Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto.


Time Traveler

Chapter 4: The Meeting


Gaara menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah berlantai dua, di sudut kota Tokyo. Gaara menghabiskan sebagian besar hidupnya di New York sebelum memutuskan untuk pindah ke tanah leluhurnya dua tahun lalu, dan ia terlalu sibuk untuk menghapal alamat dan jalanan di Tokyo, walaupun ia tidak pernah tersesat. Biasanya ia bergantung pada sistem otomatis di mobilnya, tapi jalan menuju alamat yang ia tuju tidak ia kenal, hingga ia hanya berharap GPS mobilnya berfungsi dengan baik.

Sekilas, rumah itu terlihat sama dengan rumah-rumah di sekelilingnya, dengan dinding putih kaku yang sudah menjadi standar pemerintah. Namun Gaara tahu, rumah itu bukan rumah biasa. Di dalamnya ada calon Time Traveler yang harus segera ia temui.

Tugas pemuda berambut crimson itu sebenarnya hanya menjaga 'lalu lintas' para Time Traveler agar mereka tidak sembarangan berpindah. Ia menghabiskan waktu sehari-hari di ruang kontrol, bersama orang-orang serius yang juga sesekali berpindah menembus waktu. Hei, bagaimanapun juga, orang-orang di Departemen yang diketuai Jiraiya itu tetaplah Time Traveler. Mereka, termasuk dirinya, kadang berpindah. Mereka harus berpindah.

Gaara nyaris tidak pernah turun ke lapangan. Ia lebih suka bekerja di hadapan puluhan komputer di ruang kontrol, bersama beberapa rekan yang pendiam. Oleh karena itu ia terkejut ketika Jiraiya memanggilnya dan memberikan portofolio berisi data seorang calon Time Traveler. Sasuke Uchiha. Anak dari Fugaku Uchiha, atasannya langsung di ruang kontrol, sekaligus tangan kanan Jiraiya. Dan di sinilah ia, berdiri di depan rumah pemuda yang terkenal dingin itu, berandai-andai mengapa ia mau menerima tugas ini.

Ia merapikan kemeja hitamnya, melihat layar di ponselnya yang menunjukkan alamat Sasuke Uchiha. Setelah memastikan segalanya benar, ia memencet bel.

Mikoto Uchiha adalah wanita cantik berambut hitam dengan wajah ramah, atau setidaknya begitulah penilaian Gaara ketika pertama kali melihat istri atasannya tersebut. Ibu Gaara meninggal saat melahirkannya, membuat pemuda itu tumbuh sebagai anak kecil yang hanya dirawat oleh kedua kakaknya. Itu pun sebelum Kankurou menghilang saat Gaara baru berusia enam belas tahun (yang tiga tahun kemudian ia ketahui alasannya). Ayahnya baru pulang ketika Gaara menjadi Time Traveler dan langsung menjadi Minister di New York.

Gaara duduk di salah satu sofa yang tersedia di ruang tamu. Rumah itu memang tidak besar, namun terlihat hangat dan nyaman. Tidak terlalu sesak, tapi juga tidak terlihat kosong. Ruang tamu yang terhubung langsung dengan ruang keluarga membuat ruangan itu terasa lapang. Bahkan terlalu lapang untuk sebuah rumah yang hanya diisi dua orang.

Mikoto kembali dari dapur dengan dua cangkir teh hangat. Ia duduk di depan Gaara, tersenyum.

"Gaara?" ucap Mikoto setelah pemuda berambut crimson itu mengenalkan diri.

"Kau pasti dari GRC," sambungnya ramah, dijawab anggukan pemuda di hadapannya. Senyumnya perlahan menghilang, meninggalkan raut keibuan yang menghiasi wajahnya. "Dan kau ke sini untuk... yah, untuk memberitakan hal besar ini untuk Sasuke."

"Saya tahu ini berat, Mikoto-san," ujar Gaara setelah berpikir untuk menyusun kata-kata yang tepat. Ia sama sekali tidak terlatih untuk ini. Ia tidak sefasih orang-orang dari divisi satu yang memang bertugas menangani Time Traveler baru.

Ada dua belas divisi di departemen Time Traveler, masing-masing dengan tugas yang berbeda. Gaara sendiri bekerja di divisi tiga, mengontrol perpindahan para Time Traveler sekaligus melacak mereka. Bukan pekerjaan yang menuntut kelancaran berbicara. Gaara masih heran mengapa Jiraiya tidak menyuruh orang yang lebih ceria dari divisi tiga seperti Kiba atau Chouji.

"Jadi ini waktunya?" tanya wanita itu lembut.

Pemuda berambut merah itu mengangguk sembari menyesap teh yang disuguhkan Mikoto. Ia dapat menangkap kekhawatiran pada wajah cantik itu, dan ia maklum. Suami dan anaknya adalah Time Traveler. Mikoto pasti sudah mencemaskan Sasuke sejak pemuda itu lahir. Cemas menanti waktu ketika sang putra akan direnggut darinya.

"Jangan khawatir," ujar Gaara, meletakkan kembali tehnya. "Dia bisa tetap tinggal di sini. Dia bisa kuliah, hanya saja dia harus rutin mengunjungi GRC. Time Traveler baru harus dilatih."

Mikoto melempar pandangan ke lantai atas. Ekspresinya tidak tertebak. Sedih? Kecewa? "Tolong jaga dia. Ini pasti tidak akan mudah untuknya."

Gaara terdiam sejenak. "Tidak ada yang mudah bagi Time Traveler baru. Semua butuh penyesuaian, penjelasan yang benar, agar tidak ada kesalahpahaman. Sebagian besar Time Traveler baru tidak bisa menerima kenyataan pada awalnya. Tapi seiring waktu, mereka akan menerima. Tenang saja."

Terdengar helaan napas panjang dari Mikoto. Ia menggigit bibir bawahnya perlahan, masih ragu akan kenyataan yang menghadang di depan mata. "Apakah ada kemungkinan Sasuke bukan Time Traveler? Maksudku, sampai saat ini dia tidak menunjukkan tanda-tanda berpindah. Mungkin Sasuke adalah pengecualian."

Tidak ada pengecualian bagi anak lelaki dari Time Traveler, kecuali ibunya terlibat affair dengan laki-laki lain, begitulah pikiran Gaara, yang nyaris saja ia ucapkan kalau saja pemuda itu tidak tahu sopan santun. "Tidak mungkin, Mikoto -san. Putra Anda mungkin berpindah kapan saja, tidak harus sekarang. Yang jelas, ia tidak akan berpindah sebelum berumur 19 tahun. Mengenai kapan ia berpindah setelah berumur 19 tahun, itu tidak bisa diketahui. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan seorang Time Traveler akan berpindah tanpa sadar. Oleh karena itu, pencegahan lebih baik. Semakin cepat dia tahu, semakin cepat kami bisa mengontrol perpindahannya."

Mendengar penjelasan panjang Time Traveler muda itu, kedua bahu Mikoto lemas. Ia sudah terbiasa dengan Time Traveler, tapi Sasuke berbeda. Ia tidak yakin putranya akan menerima kenyataan. Sasuke tidak menyukai perubahan drastis. Pemuda itu terlalu nyaman dengan kestabilan hidupnya sekarang.

Memecah keheningan yang menyelimuti mereka, Gaara berkata, "Kalau begitu, tolong bawa Sasuke ke sini sebelum—"

Tepat ketika Gaara mendengar bunyi benda jatuh dari lantai atas, ia tahu ia terlambat. Gaara memandang Mikoto yang sama terkejutnya. Salah satu sensasi berpindah memang merasakan adanya gempa. Dan bukannya tidak mungkin Sasuke sudah berpindah—entah ke mana.

"Shit," umpat Gaara pelan tanpa menghiraukan Mikoto yang buru-buru menaiki tangga. Ini tugas pertamanya sebagai pemandu Time Traveler baru dan ia sudah mengacaukannya. Gaara menekan tombol di earphone yang terpasang di telinganya. Earphone yang langsung terhubung dengan ruang kontrol di GRC.

"Shino, tolong lacak Sasuke Uchiha. Dia baru saja berpindah. Cepat kabari kalau kau sudah menemukannya," ucap Gaara cepat.

Perhatian Gaara sedikit teralihkan saat Mikoto yang pucat pasi turun dari tangga. "Dia menghilang."

"Saya tahu," jawab pemuda itu sebelum ponselnya berbunyi, menampakkan koordinat Sasuke sekarang, atau pada masa lalu, atau pada masa depan, entahlah, juga tahunnya, yang dikirimkan oleh Shino Aburame, rekannya di ruang kontrol. Ia sedikit tertegun kala melihat tanggal di tempat Sasuke berada sekarang. Ratusan tahun. Oke, tampaknya ini akan menjadi perjalanan panjang.

Gaara menghela napas sembari menaruh ponselnya kembali ke saku. Ia membuka satu kancing paling atas dari kemejanya, membiarkan dadanya mendapat lebih banyak udara. Ia melemaskan lehernya dan memandang Mikoto yang masih mematung.

"Anda punya jaket? Atau mantel musim dingin?" tanyanya. Ia tahu di tempat Sasuke berada sedang musim dingin. Meskipun kemeja hitamnya sudah cukup didesain untuk melindunginya dari hipotermia, bahannya terlalu tipis dan Gaara tidak ingin terlihat mencolok di tengah musim dingin ratusan tahun lalu, saat teknologi semacam ini belum ditemukan.

Tak lama kemudian, Gaara sudah memakai setelan coat hangat yang terlihat aneh dan... kuno. Ia sendiri heran mengapa Mikoto masih memilikinya. Gaara kembali menatap Mikoto yang kembali terdiam di dasar tangga. Ia tidak punya waktu banyak untuk menyusul Sasuke.

"Anda sudah pernah melihat senior Uchiha berpindah? Saya harap Anda tidak terkejut," jelas Gaara ringan tepat sebelum menutup matanya, berkonsentrasi penuh.

Gaara membayangkan koordinat tempat Sasuke berada, sekaligus hari dan tanggalnya, juga apapun yang mungkin mendukung suasana di tempat tersebut. Memaksakan berpindah adalah hal yang sulit dan butuh konsentrasi dan persistensi yang tinggi. Gaara sendiri, walaupun sudah berpengalaman, terkadang menemui kesulitan. Ia hanya berharap kesulitan itu tidak menghampirinya kali ini.

"Hati-ha—"

Belum sempat Mikoto menyelesaikan kalimatnya, Gaara sudah tidak ada di sana. Lenyap ditelan udara di sekelilingnya, meninggalkan Mikoto dalam kesunyian, memandang titik di mana Gaara menghilang sekejap mata. Ia merasa masih dapat mendengar helaan napas Gaara sebelum pemuda itu menghilang.

Tidak lama setelah Gaara menutup mata, ia merasakan sensasi familiar yang membungkus tubuhnya dengan ketat. Udara tertarik keluar dari paru-parunya, membuatnya tercekat. Ia mencoba untuk tetap tenang, menahan napas, sebelum ia merasakan tubuhnya melayang tersedot udara, menembus ruang dan waktu, hingga akhirnya kedua kakinya berpijak pada lantai batu dan udara dingin menembus coat tebalnya.


Sasuke terdiam di kamar tidurnya. Ia duduk di pinggir tempat tidur, dengan kedua tangan bertemu di bawah dagunya. Ia sudah bertahan dalam posisi itu berjam-jam, kalau tidak bisa dibilang semalaman... atau bermalam-malam? Dilihat dari jendela kamarnya, langit sudah gelap di luar sana. Lingkar kehitaman mulai terbentuk di bawah matanya seiring usahanya agar tidak tertidur. Ia takut akan berpindah jika ia kehilangan kesadaran.

Sebenarnya baru tiga malam berlalu sejak Sasuke merasakan sensasi tercekik saat Gaara menyentuh bahunya di gang sempit tempat ia pertama kali tiba di masa lalu, membuatnya merasa dipaksa masuk ke dalam selang bernama waktu. Dan ketika ia membuka mata, pemandangan familiar ruang tamu menyapa indera penglihatannya, ditambah tatapan cemas sang ibu yang langsung memeluknya.

Semua itu terasa sudah berminggu-minggu yang lalu. Mungkinkah perjalanan waktu yang baru saja ia lalui membuatnya disorientasi? Sasuke merasa nyaris gila. Selama ini Time Traveler memang bukan dongeng. Mereka seperti organisasi bawah tanah yang menurut teori konspirasi sedang menyusun cara untuk menguasai dunia. Mereka misterius, dan seperti orang-orang yang terlibat dengan GRC, mereka tidak dipedulikan... atau justru ditakuti?

Dan Sasuke baru saja menjadi salah satunya. Great.

Sasuke mencoba menerima kenyataan dengan membaca berbagai buku yang mungkin bisa membantu, termasuk bertanya pada ibunya yang lebih tahu. Semua itu bisa membuatnya bisa lebih memahami Time Traveler, tapi sama sekali tidak mengurangi kecemasannya. Ia bertahan untuk tidak tidur tiga malam, meski pada beberapa titik tubuhnya menyerah dan ia tidur setidaknya dua jam.

Pintu kamar yang membuka berhasil menarik pemuda dingin itu dari dunia lamunan. Sasuke memutar kepala, bermaksud memberitahu ibunya kalau ia sedang ingin sendiri ketika matanya bertemu sepasang mata hitam yang sangat mirip dengannya.

Sasuke tidak mengenal pria yang berdiri di ambang pintu kamarnya, tapi dengan misteriusnya ia tahu siapa orang itu. Pria yang mungkin adalah figur dirinya tiga atau empat puluh tahun ke depan. Tinggi, kurus, rambut yang sama berantakan dengan dirinya, namun wajah dewasanya telah dihiasi beberapa kerut samar.

Pemilik mata hitam yang lebih muda mendadak lupa caranya bernapas, seiring langkah ringan sang ayah yang tak lama kemudian sudah duduk di sampingnya.

Fugaku Uchiha bukan orang yang suka berbasa-basi. Ia lebih suka memasang tampang serius yang mengintimidasi bawahannya di divisi tiga. Hari-harinya ia habiskan di dalam ruangan, memastikan data-data yang dilaporkan dari ruang kontrol benar sebelum menyerahkannya pada minister, Jiraiya. Terkadang ia berpindah, lebih banyak untuk menjalin kerja sama dengan GRC di berbagai negara. Singkatnya, ia tidak tahu bagaimana caranya berhadapan dengan remaja yang beranjak dewasa. Putranya sendiri.

Fugaku memaksakan senyum tipis, senyum sopan yang hanya hadir kala ia bersalaman dengan petinggi GRC di luar negeri setelah menandatangani perjanjian kerja sama. "Sasuke," sapanya kaku pada pemuda yang masih mematung di sebelahnya.

Apa yang ada di pikiran anak semata wayangnya tersebut? Takut? Marah? Fugaku tidak tahu, karena wajah Sasuke mengingatkannya pada wajahnya sendiri. Dingin dan tidak terbaca, meskipun Fugaku tahu putranya terkejut setengah mati.

"Bagaimana harimu?" hanya dua kata itulah yang berhasil disusun seorang Fugaku Uchiha. Fugaku Uchiha, Time Traveler hebat yang disegani banyak orang. 'Bagaimana harimu?' jelas bukan pertanyaan yang diharapkan pemuda tanggung yang sedang mengalami gejolak batin.

Sasuke masih diam, namun sudah mengalihkan pandangannya ke manapun, asal bukan ke mata hitam yang terlihat asing sekaligus tak asing baginya, menciptakan enigma yang memenuhi benaknya.

"Dengar, aku tahu aku bukan ayah yang baik..." Fugaku melanjutkan, jengah dengan kesunyian yang menenggelamkan mereka. "Aku hanya berharap kau tidak membenciku. Dan dirimu sendiri," sambungnya, menambahkan kalimat terakhir dengan sungguh-sungguh. Fugaku tahu sang anak bisa 'meledak' kapan saja, bahkan sekarang.

"Aku tidak boleh membenci diriku sendiri?" suara Sasuke akhirnya terdengar. Sebuah dengusan sinis menyertainya. "Setelah apa yang terjadi, aku tidak boleh membenci diriku? Kau tidak tahu bagaimana rasanya... bagaimana rasanya menjadi diriku."

"Aku tahu," sahut Fugaku kalem. "Aku pernah berada di posisimu. Jijik dengan diriku sendiri, menyesal karena telah dilahirkan, dan tidak pernah bertemu dengan ayahku. Bukan hanya aku, hampir semua Time Traveler merasakan yang kau rasakan."

"Mengapa kau tidak pernah menemuiku?" tanya Sasuke kaku.

Fugaku menjawab, "Karena itu tidak mungkin. Sasuke, pekerjaan Time Traveler di GRC banyak mengundang musuh. Rahasia sangat dijaga, terutama tentang keturunan para Time Traveler. Jujur saja, kami—kita, sedang mengalami krisis kepercayaan. Masyarakat menganggap kita adalah makhluk berbahaya yang perlu dikandangi di penjara bernama GRC."

"Lalu mengapa kau bergabung dengan organisasi itu?" balas sang putra sengit.

"Karena hanya GRC yang bisa membantuku, membantu kita. Kau tidak akan bisa mengontrol perpindahan hanya dengan belajar sendiri. Kau mungkin tidak suka istilah ini, tapi kita adalah mutan, leluhur kita banyak yang belum beruntung ketika GRC belum ada. Diskriminasi, pengucilan, hingga pembunuhan terhadap mutan adalah hal yang biasa," jelas Fugaku, berusaha menahan emosinya.

Untuk sesaat berikutnya, tidak ada yang berbicara. Sasuke terlalu sibuk menggali pikirannya sendiri, sementara sang ayah memilih untuk membiarkannya dengan melangkah menuju meja belajar di sudut kamar. Terlihat berantakan, khas lelaki. Tablet transparan setipis kaca bertumpuk dengan kertas dan buku. Ransel tersampir sembarangan di pinggir meja, menimpa buku tebal yang menarik perhatian Fugaku.

"'Time Traveler: Konspirasi dan Fakta'. Karya Hashirama Senju. Ah, beliau ini pendiri GRC Jepang. Kau membaca buku ini?"

Sasuke mengangkat wajahnya. Ayah yang tak pernah dikenalnya sudah memegang buku yang Sasuke baca beberapa malam sebelumnya. Ia memilih tak menjawab, hanya menatap Fugaku yang sudah membolak-balik halaman dengan cepat.

"Aku dulu juga membaca ini, sejak mengetahui kalau diriku adalah Time Traveler." Fugaku berusaha membuat suaranya seringan mungkin, seringan seorang ayah yang sedang menginspeksi kamar anaknya.

Pupil mata Sasuke berdilatasi dengan cepat. "Kau tahu kalau kau Time Traveler sebelum berpindah?"

Fugaku tidak langsung menjawab. Terlintas bersit keraguan di wajahnya. "Ya. Secara tidak sengaja. Kakekmu meninggal saat bertugas. Saat itu umurku masih empat belas tahun, tapi sudah cukup dewasa untuk mengerti pembicaraan ibuku dan salah satu orang dari GRC yang menyampaikan berita duka itu."

"Aku mendengar pembicaraan itu dari balik dinding. Kau bisa bayangkan sendiri. Mereka lebih banyak berbicara tentang diriku, tentang bagaimana caranya melindungiku dari musuh-musuh ayahku. Bagaimanapun, kau lebih beruntung karena diberi tahu secara langsung, juga karena aku berusaha untuk selalu menjaga sikap dan menghindari permusuhan," lanjutnya, masih dengan nada dingin yang mengingatkan Sasuke pada gaya bicaranya sendiri. Sang ayah tampak terpaku sesaat, seolah mengulang kembali memori itu dalam kepalanya.

Sasuke tidak akan berbohong. Ia terkejut mendengar pernyataan ayahnya. Sekarang semua terlihat jelas. Mengapa ketika bertemu ibunya, ayahnya sudah sependiam itu. Mengapa ayahnya rela untuk melindunginya dengan sama sekali tidak menampakkan diri.

"Sasuke," ujar Fugaku pelan, menatap sepasang iris sehitam gagak milik sang anak dari tempatnya berdiri di samping meja belajar. "Aku memang tidak mengenalmu, dan kau boleh saja tidak menganggapku ayahmu. Tapi tolong, jangan benci dirimu sendiri."

Hanya kesunyian yang menjawabnya. Fugaku dari awal sudah memprediksi obrolan ini akan menjadi canggung dan aneh. Hubungan ayah-anak yang disfungsional, ditambah sifat keduanya yang terlalu mirip menjadi alasannya. Fugaku sudah berniat untuk tidak memaksakan kehendaknya. Keputusan untuk bergabung dengan GRC murni di tangan Sasuke. Toh, mungkin ia bisa melatih anaknya tersebut secara pribadi. Setidaknya agar Sasuke tidak berpindah sembarangan.

Untuk itu, Fugaku membiarkan Sasuke merenung. Ia berjalan melintasi ruangan, menuju pintu kamar yang terbuka setengah. Sebelum ia menutup pintu di belakangnya, ia berkata pelan pada putra semata wayangnya yang masih mematung di pinggir tempat tidur.

"Tidurlah, Sasuke. Tidur tidak akan membuatmu berpindah. Sebaliknya, stres, sedih, dan terlalu lelah dapat memicu perpindahan. Aku tak mau menemui kamarmu dalam keadaan kosong besok pagi."

Fugaku menghela napas panjang seraya mengayunkan pintu. Tepat ketika pintu menutup, Fugaku merasa mendengar suara kecil yang berasal dari dalam kamar. Suara Sasuke yang mengatakan, "Terima kasih... Otousan."

Fugaku tidak berani berharap suara yang ia dengar adalah nyata. Ada satu bagian dalam dirinya yang merasa ia belum pantas untuk menerima panggilan seperti itu.


Yeah, sudah dua tahun tidak apdet. Semoga ada perkembangan dari tulisan saya, karena chapter-chapter sebelumnya masih banyak kekurangan. Anyway, terima kasih yang sudah mereview tiga chapter kemarin. Dan alangkah baiknya meninggalkan jejak juga di chapter ini ;)

Belum masuk intinya, karena saya ingin membangun suasana. Btw, bagian pertama yang diitalic itu terjadi waktu Sasuke mandi, di chapter 2. Sengaja sih, untuk pengembangan karakter Gaara juga.

Sampai ketemu di chapter selanjutnya! ^^