Laki-laki itu menghela napas sepanjang perjalanan menuju gerbang sekolah, bahkan ia tak menyadari bahwa ada seseorang tengah menunggunya di sana. Jadi, dia mengalami hal yang sama denganku, huh? Apa maksudnya ini!? Ia memilih berhenti berselancar dengan skate board hijau miliknya tepat 100 meter dari gerbang sekolah lalu berjongkok tepat di atas skate board sambil menaruh wajahnya di antara kedua lutut. Tanpa disadarinya, tingkahnya itu menarik perhatian beberapa siswa dan siswi yang ada di sekitarnya.
"Uuugh! Kepalaku pusing memikirkannya!" gerutu laki-laki blonde tersebut.
"Cagalli? Kenapa berjongkok di tengah jalan seperti ini?"
Mendengar suara khas seseorang yang dikenalnya membuat Cagalli mendongak.
Lacus tengah tersenyum manis di sana.
"Lacus? Kenapa belum pulang?" tanya laki-laki itu seraya berdiri.
Yang ditanya malah memasang wajah cemberut dan menggembungkan kedua pipinya. Tanpa hitungan menit, kedua pipi gadis itu langsung dicubit Cagalli. "Cagalli! sakit tahu!" bentak Lacus tanpa berhenti mengelus kedua pipinya yang sudah memerah.
"Siapa suruh pasang wajah begitu? Jelek tahu," canda Cagalli dengan nada datar.
Walaupun nadanya datar, tetap saja membuat si gadis tertawa.
"Kenapa belum pulang? Tadi 'kan aku menyuruhmu duluan," tanyanya lagi.
"Aku ingin pulang dan makan es krim bersamamu."
"Baiklah, Hime-sama." Cagalli menggandeng tangan Lacus seraya menenteng skate board-nya di tangan kiri. Senyum tipis kembali terlihat di wajah tampan plus manisnya itu. Andaikan ia tahu, gadis yang digandengnya kini tengah tersenyum miris dengan pandangan sayu.
GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yohiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE
Setsuko Mizuka Present
.
L.A.Y.L.A
Look At You Like As ...
Rate : T semi M
Genre : Mystery, Romance, & School Life
Pairing : AsuCaga, KiRakusu, ETC.
Warning : First Canon, OOC, Typos, AU, GaJe, Gender Bender(?), Crack Pairing, dsb.
.
Kau, aku, kita dan mereka. Kita semua kembali bertemu dalam keadaan dan waktu yang berbeda. Aku selalu melihatmu dalam keadaan yang berbeda namun terlihat tak asing bagiku, begitu juga dirimu.
.
.
.
Phase 5
Is He Truly A Male?
Matahari ingin kembali ke ufuk barat saat kedua sejoli—Cagalli dan Lacus—melanjutkan perjalanan dari kedai es krim langganan mereka ke rumah kediaman Clyne untuk mengantar Lacus. Cagalli tampak melirik sesekali pada gadis berambut light pink tersebut yang sedari tadi tampak melamun. "Kenapa?"
"Hm? Apa?" tanyanya balik seraya tersenyum.
"Jangan pasang senyum palsu seperti itu, aku tidak suka."
Lacus menghela napas. "Apa senyumku itu terlihat segitu palsunya...?"
"Oh ayolah, Lacus." Laki-laki itu memutar kedua bola matanya, bosan.
Melihat ekspresi bosan yang ditunjukkan Cagalli, membuat Lacus gemas dan langsung memeluk lengan tangan kanannya. Senyum miris kini tampak lagi di wajah cantik bak Puteri Kerajaan itu. "Aku... tidak bermaksud untuk menunjukkan senyum palsuku padamu, Cagalli."
"Lalu apa itu tadi?"
"...entah?"
Keduanya terdiam setelahnya.
"Hangat..."
"Hmm? Apa?"
Lacus mendongakan kepalanya untuk menatap Cagalli. "Kau hangat, Cagalli."
"Sebenarnya, apa yang kau pikirkan sekarang?" tanya laki-laki beriris mata amber itu sambil berhenti melangkah karena mereka sudah sampai di kediaman Clyne. Tatapannya yang sebelumnya terlihat bosan kini tergantikan dengan tatapan mengintimidasi.
"Ah, Cagalli! Ternyata sudah sampai! Terima kasih untuk hari ini!"
Twitch! Empat sudut persegi nampak di kening adik Kira tersebut.
Baru saja Lacus ingin melangkah, tangan besar Cagalli menahannya.
"Eh!?"
Tubuh gadis itu sedikit oleng dan punggungnya menabrak tembok di samping pagar rumahnya yang terbuat dari kayu jati. Jantungnya berdetak kencang begitu melihat ekspresi laki-laki yang tengah memojokkannya. "Cagalli!? A-apa yang mau kau lakukan p-padaku?" tanya Lacus gugup. Wajahnya kini memerah karena menahan malu saat wajah Cagalli mendekatinya. Bahkan, napasnya yang berbau mint itu mengenai wajah Lacus.
"Apa yang kau sembunyikan?"
"A-a, tidak kok. Memang apa yang kusembunyikan?"
"Bohong. Aku tahu bagaimana sikapmu saat menutupi perasaanmu seperti saat ini."
"Haha, a-apa sih? Aku nggak ngerti, Cagalli."
"..."
Lacus menyentuh kedua pipi Cagalli seraya lebih mendekatkan wajahnya pada laki-laki tersebut. Tampaknya Cagalli juga tak mempermasalahkan jarak hidung mereka saat ini yang hanya terpaut 5 centi. "Gomen, membuatmu khawatir. Aku hanya memikirkan tugas sekolahku karena harus dikumpulkan besok," jelasnya. Ia kembali mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan untuk beberapa detik. "Nah, sekarang. Kau bisa melepaskanku, kan? Ini tempat umum, Cagalli," tanya Lacus atau bisa dikatakan itu adalah permintaannya.
Cagalli menurut dan menjauhkan dirinya dari Lacus.
"Terima kasih sudah mengantar dan mentraktir es krimku tadi."
"..."
Gadis itu membersihkan sedikit seragamnya yang agak kotor di bagian punggung.
"Jangan terlalu dipikirkan," kata Cagalli sambil menaiki skate board-nya.
"Dipikirkan? Maksudmu?" tanya Lacus tidak mengerti.
Sesaat laki-laki yang memakai seragam yang sama dengan Lacus berupa seragam khas musim semi itu menatap lurus ke depan lalu menatap salah satu Primadona Archangel High School di hadapannya dengan pandangan lebih lunak dari sebelumnya. "Aku hanya bicara soal bayangan itu dengannya. Aku pernah cerita 'kan padamu waktu itu?" Senyum tipis mengakhiri perkataan Cagalli.
Tak ada respon apapun selain senyum manisnya yang ia perlihatkan.
"Walau kau tak mau mengaku, aku tahu itu."
"Tak apa, aku tidak mempermasa—"
"—aku memintanya untuk menjauhiku dan aku juga akan menjauhinya."
"Eh?"
Mendengar pekikan Lacus, membuat Cagalli memasang wajah heran. "Kenapa? Kau tidak suka kalau aku menjauhinya?"
"A-a, bukan begitu. Tapi..." Gadis berambut light pink itu tampak kesusahan mencari kata-kata yang cocok untuk menjelaskannya. "Jangan bicara seperti itu pada Athrun, bagaimanapun juga dia itu perempuan, Cagalli. Oh iya, apa kamu sudah meminta maaf padanya soal tadi siang? Kau juga seharusnya tidak menyatakan perasaanmu dengan nada membentak, Cagalli," kata Lacus panjang lebar.
"Aku? Minta maaf? Seharusnya dia yang minta maaf karena telah menggangguku!"
Lacus menepuk keningnya. Kapan sikap keras kepalanya bisa hilang, ya?
"Huh! Dan apa-apaan itu kata-katamu!? Aku tidak menyatakan cinta, Lacuuus!"
"Baiklah, baiklah." Ia menatap rumahnya sebentar. "Kurasa, hari sudah larut malam, lebih baik kau pulang, Cagalli. Udara malam itu tidak baik untuk kesehatan," katanya lagi. Beberapa puluh detik pun berlalu tanpa percakapan. Lacus sedikit salah tingkah begitu ditatap secara intens oleh Cagalli. "C-Cagalli?" panggilnya dengan nada gugup.
Tap. Laki-laki itu melangkah lebih dekat dengan Lacus.
Si gadis hanya bisa menatapnya bingung.
Cuuup.
Sebuah kecupan mampir di pipi kanannya.
Bluuush! Wajahnya samar-samar merona saat Cagalli menciumnya lama. Lacus memejamkan kedua matanya sampai ciuman itu berakhir. Begitu bibir itu menjauh dari pipinya, ia membuka kedua mata blue-gray-nya perlahan.
.
.
.
Deg!
Detak jantungnya kini bergemuruh diikuti iris matanya melebar sedikit. Gadis itu terkejut saat sesosok laki-laki asing namun terlihat familiar tersebut menggantikan sosok Cagalli. Wajah sosok itu terlihat tampan dengan senyum tulusnya, tapi entah kenapa mengingatkannya pada seseorang. S-siapa? Bukankah yang menciumku tadi itu Cagalli? tanyanya dalam hati. Secepat kilat ia menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata kuat-kuat.
"Lacus? Kau kenapa?"
Lacus membuka matanya dan terlihat sosok Cagalli yang menatapnya bingung.
"Kenapa?" tanya Cagalli dengan nada cemas.
"Bukan apa-apa," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
L. A. Y. L. A.
Athrun Zala sedikit merapikan dasi biru-putihnya lalu merapikan sweater biru tua tanpa lengannya. Saat dirasakannya sudah rapi, ia pun kemudian melangkah lagi menuju sekolah diiringi gugurnya bunga-bunga sakura sebagai background-nya. Sesampainya di gedung sekolah, ia langsung mengganti sepatunya dengan uwabaki putihnya di depan loker.
"Psst, itu tuh orangnya datang."
"Ah, jika kuingat kemarin, rasanya jadi iri."
"Iya, ya. Ditembak Cagalli-kun, di depan umum pula."
"Sst! Kecilkan suaramu!"
"Biarin, biar dia dengar kalau fansnya keberatan jika dia yang ditembak Cagalli-kun!"
Setelah mendengar percakapan dari fans Cagalli yang berbisik tentangnya, Athrun hanya bisa pasrah sambil menghela napas. Kenapa... mereka jadi berpikiran seperti itu padaku? tanyanya bingung sambil menunduk. Ia berjalan lagi menuju kelasnya dengan wajah tetap menunduk, sampai-sampai harus bertabrakan dengan Yzak dan Dearka yang baru saja mampir ke kelas 2-A untuk menemui si kembar Hibiki.
"Kalau jalan tuh, lihat-lihat dong!" bentak Yzak.
"A-a, go-gomenasai, Joule-san!" kata Athrun dengan badan membungkuk.
"Yzak, jangan mulai deh. Sudah, ayo ke kelas!" ajak Dearka paksa.
Laki-laki berambut silver pendek itu mendengus kesal begitu tahu yang menabraknya adalah Athrun Zala. "Cih! Gadis itu...," geramnya dengan nada seperti orang yang punya dendam kesumat pada gadis yang masih membungkukkan badannya dan suara Yzak yang lumayan keras bisa didengar oleh Athrun itu sendiri.
"Kenapa... jadi begini?" gumamnya sambil menegakkan kembali badannya.
Pandangan sayu pun tampak di wajahnya.
.
.
.
Teng, tong, teng, tong...
Bel sekolah berbunyi pertanda sudah waktunya jam istirahat.
Athrun memilih memakan bekalnya sebelum berganti baju. Hari ini memang jadwalnya kelas 2-A untuk olahraga setelah jam istirahat berakhir. Ia menghela napas berat lagi untuk kesekian kalinya saat beberapa siswi terdengar tengah membicarakan kejadian kemarin. Kalau tahu akan jadi seburuk ini, lebih baik aku izin tidak masuk sekolah, pikirnya dengan penuh penyesalan dan entah sejak kapan, atmosfer di sekelilingnya berubah menjadi gelap. Hal itu tentu saja membuat para siswi yang berbisik tentangnya terdiam.
"Yo, Ath—kau kenapa? Suram begitu?"
Yang ditanya mendongak dengan wajah suram.
Nicol Amalfi, Sekretaris kelas 2-C datang dengan membawa sekotak bento.
"Oh, ternyata kau, Nicol," sahutnya seraya menyuap sepotong telur gulungnya dengan sumpit. Laki-laki berambut hijau zamrud itu bertanya lagi sambil duduk di kursi depan Athrun. "Gara-gara kejadian kemarin, semua orang di sekolah membicarakanku," cerita Athrun lalu tersenyum kecut. Lagi-lagi, ia menghela napas berat.
"Sudahlah, besok juga pasti hilang dengan sendirinya kok," kata Nicol.
"Aku tak yakin."
Nicol menatap Athrun sesaat. "Maklum sih, mereka semua—khususnya fans Cagalli—tidak terima soal kejadian kemarin. Kau 'kan gadis biasa-biasa saja dan hanya mendapat rangking 15 seangkatan." Perkataan dari sahabatnya itu langsung membuat atmosfer di sekitar Athrun lebih menggelap dari sebelumnya, sedang Nicol sendiri tengah memakan bekalnya dengan tenang tanpa memikirkan perkataan—pedas—nya barusan.
"Cerita padamu, buat mood-ku lebih hancur, Nicol."
"Eh? Benarkah? Padahal aku tidak berniat memperburuk mood-mu."
"Pikiran realistismu itu yang langsung membuatku drop."
"Ahaha, gomen, gomen." Nicol kembali memakan bento-nya.
Beberapa menit kemudian, bekal keduanya habis tak bersisa. Athrun izin ke ruang ganti untuk berganti baju setelah dilihatnya para siswi sudah hampir keseluruhan mengganti baju seragamnya dengan baju olahraga. "Nicol, aku ganti baju dulu," pamitnya seraya mengambil baju olahraga berwarna putih dengan garis biru tua di sekitar bagian kanan serta bawah bajunya yang berlengan pendek. Di bagian lengan serta kerah lehernya juga berwarna serupa dengan celana training selututnya, yaitu biru tua.
"Aku juga mau kembali ke kelas," kata Nicol seraya berdiri.
"Oke, nanti ada ekskul sepulang sekolah?" tanya si gadis.
"Ada, kau juga ada, kan?"
Athrun hanya mengangguk sambil berjalan keluar kelas bersama Nicol dan berpisah di depan kelas 2-A. Ia sedikit menunduk ketika berjalan di koridor karena terdengar bisik-bisik dari para siswi kelas lain tentang kejadian penembakan Cagalli kemarin, setidaknya itu yang mereka pikirkan. Begitu sampai di ujung koridor, ia ditabrak beberapa siswi sekelasnya yang baru saja keluar dari ruang ganti sekaligus kamar mandi.
"Kalau jalan, pakai mata dong!" bentak siswi berambut hitam.
Mereka pun pergi setelah menabrak bahu Athrun hingga sedikit terdorong.
Jalan pakai mata? Bagaimana caranya? pikir Athrun dalam hati.
Ia pun kembali melangkah menuju ruang ganti yang menjadi satu dengan kamar mandi khusus perempuan. Gadis itu agaknya berjalan sambil melamun karena terus saja menunduk dan tanpa sadar sudah melewati ruang ganti perempuan. Kaki jenjangnya itu membawanya menuju ruang ganti khusus laki-laki yang ada di paling ujung koridor dekat tangga. Sesampainya di depan pintu, ia terus menunduk dan tanpa ragu membuka pintu tersebut.
Kepalanya yang terus menunduk kini mendongak agak ke atas.
.
.
.
Athrun tampak me-loading apa yang ia lihat di depannya.
Tiga detik kemudian...
"KYAAAAA!"
BRAK!
Gadis itu pun keluar dengan wajah memerah seraya menutup pintu itu sekencang mungkin, meninggalkan seorang laki-laki berambut blond yang tengah bertelanjang dada mematung di sana. Nampaknya ia masih me-loading kejadian barusan.
Ckleeek. Pintu dari satu bilik kamar mandi terbuka.
"Cagalli, tadi kudengar ada suara teriakan perempuan di sini," kata orang itu.
"..."
"Hoi! Cagalli!" Orang tersebut yang ternyata Kira menatap si adik kesal.
Cagalli yang baru saja tersadar langsung memakai kaos putih tanpa lengannya sebelum memakai baju olahraga. "Gadis itu, seperti baru lihat laki-laki bertelanjang dada saja," gerutunya seraya menggosok-gosok telinga kanannya yang sedikit berdengung. "Gara-gara teriakannya, telingaku jadi berdengung begini," gerutu Cagalli lagi.
"Namanya juga perempuan," sahut Kira sambil terkekeh.
"Huh! Makanya itu, aku malas untuk berurusan dengan perempuan!"
"Memang siapa yang salah masuk ruang ganti?"
Cagalli yang sudah siap dengan baju olahraganya berjalan menuju pintu. "Si gadis aneh yang selalu kulihat seperti laki-laki itu yang salah masuk ruang ganti," jawabnya sebelum ia keluar dari ruang ganti. Jawaban dari Cagalli tentu saja membuat Kira keheranan. Ia pun memilih untuk berganti baju dua menit sebelum bel sekolah berbunyi lagi.
L. A. Y. L. A.
Bruk! "Aaargh! Kenapa hari ini buruk sekali, Kami-sama...!?" gerutu Athrun setelah menjatuhkan dirinya ke atas kasur king size-nya. Tangan kanannya terkepal sesaat. Di memorinya, masih teringat dengan jelas kejadian memalukan di jam istirahat tadi siang.
"Mau taruh dimana mukaku sekarang!?"
Ia bangkit dari posisinya lalu terduduk sambil mengacak-acak rambut navy blue-nya.
"Lebih baik, aku mandi dulu lalu mengerjakan tugas sekolah," putus Athrun.
Waktu berlalu dengan cepat, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Athrun tampak menyangga dagu sambil membolak-balikan buku catatan Matematikanya. Tinggal tiga nomor yang belum ia isi dari dua puluh pertanyaan yang ada. Gadis itu mulai bosan dan memilih untuk menyudahi aktivitasnya tersebut. Toh, tugas itu akan dikumpulkan lusa besok.
Brrrmmm!
Mendengar suara mobil masuk ke garasi, buru-buru Athrun menengok ke jendela.
"Papa? Tumben, pulang hari ini?" gumamnya.
Tok, tok, tok!
"Ya? Masuk! Tidak dikunci!" suruh si pemilik kamar, Athrun.
Pintu terbuka, terlihat seorang pelayang di ambang pintu. "Athrun-sama, Tuan Besar pulang," katanya memberitahu karena ia dipesankan oleh Athrun saat Patrick pulang, ia harus melapor padanya.
"Hmm, aku tahu. Terima kasih, Bi." Gadis yang kini berpakaian piyama hijau muda itu tersenyum.
"Dengan senang hati, Athrun-sama."
Pintu pun kembali tertutup setelahnya.
Brrrmmmmm!
Suara mobil keluar lagi dari garasi terdengar. Sontak membuat Athrun menengok lalu menunduk. Mobil sport hitam yang dipakai Patrick kini sudah tak lagi di garasi. Ia menghela napas seraya mengambil setoples berisi burung-burung kertas yang baru dibuatnya sebanyak 500 buah. Di kertas-kertas itu, ia tulis semua perasaannya. Semua kejadian yang ia alami selama setahun ini pun juga Athrun tulis.
"Mending nggak usah pulang kalau cuma sebentar."
Drrrt! Drrrttt!
Sebuah pesan masuk dari ponsel flip-nya.
Klik.
'Athrun, besok jangan lupa bawa catatan Geografi ya!'
Athrun membalas pesan tersebut. 'Iya, bawel. -_-' Ia melempar ponselnya ke atas kasur lalu duduk kembali ke kursi belajarnya. Tangan kanannya mengambil dua lembar kertas origami berwarna merah dan bersiap untuk membuat burung kertas. Sebelum menulis, Athrun merobek kertas tersebut menjadi empat.
Hari ini, aku ingin bercerita lagi tentang Cagalli Hibiki.
Laki-laki... ah! Aku tak tahu dia itu benar-benar laki-laki atau perempuan.
Jika kau tanya kenapa... aku sendiri juga bingung.
Masalahnya, saat istirahat tadi, aku salah masuk ruang ganti dan melihatnya... Oh Kami-sama... aku tidak tahu kenapa. Tapi aku melihatnya hanya memakai kaos dalam yang tidak menutupi tubuhnya sampai perut berwarna hijau tua dan celana dalam yang sama dengan warna serupa. Aku bingung... sangat...
Semua yang ia tulis memang benar adanya.
Dengan rapi, ia mulai melipat kertas itu menjadi bentuk burung kertas.
Empat menit berlalu, Athrun kembali menulis di sobekan kerta lainnya.
Apa benar dia itu laki-laki?
Tapi kenapa dalam penglihatanku Cagalli adalah perempuan?
Ah! Benar!
Jika kuperhatikan lagi, namanya juga tidak sesuai dengan nama laki-laki...
Jangan-jangan... dia menyamar?
Tapi untuk apa menyamar? Belum lagi, kenapa kalau menyamar harus berganti baju di ruang ganti yang terbuka seperti itu? Kenapa tidak di kamar mandinya? Bukankah jika ganti baju di sana, akan cepat ketahuan, ya? Tapi... memang tak ada orang lagi sih di ruang ganti laki-laki. Nggak logis, nggak logis...
Gadis itu kembali melipatnya menjadi burung kertas. Seselesainya burung kertas itu dibentuk, ia menatap langit malam dari jendelanya. "Sejak saat itu... aku terus memikirkannya. Memikirkan Cagalli Hibiki dan semua hal misterius lainnya yang berhubungan dengannya," gumam Athrun. Ia menggaruk-garuk pelan kepala bagian belakangnya seraya menatap burung kertas buatannya barusan. "Lalu sekarang... apa yang harus kulakukan untuk menemukan jawaban atas semua misteri ini?"
To Be Continued
#nengok ke atas# ~_~ err, terlalu OOC ya chap ini? Apalagi Lacus nya. TT^TT Gomeeen! Ugh, Cagalli, kenapa kau memojokkan Lacus seperti itu?
Cagalli : bawel banget jadi Author. Kan lo yang buat gue jadi kayak gitu, BAKA!
Mizu : huaaa! #kabur#
Oh iya, mulai saat ini, Mizu akan memakai navy blue begitu melihat review dari para readers semua... :D
Nah, hubungan CagallixLacus nggak wajar banget kan di sini? XDDD
Kira juga kebagian sedikit pula... #pundung#
Ah! Athrun juga... terlalu melankolis ya? #pundung#
Mizu juga mau bilangin nih, semua bayangan aneh yang mereka lihat itu, asli ada di ANIME nya... XD Ingat episode 20 dan 24 aja, pasti langsung kebayang.
Terakhir, Mizu mau mengucapkan terima kasih pada semua para readers dan reviewers, terutama pada pandamwuchan, aeni hibiki (haha, sip, sip, sip... Mizu pakai kata navy blue mulai sekarang. XD thank you! #hugs#), nelsha, Citrus Bergamia, Cyaaz, mrs. zala, Hoshi Uzuki, lezala, Orenji Lushin, dan CloudxLightning! :D Thanks guys! #hugs#
Sekali lagi, terima kasih sudah mampir ke mariii~
.
.
.
Update : 24 Februari 2013
