Tok. Tok. Tok.

terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar kamar itu. Kyuubi yang masih berada di dalam selimutnya menggerang jengkel dengan suara kecil yang mengusik tidurnya. Udara dingin di pagi hari benar-benar membuatnya malas untuk bangun, terlebih sekarang sedang musim dingin. Benar-benar membuatnya menjadi malas untuk keluar dari tempat hangat di dalam selimut itu.

"Kyuu... bangun! Kau bilang ada kuliah pagi hari ini bukan?" ucap Kushina. Dia agak berteriak sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Kyuubi. Yah... berbeda dengan Naruto. Kyuubi lebih muda dibangunkan. Hanya dengan suara kecil saja, Kyuubi akan langsung terbangun. Dan Kushina yakin, anak sulungnya ini sudah terbangun dari tidurnya.

"Iya... aku sudah bangun," geram Kyuubi sambil bangkit dari kasurnya. Ia agak jengkel bila harus di bangunkan di pagi hari. Tentu saja, bila tidk mengingat jadwal Kuliahnya hari ini, Kyuubi akan terus tidur sampai jam 12 sekalipun. Mau di apakan lagi? Kyuubi benar-benar susah tidur. Hanya dengan suara kecil, itu akan membuatnya langsung terbangun. Akhirnya, dengan membawa handuk yang di gantungkan di pundaknya, Kyuubi berjalan keluar dari kamarnya.

Langkah Kyuubi langsung terhenti begitu selangkah keluar dari kamarnya. Terlihat Kaasannya tengah bingung menatap kamar Naruto yang terbuka. Kyuubi menghela nafas.

"Tadi pagi-pagi sekali Naruto pergi duluan," ucap Kyuubi sebelum Kushina bertanya. "Jangan tanyakan aku dia pergi ke mana. Aku tidak tahu," lanjutnya lalu meninggalkan Kushina. Ia harus segera ke kamar mandi. Tentu saja bukan untuk mandi, tetapi untuk sekedar mencuci muka. Mandi di musim dingin merupakan hal tabu bagi seorang Namikaze Kyuubi.

Kushina menggerutkan keningnya mendengar hal itu. Naruto sudah berangkat duluan? Bahkan sebelkum ia dan suaminya-Namikaze Minato-bangun. Dengan bingung ia melangkah memasuki kamar Naruto. Senyuman terukir di bibir Kushina begitu melihat kamar anak bungsunya rapi. Tidak berantakan sama sekali seperti biasanya.

"Yah... Sudahlah, sepertinya memang masanya," ucap Kushina kemudian, lalu langsung menutup pintu kamar Naruto dan berjalan meninggalkan kamar itu. Menuju dapur, tempat keluarga kecilnya akan menikmati sarapan bersama.


.

.

.

MIRROR

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru

Rate: T

Genre: Supernatural, Romance

Warning : Typos, BL, OOC, AU, dll...

.

.

.


Manik emerald itu menatap orang yang duduk di depannya. Terlihat si pemilik rambut blonde yang tengah tertidur pulas di balik bukunya. Gaara menghela nafas. Sejujurnya ia benar-benar kaget saat mendapati Naruto tidak datang terlambat ke sekolah. Yah, itu bagus. Tandanya Naruto sudah bisa bangun lebih pagi dan jadi tidak perlu kena hukuman. Namun... melihat Naruto yang tertidur sekarang, mau tidak mau membuat Gaara menghela nafas bera. Tetap saja, cepat atau lambat, Naruto akan tetap kena hukuman.

Duk!

Gaara langsung menendang bangku Naruto. Mencoba membangunkan si tukang tidur itu. Sayang, tendangan Gaara tidaklah berarti. Naruto masih pulas tertidur dan tendangan Gaara, sukses membuat buku yang berdiri tegak sebagai pelindung Naruto jatuh. Gaara menghela nafas kembali begitu melihat Iruka berjalan mendekati Naruto. Jelas, sudah melihat Naruto yang terlelap di pelajarannya.

"Namikaze Naruto!" panggil guru dengan bekas luka memanjang di hidungnya itu. Naruto tidak bereaksi mendengarnya. Padahal jelas Iruka sudah berdiri di samping meja Naruto. Iruka menghela nafas. Sudah kelewat hafal dengan tingkah anak didiknya. Ia langsung mengambil buku Bahasa Jepang milik Naruto yang terjatuh dan dengan cepat-

Beletak!

"Aduh!?"

Naruto langsung memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Ia memandang sekelilingnya dengan marah. Tentu saja, ia sadar kepalanya telah dipukul seseorang. Namun, begitu iris safire itu menemukan sosok Iruka yang berdiri di samping mejanya, mau tidak mau Naruto hanya dapat menunjukan cengirannya.

"E, ehehehe... O, ohayou Iruka-sensei," sapa Naruto. Iruka tidak membalas sapaan Naruto. Ia justru menatap Naruto dengan tajam. Menunjukan kekesalan sekaligus wibawanya sebagai seorang Guru.

"Aku tahu pelajaranku ini membosankan Naruto," ucap Iruka jengkel. "Tetapi lain kali, cobalah untuk meminta izin kepadaku untuk mencuci muka. Setidaknya, kau bisa menghilangkan kantukmu itu."

Naruto menelan liur begitu mendengarnya. Ia benar-benar merasa bersalah mendengar hal itu dari guru favoritnya. Tentu saja, Naruto sangat suka pelajaran dari Iruka. Pelajaran Seni. Walau kali ini mereka sedang tidak praktek di ruang Seni, namun Naruto tetap menyukai cara mengajar Iruka-Sensei.

"Bu-bukan seperti itu Iruka-sensei!" sangkal Naruto. "Pelajaran Iruka-Sensei sangat-"

"Jangan banyak bicara," sela Iruka. "Sekarang juga kau cepat cuci mukamu dan jangan tertidur lagi di kelasku, Naruto!" ucap Iruka tegas. Naruto tergelak mendengarnya. Dan tanpa banyak bicara lagi, ia langsung bangkit dari kursinya dan bergegas keluar dari kelas. Menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.

.^_^.

(~_~)

=o=

"Hey, kira-kira ada PR tidak dari Kurenai-Sensei?" tanya Kiba sambil memakan bentonya. Ia duduk diantara Naruto dan Gaara di bawah pohon yang rindang. Kali ini, mereka menjadikan taman belakang sekolah yang sepi menjadi tempat makan siang mereka.

"Kurasa ada," jawab Gaara kemudian.

"Masa'?" ucap Naruto setelah menelan ramen yang berada di mulutny. Bila ia berbicara sambil makan, Gaara akan langsung memukulnya. Naruto sedang tidak ingin mencari perkara dengan penggila kebersihan itu sekarang. Gaara mengangguk.

"Kalau tidak salah tugas membuat benda 3 dimensi. Segi 8 atau segi-"

"Aaaakkkhhhh! aku lupa kalau ada tugas itu!" geram Naruto sambil menjambak rambutnya dengan frustasi. Ia menjatuhkan cup ramennya yang sudah kosong ke rerumputan. "Aduh... Kuso! mana mungkin sempat dalam waktu kurang dari seminggu membuatnya!"

Dengan bingung Gaara dan Kiba menatap Naruto. Alis Kiba terpaut mendengar ucapan Naruto.

"Sehari juga cukup kurasa," komentar Kiba. "Jangan terlalu berlebihan Naruto. Asal kau beli bahannya hari ini, dan besok kau bisa mengerjakannya seharian sepulang sekolah tanpa mengganggu jadwal tidurmu," tambahnya begitu ingat bahwa Naruto tidak datang ke sekolah dengan terlambat. Tentu saja, Kiba yakin Naruto tidur lebih awal agar tidak terlambat ke sekolah.

"Apa yang dibilang Kiba benar Naruto," setuju Gaara.

Naruto menghela nafas mendengarnya. Ia langsung memungut cup ramennya yang kosong lalu bangkit dari tempat duduknya. Berjalan menuju tong sampah untuk membuangnya. Gaara dan Kiba saling pandangan begitu melihat reaksi Naruto.

"Ada apa dengannya?" tanya Kiba bingung. Gaara tidak menjawab. Ia sendiri juga bingung dengan Naruto. Baru beberapa detik yang lalu ia menggerang frustasi dan bertingkah berlebihan seperti Naruto yang mereka kenal, lalu beberapa detik kemudian Naruto jadi kalem dan tanpa harus disuruh malah langsung membuang sampahnya ke tempat yang seharusnya.

"Hey! Naruto, ngomong-ngomong tumben kau tidak terlambat seperti biasanya," ucap Kiba begitu Naruto mendekati mereka kembali dan duduk di tempatnya tadi. Sudah selesai dengan misinya membuang sampah pada tempatnya. Naruto langsung tersenyum bangga mendengar ucapan Kiba.

"Iya dong! Namikaze Naruto!" ucap Naruto bangga.

Beletak!

"Aduh!?"

Kiba langsung menjitak kepala Naruto.

"Tidak ada yang memujimu!" geram Kiba. Naruto menggerutu mendengarnya sambil mengusap-usap kepalanya yang berdenyut sakita.

"Huh! Aku tahu itu! Jadi tidak perlu menjitakku sekuat ini kan?" gerutu Naruto.

"Ehehehe... aku melakukannya dengan sepenuh hati kok, jadi tenang saja," balas Kiba sambil menyeringai senang. Persimpangan langsung muncul di kepala blonde Naruto.

"Ooh... kalau begitu biarkan aku memijatmu dengan sepenuh hati juga, Tuan Inuzuka Kiba," ucap Naruto geram. Kiba tergelak mendengarnya. Dengan segera ia langsung merangkak cepat bersembunyi di belakang Gaara. "Hey! Itu curang!"

"Tidak ada peraturan dalam hal ini, aku tidak curang," elak Kiba. Dengan marah Naruto menatap Kiba, lalu manik safire yang berkilat tajam itu menatap Gaara. Menuntut keadilan dari si pemilik rambut merah itu. Gaara menghela nafas. Mengerti arti dari tatapan Naruto.

Beletak!

"Aw!?" Kiba langsung memegang kepalanya yang di jitak Gaara. "Kenapa kau menjitakku!?" tanya Kiba, geram. Naruto langsung tertawa sambil menunjuk-nunjuk Kiba begitu melihat Gaara membalas kan dendamnya.

"Ahahahaha... rasakan itu!" ejeknya.

"Urusai!" bentak Kiba, jengkel.

"Kenapa? Kan kau duluan yang menjitakku pecinta anjing!"

"Diam kau rambut duren!"

"Sudahlah kalian berdua," lerai Gaara. Ia sudah selesai membereskan bentonya entah sejak kapan. "Sebentar lagi bel, sebaiknya kita bergegas," tambahnya. Naruto dan Kiba yang mendengarnya langsung menghentikan pertengkaran singkat mereka. Benar-benar mendengarkan ucapan Gaara selaku orang yang paling bijaksana nan adil diantara mereka.

"BAIK!" ucap Naruto dan Kiba kompak. Mematuhi titah yang keluar dari mulut Gaara.

.^_^.

(~_~)

=o=

Pip.

Bruk!

Tubuh dengan di balut pakaian training tebal itu langsung ambruk di atas tanah yang tidak dibalut salju. Dengan asap kabut yang keluar dari mulut dan hidungnya, Naruto berbalik. Berbaring di atas tanah dengan dada naik-turun. Mencoba mengambil oksigen sebanyak-banyaknya dan mengumpulkan energi.

"Hmn... masih kurang, tetapi ini bisa dibilang bagus," ucap sosok berambut hitam dengan manik onix itu sambil menatap stopwantc-nya, lalu ia menatap Naruto. Senyuman langsung terukir di parasnya. "Kurasa besok pasti bisa lebih baik lagi."

"Kuharap begitu," timpal Naruto. Ia memejamkan matanya. Menikmati udara dingin yang perlahan mulai merambati tubuhnya yang masih terasa panas. Entah berapa kali ia mengelilingi arena lari ini. Sai hanya menghitung seberapa lama Naruto sanggub berlari terus menerus tanpa berhenti, tanpa menghitung sudah seberapa jauh ia berlari. Naruto yakin, ini rekornya. Bahkan si alis tebal Rock Lee yang biasanya selalu menjadi yang tercepat dan terkuat dalam olahraga di kelasnya, akan kalah olehnya.

"Kau mau aku antar Naruto?" tanya Sai sambil berjalan mengambil air mineral yang berada di kursi pinggir arena lalu mendekati Naruto. Sai menatap sekelilingnya. Sudah sangat gelap dan udara juga semakin terasa dingin. Hanya lampu-lampu lapanganlah yang menjadi penerang mereka. Yah... beruntung keluarga Uchiha adalah pemilik tempat ini, jadi baik Sai ataupun Naruto tidak perlu merasa sebagai penyusup di arena yang seharusnya diperuntukkan untuk lomba jarak pendek ini.

"Tidak," tolak Naruto sambil membuka kedua matanya. Ia langsung bangkit berdiri setelah merasa cukup mengumpulkan energi. Sai langsung menyerahkan sebotol air dan diterima Naruto dengan senang hati. Ia langsung meminum habis air mineral itu.

"Aku tidak masalah bila tidak mengantarmu, tetapi jarak dari sini ke rumahmu sangat jauh Naruto," ucap Sai. Naruto kaget mendengarnya. Ia langsung sadar bahwa memang jarak tempat ini dari rumahnya sangatlah jauh. Terlebih ia tidak tahu jalan pulang! "Aku takut nanti saat diperjalanan kau akan-"

"Jam berapa ini!?" sela Naruto. Ia langsung berlari menuju tasnya yang berada di atas bangku dengan panik. Dengan bingung, Sai menatap Naruto yang sedang mencari sesuatu di dalam tasnya.

"Jam 19.30, kenapa?" tanya Sai bingung.

"Apa!?" pekik Naruto kaget. Dengan panik akhirnya ia berhasil menemukan ponselnya di antara buku-buku pelajarannya. Ponselnya mati. Naruto menelan liurnya sendiri begitu mengingat bahwa ialah yang mematikan ponselnya sendiri. Mati aku, batinnya ngeri begitu mengaktifkan ponselnya.

Drrrrttttttt...

Ponsel Naruto langsung tidak berhenti bergetar begitu 15 SMS masuk ke dalam ponselnya. Dengan panik, Naruto langsung membaca semua pesan singkat itu. Semuanya dari Kiba dan Gaara. Dan isi pesan itu semuanya sama. Menanyakan dimana keberadaannya dan memberi tahu bahwa... Namikaze Kyuubi telah mencarinya sejak jam 5 sore tadi.

"Ada apa Naruto?" tanya Sai bingung. Naruto langsung menoleh menatap Sai, menatap orang yang lebih tua 2 tahun darinya itu dengan tatapan memelas.

"S, Sai... tolong aku..."

.^_^.

(~_~)

=o=

NARUTO POV

.

Aku memandang ke luar jendela dengan gelisah. Di luar gelap dan semuanya terlihat samar karena Sai saat ini sedang mengebut. Ia melajukan mobil mewahnya dengan sangat cepat. Sejauh mata memandang, memang tidak ada polisi, jadi bukan hal yang harus aku khawatirkan. Aku menggigit bibirku sendiri begitu melihat pantulan wajahku di kaca mobil. Lalu aku menunduk, memandang ponsel yang berada di pangkuanku.

Ponselku mati. Kali ini bukan aku yang sengaja mematikannya, melainkan karena memang habis batrai. Memang salahku sih... kenapa semalam benar-benar lupa menchargenya. Aku menghela nafas. Dapat aku bayangkan wajah Kyuu-nii yang marah. Iris Rubinya yang merah pasti akan terlihat lebih mengerikan dari biasanya.

"Kau gelisah sekali Naruto," ucap Sai tiba-tiba. Aku langsung menatap Sai. Sama seperti biasa, ia menyuguhkan senyumannya. Aku menghela nafas lalu menatap ke depan kembali.

"Kyuu-nii akan memarahiku," ucapku. Ugh! mengucapkan itu... benar-benar sukses membuatku merasa ngeri sendiri! Apa yang akan Kyuu-nii lakukan saat aku sampai di rumah nanti!? Aku menelan liurku. Aku yakin... dia akan membuang semua persediaan ramenku. NOOOOOOOO...!

"Namikaze Kyuubi?" tebak Sai. Aku mengangguk.

"Ya, Itu nama Kyuu-nii-eh? loh? Dari mana kau tahu?"

"Kukira Itachi-san sudah mengatakannya kepadamu. Kami menyelidikimu Naruto," jawab Sai geli. Aku menggerutkan keningku mendengarnya. Ah ya... tentu saja. Tentu saja Itachi-san sudah mengatakan hal itu kepadaku. "kenapa kau gelisah seperti itu? Memangnya apa yang akan Kyuubi lakukan kepadamu? Hey! Kau'kan sudah SMA, laki-laki pula," lanjut Sai.

"Aaakkhhh! jangan tanyakan itu!" geramku sambil menyandarkan punggungku di kursi. "Dia itu Niichan paling menyebalkan yang pernah aku miliki! Iseng! Selalu punya niat jahat! Jelek! menyebalkan! Aaaakkkhhhh!"

Aku menjambak rambutku sendiri. Dan sekarang matilah aku! Mana mungkin aku bisa hidup tanpa Ramen! Yah... walau Itachi-san bilang aku harus mengurangi jatah makan Ramenku... maksimal 1 cup sehari, tapi tetap saja! Kalau sampai persediaan ramenku di buang... TIIDAAAAKKKKK! Aku benar-benar bisa nangis darah karenanya!

"Ahahaha... tapi bagai manapun dia Niichanmu," timpal Sai. Aku menggerutu mendengarnya. "Kau jadi agak mirip dengan Sasuke ya, Sasuke juga sama sepertimu. Suka sekali marah dengan Itachi-san dan menganggab Itachi-san menyebalkan."

Aku langsung menatap Sai begitu mendengarnya.

"Eh? Apa tadi?" tanyaku. Sasuke? Aku mirip Sasuke?

"Hmn... ya," jawab Sai. "Kira-kira seperti itu. Mungkin... sedikit mirip. Tapi pada dasaranya, hampir semua orang yang mempunyai Niichan menganggab Niichan mereka menyebalkan bukan?" jelas Sai. Aku kecewa mendengarnya. Entah bagai mana tadi aku benar-benar... merasa senang saat Sai mengatakan aku agak mirip Sasuke.

"Oh ya, umn... Sasuke dan Haruno itu... cocok ya, mereka serasi. si Cantik dan si Tampan," ucapku begitu teringat cerita Itachi-san. Ah ya, mereka memang sangat serasi bukan? Aku meremas ponselku. Dadaku mulai terasa sesak dan bergemuruh kembali. Rasanya... benar-benar sakit.

"Kau mengatakannya seperti mereka pacaran saja Naruto," ucap Sai dengan nada heran. Dengan bingung aku menatap Sai. Ia masih fokus menatap kedepan. Berkonsentrasi dengan acara mengemudinya.

"Loh? Bukannya Haruno dan Sasuke... umn, mereka pacaran?" tanyaku. Entah bagai mana mengucapkan kata 'Pacaran' terasa berat untukku. Sai tersenyum mendengarnya.

"Tentu saja tidak," jawabnya. "Sakura dan Sasuke tidak pacaran."

Aku tidak bisa menahan senyumku begitu mendengarnya. Entah bagai mana aku benar-benar merasa senang mendengar hal itu.

"Oh ya! Terus kenapa Haruno..." aku sengaja tidak melanjutkan ucapanku.

"Kenapa dia dekat dengan keluarga Uchiha?" tebak Sai. Aku mengangguk mendengarnya. Sai tersenyum. "Karena rumah Sakura bersebelahan dengan rumah keluarga utama Uchiha. Apa lagi Sasuke dan Sakura adalah teman semasa kecil, itu sebabnya mereka dekat," jelas Sai.

"Oh..." gumamku. Aku benar-benar merasa lega mendengarnya. Mengetahui bahwa Haruno dan Sasuke tidak pacaran... haah, benar-benar membuatku lega. Lalu aku teringat sesuatu. Saat Haruno menahanku untuk tidak mendekati Sasuke. Aku menggerutkan kening begitu mengingatnya. Tidak suka dengan ucapannya yang terdengar sangat protektif kepada Sasuke.

"Umn... Sai, boleh aku bertanya lagi?" tanyaku dengan ragu.

"Tentu."

"Kenapa saat pertama kali bertemu dengan Sasuke kemarin... Haruno tidak memperbolehkanku mendekati Sasuke?" tanyaku. Sai terlihat bingung mendengarnya.

"Apakah Itachi-san tidak menjelaskannya kepadamu?" tanya balik Sai. Aku menggeleng mendengarnya.

"Tidak," jawabku. Aku yakin kemarin saat menjelaskan, Itachi-san tidak menjelaskanku tentang apapun yang berhubungan dengan Haruno Sakura.

"Yah... baiklah," ucap Sai. "Kau tahu Naruto? Roh dan raga itu adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan seseorang, itu sebabnya... umn, bisa dibilang, bila kau terlalu dekat dengan Sasuke, secara tidak langsung roh Sasuke yang berada di dalam tubuhmu akan keluar... bersama dengan rohmu juga. Kau bisa meninggal ditempat bila terlalu dekat dengan Sasuke."

Dengan tidak percaya aku menatap Sai. Aku menelan liurku. Tiba-tiba aku merasa ngeri dan merinding mendengarnya. Benar-benar tidak lucu bila aku harus langsung meninggal begitu pertemuan pertamaku dengan Sasuke. Sangat-sangat tidak lucu. Entah bagaimana itu terdengar dramatis.

"Oh ya Naruto, soal Niichanmu, nanti biar aku yang mengurusnya," ucap Sai tiba-tiba.

Deg!

Aku langsung menepuk keningku sendiri begitu mengingat masalah utamaku hari ini.

"Benar juga!" ucapku. Apa yang akan di lakukan Kyuu-nii nanti saat aku pulang!? Oh! Ya ampun... aku tidak mempermasalahkan Kaasan ataupun Tousan, mereka tidak pernah melarangku mau pulang jam berapa asal memberikan kabar aku dimana tapi-eh!? GYAAAAAAA! Aku benar-benar lupa memberi tahu Kaasan dan Tousan aku dimana! Matilah aku! Semua persediaan ramenku kali ini benar-benar akan di buang!

"Huwaaaaa! Sai! Kumohon! Tolong aku nanti saat di rumah!" rengekku. Sungguh, aku tidak bisa membayangkan Kaasan dan Kyuu-nii bersatu untuk menghakimiku. Untuk Tousan... aku benar-benar tidak tahu apakah dia akan marah atau hanya tersenyum.

"Iya... tenang saja. Aku akan menjelaskannya ke keluargamu kok Naruto. Aku akan menolongmu," ucap Sai menenangkan. Dengan mata berbinar-binar aku langsung menatap Sai. Oh! sekarang ia terlihat memiliki sepasang sayap putih! Ya! Sai si Malaikat Penyelamatku!

.^_^.

(~_~)

=o=

NORMAL POV.

.

Sosok tegab dengan mengenakan syal dan jaket tebal itu berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di tembok. Rambutnya yang merah berantakan terlihat di sela-sela topi hitam rajutannya. Iris Rubynya menatap sekelilingnya yang sudah gelap dengan perasaan jengkel sekaligus khawatir. Terlihat kabut tipis yang keluar dari nafasnya.

"Kuso! Awas saja kalau si bocah itu pulang! Akan kubuang semua persediaan Ramennya!" gerutu Kyuubi sambil menendang tumpukan salju yang ia injak. Sungguh, menunggu Naruto di depan pagar rumahnya selama 3 jam benar-benar hal yang paling membuatnya marah! Ah... seandainya Kyuubi tahu dimana Naruto, tentu saja. Tepat jam 5 sore ia akan langsung tancap gas menyeret Naruto untuk pulang. Terlebih di cuaca sedingin ini!

Brruummm...

Kyuubi langsung menoleh begitu mendengar suara mobil. Terlihat sebuah mobil BMW M3 berwarna hitam melaju pelan menuju arahnya. Kyuubi menghela nafas. Tidak memperdulikan mobil mewah itu. Namun, begitu mobil itu berhenti tepat di depannya, alis Kyuubi terpaut. Bingung kenapa mobil mewah ini berhenti di depannya.

Ceklek.

Sang pengemudi keluar dari mobil mewahnya. Kyuubi semakin bingung melihat orang yang tidak dikenalnya itu. Dengan rambut hitam dan iris onixnya... Kyuubi langsung tahu bawah orang ini pasti dari keluarga Uchiha. Kyuubi jadi ingat beberapa waktu yang lalu. Saat ia jadi harus menjemput Naruto di rumah sakit karena mendapat telfon Naruto jatuh dari tangga dan masuk rumah sakit. Beruntung saat itu Naruto dibolehkan langsung pulang karena cederanya tidak parah. Dan saat itu... ada seorang Uchiha di kamar pasien Naruto.

"Hai," sapa pemuda Uchiha itu.

"Ada apa Uchiha datang ke tempat ini?" tanya Kyuubi sinis. Dengan tajam ia menatap Sai. Tidak perduli bahwa ia tidak mengenal sosok di depannya itu. Senyuman Sai mengembang mendengarnya. Tidak menyangka akan disambut dengan ucapan sinis seperti itu.

"Perkenalkan, nama saya Uchiha Sai-"

"Aku tidak bertanya siapa namamu, Uchiha. Aku bertanya kenapa kau berada di sini," sela Kyuubi. Mempertegas ucapannya. Sai menghela nafas mendengarnya. Jelas, menghadapi seorang Namikaze Kyuubi benar-benar harus dengan kesabaran ekstra.

"Saya datang untuk mengantar adik Anda," jawab Sai kemudian. Tetap mempertahankan senyuman andalannya. Kyuubi menggerutkan keningnya begitu mendengar jawaban Sai. Iris Rubynya langsung memandang ke dalam mobil Sai. Mencoba mencari keberadaan adik bungsunya. Lalu, pintu mobil itu terbuka di sisi lain. Menampakkan sosok berambut blonde yang dengan takut-takut, keluar dari dalam mobil.

"K, Kyuu-nii..." sapa Naruto dengan wajah pucat pasi. Ia sudah pasrah, bahwa persediaan ramennya akan dibuang semua oleh Niichannya. Rubi itu terbelalak begitu melihat Naruto keluar dari mobil Sai. Terlebih Naruto masih mengenakan pakaian sekolahnya!

Dada Kyuubi terasa bergemuruh. Ia benar-benar marah sekarang. Kemana adiknya sampai malam seperti ini!? Jadi Naruto pergi dari pulang sekolah dengan pemuda Uchiha ini!? Apa yang dilakukan adiknya sampai semalam ini!? Sungguh, sekarang, Namikaze Kyuubi benar-benar marah dengan adik semata wayangnya ini.

"Na. Mi. Ka. Ze. Na. Ru. To..." panggil Kyuubi dengan geram. "Kau harus menerima hukuman."

TBC

.

.

.


Chapt 6 hadir! ~"~

menulis ini bnr" harus menahan rsa sakit d tengkuk n kakiku berkat kecerobohanku sendiri _ _"

tapi untunglah chapt ini selesai lebih cepat... ne, sebelumnya gomen klo masih ada typo, aku udah usahain biar gk ad typo kok! semoga klini juga gk ad... n semoga chapt selanjutnya selesai lebih cepat juga /\

baiklah, langsung saja, mohon RnR-nya! :D