GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE
Setsuko Mizuka Present
.
L.A.Y.L.A.
Look At You Like As ...
Rate : T semi M
Genre : Mystery, Romance, & School Life
Pairing : AsuCaga, KiRakusu, ETC.
Warning : First Canon, OOC, Typos, AU, GaJe, Gender Bender(?), Crack Pairing, dsb.
.
Kau, aku, kita dan mereka. Kita semua kembali bertemu dalam keadaan dan waktu yang berbeda. Aku selalu melihatmu dalam keadaan yang berbeda namun terlihat tak asing bagiku, begitu juga dirimu.
.
.
.
Phase 9
The Beginning
Cagalli Hibiki mengetuk-ngetuk pelan kakinya yang tertutup sepatu sport berwarna putih. Wajah laki-laki itu yang biasanya datar kini makin terlihat datar dan suram. Jaket baseball hitam-putihnya ia lepas sedari tadi dan menaruhnya di bahu kanan, sementara bahu kirinya menggendong tas berwarna serupa dengan celana kotak-kotaknya. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 8 pagi, tepat sejam ia menunggu sosok gadis yang sudah menghantuinya beberapa hari terakhir di depan gerbang sekolah layaknya seorang Komite Kedisiplinan.
"Cagalli-kun, ohayou~."
Laki-laki melirik sebentar pada gerombalan siswi yang menyapanya. "Hm."
Seorang dari mereka mendekat dan bertanya, "menunggu seseorang?"
"Bukan urusanmu," ketus Cagalli dengan nada datar.
"Pasti menunggu Lacus-san, ya? Nggak mungkin 'kan menunggu si Zala," gumamnya.
Mendengar sang idola berdencih, membuat gadis itu memilih untuk masuk ke dalam sekolah. Cagalli menghela napas panjang sambil melipat kedua tangannya ke depan dada. Mata amber-nya yang tajam terus tertuju pada siswa-siswi yang tengah berjalan memasuki lingkungan sekolah. Ia menyipitkan matanya setelah sosok yang ditunggu itu tertangkap oleh kedua matanya. "Geez, santai sekali jalannya," gumam Cagalli dengan penuh emosi begitu melihat sosoknya tengah berjalan pelan ke arahnya sambil memperhatikan kelopak sakura yang berjatuhan. Tampaknya gadis itu belum menyadari keberadaan Cagalli.
Athrun Zala—nama gadis yang ditunggu Cagalli itu—terperanjat begitu sadar akan kehadiran kembaran Kira tengah menatapnya garang. Gawat! Aku baru ingat saat di halte kalau Cagalli menyuruhku berangkat satu setengah jam lebih pagi, paniknya dalam hati.
"Kau tahu 'kan, sudah berapa lama aku menunggu di sini, hah!?" bentak laki-laki itu.
"Err, g-gomenasai! Aku lupa!" serunya sambil membungkukkan badan.
Cagalli menginjak belakang skate board-nya dan berhasil ditangkap oleh tangan kirinya.
Tuk. Athrun bisa merasakan kepalanya dijitak pelan oleh laki-laki di hadapannya ini. "Eh?" Secepat kilat ia berdiri tegak untuk melihat sang idola Archangel High School tersebut. Namun yang terlihat kini hanya punggungnya yang perlahan menjauh. Rasa bersalah muncul dalam hati gadis itu dan berusaha mengejar. "C-Cagalli-san!" panggilnya.
Yang dipanggil terus saja berjalan memasuki halaman sekolah tanpa ada niat untuk menengok. Menyebalkan! Dengan mudahnya minta maaf setelah membuat orang lain menunggu selama sejam. Memang dia kira aku tak ada keperluan lain apa!? kesal Cagalli.
"Cagalli-san!" panggil Athrun lagi sambil menahan sosok tersebut.
"Lepas!" bentaknya lagi seraya menepis tangan gadis itu yang menahan lengan kirinya.
"Aku minta maaf, aku benar-benar lupa," karena terlalu terhipnotis dengan matamu kemarin, tambah si gadis dalam hati dengan wajah menunduk. Tanpa mereka sadari, beberapa murid tengah memperhatikan mereka sedari tadi, termasuk gadis berambut light-pink panjang yang baru beberapa menit tiba di gerbang sekolah.
Laki-laki itu melirik sebentar. "Temui aku sepulang sekolah di koridor lantai satu."
Athrun menatap Cagalli yang pergi menjauh kemudian mengangguk kecil sebelum melangkah memasuki gedung.
"Lacus, kenapa melamun di depan gerbang?"
Gadis yang baru saja ditanya itu menengok ke samping. "Kira," gumamnya.
Kira menelengkan kepalanya. "Sedang menunggu Cagalli?"
Lacus menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum. "Mau ke kelas bersama?"
"Tentu." Kira tersenyum walau merasa janggal dengan tingkah gadis di hadapannya itu.
L. A. Y. L. A.
Bel selesainya aktivitas belajar-mengajar baru saja berbunyi dua puluh menitan yang lalu. Natarle Badgiruel tersenyum tipis pada kedua tamu tak diundangnya. Ia menghentikan pekerjaannya menyusun materi sementara waktu. Sedikit heran begitu melihat murid-murid—ehem—kesayangannya ingin menemuinya. "Jadi Cagalli-kun, Athrun-san, apa yang membawa kalian kemari?" tanya si Guru Sejarah tersebut.
"Tentu saja kaki yang membawa kami ke sini," jawab Cagalli asal.
Twitch!
"C-Cagalli-san...," tegur Athrun dengan nada berbisik.
Sang guru tersenyum maklum walau dalam hati emosinya sudah berkoar-koar.
Terlihat wajah Cagalli berubah menjadi serius dalam seperkian detik. "Ada urusan penting yang ingin kutanyakan pada Sensei," katanya dengan nada tegas dan terkesan misterius?
"Tentang sejarah?" tebak Natarle.
Athrun mengangguk sebagai jawabannya.
"Apa itu?"
"Ini tentang Bloody Valentine War, Sensei," kata gadis berambut navy blue itu.
Natarle mengernyit dalam diam.
.
.
.
"Maaf, Sensei nggak bisa menjelaskan lebih banyak lagi soal itu."
"Eh!?"
Cagalli dan Athrun mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Mereka bahkan belum mengajukan pertanyaan, tapi sudah ditolak oleh si guru untuk menjawabnya terlebih dahulu. "Tapi Sensei, kami—"
"—sekarang kalian bisa keluar dari sini." Natarle memotong perkataan Cagalli.
Tampak wajah Athrun menunduk, padahal ia berharap banyak pada Natarle.
"Kalau kalian ingin tahu lebih banyak tentang itu, kalian bisa membaca referensi di perpustakaan," saran Natarle.
Cagalli nampaknya tidak setuju dengan sarannya. "Aku benci tempat itu."
Helaan napas terdengar. "Di sana banyak bahan bacaan mengenai hal yang kalian cari."
Hening sesaat di antara mereka.
"Kalau begitu, kami permisi. Maaf mengganggu kerja Sensei," pamit Athrun sopan.
"Sensei menyebalkan," gumam Cagalli seraya pergi tanpa pamit.
Sang guru hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laki-laki tersebut.
L. A. Y. L. A.
Kira menghela napas begitu tahu ekskulnya diliburkan untuk sementara waktu lantaran sang Pembina—Erica Simmons—harus mengikuti rapat sebagai perwakilan klub melukis karena di bulan Juni akhir akan diadakan Pentas Seni sekaligus perayaan HUT AHS yang ke-700. Laki-laki itu termenung sebentar mengingatnya. Walaupun sudah tua, tetap saja tidak ketinggalan zaman, herannya. Perlahan ia memasukkan peralatan belajarnya ke dalam tas sambil melamunkan suatu hal, sampai tak sadar bahwa hanya tinggal dirinya yang masih berada di kelas 2-A.
Sreeek!
"Kira!"
Yang dipanggil hampir saja terjungkal ke belakang karena terlalu kaget.
Melihat Kira yang hampir terjungkal membuat Lacus Clyne memekik lalu menghampiri laki-laki tersebut. "Ah, gomen, Kira! Aku tidak bermaksud untuk mengagetimu," katanya dengan nada bersalah.
"Aa, iya, tak apa."
"Benar?"
Kira hanya mengangguk. "Kau mencariku?" tanyanya to the point.
Samar-samar wajah Lacus merona.
Melihat respon gadis di hadapannya diam membuat Kira tertawa. "Haha, mana mungkin kau mencariku, pasti Cagalli yang kau cari," katanya sambil berpaling ke arah pintu kelas. Ia menggaruk pelan pipi kanannya dengan jari telunjuk. "Tapi Cagalli sudah keluar duluan dengan... Athrun, kalau tidak salah."
"..."
"Pasti mereka sedang ada urusan penting, makanya pergi bersama," kata Kira lagi.
"...dengan Athrun, ya?" gumamnya.
"Apa kau tahu sesuatu?" tanya laki-laki itu.
Lacus menggelengkan kepalanya. Entah kenapa pandangan matanya menatap sayu ke lantai kelas sambil memegangi pergelangan tangan kanannya. Sejujurnya gadis itu ingin pulang bersama dengan laki-laki di hadapannya, namun setelah mendengar perkataan Kira membuat hatinya sedikit gelisah. Kenapa...? Kenapa... harus gelisah?
Tuk.
"Tenang saja, semua akan baik-baik saja." Kira tersenyum untuk menenangkan Lacus.
Sibuk dengan pikirannya sendiri, gadis itu hanya mengangguk singkat. "Emm."
"Oh iya, apa yang lain juga sudah pulang?"
"Tadi mereka sedang menunggu di tempat loker sepatu."
"Kalau begitu, ayo ke sana," ajak Kira.
Mereka pun keluar kelas tangga lalu menurun. Di saat yang bersamaan, Cagalli dan Athrun juga tengah menuruni tangga yang berbeda dengan Kira dan Lacus, sehingga mereka sampai terlebih dahulu ke lantai satu. Sepasang sejoli yang baru saja menemui Natarle itu melewati tangga yang dipakai Kira dan Lacus untuk menuju perpustakaan yang berhadapan langsung dengan pintu aula di bagian barat sekolah.
"Memang ada yang jaga sekarang?" gumam Cagalli sambil mengintip dari pintu kaca.
"Mm, setahuku, Nicol yang berjaga hari ini."
Mendengar ucapan Athrun, Cagalli langsung mendorong pintu berlapis kaca hitam itu ke dalam. Terlihat Mwu La Flaga—Guru Kesiswaan sekaligus Guru Olahraga—tengah membaca sebuah buku di depan meja penjaga dengan seorang murid laki-laki berambut hijau yang diketahui Cagalli bernama Nicol Amalfi.
"Cagalli-kun? Tumben ke perpustakaan?" heran Mwu sambil menutup bukunya.
"Hanya ingin saja," jawab laki-laki tersebut dengan seadanya.
Nicol tersenyum melihat Athrun ikut masuk ke dalam perpustakaan. "Nggak ekskul?"
Athrun menggelengkan kepalanya. "Hari ini klub diliburkan karena ada rapat."
"Aa, sou ka," gumam laki-laki tersebut seraya tersenyum pada Cagalli yang tengah mengamati perpustakaan. "Apa ada yang bisa saya bantu, Cagalli-san?" tawarnya. Yang ditanya tetap serius menjelajahi setiap inchi dari isi perpustakaan sekolah yang tak pernah ia kunjungi sejak awal masuk Archangel High School. Nicol pun memilih bertanya pada Athrun. "Kau mencari buku apa, Athrun? Biar aku bantu mencarinya."
"Mm, aku dan Cagalli-san ingin mencari buku sejarah tentang Bloody War Valentine."
"Eh?"
Nicol dan Mwu terlihat kaget secara bersamaan.
Gadis itu mengernyit. "Apa ada yang salah?"
"Kenapa kalian mencari buku itu?" tanya Mwu dengan wajah serius.
"Kami hanya penasaran," sela Cagalli sebelum Athrun menjawab.
Nicol keluar dari meja penjaga untuk membantu menunjukkan letak buku-buku yang dicari sahabatnya dan Cagalli. Ia melirik sesekali ke Cagalli dan Athrun yang berjalan di belakangnya. Apa Athrun masih penasaran dengan Cagalli Yula Athha? Sampai sekarang ia dan gadis berambut navy blue itu masih belum mengetahui siapa sebenarnya Cagalli Yula Athha yang selalu disebut-sebut Athrun akhir-akhir ini.
Tepat di pojok ruangan, mereka bertiga berhenti. "Semua buku yang kalian butuhkan ada di lemari spesial ini," jelas Nicol.
Cagalli hanya melongo melihat lemari yang besarnya berhasil menutupi dinding itu.
"Tapi, aku tidak yakin kalian mengerti bahasanya," gumam si penjaga tersebut.
"Memang pakai bahasa apa?" tanya Athrun.
"Mm, setahuku buku-buku ini memakai bahasa kuno."
"Nggak ada salahnya 'kan untuk mencoba," gumam laki-laki blonde sambil menaruh tasnya ke atas meja terdekat lalu mengambil sebuah buku yang tebalnya kira-kira 3 cm secara asal. Kedua alisnya mengernyit melihat tulisan-tulisan yang berjajar rapi di dalamnya. "Tulisan apa ini?" gumam Cagalli.
Athrun yang penasaran ikut mengambil salah satu buku untuk ia baca.
Hening beberapa saat.
"Tapi... terlihat familiar," gumam Athrun seraya mencoba membacanya.
"Aku ingin pinjam beberapa," putus Cagalli sambil mengambil sepuluh buku sekaligus dan lagi-lagi secara asal.
"Buat kartu pinjamnya dulu, Cagalli-san."
Laki-laki itu memutar bola matanya, bosan. "Bisa langsung jadi, kan?"
"Besok baru bisa diambil."
L. A. Y. L. A.
Athrun Zala terus mendekap tiga buah buku yang dipinjam dari perpustakaan. Gadis itu bersyukur karena sudah membuat kartu pinjam buku atau bisa dibilang merupakan kartu member perpustakaan sebelumnya. Ia terus berjalan melewati taman kota, kalau saja Cagalli tidak dipanggil untuk ikut rapat di ekskulnya, pasti mereka bisa pulang bersama dan menikmati senja di taman... eh? Tunggu! Kenapa aku berharap bisa pulang bersama dengan laki-laki arogan seperti Cagalli!? pikirnya dalam hati setelah imajinasinya buyar.
"Geez, pikiran menyebalkan itu lagi," gumam Athrun seraya memasuki sebuah gang.
Tap.
Tap.
Tap.
Gadis itu terus berjalan menyusuri sebuah gang komplek yang sepi dan menjadi jalan alternatif satu-satunya menuju rumahnya. Namun untuk hari ini, Athrun lengah dan malah keterusan sehingga masuk ke gang lainnya. Memang ada gang lain yang mirip setelah gang yang biasa ia lalui, dan gadis beriris mata emerald itu baru menyadarinya setelah sampai di depan lapangan berumput liar yang terlihat tidak terawat oleh masyarakat sekitar. Sontak saja ia menegang karena merasakan hawa buruk mendekat.
Set, set.
Athrun menengok ke kanan lalu ke kiri, namun tak ada jalan lain selain jalan tadi.
Ia berbalik dan terperanjat begitu melihat tiga orang laki-laki asing tengah berdiri seratus meter di hadapannya sehingga menghalangi jalannya. Tubuh Athrun benar-benar lemas seketika melihat seringaian dari ketiga laki-laki tersebut. Bruk! Buku-bukunya terjatuh bersamaan dengan langkahnya yang bergerak mundur.
"Heh? Ada gadis manis tersesat rupanya," kata laki-laki berambut hijau terang.
"Ne, Orga, apa kau lupa memasang plang untuk tidak memasuki daerah ini?"
Laki-laki yang dipanggil Orga itu menutup buku yang dibukanya sejak awal lalu memandangi sosok Athrun dari atas sampai bawah. "Lumayan, bagaimana menurutmu, Clotho?" tanyanya pada laki-laki berambut merah gelap yang berbicara sebelumnya.
"Heh? Gadis ini bukan tipeku, beda jauh," sahut Clotho.
Laki-laki lainnya melepas headset sebelah kanannya. "Tidak terlalu menarik."
Orga mendengus pelan. "Lalu, mau kau antarkan ke rumahnya, heh, Shani?"
"Tapi aku ingin mengajaknya bermain dulu, sepertinya lumayan menarik," kata Shani.
"Tadi katamu tidak menarik, teme!"
"Aku bilang tidak 'terlalu' menarik, baka."
Clotho yang sedari tadi menyender pada tiang listrik kini berjalan mendekati Athrun yang sejak awal menatap was-was pada mereka bertiga sambil memasukkan PSP ke dalam balik jaket kulitnya yang berwarna coklat. "Sebelum bermain dengan Shani, lebih baik bermain denganku dulu, gadis manis. Walaupun kau bukan tipeku, tapi wajahmu mirip dengan mantan teman bermainku sebelum dirimu," kata Clotho dengan wajah menyeringai.
Kedua mata Athrun membulat seketika. Dengan gerakan terburu-buru ia mengambil buku-bukunya lalu berdiri tegak kembali. Kalau sudah seperti ini, hanya ada satu jalan yaitu... LARI! Tanpa ba-bi-bu lagi, Athrun berlari melewati Clotho—
—grep!
"Mau lari ke mana, hm?" bisik Clotho tepat di telinga kanannya.
Glek!
"L-lepaskan t-tanganmu!" Rontaan Athrun terdengar oleh Shani dan Orga yang tengah berdebat sejak tadi.
"Hoi, Clotho! Kau curang!" seru Orga seraya mendekat, diikuti Shani di belakangnya.
G-gawat! Siapapun bantu aku! Teriak si gadis dalam hati sambil memejamkan mata.
"Heh? Belum diapa-apain sudah tutup mata. Dasar murahan!" ejek Shani.
Diejek seperti itu tentu saja membuat Athrun marah dan melepaskan lengan kanannya dari Clotho lalu meninju pipi Shani hingga laki-laki itu terdorong ke belakang dengan pipi mulai membiru. "Jangan menghina orang seenaknya!"
Ketiga laki-laki itu terperangah sebentar sebelum kembali menyeringai.
"Tiga lawan satu, memang kau bisa menang?" kata Shani seraya berdiri tegak lagi.
Grep!
Athrun yang lengah tidak menyadari keberadaan sosok Orga di belakangnya yang langsung mengunci kedua tangannya dari belakang. Buku-buku yang dipeluk Athrun sedari tadi kini berjatuhan kembali. "Lepaskan aku, Bodoh!"
"Haha, sekarang kau mulai berani mengataiku 'Bodoh', heh?"
Gadis itu terus meronta namun usahanya sia-sia.
"K-kalau kalian mau uang, aku akan berikan! Tapi biarkan aku pergi!" putus Athrun.
Shani bersiul pelan. "Uang, ya? Boleh juga."
"Kita sekap saja di gudang lalu minta uang tebusan," kata Clotho sambil menyeringai.
"Ide bagus!" seru Shani lalu menatap Orga. "Bawa dia ke gudang."
Glek!
Aaargh! Kenapa jadi mau disekap begini!? teriak Athrun frustasi. "H-hei! Bukan seperti ini maksudku! OI! OI!" Gadis itu berusaha meronta karena didorong Orga menuju sebuah gudang yang ada di ujung lapangan.
"Sudah kau di—"
—bukh!
Belum sempat Orga menyelesaikan perkataannya, sebuah tinjuan mendarat di pipi kirinya sehingga membuat Athrun lepas darinya dan terhempas. "KAU—" Mulut Orga tak berani melanjutkan sumpah serapahnya pada orang yang sudah meninjunya begitu tahu siapa pelakunya. Iris mata laki-laki itu agak melebar setelahnya.
To Be Continued
Ehe... gomen dipotong karena word-nya sudah kepanjangan #bow# Janji deh bakal update secepatnya... :D Ugh, gomen juga baru bisa update karena feel-nya tiba-tiba hilang setelah UTS #sujud di kaki readers#
Thanks for your review ne, aeni hibiki, Lennethia, Cyaaz, mrs. zala, Hoshi Uzuki, nelshafeena, lezala, pandamwuchan, and all, silent readers! :* #hugs
Mizu nggak bisa ngomong banyak lagi karena keburu ngantuk, jadi Mizu sudahi sampai sini! :D Sampai jumpa di chap berikutnya!
Saran, kritikan, dan flame bisa dituang ke dalam review... #kabur
SANKYUUU! :)
.
.
.
Update : 29 Maret 2012
