Disclaimer: Naruto dan karakter di dalamnya milik Masashi Kishimoto


The Time Traveler

Chapter 2: An Uninvited Guest


Ada yang aneh.

Kerutan alis Sasuke semakin dalam sementara ia berendam dalam jacuzzi berisikan air hangat. Entah sudah berapa lama ia ada di dalam sana, berendam dengan ketinggian air setinggi dada yang bahkan tak ia sadari buih-buih sisa gelembung sudah mulai lenyap.

Kamar mandi di lantai dua rumahnya ini berukuran cukup besar, dengan sebuah bathtub dan sebuah bilik shower di dalamnya. Dengan pengaturan sedemikian rupa, dinding dan langit-langit kamar mandi tersebut telah 'disulap' menjadi panorama bulan, lengkap dengan gambar bebatuan dan bumi yang berkilau seperti kelereng besar. Sayang, teknologi hologram empat dimensi belum dapat dipakai. Kalau sudah, mungkin saja lantai kamar mandinya telah berubah menjadi pasir.

Di tengah kesendiriannya, telinga Sasuke menangkap sesuatu yang ganjil. Suara orang yang bercakap-cakap, pikirnya. Suara tersebut samar-samar dapat menembus pintu kamar mandinya. Suara yang satu ia kenali sebagai ibunya, tapi suara yang satu lagi? Tidak mungkin, kan bercakap-cakap seorang diri? Dan sialnya lagi, ia tak bisa menangkap isi pembicaraan antara ibunya dengan entah-siapa-itu.

Buru-buru ia berdiri dan mencabut sumbatan jacuzzi. Kakinya yang kurus panjang juga basah berjalan pelan melintasi kamar mandi, meraih handuk dari gantungan untuk kemudian ia lingkarkan di sekeliling auratnya. Baru saja ia memastikan handuk itu sudah melilit kencang pinggangnya, ia merasakan gempa bumi. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan gempa bumi karena ia memang tinggal di Jepang, namun waktunya yang tiba-tiba langsung saja membuat ia jatuh terduduk di belakang pintu kamar mandi, matanya terpejam saking kagetnya.

Gempa bumi itu sendiri tidak lama, hanya sekitar lima detik. Namun Sasuke menyadari lima detik itu sangat berpengaruh terhadap hidupnya ketika ia membuka mata.

Hal pertama yang ia lihat bukanlah bilik shower kamar mandinya, melainkan sebuah tembok besar berwarna putih kusam, menjulang setinggi dua lantai di hadapannya. Pandangan ia sapukan ke sekelilingnya, di mana terdapat sebuah tong sampah besar tak jauh di sebelah kirinya dan mobil-mobil kuno yang melintas di sebelah kanannya.

Ia hanya bisa menyimpulkan sesuatu saat itu; ia berada di sebuah gang sempit di antara dua bangunan rumah bergaya Jepang kuno yang setahunya sudah layak dijadikan fosil museum. Tapi ia sendiri tak bisa menyimpulkan dengan pasti. Tubuhnya tiba-tiba kaku dan baru ia sadari bahwa ia masih memakai handuknya dan—hal paling sial yang pernah ia alami—ia terdampar di sebuah tempat yang sedang berada dalam musim salju. Hebat, rutuknya dalam hati.

Setelah celingak-celinguk, ia pun menemukan selembar kain lusuh tak jauh dari kakinya. Tanpa pikir panjang lagi, ia melilitkan kain itu di sekeliling dadanya. Dan, yah, penampilannya memang menjadi tak jauh dari gelandangan yang sering ia baca di buku-buku sejarah. Tentang pakaian mereka yang lusuh, wajah kotor, dan tangan yang menengadah untuk meminta belas kasihan. Ironis.

"Ma... maaf, apakah Anda tak apa-apa?"

Sasuke menengadah, dan matanya langsung bersitatap dengan sepasang iris Jade yang dihiasi bulu mata lentik. Ia baru saja ditegur seorang gadis. Jelita. Dengan rambut panjang berwarna merah muda—sebuah warna tak lazim, memang—dan sepasang mata hijau zamrud yang lebar, Sasuke sejenak seperti tak bisa berpikir apa-apa. Ia hanya dapat memerhatikan gadis yang memakai mantel tebal namun kuno tersebut.

Sasuke ingin sekali berkata sesuatu, namun masalahnya, gadis itu berbicara dengan bahasa yang ia taksir adalah bahasa… Jepang? Jadi, dia benar-benar di Jepang? Tapi bahasa Jepang yang dipakai gadis itu aneh, asing di telinganya walaupun ia masih bisa mengerti. Apa bahasa yang baru saja didengarnya adalah… Jepang kuno?

"A—ano, Anda orang Jepang, bukan?" tanya gadis itu setelah memerhatikan gelagat Sasuke.

Tidak ada yang bisa dilakukan Sasuke selain mengangguk canggung.

Gadis itu tersenyum manis sebelum melanjutkan, "Anda tidak apa-apa?"

Sasuke menelan ludah. "Y—ya," akhirnya Sasuke menjawab ragu.

Sekali lagi, gadis itu tersenyum. Senyum manis yang membuat Sasuke dengan konyolnya berpikir bahwa salju di sekelilingnya mencair sejenak. "Anda yakin?" tanyanya khawatir, tetapi matanya mengarah pada 'pakaian' Sasuke. "Saya kira Anda habis dirampok atau apa. Saya bahkan sempat berpikir bahwa korban bom Hiroshima bisa sampai ke Hokkaido sini," cerocosnya bersemangat, membuat Sasuke harus berpikir ekstra keras di suhu minus tersebut untuk mencerna kata-kata si gadis.

"Tunggu," kata Sasuke langsung setelah mendengar lawan bicaranya mengucapkan pernyataan yang aneh. "Bom Hiroshima?"

Dengan mata membulat heran gadis itu mengangguk.

Dengan cepat Sasuke berpikir. Menurut guru sejarahnya saat di bangku sekolah, Hiroshima memang pernah dibom saat Perang Dunia II. Sasuke terus menggali ingatannya. Perang Dunia II bukannya terjadi… tiga abad lalu?

"Apa?" tanya gadis itu begitu Sasuke menyuarakan pikirannya. "Bom Hiroshima baru saja terjadi enam bulan lalu, bukan berabad-abad yang lalu."

Mata Sasuke membulat lebar.

"Sekarang itu tanggal… oh, tunggu sebentar," gadis itu mengaduk tas belanjanya yang besar dan mengeluarkan sebuah arloji setidaknya menurut Sasuke (bahkan Sasuke sempat berpikir gadis itu pasti sangatlah kaya hingga mampu membeli arloji kuno itu)—yang 'hanya' berupa benda bundar berhiaskan tali panjang.

"Sekarang jam sembilan pagi, tanggal 22 April 1946," kata gadis itu akhirnya setelah memandang arlojinya beberapa saat.

Sontak Sasuke merasa matanya akan keluar saking lebarnya ia membelalak.

"1946, katamu? Bukannya 2310?" tanya Sasuke, membuat gadis itu mengerutkan kening, dalam, lalu tertawa terbahak-bahak.

"2310 katamu? Bahkan waktu belum melewati setengah abad 20! Demi Tuhan! Kau dari masa depan ya?" gadis itu tertawa lagi sebelum mengibaskan tangan dan melanjutkan, "astaga, aku tak pernah tertawa selepas ini sejak perang meletus," lanjutnya.

Belum sempat Sasuke berpikir lebih jauh lagi, sebuah tepukan halus di bahu kirinya mengagetkannya. Sasuke menoleh. Didapatinya seorang pemuda yang usianya mungkin tak terlalu jauh. Rambut pemuda itu merah tua, mata Jade yang sama dengan gadis berambut aneh yang tadi diajaknya berbicara, garis hitam tebal yang mengelilingi kedua matanya, dan sebuah tato berwarna senada dengan rambutnya bertuliskan 'Ai' dalam huruf Kanji Jepang.

Dengan suaranya yang serak pemuda itu berkata kepada sang gadis, "Maaf, tampaknya teman saya sudah mengganggu, hmm…"

"Hamasaki. Hamasaki Sakura," jawab gadis bernama Sakura itu.

"Ah ya, Hamasaki-san. Nama saya Gaara," pemuda berambut merah itu membungkukkan badannya sedikit, membuat setelan mantel—yang lagi-lagi dianggap Sasuke terlalu kuno. Untuk apa memakai mantel? Bukankah sudah ada baju anti dingin?—yang ia kenakan menimbulkan bunyi gemerisik pelan.

"Ah, kalau kau pasti benar-benar orang Jepang," Sakura terkesiap tiba-tiba, memandang tato 'Ai' di kening Gaara.

Gaara mengangguk kecil, sebelum kembali berkata, "Senang bertemu dengan Anda. Tapi maaf, kami harus pergi sekarang. Sekali lagi saya minta maaf atas nama Sasuke Uchiha, teman saya ini. Dia memang sedikit... gila," ujarnya seraya menepuk pundak Sasuke enteng, membuat yang ditepuk memandang Gaara bingung.

Bagaimana ia tahu namaku? Dan… hei, apa maksud dia dengan 'gila'?

Sakura tersenyum dan mengangguk, "Baiklah, lagipula saya juga harus pulang. Senang bertemu dengan Anda berdua, Gaara-san dan Uchiha-san," pamit Sakura sebelum melenggang pergi.

Sasuke mengalihkan pandangannya dari punggung Sakura yang menjauh ke pemuda di sebelahnya. Betapa terkejutnya ia ketika matanya bersirobok dengan gumpalan kain yang, yah, memang terlihat seperti baju itu. Atau mantel-kah? Tampaknya terlalu tradisional.

"Pakai ini," ujar sebuah suara, lalu tumpukan baju itu menurun, menampakkan sosok pemuda yang tengah menatap Sasuke. "Tadi kupinjam dari pemilik rumah sebelah. Pakailah. Aku tahu banyak yang ingin kau tanyakan, tapi aku harus bicara banyak. Musim dingin tahun ini kejam sekali, jadi aku perlu suasana hangat. Dan kita tak mungkin masuk kafe dengan kau yang hanya berbalut handuk dan kain lusuh, bukan?"


"Jadi…" Sasuke menyesap tehnya perlahan, "aku seorang Time Traveler—penjelajah waktu, eh? Begitukah maksudmu?"

Pemuda di hadapannya, Gaara, mengangguk kecil. "Tadi aku ke rumahmu dan bertemu ibumu. Begitu tahu kau sedang mandi, pikiranku langsung cemas. Benar saja, kau sudah berpindah. Jadi aku harus buru-buru kembali ke kantor dan melacakmu. Jadilah aku di sini," katanya santai.

Mereka berdua sedang menikmati segelas teh di sebuah kedai teh—kuno, tentu saja. Salju sudah mulai turun di luar, membentuk lapisan tipis di trotoar. Segalanya terlihat abu-abu, melengkapi duka negeri Sakura itu pascaperang.

Sasuke menatap baju yang dikenakannya. Oh, betapa aneh dandanannya. Sangat kuno. Sempat terlintas di benaknya bahwa ia lebih baik memakai mantel yang sedang disampirkan dengan manis di kursi.

"Kau sudah ditakdirkan," tambah Gaara, dengan wajah esnya yang biasa.

Kini Sasuke menatap Gaara tajam, "Ditakdirkan? Kau membuatnya terdengar seperti anda-baru-saja-memenangkan-undian-untuk-menjelajahi-waktu. Selamat," katanya sinis, "kau kira ini akan mudah untukku?"

Gaara hanya mengangkat bahu. Ia menyibak poni berantakannya sebelum menjawab, "Mudah tidaknya itu tergantung orang yang menjalaninya. Dan untukmu, kurasa…" ia memberi pandangan menilai pada Sasuke, "akan sulit, tentu saja."

Sasuke mendengus, memutuskan tidak menghiraukan perkataan Gaara. Tanpa menatap Gaara—melainkan menatap tumpukan salju yang makin tinggi, ia menggumam dingin, "Jadi, aku akan bekerja di GRC?"

Walaupun Sasuke tak melihat, ia tahu Gaara mengangguk.

GRC, atau Genetical Research Center, adalah tempat paling misterius sekaligus paling unik di dunia. Tersebar di berbagai negara, GRC hanya diketahui sebatas sebuah tempat penelitian sekaligus tempat berkumpulnya para 'manusia-super' yang pernah 'diciptakan' manusia. Tugas, cara GRC bekerja, sampai siapa saja yang termasuk dalam anggotanya sama sekali tak diketahui. Para anggota GRC seolah menutup diri atau bahkan menghilang tanpa jejak—yang sekarang Sasuke ketahui bahwa yang menghilang hanyalah Time Traveler—untuk beberapa waktu.

"Jadi… aku ini keturunan para pendosa, eh?" tanya Sasuke dengan seringai miris terpeta di bibirnya. "Gen-ku diwariskan turun-menurun, dan yang membuat penipuan gen ini adalah seorang manusia. Tidakkah itu menentang hukum alam?"

Gaara menyesap teh hangatnya sebelum menjawab, "Kau tahu, itu adalah satu hal yang selalu kupikirkan, bahkan sampai sekarang," jawabnya enteng, "tapi akhirnya aku sadar, bahwa suka atau tidak, rela ataupun tak rela, kita, para keturunan penentang-hukum-alam hanya bisa memperbaiki takdir dengan berusaha memaksimalkan kemampuan kita untuk mencegah penentangan hukum alam lainnya."

Alis Sasuke berkerut samar, "Maksudmu?"

Gaara menghela napas panjang, tatapannya menerawang ke luar kafe. "Kau tahu? Tanpa GRC, teknologi akan berkembang seratus kali lebih pesat daripada sekarang," jelasnya.

Mau tak mau mata Sasuke melebar. Tapi ia hanya diam, menunggu Gaara melanjutkan.

"Kalau tidak ada GRC yang tersebar di seluruh dunia, mungkin di masa kita sekarang manusia hanya perlu duduk dan berpikir untuk mengerjakan seluruh kegiatannya. Sisanya dilakukan oleh robot," lanjut Gaara.

"Lalu? bukankah itu semakin praktis?"

Gaara memandang Sasuke tajam. "Pada awalnya, ya. Tapi karena kita selalu dimanjakan oleh robot, sementara teknologi terus berkembang, manusia akan musnah," katanya dingin, "karena mau tidak mau akan ada ilmuwan-ilmuwan gila yang akan menciptakan robot-robot super pintar hingga manusia tidak perlu berpikir lagi."

Badan Sasuke bergidik ngeri.

"Kalau hal itu terjadi, walaupun tak musnah dalam arti sesungguhnya, manusia akan menderita kerusakan moral yang parah. Dan manusia juga akan kehilangan tugas 'utama' mereka yaitu menjadi pemimpin di bumi. Karena itulah, GRC diciptakan untuk menangkap dan mengawasi oknum-oknum tidak bertanggung jawab seperti itu," lanjut Gaara.

"Itu baru satu contoh," sambungnya pelan, "masih banyak ilmuwan-ilmuwan gila yang ingin menciptakan alat nonsense seperti mesin waktu."

"Mesin waktu?" ulang Sasuke tak percaya. "Kalau ada itu, untuk apa orang-orang macam kita dibutuhkan?"

Gaara memutar bola matanya sebelum memandang Sasuke, "Jangan bilang kau setuju dengan penciptaan mesin waktu itu," katanya dingin.

"Dulu, sekitar tahun 1972, ada seorang manusia gila yang mengaku telah berhasil menciptakan mesin waktu mini. Tadinya tidak ada yang percaya walaupun ia berhasil 'memindahkan' kucing beberapa blok dari flatnya. Sampai akhirnya ia pun hilang tak berbekas," jelas Gaara.

Kening Sasuke mengerut samar. "Lalu?"

"Lalu," tanggap Gaara setelah menyesap tehnya, "seseorang menemukan bahwa di koran tahun 1927, sekitar lima puluh tahun sebelumnya, ada headline di mana ditemukan sesosok manusia hangus terbakar. Di sampingnya terdapat benda aneh yang sangat mirip dengan mesin waktu buatan manusia gila yang menghilang itu."

"Benarkah?" tanya Sasuke tak percaya.

Gaara mengangguk. "Itu salah satu kasus yang masih berusaha ditutupi para pemimpin dunia. Dan sampai sekarang, manusia telah menciptakan teknologi yang super-canggih. Tapi kau harus ingat, tak ada yang bisa membelokkan atau memanipulasi ruang dan waktu," katanya serius.

"Jadi, kita ini apa?" tanya Sasuke gemas. "Kalau ilmuwan yang menciptakan kita adalah orang yang hebat karena bisa memanipulasi gen dan membuat kita bisa membelokkan ruang dan waktu, mengapa dia tidak ditangkap?"

"Dia ditangkap, tentu saja, karena dituduh melakukan percobaan ilegal di laboratorium. Catat, para polisi itu tidak tahu-menahu tentang percobaan penipuan genetika untuk menciptakan Time Traveler, mereka hanya mendapat laporan bahwa ilmuwan itu melakukan percobaan yang tidak seharusnya," sahut Gaara dengan nada dinginnya yang biasa.

"Tapi tak ada yang dapat diperbuat karena ia ditemukan bunuh diri dalam apartemennya tanpa ada alasan yang pasti, sedangkan istrinya telah melahirkan Time Traveler pertama. Tak ada yang menyangka bahwa anak itu adalah Time Traveler karena ia tak menunjukkan tanda-tanda keanehan. Anak itu tumbuh seperti biasa sehingga pemerintah pun membiarkannya.

Hingga, pada hari ulang tahunnya yang ke-19, ia menghilang dan baru kembali ke rumahnya lima tahun kemudian. Saat itulah ia menikah, memiliki keturunan, dan pensiun sebagai Time Traveler karena putranya sudah menginjak 19 tahun. Oleh gagasan Time Traveler yang pertama itulah, GRC akhirnya dibangun. Terlebih setelah ditemukan manusia-manusia berkeahlian khusus lainnya, bukan hanya Time Traveler. Dan karena jumlahnya telah melebihi perkiraan, tak mungkin satu-persatu dari mereka dibunuh."

"Tunggu," sela Sasuke. "Tadi kau bilang… Pensiun setelah memiliki keturunan?"

"Ya," Gaara mengangguk, "oleh karena itulah kau dan aku ada di sini, berabad-abad jauhnya dari kehidupan kita seharusnya. Karena kita memiliki pendahulu."

"Jadi…" kata Sasuke lambat-lambat. "Aku masih memiliki Ayah?"

Lagi-lagi Gaara mengangguk. Senyum samar terkembang di bibirnya. "Kau masih punya Ayah, begitu pula aku. Ayahku adalah salah satu pimpinan kantor pusat GRC di New York, dan beliau sudah hidup normal setelah aku berusia 19 tahun sepertimu. Tidak pernah berpindah lagi—sebutan untuk menjelajahi waktu."

Sasuke mengangguk pelan. "Apa kau… mengenal ayahku?" tanyanya ragu.

Gaara menyesap tehnya hingga tandas, menyeka ujung bibirnya dengan saputangan, sebelum menjawab, "Tentu saja. Seluruh anggota GRC di Jepang mengenalnya. Seorang anggota Divisi Investigasi yang… yah, paling ditakuti. Fugaku Uchiha."

Sasuke merasa jantungnya berdesir mendengar seseorang yang bernama belakang sama dengannya. Fugaku Uchiha. Benarkah ayahnya masih hidup? Selama ini ia hanya mengetahui bahwa ayahnya meninggal dalam tugas—tidak tahu tugas apa dan pekerjaannya apa.

"Baiklah, kurasa cukup pengenalannya," tandas Gaara seraya memakai mantelnya. Sasuke ikut berdiri. "Ternyata kau tidak serewel diriku saat pertama kali diberitahu tiga tahun lalu," tambahnya setengah bergurau—tentu saja Sasuke tidak tahu, wajah Gaara sangat dingin—dan mengangkat tangan, memanggil pelayan kafe sementara Sasuke memakai mantelnya.

Lebih mudah diyakinkan? Tanyanya dalam hati. Benarkah?

"Ah, ya. Gaara," panggil Sasuke, tepat ketika seorang pelayan bergegas menuju meja mereka.

Gaara menoleh.

"Kau akan membayar dengan uang apa?"


To be Continued


Fyuuh, akhirnya selesai juga chapter ini. Jujur, bener-bener susah deh meliterarisasikan apa yang ada di pikiran ke Ms. Word -_- jadi aku cuma berharap yang baca sih ngerti, hehehe.