Study in Blue
Main Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Ot12.
Genre: Fail mystery, fail humor, Highschool!AU, Detective!AU
A/N: Halo! salam XOXO '-')/ silakan dibaca chapter terakhir, semoga tidak mengecewakan. Jangan lupa baca A/N di bawah. Please enjoy and mind to RnR?
.
.
.
Saat Chanyeol mengatakan dia sudah menemukan pengirim surat misterius itu, Baekhyun pikir mereka akan segera menangkap pelakunya. Tapi Chanyeol justru mengumpulkan mereka sepulang sekolah. Jadi itulah sebabnya Baekhyun kembali mendapati dirinya berada di markas team XOXO dengan Kyungsoo, Joonmyun, Yixing, Sehun, Luhan, Jongin, Minseok, dan tentu saja Chanyeol.
"Kalau boleh tahu, kenapa kita berkumpul disini?" Baekhyun memutuskan untuk bertanya, karena tidak seorang pun dari mereka yang membuka mulut.
"Hush! diam, jangan bicara padaku," Chanyeol masih memejamkan matanya, "aku sedang berusaha berkonsentrasi disini."
Baekhyun melirik kearah anggota team XOXO lainnya, tapi mereka hanya mengedikkan bahu seolah sudah terbiasa dengan sikap aneh Chanyeol.
Baekhyun mencoba untuk berbicara dengan Sehun, "apa kau tahu dimana presiden koala dan panda TAO?"
"Paling mereka sedang kencan," Sehun menjawab asal.
"Oh."
"Jangan ada yang berbicara!" Chanyeol memerintahkan, "jangan bernapas keras-keras, jangan berusaha berpikir, dan Jongin," Chanyeol menunjuk kearah Jongin, padahal kedua matanya masih terpejam, "balikkan wajahmu, kau mengganggu konsentrasiku."
Jongin mendengus, tapi toh ia berbalik juga; menatap tembok.
Hening—
Setelah beberapa lama –syukurlah- akhirnya Chanyeol membuka mulutnya juga, "kalian tahu kenapa aku mengumpulkan kalian?"
Mereka semua menggeleng, Jongin masih dengan posisi berbaliknya.
"Jadi begini, aku sudah berpikir, dan aku rasa pengirim surat aneh itu adalah seorang siswa," Chanyeol menjawab mantap.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" Baekhyun terlihat heran, "bukannya kamu tidak bisa melihat dalam gelap?"
"Memang, aku hanya melihat sekilas postur tubuh sosok itu," Chanyeol mengangguk.
"Bisa saja itu seorang gadis, tubuhnya tidak terlalu tinggi kan?" Baekhyun masih terlihat bingung.
"Tubuh seorang gadis tidak seperti itu, mereka punya lekukan," Chanyeol menggerakkan tangannya, membuat lekukan-lekukan di udara.
"Bagaimana kau bisa ta—" Baekhyun baru saja ingin bertanya tapi tidak jadi, "oh, lupakan saja, aku lupa kau pernah mengintip gadis-gadis pemandu sorak di ruang ganti wanita."
Wajah Luhan dan Chanyeol mendadak memerah.
Chanyeol berdeham, "selain itu kau ingat bau cologne yang menyengat itu? Dia menggunakan cologne pria."
"Jadi kau ingin kami mengendus seluruh siswa pria di sekolah ini satu persatu?" Luhan bertanya.
"Lebih tepatnya seluruh siswa yang tidak terlalu tinggi," Yixing mengoreksi.
"Kami tersinggung!" Minseok, Joonmyun, dan Kyungsoo mengangkat tangan mereka dengan kompak.
Chanyeol menggeleng, "bukan itu maksudku, sebenarnya aku sudah tahu siapa pengirimnya."
"Siapa?" mereka bertanya serempak.
"Kim Jongdae," Chanyeol menjawab dengan santai.
"Jadi kau sudah mengendus siswa-siswa di sekolah ini?" Kyungsoo menatap Chanyeol dengan tatapan legendarisnya O_O
"Sudah kubilang bukan mengendus," Chanyeol berdecak kesal, "kemarin malam aku menemukan badge ini," Chanyeol mengeluarkan sebuah badge kecil dari saku blazer-nya.
Mereka mengamati badge tanda pengenal itu, tertulis; 'Kim Jongdae, anggota klub computer'
Pantas saja dia tahu, kalau tahu begitu langsung saja tidak perlu susah-susah bercerita panjang lebar. Batin Baekhyun.
"Dapat darimana? Kemarin aku tidak melihatmu memungut apa pun," Baekhyun mencoba mengingat-ingat.
"Sebenarnya kemarin malam badge ini yang membuatku tersandung hingga jatuh."
Baekhyun mengangguk-angguk,ternyata tidak sia-sia Chanyeol jatuh kemarin.
"Tapi bisa saja itu bukan milik pengirim surat, bisa saja tidak sengaja terjatuh dan kebetulan kau menemukannya," Luhan mencoba berargumentasi.
"Tenang saja, aku sudah memikirkan kemungkinan itu," Chanyeol mengeluarkan surat yang didapatkannya dari kotak kritik dan saran, beserta badge-nya, "aku tahu kode-kode ini tidak asing, dan saat aku melihat badge ini aku baru tersadar—"
"Benar juga, setelah dilihat-lihat tulisannya tidak terlalu bagus ya? Masih lebih bagus tulisanku," Yixing memotong perkataan Chanyeol.
"Jangan-jangan ini kode dari alien, seperti crop circle!" Jongin menimpali, entah sejak kapan dia berbalik.
"Aish serius sedikit dong!" seisi ruangan langsung terdiam, jarang-jarang Chanyeol menaikkan volume suaranya, "Jongin siapa yang menyuruhmu membalikkan badanmu! kau itu sudah terlalu banyak menonton telenovela!"
Jongin kembali menatap tembok, mengerucutkan bibirnya. Kyungsoo berbisik, "jangan sedih, lain kali kita nonton Pororo saja."
Chanyeol kembali berdeham, dia menggenggam sebuah pensil dan melingkari sederet kode, "jadi—"
"Sudahlah, to the point saja," Minseok menguap dengan malas, seharusnya jam segini dia sudah di rumah dan memakan bakpao kesukaannya.
Chanyeol memutar bola matanya, lalu menunjukkan sederetan kode yang sudah terlebih dahulu ia lingkari dengan pensil, "Kalian tahu apa ini?"
Mereka mengerutkan alis, U+110E memang tidak asing. Rasanya Baekhyun pernah melihatnya saat pelajaran computer, ah.. benar juga—
"Ah aku tahu! Itu Hangul Jamo*!" seru Baekhyun.
"Benar juga!" Joonmyun tidak menyangka ternyata kode itu cukup sederhana.
Chanyeol menjentikkan jarinya, "nah, kalau sudah begitu kalian tahu apa isi surat ini?"
Baekhyun mengetikkan beberapa kata kunci di handphone-nya, mencari daftar Hangul Jamo di internet, "ketemu, er.. artinya j- jom dowajuseyo (kumohon tolong aku)."
"Kalau yang ini?" Chanyeol mengeluarkan lembaran-lembaran surat lain yang dikirimkan ke ruangan team XOXO tiap malam.
Baekhyun butuh beberapa waktu untuk menerjemahkannya, "penting, aku tunggu di depan ruangan kalian tepat pukul dua belas malam."
Chanyeol tersenyum, "kalau yang satu ini isinya 'Kenapa kalian tidak datang?'"
"Kasihan amat," Sehun berkomentar, "kesannya kita orang jahat."
Chanyeol mengumpulkan surat-surat yang tercecer itu, "bukan, dia pasti berpikir kita itu orang bodoh."
"Tapi kenapa ya? Kalau memang mau minta tolong kenapa tidak minta tolong langsung saja? Kenapa repot pakai surat-suratan segala, ada kodenya lagi," Joonmyun bertanya.
"Nah, itu dia sebabnya aku mengumpulkan kalian disini, kita harus cari tahu terlebih dahulu tentang si Kim Jongdae ini," Chanyeol menunjukkan lagi badge milik Kim Jongdae.
"Jadi kita mau menyeret dia kesini untuk diinterogasi?" tanya Minseok.
"Tadinya sih begitu, tapi presiden Koala dan Panda TAO tidak ada kan?" Chanyeol ingat tadi sebelum berkumpul di markas team XOXO dia melihat Tao sedang berlatih wushu untuk kompetisinya, dan di kejauhan Kris sedang mengamatinya dari semak-semak, 'tidak sadar diri memang, sudah tahu badannya tinggi seperti tiang, jelaslah kelihatan' Chanyeol berkomentar dalam hati, "bukankah mudah jika ada mereka berdua, siapapun yang melihat tatapan mereka pasti langsung mengaku."
"Kan ada Mandoo dan aku," Luhan menunjuk dirinya sendiri dan Minseok.
Chanyeol buru-buru mendengus, "lupakan saja, kalian kurang seksi untuk 'strategi wanita cantik'"
"Dih! Siapa juga?" Luhan menaikkan volume suaranya, "maksudku, Minseok dan aku kan juga cukup sangar!"
Jongin yang dari tadi mojok menghadap tembok berkomentar, "lain kali sebelum berangkat sekolah ngaca dulu coba."
"Udah deh," Chanyeol memotong, "jadi intinya aku mengumpulkan kalian itu—"
Chanyeol mendekati Sehun yang daritadi diam saja lalu mencengkeram kedua bahunya, "Odult, aku butuh bantuanmu."
Semua orang sekarang menatap Chanyeol dan Sehun dengan serius— kecuali Jongin yang sibuk memelototi tembok di pojokan.
"—pinjam kameramu ya?"
GUBRAK—
"Dasar detektif gadungan nggak modal!" Sehun langsung marah-marah, "pokoknya aku nggak mau minjemin, titik!"
Sehun diikuti Jongin dan yang lainnya meninggalkan Chanyeol, Minseok berdecak, "tahu begini mendingan aku pulang terus makan bakpao di rumah."
Sepeninggal Sehun dan kawan-kawan, Chanyeol hanya bisa melongo menatap pintu yang terbuka. Baekhyun menepuk salah satu pundaknya, "kalau hanya mengambil gambar dan merekam, kamera di handphone-ku juga bisa kok."
Chanyeol makin melongo, sepertinya baru sadar. Baekhyun bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya Chanyeol itu anak Seoul atau manusia goa sih?
.
Keesokan harinya, Chanyeol menarik Baekhyun saat jam istirahat. Mereka berjalan mengendap-endap ke halaman belakang sekolah, lalu Chanyeol memanjat salah satu pohon paling tinggi di sana. Setelah dipastikan aman, Chanyeol memerintahkan Baekhyun untuk naik bersamanya. Memanjat pohon adalah hal yang mudah bagi Baekhyun, di Bucheon dulu Baekhyun memang sering memanjat pohon.
Dari atas pohon mereka mengintip ke salah satu jendela di lantai dua, ruangannya sepi dan dipenuhi perangkat-perangkat computer yang canggih, "itu ruangan klub computer?"
Chanyeol mengangguk mendengar pertanyaan Baekhyun.
"Kenapa kita harus memanjat pohon?" Baekhyun bertanya lagi.
"Logikanya, manusia itu punya jarak pandang sejajar. Jika kita mengamati mereka dari ketinggian, kecil kemungkinannya kita ketahuan karena mereka pasti tidak menyangka ada yang mengamati mereka dari ketinggian."
Baekhyun mengangguk-angguk.
Tidak lama, mereka melihat beberapa siswa memasuki ruangan klub computer. Salah satu dari siswa itu adalah Kim Jongdae, dia mendudukkan dirinya di dekat jendela. Beberapa orang siswa lain yang bertampang berandalan terlihat mendekatinya.
"Jangan-jangan Kim Jongdae itu sering di-bully," Baekhyun menyiagakan kamera di handphone-nya untuk merekam adegan kekerasan yang mungkin terjadi.
Chanyeol mengeluarkan telepon benang (dua gelas yang dihubungkan dengan benang, fungsinya mirip walkie-talkie) yang entah sejak kapan ia siapkan. Baekhyun mengamati ujung benangnya tersambung di tepi jendela, tertutupi tirai. Mungkin Chanyeol sebenarnya adalah orang yang penuh persiapan.
Chanyeol mendengarkan percakapan mereka, sedangkan Baekhyun merekam pergerakan mereka. Salah seorang siswa mencengkeram erat kerah kemeja Kim Jongdae, ada yang menjambak rambutnya, ada juga yang menampar pipinya. Mereka meninggalkan ruangan sambil tertawa setelah bel yang menandakan berakhirnya waktu istirahat berbunyi.
"Mereka sudah pergi," Baekhyun bergegas turun dari pohon, "ayo turun!"
Chanyeol tidak bergeming, masih memeluk batang pohon erat-erat, "er.. kau duluan saja."
"Sebentar lagi pelajaran akan dimulai, kau mau membolos?" Baekhyun berdecak, "tidak boleh! Ayo cepat turun!"
"Sebenarnya.." Chanyeol memasang tampang memelas, "aku tidak bisa turun."
—ASDFGHJKL. Baekhyun menggumamkan kata-kata yang tidak bisa diterjemahkan oleh bahasa ataupun kode manapun.
Baekhyun menepuk jidatnya frustrasi, "begini saja, lompatlah, aku akan menangkapmu."
"Ta-tapi," Chanyeol terlihat ragu-ragu.
"Kamu mau diatas sana sampai kapan? Cepat lompat!" Baekhyun membentangkan tangannya lebar-lebar, matanya menatap mata Chanyeol lalu berkata mantap, "Jangan khawatir, aku pasti akan menangkapmu."
"O-oke," Chanyeol menelan ludahnya, "aku hitung ya! Satu—!"
Dan Chanyeol pun melompat dengan semangat.
BUAGH—
…
"AHHH—" Baekhyun menjerit lalu refleks menendang Chanyeol yang menindih tubuhnya, "Minggir!"
"Tidak apa-apa?" Chanyeol segera bangkit untuk membantu Baekhyun.
"Sudah nindihin orang masih tanya lagi 'tidak apa-apa?'" Baekhyun memegangi pinggangnya yang nyeri.
"Bukan, maksudku handphone-mu tidak apa-apa kan?" Chanyeol bertanya polos, "bisa gawat kalau sampai rusak, sia-sia saja tadi kita manjat pohon."
Baekhyun ingin sekali menarik kerah kemeja Chanyeol lalu memukulkan kepala manusia goa itu ke pohon terdekat, sayangnya tubuhnya sedang sakit semua, "Kau ini, kenapa baru hitungan kesatu sudah lompat? Aku kan belum siap!"
"Aku kan tidak bilang mau lompat di hitungan keberapa," Chanyeol membantunya berjalan ke kelasnya dengan wajah tidak berdosa.
Baekhyun hanya bisa menggertakkan giginya. Yah, anggap saja Chanyeol sedang beruntung.
.
Sepulang sekolah, Chanyeol lagi-lagi menculik Baekhyun untuk menyeret Kim Jongdae, "sekarang saatnya untuk memulai interogasi."
Baekhyun terduduk bersama Kyungsoo, Luhan, Sehun, Joonmyun, dan Yixing di markas mereka yang entah sejak kapan pencahayaannya dibuat remang-remang. Di hadapannya terdapat sebuah meja dan lampu senter berukuran besar, tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka. Chanyeol, Jongin, Tao, dan Kris datang menyeret sesosok manusia bernasib malang; Kim Jongdae.
Tao mendudukkan Jongdae yang berkeringat dingin di meja interogasi, tubuhnya terikat dan mulutnya tertutup lakban berukuran besar.
"Kalian yakin ini interogasi bukannya penculikan?" Baekhyun bertanya takut-takut.
"Ini bagian yang kutunggu-tunggu!" Kyungsoo menepuk tangannya senang, "kesannya seperti detektif professional yang ada di film-film."
Sepertinya Kyungsoo salah mengartikan detektif dengan mafia.
"Jadi apa kamu yang mengirim surat misterius pada kami?" Jongin menyorotkan lampu senter kearah mata Jongdae.
Jongdae tidak menjawab.
"Heh! Jawab!" Tao memukul meja di hadapannya membuat Jongdae memejamkan matanya ketakutan.
"Er.." Baekhyun memotong, "bagaimana cara jawabnya kalau mulutnya dilakban?"
Hening.
Kris yang pertama kali bereaksi, melepaskan lakban yang menutup mulut Jongdae, "AHHH!"
Terdengar suara teriakan dahsyat yang membuat seisi ruangan menutup kedua telinga mereka, "Lepasnya bisa pelan-pelan kan?" Jongdae terdengar kesal.
"Maaf," ujar Kris.
"Jadi, apa benar kamu yang mengirim surat misterius itu?" Kris dan Tao menatap Jongdae dengan tatapan maut mereka, membuat Jongdae menelan ludahnya dengan wajah pucat.
BRUAK—
"Teman-teman maaf aku terlambat!" Minseok berteriak lantang.
"Minseok?" Jongdae membelalakkan matanya saat melihat Minseok.
"Lho? Jongdae?" Minseok memasang tampang heran.
"Kalian saling kenal?" Chanyeol melemparkan pandangan menuduh.
"Tentu saja, kami kan sekelas," jawab Minseok.
Yixing mengguncang-guncangkan bahu Minseok, "Mandoo.. kenapa tidak bilang dari kemarin."
"Aku tidak tahu kalau Kim Jongdae yang dimaksud itu teman sekelasku," Minseok membela diri, padahal sebenarnya kemarin dia tidak mendengarkan dengan baik, sibuk memikirkan bakpao favoritnya yang sudah menanti di rumah.
Sudah tahu begitu, Chanyeol dan yang lainnya segera melepaskan tali yang mengikat tubuh Jongdae. Jongdae segera bersembunyi di balik tubuh Minseok dengan langkah tertatih-tatih.
"Benar, memang aku yang mengirim suratnya," Jongdae menjawab dengan suara bergetar.
"Jadi kamu ingin minta tolong karena di-bully oleh senior-senior satu klub-mu?" Chanyeol bertanya.
Jongdae mengangguk, "aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."
"Bagaimanapun juga memanipulasi sistem sekolah untuk mandongkrak nilai itu tidak benar," ujar Chanyeol.
Perkataan Chanyeol membuat seisi ruangan terkejut, "Ba-bagaimana kau bisa tahu?"
"Jadi kau seorang hacker?" Kyungsoo memelototi Jongdae.
"Aku terpaksa," Jongdae menggigit bibirnya, "kalau aku tidak mendongkrak nilai mereka, mereka mengancam akan memukuliku dan mendepakku keluar dari klub computer."
"Lapor saja ke kepala sekolah," Joonmyun menyarankan.
"Aku takut, bagaimanapun juga aku pasti akan ikut dihukum," Jongdae menyembunyikan wajahnya di punggung Minseok, "aku sudah tidak tahan lagi, itulah sebabnya aku mengirimkan surat berisi kode-kode itu, tidak bisakah kalian membantuku?"
Chanyeol menepuk punggung Jongdae, "tenang saja, aku punya rencana."
.
Siang itu Jongdae meminta seniornya berkumpul di halaman belakang sekolah saat jam istirahat.
"Jadi apa yang ingin kau katakan Jongdae?"
"Aku akan keluar dari klub," Jongdae berkata mantap, "lalu aku juga akan melapor pada kepala sekolah masalah kalian yang memaksaku memanipulasi sistem penilaian sekolah."
Mereka tertawa, salah seorang dari mereka menarik kerah kemeja Jongdae, lalu melayangkan tinjunya, "kau tidak akan berani!"
"Yak! Cukup sampai di situ senior-senior!" Chanyeol muncul dari semak-semak, menepuk tangannya.
"Cih! Sial!" Senior yang mencengkeram kerah kemeja Jongdae melepaskannya tanpa sempat memukulnya, "apa maumu?" dia beralih mendekati Chanyeol.
Walau dikelilingi oleh para senior, namun ekspresi Chanyeol tetap tenang, "melapor."
"Kau tidak punya bukti, jumlah kami lebih banyak! Kami akan menghajarmu supaya kamu tutup mulut!"
"Tutup mulut tentang apa ya?" Chanyeol menantang dengan nada mengejek.
"Jangan pura-pura tidak tahu!" senior berwajah paling sangar mendorongnya, "kau akan melapor tentang kami yang mengancamnya untuk memanipulasi sistem penilaian sekolah kan?" Dia menunjuk kearah Jongdae.
"Kalian sendiri yang mengaku loh," Chanyeol tersenyum.
"A-apa maksudmu?"
Chanyeol menjentikkan jarinya, Sehun dan Luhan keluar dari semak-semak menunjukkan handphone milik Baekhyun.
"Kalian merekamnya?" salah seorang dari mereka bergerak cepat melayangkan tinjunya kearah Luhan yang terlihat paling lemah. Luhan berhasil menghindar, saat senior-senior lain mengepungnya, Luhan melemparkan handphone Baekhyun kearah Chanyeol.
"Aku akan menangkapnya!" Chanyeol membentangkan tangannya dengan sigap, makin dekat, "Yak.. ketang—"
"—kap?" Handphone Baekhyun mendarat dengan kondisi memprihatinkan, terpelanting dan berguling-guling beberapa kali lalu terhenti setelah menabrak batu.
Voilà—
Dia menatap handphone Baekhyun yang tergeletak di atas tanah dengan tatapan horror. Chanyeol memekik, memungut handphone Baekhyun yang malang, "astaga, Baekhyun pasti akan membunuhku!"
Mereka tertawa, "haha, sekarang kalian sudah tidak punya bukti."
"Er.. sebenarnya, handphone tadi sedang terhubung dengan layanan skype," Sehun yang sedari tadi diam saja akhirnya angkat bicara, "dengan kepala sekolah."
"Itu artinya, kepala sekolah menyaksikan seluruh kejadian tadi," Luhan mengangguk, membenarkan perkataan Sehun.
Tidak lama kemudian kepala sekolah, aparat keaman sekolah, beserta anggota team XOXO mendatangi halaman belakang sekolah, senior-senior klub computer tidak bisa mengelak lagi.
Baekhyun yang tadinya sedang bersama kepala sekolah mengacungkan ibu jarinya pada Chanyeol, Chanyeol hanya meringis—
Oh yeah, satu kasus selesai, bertambah lagi satu masalah baru, batin Chanyeol.
.
Atas kebijakan kepala sekolah, klub computer dibubarkan untuk sementara. Sedangkan senior-senior berandal itu dihukum untuk membersihkan seluruh sudut sekolah sepanjang sisa tahun mereka di sekolah.
Dengan dibubarkannya klub computer, Jongdae resmi menjadi anggota kesebelas team XOXO dengan nama; Jjong dda.
Dan team XOXO pun hidup bahagia dengan keanehan –coret- keunikan mereka untuk selama-lamanya.
.
.
.
-tamat-
.
.
.
Oke, author bercanda.
"DDOOK DDA GI!" Baekhyun mengejar Chanyeol sepanjang lorong, "APA YANG KAU LAKUKAN PADA KEKASIHKU?"
"Maafkan aku!" Chanyeol mengurung dirinya di dalam sebuah ruangan, "aku tidak sengaja merusak handphone-mu!"
"KELUAR KAU!" Baekhyun menggedor-gedor pintunya, menendanginya dengan Brazilian Kick andalannya bertubi-tubi, "AKAN KUPATAHKAN TUBUHMU JADI DUA!"
Minseok yang melihat adegan sadis dan tidak berperikepintuan di hadapannya memutuskan untuk mengabaikan pasangan bodoh itu, bergegas kearah ruangan team XOXO.
"Hai semua," Minseok melangkah masuk dengan santai. Tiba-tiba saja dia sudah diikat oleh anggota lain, "apa-apaan ini? Lepaskan aku!"
"Mandoo~" Luhan bertanya dengan nada manis yang dibuat-buat, "tidakkah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan pada kami?"
"A-apa?" Minseok bergidik ngeri melihat senyum ganjil Luhan.
"Jangan pura-pura bodoh! Mana PJ!" Jongin muncul di hadapan Minseok.
"PJ apaan?" Minseok masih tidak mengerti.
"PJ! Pajak Jadian!" Kyungsoo ikut menimpali, "Mandoo-hyung sudah jadian dengan Jjong dda kan? Hyung tidak bisa membohongi kedua mataku ini!"
Minseok terdiam seakan terhipnotis oleh kedua mata bulat Kyungsoo.
"Dyo-hyung, kau yakin Mandoo-hyung dan Jjong dda benar-benar jadian?" Sehun berbisik.
"Tentu saja! Kau pikir tidak aneh? Jjong dda langsung semangat menjadi anggota kesebelas team kita?" Kyungsoo menjawab mantap, "Mandoo-hyung juga bertingkah aneh, senyum-senyum terus, selain itu—"
Kyungsoo mengendus Minseok, "bau cologne Jjong dda menempel di tubuh Mandoo-hyung!"
Sisa anggota yang lain hanya menggelengkan kepala mereka dari sudut ruangan. Joonmyun mengamati Yixing yang terlihat sedang berpikir, "kau sedang memikirkan apa?"
"Oh, aku hanya sedang membayangkan, Jjong dda kan wajahnya berbentuk kotak, sedangkan Mandoo berwajah bulat, kira-kira bentuk wajah anak mereka di masa depan seperti apa ya?" Yixing menjawab dengan polos.
"Xing, mereka berdua pria, dan pria tidak bisa melahirkan anak," Joonmyun mengingatkan.
"Oh iya juga ya, aku lupa," Yixing menepuk jidatnya.
Kris menghela napas, "akhirnya klub kita tetap kekurangan satu anggota."
Tao menepuk punggungnya, "jangan khawatir, kan masih ada Baekhyun-ssi."
"Kau masih berpikir Baekhyun-ssi akan masuk ke team kita dengan sukarela setelah ddook dda gi merusakkan handphone-nya?" Kris bertanya, "mungkin sebaiknya kita bubarkan saja team kita lalu kita bentuk boyband."
Seisi ruangan mendadak hening mendengar pernyataan Kris, "ide bagus!" Joonmyun bersorak dari sudut ruangan.
"Aku akan jadi lead dancer!" Jongin mulai menari, mengitari ruangan.
"Lalu aku akan jadi main vocalist!" Kyungsoo mengangkat tangannya dengan semangat.
Anggota lain ikut bersemangat memperebutkan peran.
"Kalian bercanda? Tentu saja lead dancer dan main vocalist-nya aku, aku kan presiden kalian," Kris menimpali.
Hening—
"Lupakan saja," Tao berkata dengan dingin.
"Hei-hei! Kalau kalian tidak suka boyband kita bentuk klub seni saja, aku bisa jadi pembinanya," Kris memberi saran.
Krik— Krik—
Hening—
"Anggap saja pembicaraan ini tidak pernah terjadi," Tao memutar bola matanya.
"Ta-tapi—" Kris membuka mulutnya.
"Lupakan."
.
Baekhyun membuka loker-nya dengan kasar, tenaga sudah terkuras karena main kucing-kucingan dengan Chanyeol. Baekhyun memasukkan beberapa buku dari dalam tas ranselnya kedalam loker lalu membanting pintu loker-nya. Baekhyun hendak berjalan tapi sudut matanya menangkap sebuah amlop yang tergeletak di lantai. Baekhyun memungutnya, melihat namanya tertulis di sudut amplopnya.
Oh yeah, di novel romantis manapun, sudah jelas yang dia terima adalah surat cinta.
Baekhyun membuka amplop itu dengan senyum mengembang, dia mengeluarkan suratnya. Beberapa kalimat yang ditulis dengan tinta biru—
.
AL DKS GO DY, TK FKD GO DY
-CKS DUF
.
Oke orang iseng mana yang berani mengirimnya surat sialan ini? Baekhyun merasa impiannya untuk mendapatkan surat cinta terinjak-injak.
.
Baekhyun buru-buru menghampiri Chanyeol, Chanyeol membelalakkan matanya, berusaha kabur. Baekhyun sudah lebih dulu mencengkeram tangannya.
"Jangan patahkan tubuhku jadi dua!" Chanyeol mulai berteriak histeris.
"Hei, dengarkan aku," Baekhyun berusaha menenangkan Chanyeol, "aku butuh bantuanmu."
Ucapan Baekhyun sepertinya mampu menenangkan Chanyeol, "b-bantuan apa?"
Baekhyun menunjukkan surat yang dia terima, "ini, bantu aku memecahkannya."
Chanyeol membelalakkan matanya melihat surat itu, wajahnya bersemu merah. Baekhyun mengangkat sebelah alisnya, "ada apa? Apa artinya?"
"A-apa yang akan kau lakukan jika kau tahu siapa pengirimnya?" Chanyeol bertanya.
"Tergantung apa isi suratnya," Baekhyun menyeringai, seandainya ini kerjaan orang iseng Baekhyun akan memberinya pelajaran.
"Le-lepaskan aku dulu," Chanyeol menelan ludahnya, berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Baekhyun.
Baekhyun melepaskannya, tapi Chanyeol malah kabur.
"HEI! DDOOK DDA GI!"
.
Baekhyun menaiki bus umum dengan kesal sepanjang perjalanan pulang ia terus menggerutu, si pelit ddook dda gi itu tidak mau membantunya. Sesampainya di rumah ia segera mengucapkan salam.
"Baekhyunnie, ada kiriman paket untukmu!" Ibunya berseru saat Baekhyun pulang.
"Dari siapa?" Baekhyun memasang wajah heran.
"Buka saja sendiri," Ibunya menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang. Baekhyun menerimanya lalu mengucapkan terima kasih.
Baekhyun berjalan menuju kamarnya lalu membuka paket yang ditujukan padanya—
Sebuah handphone baru.
Baekhyun tercengang, membolak-balik kotak paket itu, mencari-cari alamat pengirimnya, tapi dia tidak berhasil menemukannya.
Baekhyun mengaktifkan handphone itu, nomornya adalah nomor lamanya. Dia membuka kontaknya, hanya ada satu nama di kontak pertama—
Sherlock Holmes.
Baekhyun terkikik, mungkin si ddook dda gi itu tidak pelit-pelit juga.
Baekhyun mengutak-atik handphone barunya, kemudian ia teringat surat yang tadi ia dapatkan. Dikeluarkannya surat itu lalu dipandanginya surat itu. Apa mungkin ini kode yang mirip dengan hangul jamo? Baekhyun mencoba mengetikkan kode-kode itu di handphone barunya, lalu ia tertawa—
Ah, ternyata begitu.
Kode yang berada di surat itu merupakan kode yang diketikkan di keyboard internasional, tapi jika diketikkan di keyboard khusus hangul, maka yang muncul adalah—
.
미안해요, 사랑해요
-찬열
(Mianhaeyo, saranghaeyo
-Chanyeol)
.
.
.
-case closed-
.
.
.
Epilog:
Baekhyun datang pagi-pagi sekali pagi itu, sebenarnya dia tidak bisa tidur semalaman. Baekhyun bersiul sepanjang koridor lalu berhenti di depan pintu ruangan team XOXO. Baekhyun menyelipkan sebuah amplop besar berwarna coklat lalu melangkah pergi sambil tersenyum.
.
EXO THE FIRST CLASS ORGANIZATION OF TEAM XOXO
Formulir Pendaftaran dan Surat Kontrak Calon Anggota Baru
Peraturan Team:
1. Memiliki nama samaran;
2. Hormati anggota yang lebih tua;
3. Magnae harus selalu menurut;
4. We Are One;
5. Acara makan daging bersama diadakan secara rutin setiap hari Rabu minggu kedua;
6. Sekali menandatangani surat kontrak ini kau tidak bisa keluar;
7. The End.
Saya yang bertandatangan di bawah ini telah membaca dan menyetujui peraturan team XOXO dan mengajukan diri sebagai anggota team XOXO tanpa paksaan apapun
Nama: Byun Baekhyun
Kelas: 2-1
Hormat saya,
Sogogi –coret- Watson
.
Yah, seorang Sherlock Holmes membutuhkan seorang Watson, kan?
.
.
.
(*Hangul Jamo Unicode: kumpulan karakter sebagai kode sandi universal yang secara standard dirancang untuk memunculkan karakter dan simbol hangul (aksara Korea) oleh computer)
P.S. Surat cinta itu biasanya ditulis pake tinta biru, sekarang udah pada tahu kan kenapa judulnya 'Study In Blue'? :D
P.P.S. Partner-nya Sherlock Holmes itu Watson :D
A/N: Makasih udah baca sampai sini *bows*
mohon dimaklumi kalau ada typo(s) bertebaran, selera humorku garing krik krik dan aku nggak pinter menjelaskan, jadi maaf kalo malah bikin bingung T_T
semoga kalian nggak kecewa dengan endingnya
Ditunggu kritik dan sarannya, thanks
Have a nice day *spreads the sarang* kkk xD
