Author Note : Yay, chapter ke-3 ku. Semoga kalian gak bosan yah sama ceritaku ^^ jadi, langsung RnR aja!

Kingdom Hearts 4 : A Life After Journey

Chapter 2

Aku berlari mengejar Riku dan Kairi yang sudah pergi berdua lebih dulu. Aku penasaran, apa yang sebenarnya mereka ingin lakukan? Berkencankah? Atau memang ada urusan lain. Aku terus menerka-nerka.

"Itu dia!" seruku saat kulihat Riku dan Kairi sedang berjalan bergandengan memasuki sebuah bangunan.

"Bi..bioskop?" kataku setengah kaget. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka pergi ke bioskop tanpa mengajakku? Terlebih lagi, mereka hanya pergi berdua saja. Apa ini kencan? Aku sudah tidak bisa berpikir jernih. Macam-macam hal terbayang di pikaranku sekarang. Apa benar dugaan ku selama ini.

"Sial!..Sial!"desahku kesal. Tapi aku tidak bisa berdiam saja. Aku harus ikut masuk juga. Aku harus masuk dan memastikan kalau dugaan terburukku ini benar atau tidak.

Akhirnya aku ikut memasuki bioskop. Aku sengaja memilih kursi yang agak jauh dari Riku dan Kairi agar mereka tidak tahu kalau aku sedang mengikutinya. Tapi sepertinya dugaan ku salah. Ketika aku selesai membeli tiket, Riku datang menghampiriku.

"Yo Sora! Mau nonton juga?"katanya tersenyum. Aku kaget melihatnya sedang berdiri tepat dihadapanku. Riku memang hebat. Kewaspadaannya masih belum menurun sedikitpun dari 3 tahun yang lalu. Ia bisa menyadari ku yang sedang mengikutinya. Atau mungkin aku yang terlalu payah dalam mengikuti. Ah, tapi itu tidak penting.

"Ah, umm..tidak kok. Aku Cuma..."kataku terbata-bata. "Mengikutiku dengan Kairi?" sambung Riku.

"Aku tidak mengikutimu dengan Kairi kok."bantah ku.

"Oh, baguslah kalau begitu."katanya tersenyum. "Hmm...kalau begitu, kamu bergabung saja dengan kami."ajak Riku sambil menarik tanganku.

"Ti..tidak usah!"kataku sambil menarik kembali tanganku.

"Lho? Kenapa?"tanya Riku. "Ooh, jadi kamu sudah punya janji dengan orang lain yah hari ini?" sambung Riku tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Aku jadi bisa bersama dengan Kairi seharian hari ini."

Bersama Kairi seharian? Uuh, itu benar-benar membuatku kesal. Rasanya aku ingin sekali memukulnya lagi, tapi kutahan emosiku itu. "Kamu sendiri mau apa Riku?" tanyaku penasaran.

Riku tersenyum penuh rahasia. "Hmm...kasih tahu gak ya!?"katanya setengah menggoda. Aku sudah tidak tahan lagi. Segera kutarik Riku ketempat yang agak jauh dari Kairi.

"Riku, kamu sedang apa dengan Kairi sebenarnya? Jawab pertanyaanku sekarang!"kataku sambil mendorongnya ke tembok.

Riku tersenyum kecil kearahku. "Sekali lihat juga tau kan? Apa yang seorang pria lakukan bila ia pergi berdua dengan seorang perempuan."jawabnya sambil mendorong tubuhku sedikit.

Emosiku meledak. Tak terasa kalau aku sudah mengepalkan tinjuku dan bersiap-siap untuk memukulnya.

"Riku! Kamu dimana? Filmnya sudah mau mulai nih!" terdengar suara Kairi yang sedang memanggil Riku. Aku segera menahan emosiku agar tidak sampai meledak. Huh, kalau saja ia sedang tidak bersama Kairi, sudah kuhajar lagi dia.

"Ya, aku segera kesana." Jawab Riku. "Nah, selamat bersenang-senang, Sora!" katanya sambil berlalu.

Aku terdiam ditempat. Ternyata Riku memang sedang berkencan dengan Kairi. Ingin rasanya aku pulang. Karena kupikir aku hanya akan menyakiti diriku sendiri bila melihat mereka berdua berkencan. Aku segera meremas tiket yang sudah kubeli dan segera keluar dari bioskop.

Tubuhku terasa lemas sekali. Mungkin ini yang dinamakan 'patah hati'. Saat dimana orang kehilangan harapan pada orang yang dicintainya. Aku terlalu lemas, sehingga aku putuskan untuk duduk sebentar di kursi taman.

Tak terasa, hari mulai menjadi siang. Entah berapa lama aku terduduk, yang jelas hatiku ini masih saja terasa sakit. "Mungkin sekarang Riku dan Kairi sedang bermesraan berdua."gumamku dalam hati. Kenapa harus Riku yang bersama Kairi? Kenapa bukan aku? Aku terus mendesah sendiri.

Kulirik jam ditanganku, ternyata sudah jam 13.00. Mungkin sebaiknya aku pulang saja. Daripada aku temenung sendirian ditaman begini. Segera aku beranjak dari tempat duduk ku dan melangkah pulang.

Baru saja beberapa langkah dari tempatku terduduk, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Mata ku tertuju pada seorang pedagang es krim yang sedang berjalan melewati taman. Hmm...sepertinya enak juga makan es krim panas-panas begini. Entah kenapa rasanya aku ingin sekali makan es krim itu.

Segera kulangkahkan kakiku mengejar pedagang es krim itu. "Hmm...maaf, boleh aku minta es krimnya?"kataku setelah cukup dekat dengan pedagang es krim tersebut.

"Eh, tentu saja."katanya menoleh. Ia segera menghentikan langkahnya. "Mau rasa apa dik?" katanya seraya membuka tutup gerobaknya dan membiarkanku memilih.

Aku melihat-lihat es krim yang ada disana. Ternyata ada banyak rasa es krim yang belum pernah kucoba sebelumnya. "Honeybunny, donald's fizzy, black rose, fizzy bear, hmm...unik-unik juga ya namanya."kataku mengambil es krim tersebut satu-persatu. Sayang uang ku sudah hampir habis untuk tiket bioskop yang batal kutonton itu.

"Hmm...ini aja deh!" seru ku sambil mengambil satu es krim yang terbungkus kertas perak sederhana dengan cap mahkota berwarna kuning diatasnya. "Yang ini rasa apa, pak?" tanyaku.

"Hmm...sea salt ice cream. Vanila dengan sedikit rasa asin. Biasanya anak-anak suka sekali dengan es krim yang ini. Rasanya manis dan gurih."katanya menerangkan. Aku mengangguk. Segera kubayar es krim yang kubeli itu. Hanya 40 munny yang tersisa di saku ku. Untung saja cukup. Kan gak enak kalau tidak jadi beli hanya karena tidak punya uang. Teng-shin lah .

"Ini pak,"kataku seraya menyerahkan seluruh uang ku yang tersisa.

Setelah menerima uangku, pedagang es krim itupun segera beranjak pergi. "Oh iya!" sentaknya seakan ada yang terlupa. "Kalau kamu beruntung, kamu akan menemukan gambar mahkota di stik es krim itu. Kalau kamu mendapatkannya kamu bisa menukarkannya dengan hadiah."katanya menoleh padaku. "Yah, kalau kamu berminat, kumpulkan saja stik yang ada cap mahkotanya. Semakin banyak, maka hadiahnya juga semakin besar."

"Oh, begitu."jawab ku singkat. "Tapi dimana aku menukarkannya?"tanya ku bingung.

"Kalau dari sini sih yang paling dekat yang ada dibelakang bioskop. Tapi di taman ria juga ada, sayangnya saya tidak tahu persisnya."jelasnya sambil melangkah pergi.

Yah, lumayan juga sih kalau bisa ditukarkan. Tapi sayangnya aku tidak bisa menghadiahkannya pada Kairi. Aku menghela nafas panjang. Sebaiknya aku melupakan Kairi. Ia sudah menjadi milik Riku.

Aku segera berjalan pulang sambil membuka es krim ku. Hmm...ternyata benar. Rasanya benar-benar enak. Aku terus mengemut sea salt ice cream itu sepanjang perjalanan.

Di tengah jalan, tepat di persimpangan di dekat rumah Kairi, aku melihat Riku sedang berdiri disana bersama denga Kairi. "Apa yang sedang ia lakukan disana?" gumamku. Akupun segera mendekatinya.

"Kairi, selamat ulang tahun ya! Semoga kamu jadi lebih dewasa tahun ini. Sehat selalu, dan jadi semakin baik."kata Riku lembut.

Aku terkejut mendengar nya. Kairi ulang tahun? Sekarang? Bagaimana mungkin aku melupakannya. Aku benar-benar lupa akan ulang tahun Kairi. Mungkin karena kecemburuanku dengan Riku yang terlalu besar, sehingga aku lupa kalau Kairi, orang yang selalu kuperebutkan dengan Riku sedang berulang tahun sekarang.

"Kairi, ini hadiah dariku."kata Riku seraya memberikan sebuah benda di genggaman Kairi.

"Wah, apa ini?" kata Kairi membuka genggamannya.

"Sebuah liontin. Maaf ya kalau kamu kurang menyukainya."

"Wah, ini indah sekali. Terimakasih banyak ya Riku."kata Kairi memeluk Riku. Wajah Riku langsung memerah karenanya. Tapi aku malah merasa sangat kesal.

Kenapa aku bisa lupa sih!? Kairi pasti makin membenciku karena ini. Hancur sudah semuanya. Aku terus mendesah sendiri.

"Sora!? Sedang apa kamu disini?" tanya Riku. Aku kaget saat melihat Riku dan Kairi sudah berada dihadapanku.

"Ah..umm...aku..."jawabku bingung. Aku benar-benar lupa kalau hari ini Kairi ulang tahun. Sehingga aku tidak membawa kado apa-apa.

"Hari ini Kairi ulang tahun lho? Kamu belum mengucapkan selamat kepadanya, Sora?" tanya Riku. "Atau...jangan-jangan kamu lupa?"tanyanya.

Aku terdiam. Tak tau mau menjawab apa. "Umm...selamat ulang tahun ya Kairi!"kata ku pelan. "Sebenarnya, aku lupa kalau hari ini kamu ulang tahun. Jadi, hadiahnya besok saja ya?" kataku sedikit tersenyum.

"Huh, kamu jahat sekali Sora. Masa lupa sama ulang tahunku!"kata Kairi. Ia terlihat kurang puas akan ucapan selamat ku.

"Ah, maaf ya." Pintaku memelas. "Aku janji deh, besok pasti kukasih hadiahnya."kataku terus merayu agar Kairi mau memaafkanku

Kulihat Kairi masih tidak mau menatapku. Aku menundukan kepalaku sedikit. Kairi pasti sangat kecewa kepadaku. Ia pasti berpikir kalau aku sudah tidak peduli lagi dengannya. Ugh, ini semua gara-gara Riku. Coba kalau tadi ia memberitahu ku kalau hari ini Kairi berulang tahun.

"Yah, tapi mau bagaimana lagi. Itulah Sora." Kata Kairi tersenyum dan berbalik kearahku.

"Eh, umm...kamu tidak marah Kairi?" kataku kebingungan.

"Hihihi...aku sudah lama berteman dengan mu Sora. Kalau kamu tidak lupa, bukan Sora namanya."jawabnya tersenyum.

Aku benar-benar senang mendengarnya. Ternyata Kairi mau memaafkanku. Lega sekali perasaan ku. "Hum, aku janji deh. Besok pasti aku bawa hadiahnya."kataku mantap.

"Tapi Sora.." katanya terhenti sejenak. Kemudian ia saling memandang sama Riku. "Karena kamu lupa akan hadiahku, kamu harus mentraktir aku dan Riku makan siang selama seminggu." Kata Kairi sambil menjulurkan lidahnya.

"Eh, tapi kenapa Riku ju..."

"Daag, aku pulang dulu yah!"potong Kairi sambil berlari.

"Sora, jangan lupa traktirannya yah. Aku menunggu lho!" kata Riku mengejek. "Sampai jumpa lagi!" katanya melangkah pergi.

"Hey, apa-apaan ini? Riku, kamu tidak masuk hitungan tau!"kata ku berteriak. "Pokoknya kamu tidak aku traktir!" teriakku kesal. "Hei Riku, dengar aku!"

To Be Continued

Author Note : Makasih yah udah mau baca chapter ke-3 ku ini. Maaf banget kalo ada banyak deskripsi yang kurang, aku masih baru belajar soalnya. Kalo punya saran ato ide, review aja ya. Yang ga punya pun gpp kok, yang penting review ^^