disklaimer: happy tree friends (c) mondo media

[—tidak ada keuntungan material yang diperoleh dalam pembuatan fiksi ini]

warning: humanized. ooc. [untuk chapter ini] yaoi. sedikitnya bahasa gue-elo. high-school-theme untuk beberapa chapter ke-depan.

part6: traitor's talk.

sinopsis: [short fic, daily update] 6 – FlippyHandy, accepting request ;; Russell hanya terdiam mendengar pernyataan Handy; fakta bahwa ia belum pernah sedikitpun bertemu dengan Fliqpy saja sudah mengejutkan.


"Susah gak, punya pacar yang agak—yaaa, gimana ya—sadis?"

Bukan hal yang jarang untuk melihat Russell dan Handy duduk berdampingan saat pelajaran olahraga dikelas mereka. Mungkin melihat Splendid menyakiti temannya dengan kekuatannya yang luar biasa itu masih lebih sering dilihat, sih.

Mereka bisa sesuka hati duduk di bangku kantin bila sudah merasa tak sanggup. Handy tanpa tangan, dan Russel tanpa kedua kaki dan sebelah tangan, lalu tanpa bola mata kanannya, entah kenapa.

Eh—kembali ke topik.

Handy—pemuda berambut oranye—mengeling ke arah Russell, "Well, kalau kau tanya padaku, sedikit sih." balasnya disertai tawa yang terdengar seperti menyindir.

Russell mengambil sebotol air mineral disampingnya, "Ya—yakin?" ia menganga tidak percaya, "Aku denger dari Giggles dan Lammy, kalian selalu keliatan bareng-bareng, bahkan Lammy bilang dia pernah liat kamu masuk ke rumah bareng Fli—maaf—dia."

Pemuda tanpa tangan mendesah kecewa, "Padahal aku sudah bilang pada Lammy jangan menyebar kemana-mana kalau dia sudah tahu."

Sementara lawan bicaranya memandangi tanah, memerhatikan sesuatu yang tak menarik. "Gimana kalau misalnya dia… tiba-tiba—'kumat'?"

Mendengar pertanyaan pemuda yang lebih pendek darinya membuat Handy memutar otak untuk berpikir. Biasanya tak ada yang akan menanyakan pertanyaan seperti ini; heck—Flippy tak pernah 'kumat' bila mereka bersama-sama, tapi aneh juga kalau ia menjadi seperti itu tiba-tiba, dan membunuhnya dengan gunting—atau bahkan pisau cukur.

Kan terdengar konyol.

'Seorang pemuda tewas dibunuh kekasihnya sendiri dengan pisau cukur.'

—Okay, tertawalah sepuasnya.

"Err… abaikanlah pertanyaanku barusan." sanggah Russell cepat, berusaha menghilangkan aura dingin disekeliling mereka berdua. "Kau sudah pernah melihat Flip—Fliqpy?" Russell meneguk ludah usai mengatakan demikian.

"—Belum tuh."

"Eh—EH?"

"Iya, belum."

Russell membeku.

Gondok sudah pemuda dengan cita-cita mengarungi tujuh lautan dan tujuh semesta—eh salah—tujuh samudra.

Russell memutar bola matanya; buset, gue udah ngejaga tata krama kalo ngomong ke Handy, ternyata Fliqpy juga gak pernah ketemu sama dia, batinnya dengan membuka kedok dan tata bahasa anak gaul.

"Be—belom? Sama sekali belom? Belooom? Belooooom?"

"Iya! Gue positif!"

(—Didengar oleh Lammy, yang wajahnya mendadak memerah.)

Selang keheningan, pemuda tanggung bersurai hijau menghampiri mereka berdua, menginterupsi percakapan, dan duduk di samping Handy. "Eh, Flippy,"

"Yo, lagi ngomongin apaan?" Flippy melirik sinis ke arah Russell.

"Nggak kok. Gak penting juga sih." Handy menghapuskan kecurigaan Flippy dengan tawa kecil dan penjelasan singkat yang mengena.

Sementara suara Russell tertahan di tenggorokannya.

—Sejak kapan bola mata Flippy berwarna kuning menyala?

.

.

.

Nah lo…


a/n: lol.

gak ada niatan bikin FlippyHandy sih, tapi karena ada yang minta (dua orang, bagus) jadi saya buatin._.

review please. revieeewwww, revieeeeew #eh