Disclaimer: Siapa lagi kalau bukan Masashi Kishimoto? Saya hanya penggemar yang berusaha meliterasikan imajinasi saya.


The Time Traveler

Chapter 3: The Journey has Begun


Genetical Research Center, yang biasa hanya disingkat GRC, merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari tiga bangunan berbentuk liukan lidah api berwarna hitam—merah, kalau malam hari—dan kalau dilihat dari atas, ketiga puncaknya membentuk titik yang apabila digabungkan akan membentuk segitiga sama sisi, kalau dari depan, ketiganya terlihat membentuk tiga lidah api yang menjilat langit. Desainnya yang unik dan futuristik—bahkan di zaman yang sudah dianggap canggih itu—membuat setiap orang terpana melihatnya. Mereka seolah ingin memasuki dan mengetahui setiap sudut bangunan-bangunan itu, meneliti apa yang dilakukan para karyawannya.

GRC sudah berusia lebih dari tiga abad di dunia, dan baru seabad sebelumnya dibangun di Jepang, seiring meningkatnya berbagai kasus misterius di luar akal sehat yang menimpa para penduduk. GRC sendiri sebenarnya adalah lembaga, bukan kementerian. Namun mereka memilih menggunakan kata 'departemen' atau ministry. Tim arsitek gedungnya sendiri terdiri dari berbagai orang berkemampuan istimewa tersebut, yang bisa berpikir jauh lebih cepat dan cekatan dibanding manusia manapun di dunia. Selang kurang dari dua tahun—mengingat siapa yang membuatnya—GRC Jepang akhirnya diresmikan dan siap untuk menampung para manusia berkekuatan super di bawah pimpinan Direktur Utama (sekaligus pertama), Hashirama Senjuu, seorang Time Traveler yang sudah pensiun. Tentu saja ia sudah tidak bisa berpindah lagi, sehingga seluruh bawahannya tidak akan direpotkan dengan hilangnya Direktur Utama secara tiba-tiba.

Seperti yang sudah diceritakan, ada tiga gedung pencakar langit yang ada di kompleks seluas ratusan hektar tersebut. Gedung yang paling kanan bila dilihat dari pintu masuk adalah gedung Ministry of Flyer, tempat di mana Flyer—orang yang memiliki kemampuan untuk terbang—di Jepang berkumpul. Tidak ada yang tahu persis asal mula pembuat mereka. Ketika diteliti, sekumpulan orang tersebut ternyata memiliki medan magnet tersendiri dan mempunyai kekuasaan penuh untuk mengendalikannya, untuk menolak benda—termasuk tanah—ataupun melekatkannya di sekujur tubuh mereka.

Bisa dikatakan bahwa Departemen Flyer ini merupakan departemen yang paling terbuka dalam artian ramah, dan dengan senang hati menjadi jembatan penghubung antara masyarakat dan pemerintah dengan GRC Jepang. Maklum saja, mereka terbiasa terbang ke sana-ke mari untuk menghadiri berbagai seminar atau hanya untuk mencari berita (ada juga di antara mereka yang bekerja sebagai jurnalis) yang memang menuntut pergaulan lebih luas. Walaupun begitu, mereka tidak pernah membeberkan rahasia perusahaan atau sekadar menunjukkan kebolehan.

Berangkat dari Flyer, kini bergeraklah menuju gedung yang ada di tengah. Gedung sekaligus departemen paling tertutup, letaknya pun paling jauh dari pintu utama. Ministry of Intelligence. Orang-orang super yang kecerdasannya melebihi batas normal berkumpul di tempat itu dan sering mengadakan penelitian rahasia. Rata-rata para karyawan maupun penelitinya memiliki IQ di atas 300, sekitar dua sampai tiga kali lebih cerdas dibanding manusia normal.

Awalnya tidak ada yang memerhatikan mereka, karena mereka lahir seperti biasa. Namun setelah menginjak umur tertentu, bisa sebulan atau dua bulan setelah dilahirkan, sebagian besar dari mereka sudah lancer berjalan. Umur kurang dari enam bulan, koran dan berita adalah makanan sehari-harinya. Yang membuatnya semakin mengerikan adalah semakin banyaknya bayi di Jepang yang memiliki keanehan macam itu dalam waktu hampir bersamaan.

Mengingat IQ dan tingginya pengetahuan mereka, nyaris tidak mungkin mengorek informasi apapun dari departemen yang satu ini. Para pegawainya terbiasa menginap di kantor karena tidak ada keluarga yang ingin menampungnya. Yang mereka lakukan sehari-hari hanyalah meneliti, meneliti, dan meneliti di laboratorium, termasuk meneliti gen aneh mereka dan berusaha mengembalikan gen mereka seperti layaknya manusia biasa. Tidak heran mereka menjadi lebih tertutup dan cenderung menyendiri.

Sedangkan gedung yang paling kiri adalah tempat tujuan pemuda berambut crimson berusia 22 tahun yang kini tengah memacu mobil hybrid merah menyala miliknya. Benda yang meluncur satu kaki di atas jalan raya itu baru saja berbelok ke kiri, menuju pintu gerbang besar otomatis.

Mobil bertenaga hidrogen itu berhenti tepat di sebelah pos penjagaan. Disebut begitu pula bukan berarti pemiliknya akan menemui pria-pria berseragam dan bertampang sangar yang akan memeriksanya dengan brutal, melainkan pos tersebut hanya berisi mesin-mesin yang sudah cukup pintar untuk tidak bisa dikelabui oleh orang-orang non anggota GRC.

Gaara menurunkan kaca mobilnya seraya menggesekkan kartu anggotanya di sebuah mesin yang mirip telepon. Ia menyentuh pemindai sidik jari, memasukkan beberapa angka—password miliknya. Tentu saja belum selesai. Ia melakukan pemindaian retina dengan memusatkan pandangannya pada alat yang memang diposisikan setinggi mata manusia yang sedang duduk di dalam mobil, hingga pemuda itu hanya perlu menoleh dan menatap lubang yang ditentukan.

Setelah menunggu beberapa saat, ia pun mengambil sebuah stik kayu kecil—yang lebih mirip stik es krim—dan menaruhnya di lidah sebelum ia kembali memasukkannya ke mesin tersebut. Tak lama kemudian, hasilnya pun tertera di layar. Foto dirinya, lengkap dengan data dan divisi tempat ia bekerja.

Ah, masih ada satu prosedur lagi. Ia berdeham, lalu mengeluarkan suara agak keras sembari berkata, "Arigatou," pada mesin pemindai keempat indera tersebut.

Melalui lima tahap prosedur yang sudah ratusan kali ia lalui itu sebenarnya cukup menyita waktu dan membosankan, karena setelah pemindaian suara selesai, barulah palang pintu yang menghalanginya terangkat sehingga mobilnya pun bisa meluncur dengan nyaman. Mesin yang merepotkan itu memang khusus dirancang orang-orang jenius di Intelejensi. Jangan coba berbohong atau menyusup, karena ada penjara besi yang langsung terhujam ke tanah dan mengurung mobil beserta pengemudinya kalau saja ada satu dari lima prosedur tersebut yang tidak sesuai data. Gaara sendiri pernah punya urusan dengan mesin tersebut saat suaranya sedang serak parah dan belum sempat berobat.

Pemuda itu membelokkan mobilnya ke kiri, tempat gedung departemennya berada. Bukan dengan setir, karena mobil canggih tersebut sudah dirancang untuk mengenali jalanan yang dilaluinya setiap hari. Alhasil, tanpa menyentuh apapun untuk mengemudikan, Gaara dapat sampai ke kantornya dengan selamat.

Setelah sampai di depan gedung bertingkat 30 itu, Gaara turun dari mobilnya dan membiarkan benda itu meluncur menuju basement. Dan di sinilah ia. Di depan sebuah gedung yang resmi menjadi rumah keduanya sejak tiga tahun belakangan.

Departemen Time Traveler.

Pria berwajah pucat itu menghela napas panjang, membetulkan dasi hitamnya, sebelum menaiki sepuluh anak tangga untuk mencapai lobi.


"Masuk."

Pria tua berambut putih itu mendongak untuk melihat anak buahnya yang tengah menutup pintu besi di ruangan serba metalik, ruang kerjanya. Sebenarnya itu tindakan yang tidak perlu, mengingat siapapun yang masuk ke ruangan tersebut haruslah melakukan lima tahapan prosedur yang sudah dipakai GRC Jepang lima puluh tahun belakangan, jadi ia sudah tahu siapa yang kini berjalan menyusuri ruangan itu. Tapi pria tersebut memilih mengabaikan kertas-kertas yang berhamburan di mejanya untuk memerhatikan ekspresi tak terbaca di wajah sang anak buah.

Ia sudah penasaran.

"Gaara, anakku," sapanya ceria seraya meletakkan pulpennya begitu saja di atas tumpukan putih di mejanya.

Yang disapa hanya mengangguk singkat sebelum berjalan menyusuri ruangan dan membungkuk sopan di hadapan pemimpin tertinggi di ministry-nya itu.

"Minister," sahutnya sopan yang dijawab anggukan dan isyarat untuk duduk oleh pimpinannya.

Gaara mengangguk tanda memahami, lalu duduk di kursi kosong yang disediakan. Segera saja dirinya merasa dipijat. Kursi tersebut memang dimaksudkan untuk membuat siapapun yang menduduki merasa nyaman. Sang pimpinan sendiri yang memesannya, sebenarnya, dan ia maklum saja mengingat selera humor pria bernama Jiraiya itu yang agak aneh.

"Lalu, bagaimana?" Jiraiya menatap anak sahabatnya itu dengan penuh semangat, tak sabar menanti cerita yang menurutnya akan mengalahkan Icha-Icha Tactics, proyek novelnya yang menjadi kerjaan sampingan selain menteri di departemen Time Traveler itu.

Melihat semangat Jiraiya yang berlebihan, Gaara mendengus menahan tawa. "Tidak menarik," katanya singkat, mengundang tanda tanya bagi pria di hadapannya. "Membujuk dia tak sesulit membujukku, tampaknya," sambungnya seraya menggidikkan bahu.

Bahu Jiraiya melemas mendengar kenyataan yang tidak semenyenangkan harapannya. Padahal ia sudah siap menggoda Fugaku Uchiha kalau saja si Sasuke itu bertindak berlebihan. "Benar-benar tidak menarik? Dia sama sekali tak terkejut? Atau jangan-jangan dia senang karena bisa masuk gedung ini?" tanyanya curiga. Ia memang tidak suka jika ada anak baru yang semangat bekerja hanya karena berhasil masuk ke gedung rahasia tersebut.

"Tidak, tidak, tidak seperti itu," sanggah Gaara cepat, "maksudku, kau tahu kan bagaimana reaksiku saat Kakashi datang memberitahu. Aku, yang hanya tinggal dengan ibu dan seorang kakak perempuan, tiba-tiba diberi kabar semengejutkan itu. Pantaslah kalau aku sampai mencoba bunuh diri karena merasa kotor," ia berhenti untuk menarik napas, "kau tak tahu bagaimana anggapan orang-orang tentang manusia yang memiliki gen khusus seperti kita. Aku bahkan merasa malu pada awalnya."

Jiraiya mendengarkan dengan seksama. Ia memang sudah tahu tiap detilnya dari Kakashi, tapi tetap saja pandangan anak muda dianggapnya penting.

"Mungkin Sasuke Uchiha juga memiliki anggapan seperti itu, dia sama sekali tak senang saat aku memberitahunya. Tapi aku segera menjelaskannya tentang GRC, dan dia terlihat sedikit tenang," sambungnya, "mungkin dulu aku bereaksi berlebihan karena menganggap GRC hanyalah kumpulan orang-orang sombong yang berniat menguasai dunia, karena Kakashi tidak menjelaskan secara eksplisit."

Selesai Gaara berbicara, Jiraiya mengangguk dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang langsung bereaksi dengan memijat punggung sang pemilik. Tampak ada pikiran yang terus mengganjalnya. "Aku semakin khawatir… generasi muda sekarang lebih kritis. Kalau kritis yang benar, boleh saja. Tapi mereka kritis dengan sok menyalahkan penguasa, tanpa mengetahui apa yang ada di dalamnya, mengetahui seperti apa orang-orang di sini…" ia melempar pandangan ke luar jendela besar, menatap raja siang yang makin condong, "… mengetahui betapa kita juga menderita."

Pemuda tanpa alis di depannya mengangguk setuju. "Aku membaca koran pagi ini, dan ada satu artikel yang menyatakan tren yang sedang merebak, mereka beranggapan bahwa anak-anak yatim adalah calon Time Traveler. Mengerikan sekali, ya," ia menggeleng pelan, "masalahnya adalah, koran tersebut termasuk koran populer yang beredar luas di masyarakat. Aku takut kalau orang-orang yang sebelumnya tidak pernah berpikir seperti itu justru terpengaruh."

Jiraiya menghela napas panjang. Sebelah telapak tangannya bertengger di dahi, wajahnya tertunduk, terlihat sekali pekerjaannya akan jauh lebih berat. Ia tidak pernah menyangka betapa sinisnya masyarakat terhadap GRC, khususnya terhadap para Time Traveler. Ia jadi memikirkan bagaimana putranya, Hitoshi, yang lima tahun mendatang akan pensiun, mengingat putranya—cucu Jiraiya—sudah menginjak 14 tahun. Ia ingin tahu bagaimana anak sulungnya itu dulu diperlakukan.

"Sudahlah," Jiraiya mengibaskan tangan setelah mengangkat wajahnya, "kembali ke topik. Jadi, kapan anak Fugaku itu siap bekerja?"

Mendengar semangat bosnya kembali, Gaara tersenyum tipis.


"Sasuke…"

Yang dipanggil segera menghentikan kegiatannya membaca buku tebal yang dipinjamnya dari perpustakaan kampus. Ia menengok dan mendapati Mikoto sudah di belakangnya. Buru-buru pemuda itu menutupi buku yang tengah dibacanya itu. Namun terlambat, mata tajam sang ibu dapat membaca judul yang tertera dengan huruf besar-besar.

"'Time Traveler dan Sejarahnya'?" kening nyonya Uchiha itu mengerut samar kala membaca judul buku yang ada di pelukan putranya. Tak lama, karena ia langsung memahami dan balik menatap putra tunggalnya itu dengan penuh kasih. "Kau sangat penasaran, ya?" tanyanya lembut seraya membelai rambut hitam yang mengingatkannya pada sang suami.

Merasa sudah tertangkap basah, Sasuke kembali menaruh buku tersebut di meja belajar. Hologram tiga dimensi yang disertakan dalam buku tersebut, yang tengah menayangkan mutasi genetik yang dialami Time Traveler pun ia matikan. "Tidak," jawabnya setelah beberapa lama. "Aku hanya penasaran, bukan sangat. Aku hanya ingin mengetahui dunia yang digeluti ayah sebelum aku menggantikannya."

Mendengar jawaban Sasuke, Mikoto tak langsung menanggapi. Tak terasa, bening sudah menggenang di pelupuk matanya begitu mengingat waktunya bersama sang putra yang semakin sedikit—

"Ibu, Ibu kenapa?" tanya Sasuke panik melihat sang ibu menyusut ekor matanya. Tampak cairan yang masih tersisa membentuk linangan kecil di sekitar matanya.

"Tidak," Mikoto berusaha untuk menghapus air mata yang terus jatuh, "—tidak, Ibu hanya merindukan ayahmu…" dan kamu, sebentar lagi.

"Oh, ayah…" gumam Sasuke tak jelas sebelum kembali membuka buku tebalnya. Sial. Ia tidak bisa berkonsentrasi. Kepalanya dipenuhi bayangan akan ibunya yang entah kapan bisa ia temui lagi.

"Ibu," panggil pemuda yang baru mengenyam bangku kuliah selama setahun itu, "aku ingin tahu tentang ayah. Bagaimana Ibu bertemu dengannya, bagaimana kalian menikah, dan bagaimana Ibu bisa setia selama sembilan belas tahun ini walaupun ayah tidak pernah pulang."

Jujur, Mikoto terkejut diberondong pertanyaan seperti itu oleh anaknya sendiri. Walau begitu ia tetap berusaha menjawab, "Ayahmu ya, dia orang baik… dan pengertian," tangisnya hampir pecah lagi, "ibu adalah temannya semasa SMA. Dia orang yang tertutup, sangat tertutup malah. Dia nyaris tidak pernah bicara, dan itu membuat ibu semakin penasaran. Hingga tanpa sadar ibu jatuh cinta padanya," sambungnya diakhiri tawa geli.

"Bahkan, waktu ibu menyatakan cinta padanya,"—mata Sasuke melebar mendengar pengakuan ini, "ayahmu menolak. Sampai-sampai ibu mencari tahu tentangnya, dan mengetahui mengapa ayahmu sependiam itu. Ternyata dia anak Time Traveler. Ibu kaget, tentu saja, tapi tidak menyerah. Karena ibu tahu, jauh di balik mata kelamnya, ayahmu memiliki hati yang hangat. Akhirnya, ibu terus berusaha dan… tepat saat kami berumur 19 tahun, ia merasa tidak perlu menyembunyikan apapun. Dia menerima cinta ibu," terangnya panjang lebar dengan selipan senyum kecil di sana-sini.

"Kalian mulai pacaran di umur 19 tahun?" tanya Sasuke tak percaya begitu mendengar narasi sang ibu. "Tapi, bukankah seorang Time Traveler sangat sibuk? Bukankah ayah selalu berpindah-pindah, bahkan tanpa disadari?"

Tiba-tiba Mikoto tertawa. Tangisnya yang sempat hadir pun seperti dilupakan. Ia mengelus rambut halus milik Sasuke seraya berkata gemas, "Mungkin kau tidak pernah melihat ayahmu, tapi dia kadang-kadang pulang, kok. Bisa seminggu, dua minggu, atau sebulan sekali. Bahkan dalam seminggu ayahmu bisa pulang dua kali. Tapi, yah, memang ia selalu datang malam hari dan pergi pagi-pagi sekali untuk menghindarimu."

"Mengapa harus menghindariku?"

Mikoto menyipitkan mata, berusaha menyusun kata-kata yang tepat. "Saat kau berumur tiga atau empat tahun, ayahmu masih berani menampakkan diri. Tapi setelah lewat dari umur itu, kau sudah semakin dewasa dan ingatanmu yang sekarang pasti mengingat peristiwa setelah umurmu 5 tahun, walaupun sedikit. Jadi, daripada kau semakin banyak tanya dan semakin besar, ayahmu memilih menyembunyikan diri darimu."

Sasuke berupaya mencerna kata-kata yang diucapkan ibu tercintanya. Benarkah ayahnya masih sering pulang?

"Dan soal berpindah tanpa disadari, kau mungkin belum baca bab keempat buku itu yang menyatakan bahwa tiap Time Traveler baru akan dilatih untuk bisa mengendalikan kekuatannya. Jadi, ayahmu berpindah hanya kalau ada tugas. Sisanya ia habiskan di kantor dan di rumah."

Alis Sasuke berkerut samar. "Ibu… sudah membaca buku ini?"

Mikoto tersenyum riang, nyata sekali ia senang diberi pertanyaan seperti itu. "Tentu saja. Itu salah satu buku yang ibu baca saat menyelidiki ayahmu."

Oh, sekarang ibunya berhasil membuatnya terkejut. Sasuke merasa seperti orang bodoh. Tapi bukan itu yang mengganggu pikirannya untuk saat ini. "Ibu, kapan ayah terakhir kali pulang?"

Mikoto berpikir sesaat, "Minggu lalu. Tapi katanya ia pulang Sabtu besok—ah, ya sudahlah, toh kamu sudah tahu kenyataannya. Memangnya kenapa?"

Sasuke menelan cairan tawar di mulutnya. Ia sedikit gugup kala berkata, "Ka—kalau boleh, sebelum aku pergi, aku ingin bertemu ayah. Bolehkah?"

Sungguh, dalam pikiran terliarnya pun Mikoto tak berani membayangkan Sasuke bertemu ayahnya setelah belasan tahun. Kali ini Mikoto berpikir keras, bahkan sampai tak menyadari bahwa dirinya menahan napas, sebelum tersenyum dan mencubit ujung hidung Sasuke dengan gemas, "Tentu saja boleh, Anakku."


To be Continued


Akhirnyaaaaa saya berani ngelanjutin juga, setelah ini fic sempet terbengkalai #dor #dor. Maaf banget kalau saya kurang jelas penuturan teknologinya, saya emang nggak bakat -_- Sakuranya belum nongol di sini, Sasukenya juga masih dikit. Rencana saya emang mau bangun plot dan setting dulu sebelum masuk ke inti gitu hehe. Yah, pokoknya makasih yang udah baca & review! ^^