"H-hei! Bukan seperti ini maksudku! OI! OI!" Gadis itu berusaha meronta karena didorong Orga menuju sebuah gudang yang ada di ujung lapangan.
"Sudah kau di—"
—bukh!
"KAU—" Sumpah serapah yang ingin dikeluarkan Orga, kini tertahan dilidahnya setelah tahu siapa pelaku yang memukul pipinya. Wajah laki-laki itu terlihat tegang. "Kira-sama...," gumam Orga. Tampak Shani dan Clotho tak bergerak sama sekali dari tempatnya.
"Apa yang kalian lakukan dengan temanku?"
GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE
Setsuko Mizuka Present
.
L.A.Y.L.A.
Look At You Like As ...
Rate : T semi M
Genre : Mystery, Romance, & School Life
Pairing : AsuCaga, KiRakusu, ETC.
Warning : First Canon, OOC, Typos, AU, GaJe, Gender Bender(?), Crack Pairing, dsb.
.
Kau, aku, kita dan mereka. Kita semua kembali bertemu dalam keadaan dan waktu yang berbeda. Aku selalu melihatmu dalam keadaan yang berbeda namun terlihat tak asing bagiku, begitu juga dirimu.
.
.
.
Phase 10
Yzak Joule and Dearka Elsman
Kira Yamato tersenyum tipis begitu menangkap basah pergerakan dari gadis di samping kirinya yang diam-diam melirik padanya. Ia memilih untuk tidak mempedulikannya dan terus berjalan keluar dari gang. "Apa kau takut setelah tahu semua tentang diriku di masa lalu?" tanya laki-laki itu seraya berhenti melangkah.
Athrun ikut berhenti dengan memalingkan wajah ke samping. "Tidak, aku hanya kaget."
"Hontou ni?"
"Um-mm."
"Walaupun begitu, aku tidak sebrengsek mereka," cerita Kira. Pandangannya menerawang jauh ke langit petang. Senyuman miris serta tatapan sayu nampak jelas di wajahnya. "Saat kelas 1 SMP, orang tuaku berniat untuk cerai. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam melihat pertengkaran mereka sambil menenangkan adikku—Cagalli—yang terus menangis dan mencoba untuk menghentikan mereka."
"Cagalli-san...?"
Laki-laki itu tertawa pelan. "Asal kau tahu, Cagalli sewaktu SMP itu cengeng."
"Mungkin karena tak mau orang tua kalian berpisah," pikir Athrun memaklumi.
"Sepertinya." Kira memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Teman-teman sekelas kami sering menyebutnya 'Crying Leo' karena di balik sifat cengengnya, Cagalli juga termasuk orang yang berani dan percaya diri," cerita Kira lagi sambil tersenyum pada Athrun.
"Lalu... kenapa kau bisa kenal dengan ketiga preman itu?" tanya Athrun penasaran.
Gadis itu masih tidak percaya kalau Kira Yamato yang ia kenal sebagai laki-laki jenius dan baik hati itu merupakan salah satu dari mereka dulu. Tapi namanya juga manusia, tidak selamanya mereka hidup dengan kehidupan yang sama.
"Kalau itu... aku hanya ingin menghilangkan stress karena masalah di rumah."
"Dengan cara menjadi preman?"
"Yaaa begitulah," jawab Kira sekenanya.
"Oh, begitu." Athrun menunduk sambil sesekali menendang kerikil di depan kakinya.
Hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di rumah kediaman Zala. Rumahnya pasti besar dan luas, pikir kembaran Cagalli tersebut begitu melihat gerbang yang terbuat dari kayu jati dengan tinggi sekitar dua meter. Di gerbang itu juga terlihat ukiran-ukiran yang jarang Kira lihat sebelumnya, walau sejujurnya ia merasa pernah melihatnya entah dimana. Tangan panjangnya menyentuh ukiran berbentuk jam pasir itu namun terhenti ketika gerbang tersebut dibuka oleh sang pemilik.
"Ini rumahku. Mau mampir untuk makan malam bersama?" tawar Athrun.
"Arigatou, Athrun. Tapi aku tidak bisa karena sedari tadi Cagalli menyuruhku pulang."
Athrun hanya mengangguk kecil. "Terima kasih untuk yang tadi, Kira."
"Iya, sama-sama, Ath—"
—drrrt! Drrrttt!
Tiba-tiba terdengar getaran kecil dari saku kemeja putih Kira. Laki-laki berambut brown itu hanya senyum salah tingkah lalu membelakangi Athrun yang berada di depan gerbang. 'Cepat kau pulang ke rumah! Kaa-san mengkhawatirkanmu, baka!' Suara keras si adik terdengar setelah sambungan terhubung, sehingga membuat Kira sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. "Iya, iya. Aku akan pulang ke rumah sekarang."
'Memang kau mau pulang kemana lagi selain ke rumah, heh?'
Sabar, sabar, katanya dalam hati. "Terserah deh. Sudah ya!"
Sambungan pun diputus secara paksa oleh Kira. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Athrun. "Mm, sebelum pulang, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," kata Kira. Belum sempat Athrun merespon, ia melanjutkan perkataannya. "Hari Minggu besok jika kau ada waktu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Tampak secara samar-samar rona merah di kedua pipinya.
L. A. Y. L. A.
Miriallia Haw menutup mulutnya dengan tangan kanan saat tidak sengaja menguap. Di sampingnya terlihat seorang laki-laki blonde tengah sibuk dengan ponselnya. Hal itu membuat Miriallia kesal. "Tak bisakah kau berhenti sejenak dan mendengarkan ceritaku, Ca-ga-lli-kun?" tanyanya dengan nada sinis.
"Kalau kau datang ke perpustakaan untuk marah-marah seperti itu, lebih baik kau pergi ke atap," suruh Cagalli
"Denganmu, ya?" pinta Miriallia sambil memandang penuh harap pada sahabatnya.
"Maaf, Milly. Hari ini aku ada urusan di perpustakaan."
"Ya~h. Aku tak tahu lagi dengan siapa harus kucerita, Cagalli."
Laki-laki itu mengernyit. "Lacus kemana?"
"Hari ini dia ekskul dengan Kira-kun," jawab Miriallia sambil mengingat-ingat. Ia melirik ke arah Cagalli yang tampak melamun. "Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu?" tanyanya dengan nada cemas. Sahabatnya yang satu ini memang susah ditebak arah pemikiran dan perasaannya sejak awal mereka bertemu di Junior High School. Melihat Cagalli menggelengkan kepalanya membuat Mirillia melipat kedua tangannya ke depan dada.
"Apa?" tanya Cagalli ketus.
"Yasudah deh, aku pergi ke atap. Kalau kau selesai dengan urusanmu, bisa 'kan datang ke sana?" pintanya lagi dengan mata memohon.
"Ya, ya, ya."
Senyum mengembang di wajah Miriallia sebelum ia pergi menuju atap sekolah.
Tap... tap... tap...
Ia terus menaiki tangga sampai di lantai tiga. Pintu berbahan besi yang dicat hijau tua dan menjadi penghubung menuju atap itu terbuka secara perlahan. Angin musim semi berhembus membuat helaian rambut Miriallia bergerak-gerak. Ia tutup kembali pintu tersebut lalu berjalan beberapa langkah ke sebelah kanan pintu masuk.
"Menyebalkan...," lirihnya sambil terduduk di sana dengan kaki terlipat.
Kedua tangannya ia gunakan untuk memeluk lututnya.
"Dearka baka!" kesal gadis itu.
Miriallia membenamkan wajahnya di antara kedua lutut, sementara tangan kanannya terlihat tengah terkepal. "Aku tahu... kau memang terkenal di kalangan para siswi, tapi apa kau tak bisa berusaha menjauh dari mereka?" lirihnya dengan pandangan tertuju pada ke lantai. "Baka, kalau begini terus, apa bisa aku bertahan!?"
Ckleeek.
Deg!
Mendengar pintu terbuka, sontak saja Miriallia menengok.
"Benar dugaanku, kau ada di sini," kata orang itu seraya tersenyum.
"Yzak... ternyata kau, kuki—"
"—Dearka? Sayangnya aku bukan Dearka."
Set. Miriallia bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan menuju pagar pembatas. "Kenapa... malah kau yang datang? Padahal aku berharap Dearka yang mencariku, tapi kurasa tidak mungkin, ya?" Ia berbalik menghadap Yzak setelah berdiri membelakanginya. Senyum ceria terlihat di wajah cantiknya dan dibalas decihan dari laki-laki berambut silver di hadapannya.
"Jangan pura-pura tersenyum di hadapanku, Milly," kata Yzak dengan nada datar.
"Eh? Apa maksudmu sih? Aku nggak ngerti." Senyum masih tampak di wajahnya.
Tap, tap, tap.
Laki-laki itu mendekati Miriallia dan menghela napas. "Memang kau pikir, sudah berapa lama kita bersahabat, Milly? Aku tahu segalanya tentangmu lebih dari yang kau tahu," ucapnya sambil menepuk pelan ujung kepala Miriallia dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Yzak..."
Tes. Air mata keluar dari sudut mata gadis berambut coklat muda tersebut.
Grep!
Bukan. Bukan Miriallia yang memeluk Yzak, tapi laki-laki itulah yang memeluk tubuh mungilnya. Bisa ia rasakan kedua tangan Yzak memeluknya dengan erat, seolah tak ingin melepas pelukan itu. "Yzak, hiks... Dearka... D-Dearka..." Ucapan si gadis tersendat-sendat karena isakannya. "A-aku kesal padanya! Aku kesal dengan sikap baiknya pada gadis-gadis lain! Hiks, aku... a-aku cemburu melihatnya yang terus didekati para gadis," cerita Miriallia pada akhirnya.
Yzak mengelus rambut gadis itu. "Keluarkan semua yang ada di pikiranmu."
"Hiks, a-aku... apa aku salah j-jika memintanya untuk baik padaku saja, Yzak?"
Senyum tipis tersungging di wajah anak tunggal dari keluarga Joule tersebut.
"Y-Yzak, aku tak tahu lagi harus bagaimana. Aku bingung, hiks," lirihnya.
"Cukup katakan saja apa yang kau inginkan, pasti Dearka mau mengerti perasaanmu. Hanya itu satu-satunya jalan yang terbaik untuk mempertahankan hubungan kalian," saran Yzak. Walau begitu, hatinya tak bisa memungkiri bahwa ada rasa sakit saat mengatakannya.
BRAK!
Kedua manusia yang tengah berpelukan itu terlonjak begitu pintu besi terbuka dengan kasar. Terlihat sosok Dearka Elsman tengah berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh emosi. Miriallia membeku di tempat begitu juga Yzak.
"Kalian..." Dearka menggeram lalu menarik paksa Miriallia dari pelukan Yzak.
"D-Dearka, ini tidak seperti yang ka—"
"—kalau kau masih menyukainya, bilang padaku, brengsek! Jangan tusuk aku dari belakang seperti ini!" bentak laki-laki itu pada sahabatnya sendiri. Napas Dearka tidak beraturan dan itu terdengar dengan jelas saat membentak. Belum lagi keringat yang terus mengucur dari keningnya yang membuat Miriallia berpikir bahwa Dearka mencarinya sejak tadi. Tapi... dia bukan Dearka yang kukenal...
"Dearka! Kau salah paham! Aku hanya—"
"—mencoba untuk mengambil pacar sahabat sendiri. Sungguh menjijikkan!"
Dearka yang kukenal akan bertindak dengan tenang apapun yang terjadi...
"Aku tidak pernah bermaksud untuk mengambil Milly dari sahabatku sendiri!"
"Pembohong!"
"Lagipula Milly itu hanya sahabat—"
"—SUDAH CUKUP!" teriak Miriallia sambil melepas genggaman tangan Dearka dari pergelangan tangan kanannya. Ia berdiri di tengah-tengah Dearka dan Yzak. "Sudah hentikan," lirihnya dengan wajah menunduk.
"...kau membelanya?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Dearka.
"Jadi sekarang, kau lebih memilih Yzak daripada aku... Milly?"
"Dearka, kau—"
—plak! Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi kiri Dearka dan memotong ucapan Yzak barusan. "DEARKA BAKA!" Setelah Miriallia berteriak seperti itu, ia memilih pergi meninggalkan keduanya sambil menangis. Terlihat dengan jelas bagi Yzak, tangan Miriallia bergetar setelah menampar kekasihnya sendiri.
L. A. Y. L. A.
Hari Minggu besok jika kau ada waktu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Perkataan dari Kira Yamato kemarin sore terus saja berputar-putar di benaknya. Athrun tidak menyangka kalau laki-laki itu akan mengajaknya... err, kencan? Baginya entah kenapa terdengar aneh, terlebih mereka baru dekat beberapa minggu terakhir setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Kencan dengan... Kira?" gumamnya. Ia menggaruk pelan pipi kirinya.
Tap, tap, tap, tap, tap.
Mendengar suara langkah kaki dari arah tangga membuat Athrun menengok.
"Milly! Tunggu!"
Bersamaan dengan teriakan tadi, muncul sosok Miriallia Haw tengah berlari kecil menuruni tangga. Dengan terburu-buru Athrun bersembunyi di balik tembok ruang kelas 1-C. Ia mengernyit begitu tahu bahwa gadis yang dikenalinya sebagai sahabat terdekat Cagalli itu tengah menangis setelah ia melihat Mirillia menghapus air matanya dengan menggunakan punggung tangannya.
"Milly!"
Tampak Dearka Elsman menahan lengan gadis itu namun dengan cepat ia tepis.
"Jangan ikuti aku! Aku ingin sendiri!"
"Milly, dengarkan aku dulu!" Dearka berusaha menahan pergerakan Miriallia.
"Tak ada yang perlu kudengarkan lagi! Kau berubah, Dearka! Kau... kau... kenapa kau menyangka Y-Yzak mengambilku darimu!? Kau tahu sendiri 'kan, aku dengannya hanya sahabat dan tidak lebih! Lagipula kalian juga bersahabat, kan?" tanya Miriallia dengan nada kasar. Mendengarnya membuat iris mata Athrun melebar. Yzak? Apa dia mau menghancurkan hubungan Milly dan Dearka? pikirnya.
Kejadian di masa lalu tiba-tiba muncul di benak gadis berambut navy blue itu.
Lebih baik sekarang pergi dari sini sebelum kehadiranku diketahui mereka.
Athrun pun pergi dari sana menuju ruang perpustakaan dengan tanpa suara.
Tidak sopan menguping pembicaraan, memang kau sudah bosan hidup? Perkataan Yzak Joule sewaktu ia masih duduk di bangku kelas 1 Senior High School membuat gadis itu bergedik. Waktu itu, ia tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara Yzak dan Miriallia.
Flashback mode on
"Milly, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Hm? Kau ingin bicara soal apa? Soal ulangan Matematika hari ini?"
Langkah Athrun terhenti begitu mendengar percakapan dua orang di kelas 1-B. Ia yang penasaran memilih untuk menengok sambil bersembunyi di balik tembok. "Eh?" Athrun mengedipkan matanya beberapa kali begitu melihat sosok Yzak Joule dan Miriallia Haw tengah duduk berhadapan dengan Yzak yang membelakangi papan tulis.
"Aku menyukaimu, Milly," aku Yzak dengan wajah tertunduk sedikit.
Terlihat wajah Miriallia yang kaget lalu tersenyum kecil untuk beberapa detik kemudian. "Aku juga menyukaimu, Yzak."
Athrun mengernyit, "bukannya Milly menyukai Dearka Elsman?"
"Aku menyukaimu lebih dari sekedar sahabat yang kau maksud," tambahnya.
"Eh?"
Yzak menggenggam tangan kiri Miriallia seraya tersenyum. Namun belum sempat tangan itu tergenggam, si gadis sudah menepisnya lebih dulu. "B-bagaimana bisa kau... maksudku, k-kau tahu sendiri 'kan kalau aku m-menyukai Dearka, sahabatmu itu?"
"Tapi sampai sekarang si Bodoh itu tak pernah menganggapmu lebih dari sahabat."
"..."
Helaan napas terdengar kemudian. "Aku tahu, kau pasti akan menolakku."
"Yzak..."
"Tak apa, ini lebih baik daripada aku harus membenamnya terus-menerus," kata Yzak.
"Gomen ne."
Drrrt! Drrrttt! Drrrt! Drrrttt!
Kedua mata Athrun terbelalak karena terdengar getaran ponsel dari saku blazer putihnya. Ia menengok sebentar ke arah mereka berdua, tapi tatapan gadis itu bertemu dengan sepasang mata sapphire milik Yzak. "Gawat!" pekiknya lalu bergegas menjauhi kelas 1-B. Tangan kanannya terlihat bergetar saat mengambil ponsel dari sakunya.
.
.
.
Brak!
"I-ittai," lirih Athrun ketika punggungnya mengenai tembok.
"Kau, gadis yang waktu itu menguping pembicaraanku dengan Milly, kan?"
Wajah gadis berambut navy blue itu tertunduk. "M-maaf, aku tidak bermaksud untuk menguping. Sungguh. Aku hanya sekedar lewat saja waktu itu," jelasnya seraya menatap Yzak yang terus menatapnya penuh emosi.
"Pembohong," desis laki-laki itu.
"Aku tidak berbohong, Joule-san."
Dari mata Athrun terlihat jelas bahwa ia tidak berbohong dan bisa dipercaya.
"Tapi... kenapa kau bisa menyukai Haw-san?"
Samar-samar rona merah terlihat di wajah Yzak. "U-urusai!"
"A-a, a-aku mengerti. Itu privasi."
"Kalau kau sampai membocorkannya pada Dearka, aku tidak akan segan-segan denganmu walau kau itu perempuan," ancamnya sambil menarik kerah kemeja Athrun.
"Yzak! Apa yang kau lakukan pada temanku, hah!?"
Athrun dan Yzak menengok ke arah pintu kelas 1-C—kelas Athrun.
"N-Nicol...," panggilnya sambil berusaha melepas cekikan Yzak di kerahnya.
"Huh? Teman? Jadi dia 'teman' yang kau maksud itu?"
Tangan laki-laki berambut sliver itu melepas cengkeramannya lalu tersenyum sinis. Hal itu membuat Athrun kesal karena cengkeramannya terlalu kuat sehingga membuatnya kesulitan untuk bernapas. Untuk sesaat mata Athrun tertutup lalu terbuka lagi. Terlihat sosok Nicol tengah berdiri—atau melayang?—di belakang Yzak dengan jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Melayang? Nicol melayang? pekiknya dalam hati. Ia mengedipkan matanya berulang kali namun tak ada yang berubah. Nicol tetap melayang di sana dengan pakaian serba merah layaknya astronot dan sebuah helm berwarna serupa juga terlihat di tangan kirinya.
Ia menengok ke arah samping kanan. Dearka? Sejak kapan...?
Sosok Dearka Elsman juga tengah melayang seperti Nicol di dekat pintu.
"Athrun? Kau tidak apa-apa?"
Mata Athrun berkedip sekali dan pemandangan yang terlihat kembali ke semula.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Nicol cemas.
"Tadi... ada Dearka... lalu Yzak..." Tampak Athrun kesulitan menjelaskan.
Nicol mengernyit. "Dearka? Sedari tadi nggak ada Dearka kok."
"Lalu Yzak?"
"Sudah pergi dan kupastikan dia tak berbuat macam-macam lagi denganmu," kata Nicol meyakinkan. Mendengar penjelasan Nicol membuat Athrun tertegun seraya pergi keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Flashback mode off
Gadis itu menghela napas sambil membenarkan dasi biru-putihnya.
Tap, tap.
Pandangan Athrun tertuju pada seorang laki-laki berambut silver yang baru saja menuruni tangga. Yzak Joule menatap sayu ke arah pintu keluar menuju gedung aula dan tepat berada di depan ruang perpustakaan. Terpaksa Athrun harus menunggu laki-laki itu pergi untuk bisa masuk ke dalam perpustakaan.
To Be Continued
Huffft, akhirnya bisa update setelah seminggu penuh fokus ke tugas-tugas yang terus menumpuk tiap harinya! :D tapi sekarang karena sekolah libur sejak hari Kamis kemarin, Mizu jadi bisa menulis lanjutannya walau yaaa emm, mengecewakan karena bukan Cagalli yang menyelamatkan Athrun. Di sinopsis memang Mizu berencana membuat phase ini dengan tujuan Kira mengajak dating Athrun. ehehe #garuk-garuk kepala#
Terima kasih untuk para readers dan reviewers! :) Thanks untuk Cyaaz, aeni hibiki (ehe, gomen ne karena Kira yang menyelamatkan Athrun #bow#), nitameicya, Hoshi Uzuki, Lennethia, popcaga, lezala, nelshafeena, dan semuanya! :***
Ah iya, adegan flashback itu Mizu terinspirasi dari phase 5. Ada yang ingat, kah?
Sekali lagi, terima kasih! #bow#
.
.
.
Update : 13 April 2013
