Natarle sekali lagi membolak-balikkan selembar materi yang ingin diberikannya hari ini pada murid-muridnya kelas 2-A lalu mengernyit. Ia sudah membacanya berulang kali namun ia masih tidak mengerti dengan materi tersebut. Terlalu banyak misteri yang masih harus diungkapnya sejak Natarle masuk ke Archangel dan bersangkutan dengan sekolah yang menjadi tempat mengajarnya selama dua tahun ini.
Teng. Tong. Teng. Tong.
Sekali lagi wanita paruh baya itu menghela napas.
"Walaupun aku tidak mengerti dengan semua ini, tapi setidaknya aku tahu sedikit banyak tentang perang yang pernah menghancurkan Onogoro Island tujuh abad silam."
GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE
Setsuko Mizuka Present
.
L.A.Y.L.A
Look At You Like As ...
Rate : T semi M
Genre : Mystery, Romance, & School Life
Pairing : AsuCaga, KiRakusu, ETC.
Warning : First Canon, OOC, Typos, AU, GaJe, Gender Bender(?), Crack Pairing, dsb.
.
Kau, aku, kita dan mereka. Kita semua kembali bertemu dalam keadaan dan waktu yang berbeda. Aku selalu melihatmu dalam keadaan yang berbeda namun terlihat tak asing bagiku, begitu juga dirimu.
.
.
.
Phase 7
Bloody Valentine War I Season 2
Kelas 2-A kembali hening saat seorang guru masuk ke kelas mereka seperti biasanya. Guru Sejarah mereka tersenyum tipis melihat tingkah mereka. Senyumnya makin mengembang begitu melihat muridnya yang—ehem—terpintar—tapi juga paling malas—di kelas 2-A itu terjaga dan menatapnya dengan pandangan serius. Terlihat jelas bukan, muridnya itu sangat tertarik dengan kelanjutan dari materinya yang kemarin harus terpotong dengan jam pulang?
"Syukurlah, pagi ini, Cagalli-kun tidak tertidur," katanya seraya berdiri di depan kelas.
"Huh! Kalau materi kemarin tidak terpotong juga, aku takkan terbangun, Sensei."
"Hmm, begitu? Tapi Sensei ingin melanjutkan materi tentang dampak dari Perang Dunia satu dan dua terlebih—"
"Ah! Sensei nggak asyik nih! Masih penasaran soal kemarin, Sensei!"
Semuanya mengangguk setuju dengan celetukan dari salah satu siswi 2-A.
Natarle tampak menahan emosinya. "Kalian ini..."
Kira memberanikan diri untuk berbicara. "Sensei, tolong lanjutkan materi yang kemarin dulu. Kami semua penasaran, Sensei. Belum lagi kemarin Sensei menyuruh kami untuk tutup mulut pada masyarakat termasuk orang tua kami di rumah. Memang kenapa harus dirahasiakan?"
"Terus soal Three Ships Alliance juga, Sensei!"
"Lalu bagaimana cara menghentikan perang itu, Sensei?"
"Sensei..."
Sang guru tampak menyerah dengan pendiriannya di awal begitu melihat berpasang-pasang mata—kecuali Cagalli dan Athrun yang tampak menatapnya datar—tengah memohon padanya dengan pandangan bak anak anjing yang belum diberi makan selama sebulan. "Baiklah, Sensei menyerah. Kalian ini memang terlalu penasaran, ya?" Natarle geleng-geleng kepala lalu menyuruh salah satu siswanya menyalakan layar infocus. "Nah, mulai dari mana sekarang pemberian materinya?" tanyanya sambil melihat lembaran-lembaran materi di kedua tangannya.
"Alasan persyaratan yang diberikan Sensei kemarin!" celetuk Cagalli.
Semuanya mengangguk.
"Oke. Sebelum itu, Sensei ingin bertanya, bagaimana cara kalian bisa masuk ke sekolah ini? Ya! Kau yang di pojok sana, Rey Za Burrel! Bagaimana caramu bisa masuk ke Archangel High School?" tanya Natarle pada sosok laki-laki yang sedari tadi sibuk sendiri dengan buku catatannya.
"Dengan ujian tes masuk yang cukup susah, Sensei," jawab Rey.
"Lalu, bagaimana dengan tes wawancaranya?"
"Hanya ditanyakan 'kenapa memilih masuk ke sekolah ini', 'apa yang diketahui tentang Archangel High School', dan 'apa yang ingin dilakukan oleh kita setelah lulus sekolah'." Terlihat dari rautnya sedikit gelisah karena ditatap secara intens oleh sang guru Sejarah yang terkenal killer itu.
"Tepat!"
Athrun mengernyit. "Lalu apa hubungannya?"
"Huh? Terlalu berbelit-belit," keluh Cagalli seraya menyangga dagu.
"Sebenarnya, sekolah ini spesial dan khusus dibangun oleh para veteran."
"..."
Natarle mengangguk sedikit setelah melihat reaksi para siswa-siswi yang terlihat tidak percaya. "Siapa pun yang bisa masuk dan berurusan dengan sekolah ini, mereka semua akan diberitahukan mengenai sejarah yang sudah terlupakan oleh masyarakat seiring berjalannya waktu. Percaya atau tidak, sejarah ini memang ada dan nyata. Sebuah sejarah yang sebenarnya terlarang untuk dibocorkan dan bisa menjadi awal dari sebuah peperangan besar lainnya antara Coordinator dan Natural."
Tiba-tiba suasana menjadi tegang dan mencekam.
"Coordinator dan..."Tanpa disadari, Kira dan Athrun menggumamkan kata yang sama.
Natural? Di sisi lain, Cagalli juga merasa familiar dengan kata-kata itu.
"Tapi tenang saja, semua itu takkan pernah terjadi lagi." Natarle tersenyum.
"Bagaimana kalau itu semua terjadi... lagi?"
Semua pasang mata tertuju pada sosok Rey yang tengah melipatkan kedua tangannya di depan dada. Terlihat jelas laki-laki berpakaian rapi khas musim semi itu menatap sang guru dengan tatapan menantang. Semuanya tidak ada yang menyadari pandangan tersebut kecuali Kira, Athrun, dan Natarle.
"Selama Bloody Valentine War tidak diungkit—"
"—lalu kenapa sekolah memaksa Sensei untuk memberitahukannya?"
"Karena Archangel High School adalah sekolah khusus."
"Tapi, bukankah materi ini malah membuat keadaan—mungkin—akan terulang lagi?"
"Menurut Kepala Sekolah, tidak masalah kalau hanya tahu sejarahnya."
Suasana entah kenapa menjadi lebih menegangkan dari sebelumnya. Cagalli menatap Rey Za Burrel dengan pandangan serius lalu berdiri dari kursinya. Hal itu tentu saja membuat semua menoleh pada laki-laki yang memakai jaket baseball tanpa sweater dan dasi dengan celana kotak-kotak berwarna biru tua tersebut.
"Cagalli-kun? Kau mau apa?" tanya Natarle.
Yang ditanya mendengus. "Aku benci mendengar perkataannya, seoalah-olah perang itu memang akan kembali terjadi. Memangnya dia siapa? Tuhan? Atau Utusan-Nya?"
Nampaknya suasana malah makin memanas.
Athrun meneguk ludahnya dengan susah payah. Apa lebih baik aku pergi saja?
Srek!
Si sulung Hibiki yang duduk di depan Cagalli ikut berdiri. "Hentikan."
Natarle menghela napas. "Oke, kita kembali teruskan materinya dan tolong kembali duduk, Hibiki-kun." Sang guru kembali melanjutkan begitu melihat si kembar sudah duduk kembali. "Banyak peperangan terjadi saat Bloody Valentine War di antaranya saat berada di luar angkasa setelah hancurnya koloni Heliopolis; di Alaska yang mengakibatkan sebuah kota hancur; lalu terjadi juga di Onogoro Island yang sempat hancur akibat ledakan yang dilakukan oleh Representatif saat itu—Uzumi Nala Athha—"
—srak!
Suara kursi bergeser kembali menyita perhatian Natarle.
"Sekarang apa lagi, Athrun?"
Gadis yang tiba-tiba berdiri itu bertanya, "T-tadi... kata Sensei, Uzumi Nala... A-Athha?"
"Ya, ada masalah dengan hal itu?"
Athrun menggelengkan kepalanya pelan kemudian duduk kembali. Sungguh, wajahnya jadi pucat. Di benaknya sebuah nama kembali terngiang. Sebuah nama yang sama dengan nama yang ia dengar saat laki-laki di sebelah kanannya menyebutkan namanya kemarin. Cagalli Yula Athha. Semua ini membingungkanku! erangnya dalam hati.
"Kita lanjutkan lagi," kata Natarle seraya membalikkan lembaran materi yang ia pegang sedari tadi. "Di sini dijelaskan, Onogoro Island pernah diledakkan oleh Representatif untuk mengantisipasi penyerangan besar-besaran pihak Bumi pada pihak PLANT dengan menggunakan mass driver yang merupakan alat untuk menerbangkan pesawat-pesawat tempur ke luar angkasa. Sebagai alternatifnya, pihak Bumi menggunakan mass driver yang ada di Victoria setelah pangkalan militernya mereka serang."
"Sensei, ada gambar mass driver-nya?"
Natarle mencari gambar yang dimaksud lalu menampilkannya di layar infocus.
"Ini gambar mass driver setelah diresmikan," katanya menjelaskan. "Selain di Onogoro Island, peperangan yang menjadi akhir dari Bloody Valentine War terjadi di luar angkasa, yaitu di Jachin Due. Banyak para veteran yang tewas akibat perang tersebut, bahkan sebuah bulan yang menjadi markas OMNI hancur akibat tembakan GENESIS. GENESIS sendiri merupakan senjata yang dibuat ZAFT untuk menghancurkan Bumi."
Deg!
Jantung Kira terhenti untuk sesaat mendengar penjelasan Natarle.
Sepasang iris mata amber si adik tampak menatapnya heran begitu melihat tubuh laki-laki di depannya bergetar hebat. Tangan kanannya menunjuk-nunjuk punggung Kira. "Kira, kau tidak apa-apa?" bisik Cagalli dengan nada khawatir. Melihat Kira menggelengkan kepala membuat laki-laki blonde itu menyipit. Ia pun memilih kembali mendengarkan materi—atau dongeng?—dari sang guru.
"Lalu, bagaimana mereka bisa damai, Sensei?"
Si guru tersenyum kemudian mengambil selembar materi lagi dari atas meja.
"Kedamaian memang susah didapat, namun berkat Three Ships Alliance yang terdiri dari kapal perang Archangel, Kusanagi, dan Eternal yang kebanyakan dari mereka adalah para veteran yang membelot ke ORB Union, perang pun berakhir," jelas Natarle sambil menampilkan beberapa gambar kapal tempur yang ia sebutkan secara urut. "Tapi... semua kedamaian yang terjadi hanya berlangsung selama dua tahun, karena Bloody Valentine War kedua terjadi setelah tiga GUNDAM milik ZAFT dicuri oleh tiga extended pihak Phantom Pain atau disebut juga LOGOS."
Cagalli termenung mendengar kata LOGOS untuk beberapa detik.
Athrun juga sedari tadi terlihat gelisah lalu melamun kemudian gelisah lagi di kursinya.
Tanpa mereka sadari, Rey Za Burrel terus memperhatikan tingkah ketiga teman sekelasnya—Kira, Cagalli dan Athrun—itu dalam diam.
"Sensei mau mengumumkan sesuatu mengenai kegiatan Outing di semester depan tepatnya bulan Oktober yaitu untuk kelas 2, kalian akan pergi ke Onogoro Island untuk Study Tour," kata si guru sambil membereskan lembaran-lembaran yang berisikan tentang Bloody Valentine War. Terdengar keluhan dari para murid, Natarle tak menggubrisnya dan hanya melihat jam tangannya. "Sudah dua puluh menit Sensei memberikan materi yang sebenarnya tidak penting ini. Sekarang, kita lanjutkan ke materi tentang dampak-dampak dari Perang Dunia satu dan dua."
"Yaaah~"
"Cepat buka buku catatan kalian! Sensei mau lihat!"
"EEEH!?"
L. A. Y. L. A.
Seorang gadis berambut navy blue dan berseragam khas musim semi—kemeja putih berlengan pendek ditutupi sweater biru tua tanpa lengan dan memakai rok kotak-kotak selutut berwarna serupa dengan sweater-nya—itu terlihat melamun. Buku sketsa berukuran A3 yang tergeletak begitu saja di atas meja tampak putih bersih karena si pemilik enggan untuk menggambar. Ruang kelas 2-D yang semula ditempati klub melukis kini hanya gadis itu yang menempati.
"Bloody... Valentine... War? Kenapa...?"
Sreeek!
Suara pintu terbuka tidak sekalipun menyita perhatian si gadis bermata emerald itu.
"Athrun? Kok masih di sini?"
Gadis yang bernama lengkap Athrun Zala itu pun akhirnya menengok dengan pandangan sendu. "Gomen, aku akan pulang sekarang, Kira-san," katanya lirih seraya membereskan peralatan menggambarnya.
Kira menatapnya heran lalu tersenyum. "Panggil aku Kira saja, Athrun."
Sekali lagi Athrun menengok kemudian mengangguk.
"Sejak tadi, kuperhatikan kau melamun terus. Kenapa?"
"..."
Dengan sabar laki-laki berambut brownis—brown dan berwajah manis(?)—itu menunggu jawaban dari gadis di hadapannya setelah mengambil tempat pensilnya yang tertinggal di loker meja.
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
"..."
Si gadis berjalan begitu saja melewati Kira yang termenung dengan perkataan dan raut wajahnya. Laki-laki itu meringis setelah sadar bahwa dirinya terlalu ingin ikut campur urusan orang lain. Ia pun menyusul Athrun untuk mengajaknya pulang bersama. Namun niatnya harus terhenti begitu melihat gadis yang pernah bermain dengannya sewaktu masih kecil itu tengah memandangi seorang laki-laki blonde yang baru saja menuruni tangga dari lantai tiga.
.
.
.
Athrun berlari kecil mengejar laki-laki berambut blonde yang dilihatnya barusan.
Sesampainya di tempat loker sepatu, laki-laki itu berhenti untuk mengganti sepatu.
"C-Cagalli-san!" Athrun pun kini berdiri di belakang Cagalli yang tengah sibuk menalikan sepatunya sambil berjongkok. Gadis itu sedikit terengah-engah karena mengejar Cagalli dari lantai dua menuju loker sepatu. Begitu napasnya kembali normal, ia sedikit memperpendek jarak. "Anoo, Cagalli-san, aku—"
—set!
Gadis berambut navy blue itu terpaksa mundur begitu Cagalli berdiri secara tiba-tiba.
Terlihat Cagalli menatapnya sekilas lalu menaiki skate board-nya.
"C-Cagalli-san, tunggu!" Athrun menahan lengan laki-laki tersebut.
"Lepas! Sudah kubilang 'kan, jangan dekati aku! Kau lupa!?" bentak Cagalli. Syok. Ia tahu, bentakannya membuat gadis di hadapannya ini syok. Tapi mau bagaimana lagi? Laki-laki pemilik iris mata amber itu tidak mau kesalahpahaman seperti kemarin-kemarin terulang lagi. Ia juga tidak mau, gadis yang diciumnya dua hari yang lalu jadi salah paham. Oh God! Apa yang harus kulakukan sekarang!?
Keadaan di sekitar kedua sejoli itu jadi hening untuk beberapa menit.
"Cagalli!"
Suara seseorang dari kejauhan membuat yang dipanggil menengok lalu menepis tangan Athrun yang masih menahan lengannya. "Gomen."
Athrun sedikit melebarkan kedua matanya begitu mendengar bisikan dari laki-laki yang ingin ia ajak bicara mengenai materi yang diberikan Natarle tadi pagi. Gadis itu tidak salah dengar dan melihat, kan? Seorang Cagalli yang selalu menatapnya dengan pandangan penuh mengintimidasi dan raut wajah serius itu, barusan menunjukkan raut wajah menyesal dan berkata 'maaf' yang belum pernah ia lihat sebelumnya?
Cagalli pun pergi menyusul Lacus yang sudah berdiri 100 meter di depan gedung sekolah.
Terdiam. Athrun terdiam melihat kedua sejoli itu saling melempar senyum.
Tunggu! Senyum?
Gadis itu kaget karena bisa melihat sosok Cagalli tersenyum.
Tapi... itu 'kan saat bersama Lacus... Tanpa sadar, punggungnya agak menurun disertai wajah yang menunduk untuk beberapa saat. Tunggu! Kenapa aku berubah murung begini!? Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Sudahlah! Lupakan! Toh, laki-laki itu tidak mau memikirkan kejadian-kejadian aneh itu lagi!" putusnya seraya bergegas keluar gedung sekolah, meninggalkan seseorang yang sedari tadi berdiri tak jauh dari tempatnya semula.
"Kejadian aneh?"
To Be Continued
Ini dia potongan chap 6 yang kemarin Mizu publish... :) Entah kenapa kalau Mizu gak publish lanjutannya, seminggu ke depan pasti gak akan tenang kalau sekolah. Ahaha, duuuh, besok ulangan produktif pula... #pundung#
Ya! Terakhir, Mizu mengucapkan terima kasih pada para reviewers (Ffionn, Sachika91, Cyaaz, pandamwuchan, aeni hibiki, nelsha, popcaga, mrs. zala, Hoshi Uzuki, lezala) dan para readers yang sudah capek-capek menyempatkan waktu untuk membaca fic Mizu ini... :D Gomenasai, nggak bisa balas review-nya karena ini pun update-nya lewat ponsel. Janji akan balas di chap depan! :) #bow#
SANKYUUU! :* #hugs#
Sampai ketemu di chap depan! XD
.
.
.
Update : 3 Maret 2013
