''Shhh, tenanglah Sakura. Tidak ada yang perlu kau tangisi,'' ujar Gaara sambil memperat pelukannya pada Sakura. ''Aku akan selalu ada jika kau membutuhkanku,'' Tambahnya sambil mengelus kepala Sakura lembut.

Sakura masih menangis di dekapan Gaara, ia tidak sanggup menerima kenyataan pahit atas kejadian tadi malam. Ini bukanlah yang ia inginkan, ia tidak ingin memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi gadis manapun kepada lelaki yang tidak ia cintai dan juga tidak mencintainya.

Gaara terus mengelus sayang kepala Sakura, berharap gadisnya ini bisa tenang kembali.

'Harusnya kau tidak perlu menanggung beban seberat ini jika aku yang tetap menjadi Putra Mahkota. Aku berjanji tidak akan pernah membuatmu menangis seperti apa yang dilakukan Uchiha kurang ajar itu. Kenapa takdir begitu kejam padaku? Pada kita?'

Di ruangan ini sebuah Grand Piano tua menjadi saksi di mana takdir bisa menjadi sangat kejam bagi dua remaja ini.

The days of the Princess

Disclaimer tokoh©Masashi Kishimoto

Disclaimer cerita©'UCHIHA

Genre: Romance/Drama

Pairing: SasuSaku

Rated: T

-I'm Sorry-

Gaara terus mendekap Sakura erat sampai gadis itu terlihat tenang di matanya. ''Sudahlah, biarkan saja hal yang sudah terjadi..'' mendengar itu, Sakura mendongakan kepalanya menatap Gaara, ''..jadikan kenangan masa lalu sebagai pengalaman untuk masa depan,'' ujar Gaara lembut, membuat Sakura merasa sedikit lega.

''Arigato, Gaara-kun,'' tanggap Sakura dengan senyum manisnya lalu kembali menelusupkan kepalanya di pelukan Gaara, sepertinya ia sudah merasa jauh lebih baik setelah mendengar perkataan Gaara barusan. Jika dipikir-pikir memang ada benarnya omongan Gaara tadi, buat apa ia harus menangisi hal yang sudah terjadi, toh tidak akan berubah. Bubur tidak akan menjadi nasi kembali 'kan?

''Kau suka main musik?'' ujar Gaara setelah mereka terdiam selama beberapa saat. Sakura kembali mendongakkan kepalanya menatap Gaara ragu sebelum kemudian mengangguk pelan membuat Gaara menyeretnya mendekati GrandPiano besar itu.

Gaara mulai memainkan jari-jarinya di atas tuts-tuts piano dengan lihai layaknya pianis profesional, awalnya Sakura hanya melongo melihat permainan Gaara sampai akhirnya ia juga ikut menikmati lagu yang dimainkan Gaara sambil bersenandung mengikuti irama lagu.

Mereka terus bermain mencoba berbagai nada dan kunci, mencoba berbagai alat musik, tertawa, bercanda sampai tak sadar waktu telah menunjukkan pukul tiga sore.

"Ya ampun, cepat sekali. Rasanya baru beberapa menit yang lalu kita di sini dan tiba-tiba sudah jam tiga. Apa kau mau pulang, atau masih ingin jalan-jalan? '' tanya Gaara sambil beranjak dari tempat duduknya di belakang drum yang ditinggalkan salah satu murid di ruang kesenian.

''Hm, sepertinya aku masih ingin pergi jalan-jalan. Punya ide bagus untuk tempat selanjutnya?'' tanya Sakura dengan riang sambil tetap memencet-mencet tuts piano.

Gaara terdiam sejenak seperti sedang berpikir keras mengingat sesuatu, lalu kemudian ia menjentikan jarinya keras. "Ah ya, aku tahu. Ayo cepat ikut aku, kutunjukan tempat yang bagus!" ujar Gaara sambil menarik tangan Sakura agar ia bangun dari duduknya.

"Eh, kemana?" tanya Sakura mengernyit bingung pada Gaara, tapi kemudian ia hanya mengagguk dan mengikuti Gaara keluar ruangan.

-o0o-

Seorang gadis berambut pirang tengah duduk di salah satu kursi kayu panjang yang berada di pinggir sebuah danau. Rambutnya yang panjang sesekali tertiup angin, tapi tak direspon sedikitpun oleh pemiliknya yang kini tengah sibuk menatap suasana danau yang sudah mulai sepi karena hari semakin sore.

Sesuatu yang dingin menyentuh pipinya, membuatnya terlonjak kecil sebelum sadar bahwa itu adalah dua kaleng cola dingin yang di tempelkan seorang pemuda berambut emo pada pipinya. Gadis itu terkekeh kecil lalu mengambil salah satu cola dari tangan si pemuda.

Mereka diam selama beberapa saat sebelum pemuda itu mendudukan dirinya di samping sang gadis, sesekali ia membenarkan kacamata dan topinya sambil meneguk cola di tangannya yang lain.

''Kau masih ingat saat pertama kalinya kita bertemu, Sasuke-kun?'' tanya sang gadis sambil sesekali menggoyangkan cola di tangannya.

''Ino-''

''Kau juga memberikanku sekaleng cola dingin padahal waktu itu sedang musim dingin,'' potong gadis yang bernama Ino itu sebelum Sasuke menyelesaikan kalimatnya. Ia juga sedikit mengangkat minuman kalengnya sehingga sejajar dengan wajahnya.

''...,''

''Entah kenapa aku merasa setelah hari ini aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi,'' ujar Ino lagi. "Kau tahu, akhir-akhir ini aku sering berpikir 'Wanita macam apa aku ini, berani-beraninya mengharapkan suami orang' rasanya aku benar-benar sangat buruk sampai aku jijik pada diriku sendir–"

''Ino, cukup!'' ucap Sasuke tiba-tiba–nyaris membentak, suaranya sedikit bergetar saat mengucapkannya membuat Ino membeku selama beberapa saat.

''...,''

''Sudah kubilang, berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Ini tidak semuanya salahmu, tapi salahku. Aku tidak bisa mempertahankan hubungan kita karena status sialan ini. Walau begitu, aku sangat berharap hubungan kita tidak putus sampai disini saja. Aku sangat menyayangimu Ino, setidaknya biarkanlah kau tetap di sampingku meski hanya sebagai sahabat, kau mau?'' ini mungkin kalimat terpanjang Sasuke selama hidupnya.

"..."

"Aku tahu ini akan sangat menyulitkanmu, maafkan aku," lalu Sasuke bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Ino sendirian.

Sakit. Hanya itu yang dapat Ino rasakan saat ini. Seluruh tubuhnya kaku, hanya jantungnya yang dari tadi berdetak kencang, sumber dari rasa sakit yang ia rasakan. 'Apa dia memang sudah tidak mencintaiku lagi?'

-o0o-

Sasuke berjalan cepat meninggalkan danau tersebut, meninggalkan Ino. Gadisnya yang tadi baru saja ia tinggalkan di kursi kayu. Sejak tadi pandangannya kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius, namun ekspresi itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba ponsel ditangannya bergetar pelan.

Dilirknya malas layar I-Phone dalam genggamannya, Kakashi. Pria itu menannyakan kabarnya yang tak kunjung pulang. Dengan cepat dibalasnya sms itu, lalu kembali berjalan. Namun langkahnya terhenti saat sebuah warna familiar menyapa matanya.

Di sana, tepat sepuluh meter dari jaraknya sekarang, seorang gadis dengan helai rambut merah muda sedang berjalan dengan riang sambil sesekali menanggapi celotehan pemuda merah di sampingnya. Sesekali ia terkikik dan memukul pelan bahu si pemuda. Entah kenapa melihat semua itu membuat Sasuke merasakan seseorang tengah mencubit-cubit hatinya, dan rasa kesal menjalari kepalanya. Dengan cepat ia berjalan menghampiri dua orang itu.

Sakura dengan senang hati mendengarkan segala ocehan pemuda disampingnya. Pemuda itu tampaknya tahu bagaimana cara menghibur seseorang yang sedang sedih. Buktinya ia sudah berulang kali dibuat terkikik geli mendengar cerita konyol si pemuda.

Sementara Gaara, si pemuda merah, hanya tersenyum bangga dan kembali melanjutkan ceritanya. Ia sudah merasa tenang sekarang, Sakura sudah terlihat ceria kembali. Dan itu membuatnya tambah senang, dengan bersemangat ia lanjutkan cerita-cerita konyolnya.

''Oh ya ampun, Sakura, sepertinya hari sudah sore, aku takut Temari mencarimu,'' ujar Gaara setelah ia menceritakan salah satu hal konyol yang ia dapatkan waktu sd.

Senyum Sakura sedikit berkurang mendengarnya membuat Gaara menyesali ucapannya barusan. "Yaaah, padahal aku masih ingin di sini,"

''Oh ayolah, aku tidak mau di ceramahi di hari minggu, itu akan membuat mood hari seninku tambah buruk. Lagi pula aku bisa mengajakmu ke sini lagi lain kali, ya?'' ujar Gaara dengan tampang sememelas mungkin membuat Sakura hampir saja terkikik kembali.

"Oh baiklah. Tapi janji mengajakku lagi?" ucap Sakura akhirnya. Ia lalu mengangkat kelingkingnya, menyuruh Gaara untuk berjanji.

"Ya, ya aku jan–"

''Siapa yang akan mengajakmu ke sini lagi?'' tanya seseorang tiba-tiba dari belakang mereka, membuat Sakura terlonjak sedikit dan membuat Gaara menghentikan ucapannya. Suara itu sudah tidak asing lagi di pendengaran mereka.

Mereka pun membalikkan badan untuk melihat pemilik suara itu, seorang lelaki berkacamata dan memakai topi, walaupun penampilannya memang berbeda dari biasanya, tapi mereka tidak akan mungkin salah.

''Sasuke..,'' bisik Sakura lirih dan terkejut atas keberadaan Sasuke, senyum segera hilang dari bibirnya saat melihat wajah yang saat ini berada di urutan pertama dalam daftar orang paling tidak ingin ditemuinya.

Sasuke menatap tajam ke arah Gaara yang juga menatapnya, sementara itu Sakura lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah lain,''Maaf Gaara, aku ingin membicarakan sesuatu dengannya, kau pulang duluan saja,'' ucap Sasuke dingin setelah keheningan yang canggung menyelimuti mereka.

Gaara menoleh ke arah Sakura ragu, rasanya ia tidak tega jika harus meninggalkan gadis itu dengan lelaki yang sudah menjadi rivalnya sejak dulu ini. Namun apa daya, ia tidak punya hak untuk melarang mereka, bagaimana pun juga Sasuke suami Sakura.

Dengan terpaksa iapun akhirnya mengagguk kaku, ''Baiklah. Tapi ingat, jaga dia,'' lalu ia mulai berlalu meninggalkan keduanya tanpa menoleh sedikitpun.

Sakura yangtidak tahu harus berbuat apa akhirnya memilih untuk meninggalkan Sasuke juga. Namun gerakannya terhenti saat Sasuke menahan tangannya.

''Aku ingin bicara denganmu," ujar Sasuke saat Sakura menatapnya tajam.

"Tapi aku tidak."

"Setidaknya dengarkan saja penjelasanku, oke?" ujar Sasuke bersikeras, di tariknya tangan Sakura, membuat wanita itu mendekat kearahnya. "Dengar, ini semua bukan mauku, aku dipengaruhi oleh obat saat itu," ucap Sasuke berusaha menjelaskan semuanya.

"...," namun Sakura tetap diam tak bergeming.

Sasuke mendengus, hampir habis kesabarannya ia lelah jika Sakura bersikap seperti i menghadapi wanita dihadapannya ini. Ia menghela nafas sejenak sebelum kembali mencoba, ''Kau harus percaya padaku, kau sendiri tahu kan bagaimana sifatku?''

''...,''

''Aku ini bukan orang yang akan menyentuh sesuatu jika aku tidak menyukainya,''

''..,''

''Jadi aku tidak akan melakukan itu padamu jika aku memang tidak dipengaruhi oleh sesuatu,''

Sakura menatapnya tajam, "Aku rasa itu sudah tidak penting lagi sekarang, '' ucap Sakura dengan nada tajamnya.

''Demi Kami-sama, lalu apa salahku? Aku sudah bilang kan kalau aku tidak sengaja,'' keluh Sasuke frustasi, sesekali ia dongakkan kepalanya ke atas dan menghembuskan napas.

''Aku mau pergi,'' ucap Sakura lalu berjalan meninggalkan Sasuke lagi, ia tidak peduli jika Sasuke akan marah padanya.

"Tidak, nona. Tidak ada yang boleh pergi sebelum masalah ini jelas," ucap Sasuke berusaha menahan Sakura, namun si merah muda hanya menatapnya bosan sambil bergumam sesuatu yang terdengar seperti 'Aku tidak peduli'.

Sasuke menghela nafas kesal lalu mulai mengikuti Sakura. Demi tuhan, ia merasa seperti sedang menghadapi keponakannya yang berumur lima tahun. Ino saja tidak pernah membuatnya sefrustasi ini, gadis itu selalu terlihat tenang membuatnya tidak perlu menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak seperti si pink di depannya ini yang selalu terpengaruh mood.

Yah walaupun begitu entah kenapa ia sedikit menyukai sensasi ini, sensasi di mana ia tidak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi kedepannya. Sensasi di mana ia bisa merasa tegang dan serba salah.

Dan benar saja, saat ini ia sedang di buat tercengang oleh Sakura yang membawanya ke salah satu tempat penyewaan sampan. Seumur hidup Sasuke belum pernah mengajak Ino naik sampan karena biasanya mereka kencan ketempat-tempat berkelas dengan segala macam kerlap-kerlip kemewahan.

Lagipula ia sendiri sangsi dengan tingkat keamanannnya. Bagaimana kalau ternyata sampan itu tidak cukup kuat dan akhirnya meneggelamkan mereka? Dan ia yakin gadis seperti Ino tidak akan mau mengambil risiko macam itu, ia tahu karena Ino memiliki pola pikir sejenis dengannya.

"Kau yakin mau naik ini?" tanya Sasuke saat Sakura mulai menaiki sampan itu.

Sakura menatapnya datar, "Kau boleh pulang kalau kau mau," lalu gadis itu mulai mendudukan dirinya di salah satu sisi sampan.

Sasuke menatap gadis itu tidak percaya, lalu mulai melenguh. Setelah menarik nafas panjang untuk menenangkan diri ia mulai menaikan dirinya ke sampan dan berusaha duduk senyaman mungkin.

''Kenapa kau mengikutiku terus?'' tanya Sakura sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Sasuke melihat Sakura sejenak, onyx dan emerald bertemu, ''Karena kau belum menjawab pertanyaanku,'' jawab Sasuke datar lalu mulai melepaskan tali tambang yang menahan sampan pada salah satu pasak kayu. Kegiatan yang belakangan ini mulai di sesalinya.

''Aku bilang, aku ingin sendiri. Kenapa kau tidak mengerti juga, apa aku harus mengejanya padamu?''

''Aku tahu, dan cobalah untuk terbiasa dengan keberadaanku. Lagipula kau mau pulang dengan siapa?''

''Memangnya kau pikir aku ini anak kecil yang akan tersesat di jalan, aku sudah enam belas tahun,'' ucap Sakura setengah menggerutu.

Sasuke yang mendengar gerutuan Sakura hanya menyeringai tipis, ''Lalu apa kau tidak memikirkan apa yang akan orang pikirkan jika mereka melihat Tuan Putrinya pulang ke Istana naik taksi?''

''...,'' Sakura sedikit bingung menjawab pertanyaan Sasuke, mulutnya membuka menutup, namun tak ada suara yang keluar dari sana.

''Kau ini seorang 'Putri Mahkota', kau harusnya ingat hal itu,'' sindir Sasuke dengan penuh penakanan pada gelar yang sekarang disandang oleh Sakura.

Sakura mengerucutkan bibirnya mendengar sindiran Sasuke, membuatnya terlihat semakin mirip anak TK.

Sasuke menyeringai penuh arti, ''Tapi kalau kau mau naik taksi silahkan, siapkan saja dirimu jika sampai di istana nanti,'' Sasuke memalingkan wajahnya dari Sakura.

Dan tanpa mereka sadari, angin yang sedikit kencang telah membawa sampan yang mereka naiki sedikit ke tengah danau.

Sakura mulai berpikir keras, apakah ia memang harus pulang dengan Sasuke dan meninggalkan segala usahanya yang sedang bertingkah membenci Sasuke? Tapi mau bagaimana lagi, itu memang itulah satu-satunya pilihan terbaik.

Dengan berat hati akhirnya Sakura pun menyerah, mengingat langit sudah semakin gelap dan pengunjung danau semakin sedikit. Ia pun mendengus kesal sambil melirik ke arah Sasuke.

''Jadi bagaimana pilihanmu?'' tanya Sasuke bermaksud menggoda Sakura lebih lama lagi, ia tahu wanita dihadapannya ini sedang kesal setengah mati padanya.

Dengan cepat Sakura berdiri sambil menatap Sasuke dengan tatapan penuh kebencian, tangannya ia kepal sekencang-kencangnya sampai terlihat merah.

''Baiklah, baiklah. Tapi hanya UNTUK kali ini SAJA,'' teriak Sakura. Tapi karena gerakannya yang tiba-tiba berdiri, ditambah angin musim gugur yang cukup kencang, sampan yang mereka naiki tampak sedikit oleng dan membuat Sakura hampir kehilangan keseimbangan.

Tiba-tiba kaki Sakura tersangkut di antara celah-celah kayu sampan membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari sampan. "UWAAAA!"

'BYUUURRRR'

''SAKURA!'' teriak Sasuke panik saat melihat Sakura terjun bebas kedalam air danau yang hampir membeku, ia pun dengan cepat melepas kacamata dan topinya kemudian melemparnya kesembarang tempat dan meloncat masuk ke dalam air.

Danau itu mungkin saja memiliki kedalam sekitar 3 meter mengingat mereka sudah hampir di tengah-tengah danau, dan bagi Sakura yang badannya tak begitu tinggi dan tak bias BERENANG!, danau itu terasa lebih dalam dan menyeramkan dari yang sebenarnya.

Sakura hampir saja pasrah tenggelam karena kaki dan tangannya sudah tak bisa di gerakan dan paru-parunya terasa terbakar. Lalu tiba-tiba ia merasa ada sepasang tangan memeluknya dari belakang, dewa kematian kah? Panik, ia mulai memberontak berusaha melepaskan diri sebelum suara yang familiar menyerbu gendang telinganya.

"Stop! berhenti menendangku, oke? Ini aku, Sasuke, dan aku sedang berusaha menyelamatkanmu bukan MEMBUNUHMU! Jadi tenang dan cobalah untuk tidak memberontak."

Akhirnya Sasuke berhasil membawa Sakura ke tepi danau. Gadis itu sedang menggigil hebat saat Sasuke mengangkatnya kedaratan, dan Sasuke yakin kondisinya tak jauh berbeda dengan gadis itu.

Untung saja pengunjung sudah sepi dan tak ada yang memergoki insiden memalukan itu. Dengan panik Sasuke menggendong Sakura yang setengah tak sadar dan membaringkannya ke salah satu bangku kayu terdekat.

Ditaruhnya kepala Sakura di pangkuannya, dan ditepuk-tepuknya pipi pucat gadis itu pelan, ''Sakura! Sakura! hei sadarlah,'' Sasuke semakin panik saat Sakura masih tidak meresponnya sama sekali dan malah semakin menggigil hebat. Dengan cepat ia membuka jaketnya yang basah, di perasnya jaket itu lalu ia kenakan pada Sakura.

''Uhuk uhuk uhuk,'' Sakura mulai terbatuk dan mencoba untuk membuka matanya, sementara Sasuke langsung menghela nafas lega mendapati Sakura sudah sadar, ia langsung tertunduk dengan lemas dan mengatur kembali napasnya yang masih sedikit ngos-ngosan.

''Kenapa kau begitu bodoh,'' umpat Sasuke di sela-sela napasnya yang tersenggal tak karuan.

Sakura mendelik tak suka pada Sasuke yang mengatainya bodoh, ini semua karena angin bodoh yang membuatnya kehilangan keseimbangan. Jadi dia tak patut untuk disalahkan seperti itu. Lagipula, pria itu kan yang lebih dulu membuatnya marah sehingga ia kehilangan kontrol dirinya.

Sakura mencoba bangkit dan duduk, sambil memegangi dadanya yang sedikit sesak. ''S-se-seharusnya k-kau salahkan angin bodoh i-itu,'' ketus Sakura di tengah gemeletuk giginya yang menggigil.

Napas Sasuke sudah kembali seperti semula, ia pun langsung bangkit dan melihat bajunya yang basah kuyup, ia pun mendecak kesal. ''Kalau saja kau bisa berenang, aku tidak perlu basah kuyup seperti ini,'' ucap Sasuke yang membuat Sakura seketika merasa bersalah, apalagi saat ia mendapati jaket Sasuke melapisi tubuh mengigilnya.

"M-maaf k-kan aku," ujar Sakura lirih, seketika ia merasa lemas dan pusing. Lalu tanpa di komando ia mulai bersin-bersin.

''Terserah, yang penting sekarang kita harus cari baju ganti, aku tidak mau mati kena Hipotermia,'' ujar Sasuke asal.

Sepertinya keadaan sudah berbalik, saat ini justru Sasuke yang marah sementara Sakura terdiam dan merasa bersalah.

Sakura –demi menebus rasa bersalahnya– berinisiatif mencari toko pakaian yang ada di sekitar sana, mungkin saja masih ada yang buka. Dan untunglah mereka beruntung, tak jauh dari danau itu terlihat sederet kios-kios kecil yang masih berjualan –hampir tutup sebenarnya– menyisakan satu kios yang masih buka sepenuhnya.

Dengan gembira dan tiba-tiba Sakura menarik tangan Sasuke menuju salah satu kios terdekat, membuat si-empunya tangan sedikit terlonjak kaget dan hampir terhuyung jatuh. "Ada apa sih,

''Hei, apa yang jangan tarik-tarik tangan orang semabarangan," gumam Sasuke kesal, yang tak di hiraukan sedikitpun oleh Sakura.

Sasuke baru akan mengulang pertanyaannya saat mereka sampai di salah satu toko pakaian. Mengurungkan niat, ia pun lantas tersenyum puas.

Nenek tua penjaga kios itu sedang mengitung uang saat Sakura dan Sasuke datang dengan tubuh basah di mana-mana. Si nenek mengernyit sedikit saat tak satupun dari mereka bicara, sampai akhirnya ia yang memulai duluan. ''Malam anak muda, mencari sesuatu?'' sapanya ramah.

''Ah, umm, ya begitulah nek, kami sedang mencari pakaian ganti karena. Apa nenek tahu kios yang berjualan pakaian? Baju kami basah,'' ucap Sakura dengan tampang memelas. Sementara Sasuke hanya tersenyum sopan –yang sebenarnya terliat tidak ikhlas– di samping Sakura sambil sesekali melirik ke sekitarnya mencari kios yang menjual pakaian.

''Ah, kebetulan nenek berjualan pakaian disini, kalian mau berkunjung ke tempat nenek?'' ucap sang nenek sambil mengayunkan tangannya ke kios yang berada di belakangnya. Sakura pun melirik ke arah kios yang ditunjuk nenek tersebut, dan betapa bahagianya ia ternyata bertanya kepada orang yang tepat.

''Wah nenek, kau memang seperti malaikat. Baiklah kita ke kios nenek ini saja ya, Sasuke-kun?'' tanyanya pada Sasuke yang saat ini sedang asik mengamati barang-barang yang di jual si nenek di salah satu rak. Roti isi daging dan roti kismis yang terlihat sangat enak, membuat perutnya keroncongan.

"Hn, terserah."

Sakura mencibir sebal mendengar jawaban Sasuke lalu mulai mengikuti si nenek masuk ke dalam. Kios itu terlihat sangat menarik dengan aksen kayu yang sangat khas jepang dan barang-barang jualan yang di taruh sangat unik.

Tak berapa lama, nenek itu membawa dua buah kaos berwarna biru muda. Saat ia sudah benar-benar berdiri di depan Sakura, ia langsung menyodorkan pakaian itu, ''Pakaian ini sangat cocok untuk pasangan seperti kalian, saat ini sedang trend loh,'' ucapnya dengan semangat sambil tersenyum misterius menatap Sakura dan Sasuke bergantian.

Seketika Sakura dan Sasuke tersentak mendengar kata-kata nenek tadi, dan kembali tersentak –kali ini lebih parah–saat mereka melihat gambar yang terdapat di pakaian tersebut. Tampaknya yang di maksud si nenek dengan pakaian yang cocok untuk pasangan adalah couple jumper dengan gambar seorang anak cowok imut di baju untuk lelaki dan anak cewek yang tak kalah lucu di baju untuk si perempuan, dan jangan lupa sepasang celana jeans panjang yang juga berdesain untuk pasangan.

Sasuke nyaris saja tersedak ludahnya sendiri, seumur hidup ia tak akan mau memakai pakaian menjijikan macam itu. "Apa tidak ada model yang lain?"

Senyum di wajah si nenek sedikit bertambah lebar, membuat Sasuke sedikit menyernyit bingung. "Ah, ya. Menurutku ini memang sedikit kecowok-an, aku akan mencari yang sedikit lebih manis. Ungu muda, mungkin?"

Sasuke benar-benar tersedak sekarang, membuat Sakura harus menepuk-nepuk punggungnya "Uhuk! Eh, tidak perlu. Kami ambil yang itu saja!" ujar Sasuke dengan napas sedikit tersenggal. Yang benar saja, ungu muda? Hell, NO!

Akhirnya dengan terpaksa Sasuke harus merelakan harga dirinya dengan berpakaian layaknya pasangan kekasih yang sedang di mabuk asmara. Membayangkannya saja sudah membuatnya merinding. Sekali lagi ia merasa aneh, ia dan Ino tidak pernah sekalipun seperti sekarang, memakai baju untuk pasangan seperti ini –walau terpaksa. Mereka berdua terlalu merasa hal itu kampungan.

Sasuke barus saja mau membayar saat ia ingat ia tidak membawa uang lebih karena dompetnya sengaja ia tinggalkan di mobil. Akhirnya Sakuralah yang harus membayar semuanya plus dua bungkus roti daging dan dua kotak susu karena Sasuke benar-benar lapar, setelah tadi hampir mati kedinginan.

"Kau berhutang padaku, Ayam!" desis Sakura saat mereka keluar dari kios itu.

''Tunggu! Sepertinya aku mengenal kalian, apa kita pernah bertemu sebelumnya?'' tanya nenek itu tiba-tiba, membuat langkah Sasuke dan Sakura yang hampir keluar dari kios terhenti seketika.

Dengan cepat dan agak tergagap Sakura menjawab, ''Eh, s-sepertinya tidak, kita baru pertama kali bertemu kok, wajah kami ini memang pasaran, dan kau bukan orang pertama yang salah liat. Ehehehe,'' sanggahnya dengan cengiran yang dipaksakan.

''Oh begitu, aku pikir aku mengenal kalian. Hahaha, memang nenek tua sepertiku ini mulai pikun,'' tanggap sang nenek sambil mengetuk kepalanya. Sementara Sakura masih tersenyum gugup, dan Sasuke memasang ekspresi was-was –yang tetap saja tak terlihat.

''Tapi menurutku kalian cocok, yah semoga kalian bisa cepat menikah, ne?'' Sasuke dan Sakura serentak saling menatap, lalu membuang wajah dengan cepat. Rona kemerahan menjalari pipi keduanya.

Setelah tersenyum canggung, Sakura mengucapkan banyak terima kasih pada sang nenek lalu pamit pergi. Makin cepat pergi dari sana, makin baik. Dengan gontai mereka berjalan menuju mobil Sasuke yang berada di bawah sebuah pohon.

Selama perjalanan beberapa orang menatap mereka sambil terkikik. Dan mereka tahu jelas penyebabnya, orang-orang pasti mengaggap mereka sebagai kekasih yang sedang di mabuk asmara hanya karena mereka menggunakan couplejumper.

Merasa risih, merekapun segera menambah kecepatan berjalan, sampai akhirnya tiba di depan mobil Sasuke. Saat mereka sudah berada di dalam mobil, suasana kembali hening, tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan, yang tedengar hanya suara orang mengunyah. Yah, saat ini Sasuke sedang asik menikmati roti daging dan sekotak susu-nya, sementara Sakura hanya memandanginya dengan tatapan kosong.

Entah kenapa nafsu makannya kembali hilang, apalagi sejak kejadian hampir mati tadi.

Sasuke masih saja sibuk makan walau waktu sudah lewat sepuluh menit, saat ini ia malah mulai menyikat habis roti milik Sakura. Kunci mobilnya ia biarkan tergantung begitu saja tanpa di putar ke tombol on.

Lalu setelah kurang lebih 15 menit mereka bertahan pada posisi tersebut, Sasuke akhirnya menyalakan mesin mobilnya dan berjalan pelan ke arah jalan menuju istana.

-o0o-

Sementara itu Sasuke dan Sakura masih di jalan menuju istana, danau itu memang bukan di pusat kota Tokyo, tempatnya berada di pinggiran kota yang masih cukup bersih tidak banyak polusi. Tidak butuh waktu lama bagi mobil Sasuke untuk sampai di pusat Tokyo, dan dengan cepat mobilnya sudah menyatu dengan mobil lainnya.

Suasana hening dalam mobil terusik saat Sakura tiba-tiba merogoh-rogoh tasnya mencari sesuatu, ia lalu mengeluarkan benda mungil yang hampir menyerupai balok berwarna merah muda yang senada dengan rambutnya, lalu mulai asik mengotak-atik.

Sasuke yang sedikit terusik melirik ke arah Sakura, yang saat ini tengah merutuki ponselnya yang mati karena ikut tercebur ke danau. Yah, Sakura memang sedang memegang tasnya saat ia hampir tenggelam di danau.

''Sial, kenapa tak bisa nyala. Ponsel bodoooh!'' gumamnya kesal sambil terus menekan tombol berwarna merah yang berfungsi untuk mengaktifkan ponselnya namun tetap tak menyala.

Sasuke diam tak berkomentar karena nasibnya tak jauh berbeda dari Sakura. Ponselnya juga ikut masuk ke dalam Danau karena tak sempat di simpan, ia terlalu panik melihat Sakura yang hampir tenggelam. Sepertinya ia harus membeli ponsel baru.

Dan disinilah mereka, di salah satu konter penjual Handphone terbesar di Tokyo. Sasuke memutuskan mampir ke sini dulu untuk membeli ponsel baru, sekaligus membayarkan hutangnya pada Sakura.

Sementara itu Sakura hanya cemberut memandangi Sasuke yang sibuk memilih ponsel baru. Ia sudah sangat risih, rambutnya lepek dan sedari tadi orang-orang memandangi mereka dengan tatapan penuh arti. Persis seperti tatapan untuk para remaja labil yang sedang kasmaran. Sekali lagi, dasar baju sial.

Untung Sasuke tak terlalu lama berada di sana, setelah tiga puluh menit yang seperti se-abad bagi Sakura, pemuda tampan itu akhirnya keluar sambil menenteng dua bungkus plastik, membuat Sakura sedikit bingung.

'Aku tahu dia kaya, tapi apa harus sampai dua begitu?' batin Sakura dalam hati, namun segera ditepisnya saat Sasuke mengangsurkan itu padanya. "Untukmu," ujarnya, lalu melenggos pergi.

"Eh, tapi.."

"Hn, jangan banyak tanya, ayo kita pergi," potong Sasuke, lalu ia segera mengenggam tangan Sakura dan menyeret gadis itu pergi.

-o0o-

"Ada apa dengan tampangmu itu?" tanya Sasuke saat Sakura kembali memasang ekspresi masamnya.

"Sudah berapa kali kubilang, aku mau pulang!" bentak Sakura kesal, bibirnya semakin mengerucut. Childish sekali.

"Dan sudah berapa kali kubilang, aku ingin beli es krim dulu. Lalu kita pulang, oke?"

"Huh.."

"...,"

"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu? Silahkan memesan es krim sesuai selera anda," seorang gadis muda berambut coklat keemasan dengan seragam maid menyambut saat mereka sampai memasuki kedai es krim dengan nuansa minimalis namun nyaman itu.

"Ah, apa anda mau es krim untuk pasangan? Kami punya paket hemat untuk pasang–" tambahnya sambil melirik couple jumper milik Sasuke dan Sakura.

"Tolong satu es krim Dark Chocolate dan..?" potong Sasuke sekaligus tanyanya pada Sakura.

"..Cookies and Cream," jawab Sakura mantap, membuat Sasuke mendengus.

"Apa?" tanya Sakura saat Sasuke memandangnya dengan pandangan aneh.

"Tidak, hanya teringat pada keponakanku yang berumur lima tahun,"

"Maksudmu?"

"Hn,"

Dan Sakura hanya bisa memberenggut sebal saat Sasuke mulai mengeluarkan gamaman khasnya. Namun ekspresi itu tidak berlangsung lama saat si gadis pelayan kembali datang dengan dua cones krim pesanan mereka.

"Terima kasih, silahkan datang kembali. Lain kali kalian mungkin bisa mencoba paket kami tadi, jangan bosan datang kemari," ujar si gadis lantang membuat mereka jadi pusat perhatian saat mereka akan meninggalkan kedai tersebut. Sasuke mendecih pelan mendengar perkataan si gadis, memang baju menyebalkan.

Sasuke baru saja memindahkan sim-card nya tapi panggilan dari Kakashi sudah membanjiri I-phone barunya. Dengan agak malas ia mengangkat panggilan itu, "Ya, ada apa, Kakashi?"

''Yang mulia, apa Anda baik-baik saja?'' terdengar suara Kakashi yang sangat khawatir di seberang sana.

''Ya, tenang saja. Kami dalam perjalanan ke istana,'' jawab Sasuke dengan tenang.

''Baguslah kalau begitu, kami sangat menghawatirkanmu yang mulia,''

''Hn,''

''Oh ya, apa tuan putri juga bersama anda?''

''Ya, dia bersamaku,'' Sasuke melirik Sakura sejenak, gadis itu tampak sibuk dengan es krimnya sambil menatap lalu lintas.

''Ah, baiklah. Kami sangat mengkhawatirkanmu yang mulia, semua orang telah menunggu anda,''

''Ya, sebentar lagi kami sampai,'' dan setelah mendengar itu Sasuke segera memutuskan sambungan telepon.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, namun suasana di kota tokyo masih ramai dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang dan berpasang-pasanang kaki yang memenuhi trotoar, sibuk mampir ke toko-toko di pinggir jalan. Kota ini memang tidak pernah terasa sepi, selalu ramai setiap waktu.

Namun berbanding terbalik dengan itu, suasana istana terasa sepi. Hanya terlihat beberapa pengawal dan pelayan yang mendapatkan shift kerja malam yang masih berkeliaran di sekitar istana.

Memang sudah menjadi tradisi bahwa sebenarnya kegiatan para warga istana harus dihentikan jika hari sudah gelap, termasuk kegiatan para pelayan dan para pengawal kerajaan. Bagi pelayan yang tidak mendapatkan shift malam mereka harus segera meninggalkan istana, sementara yang bertugas harus sudah berada di posnya masing-masing. Tidak boleh ada kegiatan yang menimbulkan kebisingan karena akan dianggap pengganggu dan akan mendapat hukuman.

Suara mobil Sasuke memecah keheningan yang tenang di halaman Istana. Segera saja beberapa pengawal sibuk membuka gerbang, mempersilahkan tuannya masuk ke dalam.

''Hah, yang mulia, apa yang mulia baik-baik saja?''

''Yang mulia, apa yang terjadi?''

''Kenapa pakaian yang mulia seperti ini?''

Ribuan pertanyaan dari para pelayan segera meluncur pada Sakura, dengan wajah super khawatir mereka terus mewawancarainya, namun yang ditanya hanya diam saja. Hanya senyuman seribu arti yang ia tampilkan.

Sakura POV

Para pelayan itu tak henti-hentinya mewawancaraiku. Huh, karena aku terkadang tak enak hati pada mereka jadi terpaksa aku tetap menanggapi mereka walaupun hanya dengan senyuman yang entah terlihat seperti apa. Aku sudah lelah, rasanya aku ingin segera membantingkan badanku di atas kasur.

Segera kulangkahkan kaki ke dalam kamarku, dengan langkah gontai aku berusaha mengumpulkan tenaga terakhir yang kumiliki untuk menuju ke kamar.

''Yang mulia, apa yang mulia sakit?'' tanya salah satu pelayan yang sedari tadi terus mengikutiku.

''Hahaha, aku baik-baik saja,'' jawabku dengan sangat tidak jujur, tentu saja aku sedang tidak baik-baik saja. Aku nyaris mati tadi sore, dan satu-satunya yang kubutuhkan saat ini hanya menyendiri di kamarku.

Sesampainya di depan kamar, segera aku masuk dan langsung mengunci pintunya. Aku langsung menjatuhkan diriku di atas kasur empuk istana. Ya ampun, nyaman sekali rasanya.

Aku nyaris saja terlelap jika tidak ingat kalau aku bahkan belum membersihkan diri sama sekali. Dengan ogah-ogahan aku mulai menyerek langkah menuju kamar mandi. Suara kucuran air terdengar dari keran yang sumbatnya ku buka. Air panas penuh uap segera menguar dari sana.

Rasanya nyaman sekali berendam di air panas setelah tadi nyaris beku. Aku bahkan berniat menginap di sini kalau saja airnya tidak berubah dingin. Dengan cepat kusudahi mandiku, dan berpakaian.

Aku mulai membolak-balikan tubuhku, mencoba mencari posisi yang nyaman. Tapi semua sama saja, tidak sekalipun kantuk hinggap di mataku. Kubenahi sekali lagi posisi tidurku sehingga sekarang aku menghadap langit-langit kamar. Pikiranku kacau, bingung sebenarnya siapa yang seharusnya marah. Aku atau Sasuke?

Tapi jika aku marah padanya karena apa? Karena kejadian tadi malam? Tapi dia bilang sendiri kalau dia tidak sadar saat melakukan itu. Tapi bagaimanapun dia sudah mengambil sesuatu yang berharga bagiku. Tapi tadi dia juga sudah rela basah kuyup demi menolongku, kalau aku tak ditolong olehnya mungkin saat ini aku sedang berbaring di rumah sakit karena kehabisan oksigen atau bahkan lebih parahnya aku bisa mati.

Arrgh! Aku bisa gila kalau begini. Lagipula kejadian tadi malam itu memang keinginan semua warga istana, atau bahkan seluruh warga Jepan. Bagaimana tidak, mempunyai keturunan merupakan hal yang diidam-idamkan bagi semua pasangan suami-istri. Apalagi aku dan Sasuke memang suami istri, jadi apa masalahnya?

Sepertinya hanya karena ini semua bukan mauku, dan dilakukan tanpa ada rasa cinta sedikit pun, eh mungkin ada sedikit. Dariku. Bukan darinya.

Tapi bagaimanapun juga aku belum siap, sayang sekarang sudah terlambat, sudah tidak ada lagi harapan. Pasrah, itulah jawaban terbaik. Dan sekali lagi ku balikan posisi tubuhku, membenamkan wajahku di bantal.

Ngomong-ngomong aku jadi tidak enak pada Sasuke, tidak seharusnya aku tetap marah padahal dia sudah menolongku. Apakah aku harus memaafkannya? Atau mungkin aku harus bilang terima kasih padanya? Atau aku harus minta maaf padanya?

Sepertinya lebih baik aku bilang terima kasih dan lupakan hal yang sudah terjadi. Tapi aku masih belum siap untuk itu, jadi lebih baik sekarang aku harus bagaimana? Kupukul kepalaku beberapakali, tampak seperti Dobby- si peri rumah dari film Harry Potter.

Baiklah aku memilih diam, untuk sementara waktu diam adalah pilihan terbaik.

Normal POV

Sasuke berjalan pelan menuju kamarnya, tepat sebelum ia masuk ke dalam kamar ia melihat Sakura dengan langkah gontai memasuki kamarnya dan langsung menguncinya.

''Aku ingin sendiri, apa kalian bisa pergi?'' tanya Sasuke pada pelayan-pelayan yang ada di sekitarnya. Kakashi segera mendongakkan kepalanya sedikit menghadap Sasuke.

''Ya, Yang Mulia,'' jawab Kakashi sambil menundukkan kembali wajahnya. Kemudian ia memberi instruksi kepada pelayan-pelayan yang ada di sekitar sana untuk meninggalkan tempat itu. Mereka pun mengerti dan suasana kediaman Putra dan Putri Mahkota tersebut sepi dalam sekejap, hanya menyisakan Sasuke yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.

Sasuke memutar balikan arah langkah kakinya menuju kamar Sakura. Ia memperhatikan tingkah Sakura dari luar kamar, mengingat pintu kamar tersebut memang sebagian berupa kaca sehingga suasana di dalam dapat dilihat dari luar.

Terlihat Sakura langsung membantingkan tubuhnya di kasurnya itu, sehingga sekarang ia sedang berada di posisi tengkurap. Ia terdiam sesaat, lalu mengangkat tubuh dengan ogah-ogahan dan beranjak menuju kamar mandi di sisi lain ruangan.

Tidak berapa lama sampai Sakura keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit lebih segar. Ia kembali merebahkan diri di kasur dan kembali bergerak-gerak gelisah. Sampai akhirnya ia menghadap ke arah langit-langit kamarnya. Pandangannya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu.

Sasuke memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia masih memperhatikan Sakura dan mencoba menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan wanita itu.

'Sepertinya dia sedang frustasi,' pikir Sasuke karena berulang kali ia melihat Sakura mengacak-acak rambutnya. Dan membalikan badan sehingga seluruh wajahnya terbenam di bantal.

Tiba-tiba ia mengangkat ponselnya ke atas wajahnya dan mengutak-atiknya sebentar. Kemudian ia berteriak sambil melempar ponselnya yang rusak itu ke lantai di samping tempat tidurnya.

Sasuke masih menampilkan wajah datar, namun pikirannya sudah berkelibat memikirkan banyak hal. Sepertinya ia memikirkan sebuah rencana yang pastinya hanya ia dan Kami-sama yang tahu.

-o0o-

''Jadi sebenarnya apa yang terjadi?'' tanya Ratu dengan raut wajah yang sangat khawatir. Saat ini ia sedang berada di ruang keluarga bersama Raja, Ibu Suri dan tak lupa pelayang kepercayaan mereka –Temari dan Kakashi.

Kakashi menghela napas sebentar, ''Maaf yang mulia, kami tidak tahu tepatnya karena Putra dan Putri Mahkota tidak memberitahu kami,'' Kakashi menunduk takut karena ia tak bisa menjawab pertanyaan Ratu dengan apa yang diharapkan oleh mereka.

''Kalau kami lihat, sepertinya hubungan Putra dan Putri Mahkota sedang tidak baik,'' kali ini Temari ikut bersuara.

Raja, Ratu dan Ibu Suri yang mendengarnya pun semakin khawatir akan hal itu. Mereka terlihat bingung akan apa yang harus mereka lakukan untuk memperbaiki hubungan Putra dan Putri Mahkota.

''Aku kira hubungan mereka akan jauh lebih baik setelah melakukan ritual itu,'' komentar sang Raja sambil memijat-mijat pelipisnya, ia sudah semakin pusing akan anaknya yang mempunyai sikap aneh.

''Maafkan kami, yang mulia,'' ucap Temari dan Kakashi berbarengan.

-o0o-

Keesokan harinya suasana istana sudah kembali seperti semula, para pelayan dan pengawal mengerjakan tugasnya masing-masing sementara Raja kembali mengurus dokumen-dokumen negara, Ibu Suri dan Ratu minum teh bersama sambil sesekali tertawa di taman istana.

Sementara Sakura, ia baru saja bangun dari tempat tidurnya dan sekarang ia sedang berjalan menuju kamar mandi. Hari ini memang hari libur sekolah, jadi tenang saja jika ia bangun siang.

Suara air dari shower mulai terdengar dari dalam kamar mandi, sesekali Sakura juga menyenandungkan lagu kesukaannya. Setelah kurang lebih setengah jam, Sakura pun keluar dari dalam kamar mandi dengan balutan handuk di atas kepalanya. Ia langsung duduk di depan meja rias dan mulai mengoleskan beberapa lotion di kulit wajah dan tangannya.

Sakura lihat jam yang bertengger di dinding kamarnya, ''Sudah jam 9 ternyata,'' gumamnya. Kemudian ia kembali merias wajahnya. "Kenapa tidak ada yang membangunkanku?"

Setelah ia berpakaian rapi, ia memutuskan untuk mengunjungi Sasuke sebentar. Ia buka pintu kamarnya dengan hati-hati agar tidak mengeluarkan suara, ia mulai mengendap-endap menuju kamar Sasuke yang berada di depan kamarnya, sesekali ia juga melihat sekitar ada orang atau tidak. Setelah ia sampai di depan pintu kamar Sasuke, ia heran karena biasanya Sasuke sudah terlihat ada di depan komputernya atau sedang membaca buku. Tapi kali ini kamar itu terlihat sepi sekali, bahkan lampu otomatis di kamarnya mati, menandakan bahwa di dalamnya tidak ada orang sama sekali.

'Kemana Sasuke? Bukannya ini hari libur?' pikir Sakura sambil menyipitkan matanya.

''Sasuke, aku masuk ya...Ehem. Hn, ya,'' Sakura bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri sambil menirukan suara Sasuke. Ia akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Sasuke dan melihat-lihat.

''Dia benar-benar pergi ya?'' tanyanya sambil berkeliling di kamar Sasuke.

Tiba-tiba ia berhenti di depan komputer Sasuke, ia perhatikan barang-barang yang ada di atas meja tersebut dan melihat sebuah kalender meja jatuh dengan posisi tertutup, karena penasaran dengan kalender yang ada di meja komputer Sasuke, akhirnya ia angkat kalender tersebut dan melihat tanggalan yang tertera di sana.

Kalender itu menunjukkan tanggalan di bulan Juli dengan sebuah lingkaran yang sepertinya dibuat oleh seseorang tepat di tanggal 23 Juli.

''Ada apa dengan tanggal 23 Juli?'' tanya Sakura bingung, entah ia bertanya pada siapa.

''Itu adalah hari ulang tahun Putra Mahkota, yang mulia,'' jawab seseorang dari belakang Sakura, membuatnya terlonjak kaget.

Kakashi yang berdiri di depan Sakura saat ini hanya tersenyum melihat tingkah Sakura, ia tahu Sakura pasti terkejut.

''Paman Kakashi, sejak kapan paman ada disini?'' tanya Sakura gelagapan sambil memegangi dadanya dan berusaha mengatur napasnya kembali.

''Aku baru saja datang, apa Tuan Putri mencari Putra Mahkota?'' tanya Kakashi.

Sakura semakin gugup karena ia baru saja ketahuan sedang masuk tanpa ijin ke kamar orang. Dan lebih parah, ia ketahuan sedang mengoprak-aprik barang-barang Sasuke.

''Ah, ti-tidak kok, aku... Aku hanya...,'' jawabnya sambil mencari-cari alasan yang bagus. ''Aku hanya mencari sesuatu, kukira ada di sini, haha,'' bagaimanapun Kakashi tetap tahu bahwa Sakura sedang mencari Sasuke, karena saat ia tadi menyebut nama Sasuke, Sakura malah jadi gugup dan mulai memain-mainkan jarinya.

''Oh begitu, ngomong-ngomong tadi Putra Mahkota pergi keluar istana sendirian dengan mobilnya, tapi ia tidak bilang akan pergi kemana,'' jelas Kakashi yang mengerti kalau Sakura sebenarnya ingin tahu kemana Sasuke.

''Oh, begitu,'' tanggap Sakura. ''Baiklah, aku akan keluar. Sepertinya barang yang kucari tidak ada di sini. Permisi paman,'' ucapnya sambil mengangkat tangannya dan langsung berlari keluar dari kamar Sasuke. Sementara Kakashi hanya tersenyum sambil memperhatikan tingkah Sakura.

Sakura langsung berlari ke arah taman Istana, ia kemudian berhenti di tempat yang dipikirnya sudah cukup aman, ia mengatur napasnya yang sedikit tersengal-sengal.

''Jadi 23 Juli itu, hari ulang tahun Sasuke. Berarti lusa,'' Sakura berbicara sendiri di sebuah bangku yang ada di taman Istana. Ia ayunkan kakinya ke depan dan ke belakang, sambil menikmati matahari pagi.

Tiba-tiba ia mendapatkan ide, ''Sepertinya cocok sebagai waktu untuk berterima kasih padanya, apa aku harus memberinya hadiah?'' pikir Sakura lagi yang langsung disambut pukulannya sendiri di kepala.

"Bodoh! Tentu saja aku harus memberikan kado," gumamnya, "Tapi apa ya?" tambahnya sambil berpikir keras.

''Aduh, aku bahkan tidak tahu apa yang Sasuke suka. Selain musik dan Ino-senpai tentunya," batin Sakura muram.

"Kado? Untuk siapa?''

Sakura kembali tersentak saat mendengar suara seorang laki-laki tiba-tiba terdengar tepat di belakangnya. Ia langsung membalikkan tubuhnya dan mendapati Gaara sedang berdiri di belakang situ dengan wajah bingung.

''Kenapa semua orang senang sekali mengagetkanku hari ini,'' gerutu Sakura kesal.

Gaara hanya tertawa sambil berjalan dan duduk di samping Sakura. Ia mengacak-acak rambut Sakura, sementara sang empunya hanya menatapnya kesal sambil menepis tangan Gaara dari atas kepalanya.

''Kau itu sering sekali melamun, makanya mudah sekali untuk mengagetkanmu,'' tanggap Gaara pada Sakura yang masih menatapnya dengan tatapan kesal.

Sakura memalingkan wajahnya lagi ke depan tak menghiraukan omongan Gaara. ''Apa yang sedang kau pikirkan?'' tanya Gaara.

''Tidak ada kok,''

''Sudahlah, kau itu tidak pandai berbohong,''

Sakura diam sebentar menundukkan kepalanya menghadap tanah, ''Aku bingung, lusa adalah hari ulang tahun Sasuke,'' jelasnya dengan nada rendah namun Gaara tetap bisa mendengarnya.

''Lalu?''

''Menurutmu hadiah apa yang harus kuberikan untuknya?''

Gaara sedikit tersentak saat Sakura mengatakan itu, 'Dia masih memikirkan hal itu?' batin Gaara yang sedikit kecewa.

''Hmm, menurutku kau harus memanfaatkan bakatmu itu,'' tanggap Gaara setengah hati.

''Maksudmu bakat apa?'' tanya Sakura heran.

''Ya bakat melukismu, pasti hasilnya bagus,''

"Ah iya! Aku hampir saja lupa dengan yang satu itu," sahut Sakura bangga, tapi kemudian ia kembali terdiam. "Tapi gambar apa?" tambahnya.

"Terserah kau. Apa saja. Apapun yang berhubungan dengan Sasuke. Musik, kalau aku boleh menyarankan,"

''Tadinya aku juga berpikir seperti itu, hanya saja aku bingung harus melukis dimana, kalau di kanvas itu sudah biasa,'' ucap Sakura sambil menggigit-gigit ujung rambutnya.

Gaara terlihat berpikir sejenak, ''Bagaimana kalau kau melukis di sebuah benda?''

''Apa maksudmu? Benda apa?''

''Mungkin sesuatu yang bisa di bawa kemana saja, tapi masih jarang di kalangan masyarakat,'' jelas Gaara.

''Benda yang masih jarang? Mungkin bagus, nanti akan kupikirkan benda apa yang cocok,''

''Hm,'' tanggap Gaara singkat.

Mereka terus mengobrol dan entah membicarakan apa, sesekali mereka tertawa dan bercanda. Karena terlalu terbawa suasana, mereka sampai tidak menyadari kalau sang Ratu sudah memperhatikan mereka dari tadi. Tapi sang ratu tak berkomentar atau menampilkan mimik wajah yang aneh, hanya datar dan entah tengah memikirkan apa.

Di sisi lain, sebuah mobil Aston Martin DB9 hitam baru saja memasuki gerbang istana. Mobil yang sudah tak asing bagi penghuni istana itu langsung disambut oleh para pengawal dan pelayan kerajaan.

Lelaki bertubuh tegap dengan rambut emo yang tadi mengemudikan mobil langsung memasuki istana dan berjalan menuju kamarnya. Namun baru beberapa meter ia berjalan melalui koridor istana, seorang pelayan istana menghampirinya. ''Yang Mulia, anda dicari Yang Mulia Ratu,'' kata sang pelayan dengan sopan.

"Hn," tanggap Sasuke asal, lalu memutar arah menuju kediaman Ratu.

Baru saja Sasuke akan memasuki kediaman Ratu, ternyata Mikoto sedang berdiri di depan jendela yang ada di koridor, terlihat Mikoto sedang terdiam menikmati suasana taman dari jendela tersebut, namun sorot matanya seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang serius.

''Ada apa memanggilku, Yang Mulia Ratu?'' tanya Sasuke begitu ia berdiri di samping ibunya. Mikoto memberi isyarat agar pelayan yang ada di dekatnya segera pergi. Para pelayan tersebut pun mengagguk paham dan langsung pergi menuju ruangan lain.

''Dari mana saja kau?'' belum juga pertanyaan Sasuke dijawab, Mikoto sudah mengajukan pertanyaan lain padanya.

Sasuke mendengus pelan, ''Itu urusanku,'' jawabnya dingin.

''Putra Mahkota, mulai sekarang kau harus tahu posisimu,'' tutur sang Ratu dengan suara yang lembut.

''...,''

''Apa hubunganmu baik-baik saja dengan Putri Mahkota?''

Sasuke terlihat berpikir sebentar, ''Ya, kalian tidak usah mengkhawatirkan kami,'' ucapnya tegas.

''Putra Mahkota, kau harus bisa bersikap lebih hangat padanya. Bagaimana pun, sekarang dia adalah istrimu,'' Mikoto tampaknya sangat cemas dengan hubungan Sasuke dan Sakura yang sepertinya terlihat tak baik, apalagi baru beberapa saat yang lalu ia melihat Sakura berbincang-bincang dengan Gaara, dan hubungan mereka terlihat sangat dekat di matanya.

Sasuke masih tak berkomentar, ia tahu bahwa hubungannya dengan Sakura saat ini tidak bisa dibilang baik. Maka dari itu, ia memutuskan untuk diam dan mendengarkan nasihat ibunya.

''Putri Mahkota pasti merasa kesepian, apalagi di usia yang sangat muda ini ia harus menanggung beban yang berat,'' Ratu menarik napas sejenak dan menatap Sasuke lekat-lekat, ''Jadi kumohon padamu, jaga dia. Jangan sampai kau menyesal nanti,''

''Baik, yang mulia,'' tanggap Sasuke singkat. Sang Ratu pun tersenyum kepada Sasuke dan berjalan meninggalkan Sasuke.

''Terima kasih, Ibu,'' Mikoto menghentikan langkah kakinya saat tiba-tiba ia mendengar Sasuke mengucapkan kalimat itu. Ia langsung berbalik dan mendapati Sasuke sudah berjalan pergi. Entah kenapa hatinya selalu terasa sedih jika ia mendengar Sasuke memanggilnya dengan sebutan itu. Sudah lama sekali sejak ia melarang Sasuke menanggilnya begitu karena tuntutan kerajaan.

Sakura masih mengobrol dengan Gaara di sebuah kursi panjang dekat kamarnya. Mereka terlihat sangat menikmati suasana, sesekali mereka tertawa, bercanda, dan bernyanyi. Mungkin lebih tepatnya Sakura yang mendominasi percakapan dengan bercerita heboh, Gaara hanya tersenyum memperhatikan Sakura.

''Yang Mulia, maaf mengganggu,'' tiba-tiba suara Temari menginterupsi, Sakura dan Gaara langsung menolehkan wajahnya ke arah Temari.

''Yang mulia, Ibu Suri mendapat undangan peresmian dari Museum Musik, Tuan Putri diharap bisa ikut menemaninya,'' ucap Temari.

''Hmm, baiklah aku akan segera bersiap,'' tanggapnya dengan ramah, ''Gaara, maaf aku harus pergi,'' ijinnya pada Gaara dengan wajah memelas.

''Hn, aku mengerti, hati-hatilah,'' Gaara tersenyum menatap Sakura.

Sakura langsung berlari kecil ke kamarnya dan segera bersiap, mulai dari memilih gaun yang cocok, berdandan, sampai sepatu yang akan ia pakai. Setelah hampir setengah jam ia menyiapkan diri, akhirnya ia selesai.

Saat ini Sakura sedang mengecek kembali penampilannya di kaca. Bagus, pikirnya. Sebuah tas kecil berwarna biru menggantung di pundaknya sampai ke pinggang. Sakura memakai blus putih tulang yang terlihat santai tapi sangat manis yang dipadukannya dengan rok selutut berwarna biru laut.

Tak lupa sepatu high heels yang senada dengan sepatunya. Jepit berwarna biru juga turut menghian penampilannya, ia menjepit setengah rambutnya. Sakura membenarkan sedikit riasannya, kemudian berkaca sekali lagi.

''Ya, sudah siap,'' tepat saat ia baru saja akan membuka pintunya, pandangannya jatuh pada sebuah bungkusan berwarna putih yang semalam ia letakan begitu saja di sana.

Ponsel dari Sasuke belum ia sentuh sejak kemarin. Dengan sedikit ragu Sakura mengambil bungkusan itu dan membukanya. I-phone yang sama dengan yang Sasuke gunakan kemarin. Harganya pasti sangat mahal.

Tapi saat ini ia memang sedang membutuhkan sebuah ponsel, mengingat ponsel lamanya kemarin baru saja terendam air dan rusak. Ia mengambil ponsel itu dan membolak-balikannya sebentar, kemudian senyuman mengembang di bibirnya. Dengan hati-hati dimasukannya ponsel itu ke dalam tas, lalu ia melanjutkan perjalanannya keluar.

-o0o-

Sesampainya Sakura di kediaman Ibu Suri, ia langsung disambut dengan gembira oleh Ibu Suri. ''Ah, Putri Mahkota, senang sekali kau mau ikut menemaniku,'' ucap Ibu Suri dengan wajah berseri-seri.

''Aku juga sangat senang bisa menemanimu, Yang Mulia,'' tanggap Sakura yang saat ini sudah duduk di samping Ibu Suri, ia juga tampak gembira bisa pergi bersama Ibu Suri.

Selama ini ia belum pernah jalan-jalan bersama seorang nenek karena kedua neneknya sudah meninggal sebelum ia bisaberjalan dan bicara. Dan dengan pergi bersama Ibu Suri, ia mungkin bisa merasakannya.

''Kapan kita berangkat?'' tanya Sakura semangat, ia sepertinya sudah tak sabar.

''Tunggu sebentar, kita akan menunggu satu orang lagi,'' jawab Ibu Suri menenangkan Sakura.

'Satu orang lagi?'batin Sakura penasaran. "Siap– "

Perkataanya terputus saat pintu ruangan bergeser terbuka, seorang laki-laki berambut emo memasuki ruangan. Sakura tersentak saat orang yang sejak pagi dicari-carinya berjalan melewati pintu ruangan dengan santai, ''Maaf membuat kalian menunggu,'' ucapnya sambil membungkukkan badannya sedikit.

''Tidak apa-apa, Putra Mahkota,'' tanggap Ibu Suri dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya, ''Ayo sekarang kita berangkat,'' Ibu Suri segera beranjak dari sofa yang ia duduki dan berjalan keluar melewati Sasuke. Dalam peraturan tata karma kerajaan, orang yang lebih tua harus didahulukan, jadi Sasuke dan Sakura berjalan di belakang Ibu Suri.

''Kau terkejut?'' tanya Sasuke dengan senyum penuh kemenangan tepat saat Sakura berjalan ke arah pintu keluar dan lewat di depan Sasuke. Dapat dilihatnya gadis itu sejak tadi mencuri pandang ke arahnya,

Sakura tersentak kaget dan segera memalingkan wajah, ''Biasa saja,'' dustanya.

''Dasar,'' gumam Sasuke kecil, ia tahu pasti Sakura terkejut saat melihatnya, bahkan gadis itu sudah terlonjak dua kali tadi.

Selama perjalanan, mobil Sakura dan Sasuke terpisah. Sakura bersama Ibu Suri menaiki mobil yang berada di depan mobil Sasuke. Jadi selama perjalanan Sakura beruntung karena tidak perlu berada dalam suasana canggung. Ia dan Ibu Suri sibuk berbicara tentang banyak hal.

Sesampainya di sana, mereka telah disambut dengan gembira oleh beberapa staf museum yang akan mendampingi mereka selama berkeliling. Pintu Museum masih tertutup dan seutas pita berwarna merah menggantung di depan pintu tersebut.

''Selamat datang, Yang Mulia,'' sambut para staf dengan sedikit membungkuk kepada para keluarga kerajaan yang baru saja turun dari mobil. Ibu Suri dan Sakura tersenyum senang saat mereka berdua turun dari mobi sementara Sasuke tetap dengan ekspresi datarnya.

Setelah Ibu Suri sedikit berbasa-basi di depan para staf dan beberapa orang wartawan, akhirnya ia pun menggunting pita merah yang menggantung di depan pintu. Suara tepuk tangan orang-orang terdengar memenuhi tempat itu. Kilatan lampu kamera menyala di mana-mana sementara para wartawan sibuk mencari sudut yang bagus untuk mengambil gambar.

Setelah pengguntingan pita, Ibu Suri menandatangani pernyataan peresmian gedung yang nantinya akan dipajang di depan pintu masuk. Lalu mereka memulai tur mereka mengelilingi museum.

Museum itu terlihat sangat indah dan hebat. Arsitek yang membuatnya pasti sangat hebat, pikir Sakura. Ia tadi bahkan sampai melongo kagum melihat desain interior museum yang unik dan sarat akan unsur musik.

Mereka memulai tur dari ruang musik klasik yang menyimpan banyak salinan asli lagu-lagu karangan musisi terkenal jaman dulu, juga beberapa alat musik yang mereka pakai. Belum lagi piringan-piringan hitam yang memenuhi dinding ruangan, dan sebuah alat pemutar piringan hitam yang ada di sudut ruangan membuat semuanya terlihat keren.

Selanjutnya, mereka di antar ke ruang musik modern. Tempat itu agak aneh menurut Sakura, tapi juga menakjubkan. Copyan asli dari musisi legenda seperti Michael Jackson juga ada di sana. Ruangan itu di lengkapi dengan alat pemutar kaset.

Belum selesai Sakura mengatasi rasa takjubnya, ia di buat bernostalgia saat sampai di ruang musik tradisional.

Sasuke sendiri tidak bisa menahan rasa kagumnya. Sudah sejak tadi ia ingin memainkan alat-alat musik yang ada di sana. Coba saja itu bukan barang bersejarah, pikirnya.

Mereka sampai di aula besar, tempat sebuah panggung besar berdiri megah di sana. Ratusan sofa merah berjejer rapi menghadap ke panggung tersebut. Menurut salah satu pemandu mereka, aula ini nantinya akan dipakai untuk acara teater atau drama musical dan konser musik klasik dan tradisional.

''Yang mulia, kami sudah menyiapkan sebuah drama musical untuk anda,'' ucap salah satu staff yang sedari tadi mendampingi mereka. Sakura yang mendengarnya pun semakin antusias.

Ibu suri pun juga tampak gembira mendengarnya, ''Wah, aku jadi tak sabar ingin melihatnya,'' tanggapnya sambil tersenyum.

Mereka segera menempati posisi yang telah disediakan, kursi VVIP dengan segala pelayanan extra. Dan sialnya Sakura ternyata duduk di samping Sasuke, membuatnya sedikit risih.

Tapi itu tidak berlangsung lama karena lampu di ruangan itu segera meredup menandakan acara akan segera di mulai.

Drama itu menceritakan tentang seorang gadis miskin yang baik hati yang hari-harinya selalu dikecam oleh Kakak tirinya. Ia dan kakaknya memang satu ayah tapi berbeda ibu. Semenjak orang tuanya meninggal, ia hidup seperti budak kakaknya.

Namun secara tak sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda tampan dengan pakaian sederhana di pasar. Mereka pun jatuh cinta satu sama lain. Tanpa disadari ternyata pemuda itu adalah seorang bangsawan yang sedang menyamar menjadi rakyat biasa, ia kabur dari rumahnya karena tak ingin dijodohkan dengan putri teman ayahnya yang sombong.

Dengan berani, ia memantapkan niatnya untuk memperkenalkan pujaan hatinya kepada sang ayah, yang tentu saja ditentang keras oleh ayahnya. Namun sebuah kasus korupsi yang dilakukan oleh ayah dari wanita yang akan dijodohkan dengan pemuda itu pun membuat sang ayah membuka hatinya. Dan setelah tahu kalau ternyata kekasih pemuda itu anak dari sahabatnya dulu, sang ayah pun memantapkan niatnya untuk merestui mereka.

Akhirnya, mereka pun menikah dan hidup bahagia, dan tentu saja sang kakak yang jahat itu pun menyesali perbuatannya selama ini yang terus menyakiti adiknya.

Agak mirip cerita Cinderella memang, tapi karena Sakura baru pertama kali melihat drama musical seperti ini, ia sampai terhipnotis oleh sang aktor yang begitu mendalami perannya. ''Dia romantis sekali,'' gumamnya kecil dan secara tidak sadar saat ini posisi kepalanya sudah menopang pada kedua tangannya. Terlihat seperti remaja yang jatuh cinta.

Sasuke yang mendengarnya pun mau tak mau menolehkan wajahnya ke arah Sakura, dan mendapatinya dalam posisi yang sudah tidak bisa dibilang sikap seorang bangsawan lagi. Ia mendecak kesal mendengar Sakura mengatakannya. 'Memangnya aku tidak romantis,' batin Sasuke dalam hati. Bagaimana pun ia telah berusaha bersikap baik pada Sakura, bahkan ia membelikannya ponsel baru, apa itu kurang romantis?

Setelah acara itu selesai, mereka pun memulai sesi pemotretan dengan latar belakangnya objek-objek yang ada di museum. Sakura dan Ibu Suri dengan percaya diri menampilkan senyuman dan gaya mereka masing-masing dengan heboh, sementara ' seorang lainnya' tetap memasang wajah datar tanpa ekspresi.

"Sepertinya aku ingin istirahat sambil melihat pemandangan di sini," ucap Ibu Suri yang sudah mulai terlihat kelelahan karena memang faktor umur. "Kalian berdua nikmati saja jalan-jalannya," tambahnya, sebelum ia mengikuti salah satu staf museum yang akan mengantarnya ke tempat istirahat yang memang merupakan salah satu fasilitas museum.

Entah disengaja atau tidak, Ibu Suri entah kenapa tidak mengiraukan wajah memelas Sakura yang langsung muncul saat tahu dirinya akan ditinggalkan berdua bersama Sasuke. Sasuke yang yang sepertinya menangkap ekspresi itu langsung tersenyum geli.

Ia segera menyeret Sakura kembali ke aula besar tadi, sementara yang diseret hanya mendengus kesal. Dengan mantap didorongnya pintu aula besar itu lalu berjalan masuk.

Sasuke melangkah menuju sebuah Grand Piano dan duduk di hadapannya. Sakura mengikutinya perlahan, ekspresi gadis itu terlihat campuran antara bingung dan kesal. Sasuke diam sejenak dan memperhatikan benda yang ada di hadapannya.

"Kau bisa memainkannya?" tanya Sakura tiba-tiba. Sasuke menoleh ke arah Sakura sambil menyunggingkan seringaiannya.

"Hn, kenapa?" tanya Sasuke balik.

Sakura mengerjapkan matanya gugup, "Yah, karena aku tidak pernah mendengarmu bermain sebelumnya, apa kau mau memainkannya sekarang?"

Sasuke menatap Sakura sejenak lalu menjawab asal, "Tidak ah, malas,"

"Eh, kenapa?" tanya Sakura bingung. Tanpa sadar ia sudah berdiri di depan Sasuke, wajahnya mengerut lucu.

Sasuke menyeringai tipis melihatnya, "Karena nanti kau akan jatuh cinta padaku," Sakura melongo hebat sampai rahangnya berbunyi Klak keras. UCHIHA SASUKE baru saja MENGGOMBAL! Dunia memang sudah gila.

"Ahahaha, tidak usah melongo seperti itu juga, kan? Kau terlihat semakin bodoh dengan ekspresi itu, aku kan hanya bercanda," ujar Sasuke sambil menahan tawa, dan itu membuat Sakura semakin melongo.

"Dasaaar! Uchiha menyebalkan, pantat ayam bodoh. Aku mau menemui Ibu Suri saja!" pekik Sakura kesal sambil menghentakan kakinya. Ia barus saja akan melangkah keluar ruangan saat didengarnya dentingan piano mengalun lembut.

Dengan cepat ia membalikan badannya. Sasuke masih di tempatnya semula, sedang memainkan piano dengan ekspresi serius. Entah kenapa laki-laki itu terlihat semakin tampan. Sasuke memainkan lagu Only Hope milik Mandy Moore dengan wajah serius penuh penghayatan.

Ini pertama kalinya Sakura melihat ekspresi lain di wajah Sasuke selain seringai menyebalkan dan ekspresi datar. Tiba-tiba ia merasa de javu.

Kemarin juga begini, seorang pemuda tampan memainkan Piano untuknya. Tapi entah kenapa dibandingan permainan Gaara, permainan Sasuke terasa lebih hidup. Membuat Sakura merasa sesuatu yang hangat memenuhi dadanya, membuatnya merasakan perasaan senang yang membuncah. Jantungnya bahkan berdegup keras.

Tanpa sadar ia kembali berjalan mendekati Sasuke dan duduk di sebelah pemuda itu. Sasuke tersenyum singkat kearahnya lalu kembali serius pada permainannya. Pandangan sakura entah kenapa tidak bisa lepas dari pemuda itu, matanya seakan-akan tertarik magnet kuat sehingga tidak bisa dialihkan.

Lalu tanpa sadar ia menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke, yang di balas kecupan ringan di puncak kepalanya oleh pemuda itu. Sesuatu yang hangat kembali menyapa rongga dadanya, dan ribuan kupu-kupu seakan terbang di perutnya.

'Kami-sama, jika ini mimpi, aku berharap tidak akan pernah terbangun lagi,' batin Sakura, lalu mulai menikmati setiap alunan tuts piano yang ditekan Sasuke,

-o0o-

There's a song that inside of my soul.
It's the one that I've tried to write over and over again
I'm awake in the infinite cold, but you sing to me over
And over and over again.

So I lay my head back down,
And I lift my hands and pray to be only yours
I pray to be only yours
I know now you're my only hope

-ToBeContinue-

Yihaaaaai! Selesai deh chap selanjutnya. Dan sekali lagi, terlalu lama dari waktu yang dijanjikan. Muwahahaha!

Maaf ya. Dan juga terima kasih untuk kalian semua yang masih setia baca fic kami, maaf kalau belum seperti apa yang kalian harapkan. Kami akan berusaha lebih keras. Segala masukan dan kritikan kami terima. Kalau ada yang kurang berkenan kami minta maaf. THANKS A LOT GUYS! :D :****

Mind to RnR? :D