keheningan. ''Aku tanya siapa yang memerintah! Apakah keluarga kerajaan yang menyuruhmu?'' tanyanya sekali lagi dengan lebih keras. Namun pengawal itu tetap diam, dan saking kesalnya, Gaara menganggap diamnya mereka berarti 'Ya'.

Gaara mendengus kesal, ''Apa mereka pikir aku akan menghancurkan acara ini, konyol sekali!''

''Tinggalkan aku, kalian pergilah,'' titah Gaara pada kedua pengawal yang ada di hadapannya itu. Mereka terlihat ragu sejenak sebelum kemudian mengangguk singkat dan meninggalkan Gaara di koridor gelap itu sendirian.

Setelah para pengawal itu pergi, Gaara langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai dan menyenderkan punggungnya ke dinding. Dari posisinya saat ini, ia masih bisa melihat paviliun tempat Sasuke dan Sakura berada. Walau sangat jauh dan samar.

Ia kesal dengan takdir ini, bagaimana pun seharusnya dialah yang ada di posisi Sasuke. Ini semua seharusnya tidak terjadi padanya. Jika saja ayahnya tidak mati... Jika saja ia masih jadi Pangeran Mahkota..

'DUUGGH'

Dinding yang berada di belakangnya pun menjadi korban kekesalannya, berulang kali ia memukul dinding itu.

Tanpa sadar setetes air mata jatuh, disusul tetes-tetes berikutnya yang mulai membasahi pipi dan bajunya. Rasanya ia ingin mulai menyerah dengan cintanya pada Sakura, tapi kenapa terasa... berat?

''Sialan kau, Sasuke,'' umpatnya.

Gaara terus berada di tempat itu, menunggu. Menunggu sampai ia melihat pujaan hatinya keluar dari kandang singa.

Flashback, OFF!

Sasuke dan Sakura saat ini sedang saling memelototi satu sama lain sambil memegangi selimut yang menutupi tubuh mereka erat-erat, karena saat ini hanya selimutlah yang menutupi tubuh polos mereka.

''Apa yang kau lakukan padaku, hah?'' ucap Sakura histeris sambil terus memberikan tatapan menusuk pada Sasuke. Tangannya sedari tadi sibuk memegangi selimut.

Sasuke yang masih shock menolehkan wajahnya ke arah Sakura, ''Kau kira hanya kau yang panik?'' tanya Sasuke balik dengan suara lantang.

''Dasar bodoh!'' ejek Sakura sambil memukul Sasuke dengan bantal, sementara tangan kirinya masih memegang selimut erat-erat. Sasuke yang tidak terima dengan tindakan Sakura berniat membalasnya lagi, sampai tiba-tiba,

''Yang mulia, apa anda baik-baik saja?'' suara pelayan di luar terdengar, Sasuke dan Sakura langsung menoleh ke arah datangnya suara dan sedikit panik.

''Ka-kami baik-baik saja,'' jawab Sakura dengan sedikit gelagapan karena ia masih bingung dengan keadaan aneh ini.

''Kau..'' ucap Sakura mengalihkan pandangannya pada Sasuke lagi. Tangannya terkepal sekuat tenaga sampai kuku-kukunya membekas di telapak tangannya, ''Kau telah menghancurkan hidupku, brengsek,'' lanjutnya dengan penekanan di setiap katanya. Tubuhnya mulai bergetar dan matanya memanas.

''Kau pikir itu semua kesalahanku seorang?'' tanya Sasuke pada Sakura yang sedang menunduk, membuat raut wajahnya tak terbaca. ''Kau kira aku berminat menghancurkan hidupmu? Kau bahkan tidak cukup menarik di mataku,'' sambung Sasuke tajam.

''Ini semua karena mereka dan obat yang mereka berikan padaku,'' Sakura melirik Sasuke namun tak mengangkat wajahnya. ''Bahkan aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri untuk tidak bergerak,'' jelas Sasuke pada Sakura, ia tidak peduli Sakura mendengarkannya atau tidak.

Sasuke melihat Sakura sejenak dan segera memalingkan wajahnya, ''Cepat pakai bajumu di sana!'' perintah Sasuke sambil menunjuk sebuah rak buku di pojok ruangan yang tidak menempel dengan dinding sehingga ada jarak diantaranya, kemudian ia segera membalikkan badan membelakangi Sakura, ''Cepat, aku tidak akan melihatmu,'' ucapnya lagi meyakinkan Sakura.

Sakura masih dengan gemetar di seluruh tubuh, mulai memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai.

Sesampainya ia di belakang rak buku tersebut, Sakura langsung memakai pakaiannya. Sementara Sasuke juga berdiri dan mengambil pakaiannya.

Beberapa saat kemudian Sasuke sudah selesai terlebih dahulu, sementara Sakura sepertinya masih belum selesai karena ia belum muncul dari balik rak buku. Sasuke pun memutuskan untuk keluar terlebih dahulu dan meninggalkan Sakura, ia yakin sepertinya Sakura sedang menangis sekarang karena tadi ia sempat mendengar beberapa isakan gadis itu. Dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.

Ia membuka pintu dan ternyata di luar ruangan sudah ada banyak pelayan yang sepertinya tadi sedang menguping, Sasuke terdiam sejenak lalu berjalan keluar tanpa berkata apa-apa kepada para pelayan.

Tak lama kemudian Sakura keluar dari ruangan dengan langkah di seret, tubuhnya terasa sangat sakit di semua tempat. Kalau tidak behati-hati ia yakin tubuhnya bisa hancur berkeping-keping. Kepalanya ia tundukan. Selain untuk mencoba menhilangkan pusing di kepalanya juga untuk menyamarkan bekas aliran air mata di pipi dan matanya yang sembab.

Wajahnya terlihat pucat dengan kantung mata besar, membuatnya terlihat seperti hantu. Walau begitu, Sakura terus berjalan menyusuri koridor dengan gontai, rasanya ia ingin sekali memutar waktu. Tiba-tiba pusing di kepalanya semakin menjadi, dan pandangannya mulai kabur. Ia memijit pelipisnya sambil sesekali meringis menahan sakit. Ia sudah tidak tahan dan mulai kehilangan keseimbangannya.

Tepat sebelum ia menabrak dinding di sampingnya, sepasang tangan kekar telah lebih dahulu menahannya agar tidak jatuh. "Kau tidak apa-apa?" tanya sang pemilik tangan tersebut. Suaranya terdengar sangat familiar di telinga Sakura, dan entah kenapa membuatnya merasa sedikit tenang. Ia segera mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah pria di hadapannya.

"Gaara...," lirihnya menyebut nama pria itu.

"Lebih baik kita keluar sebentar dari istana ini, kurasa akan lebih baik agar kau bisa melupakan kejadian ini sejenak," ucap Gaara pada Sakura. Menurutnya keluar dari istana adalah pilihan terbaik saat ini, Sakura butuh kebebasan sejenak dan melupakan semua beban pikirannya.

"Tapi aku.. bajuku? Aku tidak mungkin keluar memakai baju adat seperti ini kan?" tanya Sakura lirih.

"Baiklah, kau boleh membersihkan dirimu dulu. Kutunggu kau di halam depan," dan setelah mengucapkan itu Gaara melepaskan rangkulannya dari Sakura.

Sakura segera menuju kamarnya, pusing masih membebani kepalanya, walau sudah tak separah tadi. Dengan cepat ia membersihkan tubuhnya, lalu menyambar asal pakaian yang ada di lemarinya dan bergegas keluar ruangan.

Sakura melihat Gaara di sana, bersandar pada mobil merah marunnya. Sakura memanggil pemuda itu dengan nada seceria mungkin, dan di balas dengan lambaian Gaara yang menyuruhnya mendekat.

Sakura masuk ke kursi penumpang di sebelah kursi kemudi, dan Gaara mendudukan dirinya di belakang kemudi. Dan tanpa membuang waktu, mobil merah darah itu sudah melesat meninggalkan halaman Istana.

Sementara itu, sang Putra Mahkota a.k.a Sasuke terlihat masih shock dengan 'kejadian' tadi malam. Ia masih tidak percaya bahwa ia melakukannya dengan Sakura, 'pasti karena obat sialan itu, seharusnya aku sudah tahu dari awal,' batinnya dalam hati.

Pikirannya sangat kacau saat ini, ia merasa seperti orang brengsek yang sudah merenggut masa depan Sakura. Ia bahkan tidak bisa melupakan tatapan shock bercampur kecewa yang terpantul di emerald Sakura tadi pagi.

Ngomong-ngomong, di mana gadis–tidak, wanita itu? Bagaimanapun juga, ia harus menjelaskan semuanya. Ia tidak mau di cap laki-laki brengsek, ia adalah pangeran. Pangeran yang kelak akan menjadi Raja negri ini, dan seorang Raja tidak seharusnya menjadi brengsek.

Ia baru saja akan pergi menjelaskan semuanya pada Sakura saat ponselnya berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk.

Ino is calling

Sejenak ia berpikir, sepertinya sudah lama sekali ia tidak mendengar suara gadis cantik berambut pirang ini. Gadis yang sempat singgah di hatinya. Eh 'sempat' singgah? Apakah sekarang sudah..tidak?

Sasuke menggeleng sekali, berusaha mengenyahkan pikiran konyolnya. Bagaimanapun Ino adalah gadis yang paling dicintainya. Ia sangat menyayangi dan mencintai gadis itu sampai kapanpun.

''Hai, Sasuke-kun,'' suara lembut menyapa pendengaran Sasuke begitu ia menempelkan iphone-nya di telinga.

''Hn, apa kabar?'' tanyanya singkat masih dengan wajah stoic -nya.

''Aku baik-baik saja,'' hening sejenak diantara mereka, ''Bagaimana tidurmu tadi malam? Apa kau memimpikan ku? Hehehe.''

DEG'

Pertanyaan yang dilontarkan Ino tersebut membuat Sasuke terkejut, ia tidak menyangka bahwa Ino akan bertanya seperti itu padanya, walau terkesan seperti candaan. Tapi tawa Ino tidak seperti biasanya, apa Ino sudah tahu? Tapi bagaimana?

''Tidurku biasa saja, tidak ada mimpi,'' ujar Sasuke lamat-lamat, berusaha menutupi kegugupannya saat ini. Ia jadi teringat kembali dengan Sakura.

''Oh begitu ya..,'' walau disembunyikan, tapi Sasuke bisa menangkap nada ragu dalam suara Ino.

''...,''

''Hmm, apa hari ini kau ada acara?'' Ino mulai mengalihkan pembicaraan, sejujurnya ia juga sudah tidak tahan jika harus membicarakan kejadian yang Sasuke dan Sakura alami tadi malam, sudah terlalu sakit baginya. Yah, ia mengetahui itu semua dari Gaara, pemuda itu kemarin malam meneleponnya dengan suara bergetar penuh kefrustasian.

''Sepertinya tidak, kenapa?''

''Maukah kau menemaniku jalan-jalan? Sepertinya sudah lama sekali kita tidak pergi bersama,'' tanya Ino penuh harap.

Tanpa pikir panjang, Sasuke pun menjawab ''Baiklah, aku akan menjemputmu sekarang,'' diiringi dengan senyuman yang mengembang di wajah Ino setelah ia mendengar jawaban tersebut dari Sasuke.

''Terima kasih Sasuke-kun, aku tunggu,'' tanggap Ino dengan nada ceria yang sengaja dibuatnya, namun sebenarnya hatinya terasa sakit saat kembali mengingat apa yang di ceritakan Gaara di teleponnya.

Tuut.. Tuut...

Sambungan pun terputus, dan dengan langkah cepat, Sasuke menuju mobil pribadinya dan kemudian melaju menuju rumah Ino.

Sementara itu, Ino masih termenung di tepi tempat tidurnya sambil memegangi handphone-nya dengan wajah tertunduk. Tiba-tiba setetes air jatuh membasahi tangannya yang terkulai lemas di atas pahanya, dan disusul dengan tetesan-tetesan selanjutnya.

Namun ia segera menguasai dirinya. Dengan cepat dihapusnya air mata yang masih mengalir, lalu mulai melangkah menuju lemari pakainnya. Ia harus tampil cantik di depan Sasuke, dan mata sembab bukanlah option terbaik untuk dijadikan riasan saat bertemu Sasuke.

Jadi dia mengambil salah satu dress favoritnya. Dress ungu tanpa lengan dari bahan satin yang jatuh dengan pas di lututnya. Ia mengenakannya bersama sepasang sepatu berwarna senada yang sangat cantik. Di pulasnya sedikit wajah cantiknya tanpa meninggalkan kesan natural, lalu ia biarkan rambutnya terurai di punggungnya.

Ino memandang bangga pada pantulan dirinya di cermin, sempurna. Persis seperti yang ia inginkan, tapi apakah seperti yang Sasuke inginkan? Entahlah, ia tak yakin karena setahunya ia dan Sakura berbeda sangat jauh. Dan kalau Sasuke lebih memilih Sakura...

Ino menggeleng pelan, mengusir pikiran gila itu dari otaknya dan kembali tersenyum pada bayangannya. Beberapa menit kemudian, bel pintu berbunyi. Dengan cepat Ino meninggalkan cermin dan membuka pintu depan. Sasuke ada di sana, berdiri sambil membelakangi pintu.

''Maaf membuatmu menunggu, Sasuke-kun,'' sapanya dengan senyuman menghias wajah cantiknya.

''Hn?'' Sasuke membalikan badannya menghadap Ino. Dan tersenyum sekilas.

''...,''

''Kau mau pergi kemana?'' Sasuke memulai pembicaraan. Sementara Ino merasa jadi sedikit canggung berada di dekat Sasuke.

''Entahlah, tapi rasanya aku kangen danau tempat kita pertama kali bertemu, kau mau?''

''Hemm? Baiklah, kita kesana,'' dengan cepat Sasuke menyetujui keinginan Ino, dan mereka segera berangkat menuju tempat yang di maksud.

Kembali pada Gaara dan Sakura yang sedang menikmati sarapan mereka di salah satu kafe pinggir jalan yang sangat nyaman. Tampaknya Sakura sudah lebih baik, terlihat wajahnya yang sudah sedikit berseri.

''Apa kau mau tambah?'' tanya Gaara saat dilihatnya makanan di piring Sakura hampir habis. 'Cepat sekali.'

''Eh, tidak usah, memangnya kau mau aku terlihat seperti badut, hemm?'' tanya Sakura balik dengan raut tersinggung yang sangat lucu Gaara terkikik geli mendengarnya.

''Hahaha, ya aku mengerti,''

''...,''

''Hm, sehabis ini kau mau kemana?'' tanya Gaara pada Sakura yang sedang meneguk minumannya. Sakura pun cepat-cepat menghabiskan minumannya dan berpikir sejenak.

''Well, bagaimana kalau sekolah?'' jawab Sakura akhirnya.

Gaara terdiam sejenak sebelum menjawab, ''Bukannya ini hari Minggu? Kenapa kau ingin ke sekolah?''

Sakura mengedikan bahunya sekilas, ''Entahlah, aku sediri tidak tahu. Apa harus ada alasannya jika aku ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Sakura balik, tapi Gaara tidak menjwabnya. "Oh ayolah, kau kan sudah berjanji. Ya?"

''Oh, baiklah kalau begitu, ayo kita ke sana,'' jawab Gaara akhirnya membuat Sakura melonjak kecil di bangkunya.

Setelah membayar makanan yang mereka pesan, Gaara segera menggandeng tangan Sakura menuju mobilnya, tanpa mereka sadari sebenarnya sedari tadi banyak orang yang memperhatikan mereka bahkan beberapa membicarakannya.

Bagaimana tidak, Sakura Uchiha–Putri Mahkota dan Gaara–Mantan Pangeran Mahkota, pergi makan bersama, sambil bergandengan. Apakah itu tidak cukup untuk dijadikan gosip?

Sementara itu di dalam istana terlihat Ibu Suri, Raja dan Ratu sedang membicarakan sesuatu dengan Temari dan Kakashi, wajah mereka terlihat senang sekali mendengar kabar dari Temari dan Kakashi, mungkin perlu pengecualian untuk Ratu yang wajahnya justru menampilkan ekspresi khawatir.

''Jadi mereka benar-benar melakukannya?'' tanya Ibu Suri dengan wajah antusias kepada kedua orang kepercayaannya itu.

''Ya, yang mulia,'' jawab Temari dengan senyum menghias wajahnya. Sementara itu Kakashi yang berdiri di sampingnya juga ikut tersenyum.

''Ah baguslah kalau begitu,'' kali ini pun sang Raja - Fugaku ikut mengeluarkan suaranya.

''Tapi ngomong-ngomong, dimana Putra dan Putri Mahkota sekarang?'' tanya Ratu tiba-tiba masih dengan wajah khawatir sehingga membuat Kakashi dan Temari sedikit mendongakkan kepalanya.

''Kalau tidak salah, tuan putri sedang pergi keluar bersama Tuan Sabaku-sama, sementara Pangeran dia juga pergi sendiri keluar, sepertinya ingin menemui seseorang,''

''Kenapa mereka pergi sendiri-sendiri seperti itu?'' tanya Ibu Suri bingung.

''Kami tidak tahu, yang mulia,'' sekarang Kakashi yang bersuara. Dan saat itu juga atmosfir ruangan yang tadinya ceria dan antusias berubah menjadi suram dan bingung.

'Apa yang di sembunyikan para anak muda itu?'

Setelah Gaara dan Sakura sampai di Music and Art International High School, Gaara segera memarkirkan mobilnya di lapangan sekolah.

Sekolah terlihat sangat sepi dan suram mengingat hari ini hari libur sehingga tidak ada suara murid-murid yang meramaikan suasana, membuat gedung itu terlihat tua dan menyeramkan.

Keheningan menyelimuti mereka, saat Sakura membuka pintu depan gedung sekolah. Dengan satu tarikan nafas panjang Sakura mulai melangkah menuju salah satu tempat favoritnya. Ruang Kesenian.

Sesampainya mereka di sana sebuah Grand Piano berada di atas panggung menyambut mereka, siap untuk dimainkan. Sakura kembali termenung menatap piano besar itu, ia ingat Karin pernah mengatakan bahwa alat musik kesukaan Sasuke adalah gitar dan piano. Dan melihat piano membuatnya kembali mengingat pemuda itu.

Tak terasa air mata sudah menetes tak terkendali di pipinya.

''Hiks.. Hiks.. Gaara-kun..,'' ucapnya lirih sambil meremas roknya. Mendengar isakan Sakura yang tiba-tiba membuat Gaara reflek merengkuh tubuh Sakura ke dalam pelukannya.

''Shhh, tenanglah Sakura. Tidak ada yang perlu kau tangisi,'' ujar Gaara sambil memperat pelukannya pada Sakura. ''Aku akan selalu ada jika kau membutuhkanku,'' Tambahnya sambil mengelus kepala Sakura lembut.

Sakura masih menangis di dekapan Gaara, ia tidak sanggup menerima kenyataan pahit atas kejadian tadi malam. Ini bukanlah yang ia inginkan, ia tidak ingin memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi gadis manapun kepada lelaki yang tidak ia cintai dan juga tidak mencintainya.

Gaara terus mengelus sayang kepala Sakura, berharap gadisnya ini bisa tenang kembali.

'Harusnya kau tidak perlu menanggung beban seberat ini jika aku yang tetap menjadi Putra Mahkota. Aku berjanji tidak akan pernah membuatmu menangis seperti apa yang dilakukan Uchiha kurang ajar itu. Kenapa takdir begitu kejam padaku? Pada kita?'

Di ruangan ini sebuah Grand Piano tua menjadi saksi di mana takdir bisa menjadi sangat kejam bagi dua remaja ini.

*** TO BE CONTINUE***

This chapter dedicated to levnsr yang sampe minjem kaset Princess Hours saking penasarannya (jangan lupa dibalikin loh! #salah) and ALL REVIEWER AND READERS, hehe.

Akhirnya! Kami bisa update chap selanjutnya. Maaf banget kalau kami kelamaan update chapter baru. Yah, salahkan sekolah kami yang rada edan. Apalagi kami udah kelas sembilan, harus ikut bimbel ini itu, belajar sana sini, nyiapin buat pertunjukan pagelaran seni, dan ulangan-ulangan.

Tapi kami janji, chap selanjutnya akan lebih cepet di update karena sebenernya ini satu fic yang kepanjangan jadi terpaksa di bagi-bagi, hehehe.

Maaf juga kali ini gak bisa bales review kalian semua guys, karena waktu kami terbatas buat buka FF sekarang -_- tapi kami sangatsangatsangat berterima kasih. Review kalian lah yang akhirnya bikin kami nyempet-nyempetin buat bikin chapter ini. LOVE YOU ALL :***

So, will you RnR?