A/N: Woah, saya ga nyangka ternyata fict ini bisa dapat review dan follow XD Arigatou gozaimasu! *kowtow*

Replies:

1. Black Dragon: Huwaaaa! Jangan pukulin saya! *nodongin stick keju* LOL saya sengaja bikin Masa ga buta *coret*soalnya Masamune buta itu sudah terlalu normal...*coret* LOL Oh iya, FG itu apa ya? *dihajar karena tidak tahu*

.

2. Gita Matsunaga: Houtou ni? *ngelirik cerita* Saya terkejut sewaktu anata mengatakan 'sedih'.

.

3. Saika: Karena... YUKIMURA NORMAL SUDAH TERLALU NORMAL! XDDDDD *seketika dihajar fans dan Yuki sendiri*

.

4. Mikune: Wahaha, maaf telat updatenya... ^^ gomen na sai...

.

Thanks for the reviews! Dan saya berterima kasih banyak atas follow dari Mimiko dan Mocca-senpai serta fave dari Mimiko! *hugs* Now, enjoy the story!


Kaien-Aerknard aka Zhaoyingchan presents...

A Sengoku Basara Fanfiction

.

真紅希望を返す、紺碧の夢を失って

Shinku no kibō o kaesu, konpeki no yume o ushinatte

- Returning a crimson hope, losing an azure dream -

.

"私はあなたの真っ赤な希望を戻ってきた... (Watashi wa anata no makkana kibō o modottekita - I had returned your crimson hope)"

"しかし、今、私は紺碧の夢を失っていた... (Shikashi, ima, watashi wa konpeki no yume o ushinatte ita - But, now, I had lost my azure dream)"

-o-

Gelap. Dunia ini... semuanya menjadi hitam gelap, tanpa cahaya sedikitpun, tak ada warna selain hitam yang terlihat. Apakah aku benar-benar sudah buta? Setidaknya aku bisa merasakan tubuhku sedang merebah di atas sesuatu yang cukup empuk dan hangat. Kupingku menangkap suara sirene ambulance dari kejauhan. Ah, apakah sekarang aku berada di rumah sakit? Kugerakkan tanganku, merasakan ada sesuatu yang menusuk lengan kananku, mungkinkah jarum infus? Kira-kira... sudah berapa hari aku berada di sini? Satu? Dua? Atau lebih? Mungkinkah aku sudah sebulan di tempat ini?! Pikiran itu sukses membuat pipiku serasa ditampar dan mulutku menganga sedikit. Ah... itu tidak mungkin, 'kan? Saat aku sedang merenungkan hal itu, suara pintu terbuka terdengar, disusul oleh...

"Yukimura!" Suara seorang perempuan... Kusari nee-san? "Kau tidak apa-apa, 'kan?!" tanya suara itu.

"A-aku baik-baik saja," balasku. "Apakah ini Kusari nee-san?"

Tidak ada jawaban, malah sebuah jitakan mendarat di keningku. "Baka... Ini memang aku!"

"Kusari nee-san!" seruku disertai seulas senyuman. "Lama tidak bertemu, ya?"

Ia menghela nafas. "Kau ini, kondisi sudah nilai 'F' begini masih bisa bertanya seperti itu...," ia tertawa kecil. Nilai 'F'... dia sudah menjadi seorang guru rupanya. "Begitulah, Yuki."

Langkah kaki terdengar dan tak lama kemudian, suara pintu terbuka menyusul. Hmm... suara langkahnya seperti mengganda... apakah ada dua orang yang masuk? Siapa?

"Hooo! Sasuke-nii! Baguslah kau tidak terlambat!" seru nee-san dengan heboh seperti biasa.

"Shh... pelankan suaramu, Kusari!" omelnya dengan suara level bisikan. "Kita lagi di rumah sakit! Kau malah teriak-teriak! Jangan-jangan suaramu yang bagai genderang perang itu yang membangungkan Yukimura lagi!"

"Asal nuduh!" Dan tiba-tiba saja, aku merasakan aura hitam pekat disekitarku.

"Umm... Sasuke nii-san... Kusari nee-san... jangan bertengkar di sini... Ini rumah sakit," kataku dengan sedikit bergemetar ketakutan saat merasakan aura ini semakin parah saja.

Seketika itu, aura hitam ini hilang begitu saja. Woah... rupanya kalau aku yang melerai langsung berhenti, ya. Prestasiku nih... hahaha!

"Ah, iya, ya. Ini di rumah sakit," kata nee-san disertai tawaan pelan.

Hei, Yukimura," Sebuah tepukan terasa di pundak kiriku. "Apakah matamu tidak apa-apa? Apa yang kau rasakan saat ini? Masih sakit?" tanya Sasuke nii-san.

Aku menggeleng. "Sedikitpun tak terasa. Tapi...," aku menghela nafas, "kelihatannya aku tidak akan bisa melihat apapun lagi...," sambungku dengan sedih.

Aku memang tidak bisa melihat tetapi aku tau, nii-san dan nee-san pasti merasa sangat sedih. "Maaf jadi membuat kalian berdua khawatir, nii-san, nee-san," seandainya saja air mata bisa menetes turun dari kedua mataku sekarang, tentu aku sudah menangis. "Aku memang adik yang payah... selalu menyusahkan kalian dari dulu sampai sekarang," kataku disertai raut dan nada sedih. Memang sudah jadi kebiasaan burukku selalu menyusahkan orang lain, ya?

"Baka," nee-san menepuk punggungku. "Kau tidak merepotkan kita sama sekali! Justru kita bersyukur punya adik selucu dan se-imut kau!" Kali ini, ia mencubit kedua pipiku.

"Nee-san! Hentikan!" omelku. "Itai...!" Dan nee-san langsung melepaskan cubitannya lalu tertawa jahil. Dasar nee-san yang aneh, tapi menyenangkan.

"Tenang saja. Adik kalian masih bisa melihat," ini bukan diucapkan oleh nii-san, nee-san ataupun... Masamune-dono.Berbicara tentang Masamune-dono, dimana dia sekarang? "Meski mata kirinya sudah kami cabut, tetapi kami mendapatkan donor mata kanan dari seseorang sehingga adikmu masih bisa melihat," jelasnya. Rupanya suara itu adalah milik seorang dokter yang bertugas untuk merawatku.

"Benarkah itu?!" tanya nee-san. "Syukurlah!" Dan aku langsung dirangkulnya dengan... kasar tapi penuh rasa sayang. "Kau dengar itu, Yuki?! Kau bisa melihat lagi!"

Aku hanya tertawa pelan. Aku mendapatkan donor mata kanan? Siapakah orang yang telah mendonorkannya? Mungkinkah... Masamune-dono?

"Sekarang sudah memasuki hari ketiga jadi, saya akan membuka perbannya," kata dokter itu.

Kusari nee-san mengangguk lalu melepaskan rangkulannya. Aku merasakan sepasang tangan yang mulai melepas lilitan perban yang menutupi kedua mataku. Selapis demi selapis mulai dilepasnya. Selagi perban itu dilepas, aku memikirkan tentang pendonor mata kananku. Apakah Masamune-dono yang mendonorkannya? Dimana dia sekarang?

"Nah, Sanada-dono. Sekarang coba buka mata kananmu."

Dan aku membuka mataku dengan perlahan sesuai instruksinya.

Sedikit demi sedikit, cahaya matahari mulai masuk ke dalam mataku, bayangan orang-orang dan benda-benda di sekitarku mulai terlihat jelas. Setelah kubuka sepenuhnya, aku bisa melihat wajah Kusari nee-san dan Sasuke nii-san yang tersenyum. Aku menoleh ke kiri dan kanan, menganalisa seluruh isi kamar. Aku melihat berbagai macam warna di hadapanku, di sekitarku. Aku... aku bisa melihat lagi!

"Hei, Yuki," panggil nee-san sambil mengangkat satu jari telunjuknya. "Ini angka berapa?" ... pertanyaan yang aneh...

"Satu," jawabku singkat.

Ia langsung melompat kegirangan. "Horeee! Yuki benar-benar bisa melihat!"

"Kusari! Pelankan suaramu dan jaga tingkahmu! Kau ini... sudah mau lulus sarjana satu tapi masih saja seperti anak sekolah dasar!" omel nii-san, membuat Kusari nee-san diam dan menggembungkan pipinya, kesal.

"Syukurlah kalau begitu. Semisal mata ini terkena infeksi, Sanada-dono pasti tidak akan bisa melihat lagi," jelas dokter itu, diakhiri dengan hela nafas lega dan seulas senyuman ramah. "Oh iya, Sanada-dono, ada yang memberimu sebuah boneka harimau," katanya sambil menunjuk boneka yang berada di bangku dekat jendela.

Hah? Aku menatap nee-san. "Apakah nee-san yang memberikan boneka itu?"

Nee-san menggeleng. "Bukan. Kalau hadiah Natal dariku itu ini!" ia menarik keluar sebuah kotak coklat dari dalam plastik yang ia tenteng sedari tadi. "Maaf telat, ya, Yuki!"

"O-Oh...," aku menengok ke nii-san.

"Bukan," jawabnya disertai gelengan. "Hadiah Natal dariku bukanlah boneka harimau tapi piyama oranye ini," katanya sambil menyodorkan sebuah tas kertas yang berisi baju piyama.

Kalau hadiah ini bukan dari nii-san maupun nee-san, jadi dari siapa? Aku meminta tolong pada nee-san untuk mengambilkan boneka itu dan nee-san memberikannya padaku. Dengan penasaran, aku melihat beberapa bagian boneka itu, menyadari bahwa boneka ini adalah boneka yang dibeli Masamune-dono untuk saudaranya di Oranda? Tunggu dulu. Apa maksudnya ini?

Aku menoleh ke dokter itu. "Dokter, apakah aku boleh tau siapa yang memberikan boneka ini dan mendonorkan mata kanannya untukku?" tanyaku.

Ia terdiam, senyuman itu hilang. Sebelum menjawab, ia menggeleng terlebih dahulu. "Maaf, Sanada-dono. Nama pendonor harus kami rahasiakan karena ini adalah prosedur rumah sakit."

"Tapi, aku harus tau nama pendonor itu! Setidaknya bagaimana wajahnya!"

"Maafkan kami, Sanada-dono. Tapi kami benar-benar tidak bisa memberi tau informasi apapun soal pendonor ini. Selain karena prosedur rumah sakit, ini juga dikarenakan ia tidak mau memberi tau namanya."

Aku tau dokter ini berbohong padaku, terbukti dari tatapan matanya yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu. "Apakah nii-san dan nee-san melihat Masamune-dono di sekitar sini?" tanyaku sambil menoleh ke mereka.

Nii-san menggelengkan kepala. "Tidak."

Sementara nee-san tampak berpikir-pikir. "Hmm... kalau tidak salah...," katanya sambil mengambil handphone dari saku celananya. "Bukankah Masamune itu orang yang ini?" tanyanya sambil memperlihatkan foto Masamune-dono. Aku mengangguk. "Oh! Orang ini! Tadi aku melihatnya di bawah tadi bersama seorang pria lain! Kelihatannya pria itu adalah servant-nya! Dan mereka sepertinya naik taksi menuju Stasiun Tokyo!"

Aku langsung bangkit dari kasur. "Benarkah nee-san melihatnya?!"

Ia menganguk yakin. "Mataku ini masih bernilai 'A triple plus' jadi, aku tak mungkin salah lihat. Impossibru~"

"Tolong antarkan aku ke stasiun! Aku harus menemuinya!" pintaku pada nii-san dan nee-san, mungkin lebih tepatnya memaksa.

"Tapi, Sanada-dono-"

"Ayo cepat, nii-san, nee-san!" Aku langsung menarik tangan nee-san dan kami bertiga berjalan keluar dari ruangan itu.

Setelah berada di luar, kami langsung menuju stasiun dengan taksi. Dalam perjalanan, hanya Masamune-dono lah yang kupikirkan. Mau pergi kemana dia? Apakah ia mau meninggalkanku sendirian, mencampakkanku karena kecacatanku? Tidak, itu tidak mungkin! Aku tau seperti apa orangnya Masamune-dono itu! Ia pasti tidak akan mencampakkanku! Pasti ada sesuatu yang membuatnya ingin pergi! Aku harus mendapatkan alasannya!

Dalam lima belas menit, akhirnya kami sampai di stasiun. Tanpa membuang waktu, aku langsung berlari keluar dari taksi, bergegas masuk ke dalam gedung stasiun dan mencari Masamune-dono. Mataku melihat ke kiri dan kanan, berharap bisa menangkap sosok Masamune-dono tapi hasilnya negatif. Aku terus berlari menembus kerumunan orang-orang, terkadang menabrak mereka sehingga harus meminta maaf seraya terus berlari. Bahkan sangking tidak fokus dengan apa yang ada di hadapanku, wajahku hampir menabrak tiang penyangga televisi jadwal kereta. Televisi jadwal kereta? Aku langsung mundur sedikit lalu mengangkat kepalaku, memerhatikan televisi itu.

"Oiii! Yuki!" nee-san berseru lalu berhenti di sampingku. Nafasnya memburu karena kelelahan. "Kau ini! Santai sedikit, dong!"

"Nee-san," ia menoleh ke arahku, "apakah nee-san tau Masamune-dono naik kereta apa?"

Ia mengurut dagu. "Hmm... kalau tidak salah... Osaka. Itulah yang tertulis di tiket mereka!"

Shinkasen yang menuju Osaka... Aku memeriksa setiap jadwal dengan teliti dan menemukan di jalur mana Shinkasen itu sekarang. "OK! Nee-san dan nii-san di sini saja! Aku pergi sebentar!" Setelah selesai berucap, aku langsung berlari ke tujuan tanpa memedulikan teriakan nee-san.

Masih ada empat menit! Aku masih bisa menyusulnya sebelum ia berangkat! Kami-sama... tolong jangan biarkan Masamune-dono pergi terlebih dahulu...

Sampailah aku di jalur lima tempat Shinkasen itu berada. Orang-orang di sekitarnya mulai berjalan masuk ke dalam kereta. Aku menatap sekeliling tapi tidak menemukan Masamune-dono ataupun Katakura-dono di dekat Shinkasen. Mungkinkah mereka sudah masuk ke dalam?

Aku berjalan mendekati Shinkasen tetapi ditahan oleh petugas tiket karena tidak memiliki karcis. Aku menjelaskan bahwa aku hanya ingin mencari Masamune-dono namun mereka tetap tidak mengijinkannya. Aku terus mendesak tetapi mereka menyeretku menjauh dari pintu Shinkasen. Mereka memarahiku atas perbuatan nekatku tadi namun aku tidak peduli.

"Shinkasen menuju Osaka akan berangkat satu menit lagi, harap seluruh penumpang segera masuk ke dalam Shinkasen." Suara pengumuman terdengar menggema di udara.

Tidak! Masamune-dono!

Tiba-tiba, seseorang menabrakku dari belakang dan aku segera berbalik untuk meminta maaf padanya. Ia adalah orang yang sedikit lebih tinggi dariku, memakai topi biru, berambut coklat dan memakai mantel panjang. Ia menundukkan kepalanya sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Tetapi firasatku mengatakan bahwa orang ini... mirip sekali dengan Masamune-dono...

"Masamune...dono?" tanyaku.

"Ayo, Aogami. Jangan diam saja," pria yang berada di belakangnya langsung menariknya menuju Shinkasen. "Kita bisa terlambat nanti!"

Ternyata bukan. Aku memandang sayu kedua sosok itu sebelum mereka masuk ke dalam Shinkasen dan pintunya tertutup. Aku... tidak bisa bertemu dengan Masamune-dono lagi... ya? Aku berbalik dan mulai melangkah menjauhi area Shinkasen dengan pasrah.

Aku merasakan tangan kananku menggenggam sesuatu, selembar kertas. Aku menatap kertas yang terlipat itu lalu membukanya.

"Yukimura, syukurlah mata yang kuberikan padamu itu ternyata bisa kau gunakan. Nah, jagalah baik-baik mata itu dan jangan terlalu khawatirkan diriku. I can take care of myself. Kuharap dengan mata itu, kau bisa tetap mengejar cita-citamu yang mulia itu. Hei, by the way, apakah kau menyukai hadiah dariku itu?"

Ternyata benar dugaanku. Pendonor mata dan yang memberikan boneka harimau itu adalah Masamune-dono. "Ya, aku menyukainya."

"Aku memang pergi ke Osaka tetapi tidak, itu tidak berarti aku mencampakkanmu. Kau bukanlah sampah dan orang yang tak berguna, tapi kau adalah sahabatku. Maafkan aku karena tidak sempat berpamitan denganmu tetapi aku berjanji, aku akan datang lagi ke Tokyo tiga tahun yang akan datang, pada tanggal yang sama. Jadi, wait for me, huh?

Sincerely,

Date Masamune."

Itulah isi surat itu. Aku menatap Shinkasen yang mulai bergerak meninggalkan stasiun.

Pria yang tadi menabrakku... ia... ia adalah Masamune-dono!

Aku berteriak ke arah Shinkasen itu tanpa memedulikan perhatian orang-orang sekitar. "YA! AKU, SANADA GENJIROU YUKIMURA, AKAN MENUNGGUMU DI SINI, MASAMUNE-DONO!"

Aku tidak tau apakah ia mendengarnya atau tidak tetapi yang jelas, aku sudah menyatakan janjiku terhadapnya. Firasatku mengatakan bahwa ia sedang memerhatikanku dari balik kaca gerbong terakhir Shinkasen tersebut dengan seulas senyuman mengembang di wajahnya. Ya, Masamune-dono. Kita akan bertemu lagi di stasiun ini... tiga tahun lagi.


A/N: Maaf jika ceritanya aneh. T^T Tapi saya usahakan the last part ga bakal se-aneh yang ini... XD