Hikari presents

HongMina Fict

Warning : abal, Typo(s), gaje, OOC

.

.

.

HAPPY READING ^^


"Appa, bisakah kita tinggal lagi di Jepang seperti dulu?"

"Tidak Hongki-ah. Appa sudah ditetapkan terus bekerja di Seoul."

Hongki menghela napas mengingat obrolannya tadi pagi dengan ayahnya. Dan kali ini dia kembali gagal untuk bertemu orang yang sampai sekarang masih Hongki sayangi. Fuji Mina, sudah sembilan tahun ini tak ada kabar apapun mengenainya. Apa kabar ia di Jepang? Apa masih ingatkah ia dengan dirinya? Dan bagaimana reaksinya jika mereka bertemu kembali? Pertanyaan itu terus berputar-putar dikepala Hongki selama ini. Dan...satu lagi, yang membuat Hongki sedikit terusik ; apakah ia akan terus menganggap Hongki adiknya melihat mereka sudah beranjak dewasa?

Padahal dijaman sekarang banyak sekali alat komunikasi canggih, tapi meskipun begitu, Hongki tak kunjung mengetahui kondisi tetangganya sekaligus temannya waktu masih di Jepang dulu.

"Hongki-ah, kau tidak pulang?"

Lamunan Hongki seketika terhempas saat sebuah suara mengintrupsinya. Ia baru sadar bahwa ia masih berada di halte untuk menunggu bus yang menuju rumahnya.

"Duluan saja. Aku sedikit malas pulang awal."

Temannya sedikit menaikkan sebelah alisnya. Akhir-akhir ini temannya yang terkenal ceria itu selalu melamun dan sering menghela napas layaknya kakek-kakek. Dan paling anehnya, dia menjadi lebih pendiam dari biasanya, membuat sahabatnya itu khawatir.

"Hongki, kau tak apa?" Jonghun menepuk bahu Hongki. Dengan sedikit senyuman, Hongki membalasnya.

"Gwaechanna. Aku hanya sedikit...putus asa."

"Putus asa?"

"Sudahlah lupakan. Lihat! Busnya sudah datang. Sana pergi."

Hongki mencoba mendorong Jonghun dengan sedikit kasar, membuat Jonghun gusar.

"Eh?! T-tunggu. Kau tidak apa? Jeongmal?"

Hongki mengangguk, meyakinkan temannya. Dengan langkah sedikit ragu, Jonghun menaiki bus yang sudah berhenti tepat di depannya.

"Kalau begitu aku duluan."

Dan kini Hongki sendirian di halte dekat sekolahnya. Beberapa detik kemudian ia mengerling jam tangannya. Masih pukul lima sore. Kembali ia menghela napas. Sungguh! Ia ingin bertemu dengan 'nuna' nya yang sangat ia sayangi. Hongki tersenyum, membayangkan 'nuna' nya yang dulu sangat suka menasehatinya dan menangis saat dirinya sakit panas, dan juga seorang gadis cilik dengan lesung pipi yang amat Hongki sukai kini tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan ramah. Ah, mungkin kini ia sudah menjadi mahasiswi mengingat jarak dua tahun diantara mereka.

Dan Hongki sedikit menyesal karena selama dia tinggal tiga tahun di Jepang tidak sempat berfoto dengannya. Hanya sebuah kancing baju sebagai kenang-kenangannya.

"Andai aku bisa bertemu denganmu nuna."

Hongki bergumam sendiri. Dan ia sedikit tersentak saat ada seseorang yang menepuk bahunya dengan lembut.

"Annyongaseo." Seorang wanita cantik tengah tersenyum padanya dan mengangguk sopan.

Hongki mengangguk balas sebagai responnya.

"Jweosonghamnida. Bisakah kau memberi tahukan alamat ini?"

Sejenak Hongki tidak langsung menjawab pertanyaan wanita yang ada di hadapannya. Ia malah memandanginya dari atas sampai bawah. Cukup cantik. Itu yang pertama Hongki pikirkan. Dan Hongki mengira ia lebih tua dari dirinya.

Wanita itu menaikkan sebelah alisnya. Oh God! Mungkin ia salah orang untuk bertanya. Lihatlah penampilannya yang berantakan itu? Mana ada seorang siswa yang sesore ini masih di jalanan dengan seragam yang sudah tidak bisa dikatakan rapi. Dan...apa itu? Rambutnya panjang sampai bisa dikuncir seperti itu? Wanita itu memutar bola matanya, pasti bocah ini adalah anak bandel di sekolah -pikirnya.

Dengan malas ia akhirnya melambaikan sebelah tangannya untuk menyadarkan pemuda yang ada di hadapannya dari lamunannya, kemudian berdecak.

"Hei, kau tahu alamat ini tidak?" Wanita itu mengangsurkan secarik kertas pada Hongki yang segera diterima olehnya.

Hongki mengernyit, "Memang ini urusanku ya? Cari sendiri tidak bisa?" kemudian Hongki dengan seenaknya membuang kertas itu. Membuat wanita yang ada dihadapannya menggeram marah.

"Ya! KAU!" ingin sekali ia menjewer telinga pemuda itu, namun niatnya gagal saat pemuda itu pergi dan menyadari bahwa ia akan malu sendiri jika mengikuti egonya. "Oh...sudahlah. Aku memang salah orang untuk ditanyai." dengan lesu ia memungut kertas yang berisi alamat yang ia tuju, kemudian memandangnya, menghela napas "Baiklah! Sekarang aku harus kemana lagi? Fuji Mina, kau harus ekstra sabar untuk tinggal di negeri orang lain."

Wanita yang diketahui bernama Fuji Mina itu berhenti melangkah dan berkata dalam bahasa yang lain dari sebelumnya, "Yang tadi itu...seperti pernah bertemu. Demo... Dareka?" Tanpa memikirkan lagi, Mina kembali melangkahkan kakinya untuk melanjutkan tujuannya.

.

.

.

"Sudah kubilang 'kan? Hyung jangan menginap lagi di apartemenku!"

"Ini bukan apartenmu Jaejin-ah. Tapi orang tuamu."

Pemuda manis bernama Jaejin itu menatap sengit sepupunya yang dengan santainya menyeruput cola sambil memainkan PS-nya. Hobi kakak sepupunya yang sering menginap di apartemennya membuat Jaejin semakin risih.

Padahal rumahnya lebih besar daripada tempat tinggalnya. Dasar absurd! Jaejin lebih suka mengatainya seperti itu. Ah...mungkin karena Hongki hyung kesepian dirumah yang sebesar itu -Jaejin mencoba berpikir positif.

Dan lagi, bukannya ibunya menasehati Hongki untuk pulang, malah dengan senang hati ibunya membiarkan Hongki menginap selama yang ia suka.

Jaejin mendengus sebal. Kakak sepupunya menginap, semua yang ia suka direbut olehnya. Sungguh menyebalkan!

Mendengus sekali lagi, Jaejin melempar stik PS-nya dan melesatkan diri ke ranjang dengan menyusupkan diri keselimut tebalnya. "Kali ini kau tidur di bawah hyung!"

"Apa? Tidak! Kau kan kecil. Tuh ranjangmu masih muat satu orang lagi."

Namun Jaejin mengacuhkan ocehan Hongki. Jaejin sengaja tidur dengan memenuhi isi ranjangnya agar Hongki tak kebagian tempat.

"Oh ya ampun..." pemuda berumur tujuh belas tahun itu memutar bola matanya bosan melihat tingkah pemuda yang lebih muda satu tahun darinya itu. Sungguh kekanakan!

Hongki sedikit kaget dengan suara bel pintu. Pemuda berambut coklat itu melihat Jaejin "Hei, ada tamu itu."

Percuma saja, Jaejin kini telah tertidur -atau pura-pura tidur.

Akhirnya dengan enggan, Hongki mem-pause game yang sedang ia mainkan dan berjalan keluar mengingat tak ada kedua orang tua Jaejin di apartemen, jadi Hongki terpaksa menemui tamu itu.

"Annyongase -KAU?"

Hongki menaikkan sebelah alisnya "Tidak sopan menunjuk-nunjuk orang yang belum kau kenal nona!"

Wanita dengan sebuah piring yang berisi makanan itu mendecih "Kau tinggal di sini?"

"Ani. Ini rumah ahjummaku"

"Lalu dimana ahjummamu? Aku tidak ada urusan dengan bocah bengal sepertimu."

"Kau...tinggal disini?"

Masih memasang muka dingin, wanita itu membalas "Kenapa? Bukan urusanmu 'kan? Mana ahjummamu? Cepat panggilkan!"

Hongki memandang wanita dihadapannya dengan wajah bosan.

"Pemilik apartemen ini sedang pergi, anaknya sedang tidur."

Menghela napas kecewa, akhirnya wanita itu menyerahkan piring berisi makanan yang tertutup tissue itu pada Hongki.

"Apa ini?"

"Ucapan salam kenal dari tetangga baru."

"Oh..." sejenak Hongki masih memandangi 'hadiah' dari wanita itu sebelum akhirnya ia menerimanya. "Arraso. Gomawo."

BLAAMM!

Pintu seketika tertutup dengan keras membuat wanita itu terlonjak.

"Baka!"

.

.

.

Hongki berjalan ke dapur untuk meletakkan pemberian wanita-yang-baru-kenal-sehari itu. Ia mendudukkan diri di meja makan dan menemukan secarik kertas di atas makanan setelah Hongki membuka tissue penutupnya.

"Ck. Pakai surat segala. Kuno. Jadi dia tinggal di nomor 157?"

Namun Hongki tetap membacanya dengan sedikit menyeringai membaca tiap kata yang wanita itu tulis pada kertas berwarna merah jambu itu. Seringaian Hongki kini lenyap, digantikan kedua matanya yang terbuka lebar ketika membaca tulisan yang paling bawah.

"Fuji Mina?"

TBC


A/N : Mianhe updatenya lama #bow

next pokoknya cepet deh. soo RnR yaaa ^_^