Mataku terbuka perlahan dan menampakkan keadaan di sekitarku yang terlihat gelap. Kurasa hari masih malam, cahaya matahari yang biasa menyelinap masuk dari tirai pun tak nampak. Aku kembali tertidur namun bisa kurasakan seluruh tubuhku kini sudah berdiri tegak.
Apa ini mimpi?
Tiba-tiba kepalaku pening dan tak bisa menahan tubuhku.
"Cagalli..."
Jantungku terasa berhenti di saat itu juga begitu seseorang memanggilku.
"Siapa?" tanyaku pada orang itu.
Suasana di sekitarku masih gelap, bahkan sedari tadi aku tidak merasakan bahwa ada orang lain di dekatku. Mataku menangkap setitik cahaya putih di depanku, tentu aku menghampirinya dengan sedikit berlari. Semakin kumendekatinya, cahaya itu makin meluas dan aku bisa melihat seseorang tengah berdiri membelakangiku.
"Kau...?"
Orang itu tidak menengok.
Baru selangkah aku berjalan untuk mendekatinya, orang itu memanggilku lagi.
"Cagalli?"
Bisa kudengar suara itu meragu. Sedetik kemudian, ia menengok padaku yang langsung membuatku menatapnya dengan tatapan tak percaya. "Kau... A-Athrun?" Aku melangkah mundur begitu melihat sosok gadis paling pendiam dan selalu duduk di pojokan kelas itu tengah menatapku dengan pandangan memohon. Bahkan terlihat seperti ingin menangis. "A-ada apa?" tanyaku dengan gugup. Jujur, aku paling tidak bisa melihat seorang gadis yang menangis tepat di hadapanku.
"Kenapa... kau tidak mengingatku?"
"Huh?"
Athrun tampak menatap ke arah yang lain.
Lama ia berpaling membuatku ikut mengalihkan pandanganku ke samping kananku. "Kira?" Kali ini aku bisa melihat punggung kakak kembaran tak identikku itu dengan jelas. Wajahnya juga terlihat sedih, seperti halnya Athrun. Kenapa? Aku menatap gadis yang kini berpakaian serba putih dan berambut dark blue sebahu itu lagi.
"..." Ia hanya menunduk.
Sosok lain juga terlihat di samping kiriku.
"Cagalli..."
Suaranya yang lembut mengingatkanku pada Lacus Clyne.
"Lacus?" Dan memang benar, sosoknya sudah berada di sampingku dengan jarak yang sama dengan jarakku pada Athrun dan Kira. Gadis itu sudah meneteskan air mata walau tersimpul senyum khasnya di wajahnya yang cantik bak seorang Putri dari kerajaan antah-berantah.
"Kenapa, Cagalli?" tanya Lacus dengan pandangan penuh kekecewaan.
Kau tanya aku 'kenapa', aku sendiri juga tidak tahu apa-apa.
Aku membekap mulutku karena suaraku tak bisa keluar.
Berulang kali kucoba untuk berbicara namun nihil.
Srak!
Sebuah pisau lipat tiba-tiba berada di depan leherku. A-apa!? Siapa!? Aku tak bisa melihat seseorang yang tengah mencekik leherku dengan pisau lipatnya karena kekuatannya lebih besar dariku. Tatapan memohon kutujukan pada Kira, Lacus, dan Athrun yang masih menatapku dengan pandangan sedih. Tolong, Kira! Hanya pada Kira, aku selalu minta bantuan karena sudah berulang kali aku tertolong berkatnya.
"Cagalli..."
Napasku memburu seketika dan menahan kesal karena Kira hanya memanggil namaku tanpa melakukan apapun.
"Kau... harus... mati..."
"...!"
Jantungku benar-benar tak berdetak di detik itu juga.
SRAK! CRAAASH!
GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE
Setsuko Mizuka Present
.
L.A.Y.L.A.
Look At You Like As ...
Rate : T semi M
Genre : Mystery, Romance, & School Life
Pairing : AsuCaga, KiRakusu, ETC.
Warning : First Canon, OOC, Typos, AU, GaJe, Gender Bender(?), Crack pairing, dsb.
.
Kau, aku, kita dan mereka. Kita semua kembali bertemu dalam keadaan dan waktu yang berbeda. Aku selalu melihatmu dalam keadaan yang berbeda namun terlihat tak asing bagiku, begitu juga dirimu.
.
.
.
Phase 3
The Nightmare
Athrun melepas semua pakaiannya lalu memasuki bak mandi yang sudah berisi air hangat. Dengan pandangan sayu, ia mulai terduduk di dalam bak mandi dan memasukkan wajahnya sampai bagian hidung. Gelembung-gelembung kecil terlihat keluar dari dalam air. Hari memang masih sore dan tidak biasanya gadis itu mandi di jam-jam seperti ini. Kalau saja mimpi itu tak datang menghantui dirinya saat ia tak sengaja tertidur di jam pelajaran terakhir tadi, pasti takkan membuatnya sedikit stres dan memilih untuk berendam sebentar di dalam air hangat.
"Athrun-sama, bajunya sudah saya siapkan."
Ia mengangkat wajahnya ke permukaan seutuhnya. "Taruh saja di atas kasur, Bibi."
"Baik, Athrun-sama."
Setelah puas berendam selama beberapa puluh menit, Athrun pun keluar kamar mandi dengan handuk berwarna biru panjang yang mampu menutupi seluruh tubuhnya. Ia menatap long dress selutut tanpa lengan berwarna krem yang berada di atas kasurnya.
Drrrt! Drrrttt!
Dengan cepat Athrun mengambil ponsel flip-nya.
'Athrun, sepertinya aku akan telat ke taman kota. Aku minta maaf.'
Senyum tampak di wajahnya begitu membaca pesan dari sahabat sejak SD-nya.
'Iya, tak apa-apa, Nicol. Aku bisa mengerti soal kesibukanmu akhir-akhir ini.'
Klik. Balasan pun terkirim. Athrun memakai long dress tersebut lalu menatap pantulan dirinya di cermin yang panjang serta lebarnya hampir dua kali lipat dari tubuhnya. Setelah bercermin, ia memilih duduk di atas kursi belajarnya yang menghadap ke jendela. Tangannya mengambil sebuah foto keluarga yang sudah terbingkai berukuran 5R. Di foto tersebut, terlihat dirinya yang tengah duduk di pangkuan Lenore sementara Patrick berdiri di sisi kiri sang istri. Athrun yang masih berumuran tiga tahunan itu tampak bahagia sambil memeluk boneka beruang berwarna coklat pemberian sang ayah.
"Aku merindukan saat-saat seperti ini..."
Tes... tes...
Kenangan lama bersama Lenore serta Patrick kini bermunculan di benaknya.
Ia menjambak sedikit rambutnya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya mencengkeram foto keluarga yang sudah berada di pangkuannya. "Semuanya berubah sejak Mama pergi, kehangatan yang dulu ada kini menghilang tanpa jejak," lirih Athrun seraya menghapus air matanya. "Ma, sudah dua bulan ini, Papa bertingkah aneh. Papa jarang pulang, sekalinya pulang pun hanya mengambil berkas-berkas yang dibutuhkan lalu kembali bekerja. Apa ini yang Mama mau?"
Tak ada sahutan yang terdengar setelahnya.
"Aku benci dunia ini..."
Helaan napas dari mulut Athrun terdengar.
"Ma, akhir-akhir ini, aku juga merasakan hal aneh. Apalagi mimpi yang kualami tadi siang. Ada seseorang yang ingin membunuh teman sekelasku, Cagalli Hibiki. Di mimpi itu aku tak bisa berbuat banyak, dan hanya menatapnya sedih dan menangis dalam diam," ceritanya.
Athrun meletakkan kembali foto tersebut ke tempat semula.
"Sejak hari itu, aku selalu merasakan hal aneh jika berdekatan dengan Cagalli," lirihnya.
Iris mata emerald-nya menatap ke arah jam dinding.
04.15 P.M.
Ia mengalihkan pandangannya pada setoples origami burung buatannya.
Senyum tipis tersungging di wajah Athrun. "Mungkin akan lebih baik jika aku datang ke danau di pinggiran taman kota, sebelum pergi dengan Nicol ke Game Center," katanya seraya mengambil kertas origami berwarna-warni yang belum dibentuk olehnya.
L. A. Y. L. A.
Kira Hibiki terus menatap sang adik yang sedari tadi pagi terus bertingkah aneh. Bahkan tumben-tumbennya ia mengajak Kira untuk jogging di sore hari seperti ini. Di pagi buta tadi, juga tiba-tiba saja Cagalli berteriak dan langsung membuatnya terbangun. Via dan Ulen yang cemas juga masuk ke kamar mereka berdua. Saat ditanya, Cagalli hanya menggeleng pelan dengan keringat membanjiri tubuhnya dan wajahnya juga terlihat pucat.
"Sudah lama kita nggak jogging di sore hari seperti ini," kata Kira sambil berlari kecil.
"Hmm."
Wajah laki-laki berambut brown itu agak tertekuk mendengar jawaban Cagalli yang tengah memakai headset berwarna senada dengan kaosnya yaitu putih polos sementara celana training-nya berwarna hitam. "Kau sedang mendengarkan musik, Cagalli?"
Cagalli memperlihatkan ujung kabelnya yang tidak terpasang ke ponselnya.
Kira hanya menghela napas seraya mengejar si adik yang berlari di depannya.
"Kira, kau... kenal dengan Athrun Zala, kan?" tanya Cagalli tiba-tiba.
"Athrun Zala? Tentu saja, dia teman sekelas kita, kan?" tanya balik Kira.
"..."
Kira mengelap keringat yang meluncur dari pinggiran pipinya dengan handuk yang berwarna senada dengan celana training merahnya. "Ada apa kau menanyainya? Ah iya, dia juga masuk klub melukis dan kurasa dia gadis yang baik serta ramah," ceritanya. Tiba-tiba langkah laki-laki yang memakai kaos polos berwarna putih dengan garis biru di pinggirannya itu terhenti setelah sampai di bawah pohon rindang dekat danau.
"Ada apa?" Cagalli berhenti berlari dan ikut memandangi apa yang dilihat Kira.
Waktu seolah-olah berhenti beberapa detik.
"Gadis itu..."
Tanpa mereka sadari, kedua kata tersebut keluar secara bersamaan begitu melihat sosok Athrun Zala yang tengah menatap mereka berdua setelah mendengar suara khas Cagalli. Gadis itu menatap sepasang mata amber yang juga tengah menatapnya dari balik tubuh Kira yang berdiri di antara mereka. Kira terlihat kaget dan melamun di saat yang bersamaan. Iris mata amethyst-nya beralih dari sosok Athrun ke perahu kertas berwarna merah di tangan kanan gadis tersebut.
"Kau..." Kira menunjuk perahu kertas milik Athrun.
Gadis beriris emerald itu menatap perahu kertasnya lalu menatap si bungsu Hibiki.
"Jangan bilang kalau kau adalah gadis yang waktu itu bermain denganku?"
Flashback mode on
"Uuugh! Kembalikan perahu kertasku!"
"Tidak akan kuserahkan ini padamu!"
"Itu punyakuuu!"
Seorang bocah kecil tengah mem-bully gadis yang kira-kira usianya lima tahun serta berambut dark blue itu dengan mengangkat tinggi-tinggi perahu kertas milik si gadis sambil tertawa mengejek. Gadis yang bernama lengkap Athrun Zala itu terus menahan tangisannya sejak tadi.
"Kembalikaaan—hiks!"
"Hahaha! Dasar pendek!"
Athrun terus berusaha mengambil perahu kertas miliknya. "Kembalikan, kumohon!"
"Ti—"
"—kembalikan padanya!"
Keduanya menengok ke arah asal suara barusan dan terlihat sosok Kira Hibiki kecil dengan tatapan tajam tengah berdiri di hadapan mereka. "Kembalikan perahu kertas miliknya, bocah! Perahu itu bukan milikmu tahu!" serunya sambil menunjuk bocah yang mem-bully Athrun.
"Heh? Bocah? Kamu sendiri juga bocah, kan?"
"Setidaknya aku masih punya akal untuk tidak mempermainkan seorang gadis seperti yang kamu lakukan," sahut Kira.
"Kamu mau coba jadi pahlawan di sini, ya?"
"Tidak! Aku hanya ingin menolongnya!"
Karena laki-laki berambut merah menyala itu sedang berseteru dengan Kira, Athrun berhasil mengambil perahu kertasnya secara diam-diam dari tangannya. "Hei!" Ia ingin mengambil perahu kertas itu lagi dari Athrun, namun dengan cepat Kira mendorongnya hingga terjatuh. "Kamu!"
"Jangan pernah mem-bully seorang gadis lagi!"
"Huh! Awas kamu, ya!" Laki-laki itu pun pergi dengan wajah kesel.
"Kamu tidak apa-apa, kan? Tidak luka?" tanya Kira cemas.
Athrun hanya menggelengkan kepala.
"Yokatta..." Laki-laki yang tengah memakai seragam sailor-nya itu tersenyum lega.
Si gadis tampak menunduk seraya memegang erat perahunya. "A-arigatou na."
Kira mengangguk lalu menatap belasan perahu kertas di belakang gadis yang juga memakai baju sailor namun berbeda warna itu. "Wah, banyak sekali perahu kertasnya!" Ia tampak antusias melihatnya dan berjongkok di hadapan perahu-perahu tersebut. "Kamu yang membuat ini semua, kan?" tanyanya sambil menatap Athrun.
"Iya, itu... buatanku semua."
"Sugoi na..."
Gadis kecil itu ikut berjongkok di samping Kira. "Jika kamu mau, ambil saja," tawarnya.
"Eh? Hontou ni?"
Ia mengangguk seraya tersenyum kecil.
"Aku ambil dua, ya?" pintanya sambil mengambil dua buah perahu kertas berwarna kuning serta biru tua di hadapannya.
"Kamu... mau buat permohonan apa?" tanya Athrun.
"Permohonan?" Kira menelengkan kepalanya sedikit ke kiri.
"Iya, katanya jika kita menulis permohonan di perahu kertas dan menaruhnya di atas danau ini, pasti akan terkabul. Bukan hanya permohonan saja, tapi terkadang apa yang kita tulis sebagai pesan di dalam perahu kertas itu juga bisa tersampaikan pada orang yang kita tuju," cerita Athrun dengan mata berbinar-binar. Tanpa ia sadari, gadis itu terus diperhatikan oleh Kira. "Ah! Aku sering melakukannya dan hampir semua pesan dan permohonan yang kutulis bisa terkabul," lanjutnya.
"Kamu percaya soal itu?"
Athrun menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Haha, kamu lucu! Baiklah, akan kucoba menulis permohonanku!"
"Aku juga!"
Kira dan Athrun membuka kembali perahu kertasnya dan mulai menulis permohonan mereka, lalu kembali melipatnya seperti sedia kala. Senyum senang terlihat di wajah chubby mereka yang sungguh menggemaskan. Kira menaruh kedua perahunya di atas air danau yang tenang dan diikuti oleh Athrun.
"Siap?" tanya Kira.
"Siap!"
"Yosh! Perahu kertas! Meluncur!"
Dengan sekuat naga Kira meniup kedua perahunya menuju ke tengah danau bersama Athrun di sampingnya. Setelah perahu mereka mengapung cukup jauh dari tempat mereka berdiri, baik Athrun dan Kira sama-sama tertawa pelan. Beberapa detik kemudian, wajah senang Athrun berubah menjadi panik lalu menatap langit dari balik celah-celah dedaunan pohon.
"A-aku harus pulang sekarang!"
"Eh? Sekarang?"
Athrun mengangguk sambil memasukkan semua perahu kertas miliknya ke dalam tas.
"Apa... besok kita bisa main lagi?" tanya Kira.
"Tentu saja! Aku akan ke sini lagi besok!"
Kira melambaikan tangan kanannya saat Athrun berjalan menjauhinya. "Eh? Aku belum tahu namanya." Namun sayang, sosok Athrun sudah tak terlihat lagi sejak saat itu.
Flashback mode off
"Kamu... si gadis perahu kertas yang waktu itu...?" tanya Kira tak percaya.
"Jadi, Kira-san adalah laki-laki yang menolongku dulu?" tanya balik Athrun.
Wajah kaget laki-laki itu kini berubah 180° menjadi wajah bahagia. Andai gadis itu tahu, bahwa sejak hari itu Kira terus menunggu kedatangannya sebelum ia pergi ke PLANT. Tiba-tiba Kira memeluk tubuh Athrun dan langsung membuat Cagalli yang terus memerhatikan mereka itu terheran-heran. "Akhirnya, aku bisa bertemu denganmu lagi! Bahkan aku tidak sadar kalau kau sedekat itu selama ini," katanya seraya melepas pelukannya.
Athrun yang masih syok hanya mengangguk pelan.
Laki-laki berwajah tampan dan manis itu tersenyum.
.
.
.
Tanpa Athrun sadari, Kira terus memperhatikan gerakan mata gadis itu yang selalu tertuju pada seseorang yang tengah duduk dengan santainya di samping kanannya dengan pandangan takut dan cemas. Setelah bernostalgia sebentar, laki-laki itu memilih untuk beristirahat dan sekalian menemani Athrun.
"Kira, aku mau lari lagi." Cagalli bangkit dari duduknya.
"Eh? Masih mau lari?" tanya Kira.
"Hmm."
Pandangan gadis itu masih tertuju pada laki-laki berambut blond yang sudah berlari menjauhi mereka dengan pandangan yang sama seperti sebelumnya. Namun di satu sisi, dari matanya itu juga seperti menginginkan sosok Cagalli untuk tidak pergi.
"Kau takut pada adikku?"
"...!?"
Tawa pelan terdengar dari arah Kira. "Kau selalu meliriknya dengan mata ketakutan."
"Tidak kok. Aku sama sekali tidak takut padanya," dusta Athrun.
"Dia tidak seseram yang kau bayangkan. Cagalli memang dingin, cuek, dan suka hal-hal yang berbau sadis, tapi adikku itu baik kok. Dia hanya tak mau berurusan dengan perempuan, tapi bukan berarti Cagalli nggak normal, ya." Kira tersenyum lembut setelahnya.
"Iya, aku mengerti."
"Asal kau tahu saja, dia juga cengeng seperti dirimu sewaktu masih kecil," ceritanya.
"Eh?"
Laki-laki itu hanya tersenyum dan membuat Athrun kembali menatap tempat menghilangnya sosok Cagalli tadi. Entah kenapa, aku jadi mencemaskannya setelah aku bermimpi buruk tadi, katanya dalam hari seraya menunduk.
To Be Continued
Sebelumnya, Mizu berterima kasih pada semuanya! TT^TT Mizu benar-benar senang pas baca review dari kalian dan langsung mengetik lanjutan ini. Oh iya, Mizu juga ingin mengumumkan sesuatu.
CLBK (Hiatus)
Yep! Itulah pengumumannya. Hontou ni gomenasai, minna-san! Mizu kesusahan untuk lanjutinnya karena Mizu udah gak galau lagi. Yeeey! #niup-niup terompet tahun baru# Mizu buat fic itu saat lagi galau, jadi susah ngelanjutinnya. T^T
Terima kasih untuk para review-nya, Cyaaz, Hoshi Uzuki, mrs. zala, Guest 1 (haha, iya, iya. Mizu ngerti kok. :) ini Mizu udah lanjutin chap 3 nya), Lia ELF, popcaga, Guest 2(sip! Mizu akan lanjutin fic ini sampai tamat), lezala, syafina. nashwa, Keiko (di warning ada tulisan AU-nya juga kok, bisa dibilang ini slight Canon dan lebih banyak AU nya. :) oke! Mizu lanjutin ceritanya! Ehehe, sip sip, semoga KiRakusu nya jadi happy ending ya XD), ojou. rizky, dan semuanya! :***
Inspirasi buat chap 1 itu dari film CLANNAD episode 1. Ada yang suka dengan anime itu, kah? :) Terus chap 2, asli dari imajinasi Mizu dan chap 3 dari episode 1 Gundam SEED. :D Hayooo, ingat kan? Ingat kan? XD
Fic ini diperkirakan sampai 30-an chap! *uuups... XD
Nah, Mizu juga punya permintaan pada para review yang tidak meninggalkan nama di kotak review. Ehehe, kan ada pepatah bilang, "tidak kenal nama, tanda tak sayang." Tapi terserah juga sih mau tulis nama atau gak(?)
Sekali lagi terima kasih! #bow#
.
.
.
Update : 9 Februari 2013
