.

.

.

MIRROR

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru

Rate: T

Genre: Supernatural, Romance

Warning : Typos, BL, OOC, AU, dll...

.

.

.


NARUTO POV

.

"Hoamn... uh, sial," gumamku jengkel sambil memandang ke depan. Pelajaran guru Kakashi memang sangat membosankan. Sudah membuatku mengantuk, apa yang diajarinya susah dimengerti lagi! aaaaahhhhh! menyebalkan! Guru sadis! guru jelek! guru-

"Namikaze Naruto."

"Eh?" aku memandang guru Kakashi dengan kaget. Oh gawat! aku lupa guru Kakashi bisa membaca pikiran! Aku menelan liurku. Tanganku mulai terasa dingin dan aku bisa melihat senyuman dari balik maskernya itu. Senyuman itu lagi... senyuman yang terlihat seperti seringai menurutku ketimbang 'senyum'an.

"Sepertinya kau sangat memperhatikan apa yang saya ajarkan, kalau begitu kau mau menjawab soal nomer 35 di papan tulis Naruto?" tawar guru Kakashi dengan nada ramah. Otomatis mataku langsung memandang ke papan tulis. Tidak ada soal di sana. Gawat! soalnya ada di buku ya!? Dengan panik aku langsung membuka buku yang sedari tadi tertutup di atas mejaku. Ya ampun.. di mana halamannya!? Halaman berapa yang harus aku buka!?

"Pst.. halaman 109," bisik Gaara yang duduk di belakangku. Ah! Arigatou Gaara! kau memang sahabatku! dengan cepat aku langsung membuka lembar demi lembar buku Matematikaku. Halaman 109... halaman 109...

"Sabaku no Gaara," ucap guru Kakashi sambil memandang Gaara. Aku langsung mendongak memandang Guru Kakashi begitu mendengar nama Gaara dipanggil. "Kau sungguh baik, bagaimana kalau kau juga ikut membantu Naruto? nomer 29 silahkan kau isi," lanjutnya.

Irisku memandang guru Kakashi dengan tidak percaya, lalu aku menoleh ke arah Gaara. Ia tidak menunjukkan ekspresi apapun dan hanya menatap buku yang ada di atas mejanya. Gaara menghela nafas lalu-

"Baik," ucap Gaara sambil bangkit dari kursinya. Aku menelan liurku, lalu memandang bukuku kembali. Aku langsung mencari-cari soal nomor 35. Aduh.. maafkan aku Gaara, gara-gara aku kau jadi...

"Apa yang kau tunggu lagi Naruto?" tanya guru Kakashi.

Deg!

Aku langsung menatap guru Kakashi. Aku menelan liurku, dapat kurasakan keringat dingin mengalir dari pelipisku. Tanpa sadar, cengiran merekah di bibirku.

"Ehehehe... Soal ini-"

"Kenapa dengan soalnya? Bukankah soal ini sangat mudah Naruto?" sela guru Kakashi sambil tersenyum ke arahku. Rasa kesalku memuncak. empat persimpangan langsung muncul di kepalaku.

"Ahahahaha! soal ini memang mudah! terlalu mudah untuk seorang Namikaze Naruto sepertiku!"

"Kalau begitu, kerjakan sekarang juga."

"Eh?"

"Kenapa? cepat kerjakan soal yang mudah ini Namikaze Naruto, kalau kau salah kau tinggal berdiri di depan pintu sambil menenteng 2 ember berisi air. Mudah bukan?"

EEEEHHHH!?

.^_^.

(~_~)

=o=

NORMAL POV

.

"Uh... sial!" gerutu Naruto sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. Masih dapat ia rasakan tangannya yang terasa berteriak sakit karena terlalu lama menenteng 2 ember air yang terisi penuh selama 1 jam pelajaran Matematika. Gaara menghela nafas menatap Naruto. Ia langsung membantu untuk memijat tangan Naruto.

"Eh? Arigatou Gaara," ucap Naruto bingung. Gaara memang sahabat yang baik... batin Naruto senang.

"Itu salahmu sendiri Naruto," ucap Gaara bijak. Tidak memperdulikan ucapan terimakasih Naruto.

"Eh? kenapa salahku?" tanya Naruto bingung. "Aku tidak melakukan apapun dan tahu-tahu dia menghukumku seperti itu!" gerutu Naruto tidak terima. Kiba langsung menjitak kepala Naruto begitu mendengarnya.

"Itu salahmu sendiri kenapa bergumam sambil meledeknya dan salah saat menjawab pertanyaan! Apa lagi kau berbicara sok seperti itu!" geram Kiba.

"Apa?" beo Naruto. Naruto mengusap-usap kepalanya dengan tangan satunya yang tidak dipijat Gaara. Ia menatap Kiba dengan bingung, lalu menatap Gaara. Bergumam? batinnya. Gaara menghela nafas, mengerti apa maksud Naruto.

"Kau bergumam selama pelajarannya... dan aku mendengar jelas kau bergumam mengejek guru Kakashi, Naruto," jelas Gaara. Naruto langsung menatap Gaara dengan horror. Jadi dari tadi ia bergumam meledek guru tanpa sadar!? Wajar saja guru Kakashi terlihat marah!

"Uh... bodohnya aku ini... aku harus meminta maaf ke Guru Kakashi...," gumam Naruto lesu. Kiba menyeringai mendengarnya.

"Wah... tumben kau sadar diri Naruto? biasanya juga tidak pernah seperti ini," ledek Kiba.

"Huh! bagai manapun aku yang salah, aku harus meminta maaf kan?" gerutunya. Naruto langsung mengerucutkan bibirnya, membuat ekspresi cemberut yang terlihat menyebalkan di mata Kiba.

"Menjijik kan, kau merajuk seperti anak perempuan," ucap Kiba dengan ekspresi horror. Empat persimpangan langsung muncul di kepala blonde itu.

"APA KATAMU-ITAI! Ga, Ga, Gaara!"

Gaara menguatkan pijatannya secara tiba-tiba. Mengingat kekuatan Gaara yang besar... bisa di perkirakan rasa sakit seperti apa yang sekarang diderita Naruto. Kiba sampai Horror memandang Naruto yang kesakitan. Ia bimbang. Antara kasihan dengan Naruto atau takut dengan 'ancaman' terselubung Gaara.

"jangan memulai pertengkaran," ucap Gaara singkat, padat dan jelas.

Glek!

Naruto dan Kiba sama-sama menelan liur mendengar perintah(ancaman) dari Gaara. Mereka langsung mengangguk dengan cepat. Tidak mau membangunkan iblis merah yang berada di dalam tubuh Gaara.

"Ha, Hai'!" ucap Naruto dan Kiba dengan kompak. Dalam seketika Naruto dan Kiba menjadi anak anjing yang penurut. Gaara menatap kedua sahabatnya sejenak, lalu menghela nafas. Ia melepaskan tangan Naruto dan secara refleks, Naruto langsung menarik tangannya. Menjauhkan dari 'ancaman' ke-2. Yah... bisa jadi akan ada ancaman ke-2 bukan?

"Tanganmu tidak apa-apa Naruto?" tanya Kiba khawatir.

"Entahlah, rasanya-eh? loh?"

Dengan bingung Naruto langsung menggerak-gerakkan tangannya. Ia menggerutkan kening. Aneh... sakitnya hilang?

"Aku tidak mungkin tega melukai sahabatku sendiri seperti itu," ucap Gaara begitu melihat ekspresi bingung Naruto. Senyuman kaku langsung muncul di bibir Naruto dan Kiba. Mereka langsung menggaruk belakang kepala mereka yang tidak gatal.

"Ehehehe... yah... sekali lagi, Arigatou Gaara."

.^_^.

(~_~)

=o=

"Fyuh~ dinginnya..." ucap pemuda berambut blonde jabrik itu. Rambutnya yang berantakan mencuat ke segala arah, seolah membeku karena udara yang dingin. Iris safirenya menatap ke arah jalan menuju rumahnya. Semuanya serba putih, dengan jalan tertutup salju yang licin. Tentu saja Naruto suka musim dingin, itu artinya ada salju, namun... Entah bagai mana saat ini ia tidak bersemangat untuk bermain gundukan putih yang dingin itu.

Wwhhuuuss~

Udara berhembus. menembus jaket milik Naruto dan menerpa kulit tannya. Sontak Naruto langsung bergidik. Rasa dingin seolah langsung menusuk hingga ke tulangnya.

"Hiii... aku benar-benar bisa mati beku!" seru Naruto sambil merapatkan jaket yang dikenakannya dan langsung mempercepat langkahnya. Ia ingin segera sampai di rumah dan menikmati kehangatan kamarnya. Atau paling tidak... semangkuk ramen hangat dengan asap mengepul di atasnya. Aah... hanya membayangkannya saja sudah membuat perut Naruto berbunyi. Ia jadi semakin tidak sabar untuk pulang ke rumahnya.

"Namikaze Naruto?"

"Eh?"

Naruto langsung menghentikan langkahnya. Ia agak kaget saat mendengar suara asing memanggil nama lengkapnya. Dengan bingung Naruto berbalik dan menatap sosok laki-laki yang berdiri di belakangnya itu.

Deg!

Iris Safire itu terbelalak kaget melihat sosok berambut hitam yang ada di hadapannya sekarang. Kilasan 2 bulan lalu kembali memenuhi kepala Naruto. Sosok yang sudah berhasil sedikit Naruto singkirkan dari hari-harinya yang kelam... bagai mana bisa sekarang Naruto-

"Maaf mengagetkan anda, nama saya Uchiha Sai," ucap sosok berambut hitam itu ramah. Bibirnya tersenyum dan ia agak sedikit membungkuk.

Naruto langsung menghela nafas lega mendengarnya. Ia merasa lega bukan kepalang sekarang. Sosok yang ada di hadapannya bukanlah sosok itu. Namun... mendengar namanya... Mau tidak mau membuat hatinya kembali terasa tergores. Ah... kenapa sekarang ia jadi merasa berharap lagi? bagai mana bisa sekarang ia menjadi sangat merindukan sosok itu kembali?

"Umn... dari mana kau tahu namaku?" tanya Naruto. Ia langsung menggigit bibir bawanya. Ucapannya tadi terasa familiar di pendengarannya sendiri. Dan... itu sungguh terasa sangat menyesakkan dadanya. Sai tersenyum mendengar pertanyaan itu.

"Saya menemui anda sebagai perwakilan dari keluarga Uchiha," ucap Sai.

"Perwakilan?" tanya Naruto bingung. Sai mengangguk mendengarnya.

"Ya, saya perwakilan dari keluarga Uchiha untuk menemui anda dan menjelaskan sebuah masalah... yang berhubungan dengan anda," jelas Sai. Kening Naruto terpaut mendengarnya. Bingung. Perkataan Sai justru menimbulkan berbagai pertanyaan baru di benak Naruto.

"Akan saya jelaskan lebih detail nanti. Bagaimana bila anda ikut dengan saya terlebih dahulu?" tawar Sai.

"Kemana?" tanya Naruto. Bisa jadi kalau Sai ini penculik bukan? Walau Sai mengenakan stelan jas yang terlihat mahal dan wajahnya... umn, terlihat masih seumuran dengan Naruto, tidak menutup kemungkinan orang ini adalah seorang penculik. Siapa tahu penculik tingkat atas. Walau sering diledek bodoh, begini-begini Naruto juga punya alarm tanda bahaya di otaknya.

Sai tersenyum mendengar pertanyaan Naruto. Wajar bila Naruto merasa curiga. Bagai manapun, Sai adalah orang asing. Mana mungkin Naruto langsung mempercayainya bukan?

"Kita akan ke tempat Uchiha Sasuke berada."

.^_^.

(~_~)

=o=

Sosok gadis berambut soft pink itu menghela nafas. Iris emeraldnya menatap sahabatnya yang berambut blonde yang tengah duduk di sampingnya. Sebuah senyuman terukir di parasnya, walau dadanya masih terasa sesak. Ah... berada di ruangan ini memang selalu membuat dadanya sesak dan sakit.

"Jadi hari ini dia akan datang?" tanya Ino. Memulai percakapan.

"Ya," jawab Sakura. "Aku.. agak kurang yakin, namun seperti kata Niisan, Namikaze sudah lebih baik sekarang, mungkin dia akan syoc nanti... tapi..."

"Jadi itu rencananya?" sela Ino. Sakura menatap Ino dengan bingung. "Itachi-nii mengawasi si Uzumaki dan mencari info tentangnya sambil menunggu keadaan mental si 'wadah'?" jelas Ino. Sakura mengangguk mendengarnya.

"Ya," jawabnya. Iris emerald itu lalu langsung menatap kasur yang ada di hadapannya. Sosok laki-laki yang terbaring tidak sadarkan diri itu berada di sana. Dengan kulit pucat dan dada yang naik turun dengan ritmen yang teratur. Ia terlihat tenang, seolah-olah tengah tertidur. Ya, tidur yang panjang.

"Apa artinya Sasuke akan bangun kalau 'wadah' sementaranya itu datang?" tanya Ino.

"Aku... tidak tahu," jawab Sakura. "Semua tergantung dari Sasuke sendiri... aku tidak yakin."

Ino langsung menggenggam sebelah tangan Sakura. Sakura tersentak, lalu menoleh memandang sahabatnya.

"Dia pasti bangun," ucap Ino. "Aku yakin itu," tambahnya.

Sakura tersednyum mendengarnya. Ada perasaan senang dan lega begitu mendengarnya. Ya, bagai manapun ia akan terus berharap seperti itu bukan? Sasuke akan sadar.

"Ya," ucap Sakura akhirnya.

Ceklek!

Pintu terbuka, membuat 2 orang yang tengah duduk di sofa itu seketika bangkit. Melihat siapa yang datang. Tentu saja mereka tahu siapa, namun... tetap saja mereka ingin memastikannya. Ino dan Sakura langsung berbalik memandang ke arah pintu. Disana... berdiri 3 sosok yang sangat mereka kenal. Itachi, Sai dan... Naruto.

"Ah, maaf sudah membuat kalian menunggu lama," ucap Itachi ramah lalu mulai masuk ke dalam ruangan itu.

"Tidak apa-apa," jawab Ino. Matanya masih menatap Naruto yang terlihat bingung, namun juga penasaran. Dengan ragu Naruto melangkah memasuki Ruangan itu. Ia agak kaget saat melihat Sakura dan Ino berada di tempat itu. Namun, Naruto segera sadar. Bukankah Ino dan Sakura memang mengenal sosok itu?

Ah ya... saat itu bukankah Sakura yang menyebutkan nama itu? Orang pertama yang membuat Naruto yakin bahwa sosok itu bukanlah sebuah Imajinasi. Namun, seperti biasa. Naruto tidak pernah mau mendekat ataupun bertanya kepada Sakura ataupun Ino. Bukannya ia tidak mau bertanya hanya saja... akan sangat menyakitkan bila menyebut nama itu. Ah, mengingat nama itu saja sudah membuat dadanya terasa tersayat. Tidak, jangan lagi... batin Naruto. Ia menghela nafas, lalu menadang ke tengah-tengah ruangan itu.

Deg!

Jantung Naruto langsung terasa berhenti berdetak melihatnya. Iris safirenya melihat sosok yang sangat familier itu terbaring di atas kasur yang berada di tengah-tengah ruangan. Sosok... yang tidak asing baginya. Sosok yang terbaring di kasur itu... Tidak salah lagi. Itu memang dia.

"Uchiha... Sasuke?" gumam Naruto dengan tidak percaya. Matanya terasa panas melihat sosok yang selama ini menghilang dari mimpinya kini... berada di hadapannya. Dadanya terasa sesak. Ada kebahagiaan yang menjalar, namun juga... perasaan sedih yang meremukkan jantungnya. Dan anehnya... ada perasaan aneh yang seolah menuntunnya untuk lebih dekat lagi dengan tempat Sasuke. Kakinya melangkah dengan sendirinya. Secara berlahan... dan dengan pasti mendekati sosok itu.

Tap.

Naruto menghentikan langkahnya. Ia agak kaget begitu tangannya di tahan seseorang. Dengan bingung, Naruto langsung menatap Sakura. Ya, Sakuralah yang menahan tangan Naruto. Iris emerald dari gadis itu menatap Naruto dengan tajam.

"Jangan dekati dia," ucap Sakura dengan suara rendah dan nada yang mengancam. Alis Naruto terpaut mendengarnya. Ia menatap orang-orang yang berada di ruangan itu satu persatu. Itachi, Sai dan Ino. Ah... benar juga. Ia tidak sendirian di ruangan ini. Sakura langsung melepaskan tangan Naruto. Sadar Naruto akan menuruti ucapannya.

"Sebaiknya... kau jangan lebih mendekati Sasuke lebih dari ini," ucap Ino kemudian. Naruto langsung menatap Ino begitu mendengarnya.

"Kenapa?" tanyanya agak tidak setuju.

"Karena akan sangat berbahaya jika benar kau adalah 'wadah' Sasuke," ucap Sai.

Wadah? batin Naruto bingung.

"Apa yang kau rasakan sekarang Naruto?" tanya Itachi sambil menatap Naruto. Naruto langsung memandang Itachi. Ia agak bingung dengan pertanyaan itu namun tidak terlalu memikirkannya. Kembali, Iris itu menatap sosok yang terbaring di atas kasur itu. Naruto menggigit bibir bawahnya.

"Rasanya... sakit, tapi juga bahagia... jantungku berdebar-debar..." jawb Naruto. Lalu ia menunduk. Memandang kakinya yang bergerak gelisah di balik sepatunya. "Entah kenapa rasanya juga... tubuhku lemas."

"Begitukah?" gumam Itachi sambil menatap saudaranya yang terbaring di atas kasur. Itachi menatap sosok Sasuke dengan iris onixnya. Ada kesedihan setiap kali menatap adiknya, namun...

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Naruto bingung sambil menatap Itachi. Onix itu melihat iris safire yang ada di sampingnya itu. Terdapat luka, namun juga rasa penasaran dari kebiruan iris yang bagaikan langit itu. Itachi tersenyum.

"Sebelumnya... bolehkah aku bertanya duluan?" tanya Itachi. Naruto hanya diam mendengarnya. "Dari mana kau mengenal Sasuke, adikku itu?"

Naruto mengigit bibir bawahnya kembali mendengar pertanyaan itu. Ingatan yang selama ini ia coba hapus kembali memenuhi pikirannya. Menggoreskan luka bertabur garam di hatinya. Mata Naruto terasa panas. Ia ingin menangis. Tidak! ia tidak boleh menangis! bagai manapun... bukankah Itachi-san adalah kakaknya? Kakaknya Sasuke?

"Aku... bertemu Sasuke di mimimpiku sekitar 2 bulan yang lalu," jawab Naruto kemudian. Dadanya terasa sesak begitu mengatakannya.

"Mimpi?" ucap Sakura bingung. Naruto mengangguk.

"Ya, dulu Sasuke sering sekali datang ke mimpiku setiap kali aku tertidur. Namun... sekarang tidak lagi," jelas Naruto. Ia menunduk. Entah bagai mana mengucapkannya terasa begitu menyakitkan. Padahal ada sosok Sasuke di hadapannya, namun kenapa... justru Naruto merasa semakin jauh dengan Sasuke?

"Itachi-san... ternyata memang benar Namikazelah wadah Sasuke-san. Bukankah berbahaya bila dia berada di sini?" tanya Sai dengan nada khawatir. Naruto mengangkat wajahnya mendengar hal itu. Berbahaya?

"Tenanglah... Naruto tidak akan terlalu lama berada di sini," ucap Itachi. "Nah Naruto... bagai mana bila kita keluar? aku akan menjelaskan semuanya di luar," lanjutnya sambil menatap Naruto.

Naruto menatap Itachi dengan ragu, lalu menatap ke arah Sasuke. Ia tidak mau meningglakan Sasuke tetapi...

"Pergilah, biar kami yang menjaga Sasuke. Aku tahu kau pasti khawatir dengannya juga bukan?" ucap Ino ramah. Naruto langsung menatap Ino. Agak kaget dengan ucapannya, namun Naruto langsung tersenyum lalu mengangguk singkat. Entah bagia mana Naruto terasa tidak bisa untuk bersuara saat ini. Kerongkongannya terasa kering dan tercekat.

"Baiklah kalau begitu. Naruto, ayo ikut aku," ucap Itachi sambil melangkah meninggalkan ruangan itu. Dengan segera Naruto mengikuti Itachi dari belakang. Meninggalkan ruangan, dimana Sasuke berda. Satu hal yang membuat Naruto bahagia, Sasuke ternyata... bukanlah imajinasinya. Hal yang selama ini ia pikirkan memang benar. Namun... melihat keadaan Sasuke yang sekarang mau tidak mau membuat Naruto sedih. Sasuke ternyata... tidak sadarkan diri. Lalu, sebenarnya Sasuke itu... siapa? begitu banyak pertanyaan-pertanyaan muncul di benaknya. Naruto menunduk. Semoga saja... apapun itu, hal ini dapat cepat berakhir dengan baik. Batinnya.

TBC

.

.

.


Chap 4 Jadi! :D

ne... hubungan sakura ma sasuke... ap emk kliatan kyk pacaran? ehehehe... bukan kok. tenang, mereka gk pacaran tapi emk... umn, mereka deket =^=V

untuk pertanyaan Sesuke kenapa, d jawab d chap depan o.o+ nanti juga bakal k thuan tuh, reaksi naruto yg tkut hntu jd kyk ap wktu thu 'kebenaran'nya OxO

n untuk yg mem-fav n follow, untuk yg meriview n rela nunggu lama ni fic update, ak bnr" ngucapin TERIMAKASIH untuk kalian semua! hiks... QAQ *terharu*

Ne, sekali lagi, sama seperti biasa. Mohon R n Rny kembali (_ _)