A/N: The last chapter, has come! XDDD
.
Replies:
1. Saika: Oh... FG itu Fans-Girl toh... Wokey!
2. Mocca-senpai: This is the next chapter (and the last chapter)! XD
.
Oh iya... kenapa pada sebut Masamune itu 'Masmun', ya? ._.
.
Warnings: Err... jika anata bukan penggemar yang namanya yaoi sedikitpun... meski hanya sedikitttt... saja... Dan belum sampai rate M... maafkan saya... Tapi yang namanya anime banyak bishonen pasti ada aja yang namanya fujoushi. Gomen na sai... T^T...
.
1. Sengoku Basara and its contents are not mine.
Kaien-Aerknard aka Zhaoyingchan presents...
A Sengoku Basara Fanfiction
.
真紅の希望を返す、紺碧の夢を失って
Shinku no kibō o kaesu, konpeki no yume o ushinatte
- Returning a crimson hope, losing an azure dream -
.
"私はあなたの真っ赤な希望を戻ってきた... (Watashi wa anata no makkana kibō o modottekita - I had returned your crimson hope)"
"しかし、今、私は紺碧の夢を失っていた... (Shikashi, ima, watashi wa konpeki no yume o ushinatte ita - But, now, I had lost my azure dream)"
-o-
3 years later, 31th December...
"Masamune-dono...," gumamku sambil menatap langit-langit putih stasiun yang diterangi oleh cahaya putih kekuningan dari lampu neon yang terpasang. Rangkulanku terhadap boneka harimau pemberian Masamune-dono semakin erat. Suara lagu yang kuputar melalui iPod-ku terdengar dari headset yang kupasang ke kuping kiri.
Tiga tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari dimana aku bertemu dengan Masamune-dono sebelum ia masuk ke Shinkasen dan pergi ke Osaka. Dan seperti yang ia tulis dalam suratnya tiga tahun yang lalu, sekarang aku sedang menunggunya di aula Stasiun Tokyo. Sebenarnya sih... tanggal yang ia janjikan bukannya dua hari yang lalu? Aku mendesah mengingatnya. Dua hari yang lalu kutunggu sampai stasiun tutup, ia tak kunjung datang. Begitupula dengan kemarin. Hah... Semoga saja hari ini ia benar-benar datang... Aku ingin melewatkan Tahun Baru ini bersamanya.
Kusandarkan punggungku ke bangku, menghela nafas dan melihat jam arlojiku. ... Sudah jam delapan malam dan ia masih belum tiba... Apakah Shinkasen yang ia naiki terjebak badai salju di tengah jalan sehingga harus diundur jadwal kedatangannya?
Seakan pertanyaan hatiku didengar oleh mereka, suara tanda pengumuman berbunyi, disusul dengan kalimat yang menjadi jawaban atas pertanyaanku.
"Karena rel kereta Shinkasen dari Osaka menuju Tokyo tertutup oleh salju, maka seluruh perjalanan dari Stasiun Shin-Osaka terhambat dan terjadi keterlambatan selama satu hingga satu setengah jam. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terima kasih atas perhatian Anda." Dan pengumuman itu diakhiri dengan suara khasnya.
Keterlambatan selama satu hingga satu setengah jam? Aku melirik televisi jadwal kedatangan, menyadari bahwa Shinkasen yang kata Masamune-dono ia naiki untuk menuju Tokyo akan tiba jam setengah sepuluh malam. Genggaman tangan kananku terhadap kertas surat Masamune-dono semakin erat. AKu menunduk, menyembunyikan raut sedihku. "Aku... harus menunggu satu setengah jam lagi rupanya...," gumamku sedih sambil menyandarkan daguku di atas kepala boneka.
Semakin lama, stasiun kereta semakin sepi seiringnya dengan banyak orang yang pulang setelah menjemput orang yang mereka tunggu atau pergi setelah mendapatkan kereta mereka. Udara malam semakin dingin seiring semakin tingginya posisi bulan di angkasa. Angin berhembus masuk ke dalam stasiun, membawa butiran salju putih dan hawa dingin bersamanya.
Aku menarik mantel dan syalku lebih erat, berusaha untuk melawan dinginnya udara malam musim dingin. Sial, heater yang ada di sebelahku juga tidak mampu berbuat banyak untuk menghangatkan tubuhku.
Pandanganku mulai terasa buram. Mataku rasanya sudah tidak kuat untuk terbuka lebih lama lagi. "Huah...," aku menguap, "lebih baik aku tidur sebentar sambil menunggu Masamune-dono...," kurebahkan tubuhku di atas bangku panjang. "Semoga saja ia melihatku dan membangunkanku nanti..." Dan dengan itu, aku menutup mataku perlahan, membiarkan diriku terbawa ke alam mimpi.
Mata... Ya, mata yang diberikan oleh Masamune-dono untukku...
.
"Oi, Yukimura."
"Nggh?" Siapa?
"Yukimura." Su-suara ini... "Sanada Yukimura!"
Masamune-dono?! Aku langsung bangkit dan duduk tegak. Mataku membelak saat melihat sosok yang ada di depanku. Seorang pria berpakaian jaket coklat panjang, memakai penutup mata kanan dan... Aku melihat ke arah kabel headset-ku. Memakai headset iPod-ku?
"Yo," sapanya. "Long time no see, Sanada Yukimura."
"Masamune-dono!" aku langsung berdiri dan memeluknya dengan erat.
"O-oi, Yukimura..."
"Masamune-dono kenapa lama sekali?! Aku sudah sangat merindukanmu, tahu!"
Tidak ada jawaban darinya. Aku merasakan tangan kanannya mengelus rambutku dengan lembut. Tangannya... kenapa terasa dingin meski memakai sarung tangan?
"Sorry, I'm late," katanya. "Tapi jangan peluk seerat ini. You might kill me, you see?" candanya.
Aku langsung mengendurkan pelukanku. "A-ah... Gomen na sai, Masamune-dono," aku tertawa pelan lalu menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.
"Missed me, huh?"
"Tentu saja!"
Ia tertawa mendengarnya. "Aku juga merindukanmu, Yukimura." Dan kalimat itu sukses membuat wajahku serasa terbakar. Tu-tunggu... apa yang membuatku merasa seperti ini? Aku seperti merasakan sesuatu yang lain di dalam jiwaku... Sesuatu yang hangat, namun menyakitkan?
'Pasangan jiwamu adalah seseorang dengan satu bagian darinya seperti pantulan sesuatu yang paling penting dari tubuhmu.'
Kalimat ramalan cinta yang kubaca dari sebuah majalah yang diberikan nee-san tiba-tiba melintas di pikiranku. Aku memerhatikan wajah Masamune-dono. Sesuatu yang paling penting dari tubuhku adalah... mata kanan ini... Dan dari posisi kami sekarang, mata kiri Masamune-dono seakan terletak di kanan, seakan itu adalah pantulan dari mata kananku. Errr... Ada-ada saja...
"Hoo... rupanya kau membawa tiger doll yang kubelikan untukmu saat Christmas tiga tahun yang lalu," katanya sambil menunjuk boneka yang berbaring di atas bangku panjang.
Aku tersadar dari lamuman malam hariku. "Eh? Oh," aku mengangguk. "Saat aku tidak ada, dengan membawa boneka ini, aku merasa kau selalu berada di sampingku."
Suara tawa pelannya terdengar. "Kau ini," Ia lalu mencolokkan headset kanan ke kupingku. "Pilihan lagu yang bagus, Yukimura," pujinya.
Terdengar sayup-sayup suara lagu dari headset ini. Eh? Aduh... aku lupa mematikan iPod-ku tadi sehingga terputar ulang ke lagu ini lagi.
"Ma-Ma-samune-dono. mari kita berbicara di rumahku saja. Kau pasti sangat lelah setelah perjalanan ini!" ajakku.
"Tidak perlu, Sanada Yukimura."
"Eh?"
"Aku... mau di sini saja."
Masamune-dono...?
"Ah... baiklah jika itu yang kau inginkan," kami berdua duduk dan mulai bertukar cerita tentang apa saja yang terjadi pada masing-masing selama tiga tahun ini.
Canda tawa terdengar memenuhi aula yang cukup sepi. Seakan-akan tidak ada orang lagi di aula ini, kami meneruskan candaan kami. Dan yang membuat tawaku semakin kencang saja adalah saat Masamune-dono bercerita tentangnya yang menyelamatkan kucing tetangga tetapi berakhir terjatuh dari pohon dan mendarat di kubangan lumpur dengan wajah duluan. Aku membayangkan bagaimana wajah Masamune-dono waktu itu dan tertawa kencang, membuat Masamune-dono merona lalu menghadiahiku dengan jitakan di dahi.
"Ahahaha... maaf, Masamune-dono. Habisnya kalau terus membayangkan wajahmu waktu itu bisa membuatku tertawa sepuluh turunan!" Sebuah jitakan kembali ia layangkan. "I-itai!" ringisku sambil mengusap dahi.
"Damn you, Sanada Yukimura," marahnya tapi toh, ia juga tertawa pada akhirnya. "By the way, bagaimana dengan cita-citamu? Berhasil kau raih?"
Aku mengangguk penuh semangat. "Bahkan sekarang aku sudah bekerja di salah satu rumah sakit dekat rumahku!"
Ia tertawa. "Baguslah kalau begitu," ia menepuk bahuku.
"Eh iya, Masamune-dono, kau 'kan berjanji akan mengunjungi tempat praktikku dulu. Bagaimana kalau besok?"
Ia tertawa lagi, namun... kenapa terdengar sedih, ya? Mungkinkah ini hanya perasaanku saja atau dia sedang bersedih?
"Warui ne, Yukimura, aku tidak bisa," balasnya sembari menundukkan kepala.
"O-oh, baiklah. Aku mengerti. Kapan saja kau mau mengunjungiku di tempat praktik juga tidak ada masalah, kok!" Ia hanya mengangguk pelan. "Eh, iya, Masamune-dono, apakah Katakura-dono tidak ikut?"
"Hmm? Kojuurou? Oh, aku pergi ke sini sendiri."
"Tak biasanya..."
"Sudahlah, jangan kau pikirkan," ia menepuk kepalaku. "Aku sudah bisa bepergian sendiri tanpa harus didampingi Kojuurou, you see? I'm not a kid anymore."
Aku tertawa pelan. Benar juga, Masamune-dono 'kan bukan anak kecil lagi.
"Oi, Yukimura."
"Ngg? Ada apa, Masamune-dono?"
"Ia memalingkan wajahnya, menatap kedua tangannya yang berada di atas pahanya. Ada apa, ya? "Apakah kau sudah punya pacar?"
"Eh?!" Aku menunduk malu, salah tingkah. "E... Ano...," aku memutar-mutar kedua jari telunjukku seperti seorang perempuan yang malu-malu karena baru saja 'ditembak'. "Su-sudah, kok!"
Ia tertawa. "Terrible liar."
Wajahku semakin merah dan panas saja. Masamune-dono, kau ini! "A-ano... Be-belum...," jawabku malu-malu.
Dan sebuah tawa meledak dari mulut Masamune-dono, membuatku terkejut dan mukaku semakin merah seperti habis makan makanan pedas dari daerah Shisen-shou[1]. "Ma-Masamune-dono!"
"S-shit!" Ia masih tertawa dan berusaha untuk menenangkan diri, tapi gagal.
"Apakah itu sesuatu yang memalukan?" tanyaku dengan malu.
"Hmm... Kau tidak perlu mempermasalahkan itu," ia lalu menoleh ke arahku, membuat mata kami berkontak.
Kontak dari mata biru jernihnya itu membuatku merinding, tetapi untuk alasan yang baik. Pe... perasaan apa ini?
"Yukimura...," panggilnya.
"Ha-hai?"
Tatapannya semakin serius dan mengikat seiring ia mendekatkan wajahnya denganku. Sangking dekatnya sampai aku bisa merasakan hangatnya nafas yang ia keluarkan dari mulutnya yang sedikit terbuka itu. "Masa... mune-dono?" Dan sebelum aku menyadari apa yang terjadi, ia sudah menempelkan bibirnya dengan bibirku. Aku langsung mundur sedikit begitu menyadari apa yang ia perbuat. "Ma-Ma-Masamune-dono?! Apa maksudmu?!" Udara semakin panas saja rasanya, padahal masih musim dingin dan sedang hujan salju. Mungkinkah ada mahluk lain di dekat Masamune-dono hingga udaranya menjadi sepanas ini dan ia berbuat seaneh itu?!
Kembali ia mengecup bibirku. Aku berusaha melawan tapi rasanya tidak bisa. Hangat...
Ia lalu menjauhkan diri dariku. "Yuki." Dan sejak kapan pula ia memanggilku dengan panggilan seperti itu?! "Aku..."
Aku menelan ludah.
"Aku... Memang ini memalukan tapi, aku menyukaimu."
EH?! Mulutku menganga, mataku membelak, pikiranku melayang ke langit ke-tujuh. Masamune-dono MENYUKAIKU?! NANIIII?!
"Yuki?" Ia melambaikan tangannya. "Yuki? Oi..."
"A-ah!" aku terasadar dari lamunanku. "Ma-Ma-Masamune-dono... Kau serius dengan ucapanmu?" tanyaku tidak percaya.
"Hell yes, I'm serious," ia tertawa pelan.
"A-a-ano..."
"Tidak apa jika kau tidak punya perasaan apapun terhadapku," Ia kembali duduk tegak. "Yang penting aku sudah menyatakan perasaanku."
"Si-siapa bilang aku tidak menyukaimu, Masamune-dono?!" Kami-sama... Kenapa kalimat ini bisa selip begitu saja dari mulutku?!
'Pasangan jiwamu adalah seseorang dengan satu bagian darinya seperti pantulan sesuatu yang paling penting dari tubuhmu.'
Masamune-dono tampak terkejut mendengarnya, sangat terkejut tapi sangat senang. "Jadi kau..."
"Aku juga menyukai Masamune-dono!" Beruntung sudah tidak ada seorangpun di sekitar kami saat aku mengucapkannya. "Masamune-dono lah orang yang menjadi sahabat pertamaku, orang yang telah membuatku bisa melihat lagi! Meski hanya mata kanan, tetapi, aku sudah sangat mengsyukurinya! Dan...," aku memantapkan ekspresiku. "Dan kau lah orang yang pertama kali mengenalkan perasaan aneh ini kepadaku. Aku ingin terus bersamamu, Masamune-dono!" OK, ini semua memang asli dari hatiku yang paling dalam, aku bersumpah akan hal ini.
Wajahnya semakin memerah dan ia tertawa pelan. "Yuki...," ia memelukku dan aku balas memeluknya. "Thanks..."
"Seharunsya aku yang berterima kasih padamu, Masamune-dono."
Tawa pelannya terdengar. Ia lalu melepaskan pelukannya dan tangannya melepas kalung yang melingkar di lehernya kemudian ia pakaikan di leherku. "Anggap ini sebagai tanda kau sudah menjadi milikku." Wajahku suskes menjadi semerah kausku dan aku menunduk malu. Aku bisa merasakan seakan ada asap yang keluar dari kepalaku, mendinginkan otakku yang terasa panas semenjak pembicaraan beberapa saat yang lalu. Oh, Kami-sama, kumohon, tolong tuangkan seember salju dingin ke kepalaku ini sekarang...
"Oi, Yuki," panggil Masamune-dono.
"Hai?"
"Cut that '-dono' crap, Yuki."
Otakku membutuhkan sedikit waktu untuk mengtranslasikan kalimat Inggris itu. "Ha-hai, Masamune...," kataku setelah mengerti maksud kalimat itu.
"Much better," ia lalu menepuk kepalaku dan mengusap rambutku. "Yuki, sebenarnya masih banyak yang ingin kuceritakan denganmu tapi, belikan aku kopi. Aku mulai haus karena terus berbicara daritadi."
Aku mengangguk. "Hai, chotto matte kudasai, Masamune!" aku mencabut heatset-ku lalu menitipkan iPod pada Masamune karena kurasa ia masih mau memakainya, kemudian berdiri dan berlari ke arah vending machine. Aku sempat menengok ke belakang untuk melihat Masamune yang melambaikan tangan kanannya padaku dan entah mengapa aku seakan mendapat firasat kalau ini adalah hari terakhirku bertemu dengannya.
Jarak vending machine ini dengan bangku yang kami duduki hanya sepuluh sebelas meter saja tetapi, aku merasa seperti dipisahkan dengan jarak satu dua kilometer dan semakin lama semakin jauh. Hatiku berdetak dengan kencang seiring dengan lewatnya setiap detik. Kenapa aku merasa seperti sedang sendirian sekarang? Apakah karena aku terlalu ketakutan kehilangan Masamune lagi?
Setelah vending machine ini mengeluarkan sekaleng kopi, aku langsung mengambilnya dan berbalik. "Masamune-" kalimatku berhenti saat menyadari dia sudah tidak ada lagi di bangku itu. Yang ada di sana hanyalah iPod beserta heatset-ku dan boneka harimau. "Masamune?!" kepalaku menengok ke kiri dan kanan untuk mencarinya dan mataku berhasil menangkap sesosok pria berambut coklat sebahu yang tidak lain adalah Masamune, di antara kerumunan orang yang berjalan masuk ke dalam Shinkasen.
"Masamune!" aku langsung berlari menuju Shinkasen itu. Sekali lagi kuteriakan namanya dan kepalanya berbalik ke kanan, langkahnya terhenti. Mata kanannya tertutup oleh poninya. Mulutnya bergerak, mengatakan sesuatu tetapi aku tidak bisa mendengarnya. Ia lalu kembali berjalan masuk ke dalam Shinkasen dan saat aku hampir sampai, pintunya sudah tertutup dengan otomatis, seakan tidak mengijinkanku mengejar Masamune. Tanpa membuang waktu, Shinkasen langsung bergerak meninggalkan stasiun. Kakiku terus mengejarnya sepanjang koridor, tidak peduli akan lajunya yang semakin cepat dan jaraknya yang semakin jauh dariku. "Masamune!" teriakku saat di ujung koridor stasiun, tidak bisa mengejarnya lagi. Kenapa...? Kenapa ia meninggalkanku lagi?
Apakah ia mau mempermainkanku?!
Aku langsung berbalik arah dan berlari menuju loket, hendak membeli selembar tiket Shinkasen untuk menyusulnya. Sialnya, tiket Shinkasen sudah habis karena Shinkasen yang tadi adalah yang terakhir menuju Stasiun Shin-Osaka.
"Kalau begitu kereta peluru lainnya yang menuju Shin-Osaka! Aku harus menyusul teman-" Tidak, dia bukan hanya sekedar temanku lagi. "Maksudku... pacarku ke sana!" Meski aku agak malu menyatakan hal itu di depan orang lain...
Ia mengangguk lalu memberiku tiketnya. "Kereta ini akan berangkat tiga menit lagi dan kau harus cepat."
"Arigatou gozaimasu!" aku membayarnya lalu bergegas menuju kereta itu.
"Semoga berhasil, nak!" Itulah kalimat yang kudengar sebelum pergi jauh dari loket.
Aku melihat jam arlojiku, menyadari sekarang baru jam setengah sepuluh malam. Tunggu? Itu berarti ketera yang Masamune naiki dari Shin-Osaka baru sampai tetapi, kenapa Masamune sudah ada semenjak kira-kira sejam yang lalu? Tidak! Bukan saatnya yang tepat bagiku untuk memikirkannya.
Bagai seorang stuntman professional di film action, aku melompat dari tangga satu ke tangga lain dan berlari, kadang berlari di atas barisan bangku untuk melewati kerumunan orang yang menghambat. Tentu saja semua aksiku mengundang perhatian orang banyak tetapi aku tidak peduli. Yang kupedulikan hanya satu!
Date Masamune, kau harus menjelaskan semuanya!
.
"Masamune!" teriakku saat keluar dari pintu kereta, berharap si empunya nama mendengar dirinya dipanggil.
Aku memerhatikan keadaan sekitar yang terhitung sepi karena sudah hampir tidak ada orang sama sekali, kecuali petugas loket dan security. Wajar saja, seakrang sudah hampir jam dua belas tengah malam dan sebentar lagi stasiun ini akan ditutup. Aku menatapi televis jadwal yang menggantung di langit-langit, mengetahui bahwa Shinkasen yang tadi dinaiki Masamune sudah tiba sejak sepuluh menit yang lalu. Aku menundukkan kepala, mendesah pasrah. Masamune pasti... sudah tidak ada di sini lagi.
Saat aku mengangkat kepalaku, barulah aku sadar kalau ada seseorang yang sedang berdiri di tepi koridor yang dekat dengan rel. "Masamune!" teriakku penuh harapan pada pria berambut coklat dan bermantel panjang yang kuduga sebagai Masamune. "Kau harus menjelaskan-"
Pria itu menoleh ke arahku dan membuatku mati kata. Itu bukan Masamune tetapi... "Katakura-dono?"
"Sanada Yukimura? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya sambil berjalan ke arahku.
"Aku mencari Masamune-dono. Apakah Katakura-dono melihatnya?" tanyaku padanya.
"Masamune-sama?" ia tampak terkejut. "Kau lihat Masamune-sama?!"
Eh? Kenapa ia jadi berbalik tanya padaku? "Apa maksudmu, Katakura-dono?" aku balik bertanya. "Tentu saja aku melihatnya! Aku bertemu dengannya di Stasiun Tokyo tadi dan-" aku tidak berani bercerita lebih dari itu.
Katakura-dono menepuk bahuku. "Sanada... Kau belum tahu rupanya, hah?"
Aku mengerutkan dahiku. Memangnya ada apa? Apakah telah terjadi sesuatu pada Masamune?
"Masamune-sama... Dia..." Kelihatannya ini bukanlah pertanda baik. "Dia sudah tidak ada di sini..."
"Makanya dimana dia sekarang?!" tanyaku sedikit kesal. "Aku harus meminta penjelasan-"
"Pulanglah," Kali ini ekspresi seriusnya digantikan oleh duka. "Masamune-sama sudah meninggal."
Mendengar kalimat itu, aku merasa disambar oleh petir. Me-meninggal? Tidak mungkin... Aku baru saja bertemu dengannya tadi dan...
"Apa maksudmu?! Aku baru saja bertemu dengannya dan... dan masa ia sekarang sudah-"
"Dia sudah meninggal tiga hari yang lalu," potongnya.
Aku menatap ke bawah. Barulah aku sadar kalau Katakura-dono membawa sebuket bunga peony biru, bunga terfavorit Masamune. "Dan aku kemari untuk meletakkan bunga ini di sana," ia menunjuk pinggir rel di belakangnku.
Aku berbalik dan berjalan ke pinggir, lalu berjongkok dan mengamati rel kereta yang tertutup oleh salju putih yang tipis dan dingin itu. Terlihat bekas cipratan darah masih tercetak di beberapa bagian rel. Dan mataku melihat sesuatu yang lain... Aku melihat bagaimana kejadian itu berlangsung...
Aku melihat seoarang anak perempuan di tengah rel yang sama, dan sebuah Shinkasen yang berjarak hanya sekitar satu kilometer darinya. Terdengar suara-suara orang menjerit histeris dari sekitar dan mereka semua hanya pasrah, tidak sanggup bisa menolong anak itu sangking dekatnya Shinkasen yang tidak memungkinkan mereka untuk menyelamatkannya tepat waktu. Lalu, mataku menangkap sosok pria yang berdiri di seberangku... Masamune. Ia melompat turun ke rel lalu berlari menuju anak ini, hendak menolongnya. Katakura-dono terlihat baru saja kembali dari loket saat kejadian berlangsung. Masamune menangkap anak ini dan melemparnya ke atas koridor sementara ia sendiri...
BRAK!
Suara tubuhnya membentur Shinkasen terdengar jelas di kupingku dan seluruh orang berteriak histeris. Tubuhnya terpelanting ke samping dan membentur tembok pembatas dengan kencang, darah bercipratan ke tembok di belakangnya dan rel kereta di bawahnya. Tangannya bergerak dengan susah payah dan ia mengarahkannya pada... ku...?
"Yuki...," panggilnya dengan lirih.
Masa... aku ada di sini...
"Maafkan aku... Aku... ugh.. tidak bisa menepati... my promise... huh...?" Dan dengan itu, ia menutup matanya...
Aku terdiam, membeku, bisu, tuli, mati rasa. Masamune... Tidak... Jangan kau tutup matamu...
Untuk selamanya.
"Masamune!" jeritku dan semua pemandangan mengerikan tadi langsung hilang begitu saja menjadi asap kabut. Ya, begitu saja... sirna menjadi debu dan kabut serta kepingan salju putih.
Tubuhku jatuh ke lantai, menopang pada lututku yang menempel di atas lantai marmer hitam. Air mata keluar setetes demi setetes dari satu-satunya mata yang kupunya, turun membasahi wajahku dan mendarat di permukaan lantai. Masamune...
"Sanada!" Katakura-dono berlutut di sampingku. "Ada apa?!" tanyanya dengan panik.
Seluruh tubuhku bergemetar hebat, shock. Aku membuka mulutku, hendak berbicara setidaknya satu huruf namun tidak ada satupun yang keluar! Aku sudah bisu akibat kejadian itu! Tidak ada satu abjad pun, apalagi sepatah kata yang sanggup keluar dari mulutku. Nafasku memburu dan air mata turun semakin deras.
"Tenangkan dirimu, Sanada! Tenangkan dirimu!"
"Ka-Katakura-dono...," Akhirnya aku mampu berbicara lagi. Aku menutupi wajahku dengan kedua tangan. "Aku sudah melihat... semuanya..."
Tidak ada jawaban darinya. Yang terdengar hanyalah suara isak tangis yang kukeluarkan. Katakura-dono mendesah, lalu berdiri.
"Kau sudah melihatnya," ia duduk di sebelahku. "Masamune-sama tewas tertabrak Shinkasen karena menyelamatkan anak itu," ia menggertakkan giginya. "Seandainya saja aku tidak jauh dari sisinya waktu itu-"
"Tidak, ini bukan salah Katakura-dono," Dan pria dengan nama itu menoleh ke arahku, "semua ini salahku," aku duduk, menekukkan lututku mendekati dada. "Seandainya saja Masamune-dono tidak mengenalku, dia pasti tidak akan berakhir seperti ini..."
Aku tak bergeming, seolah tubuhku ini hanyalah sebuah patung kayu. Seolah tak mendengar, seperti manusia tanpa kuping. Tak melihat, seperti manusia tanpa mata. Tak berbicara, seperti manusia tanpa mulut. Tak merasakan lagi dinginnya udara musim dingin, seperti manusia berkulit kayu. Yang bisa kurasakan hanyalah hatiku yang sudah hancur, rohku tercerai-berai. Dan aku seakan seperti patung kayu ber-roh tanpa indra. Yang ada di dalam hanyalah hati dan roh yang sudah hampir mati.
"Sanada Yukimura," aku menoleh ke arahnya. "Sebenarnya, Masamune-sama bersyukur pada Kami-sama karena telah mempertemukannya denganmu," seulas senyum mengembang di bibirnya. "Kau adalah sahabat yang pertama ia kenal dalam hidupnya. Kau juga yang telah membuka matanya akan dunia. Ia menganggapmu sebagai orang pertama yang mengatakan mata kanannya itu indah. Dan... ia pernah berkata bahwa kaulah orang pertama yang mengenalkan perasaan 'ai' padanya."
Kalimat terakhir berhasil membuat seluruh tubuhku hingga rohku hancur dihantam palu. Palu dengan gigi-gigi besi tajam disetiap ujungnya yang setelah menghancurkan tubuh dan rohku, juga menghancurkan hatiku. "Tetapi, akulah orang yang mencabut nyawanya."
Katakura-dono menggeleng. "Hidup matinya manusia sudah ditentukan oleh Kami-sama dan tidak bisa diubah, begitu juga dengan pertemuan antara kau dan Masamune-sama-"
"Dan TERKUTUKLAH TAKDIR ITU!" bentakku sambil menghajar lantai. "Akulah orang yang telah mengambil mata kanannya, merengut nyawanya dan masa depannya! Apakah kau masih pantas disebut sahabat?!" Dan sebagai... tanyaku tanpa mengalihkan pandangan ke Katakura-dono. "Sekarang aku mengerti kenapa kau lebih baik terus sendirian saja di dunia ini! Agar aku tidak merengut nyawa orang lain!"
Katakura-dono kembali menggeleng. "Masamune-sama sangat bahagia bisa berteman dengan kau, Sanada Yukimura. Dan ia sangat depresi saat berpisah darimu. Ia merasa sangat menyesal telah membuatmu kehilangan mata kirimu sehingga ia memutuskan untuk memberikan mata kanannya padamu," ia menoleh ke arahku sebelum melanjutkan, "Sanada, sebenarnya mata kanan Masamune-sama adalah matamu."
Hah? Aku menoleh kembali ke Katakura-dono.
"Kau mungkin tidak tahu tentang hal ini; Masamune-sama sering bermimpi tentang kalian berdua. Kalian pernah bertemu di kehidupan sebelumnya dan kau memberikan mata kananmu di saat terakhirmu," jelasnya.
Tanganku bergerak menyentuh kulit di bawah mata kananku. Mata ini...
"Ia mengembalikannya padamu."
Jadi, sebenarnya Masamune hanya punya satu mata saja?
"Jadi, sejak dulu hingga sekarang, itu adalah matamu."
Aku terdiam sesaat. "... Tidak. Ini bukanlah mataku seorang tetapi... Ini adalah mata kami berdua," kataku sambil membenamkan kepala ke dalam rangkulan tanganku dengan lututku.
"... Tiga hari yang lalu, Masamune-sama hendak pergi menemuimu tetapi, ia menemui ajalnya di sini sehingga tidak bisa menemuimu," katanya. "Dan... Dari yang kudengar, rohnya berkeliaran di stasiun ini."
Aku langsung mengangkat kepalaku, terkejut. "Roh? Jadi yang kutemui itu adalah rohnya?!"
Ia mengangguk.
Masamune, demi memenuhi janjimu... kau sampai menjelma di sini?
Kembali mataku meneteskan air mata. Hatiku terasa dipalu lagi. Seluruh jiwaku sudah hancur ke langit dan ragaku ke neraka.
"Masamune...," kusebut namanya dengan lirih disela isak tangis. Aku... Maafkan aku... aku yang bersalah... tidak mau mengerti perasaanmu tadi... Aku sudah egois terhadapmu, bukan?
Setelah beberapa menit, Katakura-dono berdiri, hendak pergi dari stasiun.
"Sanada, jika kau mau, kau bisa ikut aku ke-"
"Tidak, terima kasih. Aku ingin di sini saja," balasku, berusaha untuk tampak ceria tetapi gagal. Aku tak bisa menyembunyikan nada sedih dalam ucapanku.
"Tetapi, stasiun akan ditutup lima menit lagi dan tidak ada kereta sekarang."
"Tidak apa-apa. Aku akan tidur di sini dan menunggu sampai loket buka," balasku dengan seulas senyum menyakinkan.
"Baiklah, Sanada, selamat malam."
"Selamat malam, Katakura-dono."
Ia berbalik dan meninggalkanku. Suara langkahnya menggema dan beberapa saat kemudian, langkah kakinya tak terdengar lagi. Aku berdiri, berjalan ke sebuah bangku panjang, merebahkan diri di atasnya. Tanganku mengambil handphone dari saku celana. Jariku bergerak menekan tombol angka lalu mendekatkan handphone ke daun telinga.
"Moshi moshi, Sasuke nii-san? Bisakah kau mengirimkan padaku seribu yen?" tanyaku. "Ah ya, aku membutuhkannya untuk membeli tiket kereta untuk pulang ke Tokyo. Aku tak bawa dompetku dan kartu flash-ku sudah memasuki limitnya," balasku. "Sekarang aku ada di Osaka," jelasku.
"Memangnya ada urusan apa sampai kau harus ke Osaka?" tanya Sasuke nii-san.
"... Aku pergi liburan ke rumah Masamune-dono di Osaka karena aku tidak ada praktik selama dua hari dan besok pagi aku pulang." Bohong. Sejak kapan aku belajar berbohong pada orang-orang terdekatku seperti Sasuke nii-san?
"Oh, baiklah! Eh iya, bagaimana keadaan Date? Dia sehat-sehat saja, 'kan?"
Aku menelah ludah. "A-ano..."
"Oi, Yukimura, sudah dulu, ya! Nanti aku transfer uangnya setelah menyelesaikan skripsi kimiaku. Sekarang kau tidur saja, rest assured, OK?"
"Hai, nii-san... Arigatou."
"OK, Oyasumi, Yukimura. Dan sampaikan salamku pada Date, ya!"
"Hai," aku mengambil nafas. "Oyasumi, nii-san," lalu sambungan telepon putus begitu saja.
Aku memasukan handphone ke dalam saku lalu menutup mataku untuk tidur sambil menahan dinginnya udara.
.
"Yuki..."
Ma-Masamune?
"Yuki," kembali namaku dipanggil.
Aku membuka mataku, berusaha untuk memfokuskan pandangan. Samar-samar terlihat wajah Masamune yang tersenyum penuh kehangatan dan afeksi. Dan kehangatan itu terasa sampai ke jiwaku.
"Masa...?"
"Syukurlah kau tidak apa-apa, Yuki," dan ia berangsur-angsur menghilang menjadi kelopak bunga peony biru lalu terbang menjauh mengikuti angin yang berhembus.
"Masamune!" aku langsung duduk tegak dan hendak menggerakkan tanganku untuk menangkap kelopak peony tersebut ketika aku merasakan ada sesuatu dalam genggaman tangan kanan, membuatku berhenti, menoleh ke bawah dan melihat secarik kertas di dalam genggaman. Tertulis huruf kanji 'Da' dan 'Masa' tertera di permukaannya, dua huruf yang lain tertutup oleh jemari tanganku. Aku menggeser jariku dan melihat tulisan 'Date Masamune'. Surat ini... dari Masamune?
Kedua tanganku bergerak membukanya dan aku mulai membaca isinya.
'Yuki, syukurlah kau baik-baik saja. Maaf aku sudah membuatmu khawatir dan sedih. Sekarang kau sudah mengetahui semuanya dan menjadi semakin sedih karenanya. Aku sengaja menyembunyikan kabar kematianku darimu. Aku tak mau membuatmu sedih, I don't want it. Melihat wajahmu sedih sudah membuatku sakit, apalagi jika kau menangis. Tapi, berusaha seberapapun aku menyembunyikan semuanya, kelihatannya aku tidak bisa, ya? Heh, I can't hide my death and make you shed those painful tears again. Aku memanglah seorang demon yang terus membuatmu menangis... Aku memanglah jahat. I am a devil.'
Masamune...
'Tetapi tolong, jangan teteskan lebih banyak air mata lagi atas kematianku, jangan. Aku tidak mau melihatmu menangis lagi. Sudah cukup air mata yang kau keluarkan untukku. It's enough.'
... Baiklah, aku... tidak akan menangis lagi...
'Good. Kau memang good boy, Yuki.'
Lanjutan dari surat ini seperti menunjukkan bahwa Masamune sudah menyiapkan semua balasan.
'... Yuki, aku berterima kasih atas semua yang telah kau lakukan untukku. Seperti yang Kojuurou katakan, kau adalah orang pertama yang kuanggap sahabat, orang pertama yang mengatakan padaku bahwa mata kananku ini... kirei, membukakan pintu dunia padaku dan menarikku keluar dari kegelapan dengan memperkenalkan apa yang dinamakan 'friendship' dan 'ai' padaku. Kau selalu membuatku tersenyum dan langit hitam mendung menjadi cerah oleh senyumanmu itu. Yeah... that smile.'
"..."
'Dan setelah kau mengetahui berita kematianku, aku takut senyuman itu akan sirna dan aku tidak akan bisa melihatnya lagi, tidak akan pernah. Aku mau kau terus tersenyum untuk selamanya. Jadi, maukah kau menunjukkan senyumanmu itu?'
Ya, Masamune... Ya... Aku akan selalu tersenyum seperti kemauanmu.
Seulas senyum kupaksa menggembang di wajahku. Tetapi seulas senyum yang tulus dan hangat, seperti yang ia pastinya inginkan.
'Good boy. Jaga terus senyuman itu, OK? Dan, sejauh apapun kita terpisah... aku akan selalu ada di dekatmu, in your heart. Jadi, jangan bersedih lagi. Keep smiling and..'
And...?
'forget me, will you?'
Aku mematung. Hatiku sakit, sakit sekali, bagai tertusuk oleh ribuat katana atau disambar ribuan petir. Tetapi aku tidak boleh menghilangkan senyuman ini, senyum yang ingin sekali Masamune lihat.
Tidak. Aku tidak akan melupakanmu.
'Why?'
Karena...
"Kau adalah orang terpenting dalam hidupku... Karena itulah, aku takkan melupakanmu sampai kapanpun!" seruku pada kertas, yang sebenarnya kutujukan pada pengirimnya. "Mungkin mau memang telah memisahkan kita tetapi... aku takkan melupakanmu! Kalau aku melupakanmu, aku akan kehilangamu!"
'Yuki...'
"Thank you very much... For everything... Ai-... no... Koishiteru, Yukimura," suara Masamune terdengar di telingaku dan tangannya terasa merangkulku dari belakang. Setelah itu... suara itu takkan terdengar lagi... kehangatan rangkulannya juga lenyap bersamanya... untuk selamanya. Namun, kalimat itu bisa ditemukan di akhir surat ini.
Aku melihat lagi sebuah kalimat yang tertera di ujung kiri bawah surat ini.
'私はあなたの真っ赤な希望を戻ってきた... (Watashi wa anata no makkana kibō o modottekita)'
Air mata turun setetes dari kelopak mataku, seluruh tubuhku bergemetar. Kalimat ini... Tiba-tiba saja bayangan Masamune sewaktu sebelum ia masuk ke Shinkasen itu terniang di benakku. Jadi... waktu itu... yang mau ia katakan adalah kalimat ini? Masamune...
Tidak boleh meneteskan air mata lagi, tidak boleh menangis, harus terus tersenyum... aku sudah berjanji padanya, bukan?
"Shikashi, ima, watashi wa konpeki no yume o ushinatte (しかし、今、私は紺碧の夢を失って)..."
Saat aku hendak kembali merebahkan tubuhku, aku merasakan tubuhku menyentuh sesuatu yang hangat, empuk dan berbulu. Aku menoleh, menyadari boneka harimau yang kutinggal di Stasiun Tokyo sedang duduk di sampingku, dengan set iPod-ku ia bawa di tangannya. Aku terdiam sebentar sebelum tanganku bergerak merangkul boneka itu. Boneka ini terasa begitu hangat, sehangat rangkulan Masamune sendiri.
Ya, kehangatan rangkulan itu tidak akan pernah sirna karena... boneka ini menyimpan kehangatannya.
.
Aku terus menggenggam erat surat dari Masamune ini sambil merangkul boneka harimauku. Mataku terus melihat pemandangan yang disajikan alam di sepanjang perjalananku dari Stasiun Shin-Osaka menuju Tokyo. Barisan pegunungan yang putih tertutup salju, salju lembut yang turun perlahan dari langit abu dan permukaan sungai beku yang memantulkan sinar matahari... Indah sekali bukan pemandangan seperti ini, Masamune?
"... Kirei...," gumamku.
Terlihat beberapa anak-anak yang sedang berlari di jalan pinggir rel kereta yang terdapat di dekat sawah. Anak-anak itu melambaikan tangannya kepada semua penumpang di kereta ini sambil berlari mengikuti kereta. Aku membalas lambaiannya dari balik jendela dan mereka tersenyum, kurasa mereka menyadari lambaianku. Melihat mereka tersenyum seperti itu sudah membahagiakan hatiku. Tiba-tiba saja seorang perempuan diantara mereka terjatuh karena tersandung. Teman-temannya langsung membantunya berdiri. Anak perempuan itu hanya tersenyum dan tertawa dengan maksud meyakinkan bahwa ia tidak apa-apa. Tunggu... Anak itu 'kan... anak yang diselamatkan Masamune?
Senyumku belum pudar dari wajahku. Masamune... anak yang kau tolong itu sekarang baik-baik saja. Ini semua berkatmu, anak itu masih bisa menampakkan senyum manisnya pada teman-temannya.
Dan di tengah cepatnya laju kereta, mataku menangkap sosok yang familiar berdiri di pinggir rel, melambaikan tangan kanannya padaku. Ya, sosok yang tidak lain adalah Date Masamune yang sangat kurindukan. Ia melambaikan tangannya dan tersenyum hangat padaku. Aku juga membalas lambaiannya sebelum ia kembali menghilang seperti sebelumnya dan terbang ke angkasa biru terang yang luas tak berujung itu.
Masamune, sampai kapanpun, kau akan selalu ada di hatiku dan... Aku juga akan selalu ada di hatimu...
"Ok?" tanyaku pada kelopak peony biru yang terbang tinggi semakin jauh ke angkasa, meninggalkan dunia ini...
Tetapi tidak akan pernah meninggalkanku.
.
"Returning the crimson hope, losing an azure dream."
[The End...]
A/N: Huah! Selesai juga! *lempar laptop* Maaf kalau ceritanya misal garing, ending jelek dan berunsur BL (Boy's Love aka Yaoi). Ok, dengan ini... saya tutup cerita ini dan menyatakan 'complete'! XD
(Akhirnya ada satu fict bikinan saya yang complete :b LOL)
Review, CC dan flames diperbolehkan untuk masuk sampai kapanpun! Tapi jika ingin flames, saya harap Anda menjaga bahasa Anda, OK? ^^
Well then, thanks for reading, reviewing, following and fave it dan... gomen na sai karena bikin Masa mati di sini *cry* *kowtow* *dihajar Masamune FG*
FG: Author tega! Bikin Masamune-sama/-dono/-kun/-san/-chan mati!
Kaien: AMPUNILAH DAKU! *nangis*
.
Zai jian!
