Author Note : Yay, chappy keduaku sudah selesai. Chappy kedua ini lebih membahas Sora dan teman-teman lamanya. Mungkin sedikit kurang seru, karena konflik nya belum muncul (jujur banget sih aku). Tapi, yah aku butuh ini sebagai pengantar. Tetep RnR yach ^^

Kingdom Hearts 4 : A Life After Journey

Chapter 1

Sesampainya kembali di Destiny Island, Kami langsung pulang ke rumah kami masing-masing. Dalam perjalanan, aku masih saja memikirkan prilaku Kairi tadi. Bagiku, rasanya aneh sekali. Ia kan tau kalau Riku itu kuat. Untuk apa dia mencemaskannya? Apalagi lawannya kan aku. Jadi tidak mungkin kalau aku akan benar-benar menghajar Riku. Apa mungkin Kairi suka pada Riku? Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

"Riku, aku duluan ya! Kita berpisah disini." kata Kairi sambil melambaikan tangan.

"Ya, hati-hati ya!"balas Riku. Ia juga melambaikan tangan pada Kairi. Ugh, aku seperti tidak dianggap oleh mereka.

Setelah Kairi menghilang dari pandangan, aku segera mempercepat langkahku. Ingin rasanya aku segera sampai dirumah.

"Hey, tunggu Sora!" kata Riku setengah berteriak. Ia juga mempercepat langkahnya agar bisa berjalan beriringan dengan ku. "Hey, kamu kenapa sih? Ngambek ya?" tanyanya menggoda.

"Siapa yang ngambek?"jawab ku seenaknya. Entah kenapa rasanya aku kesal sekali pada Riku. Ingin rasanya aku meninju wajahnya sekali lagi.

"Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku kan hanya bercanda." Katanya mengelus kepalaku. Ia tampak senang sekali menggoda ku.

Aku segera melepaskan tangannya dari kepalaku. "Riku, jangan cari masalah denganku ya! Saat ini mood ku sedang jelek!" kataku marah. Aku segera meniggalkannya dengan perasaan kesal.

-At Home-

Sesampainya dirumah,aku langsung melempar badanku ke kasur. Pikiranku masih menebak-nebak tentang perasaan Kairi pada Riku. Apakah mungkin Kairi menyukai Riku? Hanya itu yang terbayang di pikiranku sekarang.

Setelah perasaan ku agak tenang, aku bangkit menuju kamar mandi. Badanku kotor akibat berkelahi dengan Riku tadi. Kalau saja ibuku dirumah, aku pasti sudah dimarahi karena pulang dengan badan kotor dan luka disana-sini. Untung saja ibuku kerja.

Aku mengunci pintu dan menyalakan shower. Air yang membasahi tubuhku rasanya nyaman sekali. Aku terus terdiam menikmati guyuran shower. Sampai akhirnya, pintu kamar mandi ku digedor oleh seseorang. Aku nyaris saja terjatuh kebelakang karena kaget.

"Siapa itu?" tanyaku. Aku segera mematikan shower agar bisa mendengar suara orang yang menggedor pintuku lebih jelas.

"Ini ibu. Apa kamu belum selesai juga mandinya? Sudah lebih dari 15 menit lho!" seru orang itu. "Cepatlah, nanti kamu masuk angin!"

"I..iya..tunggu sebentar."jawabku. Aku kaget sekali mendengarnya. Ternyata ibuku sudah pulang. Sebenarnya sudah berapa lama aku berdiri terdiam? Ah, tapi itu bukan hal yang harus dipikirkan.

Akupun segera mandi ala cowboy agar tidak terlalu lama dikamar mandi. Setelah mengenakan pakaianku, aku segera turun menemui ibuku didapur.

"Mandimu lama sekali Sora. Sampai menyaingi mandi ibu lho!" kata ibuku menggoda.

"Iya maaf. Tadi aku ketiduran dikamar mandi."kataku sedikit tertawa.

"Ya sudah, kamu makan dulu."kata ibuku. Ia segera menuangkan sup kemangkuk dan menyodorkannya padaku. "Nah ayo makan, biar kamu tidak masuk..."ia menghentikan perkataannya ketika melihatku. "Sora, apa yang terjadi?" katanya sambil menunjuk pipiku.

Aku langsung sadar kalau aku belum merawat lukaku. "Ah...itu..um..tadi aku terkena bola baseball yang dipukul Riku bu."kataku berbohong. Aku tidak ingin ibuku tahu kalau aku habis berkelahi dengan Riku.

"Oh, makanya lain kali hati-hati."katanya lega. "Nah, ayo cepat makan. Nanti habis itu ibu obati lukamu."kata ibuku tersenyum.

"Ah, tidak usah. Nanti biar kulakukan sendiri. Aku kan sudah bukan anak kecil lagi bu!"kataku sambil meyendokkan sup ke mulutku. Ibuku memang menjadi lebih memanjakan ku setelah kepulangan ku ke Destiny Island. Mungkin ia merasa takut kehilangan ku lagi. Sehingga ia menjadi lebih memanjakan ku dan sangat protective terhadap ku.

"Hihihi...Sora ternyata sudah besar sekarang."katanya sambil mengelus kepalaku. Sebenarnya aku kurang suka kalau kepalaku dielus seperti itu. Aku merasa diperlakukan seperti anak kecil. "Baiklah kalau begitu. Ibu ada di kamar kalau kau butuh sesuatu."katanya sambil beranjak pergi.

Aku segera menghabiskan sup ku agar bisa cepat-cepat ke kamar. Setelah sup ku habis, aku segera mengambil Hansaplast dan segera menempelkannya ke lukaku. Aku malas merawat lukaku. Ini kan hanya luka kecil. Apalagi, akan lebih baik jika Kairi melihat ini. Siapa tau dia bisa menjadi lebih perhatian padaku.

Aku pun segera masuk ke kamar dan membaringkan badan ku di kasur. Besok aku, Riku dan Kairi masih libur, tapi kami belum punya janji untuk bermain bersama-sama besok. Terlebih lagi, aku masih kesal sama Riku. Jadi kurasa, aku akan pergi ke lapangan saja besok. Yah, sekaligus menemui teman-teman lama ku dulu. Aku segera menarik selimutku dan tidur.

- At the next day –

Setelah mandi, aku langsung pergi ke lapangan. Rencananya sih, aku mau bermain bola bersama teman-teman lama ku dulu.

"Sora!" teriak seseorang dari belakang. Aku segera membalikan badanku. Ternyata dia adalah Sneifer, teman lama ku dulu.

"Ah, Sneifer!" balasku.

"Ya, ini aku. Ku pikir kamu sudah lupa padaku."katanya sambil berlari ke arahku. "Soalnya kamu sudah menghilang lama sekali sih! Dan sejak kepulanganmu satu tahun yang lalu, kamu tidak pernah bermain bersama kami."katanya sedih.

"Mana mungkin aku lupa Sneifer. Aku kan belum pikun."kataku sambil tertawa.

"Ngomong-ngomong, kamu langsung melompat ke SMA ya?" tanya Sneifer.

"Yup. Aku, Riku, dan Kairi langsung melompat ke SMA."jawabku dengan nada bangga.

"Berarti, kamu akan jadi adik kelas ku."kata Sneifer sedikit mengejek.

"Huh, biarin aja. Memangnya, siapa yang peduli?"jawab ku singkat. "Ah, Sneifer. Apa hari ini yang lain akan berkumpul di lapangan?"

"Ya, sepertinya begitu. Aku juga mau ke lapangan. Kamu mau ikut?" tanyanya.

"Tentu saja. Ayo kita pergi!" kataku mantap.

Sneifer hanya mengangguk mendengarkan ku. Kami pun segera pergi ke lapangan. Aku merasa senang sekali. Ternyata Sneifer masih belum berubah. Aku berharap yang lain pun begitu. Jadi kami bisa tetap berteman seperti dulu.

-At the field-

Sesampainya di lapangan, ternyata teman-teman ku sudah berkumpul disana. Aku senang sekali bisa bermain lagi dengan mereka. Ada Revan, Xana, Zeth, Antonio, dan Reychia.

"Nah, itu dia. Akhirnya Sneifer datang juga." Teriak Xana.

"Hey, teman-teman! Lihat siapa yang kubawa!" teriak Sneifer sambil berlari kearah mereka. Aku pun mengikuti Sneifer dari belakang.

"Sora!"teriak Zeth. Mereka pun segera berlari mengerumuni kami.

"Hey Sora, kemana saja kamu selama ini?"tanya Revan.

"Iya, kami dengar kamu sudah pulang dari setahun yang lalu."kata Reychia. "Tapi kamu tidak pernah menemui kami."serunya sedih.

"I..iya. Aku memang sudah pulang setahun yang lalu. Maaf ya aku belum sempat menemui kalian. Soalnya aku harus belajar extra untuk mengejar ketertinggalanku." Kataku menjelaskan.

"Oh iya, kamu langsung melompat ke SMA ya? Berarti kamu akan jadi adik kelas kami."kata Antonio sedikit mengejek.

"Huu, biarin. Lagipula itukan bukan karena aku tidak naik kelas."kataku bercada. Mereka pun tertawa mendengar elakan ku.

"Oh, iya. Kami mau main bola nih! Kamu mau ikut Sora?" tanya Antonio kepadaku.

"Boleh. Soalnya sudah lama aku tidak bermain bersama kalian."jawab ku.

Tanpa berlama-lama, kami sudah asyik dalam permainan kami. Karena jumlah kami ganjil, terpaksa kami bermain dengan jumlah orang yang berbeda. Aku bersama Sneifer dan Xana. Lalu Revan, Antonio, Reychia juga Zeth yang menjadi lawan kami.

Karena sudah lama tidak bermain bola, kemampuan dribble ku menurun. Tapi kalau soal menendang dan mengambil bola, kemampuanku malah meningkat. Hehehe...soalnya aku sudah terbiasa dalam bertempur. Jadi tenaga dan kelihaianku sudah meningkat jauh.

Ups, tapi kan aku bertempur menggunakan tangan. Yah, meski begitu, bukan berarti aku tidak menggunakan kaki. Selama 3 tahun, aku selalu berjalan dan melompat kesana-sini. Jadi kaki ku juga menjadi lebih kuat. Eh, kenapa malah cerita soal kakiku?

"Sora!"teriak Sneifer sambil mengoper bola padaku.

"Yak, dapat!" teriakku. Aku pun segera mengambil ancang-ancang untuk menendang sementara Sneifer dan Xana menahan Revan dan Rechia. Hehehe...berhubung jumlah kami sedikit, jadi Xana dapat merangkap sebagai keeper dan striker.

"Awas!"teriak Revan. Namun sayang sekali, bolanya sudah masuk ke dalam gawang.

"Yeah!"teriakku bangga. Ini sudah gol ke-3 yang ku cetak dalam setengah jam.

"Kamu hebat Sora!"kata Sneifer sambil merangkul leherku. "Sebenarnya apa sih yang kamu lakukan selama 3 tahun ini?"tanyanya.

"Hehehe...ada deh."balasku sambil tersenyum misterius.

Kami pun bersiap lagi untuk bermain. Permainan dimulai dengan giringan bola dari Revan. Ternyata ia cukup lihai juga menggiring bola. Sneifer saja gagal merebut bola darinya. Tapi berbeda dengan ku. Aku berhasil merebut bola dari kaki Revan. Tapi saat aku akan menggiring bola, aku melihat Riku berjalan berdua dengan Kairi.

"Hei Sora!"Teriak Sneifer dari belakang. "Jangan bengong saja. Tuh bolanya sudah direbut lagi oleh Revan."teriaknya.

Aku baru sadar kalau ternyata bolanya memang sudah kembali pada Revan. "Ah, maaf."kataku. Aku langsung mengejar Revan. Namun sayangnya, Revan sudah menembakan bolanya ke gawang.

"Yeah!"serunya girang. Dia berhasil mencetak satu angka.

"Maaf ya, aku kurang fokus tadi!" kataku pada Sneifer dan Xana.

"Kamu kenapa Sora?"tanya Xana. "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya lagi.

"Ah tidak kok. Hanya saja..." aku menghentikan perkataanku. "Maaf teman-teman, aku harus pergi."kataku sambil beranjak pergi.

"Mau kemana Sora?" tanya Revan setengah berteriak.

"Ada urusan!"teriakku sambil berlari.

Aku tidak akan membiarkan Riku dan Kairi hanya berdua saja. Ada apa sebenarnya dengan mereka? Kalau mereka ingin pergi, seharusnya kan mereka mengajakku? Apa mereka saling menyukai? Dan Riku akan menyatakan perasaannya pada Kairi? Atau lebih dari itu, mereka sudah pacaran dan sekarang sedang kencan? Aah...kenapa jadi ngaco gini sih.

Aku segera mempercepat langkah ku. "Awas saja Riku. Kalau dia sampai menyatakan cintanya pada Kairi, akan ku hajar dia!" gumam ku dalam hati.

To Be Continued

Author Note : Maap ya kalo nama temen-temennya Sora aneh-aneh. Aku ga punya ide sih. Review ya! ^^