.
.
.
"Aku... bertemu Sasuke di mimimpiku sekitar 2 bulan yang lalu," jawab Naruto kemudian. Dadanya terasa sesak begitu mengatakannya.
"Mimpi?" ucap Sakura bingung. Naruto mengangguk.
"Ya, dulu Sasuke sering sekali datang ke mimpiku setiap kali aku tertidur. Namun... sekarang tidak lagi," jelas Naruto. Ia menunduk. Entah bagai mana mengucapkannya terasa begitu menyakitkan. Padahal ada sosok Sasuke di hadapannya, namun kenapa... justru Naruto merasa semakin jauh dengan Sasuke?
"Itachi-san... ternyata memang benar Namikazelah wadah Sasuke-san. Bukankah berbahaya bila dia berada di sini?" tanya Sai dengan nada khawatir. Naruto mengangkat wajahnya mendengar hal itu. Berbahaya?
"Tenanglah... Naruto tidak akan terlalu lama berada di sini," ucap Itachi. "Nah Naruto... bagai mana bila kita keluar? aku akan menjelaskan semuanya di luar," lanjutnya sambil menatap Naruto.
Naruto menatap Itachi dengan ragu, lalu menatap ke arah Sasuke. Ia tidak mau meningglakan Sasuke tetapi...
"Pergilah, biar kami yang menjaga Sasuke. Aku tahu kau pasti khawatir dengannya juga bukan?" ucap Ino ramah. Naruto langsung menatap Ino. Agak kaget dengan ucapannya, namun Naruto langsung tersenyum lalu mengangguk singkat. Entah bagia mana Naruto terasa tidak bisa untuk bersuara saat ini. Kerongkongannya terasa kering dan tercekat.
"Baiklah kalau begitu. Naruto, ayo ikut aku," ucap Itachi sambil melangkah meninggalkan ruangan itu. Dengan segera Naruto mengikuti Itachi dari belakang. Meninggalkan ruangan, dimana Sasuke berda. Satu hal yang membuat Naruto bahagia, Sasuke ternyata... bukanlah imajinasinya. Hal yang selama ini ia pikirkan memang benar. Namun... melihat keadaan Sasuke yang sekarang mau tidak mau membuat Naruto sedih. Sasuke ternyata... tidak sadarkan diri. Lalu, sebenarnya Sasuke itu... siapa? begitu banyak pertanyaan-pertanyaan muncul di benaknya. Naruto menunduk. Semoga saja... apapun itu, hal ini dapat cepat berakhir dengan baik. Batinnya.
.
.
.
.
.
.
MIRROR
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : SasuNaru
Rate: T
Genre: Supernatural, Romance
Warning : Typos, BL, OOC, AU, dll...
.
.
.
NARUTO POV
.
Aku menggigit bibir bawahku. Perutku terasa bergeliat aneh, tanganku juga terasa dingin. Mau di apakan lagi? aku benar-benar gugub sekarang. Aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya kuat-kuat. Mencoba sedikit menghilangkan rasa gugubku. Kupandang sosok yang duduk di hadapanku itu.
Iris Onixnya memandang ke luar jendela dengan pandangan tedu. Rambut hitamnya yang panjang di kuncir jatuh kebelakang. Warna kulitnya yang putih benar-benar kontras dengan warna mata dan rambutnya. Wajahnya... ya, tentu saja tampan. Namun... wajah itu seperti menyimpan sesuatu. Aku tidak tahu apa itu. Bahkan yang di pikirkannyapun aku tidak tahu. Yang aku tahu, bahwa sosok yang duduk berhadapan denganku ini bernama Uchiha Itachi. Ya, dia dari keluarga Uchiha, Kakaknya Sasuke.
Aku menghela nafas. Sejak ia mengajakku ke cafe yang berada di samping rumah sakit, ia tidak mengatakan apapun. Bahkan sejak kami memilih tempat duduk di samping kaca yang menghadap ke jalanan penuh salju. sepertinya ia jauh lebih tertarik memperhatikan warna putih itu ketimbang keberadaanku sendiri. Ini benar-benar membuatku jengkel, juga gugub. Aku benci situasi seperti ini. Aku sudah cukup gugub untuk mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa aku ikut terlibat, namun dia... haah! sifatnya yang mendiamiku seperti ini justru memperparah keadaanku!
"Pesanan Anda Tuan."
Aku tersentak lalu langsung memandang pelayan wanita yang mengantarkan pesanan kami. 2 gelas Cappucchino hangat di taruh di atas meja kami. Aku tidak tahu apakah Itachi-san menyukai Cappucchino atau tidak, tetapi saat pelayan itu datang dan menanyai apa pesanan kami, dia tidak bereaksi sama sekali. Jadi, tidak apa-apa kan aku memesankannya minuman? salahnya sendiri bila seandainya dia tidak mau meminumnya.
"Silahkan menikmati," ucap Pelayan itu ramah lalu meninggalkan kami. Aku menghela nafas lalu memandang ke arah Itachi-san kembali. Ia masih memandang ke arah luar. Alisku terpaut bingung. Sebenarnya apa yang dilihatnya di luar sana? bukankah hanya ada salju dan beberapa mobil yang hilir-mudik?
"Itachi-san?" akhirnya aku berani memanggilnya. Suaraku terdengar parau, bahkan di pendengaranku sendiri. Itachi-san terlihat kaget mendengar panggilanku lalu ia menoleh memandangku. "Sebenarnya apa yang ingin Itachi-san katakan?" tanyaku to the point.
Itachi-san menatapku dengan ragu begitu mendengar pertanyaanku.
"Umn... Naruto, apa kau percaya dengan... roh yang keluar dari tubuhnya... namun sebenarnya orang itu masih hidup dan belum mati?" tanya Itachi. Alisku terpaut bingung mendengarnya. Ha? apa maksudnya? Aku mencoba mencerna ucapannya, namun tetap saja... sekeras apapun aku mencoba untuk mengerti tetap saja kata-kata Itachi-san sangatlah membingungkan.
"Aku tidak mengerti," ucapku jujur. Menyerah untuk memaksa otakku berfikir lebih keras dari ini.
"Baiklah... singkatnya, apakah kau percaya bahwa orang hidup dapat mengeluarkan rohnya?" ucap Itachi-san.
Ia terlihat ragu sendiri dengan ucapannya. Onixnya menatapku dengan teliti. Memperhatikan reaksi apa yang akan aku tunjukan dari informasi membingungkannya.
"Umn... maksudnya?" tanyaku. Baiklah... yang aku tahu, orang meninggal itu karena di dalam tubuhnya tidak ada roh. Lalu... kenapa bisa orang hidup tanpa roh? apa itu? penemuan baru kah? kalau benar orang seperti benar-benar ada...
Glek!
Aku menelan liurku. perasaan ngerti tiba-tiba menjalar dari tengkuk hingga punggungku.
"Mana mungkin ada orang yang... seperti itu kan?" tanyaku ragu. Ah... ya, tidak mungkin ada. Tenanglah Namikaze Naruto... tenanglah... hal seperti itu tidak mungkin ada. Kutatap Itachi-san dengan ngeri. Berharap apa yang aku bayangkan tidaklah nyata. Namun senyumannya sepertinya berkata lain.
"Tentu saja ada."
EH!?
"Ahahaha... sudah kukira reaksimu akan seperti itu Naruto," ucap Itachi-san geli. Aku menatap Itachi-san dengan pandangan horror sekaligus marah.
"Itachi-san... bila Anda mengajak saya berbicara hanya untuk hal omong kosong seperti ini, lebih baik saya pergi," ucapku jengkel dan serius. Itachi-san berhenti tertawa mendengarnya. Senyumannya menghilang. Sungguh, ini benar-benar tidak lucu. Menjadikan rasa takut seseorang sebagai lelucon. Hah! Ini benar-benar menjengkelkan!
"Tentu saja aku serius Naruto," ucap Itachi-san. Ia menatapku dengan serius. Tidak ada tawa lagi di bibirnya. Aku menelan liurku. Kali ini aku benar-benar merasa ngeri. "Keluarga Uchiha... memiliki kemampuan khusus. Kemampuan yang berbeda dengan orang lain pada umumnya."
Aku hanya diam mendengarnya. Mendengarkan.
"Keluarga Uchiha... sejak dahulu memiliki kemampuan untuk berpindah roh. Kami bisa berpindah roh kapanpun kami mau, namun dengan resiko... nyawa kami sebagai taruhannya. Roh, bagai manapun, memerlukan raga untuk tempatnya. itu sebabnya, roh seorang Uchiha memerlukan tempat atau wadah untuk menampung roh itu selama ia tidak berada di dalam tubuh aslinya," jelas Itachi-san. Irisku menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
"Tu, tunggu dulu! jadi maksudnya... kalian semua bisa-"
"Tidak seluruh uchiha bisa," sela Itachi-san. "Hanya 10:1 keturunan Uchiha yang bisa melakukan hal itu," jelasnya.
"Jadi... apa hubungan semua itu denganku?" tanyaku dengan suara kecil. Aku benar-benar merasa aneh dengan semua ini. Sebenarnya apa hubungan keluarga Uchiha denganku? kenapa mereka sampai...
"Tentu saja ada Naruto, kau adalah wadah dari Uchiha Sasuke, adikku."
Aku menatap Itachi-san dengan tidak percaya. A, apa tadi katanya?
"Kami... menyebut raga sementara yang di gunakan roh keluarga Kami adalah... 'wadah' dan kau adalah Wadahnya Sasuke. Roh Uchiha Sasuke berada di dalam tubuhmu, Naruto."
.^_^.
(~_~)
=o=
NORMAL POV.
.
"Sakura-chan."
Sakura yang tengah duduk di sofa langsung mendongak ke sampingnya. Menatap Sai yang berdiri di dekatnya. Ia tersenyum menatap Sakura. Sai langsung duduk di samping Sakura dan menatap iris emerald itu dengan pandangan sendu.
"Sebentar lagi semua ini pasti selesai," ucap Sai lembut. Sakura menggeleng mendengarnya.
"Belum. AKu belum merasa ini selesai sebelum-" Sakura terdiam. Iris Emeraldnya terbelalak begitu merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Sai, menempelkan telunjuknya di bibir Sakura. Menghentikan ucapan yang akan terucap dari bibir itu.
"Sudah kubilang, semua ini sebentar lagi pasti selesai. Dan semua ini, bukan karena salahmu Sakura-chan," ucap Sai. Ditatapnya Iris emerald indah itu dengan lembut. Sakura menunduk. sudah berapa banyak orang yang mengatakn hal serupa kepadanya? Ino, Itachi dan kedua orang tua Sasuke. Semuanya mengatakan hal yang sama. Sakura manggigit bibir bawahnya lalu menyandarkan kepalanya di bahu bidang Sai. Dengan sigap Sai langsung merangkul Sakura dalam pelukannya. Memeluknya dengan hati-hati seolah Sakura adalah kristal mahal yang akan hancur bila ia sedikit saja ceroboh.
"Tenanglah Sakura-chan...," ucap Sai lembut saat mendengar isakan-isakan kecil dari tubuh yang di peluknya. "Percayakan semuanya kepada Namikaze, sekarang hanya dialah harapan kita satu-satunya."
.^_^.
(~_~)
=o=
"Apa... maksudnya itu?" tanya Naruto dengan syock. Iris Safire itu menatap sosok yang duduk di hadapannya dengan tidak percaya. Mendengar hal itu... Mendengar bahwa roh Uchiha Sasuke berada di dalam tubuhnya mau tidak mau membuat kepala Naruto mulai terasa pusing. Bagai mana bisa? Bagai mana bisa ternyata Naruto menjadi Wadahnya Sasuke!?
"Bukankah aku sudah mengatakan bahwa yang bisa menggunakan kekuatan ini hanyalah 10:1 di keluarga kami-Uchiha? Dan... ternyata Sasuke menjadi 1 dari 10 itu. Kami atau bahkan Sasuke sendiri tidak mengetahui hal itu. Kami baru mengetahui kekuatan itu berada di tubuh Sasuke sekitar 5 bulan yang lalu saat Sasuke mengalami kecelakaan ketika... mencoba menolong Sakura dari tabrakan mobil."
Itachi terdiam saat mengatakannya. Mau tidak mau ia jadi teringat di malam itu. Saat ia mendapatkan telfon dari rumah sakit. Itachi ingat, betapa ia sangat panik dan khawatir saat mengetahui adiknya mengalami kecelakaan mobil. Itachi menarik nafasnya lalu menghembuskannya kembali. Tidak... Saat ini ia harus menjelaskan semuanya kepada Naruto. Ya, ia harus menjelaskan semuanya agar semua ini selesai. Agar Sasuke kembali lagi ke tubuhnya.
"Kecelakaan?" tanya Naruto bingung.
"Ya," jawab Itachi. "Saat itu Sakura tengah mengantar file kerja Sasuke yang tertinggal di rumah, tapi karena hari sudah malam, Sasuke berniat mengantar Sakura begitu meetingnya selesai. Namun... saat Sakura hendak menyebrang jalan meninggalkan Sasuke karena ia menolak tawaran itu, terjadi kecelakaan itu. Sasuke yang berada di dekat Sakura sempat menyelamatkan Sakura, namun tidak dengan menyelamatkan dirinya sendiri," jelas Itachi.
Naruto terdiam mendengarnya. Membayangkan apa yang terjadi saat itu... Ia menunduk. Entah bagai mana dadanya terasa sesak. Sasuke... mau mengantar Sakura pulang? Dan ia rela mengorbankan dirinya demi Sakura? Ah... pantas saja Sakura selalu terlihat seperti itu. Ia sepertinya begitu menjaga Sasuke. Mereka sudah pasti sepasang kekasih bukan? Bukankah mereka serasi?
"Sejak itu Sasuke tidak pernah sadarkan diri," ucap Itachi. Naruto langsung mengangkat wajahnya kembali. Menatap Itachi yang duduk di hadapannya. Dadanya masih terasa sesak. Perasaan... yang entah bagai mana benar-benar mengganggunya. "Menurut Dokter, cedera yang di alami Sasuke tidaklah parah. Tidak ada sedikitpun luka di tubuh Sasuke ataupun gangguan di otaknya yang membuatnya akan koma. Namun... Sasuke tetap tidak sadarkan diri. Bahkan di saat seluruh cedera di tubuhnya sembuh. Ia tidak pernah sadar. Hingga akhirnya kami menyadari bahwa Sasuke telah melakukannya. Mengeluarkan rohnya dari raganya."
Itachi terdiam. Ia menatap Naruto yang balas menatapnya. Naruto menarik nafas, lalu menunduk. Menatap cappucchinonya yang mulai dingin. Dengan lesu Naruto mengaduk-aduk cappucchinonya. Kepalnya terasa berputar sekarang sama halnya dengan Cappucchino yang diaduknya. Hal ini entah bagai mana terasa benar-benar berat untuknya.
"Kenapa... aku di jadikan wadah Sasuke?" tanya Naruto kemudian. Kenapa ia yang tidak pernah mengenal Sasuke harus menjadi wadah Sasuke? Kenapa ia menjadi wadahnya Sasuke?
"Seseorang... dapat menjadi wadah hanya karena 2 alasan Naruto. Pertama, karena orang itu masih memiliki hubungan darah dengan keluarga Uchiha dan yang kedua, karena Wadah itu sendiri memiliki ketertarikan dengan roh Uchiha," jelas Itachi.
"Aku tidak pernah mengenal Sasuke sebelumnya dan bahkan aku yakin aku tidak pernah menjadi keturunan ataupun keluarga Uchiha," sangkal Naruto. Ia benar-benar lesu. Entah bagai mana sekarang semua itu terasa tidak penting lagi. Satu hal yang sangat mengganggu pikirannya. Sasuke kekasih Sakura. Aah... kenapa ia begitu merasa sedih mengetahui hal ini? Hal ini benar-benar-
"Ya," setuju Itachi "Namun Sasuke mengenalmu. Sepertinya adikku tertarik denganmu, Naruto."
Deg!
Naruto langsung mengangkat wajahnya mendengar hal itu. Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Wajahnya terasa panas dan... entah bagai mana ia merasa benar-benar senang mendengar hal itu. Naruto langsung menggelengkan kepalanya. Mencoba menjernihkan pikirannya.
"A, Apa maksudnya itu Itachi-san?" tanya Naruto. Mencoba untuk meluruskan apa yang baru saja Itachi katakan.
"Aku juga tidak mengerti... Aku sudah menyelidikimu, dan mencari beberapa data pribadi adikku," ucap Itachi. Naruto menggerutkan keningnya mendengarnya. Menyelidikinya? jadi Itachi menyelidikinya selama ini? "Hasilnya... sangat mengejutkanku."
"Tolong... jelaskan lebih detail Itachi-san," pinta Naruto. Itachi tersenyum mendengarnya.
"Maaf, aku tidak bisa mencampuri privasi adikku lebih dari ini," tolak Itachi. "Kau hanya perlu tahu satu hal yang pasti Naruto. Saat ini, kau adalah wadah Sasuke. Dan... nyawamu dan nyawanya berada dalam bahaya."
"Kenapa?" tanya Naruto. Sungguh, ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa lagi. Itachi benar-benar membuatnya merasakan hari penuh kejutan. Tentu saja, dalam artian lain. Dan kali ini... Itachi sukses membuatnya bingung entah untuk yang keberepa kalinya.
"Bukankah aku sudah mengatakannya? Bagai manapun, Roh memerlukan raga untuk tempatnya. Dan Roh Sasuke... sudah terlalu lama keluar dari raganya. Bila lebih lama dari ini, Sasuke akan meninggal," jelas Itachi.
Naruto mengigit bibir bawanya mendengar hal itu. Dadanya terasa bergemuruh kembali.
"Apa... apa yang harus aku lakukan agar Sasuke kembali ke tubuhnya?" tanya Naruto. Ia tidak mau Sasuke meninggal. Tidak. jangan... jangan sampai Sasuke meninggal. Bila itu terjadi... Sungguh, Naruto tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri. Karna bagai manapun, Sasuke berada di dalam tubuhnya saat ini... dan ia tidak bisa kembali. Secara tidak langsung meninggalnya Sasuke akan menjadi tanggung jawabnya. Ya, ini sudah menjadi tanggung jawabnya.
"Kami mempunyai sebuah cermin. Cermin itu akan membantu Sasuke keluar dari tubuhmu dan kembali lagi ke tubuhnya. Kau hanya perlu berdiri di cermin itu dan Sasuke akan kembali ke tubuhnya," ucap Itachi. Senyuman Naruto mengembang mendengarnya.
"Semudah itukah? Kalau begitu-"
"Tidak semudah itu Naruto," sela Itachi. "Mudah untuk berdiri di depan cermin itu bila di dalam tubuhmu tidak ada roh seorang Uchiha. Berdiri di depan cermin itu, sama seperti mempertaruhkan nyawamu. Tentu saja roh Sasuke akan kembali ke tubuhnya bila kau berdiri di cermin itu, namun bisa jadi rohmupun akan keluar dan takkan pernah bisa kembali lagi ke tubuhmu. Dengan kata lain kau akan meninggal."
"Ja, jadi... bagai mana caranya aku..." Naruto sengaja tidak melanjutkan ucapannya. Ia tidak sanggub untuk mengatakan 'bagai mana caranya agar dia tidak mati?'. Memikirkan hal itu benar-benar membuat Naruto takut. Perutnya mulai terasa bergeliat aneh setiap kali memikirkan kata-kata itu.
"Mulai dari besok, selama 1 Minggu aku akan melatij fisikmu. Untuk melakukannya, agar nyawamu tetap selamat, kau harus berada dalam keadaan sehat. Sangat sehat. Kau mau kulatih Naruto?" tanya Itachi.
"Ya, aku mau Itchi-san," jawab Naruto langsung. Ada kemungkinan dia dapat menolong Sasuke. Kesempatan, takkan dilewatklan Naruto. Ya, dia seudah bertekat. Kali ini, dia akan menyelamatkan Sasuke... dan juga nyawanya sendiri.
.^_^.
(~_~)
=o=
Tok. Tok. Tok.
terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar kamar itu. Kyuubi yang masih berada di dalam selimutnya menggerang jengkel dengan suara kecil yang mengusik tidurnya. Udara dingin di pagi hari benar-benar membuatnya malas untuk bangun, terlebih sekarang sedang musim dingin. Benar-benar membuatnya menjadi malas untuk keluar dari tempat hangat di dalam selimut itu.
"Kyuu... bangun! Kau bilang ada kuliah pagi hari ini bukan?" ucap Kushina. Dia agak berteriak sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Kyuubi. Yah... berbeda dengan Naruto. Kyuubi lebih muda dibangunkan. Hanya dengan suara kecil saja, Kyuubi akan langsung terbangun. Dan Kushina yakin, anak sulungnya ini sudah terbangun dari tidurnya.
"Iya... aku sudah bangun," geram Kyuubi sambil bangkit dari kasurnya. Ia agak jengkel bila harus di bangunkan di pagi hari. Tentu saja, bila tidk mengingat jadwal Kuliahnya hari ini, Kyuubi akan terus tidur sampai jam 12 sekalipun. Mau di apakan lagi? Kyuubi benar-benar susah tidur. Hanya dengan suara kecil, itu akan membuatnya langsung terbangun. Akhirnya, dengan membawa handuk yang di gantungkan di pundaknya, Kyuubi berjalan keluar dari kamarnya.
Langkah Kyuubi langsung terhenti begitu selangkah keluar dari kamarnya. Terlihat Kaasannya tengah bingung menatap kamar Naruto yang terbuka. Kyuubi menghela nafas.
"Tadi pagi-pagi sekali Naruto pergi duluan," ucap Kyuubi sebelum Kushina bertanya. "Jangan tanyakan aku dia pergi ke mana. Aku tidak tahu," lanjutnya lalu meninggalkan Kushina. Ia harus segera ke kamar mandi. Tentu saja bukan untuk mandi, tetapi untuk sekedar mencuci muka. Mandi di musim dingin merupakan hal tabu bagi seorang Namikaze Kyuubi.
Kushina menggerutkan keningnya mendengar hal itu. Naruto sudah berangkat duluan? Bahkan sebelkum ia dan suaminya-Namikaze Minato-bangun. Dengan bingung ia melangkah memasuki kamar Naruto. Senyuman terukir di bibir Kushina begitu melihat kamar anak bungsunya rapi. Tidak berantakan sama sekali seperti biasanya.
"Yah... Sudahlah, sepertinya memang masanya," ucap Kushina kemudian, lalu langsung menutup pintu kamar Naruto dan berjalan meninggalkan kamar itu. Menuju dapur, tempat keluarga kecilnya akan menikmati sarapan bersama.
TBC
.
.
.
chapt 5 hadir _
oala... makin lama makin berat aj ni isi cerita, ak gk nyangkaklo bkl jd seberat ini . "
yah... tpi yg jls, ak bnr" berterimakasih tuk smua yg udh baik bngt nunggu chapt ini update! m(_ _)m
baiklah... sekali lagi saya mohon RnRny m(_ _)m
