Study in Blue

Main Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Ot12.

Genre: Fail mystery, fail humor, Highschool!AU, Detective!AU

A/N: Halo! salam XOXO '-')/ silakan dibaca chapter duanya, mohon dimaklumi selera humorku yang tergolong aneh/? Jangan lupa baca A/N dibawah. Please enjoy and mind to RnR?


.

.

.

Baekhyun pikir butuh perjuangan untuk mendapat izin keluar rumah larut malam, Baekhyun kan baru pindah ke Seoul, orang tuanya juga tahu bagaimana payahnya Baekhyun dalam menghapalkan jalan. Baekhyun membungkus tubuhnya dengan dua lapis jaket sekaligus, percaya atau tidak udara Seoul sangat dingin terutama di malam hari, dan sekedar informasi, Baekhyun benci udara dingin. Ibunya bertanya ketika Baekhyun memakai sepatunya, "mau keluar ya?"

Baekhyun menjawab dengan sebuah anggukan.

"Bertemu dengan teman?" Ibunya bertanya lagi.

Baekhyun terdiam sebentar, memangnya si Ddook dda gi yang mengaku-ngaku Sherlock Holmes dan dia bisa dikatakan teman? Setelah berpikir sekian lama akhirnya Baekhyun memutuskan untuk mengangguk.

Ibunya mengangkat sebelah alisnya perlahan melihat respon Baekhyun. Melihat wajah ibunya Baekhyun bersorak dalam hati, ia berharap untuk tidak diizinkan pergi, supaya dia punya alasan untuk tidak datang ke sekolah malam-malam begini.

"Ya sudah kalau begitu, bawa saja kunci rumah," ibunya akhirnya tersenyum sambil menyodorkan kunci rumah mereka.

Begitu saja? Semudah itu? Baekhyun melongo.

"Kenapa diam saja, kau sudah ditunggu temanmu kan?" desak ibunya.

Baekhyun mengambil kunci yang disodorkan ibunya lalu berpamitan.

"Baekhyun—" Baekhyun menoleh dengan wajah penuh harap yang tersembunyi, mungkin saja ibunya berubah pikiran, "apa temanmu itu cantik? Kapan-kapan ajak dia main ke rumah ya."

Baekhyun melongo lagi. Tidak ibunya, tidak anggota team XOXO, mereka semua sama saja.

Baekhyun memutuskan untuk untuk tidak menjawab pertanyaan ibunya dan cepat-cepat pergi sebelum ibunya sempat menanyakan pertanyaan aneh lainnya.

Baekhyun menunggu di depan gerbang sekolah malam itu juga. Tentu saja kali ini dia tidak terlambat, syukurlah di dunia ini ada yang namanya transportasi umum. Baekhyun sudah bertekad, mulai besok dan seterusnya dia akan ke sekolah naik bus saja. Baekhyun melirik jam tangannya, pukul sepuluh lebih lima belas menit. Pokoknya jika lima menit lagi Chanyeol tidak muncul juga, dia akan berjalan pulang—

Dan detik itu juga tiba-tiba saja Chanyeol sudah berada di sebelahnya, "malam."

Baekhyun memegangi dadanya, tepat dimana jantungnya berdetak— Chanyeol sama saja dengan Kyungsoo. Mungkin orang Seoul memang seperti ini, Baekhyun menarik sebuah kesimpulan.

"Malam juga."

"Kau datang lebih awal, terlalu bersemangat?"

"Tidak juga, sebenarnya kamu terlambat lima belas menit."

"Eh? Tidak mungkin, jamku tidak pernah terlambat," Chanyeol menunjukkan jam tangannya, "lihat ini."

Baekhyun mengamati sebentar jam Chanyeol yang tidak berdetik, "er.. sepertinya jammu mati."

Pelajaran pertama, selalu periksa jam anda, pastikan jam anda tepat waktu.

Chanyeol buru-buru melihat jamnya, "maaf, sebaiknya kita lupakan soal jam," Chanyeol menunjukkan cengirannya.

Baekhyun mengamati pakaian yang dikenakan Chanyeol. Chanyeol melepas kaca-matanya dan berpakaian serba hitam dari ujung kepala hingga ujung jari kaki- persis seperti pakaian yang biasanya dikenakan pencuri di televisi- hanya saja Chanyeol mengenakan sebuah topi bertuliskan 'WOLF' di kepalanya, selain itu dia juga mengemut sebuah lollipop.

Baekhyun berdeham, "ddook dda gi-ssi apa pakaianmu tidak terlalu mencolok?"

"Hush- panggil aku Sherlock Holmes," Chanyeol menempelkan jari telunjuknya di bibir Baekhyun.

Baekhyun berusaha keras untuk tidak memutar bola matanya. Chanyeol merogoh saku jaketnya, "mau lollipop? Sherlock Holmes terlihat keren jika menghisap cerutu, sayangnya merokok itu tidak baik untuk kesehatan."

Baekhyun mengamati lollipop yang disodorkan Chanyeol, rasa favoritnya; strawberry. Mengapa harus menolak makanan gratis yang ditawarkan di depan mata? Dia mengangguk sembari mengucapkan terima kasih, lalu memasukkan lollipop itu ke dalam saku celananya.

Chanyeol berjalan santai ke tembok samping sekolah sebelum akhirnya merangkak kearah semak-semak yang rimbun. Baekhyun berdiri di tempat semula dengan wajah bingung, apa dia harus mengikuti Chanyeol?

"Ayo ikuti aku!" Chanyeol menyembulkan kepalanya dari balik semak-semak. Baekhyun mengikutinya perlahan. Semak-semak itu rupanya menghubungkan mereka langsung ke halaman sekolah.

"Kami selalu lewat sini kalau terlambat," Chanyeol menoleh kearahnya.

Seandainya saja Baekhyun tahu lebih awal, dia tidak usah repot-repot memanjat pohon tadi pagi.

Chanyeol mengeluarkan senter dari balik tas ranselnya—

Cklik- cklik-

Pelajaran kedua, pastikan senter anda terisi baterai dan masih bisa digunakan.

"Cih, baterainya habis," Chanyeol memasukkannya kembali ke dalam ransel.

Chanyeol mengendap-endap ke dalam gedung, dia meraba-raba setiap permukaan dinding dan berjalan sangat hati-hati. Baekhyun menirunya, mungkin beginilah cara detektif beraksi. Chanyeol berjalan dengan mantap;

BUAG—

—dan menabrak sebuah pilar, tentu saja Baekhyun tidak menirunya; memangnya dia bodoh?

"Kamu baik-baik saja?" Baekhyun memandangi Chanyeol yang sedang sibuk memegangi dahi dan hidungnya.

"Ah lollipopku-ku, kenapa kamu tidak bilang kalau ada pilar di depanku?" Chanyeol meringis, entah karena kesakitan atau kesal karena lollipop-nya jatuh, mungkin keduanya.

"Memangnya kamu tidak bisa melihat?" Baekhyun memperhatikan sekitarnya, tidak segelap itu kok, masih ada sedikit sinar bulan dari jendela.

"Memangnya kamu pikir kenapa aku mengenakan kaca-mata?" Chanyeol kembali meraba-raba sekitarnya, "kalau malam hari, aku sebuta kelelawar."

Chanyeol kembali menabrak sebuah ember di depannya, "A-ah, apa itu?"

"Sebuah ember," Baekhyun menjawab santai.

"Ah, sudahlah kamu saja yang memimpin jalannya," Chanyeol menarik tangan Baekhyun lalu mendorongnya ke depan.

Baekhyun menghela napas, sebelah tangannya masih menggenggam tangan Chanyeol. Baekhyun menuntunnya perlahan.

Baekhyun menggaruk kepalanya pelan ketika ia merasa mereka berputar-putar di tempat yang sama.

"Kenapa berhenti? Sudah sampai di ruangan kita?" Chanyeol berbisik.

"Err.. sepertinya kita tersesat."

Pelajaran ketiga, jangan biarkan orang yang buta arah untuk memimpin jalan.

"A-apa?" Chanyeol tanpa sadar menaikkan volume suaranya, "bagaimana bisa?"

"Jangan salahkan aku, aku kan murid baru mana mungkin aku hafal seluk beluk sekolah ini," Baekhyun membela diri, "kenapa bukan kamu saja yang memimpin jalannya?"

"Aish, kau kan tahu aku tidak bisa melihat dalam gelap."

Pelajaran keempat, pastikan gadget anda cukup canggih untuk fasilitas flashlight ataupun sekedar dilengkapi GPS.

Baekhyun lagi-lagi menghela nafas lalu mengeluarkan handphone-nya untuk menyalakan flashlight-nya. Baekhyun memberikannya pada Chanyeol, "sekarang pimpin jalannya."

"Whoa, aku tidak salah memilihmu sebagai partner," Chanyeol menepuk-nepuk punggungnya bangga.

Chanyeol kembali memimpin jalannya, menaiki tangga dengan hati-hati. Sebenarnya Baekhyun ingin bertanya mengapa Chanyeol masih menggenggam tangannya, tapi ia mengurungkannya karena Chanyeol terlihat tidak keberatan. Mereka berhenti ketika akhirnya mereka sampai di sudut lorong ruangan team XOXO.

"Jadi setelah ini apa yang akan kita lakukan?" Baekhyun berbisik ketika Chanyeol memintanya untuk mematikan flashlight di handphone-nya.

"Kita akan menunggu mangsa kita dengan manis," bahkan di tempat yang gelap Baekhyun dapat melihat senyum mengerikan Chanyeol.

Mereka menunggu selama beberapa saat hingga akhirnya Baekhyun melihat cahaya, "hei, lihat disana."

Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun lebih erat, mengisyaratkannya untuk diam. Sesosok bayangan yang membawa senter tengah berjalan ke arah ruangan team XOXO. Sosok itu berdiri tepat di depan pintunya lalu menyelipkan sesuatu yang terlihat seperti surat.

"Apa kita akan menangkapnya?" Baekhyun berbisik.

"Aku punya ide yang lebih baik, memangnya kau tidak ingin tahu apa motifnya?" Chanyeol menjawab.

"Dia berjalan pergi," setelah mendengar perkataan Baekhyun, Chanyeol membiarkan Baekhyun menuntunnya untuk mengikuti sosok itu.

Mereka berjalan menuruni tangga, menjaga jarak hingga beberapa meter dari sosok itu. Sepanjang perjalanan, Chanyeol selalu mengeluhkan bau tajam cologne yang menyebar dari sosok misterius itu, berbisik 'dia pasti mandinya pakai cologne bukan pakai air'. Tidak lama, sosok tersebut berhenti di depan sebuah ruangan lalu menyelipkan sebuah surat ke dalam sebuah kotak yang berada tidak jauh dari ruangan itu.

"Ternyata bukan hanya kalian saja yang dikirimi surat misterius," Baekhyun mengamati sosok itu berjalan menjauh menuju halaman sekolah, "menurutmu apa dia berjalan pulang?"

Chanyeol mengabaikannya, setelah sosok itu tidak terlihat lagi, Chanyeol bergegas menuju ruangan yang ditunjuk Baekhyun. Menghirup napas dengan lega, sebenarnya seberapa banyak cologne yang dipakai pengirim surat itu?

"Kau yakin ini ruangannya?" Chanyeol bertanya.

Baekhyun mengangguk, "aku melihatnya memasukkan surat ke dalam kotak ini, sebenarnya ini kotak apa?"

"Ini kotak kritik dan saran," Chanyeol mengeluarkan perangkat perkakas dari saku jaketnya, memeriksa kotak surat itu dengan sebuah kaca pembesar, "surat itu pasti ditujukan untuk kepala sekolah."

"Bagaimana kamu bisa tahu?" Baekhyun terlihat kagum dengan analisa Chanyeol, mungkin sebenarnya Chanyeol memang bisa diandalkan.

"Mudah saja, ruangan di depan kita ini kan ruang kepala sekolah."

Oke, Baekhyun tarik kembali apa yang dipikirkannya tentang Chanyeol barusan.

Chanyeol memakai sepasang sarung tangannya tanpa menoleh, "sekarang nyalakan lagi flashlight dari handphone-mu."

Baekhyun melakukan yang diperintahkan Chanyeol, sebelum akhirnya bertanya lagi ketika dia merasa Chanyeol melakukan sesuatu yang mencurigakan, "apa yang kau lakukan?"

Chanyeol dengan mudah mencongkel kotak kritik dan saran milik kepala sekolah, "tentu saja untuk mendapatkan suratnya."

"Kau gila? kita akan dapat masalah," Baekhyun memeriksa sekelilingnya dengan tampang horror, bisa gawat kalau di sekitar sana ada kamera CCTV yang merekam pergerakan mereka. Syukurlah kamera yang dicari-cari oleh Baekhyun itu sepertinya tidak ada.

"Diamlah, sekarang bantu aku mencari surat itu," Chanyeol memilah-milah tumpukan surat-surat tersebut sambil menggerutu, "kenapa suratnya ada banyak sekali? Apa ini sampah? Dasar orang-orang iseng, memangnya mereka tidak bisa membedakan kotak kritik dan saran dengan tempat sampah?"

Baekhyun menunjuk salah satu surat yang terlihat paling bersih di tumpukan paling atas, "bukan yang itu?"

Chanyeol memeriksanya sejenak, "kau benar."

Baekhyun hanya bisa berkeringat dingin saat Chanyeol membuka amplopnya lalu membaca isinya, "Kau! Argghh.. seandainya aku dikeluarkan dari sekolah karena masalah ini aku bersumpah akan mencekikmu."

"Hei Baekhyun, lihat ini," Chanyeol memperlihatkan pada Baekhyun surat yang ditujukan kepada kepala sekolah dan surat yang diterima oleh team XOXO. Baekhyun mengamatinya, kode-kode yang sama, hanya saja susunannya sedikit berbeda.

"Rasanya kode-kode ini familiar, tidakkah kau pikir begitu?" Chanyeol terlihat bersemangat.

"Yang benar?" Baekhyun mengamatinya baik-baik, mencoba mengingat-ingat, tapi akhirnya ia menyerah, karena sejauh apapun Baekhyun berusaha mengingat yang bisa dia ingat hanyalah menu makan malamnya hari ini.

"Aku rasa aku tahu," Chanyeol tersenyum lebar, "tenang saja, aku akan memecahkan kode ini malam ini juga."

Setelah merapikan perkakasnya dan melepas sarung tangannya, Chanyeol tertawa dan melangkah pergi dengan semangat-

"Er.. Ddook dda gi-ssi—"

Saat itu juga Chanyeol tersandung sesuatu yang terlihat seperti batu yang tergeletak di halaman sekolah mereka di tengah kegelapan malam.

Pelajaran kelima, sesenang apa pun suasana hati anda, tetap perhatikan jalan di hadapan anda.

"—ada batu di depanmu, eh telat, hehe.." Baekhyun memaksakan sebuah cengiran.

"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," Chanyeol bangkit dan mengacungkan ibu jarinya tanpa menoleh kearah Baekhyun.

Sepeninggal Chanyeol, Baekhyun baru teringat—

Mana ada bus yang beroperasi tengah malam begini?

Terpaksa Baekhyun harus pulang berjalan kaki, dia melangkahkan kakinya sambil menghela napas. Tiba-tiba saja Baekhyun teringat sesuatu, dia segera merogoh saku celananya dengan bersemangat; lollipop strawberry—

Pelajaran keenam, ingat, selalu ada hikmah dalam setiap musibah(?)

Setidaknya Baekhyun tidak pulang ke rumah sendirian malam ini, ada lollipop strawberry yang menemaninya.

.

.

.

Baekhyun menyandang tas ranselnya, sekilas ada lingkaran hitam di bawah matanya. Sekarang dia terlihat seperti Panda TAO, atau mungkin dia lebih mirip dengan panda asli hutan bambu China. Baekhyun menguap lebar, siapa yang peduli dengan image anak baru-nya? Yang dia butuhkan hanyalah tidur.

"Baekhyun-ssi!" sebuah suara memanggilnya, bukan- bukan kasurnya yang memanggilnya dari alam mimpi seperti harapannya.

Baekhyun menoleh perlahan, mendapati presiden koala dan anggota team XOXO lainnya, "hai."

"Jadi bagaimana semalam?" Luhan mengedipkan matanya, "kau tahu, kencanmu?"

Baekhyun berkedip lalu bergumam pelan, bisa dibilang dia masih setengah sadar.

"Jadi kalian benar-benar berkencan?" panda TAO mengguncangkan bahu Baekhyun.

Baekhyun berkedip lagi, sepertinya sudah mulai sadar dari kantuknya, "eh? Kencan? Kencan apa?"

"Wah, akhirnya Ddook dda gi yang itu punya kekasih juga,aku sempat khawatir orang aneh seperti dia akan mati tua ditemani kedelapan puluh delapan ekor kucingnya tanpa sempat merasakan punya kekasih seperti janda-janda tua yang kutonton di telenovela," Jongin menghapus air mata buayanya.

"Aku bukan kekasihnya, dan kami tidak berkencan semalam!" rasa kantuk Baekhyun menguap entah kemana, dia bahkan tidak peduli jika Jongin ternyata sering menonton telenovela.

"Aih, jangan malu-malu," Yixing mencubit pipi Baekhyun dengan gemas.

"Kalian salah," Baekhyun berusaha melindungi pipinya dari serangan cubitan brutal Yixing, frustrasi.

"Hei!" Chanyeol muncul dengan sebuah cengiran lebar lalu memeluk erat Baekhyun dengan wajah mengerikannya begitu saja.

"Omo!" Minseok bertepuk tangan, "Kubilang juga apa, mereka benar-benar berkencan semalam, sekarang serahkan uang kalian!"

Semua anggota team XOXO selain Chanyeol dan Minseok mengeluarkan uang sepuluh ribu won dengan tidak ikhlas. Minseok bahkan harus merebut paksa uang sepuluh ribu itu dari tangan Sehun yang sibuk memasang wajah aegyo-nya, "uang bubble tea-ku minggu ini, hue, bubble tea-ku, baby.."

Luhan menepuk-nepuk punggungnya, "I know what you feel, bro."

"Siapa suruh kalah taruhan, ngomong-ngomong terima kasih uangnya," Minseok mulai menghitung dan menciumi uang hasil menang taruhannya. Kalau begini terus, tidak lama lagi Minseok akan segera menyaingi kekayaan Joonmyun.

Kyungsoo memandangi Baekyeol moment dihadapannya dengan pandangan terkhianati, "sepuluh ribu won-ku, baekhyun-ssi.. tanggung jawab."

Baekhyun menggeleng cepat, "bukan, kalian salah paham, kami tidak ada hubungan apa—"

"Hush, diam semua!" Chanyeol memotong perkataan Baekhyun, "aku dan Baekhyun punya pengumuman penting!"

"Apa? Jangan bilang kau akan segera menikah dengan Baekhyun-ssi?" Jongin menatap Chanyeol dengan mata yang entah sejak kapan ia pinjam dari Kyungsoo, mungkin tertular karena mereka terlalu banyak menghabiskan waktu bersama, "secepat itu kah?"

"Bukan, bodoh," Chanyeol menjitak kepala Jongin, tentu saja dia tahu Jongin sedang bercanda, tapi dia sedang ingin serius sekarang, "aku sudah memecahkan kode itu, aku juga tahu siapa pengirim surat misterius itu."

Baekhyun membelalakkan matanya, "kau serius?"

Chanyeol tersenyum bangga, "tentu saja, sekarang yang harus kita lakukan adalah mengumpulkan buktinya."

.

.

.


-tbc-

A/N: Makasih udah baca sampai sini, aku tahu ini chapter yang (sangat) garing.
Mungkin ini nggak seperti harapan kalian, waktu aku bilang ini bakal jadi detective!au yang ada di bayanganku yah kayak gini sih, karena aku nggak sekreatif itu untuk bikin kasus-kasus berat ala novel misteri T_T
Makasih untuk Kopi Luwak dan byunbaekhoney yang sudah membenarkan bahasa Indonesia-ku yang belepotan ._.V makasih banyak *bows*
Sebenernya aku nggak berencana bikin romance tapi okelah aku usahain nyelipin dikit-dikit, tapi jangan berharap banyak, aku payah nulis fluff ._.V
Kalian semua pinter-pinter ya bisa nebak jalan ceritanya *kasih jempol/?*
Disini EXO bukan geng, walaupun mereka aneh-aneh tapi mereka nggak sebadung itu kok, sebenernya ide soal ruangan team XOXO yang ada kasurnya itu bisa di temukan di sekolahku/? Ada satu klub di sekolah, lumayan eksis, dan di ruangan mereka ada kasur, bantal, speaker, dan TV berserta PS-nya, tentu saja dibawa dari rumah masing-masing. Kadang aku mikir sebenernya mereka punya rumah atau engga *eh /abaikan
Buat yang bingung kenapa Kris disini dipanggil Presiden Koala dan Chanyeol dipanggil Ddook dda gi itu semua adalah nickname mereka seperti yang tertulis di yearbook XOXO, tanyakan pada Kris kenapa nickname-nya selalu nyeleneh /plakk
Ditunggu kritik dan sarannya :D *bows*