Yamanaka Ino terbiasa menjadi satu-satunya kunoichi di team 10. Sangat terbiasa malah. Ia menikmati posisinya sebagai 'bunga' tim, dimana ia memiliki hak untuk memerintah anggota timnya.
Meskipun, sangat disayangkan, tidak ada satu pun anggota timnya yang tertarik padanya. Padahal kan, seru tuh, kalau Shikamaru dan Chouji terpikat akan kecantikannya, lalu memperebutkannya seperti kisah di novel-novel.
Tapi tidak masalah, kok, selama dia bisa menjadikan keduanya sebagai budaknya, Ino nyaman-nyaman saja menjadi the one and the only girl di dalam timnya.
Hingga hari ini.
SACRIFICE
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Gugigi
Cover © Gugigi
Summary chapter sebelumnya...
"Cih. Menyebalkan. Shiho sudah merebut hari Mingguku. Sekarang, dia juga merebut cowok-cowokku."
"Apa dimata Shikamaru Shiho jauh lebih baik dariku, ya?"
Shikamaru telah memaafkanku.
...
"Pertahankan nafsu makanmu yang baik ini. Cocok untukmu."
"Merepotkan."
Gawat, mana yang harus ia selamatkan? Shiho, kliennya, atau Ino, sahabatnya?
...
Author's POV
Tampak puluhan mayat shinobi bertopeng memenuhi hutan. Semuanya mengalami paling tidak satu luka fatal yang mengakibatkan tidak dapatnya mereka kembali merengkuh kehidupan. Hanya tersisa dua shinobi yang berdiri di tengah, terengah-engah dengan wajah sumringah.
"Kita berhasil, Chouji! Musuh berhasil kita habisi. Kau tidak apa-apa, kan?"
Chouji mengangguk mantap, meski wajahnya penuh peluh. "Hanya luka ringan, sensei. Sebaiknya kita cepat pulang, Shiho mungkin sedikit shock dengan pertem- Shika?"
Ucapan shinobi penikmat keripik kentang itu terhenti, melihat sahabatnya berlari mendekat dengan aura muka panik. Tak pernah sekalipun Chouji melihat Shikamaru kehilangan kendali atas emosi seperti ini. Wajahnya yang selalu datar kini dihiasi kepanikan, matanya memerah dan penuh emosi, serta sekujur tubuhnya gemetaran. Apa yang membuat pemuda jenius itu begitu panik? Hei, tunggu, Shikamaru menggendong seseorang...
"Shikamaru? Ada apa? Tenanglah! Semua sudah berhasil kami bunuh. Kau tidak perlu khawa-" bola mata Asuma-sensei membulat ketika melihat murid pemalasnya tengah menggendong seorang gadis pirang yang mengeluarkan banyak darah. Wajah gadis itu pucat, matanya terpejam dan sekujur tubuhnya penuh luka. Tapi tak mungkin ia salah. Gadis yang terluka itu..
~gugigi~
FLASHBACK.
Shiho menutup matanya, mempasrahkan diri akan hidupnya yang diakhiri dengan tusukan pedang semerah darah.
ZRASH!
Suara itu! Suara kematian yang memenuhi pendengarannya. Suara pedang yang menembus punggung manusia. Suara yang terakhir didengarnya sebelum ajal menjemput…
"Shiho! Shiho! Kau baik-baik saja?"
Bagaimana mungkin ia baik-baik saja? Hidupnya hanya tinggal hitungan detik. Padahal ia belum menyampaikan perasaannya pada Shikamaru, pemuda yang telah memikat hatinya. Padahal ia belum-
"Shiho! Buka matamu!" suara yang memanggilnya itu terdengar lemah, bahkan serak. Kemudian terdengar batuk yang menyakitkan dari si sumber suara. Siapa?
Memberanikan diri, Shiho membuka kelopak matanya.
Dan alangkah kagetnya ia mendapati Ino, berdiri di hadapannya dengan pedang menembus tubuhnya, darah merembes disekeliling lukanya, menodai pakaian ungunya.
"K-kenapa?" satu kata yang akhirnya terucap setelah Shiho mulai mengendalikan rasa kebas dalam dirinya, yang bercampur dengan shock dan ketakutan. Kenapa?
"Ap-apa kau ba-baik-baik saja?" Ino terbatuk, mengeluarkan darah.
Bukannya menjawab, gadis itu malah menanyakan kondisinya! Shiho tercengang mengetahui ada seseorang yang mau berkorban demi dirinya, terlebih orang tersebut adalah Yamanaka Ino!
"Ka-kau b-baik-baik saja?" Ino mengulang pertanyaannya. Kaki kunoichi pirang itu mulai goyah, dan seluruh persendian tulangnya bergetar, tak mampu menahan beban tubuhnya dengan segala luka pertempuran.
Tak mampu berkata-kata, Shiho hanya mengangguk. Mengiyakan, memberitahukan pada kunoichi berbaju ungu itu bahwa ia baik-baik saja.
"Syukurlah…" Seiring dengan desah lega, Ino ambruk dipelukan Shikamaru, yang tiba-tiba saja sudah ada di samping kunoichi pirang itu.
FLASHBACK END.
~gugigi~
Darah. Cairan merah gelap itu berceceran dimana-mana. Ruangan gawat darurat itu dibayangi oleh hawa suram dan penuh pengharapan. Ada doa dan isak tangis. Mereka berharap, dan percaya, kalau gadis itu kuat. Gadis itu mampu. Mampu buktikan bahwa senyum dengan bola mata aquamarine itu tidak akan lenyap dari dunia.
"Dia kehilangan banyak darah. Aku sudah melakukan semampuku. Tapi..."
"Apa maksudmu? Dia selamat, kan? Dia sudah siuman, kan? Katakan padaku!"
"Hidup matinya setiap mahluk ada di tangan Tuhan. Kini kehendakNya lah yang akan memutuskan. Kita hanya bisa berharap, berdoa, dan menunggu."
"Ino..."
~gugigi~
Ino's POV
Kelopak mataku terasa berat, dan tubuhku –terutama bagian punggung, rasanya sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Cahaya yang sangat terang menyerangku ketika kupaksa retinaku terbuka. Segalanya menjadi putih. Apa aku sudah mati?
Whoa, kalau sudah mati, aku pasti masuk surga, kan? Apalagi, aku berkorban super keren begini. Hmm, asyik juga, nih! Dengar-dengar, di surga juga ada malaikat-malaikat ganteng! Bisa aku pacarin satu-satu, yeaah!
Ah, tapi, aku enggak bisa ketemu teman-teman lagi, dong. Enggak bisa berantem sama Sakura, makan bareng Chouji, latihan sama Asuma-sensei, dan tiduran di padang bunga bareng Shikamaru. Mendadak semua orang bikin kangen, bahkan Shiho pun kini sedikit menyenangkan. Ternyata mati itu… nggak seenak bayanganku.
Apa aku tidak bisa bertemu semua orang yang kusayangi lagi? Semua orang yang sudah mengisi hidupku? Banyak hal yang belum kuselesaikan di dunia; pertarunganku dengan Sakura, toko bunga yang ingin kubuat cabang di desa lain, dan menikah, serta memiliki anak.
Lalu, bagaimana dengan mereka yang kutinggalkan? Adakah yang akan menangisiku ketika aku pergi? Ayah, sih, sudah pasti. Tapi yang lain? Kupikir Sakura akan menangis, Chouji dan Asuma-sensei juga, lalu...
Shikamaru? Cih, paling-paling dia lega karena tidak ada aku yang akan merepotkannya lagi. Mungkin saja dia justru mengadakan pesta kematian Yamanaka Ino di hutan bersama para rusa. Ia mungkin akan menari mengelilingi api unggun dengan para rusa, menyanyikan himne "Oh Tuhan! Gadis Merepotkan itu Akhirnya Pergi!". Menyebalkan. Padahal, Shikamaru lah orang yang paling aku rindukan sekarang ini.
Eh?
Tadi aku bilang kalau aku merindukan Shikamaru? Apa aku tidak salah bicara? Mana mungki-
"Ino…" terdengar lirih, seseorang memanggilku. Suaranya lembut sekali. Menenangkan, meskipun suara itu adalah suara berat seorang pria. Ayahkah?
"Ino…" suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas, dan dapat kurasakan emosi yang sangat kuat dalam suaranya itu. Siapa? Siapa yang begitu peduli denganku seperti ini?
"Bangunlah… Gadis merepotkan!"
Ck, siapa lagi kalau bukan Shikamaru! Apakah dia yang tadi memanggilku dengan lembut begitu? Mengapa aku merasakan tekanan emosi yang begitu deras dalam namaku tatkala dipanggil olehnya? Dia kan, Shikamaru, orang terakhir di muka bumi yang akan menangisi kepergianku, seseorang yang akan menyalakan kembang api warna-warni di acara pemakamanku.
Basah. Kurasakan tetesan air membasahi pipiku. Aku menangis? Tidak, ini bukan air mataku. Lalu siapa? Shikamaru kah?
Semua pikiran tentang Shikamaru membuatku pusing, bagaimana bisa di alam kematian pun aku memikirkannya? Masa' bodoh, deh. Peduli amat. Kan, aku sudah ma-
…
"Shika! Lihaat! Aku sudah bikin mahkota bunga yang cantik! Lihat! Lihat!"
"Jelek."
"Bagus, kok! Sini, aku pasang ke kepalamu, ya!"
"Merepotkan."
…
"Hahaha, Shikamaru memasang mahkota bunga di kamarnya! Seperti perempuan saja!"
"Apaan, tuh, kok laki-laki mainannya mahkota bunga!"
"Loh? Shika? Itu kan, mahkota bunga yang waktu itu kubuat. Kau menyimpannya?"
…
"Dasar pemimpi! Mana mungkin kau bisa menanam bunga itu! Guru saja tidak bisa melakukannya! Sadar diri, dong!"
"Aku bisa menanamnya! Aku pasti bisa!"
"Tidak mungkin! Kamu hanya gadis centil yang manja! Pergi sana! Jangan sok pintar, deh! Otak saja nggak punya! Hahaha!"
"Jangan tertawa. Kalau dia bilang bisa, maka pasti dia bisa melakukannya."
"Shika…"
…
"Hiks. Mereka jahat sekali. Huaaaa!"
"Kau jelek kalau menangis."
"Pergi! Apa kamu tidak lihat kalau aku sedang sedih? Pergi!"
"Aku tidak mau."
"Pergi! Pulanglah! Jangan menungguku!"
"Aku tidak menunggumu. Aku menunggu air matamu reda."
…
"Aku kalah pada Sakura tentang segalanya. Kemampuan medisku tidak lebih kuat darinya. Sakura juga memiliki Naruto disisinya, tapi aku tidak memiliki siapapun. Ninjutsu, cinta, semuanya tak dapat kumenangkan."
"Kau melupakan satu hal yang kau menangkan darinya."
"Apa?"
"Aku."
…
Semua masa yang kuhabiskan bersama Shikamaru mendadak berkelebat dalam ingatanku. Bergema dan bergaung dalam otakku. Bisikannya, tatapannya, tawanya, dan seringai khasnya bermunculan bagaikan sebuah video.
Pemuda nanas yang selalu ada disampingku, yang selalu mengeluh setiap kali kurepotkan, meski pada akhirnya ia menuruti kemauanku. Satu-satunya yang tidak pernah menertawakan impianku, menemaniku dalam setiap langkah hidupku.
Bodoh.
Kini aku mengerti apa arti dari kalimat "kematian adalah pintu penyeselan dan peluruhan semua kepalsuan". Kematian membasuh kepura-puraanku, penolakanku 'tuk sadari bahwa…
Aku mencintai Shikamaru.
Ah, tubuhku mulai terasa ringan. Rasa sakit semakin memenuhi semua indraku. Kesadaranku perlahan mulai lenyap. Cahaya disekelilingku semakin menyilaukan. Ingatanku tentang Shikamaru perlahan memudar, padam.
Mungkin, aku dan dia tak ditakdirkan bersama. Mungkin, Shikamaru ditakdirkan memiliki orang yang lebih pantas. Bukan aku, seorang gadis yang manja dan merepotkan.
Kalau memang takdir berkata begitu, biarlah. Toh, kalau aku pergi nanti, masih ada Shiho disisinya. Bila memang dimata Tuhan, Shiho adalah yang terbaik bagi Shikamaru, aku akan melepaskannya. Kebahagiaannya jauh lebih penting dari kebahagiaanku, kan?
Sampai disini dulu semuanya. Semoga di surga nanti aku bisa menjaga Shikamaru dan semua orang yang aku sayangi. Sayonara, Shika-
"Aku mencintaimu."
Kata-kata Shikamaru itu menggema, jelas, dan memenuhi kepalaku. Kata itu membawa serta ratusan emosi yang tak dapat kukenali, membanjiri seluruh panca indraku. Kukenali beberapa diantaranya, ada rasa sakit, pedih, rindu, dan… cinta.
Mendadak semuanya menjadi jelas.
~gugigi~
Author's POV
"Pig! Pig! Bangunlah! Pig!" Sakura menggoncangkan tubuh sahabatnya, histeris dan berteriak nyaris tak waras. "Pig!"
Disampingnya, Shikamaru menggenggam erat tangan sahabatnya. Membiarkan kesedihan menguasainya, meluapkan emosi dengan air mata, sembari membisikkan nama gadis yang baru ia sadari, telah menawan hatinya. Tapi mengapa kematian lah yang membuatnya menyadari perasaan ini?
Tawa gadis itu bergema dalam kepalanya. Malam yang dihabiskannya berdua dengan gadis pirang itu masih terukir dalam benaknya. Cara gadis itu tersenyum, tertawa, cemberut, dan marah, diingatnya sangat jelas.
Kini ia sadar, kata 'merepotkan' yang selalu dilontarkannya kepada gadis pecinta bunga itu adalah caranya mengungkapkan rasa sayang. Menunjukkan bahwa gadis itu sangat merepotkan karena berhasil merebut hatinya, dan membuatnya tak berdaya menghadapi senyum yang terpancar dari gadis dengan iris sewarna samudra.
Apakah sudah terlambat baginya, bagi mereka berdua, untuk menyatukan perasaan satu sama lain?
"Shika…"
Pemuda nanas itu mendongak, terkesiap melihat bibir mungil kunoichi pirang itu membuka, mengucapkan namanya –Shika berulang-ulang, meski matanya masih terpejam.
Dengan perasaan takjub dan tidak percaya, Shikamaru bangkit memeluk gadis itu erat. Memastikan bahwa segalanya nyata. Bahwa Ino masih hidup, bernafas, dan balas memeluknya lemah.
Gadis yang dicintainya telah terbangun. Tuhan memberinya kesempatan kedua yang tak akan pernah ia sia-siakan. Kesempatan kedua untuk dirinya dan Ino, untuk membuktikan perasaan mereka kepada semesta.
Dan kalimat pertama yang diucapkan Ino tatkala mata aquamarine-nya terbuka adalah hal terindah yang pernah Shikamaru dengar.
"Aku juga mencintaimu."
~gugigi~
Sakura Haruno tersenyum haru. Pemandangan disampingnya begitu mengharukan, penyatuan asa kedua insan semesta.
Siapa yang tak bahagia melihatnya? Shikamaru dan Ino, keduanya telah jatuh cinta satu sama lain. Semua orang tahu itu, kecuali kedua pihak yang bersangkutan, yang membutakan diri dari perasaan masing-masing.
"Syukurlah…" bisik Sakura lirih mendapati sahabatnya telah sadar dari koma, sekaligus mendapatkan cinta yang –tanpa disadari- telah lama dimilikinya, dalam sosok teman masa kecil. "Kau memiliki banyak hal yang tidak dimiliki orang lain, Pig."
Sementara itu, di tengah kebahagiaan yang melanda, sesosok gadis berkacamata meninggalkan ruangan, dengan seulas senyum dan air mata berlinang.
~gugigi~
Shiho memutar kenop pintu, membuka kemudian menutupnya. Penghuni kamar itu menoleh, dan memberikan senyum lemah.
"Pagi, Shiho."
"Pagi, Ino," balas Shiho pelan.
Ia berjalan menuju kursi di samping Ino. Diletakkannya senampan sarapan pagi diatas meja. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja," jawab Ino sembari mengangguk lemah. Maklum, ini baru hari keduanya terbangun dari koma.
Sesaat keheningan mengisi kamar pasien nomor 17. Kemudian, Shiho mengangkat kepala dan berbisik lirih, "Kenapa?"
Satu kata. Tanpa perlu diperjelas, Ino tahu apa yang hendak ditanyakan Shiho. Kenapa ia hampir mati hanya demi melindungi gadis yang telah merebut Shika nya? Ia menghela nafas, mata biru langitnya menerawang.
"Aku tidak tahu. Mungkin… karena kau adalah orang yang berharga."
Berharga? Shiho mulanya berpikir ia berharga karena posisinya sebagai klien dalam misi. Tapi ia tahu, alasan Ino hampir mengorbankan nyawanya tidak sedangkal itu. Jadi ia menunggu. Menanti kelanjutan lawan bicaranya.
"Memang konyol, menganggapmu berharga meski setiap melihatmu bersama Shikamaru, aku ingin mencekikmu. Tapi ketika pedang itu mengarah padamu… tubuhku bergerak begitu saja."
"Kenapa? Aku tidak menganggapmu berharga," Shiho berujar hampa.
Terkesan jahat, memang, mengatakan seperti itu kepada penyelamat nyawanya, tapi ia jujur. Dimatanya, Ino hanyalah seorang pengganggu. Centil dan sombong, sama seperti teman-teman di akademinya dulu yang menindasnya.
Ketika pertama kali bertemu Ino, balas dendam langsung memenuhi seluruh hatinya. Merebut Shikamaru, pemuda yang disukai Ino. Bersikap manis dan menarik hati di depan guru Ino. Menjadi primadona team 10 dan mengambil semua yang dimiliki Ino, dengan tampang manis dan sok lugu. Ya, ia bermuka dua.
Tapi kenapa, meski Ino menunjukkan ketidaksukaannya pada Shiho terang-terangan, ia masih menganggap Shiho berharga?
Ino tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan tatapan intens pada Shiho. "Kau melihat Shikamaru dengan segala kekurangannya, namun tetap menyukainya, kan?"
Bagai terhipnotis oleh mata biru langit Ino, Shiho mengangguk. Mengiyakan, bahwa hatinya telah ditawan oleh seorang pemuda jenius. Matanya mulai berair, tenggorokannya tercekat, malu dan menyesal akan perbuatannya. Namun ia masih tidak –ah, belum mengerti, kenapa?
"Tidak masalah bila kau menganggapku tidak berharga, selama kau menerima Shikamaru apa adanya. Mengetahui kekurangan seseorang, dan menerimanya dengan tulus, itu yang menjadikanmu berharga."
Cairan bening mulai menggenangi bola matanya. Gadis pemecah kode itu akhirnya paham, mengerti. Kekuatan cinta dan pengorbanan yang besar, alasan dibalik semuanya. Namun, ternyata, Ino belum selesai.
"Kalau memang aku mati, setidaknya Shikamaru bahagia memiliki orang seberharga kau disampingnya. Bukankah kebahagiaan orang kita cintai jauh lebih berharga dibandingkan diri sendiri?" bisik Ino lirih, pelan, hampir tak terdengar. "Pemikiran itulah, yang melintas di benakku ketika melindungimu."
Dan isak tangis Shiho pun pecah.
~gugigi~
Ino's POV
Pintu kamarku terbuka, menengadah, kudapati pengunjung yang telah lama kunanti. Memasang senyum cerah dan mata berbinar, kusingkirkan nampan sarapan ke meja.
"Tadi kau menangis?" tanya pengunjung yang merangkap sebagai kekasihku, Shikamaru, sembari meneliti wajahku dengan cermat. Dahinya berkerut cemas, jarinya menghapus jejak air mata di pipiku.
"Ya," jawabku pelan. Mataku menatapnya lekat-lekat, wajah pemalas berkuncir nanas yang kucintai. Terbayang percakapanku dengan Shiho beberapa waktu yang lalu. "Aku belajar banyak dalam satu misi, Shika."
Kudengar tawa Shika pelan, lembut. Tawa yang hanya ditujukannya padaku seorang. "Aku tahu. Aku juga belajar banyak hal."
"Oh ya? Apa itu?" aku memindahkan posisi dudukku, mendekat padanya. Siap mendengarkan ceritanya yang pasti diselingi kata 'merepotkan'. Kata yang merupakan cara lainnya mengatakan 'aku mencintaimu'.
"Ini."
Shikamaru menarik tubuhku, mencium bibirku dengan kelembutan yang memabukkan.
~owari~
A/N. Sacrifice akhirnya selesaaaai! Huaa, seneng banget banget akhirnya multichapt pertama Gugigi berakhir dengan cukup manis :)
Review di chapter 1 sangat menyenangkan! Gugigi baca terus berulang-ulang dan ketawa sendiri kayak orang aneh -_- Review itu semua bikin Gugigi makin semangat buat nulis menulis, hehe.
Chapter 2 dibuat lebih pendek, maaf yaa. Ah iya, maaf juga karena genre-nya mengecoh. Genre Angst tapi gak ada yang mati. Awalnya emang Ino pengen dibikin mati, tapi kook, di tengah jalan jadi gak tega jadilah endingnya seperti ini #author labil.
Hehe, udah ketebak, ya, yang ditusuk itu Ino? Huaa, gugigi emang gak jago bikin cerita yang unpredictable, nih. Harap maklum, ya, kalo endingnya udah ketebak dan segala macem. Kan Gugigi masih menyandang title seorang Author Newbie. Harap maklum *bow 180 derajat*
Yoosh, makasih udah mau baca! Maaf kalo plotnya terkesan rush dan deskripsinya terlalu bertele-tele. Kok kesannya Ino cepet banget menyadari perasaannya ke Shika.. Entah, ya, mungkin cuman perasaan Gugigi aja.
Makasih buat zeroplus yang udah merhatiin kalo Gugigi bikin cover buat tiap fanfict. Seneeng banget ada yang sadar, hehe, meski covernya masih jelek, sih #authorsadardiri. Ah iya, senior magenta-alleth , Gugigi cewek, kok, hehe.
Mudah-mudahan pada suka, yaa! Akhir kata, mind to review?
