GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yohiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE

Setsuko Mizuka Present

.

L.A.Y.L.A

Look At You Like As ...

Rate : T semi M

Genre : Mystery, Romance, & School Life

Pairing : AsuCaga, KiRakusu, ETC.

Warning : First Canon, OOC, Typos, AU, GaJe, Gender Bender(?), Crack Pairing, dsb.

.

Kau, aku, kita dan mereka. Kita semua kembali bertemu dalam keadaan dan waktu yang berbeda. Aku selalu melihatmu dalam keadaan yang berbeda namun terlihat tak asing bagiku, begitu juga dirimu.

.

.

.

Phase 6

Bloody Valentine War I


Athrun hanya bisa menunduk ketika berjalan menuju kamar mandi di sepanjang koridor. Kejadian dua hari yang lalu membuatnya jadi pusat perhatian dari semua siswa-siswi di sekolah. Tadi pagi pun ia mendapat banyak sekali surat cinta dari para fans Cagalli Hibiki di loker sepatunya. Kami-sama, dou shiyou?

Cklek.

Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi sekaligus ruang ganti sambil menghela napas.

Suara air kran dari wastafel memenuhi ruangan tersebut setelahnya.

"Kenapa hidupku jadi seperti ini sejak berbicara dengannya?"

BRAK!

Pintu kamar mandi di belakang Athrun terbuka dengan keras dan membuatnya terlonjak kaget. Reflek, ia memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang membuka pintu tersebut. Raut wajahnya tampak heran dengan salah satu alis terangkat begitu melihat tiga orang gadis berbeda warna rambut tengah berdiri di ambang pintu. Karena tak ada pergerakan dari mereka, Athrun memilih untuk kembali mencuci tangan serta membasuh muka dari air kran.

"Kau... Athrun Zala!"

Kegiatan gadis berambut navy blue itu terhenti lalu menengok. "Ya?"

Para gadis yang diketahui bernama Asagi Caldwell, Mayura Labatt, dan Juri Wu Nien dari kelas 2-D itu menghampiri Athrun yang masih terdiam di tempatnya tanpa menyadari adanya firasat buruk yang akan terjadi padanya.

"Apa kalian mencariku?" tanya si gadis Zala dengan wajah polos.

"Kau..." Asagi menatap Athrun tajam sambil mengepalkan tangan kanannya.

Bugh!

Tiba-tiba Mayura mendorong Athrun hingga terbentur tembok. Tentu saja Athrun meringis walau dengan nada pelan dan tidak terdengar oleh ketiga gadis di depannya. "A-apa-apa—!?" Deg! Protesannya terhenti begitu ingat siapa sosok mereka yang sebenarnya. Sial, sekarang aku berurusan dengan Pengurus Cagalli FC, pikir Athrun.

"Apa!? Kau mau protes lalu mengadu pada Sensei, heh?" hardik Mayura.

"..."

"Kenapa? Kok diam? Nggak berani protes seperti tadi?" tanya Asagi seraya memegang dagu Athrun untuk melihat wajahnya yang sedari tadi menunduk.

"..." Gadis beriris mata emerald itu memilih diam dengan pandangan kosong.

Mayura tertawa. "Oh, lihat wajahnya, Asagi. Melas sekali!" serunya dengan nada ceria.

"Juri! Kenapa diam begitu!? Bukannya kau juga sebal padanya?" tanya Asagi.

Kelihatannya gadis berkacamata dan berkuncir dua itu enggan untuk melakukan rencananya begitu melihat tatapan kosong Athrun. Entah kenapa ia bisa merasakan bahwa Athrun juga merasa tertekan dengan hal yang terjadi padanya. Apalagi Juri juga sempat melihat wajah gadis itu ketika melihat lokernya penuh dengan surat cinta dari fans Cagalli. "Maaf, aku tak mau ikut-ikutan." Ia pun memilih kembali ke kelasnya sambil sedikit merapikan sedikit sweater biru tua tanpa lengan serta dasinya yang agak mengendur.

"Huh? Kenapa dengannya?" heran Mayura.

Asagi mengangkat kedua bahunya pertanda ia tidak tahu.

Athrun yang masih dipojokkan oleh Asagi dan Mayura tampak seperti orang yang tanpa jiwa. Tatapannya memang kosong karena di pandangannya terlihat seorang gadis berambut blond—seperti Asagi—dan lurus sebahu tengah menodongkan sebuah pistol—yang sebenarnya tangan Asagi—di bawah dagunya. Bukan! Athrun tidak takut dengan ancaman tembakan pistol seperti itu, tapi ia terpaku dengan wajah gadis penodong pistol tersebut. Wajahnya terlihat terluka, bahkan air matanya terus turun dari kedua pipinya.

Tes. Tes. Tes.

"Heh? Cengeng sekali, belum diapa-apain sudah nangis begitu!" hardik Asagi.

"..."

Teng, tong, teng, tong...

Bel berbunyi mengintrupsi kegiatan Asagi dan Mayura pada Athrun.

"Asagi, kita hentikan saja. Jam pertama akan mulai," kata Mayura sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Gadis blonde ikal dan berpakaian—agak—berantakan itu mengangguk, lalu menatap wajah Athrun yang sudah sembab akibat tangisan tanpa suaranya itu. "Kali ini kami tidak akan bertindak kasar padamu sebagai peringatan yang pertama. Tapi jika kau berani-berani mendekati Cagalli-kun lagi, kami tidak akan segan-segan untuk bertindak kasar. Kau mengerti?"

"..."

"Huh! Sudahlah, sepertinya dia juga sudah kapok, Asagi," kata Mayura.

"Sepertinya," sahut Asagi sambil mendorong wajah Athrun ke samping kanan seperti orang yang baru saja menampar pipi kiri gadis berambut navy blue itu. "Ah, iya. Aku punya satu pertanyaan untukmu sebelum kami pergi. Apa benar Cagalli-kun menyukaimu dan memintamu sebagai pacarnya?" tanyanya dengan wajah serius.

"..."

Mayura memutar kedua bola matanya, bosan. "Mana mungkin mau menjawab."

Asagi mendengus kesal. "Kalau semua itu benar, kami tetap tidak akan menerimamu jadi kekasih Cagalli-kun! Karena gadis yang pantas menjadi kekasihnya adalah Lacus Clyne! Cam 'kan itu baik-baik, Athrun Zala-san!"

Brak!

Pintu itu pun tertutup, meninggalkan sosok Athrun yang perlahan merosot ke lantai dengan wajah menunduk. Air matanya terus keluar tanpa ia minta. "Kenapa? Kenapa... aku malah menangis seperti ini?"


L. A. Y. L. A.


Pemberitaan mengenai hubungan dirinya dan Athrun yang mengatakan mereka tengah berpacaran itu membuat Cagalli tak bisa tidur selama jam pelajaran Matematika sampai bel istirahat berbunyi. Ia melirik sebentar ke samping kirinya. Entah keberuntungan—atau keburukan?—darimana yang didapatnya karena di perpindahan posisi tempat duduk untuk semester empat kali ini, ia duduk di sebelah kanan Athrun.

"Pssst, apa kau percaya Cagalli-kun punya perasaan lebih pada Zala-san?"

"Entahlah, aku tidak terlalu dengar perkataan Cagalli-kun waktu itu."

"Aa, sou ka. Tapi menurutmu, apa mereka jadian?"

"Mm, kelihatannya sih, nggak. Lihat, mereka nggak ngobrol seharian ini."

"Bisa jadi 'kan, mereka backstreet?"

"Ah, walaupun begitu, aku tidak akan mendukungnya karena Cagalli-kun terlihat serasi dengan Lacus Clyne. Kau pasti sering melihat mereka jalan berdua, kan?"

BRAK!

Percakapan kedua gadis tadi serta kegiatan lainnya di kelas 2-A terhenti seketika.

Semua pasang mata kini menatap sosok laki-laki blonde yang tengah berdiri dengan kedua tangan terkepal di atas meja. Bahkan Athrun yang sedari tadi terus menunduk kini ikut menatapnya. Gadis itu tampaknya kaget karena suara gebrakan yang ditimbulkan oleh Cagalli sangat keras. Kedua matanya menatap tangan laki-laki itu. Merah. Tapi dilihat dari wajah Cagalli, ia tidak merasa sakit sama sekali.

"Cagalli? Kau kenapa?" tanya Kira yang duduk di depannya.

"Bukan apa-apa."

Kira menatap si adik yang berjalan keluar kelas sambil menenteng jaket baseball-nya.

"Geez! Tak bisakah mereka diam barang semenit saja untuk tidak membicarakan kejadian lusa kemarin!?" geram Cagalli sambil memakai jaket baseball berwarna biru-putih miliknya tanpa berhenti melangkah. Laki-laki itu terus berjalan ke ujung koridor lalu turun ke lantai dasar. Begitu ruangan yang dicarinya tertangkap oleh indera penglihatannya, ia pun bergegas ke sana dan menghiraukan suara-suara panggilan dari fansnya yang ada di sepanjang koridor. Sepertinya, jadi orang popular itu merepotkan, ya?

Seorang gadis berambut serupa dengannya tengah berdiri di depan pintu.

"Cagalli-senpai, ada apa?" tanya gadis itu.

"Stellar, ruangannya dikunci?" tanya Cagalli to the point.

Gadis bernama lengkap Stellar Loussier yang umurnya lebih muda setahun dari Cagalli itu sedikit kesusahan saat mengangkat sebuah kunci di tangan kanannya sementara di tangan kirinya penuh dengan tumpukan kertas dan beberapa buku. "Baru Stellar ingin membuka ruangan ini, Senpai."

Tanpa membuang waktu, Cagalli mengambil tumpukan kertas dan buku dari Stellar.

"Eh? Cagalli-senpai! Stellar bisa melakukannya sendiri kok."

"Sudah, kau buka saja pintunya. Aku mau pakai ruangan itu."

Stellar mengernyitkan kedua alisnya kemudian mengangguk.

Pintu ruangan yang bertuliskan 'Ruang On-Air' itu terbuka. Dengan terburu-buru Cagalli masuk ke dalam dan meninggalkan Stellar yang tengah bengong di ambang pintu. "Oi, Stellar! Jangan melamun terus! Cepat, bantu aku menyalakan loudspeaker-nya!" pinta laki-laki itu dengan nada datar plus memelas(?).

"A-a, iya." Ia pun ikut masuk dan membantu si senpai menyalakan loudspeaker sekolah.

Beberapa menit berlalu, loudspeaker itu pun aktif.

"Senpai, sebenarnya ada keperluan apa sampai memakai loudspeaker sekolah?"

"Ini penting dan harus diumumin ke semua orang."

"Penting?"

Laki-laki yang hari ini tidak memakai dasi dan membuka dua kancing di bagian atas itu hanya mengangguk seraya menoleh. Tangan kanannya terulur untuk menyentuh puncak kepala Stellar seraya mengacak-acak rambutnya. Ia juga menahan tawa begitu melihat wajah Stellar yang merengut. "Thanks ya, adikku tersayang," kata Cagalli dengan tenangnya.

"Ugh! Rambut Stellar 'kan jadi berantakan sekarang!" gerutunya.

Cagalli tersenyum tipis lalu mengetuk-ngetuk microphone.

Terdengar suara dengungan setelahnya.

.

.

.

"Tes! 1, 2, tes!"

Semua perhatian siswa-siwi Archangel High School yang berada di kantin tertuju pada loudspeaker kecil yang ada di pojok kantin, termasuk Kira dan kawan-kawan yang tengah menyantap makan siang.

"Sepertinya, aku kenal dengan suara ini," kata Miriallia.

Dearka mengernyit. "Seperti suara..."

"Selamat siang siswa-siswi Archangel High School!"

"SIAAANG!" sahut semua orang yang ada di kantin.

Athrun dan Nicol yang baru saja masuk ke kantin, kini ikut menengok pada loudspeaker.

"Maaf jika saya seenaknya memakai loudspeaker sekolah untuk keperluan pribadi. Saya—Cagalli Hibiki—ingin meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi akhir-akhir ini karena perbuatan saya lusa kemarin."

Deg! Tiba-tiba Athrun menyentuh dadanya yang berdetak kencang.

"...Cagalli. Ternyata benar," kata Dearka melanjutkan perkataannya yang terputus.

"Cagalli?" Kira menatap Lacus yang tengah menunduk di hadapannya.

"KYAAA! Suara Cagalli-kun COOL!" Suara jeritan kecil terdengar dari para Cagalli FC.

"Semua berita yang kalian dapatkan itu TIDAK BENAR! Saya dan Athrun Zala tidak JADIAN! Jadi, saya meminta pada kalian semua untuk berhenti membicarakan hal itu di belakang ataupun di depan saya. Saya ulangi sekali lagi, SAYA DAN ATHRUN ZALA TIDAK JADIAN! Memang saya menyatakan perasaan saya padanya, tapi bukan dalam artian yang kalian maksud! Tolong DIINGAT. Terima kasih!"

"Eh? Jadi Cagalli-kun tidak jadian dengan Athrun? Yes!"

"Tentu saja, mana mungkin mereka jadian."

"Cagalli-kun memang lebih pantas dengan Lacus. Iya, kan?"

Miriallia menatap sejenak para fans Cagalli yang sangat mendukung kedekatan idolanya dengan gadis berambut light pink yang duduk di samping kanannya. Ia tampak mengernyit melihat Lacus melamun dan hanya mengaduk-aduk jus strawberry-nya. "Kamu kenapa, Lacus?" tanya Miriallia khawatir.

Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan seraya tersenyum.

"Kamu kesal dengan berita itu?"

Lagi-lagi, Lacus tidak menjawab, melainkan tersenyum.

"Kamu nggak usah kesal lagi, Cagalli sudah meluruskan semuanya."

Lacus menghela napas begitu mendengar perkataan Miriallia. Memang akhir-akhir ini harinya terusik dengan berita itu tapi ia percaya kalau semua itu tidak benar. Ia tahu, Cagalli hanya mengatakan perasaan anehnya pada Athrun mengenai sosok lain gadis itu yang sering Cagalli lihat. Tapi Lacus tidak akan berbohong pada dirinya sendiri kalau ia merasa sedikit sesak saat dengar berita Athrun dan Cagalli jadian. Kedua mata blue-gray miliknya menatap seorang laki-laki yang punya hubungan darah dengan Cagalli dan tengah duduk di hadapannya. Namun yang ia lihat justru tengah menatap seorang gadis yang baru saja keluar kantin dengan terburu-buru disusul oleh Sekretaris di kelasnya—kelas 2-C—Nicol Amalfi.


L. A. Y. L. A.


Kelas 2-A tampak ramai dari biasanya setelah jam istirahat makan siang berakhir. Kelas itu bersyukur karena guru Sejarah yang terkenal killer itu—mungkin—tidak masuk ke kelasnya. Banyak yang menggunakan waktu tersebut untuk bercanda, mengobrol, dan tidur, seperti yang dilakukan salah satu Prince of Archangel High School—Cagalli—yang satu ini.

Tiga puluh menit berlalu, guru Sejarah itu belum menampakkan dirinya.

Athrun melamun sambil menyangga dagu dengan pandangan ke langit biru.

Kira terlihat sibuk sendiri dengan catatannya dan sesekali melirik ke belakang.

BRAK!

Pintu kelas terbuka dengan kasar dan memperlihatkan sosok si guru killer yang nampak terlihat seperti baru saja lari marathon sejauh 1000 km. Semua murid kelas 2-A menatap wanita paruh baya bernama Natarle Badgiruel yang menjadi guru Sejarah mereka selama kelas 2 ini. Ia merapikan sedikit pakaian khas seorang guru dan serba hitam itu yang kini dipakainya, sebelum memasuki kelas 2-A.

"Maaf saya telat, tadi ada sedikit keributan di ruang guru," jelasnya seraya menaruh beberapa buku yang ia bawa ke atas meja guru.

"..."

Hening seketika.

Kedua mata Natarle menatap satu persatu wajah muridnya.

Twitch! Empat sudut siku-siku tampak di kening si guru. "Cagalli-kun? Tak bisakah kau tidak tertidur di jam pelajaranku?" tanyanya dengan nada geram. Guru yang satu ini memang paling benci melihat muridnya tertidur saat ia mengajar. Walaupun anak muridnya itu selalu mendapat nilai bagus, tapi ia juga memberi nilai dengan melihat kepribadiannya.

"Nnnggh... Tapi ngantuk, Sensei," keluh Cagalli seraya mencoba membuka matanya.

"Nggak ada 'tapi-tapian'! Cepat buka bukunya dan perhatikan!"

Dengan malas, laki-laki itu menurut.

"Dan lepas jaketmu, Cagalli-kun!"

"Yare, yare."

.

.

.

Natarle menghela napas ketika materi yang diajarkannya selesai. Tanya jawab pun sudah, kini ia harus menyampaikan hal penting yang sebenarnya sangat ia tidak suka. Awalnya wanita itu menentang untuk memberitahukan hal ini pada anak-anak tapi pihak sekolah memaksanya, bahkan pertengkaran pun terjadi antar dirinya dengan sang Kepala Sekolah, Ledonir Kisaka. Oleh sebab itu, guru yang paling on time itu terlambat.

"Sebenarnya, saya tidak mau memberitahukan ini, tapi sekolah memaksa saya."

"Curhat, Sensei?" celetuk Cagalli secara spontan.

"Tolong jangan mulai lagi, Cagalli-kun," kata si guru dengan nada sabar.

Kira menepuk keningnya melihat hubungan Cagalli-Natarle yang sangat buruk itu.

"Kali ini, Sensei serius dan tolong simak baik-baik materi yang Sensei berikan."

"Baik, Sensei!"

Cagalli menatap bosan Natarle lalu memilih untuk menulis sesuatu di bukunya. Walaupun begitu, indera pendengarannya akan siap mendengarkannya seperti biasa. "Apa kalian tahu, kenapa sekolah kita dinamakan Archangel High School? Ah, sebelum itu, apa kalian tahu, kenapa simbol sekolah kita itu sebuah pesawat?" Pertanyaan dari sang guru membuat konsentrasi Cagalli terfokus pada simbol Archangel High School yang ada di dada bagian kiri sweater-nya.

"Nggak tahu, Sensei," sahut semuanya kompak.

"Sebenarnya, pesawat itu bukan pesawat biasa," kata Natarle.

"Maksudnya, Sensei?" celetuk Kira.

Nggak adik, nggak kakaknya, sama-sama pintar ngomong nyeletuk, pikir Natarle dalam hati. Ia berdeham sebentar. "Nama sekolah kita diambil dari nama pesawat tempur tersebut," Natarle memperlihatkan gambar pesawat Archangel di layar infocus kelas, "Pesawat ini juga merupakan salah satu dari tiga pesawat di Three Ships Alliance yang mendamaikan perang Bloody Valentine War."

Deg!

Srak!

Tiba-tiba Kira berdiri dari kursinya begitu mendengar penjelasan Natarle. Tampak Cagalli dan Athrun juga merasa kaget namun lebih memilih diam dengan jantung yang entah kenapa berdetak kencang.

"Kira-kun? Ada apa?"

"...tidak apa-apa." Laki-laki itu kembali duduk lalu menghembuskan napas pelan.

"Baik, saya lanjutkan." Natarle membuka sebuah buku yang sedari tadi dipegangnya.

"Perang Bloody Valentine mulai terjadi pada Cosmic Era 70, di saat perang antara pihak Bumi atau Earth Alliance atau disebut juga OMNI Enforce dengan PLANT atau ZAFT memuncak akibat serangan yang dilakukan pasukan Bumi terhadap salah satu PLANT, yaitu Junius Seven dengan menggunakan misil berhulu ledak nuklir—"

srak!

Kini bukan Kira yang berdiri dari kursinya, tapi Athrun dan Cagalli.

"Ada apa lagi?" tanya Natarle dengan nada heran.

"... sumimasen." Athrun kembali duduk, namun Cagalli terus terdiam dengan pandangan lurus ke depan.

"Cagalli-kun? Tolong duduk," perintah wanita yang sudah berkepala tiga itu.

"...maaf, tolong lanjutkan."

Nampaknya si guru masih heran dengan aksi dari ketiga muridnya itu. Ia menatap semua murid kelas 2-A yang terlihat antusias dengan materi yang diberikan. Namun tatapannya terhenti pada Kira yang terlihat gelisah di kursinya. "Baik, saya lanjutkan lagi. Lalu pada tanggal 14 Februari CE 70, perang yang sesungguhnya terjadi. Diawali dengan pencurian beberapa prototipe dari mobile suit yang dikembangkan oleh prajurit Bumi oleh pasukan ZAFT, yang secara diam-diam dilakukan di dalam sebuah koloni luar angkasa yang dimiliki negara kita—ORB Union—yaitu Heliopolis."

Sret! Seorang siswa mengacungkan tangannya. "Saya belum pernah dengar tentang Heliopolis, Sensei."

Senyum terukir di wajah Natarle. "Heliopolis adalah sebuah koloni yang dibuat ORB Union di luar angkasa, namun sayangnya, koloni itu harus musnah karena Bloody Valentine War. Di Heliopolis sendiri juga punya sebuah pabrik yang memproduksi banyak perangkat tempur dan sebagainya yang diberi nama Morganraete Inc.."

"Jadi, mobile suit itu benar-benar ada ya, Sensei?"

Natarle mengangguk.

"Pasti kalian sudah tahu istilah Gundam dan lainnya dari Anime. Sebenarnya semua prototipe tersebut menggunakan sistem 'General Unilateral Neuro-Link Dispersive Autonomic Maneuver Synthesis System' dan disingkat menjadi GUNDAM. Mobile suit tersebut memang masih dalam pengembangan namun telah dicuri oleh pasukan ZAFT."

"Lalu, soal Three Ships Alliance itu, bagaimana?"

"Soal itu—"

teng. Tong. Teng. Tong!

"Ya, sepertinya materi kali ini harus selesai sampai di sini."

Terdengar suara keluhan dari para murid.

Natarle hanya geleng-geleng kepala. "Kenapa soal perang kali ini, kalian sebegitu tertariknya ketimbang Perang Dunia Pertama dan Kedua?" herannya. "Ah iya! Sensei punya syarat untuk kalian jika kalian masih mau mendengarkan materi mengenai Bloody Valentine War besok," kata Natarle.

"Syarat?"

"Ya, kalian harus merahasiakan semua ini dari masyarakat sekitar."

To Be Continued

Ya! :DDD bagaimana? Bagaimana? Bagaimana? Kelihatan kah tema yang Mizu usung di fanfic ini? #nengok ke atas# Mizu nggak nyangka bakal sepanjang ini, bahkan ini yang paling panjang dari chapter-chapter sebelumnya. T^T

Sepertinya... ini sudah jadi ciri khas Mizu. Makin lama, bakal makin panjang chap-nya.

Ugh, oke! Mizu juga gak nyangka kalau menulis sejarah itu bisa sepanjang ini sampai harus dilanjutkan ke pertemuan selanjutnya. #pundung#

Sebenarnya Mizu rencanain kalau sejarah ini bakal berakhir di chap ini tapi, harus bersambung di chap depan. Sebenarnya juga ada satu scene yang harus masuk di chap 6 tapi... mau gimana lagi? T^T

Oke, oke. Adegan saat pem-bully-an Athrun itu bisa para pembaca bayangkan seperti di episode 31. Ingat kan? Ingat kan? XD ingat dong.

Cagalli : tumben banyak omong ni Author satu. -_-

Mizu : apaan sih? ini bagianku tau! Sana, hush! #ngusir paksa#

Mizu gak bisa ngomong banyak, hehe. But, thanks banget buat para pembaca apalagi pe-review! #hugs and kiss *eh?# Thank you so much for Hoshi Uzuki, nelsha, lezala, mrs. zala, aeni hibiki (soal kekesalan Yzak pada Athrun akan terungkap di 3 chapter ke depan. Ehehe, thank you so much! #hugs#), pandamwuchan, dan semua para silent readers dimanapun kalian berada! :*

Err, Mizu minta maaf kalau ada yang salah dengan sejarah Bloody Valentine War ini. T^T Mizu butuh bantuan juga tentang perang-perangnya. Ehehe... onegaishimasu!

Kritik, saran, ataupun flame bisa kalian kirim lewat kotak review!

Mizu akan terima semuanya! XD

THANKS~!

.

.

.

Update : 1 Maret 2013