"Aku tidak bertanya siapa namamu, Uchiha. Aku bertanya kenapa kau berada di sini," sela Kyuubi. Mempertegas ucapannya. Sai menghela nafas mendengarnya. Jelas, menghadapi seorang Namikaze Kyuubi benar-benar harus dengan kesabaran ekstra.
"Saya datang untuk mengantar adik Anda," jawab Sai kemudian. Tetap mempertahankan senyuman andalannya. Kyuubi menggerutkan keningnya begitu mendengar jawaban Sai. Iris Rubynya langsung memandang ke dalam mobil Sai. Mencoba mencari keberadaan adik bungsunya. Lalu, pintu mobil itu terbuka di sisi lain. Menampakkan sosok berambut blonde yang dengan takut-takut, keluar dari dalam mobil.
"K, Kyuu-nii..." sapa Naruto dengan wajah pucat pasi. Ia sudah pasrah, bahwa persediaan ramennya akan dibuang semua oleh Niichannya. Rubi itu terbelalak begitu melihat Naruto keluar dari mobil Sai. Terlebih Naruto masih mengenakan pakaian sekolahnya!
Dada Kyuubi terasa bergemuruh. Ia benar-benar marah sekarang. Kemana adiknya sampai malam seperti ini!? Jadi Naruto pergi dari pulang sekolah dengan pemuda Uchiha ini!? Apa yang dilakukan adiknya sampai semalam ini!? Sungguh, sekarang, Namikaze Kyuubi benar-benar marah dengan adik semata wayangnya ini.
"Na. Mi. Ka. Ze. Na. Ru. To..." panggil Kyuubi dengan geram. "Kau harus menerima hukuman."
.
.
.
MIRROR
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : SasuNaru
Rate: T
Genre: Supernatural, Romance
Warning : Typos, BL, OOC, AU, dll...
.
.
.
NARUTO POV.
.
Glek!
Aku menelan liurku begitu mendengar kata-kata mematikan itu dari mulut Kyuu-nii. Dengan kaki yang terasa berat aku melangkah mendekati Kyuu-nii yang sudah memandangku dengan rubynya yang berkilat tajam. Dan dengan gerakan cepat-yang tidak bisa aku hindari-Kyuu-nii langsung menjewer kupingku.
"Awawawawa! Aduh! Ampun Kyuu-nii!" rintihku sambil mencoba melepaskan kupingku yang langsung terasa berdenyut sakit.
"Ampun katamu hem?" geram Kyuu-nii. Ia langsung menyeretku untuk masuk ke dalam halaman rumah dengan menarik kupingku. "Aku menunggumu selama berjam-jam dan kau dengan mudah bilang ampun!?"
"Sa, sakit Kyuu-nii, sakit! Aduh! Pelan-pelan!"
Kyuu-nii langsung menghentikan langkahnya. Aku langsung bernafas lega karena kupingku akhirnya tidak lagi ditari-tarik. Aku yakin, berkat Kyuu-nii, kupingku akan memanjang bila ditarik-tarik seperti itu terus. Tapi rasanya tetap saja sakit dan perih! Aku yakin sekali kalau sekarang kupingku sudah sangat merah berkat jari-jari Kyuu-nii yang kuat.
"Apa katamu bocah?"
Eh?
Kyuu-nii langsung melepaskan jewerannya di kupingku. Ia langsung mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku tergelak begitu melihat kedutan dan persimpangan di kepalanya. Dengan horror aku menatapnya. A, a, apa yang salah denganku!?
"Kau memerintahku bocah? Hem?"
Glek!
"Ti, tidak Kyuu-nii!"
"Jangan berteriak di depan wajahku, Bocah!"
Beletak!
"Aw!?
Aku langsung memegang kepalaku yang di jitak Kyuu-nii. Aduh... sudah berapa kali hari ini aku kena jitak? Hey! Bukan salahku kalau aku berteriak di wajahnya kan? Kyuu-nii yang mendekatkan wajahnya ke wajahku! Bukan salahku!
"Ada apa ini ribut-ribut Kyuu?"
Deg!
Aku dan Kyuu-nii langsung menoleh ke arah pintu. Terlihat Kaasan berdiri di ambang pintu. Matanya menatap Kyuu-nii lalu menatapku. Aku tergelak begitu melihat alis Kaasan terpaut memandangku. Persimpangan langsung muncul di kepalanya. Rambut merahnya langsung terlihat berkibar bagaikan api yang membara. Ba, BAHAYA!
"SAAAAIIIIIII...! Help me!" teriakku lalu langsung berbalik dan bersembunyi di belakang Sai sebelum Kyuu-nii sempat mencegahku kabur. Kakiku terasa lemas melihat sosok duo monster yang menatapku intens dari belakang tubuh Sai. Huwaaaa! Kami-sama! Tolong aku!
"Siapa dia? Naruto?" tanya Kaasan sambil menatap Sai. Aku menelan liurku mendengar penekanan namaku di sebut. Kaasan benar-benar marah. Lalu mata Kaasan menatapku. Seketika aku langsung merinding begitu merasakan hawa dingin yang sangat gelap dipancarkannya special buatku. Hiiiii...
"Perkenalkan, nama saya Uchiha Sai," ucap Sai sopan. Ia langsung membungkuk ke arah Kaasan. Memperkenalkan dirinya tanpa takut dengan hawa membunuh Kaasan. Sungguh, aku benar-benar salut dengan Sai yang masih bisa memasang senyumannya di depan Kaasan yang sedang monster mode.
"Ha? Uchiha?" gumam Kaasan bingung. Kyuu-nii langsung mendekati Kaasan begitu melihat tatapan bingung Kaasan. Ia langsung membisikkan sesutu ke Kaasan. U, uh... aku yakin. Apapun yang Kyuu-nii beritahu, pasti itu adalah hal yang buruk. Dan... terang saja. Sesudah membisikkan sesuatu itu, Kyuu-nii langsung menyeringai kearahku. Hiiiii... apa yang Kyuu-nii katakan ke Kaasan?
"Oh... jdi kau yang membawa anakku samapi pulang larut seperti ini, hem?" ucap Kaasan dengan suara rendah. Aku tergelak mendengarnya.
"Bu, bukan Kaasan! Sai hanya-"
"Kau menyukainya Naruto? Sekarang kau berpacaran dengan laki-laki ya?" ucap Kaasan sambil menatapku.
Eh?
Aku terdiam mendengarnya. Baik aku ataupun Kyuu-nii dan Sai terlihat syock mendengar ucapan Kaasan. Apa tadi kata Kaasan? Aku menyukai Sai? aku BERPCARAN DENGAN SAI!?
"Aku tidak-"
"Mana mungkin Naruto berpacaran dengan laki-laki berwajah besi ini, Kaasan!" sela Kyuu-nii. Ia terlihat marah dengan ucapan Kaasan. Kaasan menatap Kyuu-nii. Ia tidak mengatakan apapun dan lebih memilih menyilangkan tangannya di dada lalu menatap aku dan Sai dengan angkuh.
"Naruto... Kaasan tidak pernah mengajrimu untuk menyukai sesamamu," ucap Kaasan dingin. "Walau di negara ini membolehkan pernikahan sesama jenis, namun Kaasan tetap saja menginginkan seorang cucu. Kau tidak akan mungkin bisa-"
"Kushina-chan," seseorang langsung memotong ucapakn Kaasan. terlihat laki-laki dengan rambut pirang dan mata biru saphire menepuk bahu Kaasan dari belakang. Mataku langsung berbinar melihatnya. Tousan!
"Sekarang sudah malam dan lagi udara juga sangat dingin. Bagai mana bila kita mendengarkan penjelasan dari tamu kita di dalam saja? Besok Naruto masih harus sekolah bukan? Kyuu juga masih ada kuliah siang besok," ucap Tousan dengan lembut namun penuh kebijaksanaan. Aku tersenyum mendengarnya. Akhirnya kami semua masuk ke dalam rumah sesuai dengan saran Tousan. Dapat aku rasakan kehangatan rumah begitu melangkah menginjak lantai rumahku. Dan dapat kulihat wajah kesal Kyuu-nii saat melangkah memasuki rumah. Yah... walau memasuki rumah tetap saja. Ujung-ujungnya juga... pasti aku akan di introgasi layaknya penjahat. Haah...
.^_^.
(~_~)
=o=
NORMAL POV
.
Naruto menghela nafas sambil mengaduk segelas teh yang di buatnya. Ia di suruh untuk membuatkan teh untuk semuanya sementara Kyuubi, Kushina dan Minato mendengarkan penjelasan Sai. Mau tidak mau ini sungguh membuatnya jengkel. Bukankah ia yang seharusnya duduk di ruang tamu dan ikut menambahkan penjelasan Sai? Yah... siapa tahu akan ada penjelasan baru untuknya. Tetapi memang dasar Kyuubi licik, ia memanfaatkan jabatan sebagai kakak dan memerintah si anak bungsu untuk melakukan pekerjaan. Dan tentu saja. Naruto tidak mungkin berani menolak bila masih ingin hidup tenang.
"Jadi Uchiha Sasuke berada di dalam tubuh Naruto?"
DEG!
Naruto langsung menghentikan langkahnya saat hendak memasuki ruang tamu. Di tangannya sudah ada 5 gelas teh hangat dengan beralaskan nampan. Naruto menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba ia merasa ragu untuk memasuki ruangan itu. Aduh... mendengar nama Sasuke di panggil Kyuu-nii saja jantungku sudah bereaksi, apa lagi nanti di dalam. Batin Naruto ngeri.
Naruto menggelengkan kepalanya. mencoba menjernihkan akal sehatnya. Ini tidak masuk akal. Ya, bukankah dia dan Sasuke sama-sama laki-laki? Dan lagi... ah, mungkin saja jantungnya bereaksi karena di dalam tubuhnya terdapat Sasuke. Ya, yang bereaksi adalah Sasuke, bukan dirinya. Naruto menggerutkan keningnya. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Bila jantungnya bereaksi karena itu... adalah Sasuke, bukankah berarti dirinya dan Sasuke menjadi semakin menyatu?
Glek!
Naruto menelan liurnya. Ia jadi merasa sangat ngeri begitu memikirkannya.
"Naruto?"
"Eh? Ah, ini minumannya Tousan!" ucap Naruto panik saat melihat Minato sudah berada di depannya. Dengan bingung Minato menatap Naruto. Ia langsung mengulurkan tangannya. Menyentuh kening anak bungsunya. Memastikan bahwa ia tidak apa-apa. Namun... yah, perkiraan Minato memang tepat. Suhu tubuh Naruto lebih hangat ketimbang biasanya.
"Biar Tousan yang membawanya," ucap Minato sambil mengambil nampan yang berada di tangan Naruto.
"Eh? Aku bisa-"
"Sebaiknya kau ke dapur dan makan makan malammu, lalu segera ke atas dan tidur. Tousan tidak mau kau jadi semakin sakit," ucap Minato lembut. Naruto memandang Tousannya dengan bingung. Ia tidak merasa sakit. Yah... walau kepalanya memang terasa agak pusing dan badannya agak kedinginan, namun selain itu, ia merasa sehat.
"Tapi nanti aku-"
"Turuti saja Naruto. Kau istirahatlah," sela Minato lalu meninggalkan Naruto sambil membawa nampan yang berisi teh. Naruto mengerucutkan bibirnya begitu melihat Tousannya sudah memasuki ruang tamu kembali. Ia menggaruk belakang kepalanya sambil melangkah menuju dapur untuk makan malam. Memikirkan kata makan malam saja perut Naruto langsung berbunyi. Mau tidak mau ia merasa agak bersyukur dengan titah yang keluar dari mulut Minato.
"Tapi itu tehku... setidaknya tinggalkan untukku," gumam Naruto tidak rela sambil duduk di kursi dan mulai menatap makanan yang ada di atas meja. Naruto menghela nafas lalu mulai melahap makan malamnya. Naruto mengerucutkan bibirnya mengingat teh hangat yang mengeluarkan uap mengepul itu. Ia masih ingat dengan aromanya yang... Ah, sungguh, Naruto benar-benar tidak rela dengan teh hangatnya yang di bawa Minato ke ruang tamu.
Naruto menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba ia merasa perutnya agak mual setelah menyantap beberapa suap makan malamnya. Kepalanya juga agak pusing dan ia berkeringat dingin. Baiklah... moodnya untuk menghabiskan makan malamnya sudah benar-benar hilang. Ia tidak mau muntah dan menjadi pusat perhatian lagi karena sakit. Benar kata Minato. Ia harus beristirahat.
Ahirnya dengan agak gontai dan menahan tubuh yang benar-benar terasa berat, Naruto melangkah meninggalkan dapur tanpa menghabiskan makan malamnya. Yang ia butuhkan saat ini adalah tidur dan beristirahat dengan tenang. Berharap besok ia akan sembuh dengan sendirinya.
.^_^.
(~_~)
=o=
Sosok berambut pirang berantakan itu menatap sekelilingnya dengan bingung. Ia berada di sebuah ruangan yang di kelilingi cermin. Naruto menggelengkan kepalanya. Melihat cermin-cermin dan pantulan dirinya di dalam cermin itu mau tidak mau membuat kepalanya agak pusing. Dengan agak menyipitkan matanya, Naruto berjalan melewati cermin-cermin yang ternyata membentuk sebuah labirin itu.
"Ck, di mana jalan keluarnya?" geram Naruto. Ia benar-benar jengkel sekarang. Ia sudah berjalan melewati cermin-cermin itu namun dari tadi yang ia dapati hanya jalan buntu atau bahkan lorong ke tempat lain yang berkelok lagi. Ini benar-benar sangat menyebalkan. Terlebih tempat ini sangat sepi. Tidak ada siapapun selain dirinya di tempat yang penuh cermin ini!
Glek!
Naruto menelan liurnya. Ia mulai berfikir bahwa tempat ini tempat yang angker. Bisa jadi kan ada hantu atau setan atau sejenisnya yang tiba-tiba keluar dari dalam cermin dan mengambil jiwanya? Hiiiii...
Puk!
Sesuatu langsung menyentuh bahu Naruto.
"GYAAAAAAAAAA...!"
Bruk!
Dan dalam hitungan detik, Naruto langsung jatuh ke atas lantai keramik dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Sosok yang berdiri di belakang Naruto itu menggerutkan alisnya. Manik onixnya menatap pemuda yang baru saja ia tepuk bahunya dengan pandangan aneh. Rambut blue darknya agak berpendar redup di ruangan penuh cermin itu.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Uchiha Sasuke dengan bingung sambil berjongkok dan mulai berusaha membangunkan Naruto.
.^_^.
(~_~)
=o=
Kushina menghela nafas. Ia memegang kening Naruto. Masih panas. Ia menggelengkan kepalanya lalu mengompres Naruto kembali. Dengan lesu Kushina menatap Minato yang sedari tadi berdiri di samping kasur sambil menatap Kushina dan Naruto yang masih tertidur.
"Naruto belum bangun juga? Ini sudah lebih dari jam 10 pagi," ucap Minato khawatir. Ia menatap arlojinya. Hari ini ia tidak jadi pergi ke kantor saat tadi tiba-tiba melihat Kushina yang panik menyiapkan baskom dan handuk kecil untuk Naruto. Naruto demam sangat tinggi. Mau tidak mau itu membuat Kushina cemas karena Naruto sangat jarang sakit. Dan biasanya, bila Naruto sakit, ia akan memerlukan perawatan khusus hingga harus di obname.
"Iya... apa sebaiknya tidak langsung di bawa ke rumah sakit saja Minato-kun?" tanya Kushina khawatir. Minato menatap wajah Naruto yang terlihat pucat. Dari semalam sebenarnya ia sudah menyadari Naruto sedang tidak enak badan. Terlihat dari wajahnya yang terlihat pucat. Minato yakin Naruto benar-benar kelelahan kemarin. Apakah ini semua salah keluarga Uchiha itu? Gara-gara si 'roh' yang tidak bertanggung jawab masuk ke tubuh putera bungsunya? Minato menggelengkan kepalanya. Mencoba menjernihkan pikirannya dari pikiran-pikiran negatif.
"Sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit. Kushina-chan, sebaiknya kau siapkan mobil, biar aku yang mengangkat Naruto," ucap Minato kemudian. Kushina mengangguk mendengarnya. Ia langsung melangkah meninggalkan kamar Naruto.
.^_^.
(~_~)
=o=
"Naruto! Hey! Bocah!" ucap Sasuke sambil mengguncang-guncang tubuh Naruto. Ia tidak habis pikir akan bertemu dengan si pemuda pirang di dalam labirin cermin ini. Sasuke menghela nafas. Lelah mencoba membangunkan Naruto sedari tadi. Toh, Sasuke yakin bocah ini akan bangun dengan sendirinya.
Sasuke langsung duduk di atas lantai keramik sambil menyandarkan punggungnya di dinding cermin. Manik onixnya menatap Naruto dengan intens. Tubuh Naruto ternyata lebih mungil dari pada yang ia bayangkan... Yah, bukankah dia tidak pernah berada jarak sedekat ini dengan Naruto? Senyuman Sasuke merekah. Sebuah kehangatan terasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Dengan berlahan ia mengulurkan tangannya. Mengusap rambut piang berantakan Naruto.
"Lembut...," gumam Sasuke. Ia mengusap kepala pirang itu dengan pelan. Merasakan belaian menyenangkan yang dirasakan tangannya saat bersentuhan dengan rambut Naruto. Manik onixnya yang gelap bagikan langit tanpa bintang itu menatap lembut sosok yang terbaring di depannya. Matanya tidak bisa berhenti menatap wajah Naruto yang begitu... cantik. Sangat cantik dengan 3 pasang tanda lahir yang mirip kumis rubah. Dapat Sasuke bayangkan bila Naruto tersenyum... pasti kumis-kumis itu akan terlihat lebih jelas. Membentuk sebuah lengkungan kebahagiaan yang terpancar dengan aura yang terasa hangat dan menyenangkan.
Sasuke menarik tangannya. Ia menghela nafas lalu menatap pantulan dirinya sendiri di cermin yang ada di hadapannya. Wajah tampannya... terlihat bahagia. Sangat bahagia. Dengan agak meringis Sasuke menggelengkan kepalanya. Sungguh, ia tidak boleh terlalu lama terbuai dengan keberadaan Naruto. Ia tidak boleh merasa bahagia. Karena bila Naruto berada di tempat ini...
Deg!
Sasuke langsung menatap Naruto dengan tidak percaya. Ah... benar juga. Bukankah itu berarti Naruto dalam bahaya? Ia... tidak bisa kembali ke tubuh aslinya sama seperti dirinya.
.^_^.
(~_~)
=o=
Itachi berjalan dengan perlahan di lorong rumahnya. Udara berhembus lembut hingga menyusup masuk ke dalam jaket tebal Itachi. Namun ia tidak bergidik dengan udara yang bagaikan menusuk tulang itu. Ia sudah terbiasa. Itachi menghela nafas saat akhirnya ia menghenatikan langkahnya di sebuah pintu geser. Ia merasa beruntung karena rumah utama keluarga Uchiha adalah rumah tradisional Jepang. Nuansa keindahan dan klasik dari taman dapat ia nikmati tadi saat di lorong. Setidaknya itu dapat menenangkan hatinya yang sedang gundah.
Dengan segera Itachi membuka pintu geser itu. Terlihatlah sebuah ruangan luas dengan beralaskan tatami dari balik pintu geser. Tidak ada apapun di dalam ruangan itu kecuali sebuah cermin yang tertutupkan sebuah kain hitam. Cermin yang berukuran besar dengan beberapa penyangga di bagian kanan kirinya agar tetap bisa berdiri kokoh.
Itachi langsung melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Ia berjalan mendekati cermint itu dan saat sampai di depan cermin besar itu-
Srak!
Itachi langsung menarik kain hitam yang menutupi cermin. Kini, ia dapat melihat pantulan dirinya di dalam cermin yang terlihat buram. Cermin besar itu juga terlihat lebih jelas sekarang. Sebuah cermin dengan tinggi 2 meter setengah dan lebar 1 meter. Terlihat ukiran keriting yang berada di pinggir cermin hingga membentuk wajah cermin menjadi agak oval.
"Gawat..." gumam Itachi sambil menyentuh permukaan cermin. Cermin itu terlihat buram seolah-olah ada uap air yang menutupinya. Itachi tahu... itu berarti waktunya tinggal beberapa jam. Ia salah mempresiksi waktu. Nyawa Sasuke dan Naruto dalam bahaya. Itachi menurunkan tangannya. Kedua tangannya terkepal. Ia benar-benar marah dan menyesal dengan kecerobohannya. Bukan hanya nyawa adiknya... tetapi nyawa orang lain juga akan menjadi taruhannya. Tentu saja... cermin yang ada di depan Itachi bukanlah cermin biasa.
Itu adalah cermin roh milik keluarga Uchiha. Cermin yang memberi tahukan waktu 'batas' bila ada seorang Uchiha yang keluar dari raganya. Cermin ini selalu terlihat jernih dan tidak pernah di bersihkan. Karena ini adalah cermin yang tidak akan pernah termakan waktu. Cermin yang bila terlihat pudar... itu berarti sang cermin memberi tahu. Bahwa batas sang Uchiha yang keluar dari raganya tinggal sebentar lagi. Dan bila cermin itu berubah menjadi warna hitam, maka waktu sang Uchiha telah habis. Ia harus menerima kenyataan bahwa hidupnya telah berakhir. Bukan hanya hidupnya, namun juga hidup orang yang ia tumpangi raganya.
.^_^.
(~_~)
=o=
"Ngghh..."
Deg!
Sasuke langsung menatap Naruto begitu mendengar suara bocah pirang itu. Dapat ia lihat secara perlahan Naruto menggerakkan jari-jarinya. Ia bergumam, lalu membuka kedua matanya. Memamerkan safire indah... yang bagaikan langit musim panas. Hangat dan terlihat penuh dengan petualangan.
Sasuke menelan liurnya. Ia hanya bisa diam menatap manik indah yang dimiliki Naruto. Terpesona oleh keindahan mata yang seolah menariknya ke dalam dunia fatamorgana.
Naruto mengerjab-kerjabkan matanya. Ia mencoba menyesuaikan cahaya yang menyerang matanya. Ia menggerang lalu bangkit duduk di atas lantai. Dengan kepala yang masih agak pusing, ia menatap sekelilingnya. Mencoba mencerna apa yang terjadi dan mengapa ia bisa berada di tempat ini. Lalu manik Safire itu menatap sosok yang ada di hadapannya.
Deg!
Naruto refleks mundur hingga punggungnya membentur kaca yang ada di belakangnya. Ia menatap sosok yang ada di hadapannya dengan tidak percaya. Jantungnya berdetak lebih kencang hingga Naruto sendiri dapat mendengarnya. Wajahnya terasa panas begitu menyadari manik onix yang gelap itu balas menatap matanya.
"Kenapa?" tanya Sasuke. Merasa bingung dengan reaksi Naruto yang tidak terduga itu.
Naruto menelan liurnya begitu mendengar suara briptone Sasuke. Suaranya terdengar lebih jelas sekarang. Dan wajah itu... Wajah tampan yang terlihat tanpa ekspresi itu benar-benar ada di hadapannya. Namun yang menjadi pusat fokus Naruto saat ini adalah manik tajam yang bagaikan elang itu menatapnya dengan sangat intens. Membuat Naruto agak bergidik namun juga merasa...
"Sa, Sasuke...?" ucap Naruto kemudian. Ia menggigit bibirnya saat menyadari suaranya bergetar. Namun... menyebutkan nama itu. Menyebutkan nama Sasuke sekarang, entah bagai mana terasa sangat... aneh. Naruto dapat merasakan kehangata menjalar dari jantungnya ke seluruh tubuh. Ia dapat merasakan perutnya terasa bergeliat aneh. Dan ia dapat merasakan kebahagiaan yang menyusup masuk bersamaa dengan rasa ingin... kabur dari tempat ini.
"Wajahmu merah sekali... kau sakit Naruto?" tanya Sasuke bingung. Ia mengulurkan tangannya. Hendak menyentuh kening Naruto namun langsung di tepis Naruto.
"A, Aku baik-baik saja!" sangkal Naruto cepat. Sasuke hanya diam mendengarnya. "U, umn.. kita di mana? Kenapa bisa kau dan aku berada di sini?" tanya Naruto kemudian sambil bangkit berdiri. Ia menepuk-nepuk pantatnya lalu memandang sekelilingnya dengan bingung. Kenapa ia berada di tempat penuh cermin ini? Apakah ini mimpi?
"Ini di dalam tubuhmu," jawab Sasuke. Ia ikut bangkit berdiri.
"Ha?"
"Ini memang di dalam tubuhmu, tetapi bisa di bilang... kita di bagian tempat antara jiwa dan raga berada," jelas Sasuke. Alis Naruto semakin terpaut mendengarnya. Tidak mengerti.
"Maksudnya?"
Sasuke menghela nafas mendengarnya.
"Singkatnya... kita berada di tempat antara hidup dan mati. Bila kau berada di sini... itu artinya waktu kita tidak banyak lagi," ucap Sasuke. Mata Naruto terbelalak mendengarnya. Kaget dengan apa yang di ucapkan Sasuke.
"Tu-tunggu dulu! Maksudmu ma, ma-"
"Mati," sela Sasuke. Naruto menelan liurnya mendengar hal itu. Ia belum siap. Ya, ia belum siap untuk mati! "Tetapi kita masih bisa berharap untuk hidup," tambah Sasuke begitu melihat wajah horror Naruto. Seketika wajah Naruto langsung terlihat berseri-seri mendengarnya.
"Benarkah?" tanya Naruto senang.
"Ya," jawab Sasuke. Ia terdiam sebentar sambil memandang sekelilingnya. "Asal kita bisa menemukan cermin yang sama dengan cermin roh milik keluargaku," jelasnya. Sasuke menghela nafas. Memalukan memang... tetapi sejak berada di dalam tubuh Naruto, Sasuke hanya dapat melihat aktifitas Naruto dari balik cermin-cermin yang ada di sekelilingnya. Dan lebih memalukan lagi... hingga sekarang ia tidak menemukan cermin keluarga Uchiha di tempat ini karena... walau sulit di percaya. Ruangan labirin cermin ini sangat luas.
"Ha? Bagai mana caranya-"
"Harusnya aku yang bertanya," sela Sasuke. "Ini tubuhmu... Kau seharusnya yang mengetahui tempat dimana cermin itu. Cobalah ingat dimana, kau seharusnya mengetahui dimana cermin itu," ucap Sasuke sambil menatap Naruto. Naruto menggerutkan keningnya. Merasa bingung dengan apa yang di ucapkan Sasuke. Bila ini adalah di tubuhnya...
"Tapi tempat ini tidak terasa familiar untukku," ucap Naruto kemudian. Ia menatap sekelilingnya dengan bingung. Yang ia lihat hanya cermin, cermin dan cermin. Semua cermin-cermin ini membentuk lorong yang... membingungkan dan membuat pusing kepala. "Bukankah kau lebih lama berada di sini? Kenapa tidak juga menemukan cermin itu?" tanya Naruto. Agak jengkel dengan pengetahuan barunya dari Sasuke.
Sasuke menghela nafas mendengarnya. Ia menatap Naruto dan tersenyum. Senyuman yang... terlihat seperti senyuman mengejek.
"Karena kau tidak membiarkanku keluar dari tubuhmu," jawab Sasuke kemudian. Alis Naruto terpaut mendengarnya. Bingung. "Semakin 'wadah' itu memiliki keinginan dengan sang 'roh' semakin sang 'wadah' memiliki banyak pikiran dan sebagainya... ruangan ini akan bertambah luas dan lorong-lorong labirin ini kan merubah jalurnya menjadi semakin acak. Itu sebabnya... aku semakin susah menemukan cermin itu gara-gara kau terus memikirkanku dan setress akan hal itu Naruto."
Blush!
Wajah Naruto langsung memerah mendengarnya. Mulutnya terbuka dan menutup namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ia benar-benar malu. Sa, SASUKE MENGETAHUINYA!
Sasuke menghela nafas. Gawat... melihat wajah Naruto yang sudah semerah tomat, ia jadi ingin lebih menggodanya. Sayang... ini bukanlah watu yang tepat. Sasuke dan Naruto harus dengan segera keluar dari tempat ini. Kembali ke raga masing-masing. Ia tidak mau mati. Ya, ia tidak mau mati sekarang, masih banyak hal yang belum ia lakukan... Dan Sasuke juga tahu bahwa Naruto sendiri juga tidak mau mati.
Sasuke terdiam sambil menatap cermin di belakang Naruto. Mencoba berfikir jernih. Bagai manapun... ini adalah di dalam tubuh Naruto. Dan Sasuke yakin... Naruto bisa menjadi petunjuk untuk menemukan cermin itu. Ia hanya perlu memancing Naruto agar mereka dapat menemukan cermin itu. Tetapi... bagaimana caranya?
TBC
.
.
.
Chapt 7 hadir! :D
Arigatou untuk semuanya yg udah riview n fav jug me-follow fic ini! Arigatou! (_)
Aku bingung mo ngomong apa... hum, pembuatan fic kali ini penuh dengan perasaan yang campur aduk. Kayak gado" gitu... tapi... yah... aku benar" minta maaf karena pembuatan fic ini berjalan dengan lamban, tapi ak bnr" berterimakasih karena kalian sudah mau membacanya... _ _"
Baiklah... kembali seperti biasa, R n R Please? :D
