[A/N: Tulisan di-italic alias cetak miring adalah Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang.
Lalu, saya akan buat cerita ini berupa two-shot: Chapter 1 seluruhnya Masamune P.O.V, dan chapter 2 adalah Yukimura P.O.V
Saya buat cerita ini setelah dapat ide lewat dan saya setidaknya mampu berkontribusi sedikit untuk fandom Sengoku Basara dengan mempublish cerita ini... Saya ingin menunjukkan cintanya saya terhadap game/anime/manga ini~
Okay, let's go!
.
Translation:
1. Hachimaki: Ikat kepala yang biasa Yukimura pakai.
2. Rokumonsen: Kalung yang dipakai Yukimura.
3. Bento: Makanan.
4. Kami-sama: Tuhan.
5. Irrashaimase: Selamat datang. Biasanya digunakan oleh para pegawai toko, kantor, restoran dan sebagainya.
6. Kirei: Indah, cantik, pretty.
7. Chuugoku - China, Igirisu - Inggris (Britain), Oranda - Belanda.
.
Warnings: Gakuen-verse, bahasa kasar (you know Date so well~), grammar errors, perpaduan bahasa Inggris-Jepang-Indo yang sangat buruk, Typo mungkin ditemukan.
.
Disclaimer: Sengoku Basara is NOT MINE! Kecuali Capcom memberikannya pada saya~ *orang Capcom geleng-geleng, author pundung di pojokan*
.
Enjoy the story~]
-o-
Kaien-Aerknard aka Zhaoyingchan presents
A Sengoku Basara Fanfiction
.
真紅の希望を返す、紺碧の夢を失って
Shinku no kibō o kaesu, konpeki no yume o ushinatte
- Returning a crimson hope, losing an azure dream -
.
"私はあなたの真っ赤な希望を戻ってきた... (Watashi wa anata no makkana kibō o modottekita - I had returned your crimson hope)"
"しかし、今、私は紺碧の夢を失っていた... (Shikashi, ima, watashi wa konpeki no yume o ushinatte ita - But, now, I had lost my azure dream)"
-o-
[Masamune P.O.V]
.
"Masamune-dono... terimalah... mata kananku ini sebagai... tanda terima kasih dariku atas... selama ini..."
Shit.
Aku membuka kedua mataku, bangun dari mimpi aneh itu. "Lagi-lagi mimpi itu," gertuku dalam hati.
Entah sudah keberapa sekian kali aku memimpikan hal yang sama setiap aku tertidur, tidak peduli apakah aku tidur saat pagi, siang, sore atau malam. Pria berambut coklat acak diikat kuncir kuda, memakai hachimaki merah, berpakaian jaket merah dan bermata merah. Selalu aku memimpikan pria itu belakangan ini. Dan aku, sebagai seorang samurai berambut coklat sebahu, berpenutup mata kanan, memakai haori biru serta bersenjatakan enam bilah katana. Dan mimpi itu selalu mengenai mata kananku ini.
... Mata kananku... Ia bilang ia memberi mata kanannya padaku... tapi, apa maksudnya?
Ya, aku adalah Date Masamune, murid kelas 2-2 dari Taihou Gakuen. Aku terlahir dengan normal. Sepasang mata, satu hidung, satu mulut, sepasang telinga, pokoknya semuanya lengkap. Tapi, aku terlahir dengan penyakit heterochromia, sebuah penyakit yang menyebabkan warna iris mata berbeda dengan yang lain. Mata kiriku berwarna biru sedangkan mata kananku... merah.
Dan penyakit terkutuk ini membuatku harus menanggung rasa malu karena berbeda dari yang lain. Tidak ada yang mau menjadi temanku karena hanya penyakit sialan ini. Untuk menyembunyikan penyakit ini, akhirnya kututup dengan penutup mata kanan dan mengatakan bahwa mata kananku sudah kubuang. Damn this shit. I hate it.
Butuh beberapa saat untuk mataku memfokuskan pandangan. Yang pertama mataku tangkap adalah baju berwarna putih dan celana panjang coklat. Hmm...? Is it just my feeling or...
"Date Masamune!"
Shit... Tertangkap basah.
"Ini sudah kesekian kalinya kau tidur di dalam kelas, lebih tepatnya saat pelajaranku sedang berlangsung!" omelnya. "Bangun kau!"
Dengan malas kuangkat kepalaku, menegakkan posisi duduk lalu menoleh ke atas. "Gomen na sai, Akeri-sensei. Semalam aku harus menyelesaikan project dan terpaksa tidur larut."
"Hmph! Aku tidak terima alasan apapun lagi dari-"
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan dari pintu, membuat guru perempuan berisik ini menghentikan omelan-yang-sebentar-lagi-akan-jadi-ceramahannya dan menoleh. Begitu ketukan itu berhenti, sang Kepala Sekolah masuk ke dalam, diikuti oleh seorang siswa berambut coklat acak diikat ekor kuda, ber-hachimaki merah dan berpakaian seragam yang sama seperti kami. Sebuah kalung Rokumonsen menggantung di lehernya dan tangannya menopang buku pelajarannya. Anak baru rupanya. Wait. The hell?! Bukankah anak ini-?! Andaikan saja aku bukanlah orang yang tetap stay cool, aku sudah ber-jawdrop saat ini juga, membuatku kehilangan image yang sudah kubangun sejak kecil dengan susah payah hanya dalam sekejap.
Kami semua langsung berdiri untuk menyambut Pak Kepala Sekolah. Sebenarnya, aku malas jika disuruh melakukan ini tetapi daripada mencari masalah lebih dengannya...
"Konnichiwa, Satsu-sensei...," sapa kami sambil membungkuk hormat sekali sebelum duduk kembali.
"Konnichiwa. Kelas kalian kedatangan murid baru dari Shinjuku hari ini. Nah, silahkan perkenalkan dirimu, anak muda."
"Ha-hai!" Ia lalu berjalan ke tengah kelas dan menghadap ke kami. "Hajimemashite! Watashi Sanada Genjirou Yukimura desu! Yoroshiku onegai shimasu!" Ia memperkenalkan diri, diakhiri dengan sebuah bungkukan.
Sekilas, anak ini terlihat seperti anak normal lainnya. Ia ramah, sopan dan tampak sangat ceria. Aku memincingkan mataku, menyadari bahwa ia sebenarnya buta sebelah. Ya, mata kanannya buta. Kelihatannya bukan aku saja yang menyadari keganjilan ini. Suara bisikan mulai samar-samar terdengar memenuhi ruang kelas.
"Eh, ternyata ia buta sebelah." "Oh iya ya." "Ih, kenapa anak kayak begini bisa masuk sekolah kita? Malu-maluin!" dan sebagainya.
Aku tak berpikiran seperti orang-orang awam ini. Tapi aku juga tidak terlalu mau ambil pusing tentang anak ini.
Ia menundukkan kepalanya, terlihat sangat sedih. Anehnya... aku juga merasa sedih seperti dirinya. What the hell is this feeling? I don't give a shit about this guy, OK?
"Sudah diam," tegur Sang Kepala Sekolah, "Baiklah, Sanada-kun, kau bisa duduk di sebelah Date."
Ia mengangguk pelan lalu berjalan ke arah bangku kosong, masih dengan kepala tertunduk. Tasnya ia letakkan di atas meja sebelum ia duduk di kursinya. Ekspresinya tak berubah, masih sedih. Tetapi ia kelihatannya berusaha untuk tersenyum. Dan akhirnya, ia menampakkan seulas senyum; senyum sedih.
"Akeri-sensei, apakah Date berbuat ulah lagi?"
Well, shit.
"Ah, begitulah. Ia tidur lagi di pelajaranku, Satsu-sensei."
Satsu-sensei mendesah. "Date, ke ruanganku, sekarang."
"Hai...," balasku dengan malas dan aku berdiri lalu menoleh ke arah si anak baru yang masih menundukkan kepalanya sebelum kembali berjalan keluar kelas menuju ruang Kepala Sekolah. "Like hell," rutukku dengan pelan setelah mengambil jarak dari Akeri-sensei.
Mataku terus tertuju pada sepasang kakiku yang menginjak marmer putih. Wajah Sanada Yukimura itu terus terniang dalam benakku. Wajah sedihnya itu... Entah bagaimana membuat hatiku pilu. Dan ia... bukankah dia adalah orang yang selalu muncul di mimpiku?
Aku menggelengkan kepala, mengusir semua pikiran yang membebankan segenap jiwa dan otakku.
Ayolah, Date Masamune. Kau ini bukan orang yang menuju ke 'sana'...
.
"Akhirnya...," aku menghela nafas lega begitu sampai di atap sekolah, tempat biasa aku menikmati makan siangku.
Udara cerah seperti biasa. Matahari bersinar di langit tanpa terhalang awan-awan kecil yang melintas, memberikan kehangatannya. Burung-burung kecil terbang rendah mendekati atap, berteger di pagar besi yang dekat dengan...
Sanada Yukimura?
Aku memerhatikan anak baru yang sedang duduk bersandar pada pagar besi sambil menikmati bento-nya. Seekor burung pipit melompat mendekatinya dan ia bersiul, memanggil burung itu. Burung itu mendengar siulannya dan ia melompat ke pundak kiri Sanada lalu menyanyi dengan indah. Dan Sanada tampak sangat senang, dapat dilihat dari senyuman yang ia tunjukkan.
Ia menyadari aku berjalan mendekat ke arahnya.
"Yo, anak baru," sapaku.
"A... Kau 'kan anak berpenutup mata yang duduk di sebelahku," balasnya dengan senyuman yang belum pudar. "Apakah ada yang bisa kubantu..."
"Date Masamune."
"Apakah ada yang bisa kubantu, Masamune-dono?"
Hmm... Dia sampai memanggilku dengan '-dono'? Kelewat sopan.
"No," jawabku singkat, padat dan jelas.
"A... Baiklah," ia lalu memasukkan bento-nya ke dalam mulut. "Apakah kau mau makan bersamaku, Masamune-dono?"
Aku memutar bola mataku, berpikir. Hmm... Bukan ide yang buruk juga. "Baiklah," kataku sambil duduk di sebelahnya.
Kubuka kotak bento-ku lalu mengambil sumpitku. Saat aku hendak menyumpit udang tempura-ku...
"Wah... Kelihatannya enak sekali..."
Aku menoleh ke Sanada yang duduk di sampingku. Matanya terlihat bersinar dan sumpitnya ia gigit. Tch, ia terlihat seperti bocah kecil yang melihat sekotak bento terlezat di dunia di hadapannya dengan tampang seperti itu.
"Apakah Masamune-dono memasaknya sendiri?" tanyanya sambil menatapku.
"Bukan," aku menyumpit tempura. "Caretaker-ku, Kojuurou lah yang memasaknya."
"Ah, kelihatannya dia itu seorang koki professional."
"Hmm? Darimana kau tau?"
Ia tertawa pelan. "Terlihat dari bagaimana cara ia menata bento-mu."
"Heh, dia itu mantan koki professional. Ia keluar dari pekerjaannya untuk merawatku."
"O-Oh, begitu rupanya," ia kembali memakan bento-nya. "Kau beruntung sekali punya seseorang yang sayang padamu," senyum di wajahnya berubah menjadi senyum sedih.
Sepertinya suasana percakapan ini menjadi tidak menyenangkan...
Aku memutuskan untuk memakan bento-ku. Ya... setidaknya ini bisa mencairkan suasana sedih ini. Tunggu. Suasana sedih?
"Masamune-dono, kenapa kau menggunakan penutup mata?" pertanyaan itu sukses membuatku mengigit sumpit.
Aku menoleh ke arahnya, menatap tajam. "Apakah itu adalah sesuatu yang harus kau tanyakan, Sanada Yukimura?" tanyaku setengah sinis.
"U-Um... Jika kau tidak mau menjawabnya, tidak masalah...," ia menunduk. "Maafkan aku, Masamune-dono..."
Aku menghela nafas. "Heterochromia."
"Eh?"
"Jangan bilang kau tidak tau apa itu."
"A-Aku tau apa penyakit itu," ia menatapku dengan tatapan... mengkhawatirkanku?
"Baguslah kalau kau tau," balasku. "Karena kalau kau tidak tau," aku mengarahkan sumpit ke arahnya, "aku ragu kau lulus dengan nilai bagus di Biology," ledekku.
"Ma-Masamune-dono!" tegurnya.
Aku tertawa lalu kembali serius. "Kau sendiri? Buta sejak lahir?"
Ia menatap bento di pangkuannya lalu mengangguk pelan.
"Oh," aku memasukkan tempura terakhirku.
"Dan karena kebutaan ini...," aku menghentikan kunyahan. "aku tidak punya teman sama sekali."
Aku menelan tempura-ku, tidak bisa berucap apapun setelah kalimat itu keluar dari mulutnya, masuk ke telingaku. Jadi... ia sama sepertiku? Tidak mempunyai teman karena mata kanan berbeda dari yang lain.
Tanpa kusadari, tangan kananku bergerak menepuk pundak kirinya. "That means we are the same, Sanada Yukimura."
Ia tampaknya tidak mengerti arti kalimat itu, mungkin karena ia jarang belajar Bahasa Inggris dan selalu dapat nilai jeblok di pelajaran itu, tidak sepertiku yang damn genius dalam English. "... Masamune-dono juga tak punya teman?" Tapi kelihatannya ia mendapatkan inti ucapanku. Aku balas dengan sebuah desahan, diikuti dengan anggukan pelan. "Masamune-dono..."
"What, Sanada Yukimura?" tanyaku.
"Aku mau menjadi teman Masamune-dono!" kalimat itu sukses membuat jantungku serasa melompat keluar dari mulut. Aku diam, menatapnya dengan tatapan terkejut, seakan masih tidak percaya dengan kalimatnya. Tapi, melihat tatapan matanya yang mantap seperti ini, aku mempercayai kalimatnya. Seulas senyuman mengembang di wajahku, senyum penuh harapan dan bersemangat yang tak pernah kutunjukkan pada siapapun sebelumnya, bahkan pada Kojuurou sendiri. Pada saat itu juga, aku merasakan awan hitam kelam di hatiku sirna seketika mendengar ucapan itu.
Aku tertawa pelan. "Thanks, Sanada-"
"Panggil aku Yukimura saja! Kita 'kan sudah berteman, Masamune-dono!"
Aku tertawa pelan. "Terserah padamu, Yukimura."
"Arigatou gozaimasu, Masamune-dono!" balasnya dengan riang. "Oh iya, Masamune-dono. Apakah aku...," ia terlihat ragu. "Apakah aku boleh melihat mata kananmu?"
Aku memutar bola mataku. "Terserah."
Kuletakkan kotak bento-ku lalu tanganku bergerak melepas eyepatch-ku. Kubuka mata kananku perlahan, berusaha menyesuaikan dengan terangnya dunia. Sudah berapa lama aku tak melihat cahaya dan dunia dengan mata kananku ini?
Aku bisa melihat ekspresi takjub di wajah Yukimura denga kedua mataku. Ya, dengan mata biru dan mata merahku ini. "Kirei..."
Eh? Aku kembali menatapnya. "Masamune-dono, akan lebih bagus jika kau tidak memakai penutup matamu," katanya disertai senyum cerah.
"O-Oh... Begitukah?" Ia mengangguk. "Hmm, baiklah. Aku takkan memakai benda ini lagi," dan dengan itu, aku melempar eyepatch-ku jauh.
"A... Masamune-dono, seharusnya kau tidak membuang sesuatu sembarangan..."
Aku tertawa mendengarnya. "Sudahlah. Yang penting aku sudah tidak pakai benda itu lagi, 'kan? Lagipula, kalaupun benda itu mengenai seseorang, tidak akan sakit," kataku sambil menepuk kepalanya.
"Oh, ya? Memang apa bahannya?"
"Hmm... semacam plastic, aku juga tidak terlalu mempedulikannya."
"Masamune-dono, kau telah mencemari lingkungan," kubalas tanggapan itu dengan tawaan.
"Baiklah, kita cari nanti lalu buang ke tempat sampah."
Sejak saat itu, kami menjadi sahabat. Kami semakin akrab seiring berjalannya waktu. Kami berdua sering bertukar pikiran, mengerjakan tugas sekolah dan pekerjaan rumah dan pergi bersama. Bahkan sangking dekat dengannya, aku mengetahui beberapa rahasia menarik anak bermarga Sanada ini. Rupanya ia takut akan yang namanya hantu, terungkap saat kami berdua menonton film 'Paranormal Activity 3' di rumahku sehingga aku berencana mengerjainya saat halloween, yang berujung pada sebuah success. Aku benar-benar tertawa terbahak-bahak saat itu, tidak peduli telah menghilangkan kesan cool-ku. Menyamar jadi slenderman lalu muncul tiba-tiba di kamarnya saat ia sudah mematikan lampu, bersiap untuk tidur. Dan ia terkejut setengah mati sampai jatuh dari kasur dan menangis. Tentu saja aku kewalahan untuk menenangkannya. Butuh waktu hingga setengah jam untuk itu dan agar ia tidak marah lagi, aku berjanji akan membelikannya sepuluh porsi dango. Masih terniang jelas wajahnya yang merah, terutama di pipi, hidung dan mata. Karena kukageti sampai seperti itu, akhirnya ia tidak berani tidur sendirian di rumahnya jadi... Aku harus menginap di rumahnya selama seminggu. Ya, dia tinggal di rumahnya seorang diri karena kedua kakaknya sedang bekerja di luar negeri. Ternyata, ia takut hantu karena pernah melihat satu sewaktu ia masih kecil di kota asalnya, meski ia sendiri ragu apakah itu sungguhan atau orang yang menyamar tapi yang jelas, hal itu membuatnya trauma dan ketakutan setengah mati kalau melihat penampakan hantu asli atau bukan since then. Inilah penyakit serta kelemahan seorang Sanada Genjirou Yukimura: Ghost-phobia? Dan sejak saat itulah, ia mengatakan bahwa tanggal 30 October adalah musuh terbesarnya. Geez... I do pity him now.
Setiap berada di dekatnya, aku merasa seakan langit yang gelap gulita mendadak menjadi cerah, musim dingin yang kejam berganti menjadi musim semi yang hangat dan menyenangkan. Kami memang sama-sama cacat, tetapi bukan berarti kami tidak bisa memiliki teman. Kami-sama, apakah Yukimura adalah angel yang Kami-sama kirimkan padaku untuk menjadi sahabat sejatiku? Sekarang, aku tak punya harapan lain kecuali satu: semoga saja hubungan persahabatan ini tidak pernah putus sampai kapanpun. Dan di kehidupan selanjutnya... terlahir seperti dan sebagai apapun juga tidak menjadi masalah asal... Yukimura tetap menjadi sahabat sejatiku.
.
Kamis tanggal 24 Desember. Langit cerah tanpa awan. Meski matahari bersinar tanpa terhalang awan, tetap saja udara musim ini terasa menusuk sampai ke sumsum. Aku sampai harus menggunakan mantel tebal, syal wol dan topi musim dingin untuk melindungi tubuhku dari dinginnya udara. Aku merasa jadi terlihat seperti toko wol berjalan. Sebuah desahan keluar dari mulutku.
Sekarang, aku sedang dalam perjalanan menuju rumah Yukimura. Aku hendak mengajaknya pergi ke alun-alun kota untuk membeli hadian Natal. Ia pasti akan sangat senang jika aku mengajaknya. Tangan kananku masuk ke dalam kantung mantel, menarik keluar secarik kertas dari dalamnya. Kubuka kertas itu, hanya untuk membaca sekalimat kata yang kutulis di rumah tadi sebelum berangkat.
'Belikan Yukimura boneka harimau yang ia inginkan waktu itu.'
Senyum mengembang di wajahku. Aku berharap Kami-sama hari ini mau berbaik hati padaku agar boneka itu masih ada stock-nya dan aku bisa membelikan boneka itu. Tanpa kusadari, aku sudah sampai di depan pintu rumahnya. Kuketuk pintu itu perlahan sebanyak tiga kali, dan langkah kaki buru-buru terdengar dari balik pintu ini. Disusul dengan bunyi benda terjatuh yang mengejutkanku. Langsung kudobrak pintu ini, khawatir dengan apa yang telah terjadi di dalam. Yang pertama kulihat adalah Yukimura yang berbaring kesakitan di depan pintu dapur dan sebuah ember yang bergelinding di sampingnya.
"Oi, Yukimura! Kau tidak apa-apa, 'kan?" tanyaku sambil membantunya bangun.
"Ah... Masamune-dono," sapanya disertai senyuman polosnya. "Aku tidak apa-apa."
"Apakah kakimu terkilir? Tidak ada yang patah 'kan?" tanyaku dengan panik meski aku tidak memperlihatkannya.
"Tenanglah, Masamune-dono. Aku baik-baik saja!" balasnya menyakinkan.
"... Kau yakin?" anggukan kepalanya menjawab pertanyaanku. Aku membalasnya dengan sebuah desahan lega. "Syukurlah. Kau membuatku ketakutan setengah mati."
Ia tertawa. "Aku tak menyangka Masamune-dono yang tampak dingin di hadapan orang-orang ternyata seperti ini!" dan kuhadiahi sebuah jitakan untuk itu. "Aduh! I-Itai...! Masamune-dono!" rintihnya sambil mengusap dahinya.
"Itu hadiah Natalmu dariku! Kau duluan yang mulai!"
Ia tertawa. "Baik, baik... gomen na sai. Nah, sekarang ayo kita pergi! Kalau terus berdebat, hari keburu malam duluan!" Ia menarikku keluar dari rumah dan setelah mengunci pintu rumahnya, kami mulai berjalan ke arah alun-alun kota. Aku membiarkan ia menarik tanganku saat kami berjalan, tak mau melepaskannya karena... tangannya... hangat...
Setelah 15 menit berjalan, akhirnya kami sampai di alun-alun kota. Seperti yang biasa terjadi saat Christmas Eve, orang-orang berlalu-lalang keluar masuk toko-toko, membuat suasana alun-alun menjadi sangat ramai. Kami memasuki toko baju, kue dan perlengkapan Natal, membeli seluruh barang yang kami inginkan untuk Natal nanti. Saat kami memasuki toko buku, Yukimura bergegas menuju rak kartu dan memilih selusin kartu Natal.
"Ah, ini untuk Sasuke nii-san yang ada di Chuugoku," gumamnya sambil membolak-balik selembar kartu merah dengan hiasan daun hijau di pinggirannya. "Lalu ini untuk Kusari nee-san di Igirisu...," gumamnya sambil mengambil selembar yang lain dan kembali memilih kartu lagi. Jujur saja, lama-lama ini terasa boring...
Aku berbalik, melihat sebuah toko boneka di seberang. Mataku menangkap sebuah boneka harimau yang terpajang di balik kaca toko itu. Aku lalu menepuk pundak Yukimura, membuatnya berbalik ke arahku. "Oi, Yukimura. Aku ke sana sebentar. Aku ingin membeli sesuatu untuk... saudara jauhku di Oranda."
Yukimura mengangguk. "Baiklah! Nanti akan kususul kau, Masamune-dono!"
Aku beranjak pergi keluar, menuju ke toko boneka itu. Kudorong pintu toko boneka ini lalu berjalan masuk ke dalam sendiri. Seorang pegawai toko yang berjaga di balik meja kasir langsung menyapaku. "Irrashaimase. Ada yang bisa kubantu?"
"Ah, ya, aku mau beli boneka harimau yang kau pajang di sana," kataku sambil menunjuk boneka yang kumaksud.
"Ah, chotto matte kudasai. Saya ambilkan sebentar," ia berjalan ke arah boneka itu lalu membawanya kepadaku.
"Berapa harganya?"
"Dua ribu yen."
"Oh," aku mengeluarkan kartu kreditku lalu membayarnya. Ia membungkus boneka itu dalam sehelai plastik bening bermotif lonceng dan cemara Natal, lalu mengikatnya dengan pita berwarna merah bergaris hijau sebelum diserahkan padaku. "Arigatou gozaimasu! Silahkan datang kembali!" katanya saat aku hendak meninggalkan toko ini. "Merī Kurisumasu!"
Aku beranjak keluar dari toko, menyadari Yukimura yang sedang berlari kecil ke arahku sambil melambaikan tangannya seperti anak kecil. "Masamune-dono!"
Aku berjalan mendekat. "Boneka yang bagus, Masamune-dono!" pujinya.
"Ah, terima kasih," aku melihat jam arloji-ku, mengetahui sekarang sudah jam setengah tujuh malam. "Oi, Yukimura, ayo kita pulang sekarang-"
"OH, DANGO!" serunya sambil berlari ke kedai dango yang berjarak dua puluh meter dari kami.
"Oi, Yukimura!" aku langsung berlari menyusulnya. Damn it! Dia itu kalau sudah menyadari keberadaan dango, larinya pasti sekencang angin! Dasar maniak dango!
"Dango-nya dua porsi!" pesannya begitu sampai di kedai. Sementara aku sendiri berhenti beberapa langkah di belakangnya, berusaha mengatur nafasku yang kacau karena berlarian tadi. Yukimura berbalik setelah mendapatkan dango-nya dan menawarkan satu porsi padaku. Aku menerimanya dengan senang hati. Meski aku ini bukan penggemar manis-manisan tapi kalau diberi oleh Yukimura, akan kuterima dan kumakan habis. Kami memutuskan untuk duduk sebentar di kursi panjang yang disediakan sambil menghabiskan dango.
"Itadakimasu!" serunya dengan riang sebelum mengigit dango-nya.
"Oi, Yukimura, mau kubantu pasang lampu hiasnya nanti?"
"Oh, arigatou gozaimasu! Bantuanmu akan sangat kuhargai, Masamune-dono!"
"Heh," aku menepuk kepalanya, mengelus rambutnya. "Seharusnya aku yang berterima kasih karena kau sudah mau menemaniku."
Ia tertawa pelan lalu kembali menggigit sebuah dango.
"Oh iya, Yukimura," ia menoleh, "Apa cita-citamu?"
"Cita-citaku?" Ia menengadah ke langit sambil mengigit tusuk dango-nya. "Aku ingin- tidak! Aku pasti akan menjadi seorang dokter!" serunya dengan semangat yang berkoar-koar. "Aku ingin menjadi seorang dokter yang bisa menyembuhkan luka atau penyakit apapun! Aku takkan berhenti hanya karena kecacatan mata kananku ini! Takkan pernah!"
Aku tertawa mendengarnya. "Hahaha! Kalau aku sakit, akan kukunjungi tempat praktikmu nanti, Yukimura!" kataku sambil menepuk punggungnya, membuat dia keselak. "Yu-Yukimura! Kau tidak apa-apa, 'kan?" tanyaku dengan panik.
Ia menepuk dadanya beberapa kali sebelum menelan dango yang sempat membuatnya keselak. "Ah... Aku tidak apa-apa, Masamune-dono!"
Aku menghela nafas lega. "That's good. Aku takut kalau kau tidak bisa menjadi dokter pribadiku karena sudah K.O. duluan," ejekku.
Ia menggembungkan pipinya dengan kesal. "Masamune-dono..."
Aku tertawa melihat ekspresinya. "Hai, hai. Warui ne..."
Tiba-tiba, terdengar suara benturan dari belakang toko di depan kami, membuat kami menoleh ke arah sumber suara. Sebuah firasat buruk melintas begitu saja di benakku, membuatku khawatir akan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Yukimura, sebaiknya kita pergi dari-" kalimatku berhenti saat mataku menangkap sebuah truk trailer yang berada tepat di balik kaca toko itu. Hanya dalam seper sekian detik, truk trailer itu telah menembus toko dan menuju ke arah kami. Teriakan kaget dan panik langsung terdengar membahana di udara, beberapa orang langsung meniarapkan diri mereka, menghindari truk trailer itu. Tanpa membuang waktu, secara refleks kami berdua langsung melompat ke arah kanan untuk menghindari truk itu. Truk itu menabrak toko di hadapannya, membuat kaca pecah dan serpihannya melayang sebarang arah. Aku membalikkan badanku, melihat sebuah serpihan yang melayang ke arahku, ke arah mata kananku.
"Masamune-dono!"
Crat!
Mataku menangkap sosok yang depanku, sosok seorang Sanada Yukimura yang membelakangiku. Aku langsung menangkap tubuhnya terjatuh ke belakang. "Yukimura!" teriakku. Aku melihat serpihan kaca itu menancap di mata kiri Yukimura. Darah segar mengalir keluar dari luka di matanya itu.
"Syukurlah... Masamune... dono...," katanya dengan lirih sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
"Yukimura! Yukimura!" Aku menggenggam tangan kirinya dengan erat. "YUKIMURAAAA!"
Suara sirene ambulance dan mobil polisi menggema di udara. Para perawat langsung keluar dari mobil dengan ranjang rumah sakit, merebahkan tubuh Yukimura di atasnya lalu memasukkannya ke dalam mobil sambil memberinya pertolongan pertama. Tentu saja aku ikut masuk ke dalam mobil! Aku tidak bisa tenang melihat kondisi Yukimura yang seperti ini! Kami-sama... tolong selamatkan Yukimura! Hanya dialah satu-satunya sahabat yang kupunya di dunia ini!
.
Aku melangkah mondar-mandir di koridor, memenuhi koridor ini dengan suara langkah kakiku yang sama sekali tidak tenang. Hatiku berdetak dengan kencang dan panik. Bayangan mata Yukimura yang tertusuk oleh serpihan kaca terus terniang dalam kepalaku.
Kupingku menangkap bunyi pintu ICU yang terbuka dan suara langkah kaki yang terdengar bersamaan dengan bunyi pintu yang tertutup. Aku berbalik, melihat sang dokter yang merawat Yukimura keluar dengan ekspresi sedih. Shit, ini pertanda buruk...
"Bagaimana keadaannya, dokter?!"
Ia mendesah. "Temanmu, dia... dia takkan pernah bisa melihat dunia ini lagi," katanya disertai nada sedih.
"Cita-citaku? Aku ingin- tidak! Aku harus menjadi seorang dokter!" Semangat di matanya yang berkobar itu masih kuingat jelas sorotnya. "Aku ingin menjadi seorang dokter yang bisa menyembuhkan luka atau penyakit apapun! Aku takkan berhenti hanya karena kecacatan mata kananku ini! Takkan pernah!"
Yukimura...
Aku bisa merasakan air mata menetes keluar dari kedua mataku. "DAMN IT!" teriakku sambil menghajar tembok di sebelahku dengan tangan kananku. Kami-sama! Kenapa kau ambil mata Yukimura?! Ia membutuhkan mata itu untuk cita-cita mulianya! Kenapa kau mengambilnya, KAMI-SAMA?!
Aku duduk di kursi yang disediakan. Kedua tanganku menutupi wajahku. "Kenapa kau tidak ambil saja mataku... Kami-sama?! I still have a pair! Damn it!"
Suasana koridor menjadi sunyi sebentar, hanya isak tangisku yang terdengar. Sebuah kalimat lain dari dokter yang masih berdiri di hadapanku ini memecahkan keheningan yang menyakitkan ini. "... Mata kirinya sudah rusak total sehingga kami harus membuangnya."
Damn it! Those are not the words I wanted to hear!
"Dokter, bukankah rumah sakit ini punya stock mata untuknya?!" tanyaku dengan marah. Tanganku langsung menyambar kerah bajunya.
"Kami memang punya stok tetapi, tidak ada satupun yang cocok dengan rongga matanya," ia diam sebentar. "Kami juga sudah mencoba meminta dari rumah sakit lain dan mereka bilang tidak ada mata yang bisa muat dalam rongganya."
Tidak ada mata yang cocok? Bagaimana bisa?
"Masamune-dono... terimalah... mata kananku ini sebagai... tanda terima kasih dariku atas... selama ini..."
Tanganku bergerak menyentuh kulit di bawah mata kananku. Mata ini... mata kanan ini pasti bisa karena mata ini...
Adalah mata yang diberikan oleh Yukimura di kehidupan lampauku...
Ya, mata ini pasti bisa!
"Dokter, coba saja pakai kedua mataku!"
Ia terkejut.
"Cepat lakukan saja! Jangan banyak tanya lagi!" Kutatap tajam dokter di hadapanku ini. "Ini semua demi satu-satunya sahabatku di dunia ini!"
Dokter itu menenangkan dirinya. "Baiklah. Kalau begitu, silahkan ikut denganku."
Aku melepaskan cengkramanku, membiarkannya berjalan menuntunku ke ruang ICU. Mataku menangkap boneka harimau yang kubeli tadi sebelum kecelakaan itu terjadi. Seulas senyum kukeluarkan. "Oh iya, dokter."
"Ada apa, Date-dono?" tanyanya sambil berbalik.
"... Kalau Yukimura sudah sadar, sampaikan salam Natalku padanya dan...," jariku menunjuk boneka yang duduk di atas bangku, "berikan boneka itu padanya. Katakan itu adalah hadiah Natal untuknya," lanjutku. "Tapi, jangan beri tau siapa yang memberi boneka itu dan pendonor matanya."
Dokter itu mengangguk. "Baiklah, aku mengerti, Date-dono."
Kami kembali melanjutkan perjalanan kami masuk ke dalam ruang ICU. Sesampainya di sana, aku langsung merebah di atas ranjang dan menjalani pemeriksaan. Setelah beberapa belas menit terlewati, hasil tes keluar dari mulut dokter itu.
"Date-dono, mata kirimu tidak cocok dengan pasien," ia memulai penjelasannya. "Tetapi, mata kananmu cocok untuknya."
Aku mengangguk. "Ya... just do it."
Yukimura, akan kukembalikan mata ini padamu. Maafkan aku karena hanya bisa memberimu satu mata saja. I guess... this eye will be my first Christmas present for you.
Yukimura, mungkin setelah ini... aku akan pergi dari Tokyo, menjauh darimu... Maafkan aku karena harus meninggalkanmu...
Terima kasih... karena telah mau menjadi sahabat pertamaku... Thank you very much... You bring colours to my world, Sanada Yukimura.
To Be Continued...
How's that? Semoga banyak yang suka dengan fict ini~ Kalau semisal Masamune or Yukimura OOC, maafkan saya T^T Saya belum lama membaca/main/menonton Sengoku Basara jadi mungkin penjiwaannya kurang pas dengan karakter asli mereka... Gomen na sai... T^T Lalu untuk bagian di rumah sakit, author juga sebenarnya kurang tau apakah operasi mata untuk kasus seperti itu benaran bisa atau tidak... author tidak ambil jurusan kedokteran atau mempertajam ilmu yang ke sana... Gomen kalau ada yang kurang masuk akal T^T
Wokay, chapter selanjutnya: PAKAI P.O.V YUKIMURA! XD
This one will be far easier than Masamune P.O.V karena... sifat Yukimura itu lebih gampang untuk saya 'siksa', khukhukhukhu... *evil grin*
Akhir kata, terima kasih karena telah mau membaca fict abal ini dan bagi yang telah meninggalkan sepucuk review untuk fict ini atau meng-fave fict ini, saya sungguh senang dan berterima kasih sebesar-besarnya pada Anda! XD
So, see you next time at the second chapter~
Re-written: 6 March 2013
