Gang demi gang di kota Seoul kulewati bersamanya dengan berlari dan bergandengan tangan tapi siapa lelaki yang sedang menggandeng tanganku ini, kenapa sepertinya aku pernah melihatnya di majalah.
Kutanyakan saja kalau begitu!
"He... hey ngomong-ngomong siapa namamu?" Aku bertanya dengan mulut megap-megap karena untuk menyeimbangkan nafasku saat berlari.
"..." Dia tak berkata.
"Maaf, aku tak bermaksud..." Belum selesai berbicara, tiba-tiba lelaki ini menghentikan kakinya yang sedari tadi berlari, aku pun ikut berhenti. Kami berhenti di sebuah gang kecil dan jalan buntu yang dihadang oleh tembok besar.
"Nah, kita udah sampai!" Lelaki itu berkata.
"Hah? Ini sih bukan Universitas Hanyang, ini sih jalan buntu!" Aku nge-dumel deh.
"Pegangan ya, ups!" Tiba-tiba Lelaki ini meremas pinggulku dengan kuat dan menggendongku dengan erat.
"Uwaaaa, mau ngapain?! penculik ya anak-anak ya?! Gyaaaaaaaa pedophil!" Aku panik.
"Ssssst! Diamlah, ini satu-satunya cara untuk mengejar waktu! Berdoalah! Hiyaaaaaaaaa!" Tiba-tiba lelaki ini berlari dan meloncat sangat tinggi sambil menggendongku melewati tembok besar yang ada di situ.
"Hiiiiiiiiiiiiiiii!" Sesaat aku merasakan sensasi terbang seperti saat aku naik wahana Hysteria di Dufan, saat aku masih berada di Indonesia. Aku ketakutan dan refleks memeluknya.
BRUUUUKKKK!
Ya Tuhan, dimana aku?
Kenapa banyak bintang-bintang berkelip di tempat ini?
Apakah aku berada di surga?
Dan... tunggu... aroma busuk apa ini?!
"Hey, bangun! Kamu gak apa-apa?" aku mencium bau yang sangat busuk dan mendengar suara lelaki yang membawaku terbang melewati tembok besar sebelumnya. Aku pun perlahan membuka mataku.
"Hah? IIIIIIHHHHHHHH JOOORRRROOOOKKKK KENAPA ADA KAOS KAKI DI MUKAKU?!" euh menjijikan.
"Habis kamu pingsannya lama banget gak bangun-bangun jadinya kukasih kaos kaki bekas yang ada di ruang UKS... anyway, Kita sudah sampai di Universitas Hanyang"
"Heh? Udah sampai? Ini di mana?" aku masih setengah sadar dan bingung.
"Kita tepatnya berada di Ruang UKS milik Universitas Hanyang"
"sekarang jam berapa kalau boleh tahu?"
"Tuh, liat saja sendiri! Jam nya ada di belakang, di atas kepala mu persis" Lelaki yang belum kuketahui namanya itu menunjuk ke arah atas belakangku.
"HAH?! JAM 2 SIANG?! AKH TIDAAAAAAKKK" setelah melihat jam aku serasa ingin pingsan lagi.
"hoy kenapa sih?"
"Apanya yang kenapa?! Ini semua gara-gara kamu tahu! Andai saja kau tidak membawa ku terbang aku pasti tadi sedang mengikuti pelajaran pertamaku di universitas ini walaupun telat sekalipun!" Aku membentaknya.
"Pe? La? Ja? Ran?" Lelaki itu terlihat kebingungan.
"Eh, memangnya kenapa?" Aku juga ikutan bingung.
"Kamu ini aneh ya! Ini kan hari pertama masuk jadi gak ada pelajaran, hari ini Universitas Cuma ngadain upacara penerimaan murid baru"
"Bohong! Kalau gak ada pelajaran kenapa kamu di jalan tadi juga terburu-buru ke Universitas Hanyang?! Pasti kamu telat juga kan?!"
"Well, sebenarnya..."
KRIIIEEEETTT, Seseorang membuka pintu ruang UKS.
"Tuan, apa anda ingin pulang sekarang? Mobil anda sudah berada dibawah menunggu kepulangan anda" Seorang pria paruh baya yang terlihat seperti Butler berkata pada Lelaki aneh itu.
"Oh ya? Baiklah" Lelaki aneh itu berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti Butlernya keluar ruang UKS.
"Hey tunggu!" Aku menghentikan langkah lelaki aneh itu.
"Hmm?"
"Siapa namamu?"
"Well, panggil saja Eunhyuk" lelaki itu segera meninggalkan ruang UKS.
"... Eunhyuk ya? Hmm... kenapa namanya sangat familiar ya? Ah, mungkin hanya perasaanku saja! Well, sepertinya aku lebih baik menelpon Mommy untuk menjemput ku kesini daripada kesasar di jalan lagi" aku pun mengambil Handphone samsung galaxy pemberian ayahku di kantong celana skinny jeans berwarna biruku.
BERSAMBUNG...
