Kura The Sleeping Beauty
.
Pada Zaman dahulu kala, Hiduplah seorang Raja dan Ratu. Mereka tinggal di sebuah Kasti yang megah dan memerintah daerahnya yang makmur bersama—Para rakyat bergembira karena pemerintahan yang berlangsung sangatlah baik, Apalagi, sang Raja adalah Raja yang bijaksana dan juga gagah perkasa, maka seluruh desa dan daerah menjadi tentram dan damai tanpa adanya perselisihan. Tapi dibalik semua itu, Ternyata Raja dan Ratu tidak sedikitpun merasa bahagia, keduanya merasa sangat sedih dan hampa…
"…Entah kenapa rasanya begitu sepi…" ucap sang Ratu sedih sambil memandangi pemandangan dari atas balkoni tempat ia berdiri, rambut pirangnya tersibak mengikuti arah angin yang menerpanya
"Istriku…" ucap sebuah suara menghampirinya dari belakang, tanpa menoleh lagi sang Ratu tahu siapa pemilik suara itu
"Apa yang sedang kau pikirkan ditempat seperti ini…" ucapnya sambil merengkuh tubuh sang Ratu dari belakang kedalam dekapannya
"…Aku kesepian… Istana ini terlalu luas untuk kita berdua, suamiku…" ucapnya memulai sebelum kemudian menarik napas dalam-dalam "Aku ingin kita memiliki anak… aku tidak tahu sampai kapan aku harus menunggu… rasa sepi ini membunuhku…"
Beberapa tahun kemudian, akhirnya penantian keduanya terbayar sudah ketika sang Ratu pada akhirnya mengandung dan melahirkan seorang putri yang cantik jelita, Raja yang sangat berbahagia mengadakan pesta besar-besaran begitu juga rakyat yang berbahagia mendengar kabar gembira itu tidak segan-segan membantu memeriahkan pesta, sang Raja juga mengundang tiga orang peri ternama kedalam pesta untuk memberkati sang putrid cilik…
—
"Che—AKU TIDAK AKAN MAU PERGI KESANA!" seru Bakura dengan kini pakaian putrid lengkap dengan tiaranya
Laksmi dan Atem yang berada di atas panggung hanya bisa berdiam tidak mengatakan apa-apa ataupun berkomentar kenapa kostum Bakura yang aneh seperti itu, Atem yang tadi sempat ingin tertawa menahan aksinya demi kebaikan nusa dan bangsa.
"Kalau kau tidak maju kita tidak akan mendapat nilai tugas…" sahut Malik di belakang Bakura berusaha mendorongnya memasuki panggung
"FUCK! DIANTARA SEMUANYA KENAPA HARUS AKU YANG MEMERANKAN PEMERAN PUTRI SAKIT JIWA INI!" sahutnya tidak terima
"Well—Seharusnya kau mengatakan itu pada pemeran yang satu lagi—ugh!" ucapan Atem terputus lantaran Laksmi menginjak kakinya sambil tersenyum mematikan
"Seto dan Marik juga senasib denganmu—lagipula, kau tidak mau menghabiskan Musim Panas mengulang materi pelajaran kan?" ucap Laksmi berdasarkan fakta
Bakura mendengus kemudian dengan seenak jidad ia menarik gaunnya keatas kemudian melangkah memasuki panggung sambil berdecak kesal
—
Sang putri yang tidak mengetahui apa-apa itu mendekati mesin pemintal yang berada di atas menara sesuai dengan apa yang diperintahkan sang penyihir jahat kepadanya…
"…Apa yang harus aku lakukan dengan mesin pemintal butut tidak berguna ini…" celetuk Bakura
"Err… Kura, lebih lemah lembut sedikit…" nasihat Ryou yang mendapat peran menjadi sang Penyihir jahat
"For mother-fucker sake Ry, kau terlihat seksi dengan baju itu…" ucap Bakura tidak mengubris perkataan Ryou padanya dan malah sedang memperhatikan pakaian seksi yang dikenakan Ryou saat itu, berwarna hita dan wow dimatanya
"Err… Te-Terima kasih Kura…" sahut Ryou blushing di tempat
"Rrryyyoouuu~" ucap Bakura menggunakan suara seksi sambil berjalan mendekati Ryou yang mengambil beberapa langkah mundur kebelakang
"K—Kura, ingat kita sedang di panggung dan… kau belum menyelesaikan dialogmu…" ingat Ryou pada Bakura sebelum ia lupa diri
Bakura mendengus kesal, karena Ryou sama sekali tidak berpengaruh dengan godaannya…
—
"RYOU! KENAPA KAU TIDAK MAU BERBARING BERSAMAKU DI TEMPAT TIDUR INI~" rengek Bakura ngak tahu situasi sambil menepuk-nepuk tempat kosong yang ada di sampingnya, kini ia tengah berbaring di sebuah ranjang luas property yang diletakan ditengah panggung
"Kau itu sama sekali tidak ingat peranmu!" sahut Marik disamping Bakura mengenakan pakaian peri yang sama sekali ngak terlihat cocok dengan sosoknya yang phsco itu, apalagi tambahan tiara, sayap dan juga tongkat itu…
Bakura memutar bola mata malas "Cerewet! Aku belum bersenang-sennag dengan Ry-ku! RYOOUU!" panggil Bakura lagi masih memerintah Ryou untuk menghampiri dirinya diatas tempat tidur
—
Setelah lama menanti akhirnya seorang Pangeran-pun melintasi daerah Kerajaan yang kini sudah ditumbuhi oleh tumbuhan duri yang sangat lebat dan berbahaya itu, sepertinya rasa penasarannya yang membawa dirinya ke tempat itu…
"Ingatkan aku untuk bunuh diri setelah yang satu ini…" ucap sebuah suara yang terdengar pasrah merangkak keatas panggung
Dilain pihak Atem yang memandangi kepergian pemilik suara hanya bisa mengacungkan jempolnya sebelum kemudian tertawa lepas layaknya orang kehabisan obat sebelum kemudian menarik keluar handycam dari tas miliknya.
"Tunggu sampai Ibu melihat semua ini~ Bwahahahhahaha~" ucapnya tertawa sadis
—
Sang Pangeran, setelah berhasil membunuh penyihir jahat dan menjebaknya di dalam sihirnya sendiri, kini tengah berjongkok diatas tempat tidur sang Putri yang tampak sedang terlelap begitu damai, tangannya meraih tangan sang Putri…
"…Kalau kau menyentuh tanganku akan kucincang kau…" umpat Bakura dengan nada tajam
"Aku juga tidak sudi memegang tangan kasar sepertimu…" sahutnya balik sama jijiknya melakukan peran ini
Lalu, tangan sang Pangeran perlahan-lahan mengelus pipi mungil sang Putri dengan hati-hati takut kalau ia akan menghancurkan sang Putri yang tampak sangat rapuh itu…
"Fuck—siapa yang membuat dialog jelek itu!" protes Bakura
"Mana aku tahu! Lebih baik aku mengelus pipi Aibou daripada kau!" sembur Yami
"Hoi—Ingat, kalau kalian tidak bisa memerankan peran kalian harus tinggal dan mengulang pelajaran selama musim panas…" ucap Laksmi dari atas kepada kedua orang yang ada di bawahnya sambil melambaikan tangan
Yami dan Bakura menatap satu sama lain..
"RA! Aku tidak ingin melakukan ini tapi—" ucap Yami setengah menutup mata merentangkan tangannya
"Fuck you, Sennen Sialan! Aku tidak akan melupakan penghinaan ini!" sahut Bakura tidak rela Yami menyentuhnya sesuai apa yang dilakukan dalam naskah
"Hell—aku harus mencuci tanganku nanti…" cetus Yami
Dan kemudian demi melepaskan mantra sang penyihir, Sang Pangeran memberikan kecupan tepat di bibir sang putrid yang tertidur…
Mendengar hal itu, Baik Yami maupun Bakura langsung beranjak berdiri melupakan posko mereka masing masing
"APAA!"
"SERIBU TAHUN AKU TIDAK MAU MELAKUKAN INI!"
"LEBIH BAIK AKU MELAKUAKNNYA 1000 KALI DENGAN YUGI DARIPADA DIA!"
"HAH! APA BAGUSNYA MENCIUM SI PENDEK ITU!"
"APA KAU BILANG—!"
Dan keduanya malah saling bertengkar mengadu kemampuan satu sama lain diatas panggung, Ah—pertunjukan yang sangat luar biasa, tanpa memberikan kejutan yang tidak di duga dimana Yami kehilangan keseimbangan akibat sesuatu yang mendorongnya kemudian tepat berakhir menubruk sang Putri Bakura dan tidak sengaja menciumnya.
"Wow…" komentar Atem tercengang masih merekam "Tidak kusangka dia akan melakukan itu juga…"
"Kau sudah merekamnya, Ate?" tanya Laksmi disampingnya
Atem mengangguk sambil tersenyum iblis begitu juga Laksmi yang tersenyum sama mengerikannya.
"Kita bisa membalas mereka dengan ini, Hahahaaha…" ucap Atem bangga disertai anggukan Laksmi
Sementara yang lainnya…
"KYAAA~ MEREKA BERCIUMAN~" seru Malik berjingkrak-jingkrak
Seto hanya mendengus dan bermuka datar seperti biasa "Ternyata Yami juga bisa menyimpang dari posisinya…" sahutnya
"GAHHH!" seru Yami dan Bakura kini terguling lemas diatas panggung dengan rasa malu yang amat sangat, lebih baik mati jika ia harus mengenang kejadian tadi.
"Yami—" ucapan Yugi terputus lantaran Yami malah memeluk kaki Yugi
"AIBOUU~ AKU MERASA HINA~…" ucap Yami meraung-raung sudah kehilangan harga dirinya yang bersumpah tidak akan mencium orang selain Aibou-nya itu tapi sekarang…
Sementara itu dilain pihak, Bakura malah masih tergolek lemas memeluk Ryou
"RYOUU! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH GURU ITU NANTI! SETELAH SEMUA INI AKU BUTUH PASTA GIGI YANG BANYAK!" serunya tidak rela
Dan itulah kejadian Drama yang tidak terduga…
