.

.

.

MIRROR

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru

Rate: T

Genre: Supernatural, Romance

Warning : Typos, BL, OOC, AU, dll...

.

.

.


NARUTO POV

.

Aku menghela nafas sambil terus menyapu halaman belakang rumahku. Dedaunan kering yang mulai memenuhi halamanku harus segara di kumpulkan dan di bakar. Namun... ketimbang mengerjakan hal ini, entah bagai mana aku jauh lebih tertarik dengan pikiranku sendiri.

"Namaku Uchiha Itachi."

Sekali lagi, suara itu terdengar di pikiranku.

"Hah..."

"Oy!"

Aku tersentak dan langsung menoleh ke arah beranda. Terlihat sosok lelaki berambut kemerahan, dengan iris ruby berdiri di sana. Namikaze Kyuubi. Iris Rubynya menyipit dan menatapku dengan tajam.

"Apa yang kau pikirkan? jangan menghela nafas seperti itu terus!" bentaknya.

"Hah... baiklah...," ucapku.

"Sudah kubilang jangan menghela nafas!"

Beletak!

"Aw!?"

Aku langsung memegang kepalaku yang terasa berdenyut sakit dan memandang Kyuu-nii yang baru saja melemparkan sendalnya hingga mengenai kepalaku. Ia menatapku dengan jengkel, namun juga dengan puas. Ugh... senang sekali melihatku menderita.

"Satu kebahagiaanmu akan berkurang kalau kau menghela nafas seperti itu!" ucapnya dengan nada serius. Aku mengangkat alisku mendengarnya. Tumben sekali Kyuu-nii berkata seperti itu. Sungguh, kata-kata yang sangat di luar perkiraanku keluar dari mulut seorang Namikaze Kyuubi.

"Wah... tumben sekali Kyuu-nii bisa berkata seperti itu!" ucapku kagum.

"Apa kau bilang!?" ucapnya marah sambil memandangku dengan pandangan kematiannya. Aku bergidik ngeri melihatnya dan langsung menggeleng dengan cepat.

"Ti, tidak! Bukan apa-apa kok Kyuu-nii! Ahahaha...," sangkalku sambil tertawa kaku. Kyuu-nii menatapku dengan mata yang di sipitkan. Aku hanya bisa memperlihatkan cengiranku sambil menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal. Lalu ia menatap ke tumpukan daun yang berhasil ku kumpulkan.

"Cepat bereskan itu!" perintahnya lalu langsung masuk ke dalam rumah lagi. Aku menghela nafas lega mendengarnya. Berurusan dengan Kyuu-nii, hanya akan menyebabkanmu terkena stroke atau bahkan serangan jantung!

Aku langsung merogoh sakuku dan mengeluarkan korek api. Dengan malas aku mulai membakas dedaunan kering yang berhasil kukumpulkan itu. Aku harus segera menyelesaikan ini. Hari semakin sore dan udara semakin terasa menusuk kulit. Bisa-bisa aku terkena flu bila terlalu lama di luar dengan hanya celana pendek dan kaos tipis ini.

Ctik. Ctik

Api telah muncul dan mulai melahap dedaunan itu dengan rakusnya. Aku memandang warna kemerahan yang panas itu dengan pandangan kosong. Kembali, aku teringat dengannya. Di tambah dengan ucapan Kyuu-nii brusan... "Satu kebahagiaanmu akan berkurang kalau kau menghela nafas seperti itu!"

Aku menghela nafas lalu memandang ke langit yang di tutupi gumpalan awan gelap.

Ya, aku telah kehilangan Kebahagiaanku Kyuu-nii. Bukan hanya 1 namun banyak kebahagiaanku.

Aku memejamkan kedua mataku dan menarik nafas panjanga. Mencoba mengisi paru-paruku dengan oksigen sebanyak mungkin agar rasa sesak dan terhimpit di dadaku menghilang. Namun percuma. Perasaan yang menyesakkan itu tetap saja ada.

"Ugh... lagi-lagi!" isakku sambil terus menyeka air mata yang tanpa sadar keluar kembali. Kenapa setiap mengingatnya aku selalu merasa sesak? Kenapa setiap mengingatnya aku selalu merasa rindu? Dan kenapa ia tidak pernah datang lagi ke mimpiku!?

"Sial! Kemana kau... Uchiha... Sasuke..."

.^_^.

(~_~)

=o=

NORMAL POV

.

Sosok tampan yang duduk di depan komputer itu melepas kaca matanya. Iris Onixnya menatap sosok yang ada di hadapannya dengan alis terpaut bingung.

"Ada apa kau mencariku?" tanya Itachi dengan bingung.

"Kenapa kau belum menyelidikinya juga?" tanya gadis berambut Soft Pink yang masih mengenakan seragam SMA-nya itu. Iris Emeraldnya berkilat marah memandang sosok Itachi. Itachi langsung memandang arlojinya. Sebelah alisnya terangkat.

"Kau tidak sekolah Sakura?" tanya Itachi bingung.

Brak!

Tangan putih Sakura langsung memukul meja yang ada di hadapannya dengan keras.

"Jangan bercanda Itachi. Jawab pertanyaanku," ucap Sakura dengan suara rendah. Itachi menghela nafas mendengarnya.

"Semua hal perlu proses Sakura. Kau tahu sendiri kenapa penyelidikannya jadi lebih lama bukan?" ucap Itachi dengan nada lelah. Sakura terdiam mendengarnya. Tentu saja ia tahu kenapa. Akan lebih cepat bila Sakura sendiri yang menyelidiki dan memastikannya, namun...

Sakura menarik nafas panjang. Dadanya kembali terasa sesak.

"Kuharap semua ini cepat selesai," gumam Sakura. Itachi tidak mengatakan apapun mendengarnya. Ia benar-benar mengerti perasaan Sakura.

"Jangan terlalu menyelahkan dirimua sendiri Sakura," ucap Itachi kemudian. Sakura menggeleng lemah. Entah sudah yang keberapa kalinya ia mendengar kata-kata itu. Ia benar-benar mengerti maksud ucapan itu. Ucapan yang mencoba untuk menghiburnya. Yang mencoba untuk sedikit memberikan 'kesejukan' untuk hatinya. Seulas senyuman langsung merekah di bibirnya.

"Aku tidak apa-apa, terimakasih... Niisan."

.^_^.

(~_~)

=o=

"Hachim!"

"Kau kenapa Naruto?" tanya Shikamaru sambil memandang Naruto. Pemuda berambut nanas itu menghentikan aktifitas menyapunya. Ya... mau bagai mana lagi? Meskipun ia benar-benar malas melakukannya (menyapu dan bersih-bersih), namun memang hari ini jadwal piketnya bersama Naruto.

"Entahlah... sepertinya aku mulai kena Flu," jawab Naruto. Ia mengelap hidungnya yang memerah dengan punggung tangan. Ternyata orang bodoh bisa sakit... pikir Shikamaru.

Naruto menghela nafas kembali. Matanya terasa perih dan berair, namu ia tidak mau terlalu lama berdiam diri dan lebih memilih untuk melanjutka membersihkan jendela kaca kelasnya. Dapat Naruto lihat suasana di luar sana. Pepohonan mulai melayukan daunnya dan menggugurkannya. Udara berhembus mengelitik kulitnya dan beberapa Siswa dan Siswi yang masih terlihat bersemangat melakukan kegiatan eskul di lapangan sekalipun udara dingin tengah berhembus menusuk kulit-kulit mereka. Namun yang menjadi perhatiannya saat ini adalah pantulan dirinya sendiri. Pantulan wajahnya yang terlihat kosong.

Kembali, Naruto mengingat sosok itu. Sosok yang mengganggu mimpinya. Sosok menyebalkan yang selalu bisa membuatnya marah. Sosok tampan yang bagaikan seorang malaikat. Dan kini... sosok itu sudah benar-benar menghilang. Sudah tidak pernah lagi mengunjungi mimpinya.

Naruto menarik nafasnya dan menghembuskannya kuat-kuat.

Percuma. Perasaan sesak itu masih menghujam dadanya. Rasanya... benar-benar sakit. Setiap kali teringat dengan sosok itu, mau tidak mau Naruto selalu merasa dadanya seolah ditindih beban yang berat sehingga ikut meremukkan jantungnya.

Sudah hampir 2 minggu... ya, sudah hampir 2 minggu Sasuke menghilang dari mimpinya. menghilang begitu saja tanpa ia ketahui apa sebabnya. Padahal Naruto sudah terbiasa dengan keberadaan Sasuke di mimpinya. Padahal ia sudah mulai menerima keberadaan Sasuke. Namun... kenapa tiba-tiba Sasuke menghilang? Apa sebabnya? Apakah ini salahnya?

"Oy! Naruto!"

"Eh? Y, ya Shika?" tanya Naruto kaget. Ia langsung sadar kalau sekarang ia sedang piket. Dengan terburu-buru Naruto mengelap jendela. Shikamaru menghela nafas melihat Naruto. Lengah sedikit Naruto pasti melamun. Mau tidak mau itu membuat Shikamaru sadar ada sesuatu yang terjadi.

"Hah... benar-benar merepotkan," gumam Shikamaru sambil memandang Naruto yang masih gelagapan membersihkan jendela.

"Eh? apa Shika?" tanya Naruto bingung sambil memandang Shikamaru yang berdiri di dekat papan tulis.

"Kau ada masalah apa Naruto? Dari tadi melamun terus," tanya Shikamaru to the point. Naruto mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan Shikamaru. Tumben sekali Shikamaru perhatian seperti ini. Entah bagai mana itu membuat perutnya terasa aneh.

"Ahahahaha... perhatian sekali kau Shika!" ucap Naruto geli. "Ada angin apa tiba-tiba kau perhatian sekali padaku? Wah... jangan-jangan kau naksir aku ya?" candanya.

"Baka."

"Apa katamu!?"

"Sudahlah... cepat selesaikan pekerjaanmu atau kau kutinggal," ancam Shikamaru. Ia jadi kesal sendiri dengan ucapan Naruto. Padahal niat Shikamaru baik, hanya ingin sedikit perhatian sebagai seorang teman, namun ucapan Naruto sukses membuat Shikamaru menyesal sudah sedikit perhatian kepadanya.

Naruto menggerutu mendengarnya dan saat Shikamaru memunggunginya, senyuman Naruto langsung mengembang. Arigatou Shika...

.^_^.

(~_~)

=o=

Tap.

Langkah Naruto terhenti. Iris safirenya memandang sebuah gang sempit dengan bingung. Dengan ragu-ragu Naruto mendekati gang itu. Naruto tidak mengerti kenapa, namun ia merasa ada sesuatu yang mengamatinya dari tadi.

"Aneh...," gumam Naruto bingung saat melihat bahwa itu hanyalah sebuang gang buntu. Naruto mengangkat bahunya lalu melangkah kembali menuju rumahnya. Ia harus segara sampai ke rumah sebelum hujan datang, terlebih sekarang sudah jam makan malam. Ia harus cepat.

"Haah... hampir saja ke tahuan," ucap gadis berambut blonde itu lalu keluar dari gang yang bersebrangan dengan gang yang di hampiri Naruto. Ino menghela nafas lega. Jantungnya hampir saja berhenti berdetak begitu Naruto sadar bahwa dirinya di ikuti.

"Ya, hampir saja," setuju gadis berambut soft pink itu. Ino menatap Sakura dengan jengkel.

"Sebaiknya kita berhenti mengikutinya Sakura, percuma saja. Kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan," gerutu Ino. Sakura menatap sahabatnya dengan ragu. Ia tahu apa yang di katakan Ino memang benar, namun...

"Jujur, sebenarnya aku mau saja membantumu Sakura, aku bisa menanyainya secara langsung tanpa harus bermain kucing-kucingan seperti ini, tetapi, kalau kau-"

"Tidak," sela Sakura. "Aku tidak mau melibatkanmu Ino, aku-"

"Baiklah, Baiklah, aku mengerti," sela Ino. Ia tidak mau memperpanjang masalah ini. Sakura tersenyum dengan reaksi sahabatnya itu.

"Kita pulang. Aku tidak mau membuat Okaasan marah," ucap Sakura lembut sambil melangkah ke arah sebaliknya dari Naruto. Ino setuju mendengarnya dan langsung mengikuti langkah Sakura. Ia sengaja berjalan di belakang Sakura. Ino tahu, saat ini perasaan Sakura sedang campur aduk. Dan di saat seperti ini, Sakura hanya perlu sendiri dengan dunianya sendiri.

Sakura... kenapa kau selalu mencari kesedihanmu sendiri? batin Ino begitu melihat bahu yang di pandangnya itu mulai bergetar. Dan di saat itulah Ino langsung merengkuh tubuh Sakura dalam pelukannya hingga isak tangis yang di tahan Sakura langsung pecah. Membuat kegelapan di sekitarnya menjadi terasa berat di sertai tangis kepedihan yang terdengar.

.^_^.

(~_~)

=o=

"Kyuu-nii, Oyasumi," ucap Naruto sambil memandang Kyuubi yang hendak masuk ke dalam kamarnya.

"Hoamn... Oyasumi," ucap Kyuubi dengan mengantuk lalu segera masuk dan menutup pintu kamarnya. Naruto menghela nafas lalu menutup pintu kamarnya juga. Kamarnya dengan Kyuubi yang berhadapan membuat Kyuubi ikut terbangun di pagi hari bila Kaasannya sudah membangunkan Naruto. Satu keuntungan untuk Kyuubi yang memang mudah terbangun namun juga kerugiannya bila ia dapat jam kuliah siang.

"Nnngggghhh... besok masih sekolah...," gumam Naruto sambil merenggangkan tubuhnya. Naruto menguap, lalu duduk di atas kasurnya.

Deg!

tiba-tiba jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Perutnya terasa menggeliat dan... ada perasaan gelisah yang mengelitik hatinya. Selalu perasaan ini. Entah bagai mana Narfuto selalu merasakan perasaan ini setiap kali ia akan tidur. Dan, hanya satu yang di pikirkannya.

Uchiha Sasuke.

Naruto menggigit bibir bawanya. Perasaan asing yang mengganggunya tiba-tiba terasa menyakitkan. Bagai mana bisa ia kembali berharap Sasuke akan muncul ke dalam mimpinya lagi?

Naruto menggelengkan kepalanya. Tidak... ia tidak boleh berfikir seperti itu. Sekarang yang harus ia lakukan adalah tidur. Ya, tidur dan melupakan kesedihannya, lalu terbangun dengan kena marah Kaasan dan berlarian di sepanjang jalan sama seperti pagi-pagi yang sebelumnya.

Ya, akan sama seperti saat Naruto, tidak perna mengenal sosok yang bernama Uchiha Sasuke.

.^_^.

(~_~)

=o=

Kedua kelopak mata itu terbuka. Memamerkan sepasang iris safire indah yang baru saja terbangun dari tidurnya. Naruto mengekerjab-kerjabkan matanya. Ia langsung bangun dan duduk di kasurnya. Kepalanya masi terasa kosong. Ia tidak bisa berfikir apapun selain satu hal yang pasti. Sasuke tidak ada di dalam mimpinya. Bahkan Naruto tidak yakin ia bermimpi di dalam tidurnya semalam.

Tes.

Butiran kristal cair itu jatuh dan pecah menghantam lantai. Naruto menggigit bibir bawahnya. Rasa sakit itu kembali. Perasaan kosong dan kerinduan yang amat sangat ini kembali menyerangnya. Benci... Naruto sungguh benci perasaan ini. Bagai mana ia bisa memiliki perasaan ini!? menagapa selalu saja seperti ini!?

Bukankah Naruto sudah memutuskan bahwa ia tidak akan mengingat Sasuke lagi!? jadi bagai mana bisa ia... masih terus berharap Sasuke muncul kembali ke alam mimpinya kembali? sungguh, Naruto benar-benar bingung. Sasuke hanyalah imajinasinya-ya, Naruto sudah memutuskannya. Namun... semua hal yang ia ingat tentang Sasuke tidak mengizinkannya untuk berfikir seperti itu.

Sasuke lebih dari sebuah imajinasi.

ya, Naruto yakin itu. Naruto yakin bahwa Sasuke itu nyata-entah dimana-namun pasti, Naruto yakin bahwa Sasuke yang ada di alam mimpinya... dengan Sasuke yang ada di dunia nyata adalah orang yang sama. Namun... semakin Naruto berfikir seperti itu, semakin dadanya terasa sakit, semakin nafasnya terasa sesak, semakin air matanya keluar membasahi piamanya.

"Sasuke... hiks... hiks..."

Naruto mencengkram dadanya. Sakit... di sini terasa sakit... Sasuke... dimana kau? di mana kau? aku ingin bertemu denganmu Sasuke... apakah kau membanciku? sebenarnya... ada apa denganku?

"Sasuke..."

TBC

.

.

.


Aish... akhirnya kluar juga chap-3. gomen ne yg nunggu kelanjutannya... gomen juga krna terlalu pendeka. ah, diriku lagi galau sma kyk Naru soalnya _ _*plak!

ne... langsung saja, yang baca, yang suka, jangan lupa riview y! :D

Arigatou! :D