The Color of Love - Part 4
The Color of Love - Part 4
Genre: romance, angst
Cast: Yesung, Yamashita Erika, Kwon Yuri, Kyuhyun
Writer's POV
Yuri perlahan membuka matanya dan melihat sosok Yesung yang duduk ditepi tempat tidurnya. Yuri pun sadar bahwa kini dia ada dirumah sakit, begitu juga sebabnya.
"yesung ssi..." bisik yuri hampir tak terdengar. Tetapi yesung segera menoleh.
"kau sudah sadar?" tanya yesung. Yuri malah melemparkan sebuah senyuman manis untuknya.
"kenapa... Tidak bilang dari awal... Kalau kau memang sakit?"
"kau sudah tahu semuanya?"
"mhmmm..."
"gwaenchana... Aku tidak selemah itu, kok."
"lalu bagaimana? kau sudah menemukan donor ginjal yang cocok untukmu?"
"belum... Bahkan... Aku tidak yakin kalau suatu saat aku akan menemukannya. Kurasa mungkin, aku tidak akan bertahan lama lagi."
"jangan... Bicara seperti itu."
"waeyo?"
"sudah jelas kan? Seorang pasien harusnya optimis bahwa dia akan sembuh. Kenapa kau malah bilang begitu?"
"yesung ssi, kau pasti sudah dengar dari dokter kalau penyakitku memang sudah sangat parah. Ginjalku sudah bengkak besar. Jadi, kurasa hanya masalah waktu aku akan keluar dari SME." kata yuri sambil tersenyum. Tapi didalam senyuman itu, ada sedikit kesedihan.
"aku... Aku... Pulang dulu." kata yesung sambil menundukkan kepala.
"wae? Kenapa tidak menemaniku lebih lama?" kata yuri, berusaha mencegah yesung.
"kau... Lebih baik segera telepon dan mengabarkan pihak SME. Pasti mereka khawatir." balas yesung yang segera meninggalkan ruangan. Yuri menatap punggung namja itu. Perlahan air mata membasahi pipinya.
Yesung segera pergi meninggalkan ruangan dan berjalan menuju lift.
'ting'
Pintu lift itu terbuka. Yesung cukup terkejut melihat erika sendirian didalam lift. Segudang pertanyaan langsung membanjiri pikiran yesung. Sedang apa erika disana? Apa erika menyadari keberadaan yesung?
"erika..." panggil yesung. Erika pun tampak kaget mendengar suara itu memanggil namanya. Tentu saja erika mengenali siapa pemilik suara itu.
"yesung ah?" sapa erika untuk memastikan dugaannya.
"erika... Kau kenapa ada disini?" tanya yesung.
"aku... Kesini untuk menemui dokter mataku. Untuk regular check up." balas erika, "kalau kau? Apa yang kau lakukan disini? Kau sakit?"
"eh? Aniya..."
"kalau begitu... Kenapa?" tanya erika lagi. Bukannya menjawab, yesung menuntun erika keluar dari lift dan mereka duduk berdampingan dikursi dilorong rumah sakit itu.
"kau masih ingat yuri kan?" tanya yesung.
"ne. Waeyo?"
"tadi dia ketempatku, lalu tiba tiba saja, dia... Pingsan ditempat. Jadi aku membawanya kesini." jawab yesung. Erika terdiam sejenak lalu menghirup napas dalam dan perlahan mengembuskannya melalui mulut.
"syukurlah..." kata erika. Yesung sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud gadis itu. Apa dia senang yuri masuk rumah sakit? Tapi tentu saja erika bukan orang seperti itu, yesung tahu betul bagaimana baiknya erika.
"ani... Bukan begitu... Aku hanya lega... Karena alasan kau berada dirumah sakit... Untuk menolong seorang teman... Iya kan?" sambung erika.
"eh?"
"kau... Dan yuri ssi... Hanya teman biasa saja... Kan?" tanya erika ragu ragu. Yesung sama sekali tidak tahu betapa tegangnya erika menunggu jawabannya. Satu kata saja yang nantinya akan keluar dari mulut yesung sangat berarti baginya. Sangat.
"ne. Dia hanya teman." jawab yesung yakin. Erika tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya dan tersenyum lebar.
"waeyo?" tanya yesung yang kebingungan melihat erika cengengesan.
"aniya... Tidak ada apa apa. Ngomong ngomong... Yuri ssi, dia... Kenapa? Maksudku... Dia sakit apa?"
"yuri? Dia sakit... Kata dokter sih, dia ada batu ginjal... Dan karena satu ginjalnya sudah diangkat, jadi ginjal yang tinggal satu ini tidak mungkin diangkat juga. Dia membutuhkan donor ginjal yang cocok. Karena itu... Dia tidak ikut konser snsd."
"jinjja?"
"ne. Pihak rumah sakit sudah berusaha keras mencari donor ginjal yang cocok, tapi... Sampai saat ini mereka belum menemukannya."
"geuraeyo...?"
Suasana menjadi sunyi untuk sementara. Tapi, yesung akhirnya memutuskan untuk memecah kesunyian itu.
"erika ya..."
"ne?"
"aku... Minta maaf."
"maaf? Untuk apa?" tanya erika.
"untuk membawa sial bagimu. Aku... Tahu aku salah. Karena itu, aku ingin minta maaf padamu. Aku tahu! Aku tahu, berapa 'maaf' pun yang kuucapkan padamu tidak bisa mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Tapi, aku... Selain kata 'maaf'... Aku tidak tahu harus berkata apa lagi." kata yesung yang perlahan mulai mengeluarkan air mata dan terisak.
Erika tersenyum lembut dan berkata, "aniya. Gwaenchana."
"eh?"
"gwaenchanayo... Tujuh tahun yang lalu... Akulah yang memutuskan untuk menolongmu, karena itu, menyelamatkanmu adalah keputusanku, tanpa paksaan. Karena itu, kau tidak perlu merasa kasihan ataupun bersalah padaku. Sama sekali bukan kesalahanmu!" kata erika tegas. Yesung tidak mengerti kenapa erika terlihat agak kesal dan marah.
"wae... Kenapa kau malah marah?" tanya yesung tidak mengerti.
"aniya! Aku tidak marah. Memangnya untuk apa aku marah!" sahut erika ketus.
"kau... Tidak mungkin berpikiran seperti itu kan?"
"apa?"
"aku berteman denganmu, menemanimu... Itu semua bukan hanya untuk sekadar rasa bersalah apalagi kasihan. Itu semua... Aku tulus selalu berada disampingmu. Aku ingin selalu berada disampingmu, bukan sekadar rasa kasihan, tapi rasa ini tulus." kata yesung sambil menggengam tangan erika erat.
"yesung ah... Pandangan orang orang itu... Ucapan mereka, perlakuan mereka... Aku sudah hafal dengan itu... Karena itu, kalau kau memperlakukanku sama seperti itupun, aku tidak akan marah, tersinggung... Karena aku sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Jadi... Jangan merasa tidak enak padaku." kata erika yang lalu menarik kembali tangannya.
"aku..."
"sudah cukup, yesung. Aku sudah tidak mau dengar apa apa lagi. Tidak apa apa. Aku tahu aku memang... Orang yang menyusahkan... Bukan cuma kau, tapi kyuhyun dan semua orang disekitarku. Tapi... Aku ingin meminta izin padamu."
"a.. Apa?"
Yesung dapat melihat air mata erika yang terus membasahi roknya. Semakin lama, semakin banyak.
"aku... Dengan keadaanku yang seperti ini... Dengan keadaanku apa adanya... Izinkan aku tetap mencintaimu... Bolehkah...?" tanya erika. Tanpa disadari, air mata yesung menetes begitu saja. Sungguh sakit hati namja itu begitu mendengar permintaan yeoja itu. Hatinya terluka, bagai diiris sebilah pisau.
Suara tangisan yesung mulai terdengar oleh erika, tapi erika malah tersenyum lembut dan beranjak menggunakan tongkatnya itu. Yesung hanya bisa meremas celananya sambil menahan tangisnya.
End of writer's POV
Erika's POV
aku tahu saat itu yesung sedang menangis. Sejujurnya aku sangat ingin memeluknya, meminta maaf padanya. Tapi aku tahu aku tidak akan selalu bisa menoleh kebelakang. Semua yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa berubah. Karena itu, tidak akan ada gunanya aku menoleh kebelakang... Satu satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah terus melanjutkan hidup. Apapun yang ada didepan, itulah yang harus kuhadapi, bukan mengulang kembali masa lalu.
End of Erika's POV
_
Writer's POV
Erika keluar dari ruangan dokter setelah melakukan checkup. Entah mengapa erika memutuskan untuk mengunjungi yuri yang juga dirawat dirumah sakit itu. Tiba tiba seorang suster bertubrukan dengan erika.
"mianhae, agassi." kata suster itu.
"gwaenchana... Hmm... Chogi... Pasien bernama yuri... Diruang mana ya?" tanya erika.
"yuri? Snsd yuri?"
"ne..."
"mianhae, agassi. Saya tidak bisa memberitahumu tentang itu. Yuri agassi tidak ingin fans datang menjenguknya." balas suster itu.
"aniya... Saya bukan fansnya... Kami teman."
"ne, agassi. Saya adiknya."
"ne?"
"sudahlah jangan bercanda. Saya sudah banyak menemui orang orang seperti anda... Sasaeng fans yang akan melakukan apapun untuk menemui idolanya. Tapi, maaf. Kami, pihak rumah sakit harus melindungi pasien-pasiennya."
"tapi, aku benar benar..."
"sampai jumpa, agassi."
Suster itu meninggalkan erika. Sejujurnya erika kecewa atas perlakuan suster itu padanya. Bagaimana tidak... Erika disangka berbohong, padahal dia sudah berkata jujur. Walaupun tidak begitu dekat, setidaknya erika tahu siapa yuri dan yuri juga tahu siapa dia. Jelas kalau erika bukan sasaeng fans.
Tiba tiba ada yang menepuk pundak erika. Erika tersentak dan membalikkan badan.
"nu... Nuguya?" tanya erika.
"yuri." sahut yeoja itu dengan baju rumah sakit itu.
"yuri ssi?" tanya erika ragu.
"sedang apa kau disini?" tanya yuri.
"aa... Tadi aku ada check up. Makanya kesini. Lalu aku mendengar kau dirawat disini..."
"geuraeyo?" kata yuri, lebih kepada dirinya sendiri, "apa kau... Punya sesuatu untuk dikatakan padaku?"
"ah... Ya, ani, tidak... Eh, iya, sebenarnya..."
"kita kekamarku saja dulu." kata yuri yang lalu merangkul pundak erika dan membimbingnya ke ruang rawat yuri.
Begitu sampai, erika segera duduk Disamping yuri.
"jadi, langsung saja, kau ingin bicara tentang apa?" tanya yuri.
"aku... Yuri, kudengar kau sakit ya?"
"jangan banyak basa basi. Aku tidak suka." kata yuri kasar, "lagipula, kenapa kau tiba tiba kesini? Maksudku... Aku mendengar percakapanmu dengan suster tadi... Buat apa kau mencariku?"
"Ngg... Tadi, aku bertemu yesung dan sudah mendengar tentang kesehatanmu, penyakit ginjalmu... Aku turut prihatin." sahut erika. Situasi menjadi hening sesaat, lalu terdengar yuri terkekeh.
"yuri ssi?"
"ya... Neon... Apa maksudmu?"
"eh?"
"kau ini sedang menyindirku ya? Menertawaiku karena penyakit ginjalku?"
"ha? Ani! Aniya! Bukan itu maksudku! Sama sekali bukan begitu!" kata erika cepat, tidak ingin yuri salah paham padanya.
"heh! Tidak usah berbohong."
"yuri ssi... Aku benar benar tidak bermaksud menghinamu atau menyindirmu. Aku menjengukmu sebagai seorang teman. Aku... Sebenarnya aku..."
"apa? Jangan bertele tele."
"ngg... Sebenarnya, aku... Datang untuk menawarkanmu sesuatu."
"apa?"
"bukan menawarkan, tapi... Aku ingin mendonorkan... Ginjalku untukmu." kata erika
"mwo?"
"ne, yuri ssi... Kalau kau bersedia... Aku mau mendonorkan ginjalku untukmu."
"ya! Apa maksudmu! Tadi kau bilang kau mengunjungiku sebagai seorang teman, tapi nyatanya kau malah menyindirku dan menghinaku seperti ini! Sebenarnya apa maumu sih!" teriak yuri.
"yuri, kau salah paham. Aku sama sekali tidak punya niat buruk! Aku ikhlas ingin mendonorkan ginjalku!"
"sudahlah! Jangan berbohong. Aku tahu, walaupun kau terlihat manis dan tulus, padahal sebenarnya kau tidak rela kan? Kau ingin sebaiknya aku cepat mati saja supaya yesung beralih padamu dan menjadi milikmu seutuhnya kan!"
"yuri ssi! Niat seperti itu bahkan tidak pernah terlintas dibenakku... Aku begini karena aku tulus ingin membantumu! Jinjja!"
"cukup!"
"hah?"
"sekarang juga kau keluar dari kamarku! Menghilang dari hidupku dan jangan kembali lagi! Aku muak denganmu!" teriak yuri. Yuri memelototi wajah erika yang perlahan meneteskan air mata. Terdengar pula suara isakan gadis itu. Erika pun dengan susah payah meraih tongkatnya dan melangkah meninggalkan ruangan itu.
Setelah erika pergi, yuri malah menghela napas dan terlihat menyesali apa yang dikatakannya barusan.
Ketika erika sedang berjalan di lorong rumah sakit, dia merogoh kantongnya dan menyadari bahwa handphonenya tidak ada.
"jangan jangan... Tertinggal?" tanya erika dalam hati.
Erika secepat mungkin kembali keruangan yuri. Dia mengetuk pintunya, tapi tidak ada yang membukakan. Akhirnya pelan pelan dia masuk ke ruangan itu.
"mau... Apalagi kau... Disini?" kata yuri terputus putus.
"jusonghamnida. Nggg,.. Sepertinya handphoneku tertinggal... Mungkin." sahut erika.
'bruk!'
Erika panik mendengar suara itu. Sebab, suaranya seperti ada orang jatuh.
"yuri... Ssi?" panggil erika untuk memastikan bahwa yuri baik baik saja, namun tidak ada jawaban.
"yuri... Ssi? Yuri ssi!" teriak erika panik, "tolong! Tolong! Siapapun!"
Andai saja erika bisa melihat, dia pasti bisa berlari menghampiri yuri, tapi apa boleh buat, erika buta dan hanya bisa membantu dengan berteriak untuk mencari pertolongan.
Tidak lama kemudian, ada seorang suster yang datang dan memeriksa keadaan yuri yang tergeletak dilantai, tidak sadarkan diri. Suster itu segera menekan tombol darurat disamping tempat tidur yuri.
Tidak lama kemudian, seorang dokter dan beberapa orang suster datang dan mengerumuni yuri. Erika menunggui yuri didepan ruangan, sambil duduk, dan berdoa agar tidak terjadi hal hal buruk pada yuri.
Kemudian dokter tersebut keluar dari ruangan dan erika pun pelan, tapi segera menghampirinya.
"dokter, bagaimana keadaan yuri?" tanya erika khawatir.
"dia hanya pingsan. Karena, ginjalnya sudah bengkak sampai besar sekali. Habis, kami belum menemukan donor yang cocok. Jadi apa boleh buat." sahut dokter itu. Erika termenung sejenak.
"dokter... Aku... Aku bersedia mendonorkan ginjalku untuknya." kata erika.
"mwo? Nona... Yakin?" tanya dokter itu terkejut.
"ne. Mungkin ginjalku belum tentu cocok, tapi bisa dicoba dulu kan dok?" tanya erika.
"hmm... Kurasa ada kemungkinan besar ginjalmu adalah ginjal yang cocok. Kalian saudara kembar kan?" tanya dokter.
"hah?"
"mempunyai saudara kembar... Sungguh ajaib ya. Saya penasaran, bagaimana rasanya... Punya saudara kembar yang tulus menolong ketika saya sakit parah."
"hah? Bukan, dok... Itu..."
"baiklah. Kita ke lab dulu untuk memastikan ginjal anda cocok untuknya, dan mengisi formulir dan prosedur pendonoran."
"ah, ne..."
Erika kembali menguatkan pegangannya pada tongkat itu dan berjalan mengikuti arah suara langkah kaki dokter itu.
_
"jadi... Bagaimana dok? Apa saya bisa mendonorkan ginjal saya untuk yuri?" tanya erika gugup.
"ne. Syukurlah. Ginjal anda cocok dan bisa didonorkan untuk yuri ssi. Jadi... Kira kira kapan anda siap melakukan pendonoran?"
"lebih cepat lebih baik, kan dok?"
"ne... Maksud anda..."
"sekarang juga tidak apa apa, dok. Saya sudah siap."
"geurae? Kalau begitu... Ayo."
Dokter itu beranjak keluar dari ruangannya. Tapi, walaupun erika terlihat siap dan kuat, sebenarnya dalam dirinya juga ada segelintir rasa takut dan cemas. Tapi dia tidak mau menghentikan keputusannya sama sekali. Dia tetap yakin bahwa dia mengambil langkah yang tepat.
_
yuri membuka matanya dan sadar bahwa ia terbaring diranjang rumah sakit. Tapi yuri malah merasakan tubuhnya agak sulit digerakkan, agak sakit dan pegal. Dia menghela napas panjang ketika tiba tiba seorang suster masuk keruangannya.
"yuri ssi? Anda sudah sadar?" tanya suster itu yang lalu melemparkan senyuman manis.
"ne..." sahut yuri lemas.
"bagaimana keadaannya, yuri ssi? Sudah agak baikan?"
"cih! Baikan darimana... Ginjalku membengkak terus... Sampai ada donor untukku, aku baru akan bisa merasa baikan." sahut yuri ketus.
"hah? Kan... Sudah ada donor untuk yuri ssi?"
"hah? Yang benar? Kalian sudah menemukan donor untukku?"
"ani... Maksudku... Ginjal anda kan sudah di angkat dan diberi ginjal donor."
"mworagu?! Aaaah!" teriak yuri.
"yuri ssi! Jangan banyak bergerak dulu..."
"arasseo!" teriak gadis itu lagi, "sekarang beritahu apa maksudmu tadi!"
"ngg... Yuri ssi... Tidak tahu?"
"cepat katakan!"
"tadi, saudara kembar anda kan sudah mendonorkan ginjal untuk anda. Masa anda tidak tahu?"
"saudara kembar?"
"ne... Saudara kembar anda yang mirip sekali dengan anda. Oh iya... Tadi dia juga meminta dokter untuk melakukan test darah anda dan dia."
"mwo? Untuk apa?"
"hmm... Kalau tentang itu, saya kurang tahu..."
"kalau begitu... Kau tahu siapa nama pendonor itu?"
"yuri ssi.. Kau ini sedang bercanda ya? Hahaha tidak lucu. Saudara kembar anda memangnya ada berapa? Siapa lagi kalau bukan erika?"
"mworagu...? Erika?"
"ne."
"ini... Tidak mungkin."
"hmm... Yuri ssi, aku... Permisi keluar dulu ya." kata suster itu.
"tunggu!" teriak yuri.
"wae?"
"aku... Tolong bawa aku ke tempat erika. Sekarang juga."
Suster itu tampak kebingungan dan tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi dia membantu yuri ke kursi rodanya dan membawanya kekamar erika. Saat pintu itu dibuka, dilihatnya erika yang sedang berbaring, belum sadarkan diri.
"yuri ssi... Aku pergi dulu, ne?" tanya suster itu. Yuri mengibaskan tangannya, perhatiannya hanya terfokus pada erika yang kini terbaring tak berdaya. Yuri menghampiri erika dengan kursi rodanya.
"ya... Kau... Kenapa menolongku?" tanya yuri yang menggenggam tangan erika. Yuri mulai menitikkan air mata. Erika terbangun ketika air mata yuri menetes tepat pada tangan erika.
Perlahan erika membuka matanya dan tersenyum melihat yuri.
"yuri ssi..." bisik erika lemah. Yuri agak kaget melihat erika sudah sadar. Tapi, sebenarnya dia juga lega karena erika akhirnya sadar.
"kau... Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya erika. Yuri hanya mengangguk tanpa berani menatap erika.
Erika perlahan bangkit dan duduk ditempat tidurnya.
"kenapa? Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya erika lembut.
Yuri tidak langsung menjawab, tapi akhirnya dia membuka mulut dan berkata, "aku... Ingin tahu... Sebenarnya, kenapa kau menolongku...?"
Erika kembali tersenyum dan berkata, "kau tahu? Sebelum pendonoran ginjal ini... Aku melakukan test dna ku dan kau. Kau tahu mengapa? Karena aku ingin tahu, apa diantara kita benar benar ada hubungan darah... Karena wajah kita, banyak sekali orang yang mengatakan bahwa kita mirip. Dan ternyata... Entah bagaimana... Kau memang saudara kembarku."
Yuri tetap diam, maka itu erika melanjutkan, "bukan hanya itu. Tapi... Dari kecil, aku sudah bermimpi ingin sekali menjadi hallyu idol... Tapi karena mataku buta, impian yang waktu itu hampir ada digenggamanku lenyap juga. Tapi aku tahu itu bukanlah akhir dari segalanya... Saat hari audisi, aku melihat tiffany, seorang penyanyi berbakat yang benar benar kukagumi kemampuannya. Aku sudah berangan angan untuk berdiri dipanggung yang sama dengannya suatu saat nanti."
"lalu... Setelah aku tahu bahwa ternyata ada member snsd yang mirip denganku, bagaimanapun juga aku merasa bangga pada diriku sendiri. Mungkin aku tidak bisa mewujudkan impianku dengan tanganku sendiri. Tapi, melihat seseorang yang mirip denganku, menggapai impianku, bersahabat dengan idolaku, aku sungguh mendoakan yang terbaik untukmu. Karena itu aku ingin sekali mendonorkan ginjalku, padamu. Terlebih lagi saat aku mengetahui bahwa kau sebenarnya adalah adik kandungku. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu menderita terus seperti itu?"
Tangis yuri akhirnya pecah. Walaupun agak sakit, tapi yuri tetap memaksakan dirinya untuk memeluk erika.
"eonni mianhae! Jeongmal mianhae! Aku sungguh tidak tahu diri! Kau begitu baik, tulus, tapi aku tidak pernah menghargai niat baikmu! Eonni, jeongmal mianhae!" teriak yuri sambil memeluk erika.
"yuri ah... Gwaenchana." sahut erika sambil menepuk nepuk bahu yuri.
"eonni! Gamsahamnida... Selama ini kau begitu baik padaku. Jeongmal gamsahamnida! Tapi... Maafkan aku selama ini menjadi adik yang tidak berguna!"
"yuri ah... Aniya..."
Yuri mengeratkan pelukannya dengan erika. Kini, yuri yang selalu iri dan membenci erika malah jadi sayang dan tulus pada erika.
Tidak lama kemudian, yuri kembali keruang rawatnya. Erika termenung dalam pikirannya sendiri. Dia kemudian membuka dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto masa kecilnya. Fotonya, yesung dan kyuhyun. Erika terus menggenggam dan meremas foto itu, bahkan sampai sampai dia tidak sadar bahwa dia telah meneteskan air mata dan terisak. Mungkin mata erika memang buta, tapi dia dapat membayangkan foto itu, dia terlalu mencintai kenangan itu sampai sampai tidak pernah sekalipun ia melupakannya. Erika berusaha tersenyum, tapi bibirnya tidak bisa membentuk sebuah senyuman.
Tiba tiba handphone erika yang digeletakkan diatas meja berdering. Erika meraba raba meja dan meraih handphone itu.
"yeoboseyo?" tanya erika. Satu detik... Dua detik... Namun tidak ada yang menjawab.
"siapa ini?" tanya erika lagi.
"erika... Kau ada dimana?" kata si penelepon.
"ye... Sung?"
"ne. Ini aku, yesung."
Erika terdiam sejenak, lalu menjawab, "ada apa? Untuk apa meneleponku?"
"aku... Sudah mendengar semuanya dari yuri. Tentang kau mendonorkan ginjal untuknya... Tentang... Kau dan yuri yang ternyata adalah saudara kembar..."
"lalu? Kenapa?"
"ngg... Kau masih ada dirumah sakit kan?" tanya yesung ragu ragu.
"bukan urusanmu. Tidak ada gunanya kau tahu." balas erika ketus.
"kumohon, erika. Jangan kemana mana. Aku akan datang dan menemuimu sekarang juga. Ada yang perlu kubicarakan denganmu." kata yesung,
"kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan."
"pokoknya tunggu aku disana." kata yesung yang segera mematikan telepon dan bergegas menuju rumah sakit.
Erika terlihat agak panik. Dia tahu kalau yesung pasti akan sungguhan datang saat itu juga. Karena itu dia berusaha mencari cari tongkatnya dan kabur secepatnya, sebelum yesung datang.
Erika melangkah keluar, entah kemana. Dia juga sama sekali tidak peduli kemana kakinya membawanya. Yang dia tahu yaitu dia harus segera pergi tanpa bertemu yesung.
Akhirnya erika sampai di taman rumah sakit, bahkan tanpa dirinya sendiri mengetahui. Dia panik sekali, ketakutan yesung akan menemukannya. Taman itu sepi. Agak sepi.
Tapi, tiba tiba sebuah mobil berhenti dihadapan erika. Tapi erika sama sekali tidak tahu apa yang terjadi karena tiba tiba mulutnya dibekap dari belakang. Gerombolan preman itu menggotong erika dan membawanya masuk ke mobil.
Sementara itu, Yesung yang tadi menjanjikan akan menemui erika ternyata seperti dugaan erika, benar benar menepati kata katanya. Yesung sudah tiba di tempat parkiran rumah sakit. Tapi entah kenapa dia memalingkan wajahnya dan melihat sosok gadis yang sangat mirip dengan erika dipaksa masuk ke dalam mobil.
Yesung panik sekali. Dia segera menaiki kembali motornya dan mengikuti jejak mobil itu. Sebelumnya, dia mengirimkan sms pada kyuhyun.
"kyuhyun, erika diculik. Plat mobil Y 2408 YE. Warna hitam. Lapor polisi."
Begitulah isi smsnya. Kyuhyun, setelah menerima sms itu juga langsung bergegas. Dia pergi kekantor polisi sekaligus untuk melacak plat nya.
Sementara itu, akhirnya mobil penculik itu berhenti di depan sebuah rumah tua. Erika dimasukkan kedalam gudang dan diikat tangan dan kakinya. Tapi handphone erika diambil oleh penculik.
Erika mendengar si penculik yang menelepon orang tua erika, untuk meminta uang tebusan.
Tapi erika terus berusaha melepaskan tali yang mengikatnya. Syukurlah erika berhasil. Tangannya sudah lepas, tinggal kakinya saja. Tapi sesaat sebelum dia bisa melepas ikatan dikakinya...
"ya! Gadis kecil! Jangan coba coba untuk kabur ya!" ancam penculik botak yang lalu menampar keras pipi erika yang membuat yeoja itu berteriak kesakitan. Bahkan saking kerasnya, erika sampai terjatuh kelantai.
"kalian yang jangan coba coba untuk kabur!"
Suara itu menarik perhatian semua orang. Ternyata yesung. Yesung berhasil mengikuti jejak penjahat penjahat itu sampai kesana.
"bocah kecil... Kau ingin diculik juga ya!" kata penculik berbadan besar yang berusaha mendaratkan tinju di wajah yesung. Tapi diluar dugaan, yesung malah berhasil menghindarinya dan membalikkan keadaan. Satu persatu penjahat ditaklukkannya.
Namun, si botak ketakutan karena hanya dirinyalah yang tersisa. Dia segera mengeluarkan sebilah pisau dan mengarahkannya ke arah erika.
"ja... Jangan coba coba mendekat..!" kata si botak.
Tapi yesung gegabah dan berlari menghampiri si botak. Secara otomatis, si botak menancapkan pisau kearah erika...
Darah mulai bercucuran deras, dan mengaliri, membasahi ruangan itu.
Disaat yang tepat, kyuhyun dan para polisi tiba. Kyuhyun tersentak mencium bau darah segar, dan pisau yang menancap itu...
TBC
By: shellemyang
Written by me 06.57 | ? 0 panda(s)
