Cagalli Hibiki menghela napas entah yang untuk ke berapa kalinya sambil menatap seorang gadis berambut coklat muda di hadapannya. "Oh ayolah, Milly! Jangan pasang wajah yang tak enak dipandang seperti itu di depanku," keluh laki-laki itu dengan wajah kesal.
"Aku sedang bad mood, Cagalli."
"Iya, aku tahu. Kau sedang bad mood gara-gara si Dearka."
Miriallia menaruh dagunya ke atas meja dengan pandangan tertuju pada seporsi ice cream float yang ia pesan. "Dearka... menyebalkan." Gadis itu bisa merasakan rambutnya diacak-acak pelan oleh Cagalli. "Walau menyebalkan sejak dulu, tetap saja aku yang bodoh karena tak bisa berpaling darinya. Semua duniaku hanya tertuju pada si bodoh itu," lirih Miriallia dengan pandangan sayu.
"Ya~h, namanya juga ci...ci...ci..."
Mendengar ucapan Cagalli, membuat Miriallia sweat drop. "Maksudmu, cinta?"
Laki-laki itu hanya bergumam tidak jelas sambil menatap sebuah buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Tangannya kembali membalikan buku tersebut untuk melihat cover yang ada di depan buku. "ZAFT... Seumur hidup, aku baru melihat lambang ini, tapi kok terasa tidak asing, ya?" gumamnya heran dengan nada pelan.
GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE
Setsuko Mizuka Present
.
L.A.Y.L.A.
Look At You Like As ...
Rate : T semi M
Genre : Mystery, Romance, & School Life
Pairing : AsuCaga, KiRakusu, ETC.
Warning : First Canon, OOC, Typos, AU, GaJe, Gender Bender(?), Crack Pairing, dsb.
.
Kau, aku, kita dan mereka. Kita semua kembali bertemu dalam keadaan dan waktu yang berbeda. Aku selalu melihatmu dalam keadaan yang berbeda namun terlihat tak asing bagiku, begitu juga dirimu.
.
.
.
Phase 11
Zala And Athha
Kusooo! Fokus, Cagalli! Fokus! Tanpa sadar, laki-laki blonde itu menggelengkan kepalanya sambil kedua tangan menepuk pipinya pelan. Beberapa detik kemudian, pikirannya kembali terfokus pada beberapa kalimat-kalimat yang ada di dalam buku. Ia menyipitkan mata saat menemukan kata-kata yang tidak jelas lagi.
"Cagalli-san, apa kau tidak apa-apa?" tanya gadis berambut navy blue di depannya.
"Hm." Suara lembaran dibalik pun terdengar setelahnya.
Athrun melirik sebentar sebelum membaca buku lagi.
Cagalli tampak menatap bosan buku yang dibacanya dengan tangan kiri menyangga dagu. Tanpa ia sadari, matanya menyipit lalu bersiul pelan. Mobile Suit yang dibuat ZAFT banyak juga. Dari penampilannya terlihat kuat, takjub Cagalli dalam hati.
Set. Set.
Baru dua halaman ia balik, sebuah nama menyita perhatian Cagalli.
"Patrick... Zala...," lirihnya tanpa sadar namun Athrun dan Nicol tidak mendengarnya.
Pandangannya tertuju pada sosok gadis yang memiliki marga sama dengan Patrick Zala. Apa mungkin Patrick yang merupakan Pemimpin PLANT dan Petinggi ZAFT ini adalah kakek moyang Athrun? Tapi nggak ada mirip-miripnya sama sekali, komentar Cagalli sambil memperhatikan Athrun lalu menatap gambar yang ada di buku. Walau yang diperhatikan tampak tak menyadarinya, tapi Nicol sadar dan hanya bisa menahan tawa.
"Cagalli-san, kalau memang suka tinggal bilang ke orangnya langsung."
"Huh?" Iris mata amber-nya jelas memperlihatkan bahwa dirinya tidak mengerti.
Nicol tergelak melihat wajah Cagalli dan membuat Athrun juga ikut menatapnya dengan pandangan heran.
.
.
.
Cagalli melipat kedua tangannya ke depan dada begitu ingat kejadian tadi siang, saat sebelum dirinya diajak (baca: dipaksa) pergi ke café langganan mereka oleh Miriallia Haw. "Suka apanya? Aku hanya menilai wajahnya saja, huh." Ia memakan sesendok es krim rasa cokelat pesanannya tanpa mengalihkan pandangannya ke buku.
"Kau bilang apa barusan, Cagalli?" heran Miriallia.
"Bukan apa-apa."
Tuk, tuk, tuk. Jari telunjuk Miriallia mengetuk meja sambil menyangga dagu. "Bosa~n."
"Hmm."
Gadis berambut kecoklatan itu hanya mendengus kesal begitu mendengar gumaman tidak jelas dari Cagalli. "Kau tahu, aku hampir jantungan gara-gara kau menelponku dengan suara sesenggukan saat aku ingin tidur semalam." Miriallia terkekeh pelan lalu memandang sayu ke arah buku yang dibaca sahabat.
"Kau bilang, kau ingin putus dengan Dearka karena sudah tak tahan lagi."
"Hmm, tapi aku tak bisa melakukannya," aku gadis tersebut.
"Kalau bisa pertahankan hubungan kalian," saran Cagalli tanpa beralih dari buku.
Pandangan heran Miriallia tunjukkan. "Kenapa?"
"Penyesalan datang terakhir. Aku tak mau sahabat-sahabatku menyesal." Senyum mengembang di wajah sang gadis mendengar ucapan dari Cagalli. Laki-laki di hadapannya ini memang sahabat terbaik yang ia miliki sejak dulu. Tidak seperti teman laki-lakinya yang lain, Cagalli tak pernah bosan—mungkin—mendengar curhatannya dan selalu memberikan saran untuk masalah yang ia hadapi. "Arigatou, Cagalli. Kau memang sahabat terbaik yang kupunya di dunia ini!" kata Miriallia seraya tersenyum.
Laki-laki itu membalas dengan tersenyum tipis. "Merasa lebih baik?"
"Ehmm! Ehehe."
"Boleh aku jujur?" Melihat gadis di hadapannya mengangguk, Cagalli mengaku sambil membaca bukunya lagi. "Aku masih tidak mengerti tentang apa yang terjadi dengan hubungan kalian."
"Heh? Semalam 'kan aku sudah cerita padamu," kesal Miriallia.
Terdengar dengusan pelan dari Cagalli. "Kau bercerita sambil terisak, mana bisa aku mendengarnya dengan jelas."
Kedua mata gadis itu menyipit lalu menunduk. "Dearka salah paham setelah melihat aku dan Yzak berpelukan. Sebenarnya... bukan aku yang memeluk, tapi Yzak duluan yang memelukku secara tiba-tiba setelah melihatku menangis. Karena terlalu emosi melihat Dearka yang tak mau mendengar penjelasan Yzak, aku langsung me-menamparnya," ceritanya lagi.
"..."
"Kau mendengar ceritaku 'kan, Cagalli?" Hawa membunuh perlahan keluar dari tubuh Miriallia.
"Hmm, tapi kenapa Dearka marah? Bukannya dia sering melihatmu memelukku?"
"Karena Dearka percaya padamu."
Perkataan ambigu dari Miriallia, membuat Cagalli bingung. "Maksudnya?"
"Yzak... menyukaiku, makanya dia lang—"
"—APA!?"
Miriallia menutup sebelah matanya secara reflek saat sahabatnya itu memekik tepat di depan mukanya. "Pelankan suaramu!" balas gadis tersebut sambil menggosok pelan telinga kanannya. Tak lama kemudian, ia kembali menunduk. "Maaf, aku merahasiakannya darimu. Dari awal, aku tak ingin menceritakannya pada siapa pun, termasuk Dearka. Tapi ternyata, dia sadar setelah melihat Yzak yang selalu membelaku di depan fans Dearka saat mereka mem-bully-ku dulu," jelasnya.
"Sou... desu ka," sahut Cagalli yang nampak terbawa suasana.
"Jika kau ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan?"
"..."
"..."
Perlahan laki-laki blonde itu menutup buku yang dibacanya sedari tadi lalu memakan es krimnya yang tinggal satu sendok lagi habis. "Sahabat dan cinta..." Mendadak ia tertawa sambil bersandar pada sandaran kursi. "Seperti di drama saja, tapi lebih sulit mana jika kau disuruh memilih antara cinta dan keluarga?" Bukannya menjawab, Cagalli malah balik bertanya dan sukses membuat Miriallia cemberut.
Namun perlahan ia mulai mengerti apa yang dimaksud oleh Cagalli. "Kalau itu..."
"Tapi aku yakin, mereka berdua punya caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah ini tanpa campur tangan darimu," potongnya seraya tersenyum lebar.
"Huh?"
L. A. Y. L. A.
Lacus Clyne berjalan keluar kelasnya sambil memakai syal biru tua favoritnya. Sebelum keluar kelas, ia menyempatkan diri untuk pamit pada teman sekelasnya yang tengah melaksanakan piket. Tanpa sadar alis matanya berkerut karena pintu kelas 2-A sudah tertutup rapat, seolah tak ada lagi siswa-siswi yang menempati ruangan tersebut.
Puk, puk, puk.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang tengah menepuk penghapus papan tulis dari dalam.
Perlahan Lacus membuka pintu dan melihat sosok Kira Hibiki di sana. "Kira?" panggilnya seraya berjalan memasuki ruang kelas 2-A. Senyuman lembut nampak di wajah cantiknya saat laki-laki itu tersenyum.
"Kau mencari Cagalli?"
Pertanyaan dari Kira membuat langkah Lacus terhenti. "A-a, iya," jawabnya.
"Tapi tadi Cagalli langsung kabur entah ke mana setelah bel pulang berbunyi."
"Aa, sou. Kalau begitu, aku pulang denganmu," putus Lacus sambil duduk di salah satu kursi yang ada di barisan depan.
Puk, puk, puk.
Kira kembali melanjutkan kegiatannya sambil bersenandung kecil.
Tanda disadarinya, gadis itu menahan tawa begitu melihat tingkah si Prince of Archangel High School tersebut. Dari wajahnya, ia terlihat tengah berbahagia dan membuat Lacus penasaran. "Wajahmu terlihat lebih ceria dari biasanya, apa ada sesuatu yang kulewatkan?" tanyanya saat Kira selesai membersihkan penghapus papan tulis khusus untuk kapur.
"Benarkah?" Ia ngambil tas dan sweater birunya yang tergeletak di atas meja guru.
"Ehmm."
Terdengar tawa pelan dari arah Kira. "Ayo, kuantar kau pulang."
Terlihat jelas bahwa ia tengah menutupi sesuatu dari Lacus. "Kau mau menginap di sekolah?" Mendengar pertanyaan itu, sontak Lacus bangkit dari posisi duduknya lalu mengejar Kira yang sudah berjalan keluar kelas. "Kalau ada temannya, aku mau menginap di sekolah ini," sahutnya sambil berjalan di samping laki-laki berambut coklat tersebut.
"Serius?"
Lacus mengangguk dengan ragu-ragu.
"Kalau gitu, kapan-kapan kita ajak yang lain untuk menginap di sini semalaman."
"Huh?" Senyum manis terlihat dengan jelas di wajah Kira dan membuat sang gadis ikut tersenyum. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat loker sepatu. Setelah Lacus mengganti sepatu, ia teringat sesuatu. "Oh iya, sudah lama kau dan Cagalli tidak main ke rumah. Hari Minggu besok jika kalian tidak ada acara, apa kalian bisa datang untuk acara minum teh bersama?"
Kira tampak berpikir sebentar. "Iya, ya. Sudah dua bulan ini tidak ke rumahmu."
Gadis berambut light pink itu ingin berbicara, namun disela oleh Kira.
"Maaf, Lacus. Aku ada janji Minggu besok."
"...s-sou desu ka." Senyum paksa terlihat jelas di wajah Lacus.
"Tapi tenang saja, Cagalli pasti bisa datang ke rumahmu," katanya lagi sambil tersenyum. Ia menutup loker seraya memakai sepatu berwarna putih-hitam miliknya. "Lagipula, aku tak bisa terus-terusan jadi obat nyamuk di antara kalian. Cagalli pasti ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu."
"..." Mendengar ucapan Kira, membuat Lacus menunduk. "Ehmm."
Suasana hening tercipta setelahnya.
Dalam diam, Kira melirik ke arah gadis yang berdiri satu meter darinya. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, pasti Kira ada janji untuk kencan. Iya, kan?" tebaknya dengan nada ceria seperti biasa. "E-eh? Bisa terbaca dengan jelas, ya?" Terlihat laki-laki itu salah tingkah dan mengalihkan pandangannya ke samping. Melihatnya tentu saja membuat Lacus kembali menahan tawa. "Ternyata tebakanku benar," katanya pelan. Entah kenapa pandangannya terlihat sendu.
"Menurutmu, aku harus pakai baju apa saat kencan dengan Athrun?"
"...Athrun?"
Terlihat Kira mengangguk sekali. "Aku akan berkencan dengannya."
L. A. Y. L. A.
Di kediaman Zala, Athrun tampak berniat untuk tidur. Namun lagi-lagi tiga buah buku yang tertumpuk di atas meja membuatnya beranjak dari kasur. Ia menghela napas berat seraya menarik kursi belajar dan mendudukinya. "Aku sudah lelah, tapi tetap saja tidak bisa tidur tenang kalau tak membaca satu buku," keluh Athrun sambil membuka satu buku yang berada di tumpukan paling atas.
ORB Union. Tulisan itu tercetak secara samar-samar di cover.
Kedua mata Athrun tiba-tiba menyipit.
"Tak adakah alat penerjemah tercepat di sini?" gumamnya kesal karena semua tulisan berbahasa Inggris. Belum lagi bentuk tulisannya tegak sambung. Ia menyangga dagu dan berusaha membaca tulisan tersebut semampunya.
"Orb is a nation whose territory encompasses several islands to the east of New Guinea. The official name of the mainland is Yalafath, where the Orb capital, Olofat, is located. The official language is Japanese." Nampaknya ia mengerti sedikit banyak tentang isi dari buku itu. Athrun kembali bergumam, "the Island nation itself controls its own Mass Driver, called..."Kaguya" the space colony Heliopolis, which serves as a resource satellite, and also another space military satellite Ame-no-Mihashira. Because of Orb's relative political and economic stability and stance as a neutral nation, it is known as the "Land of Peace"."
Drrrt, drrrttt.
Athrun mengambil ponselnya yang tergeletak di sisi kirinya.
'Athrun, ternyata Cagalli yang kau sebut itu, salah satu mantan Representatif ORB!'
"Eh?" Belum sempat ia membalas, sebuah pesan kembali muncul.
Klik. Perlahan gadis itu membalikkan halaman buku yang dibacanya sambil membaca teks dari Nicol. 'Menurut catatan, dia Representatif termuda karena usianya masih 16-17 tahunan saat menjadi pemimpin ORB. Coba kau cari di buku yang kau pinjam tadi. Pasti ada profilnya.' Athrun menuruti perkataannya dan langsung mencari profil para pemimpin ORB yang hanya ada dari CE 30 sampai CE 214.
Jari telunjuknya menelusuri tiap nama yang ada di daftar isi.
"Cagalli Yula Athha... Cagalli Yula Ath—ketemu... huh?"
Gerakan Athrun terhenti secara tiba-tiba begitu menyadari sesuatu. "Bukannya Chief Representative saat ini juga bermarga Athha?" gumamnya sambil menepuk kening. Ia kembali menatap sederet nama di daftar isi dan benar. Nama Cagalli Yula Athha tertulis di sana setelah Uzumi Nara Athha memimpin.
Drrrt, drrrttt.
Dengan segera gadis itu membuka pesannya. Klik.
'Bagaimana? Ketemu, kan?'
'Iya, ketemu. Thanks, Nicol.'
Setelah membalas pesan, Athrun kembali berkutat dengan bukunya. Entah ia harus bersyukur atau tidak, karena di semua profil tak ada satu pun foto yang memperlihatkan wajah mereka. "Genetic type, Natural. Bergolongan darah A dengan rambut blonde dan bermata hazel. Lahir pada tanggal 18 Mei CE 55 dan berjenis kelamin... perempuan?" Ucapan Athrun terputus begitu membaca jenis kelamin dari Cagalli Yula Athha.
"Kukira dia laki-laki," gumamnya sambil berdiri dari kursi dan membaca buku itu di atas kasur dengan bersandar pada bantal.
Suasana kembali hening saat ia membaca lagi.
"Marga keluarganya beda-beda?" Rasa heran lagi-lagi memenuhi hati Athrun.
Di sana tertulis dengan jelas ada empat marga, yaitu Athha, Hibiki, Yamato dan... "ZALA!?" Wajah gadis itu jelas terlihat kaget, apalagi setelah melihat namanya—Athrun Zala—ada di deretan empat terbawah. Mendadak tubuhnya lemas lalu ia memilih untuk menutup buku tersebut. Tingkahnya terlihat seperti orang linglung.
"Ini... bohong, kan?"
To Be Continued
Mizu nggak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang #nengok kalender# selain meminta maaf dan berterimakasih pada semua reader, reviewer, dan para senpai. Mizu tahu, ini agak kelewatan karena selalu hiatus tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan selalu lewat deadline. :) Sepertinya budaya 'lewat deadline' akan terus bersemayam di hati Mizu. #pundung#
Sekali lagi, Mizu minta maaf. #bow#
Tapi selama liburan ini, Mizu akan usahain untuk meng-update semua fanfiction Mizu yang belum kelar. Termasuk CLBK. :)
Mizu juga akan publish fic baru dan gara-gara fic itu, Mizu bisa bawa pulang piala. #peace(?)
Big Thanks for popcaga, aeni hibiki, Cyaaz, mrs. zala, Nelshaafeena AthhaZala, Hoshi Uzuki, nitameicya, lezala, pandamwuchan, dan semuanya. :) #bow#
Mizu akan kasih spoiler untuk 2 chapter mendatang. :D
Bad Or Good Feeling
"A-apa yang terjadi?"
"Lebih baik kau lihat mereka dari sini."
"Aku tak bisa tinggal diam!"
"Percuma kau menghentikan mereka! Mereka takkan mau mendengarmu."
.
...kenapa perasaanku jadi tak menentu seperti ini?
.
"Akhir-akhir ini, kau tidak pernah tidur lagi di kelas. Ada masalah?"
"Ada sesuatu... yang membuatku kepikiran."
"Tentang?"
"Archangel High School dan... Bloody Valentine War."
.
.
.
Double Date
"Maaf, kalau membuatmu kaget, tapi aku... punya perasaan lebih padamu."
"...!?"
.
"..."
"Maaf, sejak awal, aku... m-menyukainya."
Srek. "Maaf, aku harus pulang sekarang."
"T-tunggu!"
.
"S-sial! Kenapa jadi kacau begini!?"
.
.
.
Sankyuu!
Update : 28 Juni 2013
