"Maaf jika saya seenaknya memakai loudspeaker sekolah untuk keperluan pribadi. Saya—Cagalli Yula Athha—ingin meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi akhir-akhir ini karena perbuatan saya lusa kemarin."

Deg!

Tanpa kusadari, tangan kananku menyentuh dadaku yang berdegup kencang.

"Athrun? Kau kenapa?"

Bisa kulihat Nicol menatapku dengan wajah khawatir. Aku hanya bisa menunduk.

"Athrun?"

"Semua berita yang kalian dapatkan itu TIDAK BENAR! Saya dan Athrun Zala tidak JADIAN! Jadi, saya meminta pada kalian semua untuk berhenti membicarakan hal itu di belakang ataupun di depan saya. Saya ulangi sekali lagi, SAYA DAN ATHRUN ZALA TIDAK JADIAN! Memang saya menyatakan perasaan saya padanya, tapi bukan dalam artian yang kalian maksud! Tolong DIINGAT. Terima kasih!"

Kedua bola mataku terarah pada load speaker begitu mendengar pernyataan Cagalli.

Setidaknya aku harus berterimakasih padanya untuk hal ini.

Cagalli Yula Athha.

Entah kenapa aku terus terpaku dengan nama itu sejak tadi. Aku merasa nama Cagalli Yula Athha adalah nama yang penting untukku, aku juga bisa merasakan pemilik nama itu adalah seseorang yang sangat berarti bagiku. Tapi kenapa? Kenapa Cagalli Yula Athha? Apa itu nama samaran Cagalli Hibiki-san? Ah! Tapi apa mungkin dia punya nama samaran?

"Athrun, kau dengar, kan? Cagalli sudah mengklarifikasikan tentang hubungan kalian!"

"..."

Aku tak terlalu mendengar perkataan Nicol sampai sahabatku tersebut menyenggol lenganku. "Kau benar, tidak apa-apa?" tanyanya lagi.

"...apa Cagalli-san punya nama samaran?"

Laki-laki berambut hijau muda itu menatapku heran. "Nama samaran?"

"Tadi... dia menyebut namanya yang lain, kan? Cagalli Yula Athha?"

Kulihat Nicol kaget lalu terdiam sebentar seperti tengah mengingat sesuatu, mungkin?

"Aku tidak salah dengar, kan?" gumamku entah pada siapa. Aku pun memilih untuk berlari untuk keluar dari kantin karena aku bisa merasakan semua tatapan fans Cagalli tengah memandangiku. Dalam perjalanan menuju halaman belakang sekolah, Nicol hanya diam dan aku pun juga tak mau memulai ppembicaraan karena pikiranku tertuju pada nama itu.


GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE

Setsuko Mizuka Present

.

L.A.Y.L.A.

Look At You Like As ...

Rate : T semi M

Genre : Mystery, Romance, & School Life

Pairing : AsuCaga, KiRakusu, ETC.

Warning : First Canon, OOC, Typos, AU, GaJe, Gender Bender(?), Crack Pairing, dsb.

.

Kau, aku, kita dan mereka. Kita semua kembali bertemu dalam keadaan dan waktu yang berbeda. Aku selalu melihatmu dalam keadaan yang berbeda namun terlihat tak asing bagiku, begitu juga dirimu.

.

.

.

Phase 8

Cagalli Yula Athha


Nicol tampak menatap serius pada layar ponsel touch screen miliknya sambil sesekali mengeratkan puluhan buku tulis yang ada dalam dekapan tangan kirinya. Begitu buku-buku tersebut ditaruh di atas meja wali kelasnya, ia pun keluar dari ruang guru yang berada di lantai dasar. Langkahnya terhenti ketika sebuah situs yang ia buka kini menampilkan sebuah kalimat yang sama seperti saat situs lainnya dibuka.

Situs yang Anda kunjungi telah disegel pemerintah.

"Ck, semua situs yang berhubungan dengan Cagalli Yula Athha selalu disegel."

Langkah kakinya berbelok dan menuju perpustakaan sekolah.

"Nicol!"

Yang dipanggil menengok seraya memasukkan ponselnya ke saku celana. "Lacus?"

Gadis bernama lengkap Lacus Clyne itu terengah-engah dengan kedua tangannya ia letakkan di lututnya. "Anoo—hosh—Nicol—hosh—aku ingin—hosh—mengumpulkan tugas," kata Lacus sambil menyerahkan buku miliknya dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya ia buat untuk mengelap keringat di pelipisnya setelah berdiri tegak.

"Gomenasai, Lacus. Aku baru saja menaruhnya di atas meja Sensei," sesal Nicol.

"E...eh?"

Si Sekretaris kelas 2-C itu meringis. "Kau taruh saja di atas meja Sensei, Lacus."

Helaan napas terdengar. "Baiklah, arigatou." Walaupun berakhir kecewa karena ia sendiri yang harus menaruhnya di meja sang Wali kelas, senyum manis tampak di wajah cantiknya. Gadis itu pun pergi ke ruang guru dan meninggalkan Nicol yang samar-samar berwajah merona.

.

.

.

Lacus berlari kecil saat menaiki tangga menuju lantai dua setelah mengumpulkan tugas. Ternyata, naik tangga sambil berlari cukup menguras tenaga, pikirnya sambil berhenti di pertengahan tangga dengan napas kacau. Gadis itu memang tidak kuat berlari tapi saat ini ia harus terburu-buru untuk menyelesaikan tugas lainnya yang belum diselesaikannya.

Drap. Drap. Drap.

Tap. Tap. Tap.

Drap. Drap. Drap.

Kedua mata blue-gray Lacus agak melebar begitu tahu ada seseorang yang tengah berjalan di ujung tangga. Lacus yang kaget reflek memundurkan tubuhnya saat sampai di lantai dua dan tepat di hadapannya orang itu juga terkesiap. Kaki kanan gadis berambut light pink tersebut kehilangan keseimbangan yang membuatnya oleng ke belakang. Deg! Kedua matanya terpejam dengan erat untuk menunggu rasa sakit yang akan datang sebentar lagi. Namun tangan lainnya menggenggam pergelangan tangan kiri Lacus sehingga ia tak terjatuh dari tangga. Beberapa detik kemudian tangan itu menarik tubuh Lacus hingga berdiri dengan benar.

"Lacus? Kau tidak apa-apa?"

Yang ditanya membuka matanya perlahan dan melihat sosok Kira di sana.

Deg!

Keduanya terpaku beberapa saat tanpa pergerakan sama sekali.

"Ki...ra," Lacus menggumamkan nama kembaran Cagalli itu dengan wajah yang sulit diartikan. Tatapan matanya kosong begitu melihat sosok Kira yang menatapnya dengan wajah polos dan memandang gadis itu seolah tak mengenalnya. Wajah Kira yang memang tampan makin terlihat tampan dan manis dengan pakaian ala militer Bumi yang pernah ia lihat di internet. Pakaian berwarna biru tua keabu-abuan itu tampak familiar bagi Lacus jika Kira yang memakainya. Belum lagi, kejadian saat ini seperti sebuah kejadian yang memang pernah terjadi di antara mereka berdua.

Tak jauh berbeda dengan yang Lacus bayangkan, Kira juga melihat kejadian ini pernah terjadi sebelumnya. Dari wajahnya terlihat ia samar-samar merona begitu melihat sosok lain dari gadis Clyne tersebut dengan gaun tanpa lengan berwarna putih untuk bagian atas dengan warna ungu-putih untuk bagian bawah dan panjangnya mencapai mata kaki. Lacus... sejak kapan memakai gaun? tanyanya dalam hati.

Arah pandang Lacus tertuju pada pergelangan tangan kirinya. "Arigatou, Kira."

"A-ah, sama-sama. Maaf," kata Kira seraya melepas tangannya, salah tingkah.

Lacus tersenyum geli melihat tingkah kakak Cagalli itu. "A-aku duluan, jaa!" Kira pun pergi dengan terburu-buru menuruni tangga. Gadis yang memakai seragam khas musim semi itu terus memandanginya hingga sosok Kira benar-benar menghilang dari penglihatannya. Selalu... dengan Kira... perasaan itu muncul, gumam Lacus dalam hati.


L. A. Y. L. A.


Suasana kelas 2-D tampak sepi setelah kegiatan klub melukis selesai. Kini yang tersisa hanya Athrun dan Kira yang bertugas untuk piket di hari itu. Keduanya sibuk memberes-bereskan letak meja dan kursi yang tak beraturan menjadi rapi kembali dalam diam. Tak ada salah satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan karena terlihat satu sama lain enggan untuk memulai. Baik pikiran Athrun maupun pikiran Kira pun sama-sama tertuju pada hal lain.

"Athrun," panggil laki-laki yang kini sudah memakai jaket tipis berwarna putih itu.

Athrun berhenti menggeser meja seraya menatap Kira. "Ya?"

"Boleh kutanya sesuatu?"

"Asal aku bisa menjawab, akan kujawab."

Wajah Kira terlihat serius setelahnya. "Kau... benar, tidak pacaran dengan Cagalli?"

Kedua mata gadis berambut navy blue itu berkedip sekali. "Apa?"

"Kau tidak pacaran dengan Cagalli, kan?" tanyanya ulang.

Terdengar suara meja yang digeser oleh Athrun sambil menjawab pertanyaan Kira. "Bukannya kemarin sudah diklarifikasi oleh Cagalli-san kalau aku dengannya tidak ada hubungan apa-apa?"

"Aku ingin mendengar langsung darimu."

"Oh."

"Jadi?"

"Tentu saja aku dengan Cagalli-san tidak ada hubungan apa-apa. Dekat juga tidak."

Kira mengernyit. "Lalu apa yang Cagalli nyatakan padamu waktu itu?"

"..."

"Saat kutanya padanya, dia tidak menjawabnya. Karena penasaran, aku bertanya padamu," kata Kira sambil tersenyum tipis. "Ah, tapi jika kau tidak mau juga tidak apa kok," lanjutnya dengan salah tingkah.

"..."

Sreeek!

Suara pintu terbuka mengintrupsi mereka berdua.

"Anoo..." Seorang gadis yang mereka kenal menyembulkan kepalanya dari daun pintu.

"Lacus? Ada apa kau kemari?" tanya Kira seraya menghampiri gadis itu.

Lacus berdiri tegak di hadapan Kira. "Aku mencari Cagalli sedari tadi."

"Eh? Cagalli? Memang Cagalli nggak ada jadwal klub hari ini?" Melihat gadis yang sudah memakai syal pemberian sang adik di hari jadinya setahun yang lalu itu menggelengkan kepala membuat Kira ikut geleng-geleng kepala. Bukan karena tidak tahu, tapi karena ia tahu sifat si adik yang selalu datang ke klub basket kalau ada mood untuk bermain saja.

"Apa Kira belum selesai beres-beres?" tanya Lacus.

"Sedikit lagi sele—"

"—biar aku saja yang menghapus papan tulis," sela Athrun menawarkan diri.

Anggukan dari Athrun membuat Kira terdiam sebentar. "Baiklah," kata Kira pada akhirnya. Ia pun mengambil barang-barang miliknya yang masih berada di atas meja lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah beres semua, Kira berjalan lagi menghampiri Lacus yang tengah menunggunya di luar ruangan. Sesaat ia menengok, "terima kasih untuk hari ini. Maaf, aku pulang duluan," pamitnya dengan nada menyesal.

Gadis bermata emerald itu menunduk sedikit. "Hai, arigatou gozaimashita."

Tap, tap, tap.

Mereka berdua pun pergi meninggalkan Athrun setelahnya. Senyum tipis yang lebih terlihat seperti senyum misterius muncul di wajahnya sementara tangannya sibuk menghapus papan tulis yang kotor dengan sketsa kasar sebuah guci dari Erica Simmons.

.

.

.

5.14 P.M. waktu setempat. Athrun Zala berjalan terus mengikuti jalan setapak sambil sesekali mendongak ke atas. Langit sore memang menarik perhatiannya terlebih jika dilihat dari tempat favoritnya sejak kecil. Tempat itu selalu menjadi tempat ia mengeluarkan semua perasaannya ke dalam kertas lalu mengapungkannya di atas danau, dan tempat itu juga adalah tempat pertama kalinya ia bertemu dengan Kira.

Tap.

Syuuuh...

Angin menyapa tubuh gadis yang hanya memakai seragam khas musim semi berupa rok kotak-kotak berwarna biru tua selutut dengan kemeja putih lengan pendek dibalut sweater tanpa lengan berwarna sama dengan roknya. Di bagian kerah juga masih terpasang dengan rapi sebuah dasi bergaris-garis biru tua-putih. Kedua iris matanya memandang keadaan sekitar. Hanya ada beberapa orang berlalu lalang di taman yang ia selalu datangi sejak kecil itu.

Ia menghampiri sebuah pohon besar di pinggiran danau.

Sebuah tas yang serupa dengan miliknya menarik perhatian Athrun.

Gadis itu berjongkok di hadapan tas tersebut dan memandangnya heran.

"Tas siapa ini?" tanya Athrun entah pada siapa.

Srek, srek.

Athrun mendongak ke atas pohon begitu mendengar suara aneh. Dua kaki yang tertutupi celana kotak-kotak berwarna biru tua dan sepatu sport putih terlihat menggantung di sana. Rasa penasaran membuat Athrun berdiri untuk meihat siapa orang yang sudah tidur di atas pohon itu. Kedua matanya agak melebar begitu tahu bahwa Cagalli-lah orang yang tengah tertidur tersebut.

"Cagalli-san?"

"..."

Tubuh laki-laki itu tak bergerak sama sekali membuat Athrun menarik sedikit ujung celananya. "Cagalli-san, jangan tidur di atas pohon. Nanti kalau jatuh, bagaimana?" suruhnya.

"..."

"Cagalli-san?"

"..."

"CAGALLI-SAN!"

"...!" Suara orang terjatuh terdengar setelahnya.


L. A. Y. L. A.


Seorang laki-laki terlihat tengah tertidur dengan pulasnya di atas pohon yang rindang. Kedua kakinya ia biarkan menggantung dan bergerak ke kanan dan ke kiri saat angin berhembus. Dalam mimpinya laki-laki blonde itu melihat seorang laki-laki lain yang langsung mengingatkan dirinya dengan teman sekelasnya yaitu Athrun Zala. Laki-laki berpakaian serba putih tersebut tengah duduk di sebuah taman sambil menyesap secangkir teh hangat lalu menaruhnya kembali ke atas meja yang berada di tengah-tengah dua buah kursi dimana sebelah kirinya belum ada yang menempati.

Mimpi apa lagi ini? tanyanya dalam hati.

Ia melangkah mendekati laki-laki berambut navy blue itu.

Tap. Tap. Tap.

"Cagalli, apa itu kau?"

Deg!

Yang ditanya langsung berhenti melangkah tepat dua ratus meter di belakang laki-laki yang baru saja mengajaknya berbicara. Cagalli terdiam dengan wajah yang sulit diartikan, antara bingung dan gelisah begitu mendengar suaranya. Suara yang entah kenapa ia rindukan. Lama ia terdiam membuat laki-laki di hadapannya berdiri lalu membalikkan badan. Jantung Cagalli berdetak lebih cepat saat melihatnya tengah tersenyum hangat padanya. Belum lagi wajah laki-laki itu memang mirip dengan teman sekelasnya atau bisa dibilang ia adalah versi laki-laki dari gadis bernama lengkap Athrun Zala.

"Cagalli, kemana saja? Saat aku terbangun, kau sudah tak ada di sampingku."

Cagalli berjalan mundur ketika laki-laki itu mendekat.

Tap. Tap. Tap.

Kedua mata Cagalli melebar karena tubuhnya malah ikut mendekat.

Grep!

Deg, deg, deg.

Detak jantungnya sangat tidak beraturan ketika kedua tangan laki-laki itu melingkar di kedua sisinya. Tangan kanan Cagalli berusaha untuk mendorong tubuh orang asing—namun familiar—tersebut tapi justru kedua tangannya membalas pelukannya dengan melingkar di leher laki-laki itu. Apa-apaan ini!?

"Cagalli... jangan tinggalkan aku."

"..."

"Cagalli... jangan pergi dariku, apapun yang terjadi."

"..."

"Cagalli..."

"..."

"Cagalli-san?"

"CAGALLI-SAN!"

"...!"

BRUK!

.

.

.

Sebuah benjolan kecil muncul di atas kepala Cagalli begitu terbangun dari alam bawah sadarnya yang aneh barusan. Bisa ia rasakan sakit yang menjalar dari kepala sampai ke seluruh tubuh karena terjatuh dari pohon yang sempat menjadi tempat tidurnya tadi. Empat sudut siku-siku juga tampak di keningnya begitu tahu siapa orang di balik ini semua. "Kau...," geramnya dengan wajah horror seraya mendongak sedikit.

"Cagalli-san, kau tidak apa-apa!?"

"..."

"Cagalli-san?"

"..."

"Caga—"

set! Dengan secepat kilat Cagalli mengambil posisi duduk sambil mengusap kepalanya karena saat terjatuh yang menyentuh rumput adalah kepalanya yang bermahkotakan rambut blond. "K-kau! A-apa yang kau l-lakukan, HAH!?" bentak Cagalli tanpa menatap Athrun yang sedari tadi berjongkok di sampingnya. Andai gadis itu sadar kalau wajah Cagalli sudah memerah sejak tadi, dan andaikan ia tahu bahwa laki-laki itu secara tidak sengaja melihat apa yang ada di balik rok kotak-kotak berwarna biru tua selututnya.

"A-a, sumimasen. Aku hanya ingin memberitahumu untuk jangan tidur di atas pohon."

"Huh! Cuma karena itu, kau membangunkanku!?"

Athrun bersimpuh di samping Cagalli yang masih membuang muka. "Gomen."

"Ck! Gara-gara kau, aku sampai terjatuh dari atas pohon."

"Makanya aku ingin beritahu kalau tidur di atas pohon bisa ja—"

"—ya! Dan aku pun terjatuh gara-gara kau!" kesal Cagalli sambil menatap Athrun. Keduanya saling tatap untuk beberapa saat dan laki-laki yang hanya memakai kemeja putih tanpa dasi dan sweater itu memilih untuk membuang muka lagi ke samping. "Apa kau sudah lupa untuk tidak dekat-dekat denganku?" tanyanya dengan nada kesal di dalamnya setelah beberapa detik terdiam.

"..."

Tak ada jawaban dari Athrun membuat Cagalli melirik sebentar. "Huh, ada apa?"

"...tidak apa-apa."

Sekali lagi laki-laki itu melirik lalu menatap lurus ke depan. "Katakan saja."

"Tadi, Lacus-san mencarimu untuk—mungkin—mengajak pulang bersama. Tapi karena kau nggak ada, jadi Lacus-san pulang dengan Kira," kata Athrun seraya menatap Cagalli yang masih menatap ke arah danau. Sebenarnya gadis itu penasaran dengan ekspresi Cagalli saat ini begitu tahu—mungkin—pacarnya pulang bersama dengan kembarannya.

"Oh."

"...apa tidak apa-apa?"

Cagalli menyender pada batang pohon di belakang tubuhnya. "Tak apa."

"Lacus-san pacarmu, kan?" tanya Athrun dengan nada hati-hati.

"..."

Athrun menatap laki-laki blonde itu dengan wajah penuh minat plus heran.

"Jangan sok tahu, dan lagi, mereka memang sering pulang bersama saat aku memilih bolos ekskul. Seperti yang kulakukan hari ini," sahut Cagalli sambil memejamkan mata. Nampaknya ia masih mengantuk dan ingin tidur lagi untuk beberapa menit.

Hening melanda mereka berdua setelahnya.

"Cagalli-san, aku ingin bertanya sesuatu."

"...hm."

"Apa kau punya nama samaran?"

Kedua mata Cagalli terbuka. "Tidak. Aku tidak pernah berminat untuk mencarinya."

"..." Athrun memilih untuk tidak bertanya lagi lalu menunduk. Apa memang aku salah dengar, ya? Tapi, aku merasa pernah mendengar nama itu dan memang terdengar asli saat itu, pikirnya. Mungkin jika kutanyakan, Cagalli pernah mendengar nama itu.

"Cagalli-san, aku ingin ber—"

set. "Maaf, aku harus pulang sekarang."

Alis kanan Athrun terangkat sedikit sambil memperhatikan Cagalli yang tengah membersihkan pakaiannya seraya mengambil tas yang berada tepat di samping kanan Athrun. "Mata ashita." Ia pun pergi meninggalkan gadis itu—lagi—tanpa menoleh kembali ke belakang. Athrun hanya bisa menghela napas. "Mungkin, akan kutanya di lain waktu saja." Kedua mata gadis berambut navy blue itu agak melebar begitu melihat Cagalli berbalik menghampirinya lagi.

"Athrun-san."

"Ya?"

"Aku tahu, kau merasa hal aneh itu lagi setelah mendengar sejarah tadi. Besok, jika kau mau, temui aku di gerbang sekolah jam tujuh pagi." Seperti terhipnotis oleh tatapan Cagalli, Athrun hanya mengangguk sekali. Melihat anggukan dari gadis itu, Cagalli pun kembali berbalik dan benar-benar pergi dari taman tersebut.

Beberapa puluh detik kemudian...

"Eh? Tadi... apa katanya?" gumam Athrun sambil menggaruk-garuk pelan pipi kanannya dengan wajah polos.

To Be Continued

#garuk-garuk pipi# gomen baru bisa update hari ini karena seminggu kemarin sibuk dengan tugas dan ulangan harian. Senin besok pun Mizu harus disibukkan lagi dengan UTS. TT^TT benar-benar gak bakal fokus kalo fic ini gak di update. Ehe, adegan KiRakusu ada loh di GS phase 8. Ada yang masih ingat? :D

Mizu bingung... #pundung# akhir-akhir ini banyak inspirasi melintas tapi belum bisa menuangkannya karena pas neppi diaktifin, Mizu gak buka sama sekali Ms Word. Selalu yang dibuka Ms Excel dan Ms PPT. #pundung#

Err, apa chara-chara di sini makin OOC, minna-san?

Err, gomen untuk keterlambatan update yang mungkin akan terjadi lagi di chap depan. T^T gomeeen! #sujud di hadapan readers#

Terima kasih untuk review-review nya, Ffionn, Sachika19, Cyaaz, pandamwuchan, aeni hibiki (gomen telat. :) ini udah update, ehe, gomen kalau kelamaan, and thanks untuk support nya^^), nelshafeena, popcaga, mrs. zala, Hoshi Uzuki, lezala, Guest (gomen karena gender bender^^ yang pastinya bakal jadi OOC, terima kasih untuk support-nya! :)), and silent readers! :* Maaf telat balas! :D

Ya, kritik saran dan flame Mizu terima dengan lapang dada! Ehe...

Terakhir...

SANKYUUU!

.

.

.

Update : 16 Maret 2013