Laki-laki berumur enam belasan tahun itu menghela napas yang entah sudah ke berapa kali ia lakukan di pagi ini. Di pikirannya, kini terdapat banyak pertanyaan mengenai sosok gadis paling pendiam—mungkin—di kelasnya. Sudah tiga hari ini ia bermimpi buruk, belum lagi semua kejadian yang terjadi ketika bertatap muka atau saat melihat gadis tersebut. Oh my, Cagalli. What's happen on the earth!?

"Cagalli, kau mimpi buruk lagi?" tanya si kakak, Kira Hibiki.

"Dan ini sudah ketiga hari," sahut Cagalli sambil membuka loker sepatunya.

Tampak Kira yang sudah berganti sepatu melangkah mendekatinya sambil geleng-geleng kepala. "Sekali-kali kau rapikan sedikit pakaianmu. Di rumah saja kau rapi, masa di luar rumah tampil berantakan begini?" katanya seraya merapikan dasi yang dipakai laki-laki berambut blond di hadapannya. Kira tertawa pelan setelah melihat wajah si adik yang nampaknya risih dengan sikapnya di depan umum ini.

"Aku tidak suka terlalu rapi soal penampilanku."

"Dasar, kau ini."

Cagalli menutup lokernya setelah seragam khas musim seminya dirapikan Kira.

"Ohayou, Athrun!" sapa Kira sambil tersenyum tipis begitu melihat sosok gadis yang sekarang berseragam khas musim semi berjalan melewatinya. Gadis itu membalas sapaan Kira dan mereka pun pergi ke kelas bersama. Sama seperti kemarin, saat setelah Kira tahu kalau Athrun-lah gadis yang pernah bermain dengannya dan meninggalkan Cagalli yang masih terdiam di depan lokernya.

"It's weird..."

"It's weird..."

"It's weird..."

Ia mengacak-acak rambutnya hingga berantakan namun malah membuat fansnya yang melihat langsung menatapnya dengan mata penuh kagum. Iris mata amber-nya terus menatap kepergian mereka berdua. Lama ia menatap, membuatnya melihat sosok lain dari Athrun. Sosok yang sama seperti yang dilihatnya ketika bertatap muka secara langsung dengan gadis itu. Entah sejak kapan, sosok gadis tersebut berubah menjadi lebih tinggi dan lebih besar dari tubuh Kira. Dan sejak kapan Athrun memakai pakaian pria dan SEJAK KAPAN ADA HELIKOPTER DI SEKOLAH!? Cagalli menggelengkapan kepalanya ke kanan dan ke kiri berulang kali untuk menghentikan pandangan anehnya.

"..."

...dan sejak kapan aku merasa... cemas dan kosong...?

Sudah berulang kali Cagalli merasakan hal aneh semacam ini.

Perasaan yang ditinggalkan...?

"Sebenarnya... apa yang terjadi...?" Ia menjambak pelan rambut bagian depannya.


GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yohiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE

Setsuko Mizuka Present

.

L.A.Y.L.A.

Look At You Like As ...

Rate : T semi M

Genre : Mystery, Romance, & School Life

Pairing : AsuCaga, KiRakusu, ETC.

Warning : First Canon, OOC, Typos, AU, GaJe, Gender Bender(?), Crack pairing, dsb.

.

Kau, aku, kita dan mereka. Kita semua kembali bertemu dalam keadaan dan waktu yang berbeda. Aku selalu melihatmu dalam keadaan yang berbeda namun terlihat tak asing bagiku, begitu juga dirimu.

.

.

.

Phase 4

AsuCaga Will Be A Couple!?


Bel istirahat sudah terdengar beberapa menit yang lalu, Athrun Zala tampak dengan tenang mengambil bekalnya dari dalam tas lalu mulai memakannya secara perlahan dan tanpa suara. Hari ini Nicol Amalfi—teman sejak SD-nya—itu berjanji akan makan bersama di kelas 2-A setelah ia menyelesaikan tugasnya sebagai Sekretaris Kelas.

Tanpa disadarinya, seorang laki-laki blonde tengah memperhatikannya dari jauh.

"Pssst! Kenapa Cagalli-kun melihat ke sini terus, ya?"

"Eh? M-masa sih? Mungkin dia hanya melihat awan."

"Serius loh, matanya... terus menatap ke Zala-san terus."

Deg!

Spontan saja gerakan Athrun terhenti setelah mencuri-curi percakapan—atau lebih tepatnya bisikan—dari dua gadis di belakangnya. A-apa? Cagalli? Karena terlalu penasaran akan kebenarannya, Athrun melirik sebentar ke samping kanan lalu menatap ke depan dan memasang wajah tenang. Tatapan mengintimidasi, tatapan mengintimidasi, tatapan mengintimidasi, katanya dalam hati dengan keringat dingin meluncur dari pipinya seraya memakan bekalnya lagi.

Srak! Suara kursi bergeser terdengar

Tap, tap, tap.

Gadis berambut navy blue sebahu itu menulikan sebentar pendengarannya.

Tap, tap, tap, tap, tap.

Deg, deg, deg, deg.

Detak jantungnya bertambah cepat begitu pendengarannya menangkap suara langkah kaki yang mengarah pada tempat yang ia duduki. Athrun tak berani menengok dan lebih memilih memakan bekalnya seolah tak peduli. Sebuah bayangan besar tertangkap dengan jelas, belum lagi parfum yang sangat dikenalinya datang ke indera penciumannya. Parfum rasa jeruk? Mungkinkah...

Braaak!

"!?"

Reflek kedua mata Athrun tertutup saat suara gebrakan meja terdengar. Beberapa detik berlalu, ia membuka matanya perlahan dan melihat isi kotak bento-nya sudah acak-acakan, bahkan ada yang keluar dari kotaknya. Athrun memberanikan diri untuk melihat siapa yang sudah mengganggu acara makan siangnya.

Deg!

Kedua matanya melebar sedikit begitu melihat sosok Cagalli Hibiki di hadapannya.

"Kau..."

Suara geraman dari mulut laki-laki itu membuat Athrun menegang. "A-apa?"

Kedua tangan Cagalli terkepal dengan pandangan tajam mengarah pada gadis di depannya ini. "Apa yang kau lakukan padaku, hah, Athrun Zala!?" Melihat gadis yang dibentaknya itu diam tak menyahut, membuat Cagalli menggeram. "KAU! Iya, KAU, ATHRUN ZALA! Kenapa bayanganmu selalu muncul di pikiranku tiap hari!? Bukan hanya itu, sosokmu selalu ada dimana-mana! Saat kau dan aku tidak bertemu pun, kau juga terus menghantuiku! Sebenarnya siapa kau!?"

"A-aku... aku tidak ta—"

"—dan sudah tiga hari ini aku bermimpi dimana kau selalu bertanya, 'kau tidak mengingatku?' Ini sungguh gila! Aku baru bertemu dan berbicara denganmu di semester ini, tapi kenapa kau malah bertanya seperti itu!?"

Athrun yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terdiam dan merona mendengarnya.

Laki-laki itu terlihat kehilangan oksigen untuk beberapa saat.

"Anoo, kau mungkin salah paham, Cagalli-san," kata Athrun dengan nada mencicit.

Saat ini ia tampak ketakutan atau... malah malu karena pernyataan Cagalli terdengar seperti pernyataan cinta?

"It's weird, you know! Aku tak pernah mengalami amnesia sehingga lupa dengan masa kecilku! Lalu siapa kau sebenarnya!? Seenaknya menggangguku di malam hari dan masuk ke dalam mimpiku seenaknya! Dan apa-apaan itu tadi pagi! Kenapa kau terlihat seperti ingin pergi jauh saat ingin ke kelas dengan Kira!? Bahkan ada helikopter juga di depanmu! Ini... ini membuatku frustasi!" Semua uneg-unegnya akhirnya keluar dengan nada penuh emosi. Ia juga tak menyadari kalau di kedua pipinya samar-samar terlihat rona merah.

"Err, helikopter?" heran gadis bermarga Zala itu.

"Iya, helikopter! Dan aku juga tidak tahu, kenapa bisa ada helikopter masuk sekolah!"

Ngiiiiiiiiiing...

Tanpa mereka sadari, semua teman sekelasnya tengah memperhatikan kejadian barusan. Bahkan Lacus dan lainnya serta Nicol yang ingin makan bersama dengan Athrun pun juga melihatnya dari luar kelas. Lacus menatap bingung ke arah Kira yang berdiri di sampingnya sambil membawa seplastik kecil cemilan yang dibelinya di kantin. Nicol tampak cemas melihat keadaan Athrun yang kelihatan terpojok di hadapan Cagalli. Lain lagi dengan Dearka dan Miriallia yang memandang mereka sambil tersenyum misterius. Yzak yang biasanya tidak tertarik dengan urusan orang lain pun kini bersiul.

.

.

.

Semua orang yang melihat Athrun dan Cagalli tampak syok sekarang.

Deg! Wajah si gadis bermata emerald itu makin memerah.

Astaga! Kenapa wajahnya sedekat iniii!? panik Athrun yang kelewat OOC.

Keadaan jadi makin berbahaya saat Cagalli mendekatkan wajahnya pada wajah Athrun dengan jarak sejengkal antara kedua hidung mereka. Semua yang melihat langsung tercengang karena baru kali ini melihat Cagalli bertingkah seperti itu. Dalam penglihatan mereka, laki-laki itu seperti ingin mencium Athrun secara terang-terangan. Kira melirik sebentar ke arah gadis berambut light pink di sampingnya dengan pandangan cemas. Sedang yang ditatap hanya diam membatu di tempatnya berdiri.

Athrun mengernyitkan wajahnya seolah marah dengan tindakan—keterlaluan—Cagalli.

Lama keduanya beradu pandang, sampai-sampai suasana semakin menegang.

Grep!

Tiba-tiba kedua tangan Cagalli mencengkeram bahu Athrun seraya mendekatkan diri pada si gadis. "Idiot! Jangan memikirkan hal macam-macam! Dengar! Di benakku, kau bukan perempuan, tapi laki-laki yang tingginya lebih dari aku dan Kira," desisnya tepat di telinga kanan Athrun.

Deg!

Andai Cagalli tahu, Athrun terus menahan napasnya sedari tadi. "A-apa...?"

Laki-laki itu menjauh setelah mengatakaninti pembicaraannya. Ia berbalik membelakangi Athrun lalu melirik sebentar ke arahnya sebelum pergi keluar kelas. "It's weird. Bayangan apa lagi itu?" gumamnya sambil menjambak rambut. Ia bingung saat melihat kedua mata Athrun yang entah kenapa berbeda dari biasanya. Tatapan mengintimidasi dan ingin membunuh. Tapi kenapa? Kenapa terlihat ada pantulan api di kedua matanya?

Setelah suasana kembali seperti semula, Nicol datang menghampiri Athrun.

"A-Athrun, kau tidak apa-apa? Kau tidak disakitinya, kan?" tanyanya.

Athrun hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan pandangan kosong.


L. A. Y. L. A.


Jam pelajaran baru saja selesai, Cagalli beniat untuk pulang ke rumah dengan skate board kesayangannya yang berwarna hijau muda dan membolos dari kegiatan klub basket. Setelah kejadian di jam istirahat, rasanya semua pandangan dan perhatian orang-orang tertuju padanya. "Kuso!" desisnya begitu menyadari kecerobohannya yang secara terang-terangan membentak seorang gadis di depan umum. Andai ia sadar, kalau pandangan orang-orang itu adalah pandangan kagum karena berani menyatakan perasaannya di depan umum...

"Cagalli."

Ia menengok lalu menelengkan kepala secara tidak sadar. "Lacus?"

Gadis itu tersenyum seraya mendekati Cagalli yang berdiri di ambang pintu kelas 2-A.

"Kau menungguku? Memang kau tidak ekskul?"

Lacus menggelengkan kepalanya. "Aku ingin bolos saja, lagipula bukannya kau mau mentraktirku makan es krim di kedai yang biasanya kita datangi?" Ia tertawa pelan melihat Cagalli menepuk keningnya sendiri pertanda ia lupa akan janji yang dibuatnya lusa kemarin. "Karena Cagalli sudah lupa janjimu sendiri, kau harus mentraktirku seporsi pancake juga sebagai hukumannya!" serunya sambil memeluk lengan kanan laki-laki tersebut.

"Ya, ya, ya. Baiklah." Cagalli tersenyum tipis.

"Terima kasih, Cagalli," bisik Lacus sambil mengeratkan pelukannya.

"Hm."

Mereka tampak seperti orang pacaran jika dilihat dari sudut mata Athrun yang tengah menunggu sosok Cagalli di depan loker-loker sepatu. Gadis itu menunduk melihatnya. Setitik rasa sakit dan cemburu menyelinap di hatinya secara diam-diam. Bukankah tadi dia bilang... Dengan cepat ia gelengkan kepalanya untuk menepis rasa tersebut. Tidak, tidak, tidak. Dia tidak menembakku, dia hanya mengaku bahwa hal aneh itu juga terjadi padanya, kata Athrun dalam hati.

"Athrun Zala-san?"

Si gadis yang memakai syal putih itu menengok lalu mengangguk.

Lacus menghampirinya karena loker sepatunya dekat dengan tempat berdirinya Athrun sekarang. "Athrun-san, boleh kupanggil begitu?" Melihat Athrun mengangguk, membuat Lacus tersenyum senang. "Tidak ekskul melukis hari ini?" tanyanya sambil memakai sepatunya.

"Hari ini aku izin," jawab Athrun.

"Aa, sou desu ka."

Cagalli yang sudah berganti sepatu langsung mengajak Lacus pergi. "Ayo."

Yang diajak mengangguk. "Athrun-san, kami duluan, ya," pamit Lacus.

Athrun tampak ragu membalasnya dan memilih memalingkan wajahnya ke samping. Saat Cagalli dan Lacus berjalan di ambang pintu masuk, ia berlari kecil untuk mengejarnya. "Cho-chotto matte kudasai, Cagalli-san!" pintanya sambil menahan lengan kiri laki-laki yang tengah dipeluk lengan kanannya oleh Lacus. K-kenapa terlihat seperti memperebutkan Cagalli-san!? pekiknya dalam hati begitu sadar dalam hitungan detik. Sontak Athrun langsung melepas tangannya dari lengan Cagalli. "Gomenasai!"

"Ada apa?" tanya Cagalli dengan nada datar.

"Aku ingin bicara hal penting denganmu." Athrun melirik Lacus sebentar.

Cagalli terdiam sebentar sambil menatap Lacus. "Lacus, kau duluan saja."

Gadis berseragam musim semi itu menatap balik Cagalli lalu tersenyum. "Baiklah."

Keduanya menatap kepergian Lacus untuk memastikan bahwa gadis tersebut tidak mendengar percakapan mereka. Athrun menelengkan kepalanya ke kanan kemudian menengok pada laki-laki yang selama ini juga muncul di dalam mimpinya. "Maaf, kalau aku lancang," katanya seraya menunduk.

"Tak apa. Cepat katakan apa maumu," ketus Cagalli.

Tampaknya Athrun bingung dan memilih berbasi-basi sebentar. "Lacus... pacarmu, ya?"

"Bukan urusanmu." Laki-laki beriris mata amber itu memandang sinis pada Athrun.

"B-baiklah, intinya saja. Ini... soal pernyataanmu siang ta—"

"—jangan berpikir pernyataanku tadi adalah pernyataan cinta," potong Cagalli.

Gadis itu menghela napas. "Tentu saja aku tidak berpikiran pernyataanmu itu adalah pernyataan cinta," walau di awal aku sempat berpikiran begitu, lanjutnya dalam hati. Ia menatap sepasang mata amber Cagalli dan memasang wajah serius. "Kali ini aku serius. Apa yang sering terjadi padamu jika berdekatan denganku juga terjadi padaku jika aku berdekatan dengamu. Mungkin kau melihatku seperti sosok laki-laki, begitu juga aku yang terkadang melihatmu sebagai sosok perempuan," ceritanya.

"M-maksudmu...?"

"Ya, aku sering melihatmu dalam sosok yang lain."

Terdiam. Mereka berdua terdiam sambil memikirkan hal aneh tersebut.

Perlahan Athrun menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku tidak tahu... apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku selalu berpikir tapi tak bisa kutemukan jawabannya," lirihnya.

Cagalli menghela napas sambil memperbaiki posisi tasnya yang ada di tangan kirinya.

"Apa kau tahu jawabannya?"

"Kalau aku tahu jawabannya, mana mungkin aku bertanya tadi siang!"

"... Lalu sekarang, apa yang harus kita lakukan?"

.

.

.

"...lupakan."

Deg! Dengan cepat Athrun menatap sosok laki-laki di depannya. Lupakan? Tangan kanannya yang bebas kini terkepal. Semudah itu kau menyuruhku untuk melupakannya? Mana mungkin aku bisa kalau jawabannya saja belum ditemukan! pikirnya sambil memandang sengit Cagalli yang juga balas menatapnya.

"Apa?"

"Kenapa semudah itu kau menyuruhku melupakannya?"

Kedua pasang mata Cagalli menatap tajam mata Athrun. "Memang, apa yang bisa kau lakukan? Mencari jawabannya, begitu?" Ia mendengus kesal. "Sekarang aku berpikir, kalau ini semua hanya kebetulan. Cobalah berpikir seperti itu, kau pasti bisa melupakannya tanpa harus repot-repot mencari jawaban yang mungkin tidak akan kau temukan," kata Cagalli dengan ketus plus datar.

"Kalau mencarinya bersama, mungkin bisa ketemu jawabannya," balas Athrun.

"Huh? Apa yang harus dicari? Ini hanya kebetulan, maybe?"

Athrun merasa gemas sekarang dengan tingkah Cagalli. "Kau saja berkata kebetulan dengan nada ragu-ragu," cibirnya—tanpa sadar.

"Aku tak mau repot-repot mencarinya. Membuang waktuku saja," ketus Cagalli lagi.

"Aku bukanlah orang yang bisa melupakan hal aneh yang terjadi padaku seperti yang kau lakukan, Cagalli-san," balas Athrun dengan nada ketus.

"Terserah kau saja." Cagalli mendekati Athrun dan berbisik tepat di telinga Athrun. "Kalau begitu, jangan pernah kau berbicara dan menatapku lagi karena aku tak mau hal aneh ini terus menghantui hari-hariku. Kau mengerti 'kan, Zala-san?" desisnya seraya merapikan sedikit rambut Athrun yang sedikit berantakan. Ia pun pergi dengan skate board-nya, meninggalkan gadis berambut navy blue itu sendiri.

Perbuatan Cagalli barusan membuat Athrun menggeram. "Cagalli... Hibiki..."

To Be Continued

Sebelumnya, Mizu minta maaf atas kesalahan teknis di update-an chap 3 kemarin... #bow#

Jujur, Mizu juga nggak tahu itu kenapa, tapi Mizu cek ke beberapa fandom dan sama. Semua fic yang update nggak ada yang keliatan chap terbarunya itu. Sekali Mizu minta maaf... u,u

Err, jangan flame Mizu ya soal chap 4 ini... T^T Mizu nggak mungkin beneran buat mereka jadi couple di chap ini sesuai judulnya. Oh iya, Mizu juga mau minta maaf kalau buat para pembaca risih dengan crack pairing-nya. Terlebih pairing CagallixLacus dan AthrunxKira-nya. Huaaa! Gomeeen! TT^TT #sembah sujud di kaki readers# Untuk menghindari kesalahan teknis lagi, Mizu update di sore hari. Haha, kayaknya rawan kalo update malam. XD

Mizu juga berterima kasih untuk review-nya, Ffionn, aeni hibiki (hehe, thanks ya karena sudah nyebut nama. :) salam kenal juga! #bow# yosh! Semangat! XD), Cyaaz, nelsha, Hoshi Uzuki, dan semuanya yang sudah membaca fic ini. :)

Mizu mau tanya juga, sebenarnya warna rambut Athrun itu apa, ya? T^T Mizu rancu antara navy blue atau dark blue. Onegaishimasu! #bow#

SANKYUU! :D

.

.

.

Update : 17 Februari 2013