Di sebuah restaurant ternama di Jepang, 2 orang laki-laki, tepatnya seorang pria paruh baya dan seorang pemuda tampan sedang membicarakan sebuah hal serius. Terlihat pria paruh baya itu menyodorkan sebuah amplop berukuran sedang kepada sang pemuda.
"Seperti permintaanmu tuan," kata pria itu sambil menyodorkan amplop kepada sang pemuda di hadapannya. Sementara pemuda itu masih menyesapi kopi pesanannya sambil tersenyum kecil di sela-sela kegiatannya.
Setelah meletakkan cangkirnya, pemuda berambut merah tersebut mengambil amplop tersebut dan mengeluarkan isinya dengan perlahan. Setelah melihat isi dari amplop tersebut yang tak lain adalah beberapa lembar foto, senyum di wajahnya langsung mengembang.
"Aku memang tidak salah pilih orang," tuturnya dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya. Kemudian ia mengambil sebuah amplop lain dari sakunya, sebuah amplop yang berisi sejumlah uang. Kemudian ia segera memberikannya kepada pria yang ada di hadapannya. Dengan senang, pria itu mengambilnya dan menghitung jumlah uang yang ada di dalamnya.
"Terima kasih, tuan. Kau memang bisa mengandalkanku," jawab pria itu dengan senang sambil masih menghitung jumlah uang yang ada di dalam amplop tersebut.
Sementara pemuda berambut merah itu masih memperhatikan foto-foto yang ada di tangannya. Sebuah senyum sinis terpatri di wajahnya yang tampan.
'Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku...
.
.
.
.
...Sasuke'
The Days of The Prinscess
Disclaimer tokoh©Masashi Kishimoto
Disclaimer cerita© 'UCHIHA
Genre: Romance/Drama
Pairing: SasuSaku
Rated:T
-The Revenge-
Sasuke POV
Jari-jariku masih bermain di atas tuts-tuts piano. Menghasilkan rangkaian nada dari sebuah lagu berjudul 'Only Hope'. Sakura masih duduk di sampingku dan menyenderkan kepalanya di bahuku.
Jika dari posisiku, wajahnya memang tidak terlalu terlihat. Merasakannya berada di dekatku, entah kenapa tidak membuatku terganggu, justru rasa nyaman yang ada. Menghirup aroma yang menguar dari tubuhnya, juga membuatku tenang, rasanya seperti berada di sebuah taman yang indah dengan ratusan bahkan ribuan bunga di sekelilingku. Tanpa kusadari, wanita cantik yang berada di sampingku ini adalah istriku. Seorang istri yang beberapa hari lalu telah menjadi milikku seutuhnya, walaupun aku tidak sadar atau tidak ingat saat aku melakukannya.
Setelah permainan pianoku berhenti, segera kulirik wanita yang masih menyender dalam diam di sampingku. Kuarahkan wajahku sedikit ke samping untuk melihat wajahnya dan ternyata ia tertidur. Senyum manisnya tetap tidak lepas dari wajahnya. Aku hanya tersenyum melihat ia tertidur. Cukup satu kata untuk menggambarkannya.
Cantik.
Entah kenapa aku semakin mendekatkan wajahku ke wajahnya. Jarak diantara kami semakin menipis, diiringi dengan degup jantungku yang semakin cepat.
Dalam beberapa hitungan aku telah berhasil menghilangkan jarak dengannya, kudaratkan sebuah kecupan lembut di bibirnya. Hanya beberapa detik aku bertahan pada posisi itu, tak berniat untuk membangunkannya jika aku bertahan lebih lama lagi. Padahal ingin rasanya aku merasakan bibir itu lebih lama lagi. Segera aku kembali menjauhkan kepalaku namun masih memperhatikan wajahnya.
Tiba-tiba matanya perlahan terbuka dan menampilkan sepasang emerald yang sempat membiusku beberapa kali. Ia mulai mengerjapkan matanya beberapa kali untuk beradaptasi dengan cahaya.
"Hey! Cepat bangun, putri tidur!" ucapku ketus. Kulihat, ia langsung sadar bahwa kepalanya masih menyender di bahuku. Dengan cepat ia jauhkan kepalanya.
"Ma-maaf, Sasuke-kun," ucapnya sedikit panik. Terlihat semburat tipis menghiasi pipinya, aku yakin dia pasti malu saat menyadari apa yang baru saja ia perbuat.
"Kau tidur lelap sekali, bahuku sampai pegal," ucapku lagi dengan nada kesal yang sedikit dibuat-buat. Bahuku juga sedikit kugerakan untuk meregangkan otot yang sedikit kaku. Tapi sebenarnya, jika ia tidur lebih lama lagi pun, aku masih sanggup. Namun, aku biarkan saja ia malu dengan ucapanku tadi. Ia terlihat gugup sambil memainkan jari-jari tangannya dan masih dengan kepala yang sedikit menunduk.
"Maafkan aku, Sasuke-kun," ucapnya dengan lembut. Ia masih terlihat gugup, hampir saja tawaku meledak karena berhasil mengerjainya.
"Sudahlah, lebih baik kau ke kamar dan melanjutkan tidurmu lagi," kataku sambil berdiri dari kursi piano. Ia sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatapku, matanya masih menyiratkan sedikit penyesalan.
"Bahumu tidak apa-apa kan? Beberapa waktu lalu kan tanganmu baru saja patah," tanyanya.
"Tanganku sudah tidak apa-apa. Kalaupun masih, tidak mungkin di Bali aku mampu memindahkanmu ke kamar," jawabku yang sontak langsung membuat wajahnya semakin memerah. Segera kutinggalkan Sakura yang masih mematung mendengar ucapanku.
Dengan kejadian itu saja, wajahnya sudah semerah buah kesukaanku. Apalagi jika kuberitahu kejadian tadi. Senang sekali jika aku berhasil mengerjainya.
End of Sasuke POV
Sakura yang wajahnya sudah semerah tomat, segera menyadari bahwa Sasuke sudah menghilang dari ruangan itu.
"Sasuke, tunggu!" ucapnya sedikit berteriak walaupun entah bisa didengar oleh Sasuke atau tidak.
Ia segera beranjak dari kursinya dan setengah berlari ke arah yang Sasuke tuju tadi. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat dilihatnya Sasuke dengan raut wajah yang sulit dijelaskan, sedang melihat beberapa lembar kertas di tangannya. Di depannya Kakashi sedang berdiri dengan wajah sedikit panik dan khawatir.
Sakura masih memperhatikan dua orang itu dari jauh, mencoba menebak apa yang ada di kertas-kertas itu. Raut wajah Sasuke terlihat semakin frustasi, tangannya yang sedang membawa beberapa kertas itu sedikit gemetar seiiring dengan semakin kencang tangannya meremas kertas itu.
"Berita ini sudah sampai ke telinga Ratu, tuan," ucap Kakashi dengan sedikit nada penyesalan. Sasuke masih belum mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas itu. Sementara Sakura mulai memberanikan diri untuk mendekati Sasuke dan melihat kertas-kertas itu, tampaknya ia sudah lelah menebak-nebak apa yang tercetak di kertas itu.
"Sasuke-kun, ada apa?" suara lembut milik Sakura kembali menyadarkan Sasuke. Ia berusaha untuk menyembunyikan kertas-kertas itu, ia tidak ingin Sakura tahu masalah ini. Wajahnya sudah kembali datar seperti biasanya.
"Lebih baik kau pergi ke tempat nenek," perintah Sasuke dengan tegas pada Sakura. Sakura sebenarnya masih penasaran dengan kertas itu, tapi mendengar nada bicara Sasuke, ia tahu kalau Sasuke sedang serius. Ia akhirnya mengalah dan berjalan melewati Sasuke. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap Sasuke.
"Baiklah, kalau ada masalah ceritakan saja padaku, mungkin aku bisa memba-,"
"Sudah kubilang, tidak usah ikut campur," potong Sasuke sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya. Kali ini matanya menyiratkan sebuah kemarahan bercampur kegelisahan. Tanpa banyak bicara, akhirnya Sakura segera melesat meninggalkan Sasuke dan Kakashi.
'Ada apa dengan Sasuke-kun?' batin Sakura.
"Ratu ingin bertemu dengan anda sekarang," lanjut Kakashi saat mengetahui bahwa Sakura sudah cukup jauh dari mereka.
"Aku mengerti. Aku akan ke istana sekarang juga," tutur Sasuke dengan nada yang sudah sedikit tenang. Ia mulai berjalan ke arah yang ia ketahui adalah pintu keluar, dan tentu saja di sana sudah ada mobil yang siap membawanya kembali ke istana.
Sementara itu Kakashi yang setia mengikuti Sasuke di belakang, sepertinya sangat merasa bersalah karena tugasnya untuk menjaga stabilitas dan keamanan di istana sudah gagal.
Melihat mimik wajah Kakashi yang berubah, Sasuke pun mengerti kenapa wajah itu tidak menampilkan semangat seperti biasanya. Dan tentunya ia cukup paham dengan posisi dan tugas Kakashi di sini.
"Ini bukan salahmu, aku yang salah," ucap Sasuke pada Kakashi dan sontak membuatnya menengadahkan kepalanya melihat sosok pangeran di depannya.
"Tuan, kenapa anda bisa bicara seperti itu? Tugasku seba-"
"Kerjamu sudah sangat baik, Kakashi," potong Sasuke cepat sebelum Kakashi kembali menyalahkan dirinya. Tidak terasa mereka sudah berada di samping mobil, seorang pengawal juga sudah membukakan pintu mobil untuk Sasuke.
"Kali ini memang aku yang lalai, jadi biarkan aku menyelesaikan masalah yang kuperbuat ini," jawab Sasuke dengan yakin.
Sasuke segera masuk ke dalam mobil, diikuti dengan Kakashi yang juga masuk ke dalam mobil yang sama, tepatnya kursi di samping supir. Mobil itu segera melesat dari museum tersebut menuju istana, dan tentunya diikuti satu buah motor polisi di depannya dan sebuah mobil lain di belakangnya sebagai pengawal.
Selama di perjalanan, Sasuke hanya terdiam memandangi jejeran bangunan-bangunan di sepanjang jalan. Sepertinya otaknya sedang bekerja mati-matian mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskan perkara ini kepada sang Ratu. Ia tahu kalau ia memang salah, tapi tak disangka ada paparazzi yang memergokinya. Padahal ia sudah yakin sekali kalau waktu itu tidak ada yang menyadari penyamarannya.
'Ada yang tidak beres disini,' batin Sasuke setelah ia memikirkan perkara ini berulang kali.
Tak terasa rombongan Sasuke sudah sampai di istana. Sang Putra Mahkota segera keluar dari mobil dan berjalan dengan sedikit tergesa-gesa ke arah ruang keluarga setelah seorang pelayan memberitahu jika Ratu sudah menunggu di sana sejak 15 menit yang lalu dengan gelisah.
Saat Sasuke memasuki ruang keluarga, dilihatnya sang Ratu yang tak lain adalah ibunya sendiri, sedang duduk menghadapnya. Pandangan mereka bertemu beberapa saat sebelum Ratu mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan mata yang tajam.
Belum sempat Sasuke bicara sepatah katapun, Ratu dengan wajah yang menampilkan kemarahan berdiri. Terlihat di tangan kanannya tergenggam beberapa lembar kertas yang isinya sama seperti yang Sasuke lihat tadi. Ia lemparkan kertas-kertas itu dengan sekuat tenaga ke meja yang memisahkan ia dan Sasuke. Sementara Sasuke, masih diam menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut sang Ratu.
"PUTRA MAHKOTA MACAM APA KAU INI, HAH?" tanya sang Ratu dengan nada yang meledak-ledak karena terlalu emosi. Dadanya naik turun untuk mengambil napas dan menahan gelombang emosi yang begitu menumpuk di kepalanya.
"Ini memang belum sampai ke telinga masyarakat, karena berita ini baru muncul di situs pribadi milik kerajaan," lanjut Ratu dengan gelisah bercampur marah.
"TAPI INI TETAP SAJA KETERLALUAN. Kau pikir hal ini tidak akan berdampak kepada keluarga kerajaan?" Kesabaran sang Ratu kali ini memang sudah melewati batasnya, dan ia benar-benar marah pada kelakuan anaknya ini.
"Bagaimana mungkin seorang lelaki yang sudah beristri bisa berkencan dengan wanita lain?"
"...,"
"Kau ini adalah Putra Mahkota, Sasuke. Di masa depan kau adalah seorang raja yang akan memimpin negeri ini,"
"...,"
"Tapi tingkah lakumu ini, sama sekali tidak mencerminkan sikap yang pantas bagi seorang calon Raja,"
"...,"
"Siapa gadis itu?" tanya sang Ratu penuh curiga dan nada mengintimidasi. Seketika Sasuke langsung menegang saat pertanyaan itu keluar dari mulut ibunya. Ia tentu saja tidak ingin menyebarkan identitas gadis berambut pirang yang bersamanya di foto-foto yang tercetak di kertas-kertas itu. Ia tahu, sesuatu yang buruk akan terjadi pada gadis yang ia sayangi itu jika ia memberitahu ibunya.
"Aku tidak bisa memberitahunya," kalimat itulah yang keluar dari mulut Sasuke. Ia tahu kalau ini bukan jawaban yang diinginkan ibunya, dan pasti ibunya akan semakin marah padanya.
"Apa maksudmu?" tanya Ratu dengan emosi yang tertahan.
"Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri, Ratu tidak perlu ikut turun tangan,"
"Putra Mahkota!" bentaknya lagi pada Sasuke.
"Aku tahu ini memang kelalaianku. Aku minta maaf,"
"...,"
"Tapi ijinkan aku yang menyelesaikan kelalaianku ini, Ratu," jawab Sasuke dengan yakin, membuat sang Ratu membulatkan matanya mendengar jawaban anaknya itu.
"Apa kau yakin bisa melakukannya?" tanya Ratu untuk meyakinkan.
"Ya, aku janji," ucap Sasuke dengan mantap. Mata onyx-nya berkilat dengan tajam.
"Aku ingin gadis itu menjauh darimu," tutur sang ratu dengan nada tegas.
"...," Sasuke hanya terdiam dan sedikit syok dengan kata-kata sang ratu tersebut. Bagaimanapun, Ino adalah gadis yang pernah ia sayangi dan saat ini sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Jika kau tidak bisa menyelesaikannya...," Ratu pun melanjutkan kalimatnya dengan nada yang menunjukkan jika ia memang benar-benar serius.
"... Aku akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri,"
Museum..
Sakura yang sedang duduk menatap langit sore bersama Ibu Suri, beberapa kali tertangkap basah sedang melamun. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini sampai melenyapkan keceriannya.
"Putri Mahkota," sahut Ibu Suri dengan lembut. Ternyata Sakura tertangkap sedang melamun lagi.
"Eh, i-iya Ibu Suri," jawab Sakura sedikit tergagap karena terkejut dengan suara Ibu Suri yang memanggilnya saat ia melamun.
"Apa ada masalah?" tanya Ibu Suri.
"Tidak, Ibu Suri. Kau tidak perlu khawatir," jawab Sakura setenang mungkin.
Nampaknya Sang Ibu Suri tidak mudah dibodohi. "Ayolah, cepat ceritakan padaku ada masalah apa?" tanyanya semakin penasaran.
"...," Sakura jadi bingung sendiri antara ingin menceritakan dan tidak.
"Aku tidak mau menjadi boneka yang tidak tahu apa-apa. Pasti ada yang terjadi kan?"
"...,"
"Ada sesuatu antara kau dan Sasuke?"
"...," Sakura semakin gugup dan mulai memainkan jari-jari tangannya.
"Atau ada yang terjadi ketika aku meninggalkan kalian berdua tadi?"
BINGO!
Ternyata Ibu Suri kita ini sangat pandai menebak. Sakura sepertinya sudah pasrah, karena percuma saja jika ia terus menyembunyikan ini, pasti di lain waktu Ibu Suri akan mengetahuinya juga.
"Sebenarnya tadi Sasuke sepertinya ada masalah...," tutur Sakura perlahan. Ia masih bingung merangkai kata-kata yang cocok untuk menceritakan masalah ini. Ia takut jika ia akan berkata sesuatu yang akan membuat Ibu Suri salah paham.
"Ada apa dengan Sasuke?" tanya Ibu Suri yang sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya.
"Sepertinya ada berita yang kurang menyenangkan yang ia terima,"
"...,"
"Tadi siang, paman Kakashi datang kesini dan membawa sebuah yang-menurutku-adalah-surat-kabar dan memberikannya kepada Sasuke,"
"...,"
"Dan saat melihat isinya, raut wajah Sasuke langsung berubah,"
"Maksudmu?"
"Raut wajahnya seperti orang yang panik dan takut, entahlah aku juga sulit menjelaskannya,"
"Memangnya apa yang tertera di surat kabar itu?"
"Aku juga tidak tahu. Karena saat aku mencoba untuk melihatnya, Sasuke melarangku," Sakura seperti sudah tidak peduli dengan aturan yang seharusnya ia patuhi, kalimat itu terucap begitu saja sesuai dengan apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Seharusnya ia tidak boleh menyebut Sasuke dengan namanya langsung.
Ibu Suri pun ikut memikirkan kata-kata yang Sakura ucapkan dan mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayame," panggil Ibu Suri kepada salah satu pengawal pribadinya. Sementara yang dipanggil segera mendekati Ibu Suri.
"Dimana Putra Mahkota saat ini?" tanya Ibu Suri.
"Putra Mahkota sudah berada di Istana sejak siang tadi, Yang Mulia," jawab pengawal tersebut. Ibu Suri hanya mengangguk mendengar jawaban dari pengawalnya.
Sakura kembali melamun dan memikirkan Sasuke kembali, tak peduli dengan Ibu Suri yang saat ini tengah menampilkan raut wajah khawatir.
Sementara itu di sebuah rumah yang sederhana, nampak seorang gadis cantik yang sedang menyirami bunga-bunga kesayangannya di halaman rumahnya. Sesekali ia juga bersenandung kecil.
Gadis berambut pirang itu terlalu asik dengan kegiatannya sampai-sampai ia tidak mengetahui jika ada sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Dari mobil tersebut, muncullah seorang lelaki yang langsung berjalan pelan mendekati gadis tersebut.
Saat lelaki tersebut berjarak 3 langkah di belakang gadis berambut pirang itu, ia menghentikan langkahnya dan memperhatikan gadis yang masih menyirami bunga-bunganya itu.
"Sedang sibuk, Ino?" tanya pria itu dengan tegas. Sontak membuat Ino - nama sang gadis - terkejut dan menghentikan kegiatannya.
Ia langsung berbalik untuk melihat pemilik suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.
"Sasuke...," ucapnya lirih.
"Maaf jika kedatanganku menganggu kegiatanmu," ucap Sasuke dengan nadanya yang tegas.
Ino langsung meletakkan selang yang tadi ia gunakan untuk menyirami tanamannya, ia tentu saja sangat gembira Sasuke datang ke rumahnya. Ia sudah sangat mengerti jika jadwal mantan kekasihnya tersebut sangat padat, namun Sasuke masih menyempatkan untuk datang menjenguknya. Jadi tentu saja ia senang bukan kepalang.
"Tidak kok. Ayo, lebih baik kita ke teras," jawab Ino dengan wajah berseri-seri.
Sasuke masih menatapnya datar namun terbesit tatapan iba kepada orang yang pernah ia sayangi itu. Ia hanya mengikuti langkah Ino yang membawanya ke teras rumah. Di sana mereka duduk di sebuah bangku panjang yang menghadap ke halaman.
Setelah itu hanya kesunyian yang menyelimuti mereka. Sasuke terlalu bingung harus memulai pembicaraan darimana, sementara Ino terlalu senang dengan kedatangan Sasuke ke rumahnya.
Akhirnya Ino berinisiatif untuk memulai pembicaraan, "Kau mau kubuatkan sesuatu?"
Sasuke sedikit tersentak kemudian dengan cepat menjawab, "Tidak usah, Ino," ucapnya dengan lembut.
"Atau kau mau minum se-,"
"Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu," potong Sasuke sebelum Ino menyelesaikan kalimatnya. Raut wajah keduanya saat ini sudah berubah. Aura ketegangan juga menyelimuti mereka. Ino meremas ujung mini skirt yang ia pakai sambil sedikit menundukkan kepalanya, perasaannya saat ini menjadi takut. Ino punya feeling kalau Sasuke akan mengatakan sesuatu yang buruk.
"Kau ingat saat kita tertangkap paparazzi di Bali?" tanya Sasuke. Tentu saja Ino ingat akan kejadian itu.
"...,"
"Seseorang menyebarkan foto-foto itu di situs pribadi kerajaan,"
"...," Badan Ino menegang dan tangannya sedikit bergetar karena terlalu kuat meremas roknya.
"Jika tidak dicegah, cepat atau lambat foto-foto itu akan menyebar di masyarakat,"
"...,"
"Hal itu akan mengguncang stabilitas kerajaan dan kinerja dari Raja serta keluarganya akan dipertanyakan,"
"...,"
"Dan aku tidak mau orang yang kusayangi tersakiti karena berita ini,"
"Sasuke, maafkan aku-"
"Ini bukan salahmu, tapi salahku yang terlalu lalai,"
"Tapi jika waktu itu aku tidak datang kesana, hal ini tidak akan terjadi,"
"Hal yang sudah terjadi tidak perlu disesali, sekarang yang kita pikirkan adalah bagaimana cara mengatasinya,"
"...,"
Keduanya saat ini bingung harus bagaimana. Sasuke sempat berpikir bahwa ada orang yang memang sengaja menjebaknya. Di foto-foto tersebut, memang tidak terlihat jelas jika lelaki yang menjadi objek utama adalah Sasuke. Karena pada saat itu, ia memakai topi dan kacamata, apalagi pakaiannya bukan pakaian yang berkelas seperti yang biasanya ia gunakan.
Namun jika foto-foto itu diberi judul "Putra Mahkota yang berkhianat" tentu saja orang-orang akan terus memperhatikan foto-foto tersebut, sampai akhirnya mereka sadar bahwa lelaki yang ada di foto itu adalah Sasuke.
'Siapa orang yang menginginkan kerajaan ini jatuh?' batin Sasuke yang mulai frustasi.
'Apa pelakunya masih orang dalam?' puluhan pertanyaan mulai berkelebat di pikiran Sasuke.
"Apa Sakura tahu?" tanya Ino tiba-tiba.
Sasuke pun menjawab, "Ia belum tahu perihal berita ini, itu yang aku tahu sam-"
"Maksudku apakah Sakura tahu apa yang kita lakukan di Bali?" potong Ino cepat karena Sasuke salah menangkap pertanyaannya.
Deg
Sasuke kembali terdiam dengan pertanyaan Ino. Walaupun ia sudah berusaha menutupi berita ini dari Sakura, tapi apakah Sakura memang sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya saat mereka di Bali?
Ada rasa bersalah yang menghinggapi hati Sasuke saat ini, perasaannya mengatakan jika Sakura memang mengetahui apa yang ia lakukan di Bali bersama Ino. Karena setelah Sasuke mengantar ino ke bandara dan kembali ke rombongan, sikap Sakura tiba-tiba berubah.
Lalu jika Sakura memang sudah tahu, untuk apa ia tutupi?
Apakah Sasuke takut jika Sakura tersakiti karenanya?
Atau ia takut jika Sakura pergi darinya?
.
.
.
.
.
To be Continue
Next chapter...
"Lebih baik kau pergi ke luar negeri untuk sementara,"
"Sasuke,"
.
.
.
.
.
"Kumohon tetaplah disini,"
.
.
.
.
.
"Apa yang telah kau lakukan?"
"Melindungi orang yang kusayangi dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku,"
.
Makasih ya buat yang kemaren udah review, maaf sempet hiatus gara-gara sekarang kami udah beda sekolah *hikshiks* tapi diusahain biar lanjut terus sampe selesai. Maaf ya kalo ga bisa disebutin satu-satu yang udah review kemaren. Pokoknya beribu-ribu terimakasih kami ucapkan :) #sujudsyukur
Maaf ya kalo ceritanya kurang memuaskan atau ada typo. Kritik dan saran yang membangun selalu ditunggu :)
Review please! :)
