disklaimer: happy tree friends (c) mondo media
[—tidak ada keuntungan material yang diperoleh dalam pembuatan fiksi ini]
warning: humanized. ooc. [untuk chapter ini] yaoi. sedikitnya bahasa gue-elo. high-school-theme untuk beberapa chapter ke-depan.
part7: gombalisasi.
sinopsis: [short fic, daily update] 7 – SplendontLifty, a small hint SplendidShifty, accepting request ;; "Gue lebih suka sama lo, nyolongnya lebih jago."
"WAH, JADI ELO TOH YANG MALINGIN GORENGAN DI KANTIN!" Splendid—pemuda bersurai biru cerah—berlari menuju maling gorengan dengan cepat, hingga membuat Lifty—salah satu dari duo maling disekolah mereka merangkap buronan maling gorengan—tersadar—karena ia tidak memusatkan perhatiaannya pada gorengan—seperti kakaknya.
"Loh—LOH KAK CEPETAN PERGI ADA DUO SUPERHERO IDIOT!"
"Che—BANGSAT!"
Dan Shifty seketika menengok dengan slow-motion, lalu kabur, membawa gorengannya sekaligus mendorong Lifty jatuh terjerembab kelantai marmer.
"EH SETAN TUNGGUIN GU—"
—Ah, terlambat.
"Splendid, lo kejar kakaknya, gue yang ngurus adeknya."
"Enak aja, elu sono kejar kakaknya dia."
"Oke, tapi nanti malem gue makan lapis legit lo."
"Ok—eh, TUNGGU! TUNGGU!"
—Terlambat, lagi.
(Mungkin gelar pahlawan kesiangan hari ini jatuh pada Splendont kalau terus begini.)
Splendont mengacak-acak surai merah-nya. Matanya melirik tajam ke arah Lifty yang sedang bermain bersama kucing lewat. Ia sedang mengelus-elus kepala kucing—uhukmalanguhuk—tersebut, sebelum akhirnya memegang—mencekik—lehernya dan mengangkatnya kelangit-langit.
Mata Splendont memelototi Lifty.
"LUUU—udah maling gorengan di kantin, mau bunuh kucing yang tak berdosa juga hah?!"
Lifty melempar jatuh kucing itu kelantai, membuat kucing malang tersebut mengerang kesakitan, sebelum akhirnya lari terbirit-birit. "Lah, yang ngidein nyolong gorengan juga kakak gue, gue kan cuma dampingin dia."
"Tetep aja sih, lo penjahat." balas Splendont. "Lo nyolongin gorengan di kantin. Sementara gue yang dompetnya udah kena kanker stadium empat ini laper. Gue mau makan apa? APAAAH?" jeritnya, mengikuti iklan suatu minuman penyegar yang diperankan oleh seorang penulis.
—Hiperbolis ah.
Adik dari kembar kleptomaniak tersebut menjulurkan lidahnya, "Bodo amat. Lo ini yang laper, bukan—eh, tunggu. Jadi lo ngejar gue sama kakak gue gara-gara… gue maling gorengan itu—"
"Ya karena gue laper lah."
Lifty facepalm.
"UDAH LAH GUE LAPER NIH SPLENDID KALO LO DAPET SHIFTY BAGI GUE GORENGANNYA!" Splendont tiba-tiba menjerit. "AH SEBODO GAK BAYAR DAH!"
"Itu kejahatan, mas."
"GUE UDAH MERANA NIH! KALO SPLENDID BAWA SHIFTY SEKALIGUS GORENGANNYA KESINI KAN GUE SEKALI DAYUNG DUA-TIGA PULAU TERLAMPAUI!"
"Mas, pelan-pelan."
Splendont menarik napas dalam-dalam, lelah juga rasanya berteriak sekencang itu. "Oke—gue untung dua hal! Ya! DUA HAL!"
Pahlawan pembela kebenaran bertopeng biru tersebut mengepalkan tangannya, "IYA! GUE NGIRIT PENGELUARAN MAKAN SIANG HARI INI!"
"Mas—"
"Dan—dan—" Splendont melirik Lifty dengan semburat merah dikedua pipinya, "—gue… bisa—ngobrol lagi sama lo hari ini."
Lifty memasang wajah cuek—hingga akhirnya matanya membulat dan memelototi Splendont. "Hah?"
"Ng—nggak kok, ciyus, sumpah—ahahaha,"
"…?"
.
.
.
"Ngo—ngomong-ngomong, kan kalo Shifty gak bareng gue, gue gak bakal nyolong apapun, serius! Jadi cari kembaran lo aja sana!"
"Gak ah, gue lebih gak yakin lagi kalo ninggalin lo disini." Splendont duduk di lantai marmer depan pintu kamar mandi sekolah mereka, "Lo kan nyolongnya lebih jago."
Lifty mendesah berat, "Gue gak nyolong apapun demi sesuatuuu,"
"Lo jago sih, nyolong hati orang, bahkan lo nyolong hati gue." akunya, frontal. "Takutnya nanti kesucian lo dicuri orang gara-gara keseringan nyolong barang orang lain. Hukum karma berlaku, loh."
…
"BANGSAT! JADI LO NGEDOAIN GUE DI-RA-piip- GITU?!"
—detik selanjutnya, Splendont mengalami pendarahan hebat.
"…Bo—boleh kok, sini aku ra—uhuk—"
"Pak Lumpy! Splendont dihajar Lifty lagi!"
"Woy, nih gorengannya!"
Splendid menyerahkan seplastik makanan berminyak itu pada Splendont yang masih terkapar lemas di UKS sekolah, "Gue beliin, tadi gue ke kantin dulu bayar gorengan ini."
Lawan bicara Splendid langsung melahap habis gorengan yang diberikan padanya. "Tumben lo ngasih sesuatu dengan cuma-cuma gue, ada sesuatu ya?"
"Ah, gue lagi seneng, gitu aja."
"Cerita lah seneng kenapa, pwease,"
"Ke, to the po banget sih lo."
…Dan Splendid memasukkan gorengan yang berada ditangannya…
—Gorengan dengan bekas gigitan seseorang.
a/n: kayaknya ini pertama kali saya nulis pake bahasa gue-elo sepenuhnya dengan caps jebol. haha, maaf kalo rada garing dan janggal, saya gak terbiasa pake gue-elo. panjang banget pula.
review, then.
