"Kira, menurutmu untuk background-nya diberi warna apa?" tanya seorang gadis berambut light pink panjang dengan jepit dua garis di sisi kiri rambutnya. Mata gadis itu terus tertuju pada sketsa gambar yang dibuatnya tiga puluh menit yang lalu.

"Hmm, warna peach terlihat cocok, tapi coklat muda juga tidak masalah."

Senyum mengembang di wajah si gadis seraya mengangguk. "Thanks, Kira."

"Sama-sama, Lacus." Kira kembali mewarnai lukisannya di atas kanvas dengan wajah serius.

"...Kira."

Laki-laki berambut brown itu menengok ke samping kanannya. "Ya?"

"Entah kenapa... akhir-akhir ini aku merasakan firasat buruk."

"Firasat... buruk? Maksudmu?"

Gadis penyuka warna pink itu berhenti mewarnai sketsa yang tergambar di buku gambar A3-nya lalu menaruh pensil warna peach yang sebelumnya dipakai ke dalam tempat pensil. Ia menatap Kira dengan wajah khawatir dan menunduk. "Mm, mungkin hanya perasaanku saja," kata Lacus seraya tertawa pelan. Terlihat jelas bahwa gadis itu menutupi semua kekhawatirannya.

"Katakan saja padaku, aku akan dengarkan," kata Kira sambil terus melukis di kanvasnya.

Lacus hanya tersenyum seraya mengalihkan pandangannya ke luar kelas.

Dari tempatnya berada—kelas klub melukis di kelas 2-D—mereka bisa melihat anggota klub basket dan amefutoAmerican Football—yang tengah latihan gabungan di lapangan belakang sekolah. Iris mata blue-gray Lacus tertuju pada satu sosok laki-laki berambut blond yang tengah berlari memutari pinggir lapangan bersama yang lainnya. Tampak wajah gadis itu berubah menjadi cemas. "Cagalli..." Sebuah nama pun terucap dari bibirnya.

Tanpa Lacus dan Kira sadari, ada satu orang gadis yang terus memperhatikan mereka berdua dari pojok kelas. Sesekali ia juga menengok ke arah lapangan karena kursinya berada di dekat jendela yang mengarah langsung pada lapangan di halaman belakang Archangel High School. Athrun Zala—nama gadis tersebut—kembali melukis karyanya di atas kanvas. Di karyanya itu, ada seorang laki-laki berumur lima tahunan tengah tersenyum senang dengan posisi diambil dari samping kanan. Di bagian atas sebelah kiri kanvas, terdapat gambar perahu kertas yang juga nampak di tangan lak-laki itu.

"Gambar yang bagus seperti biasanya, Athrun."

Athrun menoleh dan tersenyum menanggapi perkataan Pembina klub melukisnya.

"Siapa laki-laki yang kau gambar? Pacar, ya?"

"A-ah, b-bukan, Erica-sensei. Ini hanya teman sepermainanku dulu."

Erica Simons tertawa pelan. "Sudah dua kali ini lho, kamu menggambarnya."

Wajah gadis berambut navy blue itu tampak cemberut.

"Baiklah, Sensei tunggu finishing-nya."

"Iya."


GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yohiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE

Setsuko Mizuka Present

.

L.A.Y.L.A.

Look At You Like As ...

Rate : T semi M

Genre : Mystery, Romance, & School Life

Pairing : AsuCaga, KiRakusu, ETC.

Warning : First Canon, OOC, Typos, AU, GaJe, Gender Bender(?), Crack pairing, dsb.

.

Kau, aku, kita dan mereka. Kita semua kembali bertemu dalam keadaan dan waktu yang berbeda. Aku selalu melihatmu dalam keadaan yang berbeda namun terlihat tak asing bagiku, begitu juga dirimu.

.

.

.

Phase 2

The Same Feeling


"Hei, Cagalli. Hari ini wajahmu lebih datar dari biasanya. Kenapa? Ada masalah?" tanya sahabat seperjuangannya di klub basket—Dearka Elthman—seraya melepas seragam basketnya. Saat ini semua anggota klub basket tengah berganti baju karena kegiatan klub sudah selesai.

"Tak ada yang berubah dari wajahku," sahut Cagalli dengan nada datar.

"Huh? Kau tahu, kau jadi mirip robot akhir-akhir ini," timpal Yzak Joule.

"Lalu? Apa itu penting untukku?"

Yzak tak membalas dan hanya ngedumel sambil menjauhi Cagalli.

Dearka tertawa pelan melihat tingkah sahabat karibnya itu lalu memakai kemeja putih dilapisi sweater biru tua tanpa lengannya. "Hehe, penampilanku sekarang lebih keren, kan?" tanya Dearka dengan PD-nya ke Cagalli.

"Hanya orang gila yang bilang kau keren," sahut Cagalli tanpa menoleh.

"Huh? Kau belum lihat sudah bilang begitu."

Pada akhirnya laki-laki yang tengah memakai kemeja putih lengan pendek tanpa dikancingi satu pun itu menengok dengan wajah malas. Tampangnya makin horror melihat Dearka yang tersenyum tidak jelas di depannya. Oh astaga, kenapa aku punya sahabat senarsis dia? kata Cagalli dalam hati. "Baru tahu orang keren pakai baju seragam khas musim semi dengan celana pendek untuk basket," ejeknya.

"Daripada dibilang keren, lebih bagus dibilang orang gila," celetuk salah satu kohai mereka.

"Kurang ajar kau, Auel," geram Dearka.

Auel Neider hanya tertawa bersama yang lain.

Cagalli keluar lebih dulu dari ruang ganti baju tanpa ada yang menyadari kepergiannya.

Selama perjalanan menuju loker sepatu, tak henti-hentinya para senpai maupun kohai Cagalli yang menyapanya. Namun sayang, tak ada satu pun dari mereka yang mendapat sapaan balik dari laki-laki keturunan Barat itu. Ia mewarisi gen si Ayah—Ulen—yang keturunan asli orang Jerman, bahkan hampir keseluruhan Cagalli menyerupai Ulen. Dari mulai fisik, sampai sikapnya pun serupa. Sedang si Kakak memiliki gen dari Via, baik dari fisiknya ataupun sikap—kecuali keras kepalanya yang berasal dari Ulen.

Mungkin banyak yang tidak tahu soal ini, tapi ada satu atau dua fakta yang Cagalli selalu tutupi dari semuanya. Laki-laki itu pintar memasak dan cinta akan kebersihan—seperti Via, walau beda jauh dengan cara penampilannya.

Drrrt! Drrrttt!

Getaran di saku celananya membuat langkahnya terhenti di depan loker sepatu.

'Cagalli, tunggu aku di gerbang. Kau baru selesai latihan basket, kan? Ex: Lacus.'

Ia membalas pesan singkat dari gadis berambut light pink itu lalu memasukkannya lagi ke dalam saku celana. Cagalli kembali melangkah keluar gedung sekolah dan bersiap meluncur dengan skate board-nya yang sedari tadi ditenteng. Baru kaki kanannya ditaruh di atas papan, kedua matanya menangkap seorang gadis yang baru saja keluar gedung sekolah sambil mendekap buku sketsa ukuran A3. Mungkin merasa diperhatikan, gadis berambut navy blue itu menoleh dan ikut terhenti tepat di samping Cagalli.

Amber bertemu lagi dengan emerald untuk kesekian kalinya di hari ini.

Waktu terasa berhenti untuk beberapa menit.

Kedua manusia beda gender itu tampak terpesona satu sama lain.

Tanpa mereka sadari, baik Cagalli maupun gadis tersebut sama-sama menahan napas karena jarak mereka bisa dibilang cukup dekat. Bahkan mereka sama-sama bisa melihat pantulan diri mereka masing-masing di dalam bola mata orang yang ada di hadapannya. Rasa déjà vu kembali dirasakan oleh Cagalli. Dalam penglihatannya, sosok yang ia kenali sebagai Athrun Zala itu menjelma menjadi sosok yang tampak tidak asing baginya. Bahkan ia berani bertaruh, jantungnya berdebar dengan keras begitu melihat sepasang mata emerald Athrun yang tampak menatapnya lembut seraya tersenyum tulus. Kedua pipi Cagalli perlahan memerah namun agak tersamarkan dengan wajah datarnya.

Deg, deg, deg, deg.

A-apa... ini? Kenapa dia menatapku seperti itu?

Terlihat Athrun masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan bagi Cagalli, bahkan setelah dua kali ia mengedipkan kedua matanya untuk memastikan apa yang ia ihat itu salah. Namun Cagalli sedikit terkejut begitu melihat Athrun berubah menjadi sosok laki-laki. A-apa-apaan lagi ini!?

Deg, deg, deg.

Jantungnya berdetak lebih keras lagi.

Ia menahan napas saat sosok itu memperpendek jarak seperti ingin mencium atau memeluk dirinya. Tapi senyuman tulus Athrun yang Cagalli lihat sedari tadi itu tak pernah luntur dari wajahnya yang entah kenapa berubah menjadi tampan. Iris mata amber Cagalli melebar begitu tahu tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali ketika sosok jadi-jadian Athrun makin mendekat.

Plok!

"Cagalli?"

"...!?"

Secepat kilat Cagalli menoleh ke samping dan terlihat sosok Lacus tengah berdiri di sana sambil memegang bahu kanannya. Ia berdiri tepat di tengah-tengah Athrun dan Cagalli. Laki-laki itu berkedip beberapa kali seperti orang yang baru saja tersadar dari lamunannya.

"Maaf, membuatmu menunggu," kata Lacus dengan senyum di bibirnya.

Cagalli hanya diam saat Lacus menatap Athrun yang masih memandangi Cagalli.

Apa yang terjadi di sini? tanya gadis itu dalam hati.

Untuk beberapa detik mereka terdiam. Tangan kanan Lacus yang tengah menenteng tasnya itu terlihat agak terkepal lalu mengendur. Ia menatap sosok Cagalli dengan pandangan sedih, bahkan matanya sedikit berkaca-kaca. Sedang laki-laki yang ditatap Lacus terus menatapnya dengan pandangan kosong. "Cagalli, ayo pulang." Pada akhirnya ia harus menarik Cagalli untuk mengajaknya pulang bersama.

Sesaat Cagalli menoleh ke belakang begitu ia dan Lacus berjalan keluar lingkungan sekolah dengan dirinya yang berseluncur di atas skate board. Terlihat Athrun sudah kembali menjadi sosok gadis yang dikenalnya.

"Apa itu... tadi?"

Pertanyaan itu selalu terucap dari mulut Cagalli tiap kali bertatapan dengan Athrun.


L. A. Y. L. A.


Blam! "Hosh, hosh, hosh!" Athrun menutup pintu rumahnya dengan napas terengah-engah. Ia membalikan badan dan membelakangi pintu. Tangan kanannya yang bebas Athrun gunakan untuk menyentuh dadanya yang terasa penuh sesak dan berdetak kencang. "A-apa lagi tadi?" gumamnya dengan tubuh merosot ke bawah. Ia menutupi sebelah wajahnya dengan tangan kanan. Nafas Athrun perlahan mulai teratur.

"Athrun-sama tidak apa-apa?"

Gadis itu menengok pada salah satu pelayan setianya tanpa menjawab.

"Apa ada orang yang asing yang mengejar Athrun-sama?"

"T-tidak apa-apa, aku hanya lari saja dari sekolah sampai rumah."

"Kalau gitu, biar saya bawakan tas Anda ke kamar, Athrun-sama."

Athrun bangkit seraya tersenyum. "Tidak usah repot-repot. Bibi kembali saja bekerja." Ia pun berjalan ke arah tangga untuk ke kamarnya yang berada di lantai atas. Tangannya terus memegangi daerah jantung karena masih berdebar.

Blam.

Tasnya ia lempar ke atas ranjang berukuran king size.

Tap, tap, tap.

Kakinya terus melangkah menuju kamar mandi. Gadis yang masih berpakaian seragam itu menatap pantulan dirinya yang ada di cermin berukuran oval di atas wastafel begitu memasuki kamar mandi. Wajahnya terlihat pucat dengan peluh terus mengalir dari dahi lalu ke pipinya. Mata Athrun juga terlihat sayu. Tangan kiri gadis itu memegang kepalanya yang terasa pening. Ia masih memikirkan kejadian yang akhir-akhir ini terjadi padanya jika berdekatan dengan Cagalli Hibiki.

"Kenapa? Kenapa?"

Pertanyaan itu terus saja terucap.

"Apa... yang kulihat tadi itu... hanya alusinasiku saja?"

Kedua tangan Athrun menyentuh ujung wastafel seraya menunduk.

"Lalu... kenapa bisa senyata itu? Kenapa...?"

Athrun tidak tahu mesti berbuat apa-apa. Kini di benaknya kembali muncul sosok lain yang ia lihat saat berpapasan dengan Cagalli tadi. Sosok itu mirip sekali dengan Cagalli, namun yang membedakannya adalah rambut serta tatapan matanya. Tatapan Cagalli yang Athrun kenal adalah tatapan mengintimidasi dan terlihat serius, namun sosok itu berbeda 180° dengan Cagalli. Ia menatap Athrun kala itu dengan pandangan penuh kasih sayang yang langsung mengingatkannya pada sosok Lenore Zala—ibunya yang sudah meninggal saat ia masih kecil. Belum lagi, rambutnya yang panjang sebahu seperti perempuan itu yang membuat sosoknya makin cantik di mata Athrun.

Helaan napas terdengar setelahnya lalu ia memejamkan mata. Kemudian mata itu terbuka lagi secara perlahan.

.

.

.

Deg!

"KYAAA!"

Brak!

Tubuhnya sukses terjatuh ke lantai karena terkejut melihat pantulan dirinya yang lain di cermin. Pantulan itu membuatnya merinding sekarang. Bukan hanya pantulan dirinya yang lain di cermin tersebut, tapi ada sosok lain yang ia lihat saat bertatap muka dengan Cagalli tadi. Athrun mencoba untuk berdiri lagi namun sia-sia karena kedua kakinya benar-benar lemas begitu teringat dimana pantulan dirinya yang terlihat seperti sosok laki-laki itu tengah memeluk gadis yang menyerupai Cagalli dari belakang.

"Athrun-sama! Apa Anda baik-baik saja? Saya dengar Anda berteriak tadi."

Seorang pelayan masuk ke kamar mandi milik Athrun secara paksa karena cemas.

Athrun tak membalas pertanyaan pelayannya itu, ia yang bingung hanya bisa menjambak rambutnya lagi.

"A-apa maksudnya ini?"

"Athrun-sama..." Pelayannya menatap cemas pada Athrun begitu melihat keadaan gadis tersebut yang sudah berantakan.

To Be Continued

Mizuka sangat berterima kasih pada semua orang yang sudah me-review dan membaca fanfic Mizu yang ini, khususnya pada Guest (thanks ya untuk review-nya!^^ iya, mereka sengaja Mizu tuker gender-nya :D yosh! Semangat! ehehe), Cyaaz, Ffionn, popcaga, FTS-Peace, pandamwuchan (thank you for your review!^^ haha, cover-nya gak mirip sama yang asli jadi keliatan agak aneh. :) iya gitu deh, haha, tapi masih dalam tahap pembelajaran kok, belum mahir. Siap, Mizu akan lanjutkan. Semangat untuk tugasnya! :D), lezala, scarlett atha zala (terima kasih untuk review-nya!^^ hihi, maaf buat scarlett-san bingung. :) iya, di sini mereka tuker gender. Soal cantikan Athrun daripada Cagalli, Mizuka akan tetap milih Cagalli yang lebih cantik XD. Hoho, bisa dibilang begitu, Mizu mau buat Cagalli jadi bishounen di sini. :D hehe), mrs. zala, dan syafina. nashwa. :)

Sebelumnya, Mizu minta maaf untuk memilih update fic ini. Bagi para pembaca yang tidak suka dengan fic ini, Mizu minta maaf sebesar-besarnya. Mizu gak mau buat para pembaca yang Mizu liat dari review dan meminta untuk dilanjutkan itu kecewa. Jika para pembaca makin banyak yang tidak suka dan mengirimkan pendapatnya dari review, Mizu akan benar-benar menghapusnya. #bow#

Ah, Mizu lupa ngasih tahu kalau cerita ini terinspirasi dari gambar yang Mizu lihat di Google dimana di situ ada sosok Athrun (yang seharusnya Cagalli) tengah memakai baju pengantin sambil menangis saat menikah dengan Yuna. Mizuka juga mau bilangin, ada baiknya para pembaca menonton ulang Anime-nya supaya nyambung. :D

Haha, Mizu sangat bersemangat untuk meng-update-nya, jadi update sekarang deh. :)

Ada yang bingung dengan alurnya? #smirk# Apa ada yang bisa membayangkan, apa yang tengah terjadi pada mereka berdua?

Terima saran, kritik, dan flame! :D

ARIGATOU GOZAIMASU, MINNA-SAN! .

.

.

.

Update : 31 Januari 2013